cover
Contact Name
-
Contact Email
mediamesin@ums.ac.id
Phone
+62271-717417
Journal Mail Official
mediamesin@ums.ac.id
Editorial Address
Jl. A. Yani 1 Pabelan Kartasura Surakarta 57162 INDONESIA
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin
ISSN : 14114348     EISSN : 25414577     DOI : 10.23917/mesin
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 366 Documents
PEMANAS FLUIDA MENGGUNAKAN ENERGI MATAHARI DENGAN KOLEKTOR SEPERTIGA SILINDER PADA SISTEM KOMPOR DUAL SYSTEM Tjahjono, Tri
Media Mesin Vol 14, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

               Sebagian besar masyarakat Indonesia yang sehari-harinya menggunakan energi fosil, seperi minyak tanah, gas dan batubara, serta bahan bakar kayu. Dengan pertumbuhan penduduk yang sangat cepat, hal ini dikhawatirkan cadangan ketersediaan energi akan menipis dan bahkan habis sama sekali. Untuk mengantisipasi hal tersebut dicari energi alternatif yaitu energi matahari yang dianggap tidak pernah habis.              Pemanas ini menggunakan energi matahari, dengan kolektor sepertiga silinder yang merupakan bagian dari sistem kompor dual system. Hal ini adalah upaya pemanfaatan energi yang tersedia banyak dan murah serta pengembangan teknologi penangkapan energi matahari. Cahaya matahari yang dipancarkan akan dipantulkan oleh kolektor sepertiga silinder untuk memanaskan fluida yang ada dalam pipa pada kolektor. Fluida tersebut akan menyerap kalor yang akan diberikan pada kompor dual system. Pemberian energi pada kompor masih perlu proses peningkatan energi lebih lanjut sebelum masuk kompor. Untuk air dapat memberikan energi dengan melepaskan kalor dari uap air panas lanjut, sedangkan pada udara-panas dengan memberikan kalor dengan melepas kalor yang dikandungnya atau secara bersama-sama dalam proses pembakaran biogas atau gas alam (LPG). Untuk minyak solar dapat memberikan kalornya dengan proseas pembakaran dari uap panas minyak solar tersebut.              Hasilnya menunjukkan bahwa penangkapan energi matahari yang tinggi pada saat kisaran jam 11.00 sampai jam 14.30 WIB. Pada pemanasan fluida air, udara dan minyak solar ternyata penyerapan energi yang paling tinggi dihasilkan oleh pemanas air sebesar 381,345 kJ. Hali ini menunjukkan bahwa air merupakan media penyerap kalor yang baik demikian pula pelepasannya.
PERAJANG MEKANIK KRIPIK Putro, Sartono
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pembuatan kripik tempe dengan  perajangan manual mempunyai banyak kelemahan yaitu waktu proses lama, tebal sayatan  tidak bisa seragam, permukaan sayatan bergelombang. Perajangan dengan penyayatan manual dapat digantikan menggunakan perajang mekanik yang prinsip kerjanya berdasarkan mekanisme gerak engkol peluncur dengan pemotong sirkel (circle cutter). Penelitian ini bertujuan mencari cutting speed dan feeding speed yang optimum pada pemotongan tempe menjadi kripik tempe dengan ketebalan tertentu. Penelitian dilakukan dengan membuat  alat perajang mekanik yang menggunakan prinsip kerja mekanisme engkol peluncur, circle cutter diputar oleh sebuah motor listrik yang dapt diatur putarannya dengan mengganti pulley transmisi. Sedangkan putaran engkol yang merupakan gerak feeding diputar oleh sebuah motor listrik yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa grafik hubungan antara cutting speed dan kuantitas sayatan menunjukkan bahwa peningkatan cutting speed menghasilkan peningkatan kuntitas sayatan. Percobaan dengan lima variasi kecepatan cutting speed mendapatkan hasil kualiatas sayatan yang sama yaitu secara visual permukaan keping hasil sayatan halus, sedangkan kuantitas terbesar dicapai pada  cutting speed 19.927 mm/s. Diperkirakan kuntitas hasil keping sayatan akan terus meningkat dengan ditingkatkannya cutting speed. Percobaan dihentikan sampai cutting speed 19.927 mm/s karena muncul serpihan sayatan yang berbentuk slurry dan mengotori sekeliling alat. Hasil yang optimum pada penelitian ini dicapai pada cutting speed 18.394 mm/s dengan kuantitas sayatan 11 keping, pada kondisi ini serpihan sayatan belum mengganggu operasional. Ukuran bahan tempe yang disayat memiliki ketebalan 20 mm, bila hasil sayatan dibuat setebal 1,5 mm, maka satu buah bahan tempe kotak akan dihasilkan sayatan, 20/1,5 = 13 keping.
