cover
Contact Name
-
Contact Email
mediamesin@ums.ac.id
Phone
+62271-717417
Journal Mail Official
mediamesin@ums.ac.id
Editorial Address
Jl. A. Yani 1 Pabelan Kartasura Surakarta 57162 INDONESIA
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin
ISSN : 14114348     EISSN : 25414577     DOI : 10.23917/mesin
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 366 Documents
Optimasi Kecepatan Udara Pada Kondensor Terhadap Prestasi Kinerja AC mobil Dengan Fluida Kerja Freon 12 Tjahjono, Tri; Arna, Desi
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/mesin.v15i2.2068

Abstract

Pada penelitian tentang sistem pendingin AC mobil yang telah dilakukan bertujuan untuk mengetahui laju aliran udara yang optimum pada sistem tersebut terhadap prestasi kerjanya. Aliran udara dinyatakan dengan kecepatan udara yang melintasi kondensor pada bagian sistem pendingin tersebut. Cara yang ditempuh yaitu dengan melakukan penelitian secara eksperimental. Unjuk kerja diukur dengan parameter kerja kompresi, laju aliran kalor kondensasi, laju aliran kalor evaporasi, dampak refrigerasi dan koefisien prestasi (COP). Pada eksperimen ini diawali dengan perakitan sistem pendingin AC mobil yang terdiri kompresor, kondensor, receiver dryer, katup ekspansi dan evaporator. Bahan pendingin (refrigeran) yang dipergunakan adalah refrigeran freon-12. Untuk keperluan pengambilan data dipergunakan alat ukut seperti alat ukur tekanan (manometer), termometer, anemometer, higrometer, tachometer. AC dilengkapi ruang kabin berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm. Pada kecepaan udara yang melintasi kondensor sebesar 19 feet/s akan memberikan efek pendinginan yang optimal dibandingkan pada kecepatan udara yang melintasi kondensor kurang dari 19 feet/s. Pada kecepatan udara tersebut sistem AC mampu memberikan efek pendinginan pada rentang temperatur 15,5:16°C. Semakin tinggi kecepatan udara yang melintasi kondensor menyebabkan efek refrigerasi yang dibangkitkan semakn rendah. Semakin tinggi kecepatan udara yang melintasi kondensor kinerja AC semakin meningkat sehingga sistem AC bekerja secara optimal pada kecepatan 19 feet/s
PENGARUH PANJANG SERAT TERHADAP KEAUSAN, KEKUATAN TARIK DAN IMPACT KOMPOSIT SERAT PELEPAH PISANG BERMATRIKS POLYESTER Sani, Syaiful Anwar; Purboputro, Pramuko Ilmu; Ngafwan, Ngafwan
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 16, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/mesin.v16i2.1513

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara panjang serat pelepah pisang 10 mm, 20 mm, 30 mm, 40 mm terhadap keausan, kekuatan tarik dan impact  komposit serat pelepah pisang dengan matrik polyester. Selain itu untuk meneliti jenis-jenis patahan yang terjadi pada pengujian impact dan tarik.              Pada penelitian ini serat yang digunakan adalah serat pelepah pisang kepok dengan fraksi volume 50%, panjang serat 10 mm, 20 mm, 30 mm, 40 mm. Proses pembuatan spesimen menggunakan pressmold. Jenis matrik  yang digunakan adalah polyester BQTN 157, 1% hardener. Cetakan spesimen menggunakan kaca. Standart acuan untuk pembuatan dan pengujian spesimen yang digunakan yaitu ASTM D 256 untuk pengujian impact  dan ASTM D 638-03 type I untuk pengujian tarik, serta untuk pengujian keausan menggunakan metode ??Ogoshi High Speed Universal Wear Testing Machine?? (type OAT-U).              Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perbandingan panjang serat tidak begitu berpengaruh terhadap kekuatan impact. Spesimen dengan serat yang semakin panjang akan semakin tahan lama dalam menahan beban tarik karena serat yang panjang mempunyai struktur yang lebih sempurna yang terpasang sepanjang sumbu serat dan cacat internal pada serat lebih sedikit daripada material serat yang pendek. Semakin panjang serat maka tingkat keausannya semakin tinggi. Sedangkan serat yang pendek memiliki kerapatan dan kemampuan yang lebih dalam meredam gesekan dibandingkan serat yang panjang sehingga tingkat keausannya relatif rendah. Sehingga serat yang lebih pendek baik digunakan sebagai bahan kanvas rem. Jenis patahan yang terjadi adalah pull out fiber pada spesimen uji impact dan patah getas pada spesimen uji tarik.
ANALISA PENGARUH SERAT RAMI DAN FIBERGLASS DENGAN VARIASI BUTIRAN KUNINGAN (Cu-Zn) MESH 40,50,60 TERHADAP NILAI KEKERASAN, KEAUSAN, DAN KOEFISIEN GESEK KAMPAS REM Purboputro, Pramuko Ilmu; Prabowo, Bayu Aji
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 20, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/mesin.v20i2.8533

Abstract

Pada penelitian ini peneliti membuat kampas rem sepeda motor dengan menggunakan bahan komposit serat alam dan serat buatan yang ramah lingkungan dengan beberapa variasi komposisi bahan untuk mengetahui nilai kekerasan, keausan, dan koefisien gesek. Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu serat rami, fiberglass, serbuk kuningan mesh 40, 50, dan 60, kalsium karbonat, barium sulfat, dan resin polyester dan katalis sebagai matrik nya. Kemudian kampas rem diuji gesek dengan beban 16 kg selama 3 jam dengan uji kering, air, oli, air garam, dan minyak rem dan kemudian dihitung keausan dan koefisien geseknya, dan diuji kekerasan dengan menggunakan Durometer dengan standar ASTM D2240. Dari hasil pengujian kekerasan didapatkan nilai tertinggi didapatkan pada kampas rem Indopart dengan nilai 86,7 HD, sedangkan kekerasan yang mendekati kampas Indopart didapatkan pada kampas rem variasi mesh 60 dengan nilai kekerasan 84,6 HD. Hasil pengujian keausan menunjukan nilai keausan kampas rem terendah terjadi pada variasi kampas Indopart, sedangkan keausan terendah dibawahnya terjadi pada kampas variasi kuningan mesh 60 dengan nilai 81,25 mm3/jam kondisi kering, 51,63 mm3/jam kondisi air, 59,37 mm3/jam kondisi oli, 46,87 mm3/jam kondisi air garam, dan 69,37 mm3/jam pada kondisi minyak rem. Hasil data yang diperoleh nilai koefisien gesek tertinggi didapatkan variasi kampas rem indopart, sedangkan yang mendekati didapatkan kampas rem variasi kuningan mesh 60 dengan nilai 0,6226, 0,5725, 0,5383, 0,5754, dan 5718 . Pada foto mikro setelah dilakukan uji gesek kampas mesh 50 mengalami kegagalan bonding kohesive, sedangkan mesh 40 dan 60 mengalami bonding kohesive dan adhesive. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa besar kecil ukuran serbuk yang digunakan mempengaruhi nilai kekerasan, keausan, dan juga koefisien gesek.
PEMANAS FLUIDA MENGGUNAKAN ENERGI MATAHARI DENGAN KOLEKTOR SEPERTIGA SILINDER PADA SISTEM KOMPOR DUAL SYSTEM Tjahjono, Tri
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 14, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/mesin.v14i2.2285

Abstract

               Sebagian besar masyarakat Indonesia yang sehari-harinya menggunakan energi fosil, seperi minyak tanah, gas dan batubara, serta bahan bakar kayu. Dengan pertumbuhan penduduk yang sangat cepat, hal ini dikhawatirkan cadangan ketersediaan energi akan menipis dan bahkan habis sama sekali. Untuk mengantisipasi hal tersebut dicari energi alternatif yaitu energi matahari yang dianggap tidak pernah habis.              Pemanas ini menggunakan energi matahari, dengan kolektor sepertiga silinder yang merupakan bagian dari sistem kompor dual system. Hal ini adalah upaya pemanfaatan energi yang tersedia banyak dan murah serta pengembangan teknologi penangkapan energi matahari. Cahaya matahari yang dipancarkan akan dipantulkan oleh kolektor sepertiga silinder untuk memanaskan fluida yang ada dalam pipa pada kolektor. Fluida tersebut akan menyerap kalor yang akan diberikan pada kompor dual system. Pemberian energi pada kompor masih perlu proses peningkatan energi lebih lanjut sebelum masuk kompor. Untuk air dapat memberikan energi dengan melepaskan kalor dari uap air panas lanjut, sedangkan pada udara-panas dengan memberikan kalor dengan melepas kalor yang dikandungnya atau secara bersama-sama dalam proses pembakaran biogas atau gas alam (LPG). Untuk minyak solar dapat memberikan kalornya dengan proseas pembakaran dari uap panas minyak solar tersebut.              Hasilnya menunjukkan bahwa penangkapan energi matahari yang tinggi pada saat kisaran jam 11.00 sampai jam 14.30 WIB. Pada pemanasan fluida air, udara dan minyak solar ternyata penyerapan energi yang paling tinggi dihasilkan oleh pemanas air sebesar 381,345 kJ. Hali ini menunjukkan bahwa air merupakan media penyerap kalor yang baik demikian pula pelepasannya.
STUDI PENGARUH KEKASARAN PERMUKAAN PADA MATERIAL BAJA KARBON RENDAH TERHADAP KEKUATAN SAMBUNGAN HASIL LAS TITIK Hendrawan, Muhammad Alfatih; Yanto, Febri
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 16, No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/mesin.v16i2.1525

Abstract

Studi yang akan dilakukan adalah untuk mengetahui pengaruh kekasaran permukaan benda kerja pada pengelasan spot welding. Percobaan yang telah dilakukan menggunakan material baja karbon rendah dengan ketebalan 0,8 mm. Material tersebut di-treatment dalam 3 kondisi permukaan, yaitu kondisi permukaan asli, permukaan yang diamplas dan permukaan yang di-sand blasting. Parameter pengelasan yang dilakukan adalah menggunakan dua variasi yaitu arus pengelasan sebesar 3000, 4000, 5000 A, dan waktu las (welding time) selama 0,3 , 0,4 dan 0,5 detik. Selain dari itu, tekanan elektroda yang diberikan adalah konstan 150 kg.              Untuk mendukung fenomena pengelasan yang terjadi, maka dilakukan juga pengukuran hambatan listrik yang terjadi diantara sambungan las. Pengujian sambungan las yang dilakukan adalah pengujian kekuatan geser sambungan dengan standar AWS D8.9-97, serta pengujian sifat fisik sambungan las dengan uji foto mikro dan makro.              Dari hasil percobaan menunjukkan bahwa variasi arus, waktu, dan kekasaran permukaan berpengaruh signifikan terhadap kekuatan sambungan las. Sedangkan, Hasil pengamatan foto makro menunjukkan bahwa lebar logam las semakin besar seiring peningkatan arus, waktu, dan kekasaran permukaan yang berbeda.Selanjutnya, hasil uji foto mikro logam induk baja karbon rendah memiliki fasa ferit dan perlit. Pada hasil uji foto mikro daerah HAZ tetap yaitu ferit dan perlit namun dalam ukuran lebih halus dibandingkan pada logam induk. Sedangkan fasa logam las yang terbentuk adalah martensit.
PENGARUH BENTUK RUNNER INTAKE MANIFOLD TERHADAP POLA ALIRAN FLUIDA DENGAN MENGGUNAKAN COMPUTATIONAL FLUID DYNAMICS Aklis, Nur; Sarjito, Sarjito; Syah, Agus Pranoto
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 16, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/mesin.v16i2.1509

Abstract

Intake manifold merupakan salah satu komponen yang sangat penting. Fungsi intake manifold adalah untuk menghantar udara ke silinder atau ruang bakar, posisi dan sudut belokan pada runner sangat berpengaruh terhadap kesempurnaan pencampuran bahan bakar didalam silinder atau ruang bakar. Tujuan penelitian dalam tugas akhir ini adalah untuk mengetahui perbedaan karakteristik aliran fluida, keseragaman pendistribusian aliran fluida dimasing-masing runner dan untuk mengetahui tingkat turbulensi aliran fluida pada silinder atau ruang bakar pada intake manifold standar dan setelah dimodifikasi.               Penelitian dilakukan dengan merubah geometri sudut runner intake manifold standar yang memiliki sudut 80o menjadi 65o. Desain pembuatan intake manifold dengan menggunakan software solidworks 2013.               Dari hasil simulasi CFD didapat nilai-nilai kecepatan dan penurunan tekanan pada outlet dimasing-masing runner yang menunjukkan perbedaan antara intake manifold standar dan setelah dimodifikasi. Berdasarkan hasil simulasi menunjukkan perbedaan pusaran (vortex) yang terjadi didalam silinder atau ruang bakar antara intake manifold standar dan setelah dimodifikasi. 
ANALISIS PERPINDAHAN PANAS PADA KACA LEMBARAN JENIS SODA-LIME GLASS Julianto, Eko; Irawan, Doddy; Rahardian, Bagus
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 20, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/mesin.v20i2.8527

Abstract

Kaca adalah produk yang mengalami verifikasi sempurna, kaca juga merupakan gabungan oksida anorganik yang tidak mudah menguap, yang dihasilkan dari dekomposisi dan peleburan senyawa alkali dan pasir serta berbagai penyusutan lainnya sehingga menghasilkan produk yang menghasilkan struktur atom yang acak. Hasil analisa yang telah dilakukan pada proses pelengkungan kaca lembaran jenis soda lime glass menjadi kaca lengkung dengan ketebalan 5mm, didapat perubahan lengkungan kaca sebesar 11,2?, proses perubahan defleksi kaca dihitung setiap 5 menit dalam waktu 60 menit. Sedangkan nilai aliran konduksi senilai 309,6 joule dan konveksi 636,6 joule. Adapun suhu yang didapat dalam pelengkungan kaca di dalam dapur tinggi atau ruang pembakaran yaitu kurang lebih 500?-600?C untuk perubahan temperatur awal kaca yaitu suhu dalam ruang pembakaran 34?C atau di asumsikan 0?C menjadi 380,7?C pada waktu 60 menit kaca sudah mengalami perubahan defleksi Pada proses ini hasil analisa juga akan dibahas pada batas besaran temperatur konduksi dan konveksi untuk mempermudah pengolahan data dan perhitungan laju aliran panas yang didapat pada eksperimen untuk dicoba pada kendaraan minibus.
Kaji Eksperimental Pengaruh Variasi Diameter Nozzle Throat Terhadap Thrust Pada Motor Roket Propellant Padat Caroko, Novi; Setiawan, Sigit Surya Bagus
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/mesin.v15i2.2069

Abstract

Gaya dorong motor roket propellant padat tergantung dari ketepatan campuran bahan bakar, diameter core hole dan diameter nosel. Untuk mengetahui pengaruh variasi ukuran zozzle throat terhadap gaya dorong yang dihasilkan, maka perlu dilakukan pengujian motor roket propellant padat dengan variasi diameter nozzle throat 8, 10 dan 12,5 mm. Pengambilan data dilakukan dengan memposisikan motor roket agar mengarah pada alat pengukur gaya. Penekanan alat pengukur gaya terjadi setelah propellant padat terbakar dan menghasilkan gas pembakaran yang keluar melalui nosel. Berdasarkan hasil pengujian dapat diketahui bahwa semakin kesil penggunaan diameter nozzle throat, maka gaya dorong yang idcapai akan semakin tinggi dan laju penurunan massa akan semakin besar.
REKAYASA MESIN PENCETAK CUMI-CUMI DENGAN TENAGA PENGGERAK 1 HP DAN PUTARAN 1420 RPM Yunianto, Fajar Tri; Subroto, Subroto; Wiyono, Sunardi
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 16, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/mesin.v16i2.1514

Abstract

Pada dasarnya mesin giling cetak cumi-cumi terdiri dari penggiling, pencetak I dan pencetak II yang digerakkan oleh motor listrik dengan melalui perantaraan sabuk dan puli. Fungsi dasar dari alat ini adalah mempersingkat waktu produksi dan menghasilkan produksi yang relatif lebih baik.               Adapun cara kerjanya adalah sebagai berikut : mula-mula adonan tepung bahan cumi-cumi dimasukkan ke dalam alat penggiling untuk digiling sampai ketebalan atau ketipisan yang diinginkan. Kemudian setelah digiling adonan akan turun ke pisau pencetak I yang terletak tepat di bawah dari rol penggiling.
CHARACTERIZATION OF BAMBOO TUTUL CHARCOAL PARTICLE PRODUCED BY HIGH ENERGY BALL MILLING SHAKER TYPE Supriyono, S; Susilo, B.
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 20, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/mesin.v20i2.8534

Abstract

The objective of this study is to characterize bamboo tutul charcoal particles produced by High Energy Ball Milling (HBEM) shaker type. The HEBM process was conducted in the stainless steel vials for 2 million cycles at 900 motor RPM. The ball milling diameter was 1/4 inch made from steel. Therefore, perhaps the final particle size will be determined by empty space of the vial for the movement of the balls. In this study, the empty space is varied for 1/2, 1/3, 1/4, and 1/5 of vial volume. Particle Size Analyzer (PSA) is used to have the particle sizes and SEM-EDX is used to have surface morphology of the particle. The average final particle sizes are 547.8 nm, 522.9 nm, 422.7 nm, and 739.4 nm for 1/2, 1/3, 1/4, and 1/5 empty space of vial respectively. The surface morphologies of the particles are determined by fracture mechanism as they can be seen on the SEM results. Based on the results, it can be said that there is no correlation between the particle size and the empty space of the vial. As long as there is space for movement of the milling balls, the collision occurs and the reduction of the particle also happens.