STUDI PEMBUATAN BESI COR MAMPU TEMPA UNTUK PRODUK SAMBUNGAN PIPA Yulianto, Agus
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui proses pembuatan sambungan pipa(pipe fitting) dari besi cor putih dilakukan untuk dapat mengetahui kualitas dengan cara melakukan pengujian material setelah melalui proses heat treatment dengan cara proses annealing di antaranya pengujian : struktur mikro, kekerasan dan tarik. Dari produk pengecoran tersebut akan dibagi menjadi dua spesimen benda uji, yaitu satu (sambungan pipa) untuk proses annealing laboratorium dengan uji struktur mikro, uji kekerasan serta uji tarik dan satu (coran poros) untuk proses annealing pabrik dengan uji tarik. Dari pengujian pengujian struktur mikro terdapat fasa perlit dan sementit. Pengujian kekerasan diperoleh harga kekerasan rata-rata untuk daerah tengah 325 kg/mm2 dan daerah gigi 351 kg/mm2. Dari hasil uji tarik diperoleh harga rata-rata kekuatan tarik untuk spesimen annealing pabrik, yaitu 194,86 N/mm2. Sedangkan spesimen annealing laboratorium harga rata-rata kekuatan tariknya adalah 158,85 N/mm2.
PENGARUH KOMPOSISI KOMPON BAN DENGAN BATIKAN MIRING TERHADAP KOEFISIEN GRIP BAN PADA LINTASAN ASPAL PADA KONDISI BASAH DAN KERING Purboputro, Pramuko Ilmu; Hendrawan, Muhammad Alfatih
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian awal yang bertujuan yang pada akhirnya untukmendapatkan koefisien grip. Penelitian ini untuk mendapatkan kompossisi bahan yangtepat untuk bahan karet luar ban dan penelitian dilanjutkan untuk mendapatkan angkakoefisien cengeram (grip) ban pada batikan panah.Metoda yang dilakukan adalah dengan mencampur komponen ban, dengan komposisiyang berbeda. Spesimen tersebut kemudian dilakukan percobaan kekerasan shore danpercobaan keausan. Hasil yang didapat dibandingkan bahan kompon yang sudah adadi pasaran.Dari penelitian ini didapat kompon variasi 1 dengan komposisi 30% carbon black dan2% sulfur dari jumlah seluruh komposisi kompon, menghasilkan harga koefisien gripsebesar 0,761 kondisi lintasan kering dan 0,718 pada kondisi lintasan basah. Selainitu, penambahan carbon black dan sulfur juga berpengaruh pada kekerasan. Padapengujian shore A terbesar pada kompon variasi 3 sebesar 71,17 dengan komposisi33% carbon black dan 2,2 % sulfur.
KARAKTERISTIK PEMBAKARAN DAN KARAKTERISTIK MEKANIS KOKAS IMPOR SEBAGAI BAHAN BAKAR DAPUR KUPOLA Putro, Sartono
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 7, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kokas merupakan bahan bakar utama dalam industri pengecoran logam.  Kokas yang digunakan kebanyakan diimpor dari Cina sehingga sangat rentan terhadap fluktuasi harga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik mekanis dan karakteristik pembakaran kokas impor, sebagai pembanding juga dilakukan penelitian kokas lokal (green coke). Penelitian diawali dengan membentuk bongkahan-bongkahan kokas impor dan green coke menjadi silinder berdiameter 4 cm panjang 8 cm untuk pengujian sifat mekanik, dan silinder dengan diameter 2,3 cm  massa 5 gram untuk pengujian pembakaran. Selanjutnya dilakukan pengujian kandungan bahan dasar, kekuatan mekanik meliputi uji tekan dan uji kejut dan karakteristik pembakaran meliputi laju pembakaran, pengurangan masa, dan temperatur pembakaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tekan kokas impor 3,9 kali kuat tekan green coke yaitu 168,939 kg/cmP2P dibanding 43,182 kg/cmP2P, sedangkan kuat kejut kokas impor 3,6 kali green coke. Adapun pada uji laju pembakaran tertinggi terjadi pada temperatur puncak pembakaran kedua kokas. Laju pembakaran terbesar dimiliki oleh green coke sebesar  0,107 g/mnt yang dicapai pada menit ke 12, sedangkan kokas impor memerlukan waktu 129 menit untuk mencapai laju pembakaran tertinggi sebesar 0,057 g/mnt.  Temperatur pembakaran tertinggi yang dicapai kedua kokas hampirsama yaitu 622 PoPC untuk green coke dan 633 PoPC untuk kokas impor. Untuk masa awal yang sama 5 gram, green coke membutuhkan waktu pembakaran 90 menit sedangkan waktu pembakaran yang diperlukan kokas impor sebanyak 207 menit.
PENGUJIAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA DENGAN POSISI PELAT PHOTOVOLTAIC HORIZONTAL Putro, Sartono
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 9, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara yang banyak memiliki pulau serta pegunungan, ada sejumlah daerah merupakan daerah terpencil yang tidak mendapatkan pasokan energi listrik PT PLN Persero. Untuk pemenuhan kebutuhan energi listrik di daerah tersebut dapat menggunakan sumber energi alternatif tenaga surya sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) . Penggunaan energi surya menjadi energi listrik menggunakan sel surya banyak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh lingkungan terhadap kinerja PLTS. Photovoltaic yang digunakan dalam pengujian ini type 50-110-210 buatan PT. LEN Bandung. Pengujian PLTS dilakukan di Desa Ngiringin, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri dengan melakukan pengukuran terhadap kelembaban udara, temperatur, kecepatan angin, arah angin, arus dan tegangan keluaran sel surya. Pengkuran dilakukan pada pukul 07:00-17:00 WIB dengan selang waktu 20 menit. Hasil pengujian PLTS didapatkan bahwa temperatur lingkungan berbanding lurus dengan arus listrik yang dihasilkan oleh sel surya, temperatur lingkungan berbanding terbalik dengan kelembaban udara. Sedangkan besarnya tegangan listrik yang dihasilkan oleh sel surya relatif stabil, untuk pengaruh kecepatan angin dalam pengujian ini tidak memiliki dampak terhadap kinerja sel surya. Daya listrik maksimal yang dihasilkan sel surya pukul 11:00-13:00 WIB memiliki prosentase rata-rata harian modul surya sebesar 50,94%.
KARAKTERISTIK PENDIDIHAN DALAM CELAH SEMPIT REKTANGULAR VERTIKAL DENGAN VARIASI TEMPERATUR AWAL PLAT Catrawedarma, I Gusti Ngurah Bagus; Indarto, Indarto; Juarsa, Mulya
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis perpindahan kalor pendidihan untuk mengetahui pengaruh temperatur awal plat utama terhadap karakteristik pendidihan yang meliputi waktu rewetting, pola rewetting, fluks kalor, serta Critical Heat Flux (CHF) telah dipelajari berdasarkan kurva pendidihan dan fluks kalor yang dihitung dari transien temperatur permukaan plat, yang merupakan hasil eksperimen dengan menggunakan 2 plat vertikal dengan celah sempit antar plat utama dan penutup adalah 1 mm. Debit dan temperatur air pendingin ditetapkan sebesar 0,09 lt/detik dan temperatur saturasi. Temperatur awal plat utama divariasikan dari 500oC, 550oC, dan 600oC. Hasil analisis menunjukkan bahwa waktu rewetting terendah sebesar 30 sekon dan tertinggi sebesar 290 sekon. CHF tertinggi sebesar 750 kW/m2 dan terendah sebesar 400 kW/m2. Semakin tinggi temperatur awal plat, maka semakin lama waktu rewettingnya. Perubahan temperatur awal plat utama tidak mempengaruhi pola rewetting. Semakin tinggi temperatur awal plat, maka nilai CHF-nya semakin rendah. Daerah didih film tidak sesuai dengan kasus pool boiling. Pada daerah transisi, semakin rendah temperatur awal plat, maka semakin mendekati korelasi Murase. Nilai CHF mendekati korelasi Leinhard. Titik Leidenfrost sesuai dengan korelasi Zuber. Daerah didih inti mendekati korelasi Murase untuk superheat vapor.
PENGARUH VARIASI KECEPATAN UDARA TERHADAP KINERJA TUNGKU GASIFIKASI SEKAM PADI TIPE DOWNDRAFT KONTINU Subroto, Subroto; Saputro, Nurhadi
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 17, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gasifikasi adalah suatu proses perubahan bahan bakar padat secara termokimia menjadi gas, dengan cara mengendalikan udara yang diperlukan  lebih rendah dari udara yang digunakan untuk proses pembakaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kecepatan udara pembakaran terhadap kinerja pada tungku gasifikasi tipe downdraft .Kinerja tungku meliputi karakteristisik  temperatur pembakaran, waktu penyalaan awal dan lamanya waktu pembakaran atau waktu nyala efektif. Penelitian dilakukan dengan cara   memvariasikan kecepatan udara yang masuk kedalam tungku dengan variasi kecepatan 6,0 m/s, 7,0 m/s dan 8,0 m/s, data yang diambil meliputi temperatur pembakaran, waktu penyalaan awal dan lama waktu nyala efektif. Hasil penelitian menunjukkan variasi kecepatan udara berpengaruh terhadap temperatur pembakaran, waktu penyalaan awal dan lama waktu nyala efektif yang dihasilkan. Temperatur pembakaran tertingi pada kecepatan udara 8 m/s, 7 m/s ,6 m/s sedangkan waktu penyalan tercepat pada kecepatan udara 8 m/s, 7 m/s ,6 m/s dan lama waktu nyala efektif pada kecepatan udara  6 m/s, 7 m/s 8 m/s
PROSES SINTESIS DAN KARAKTERISASI FTIR HIDROKSIAPATIT DARI GIPSUM ALAM KULON PROGO Sedyono, Joko; Tontowi, Alva Edy
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 9, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hidroksiapatit (HAp) [Ca10(PO4)6(OH)2] telah dipergunakan secara luas dalam bidang kedokteran dan kedokteran gigi sebagai bahan substitusi tulang/gigi, hal ini karena komposisi dan strukturnya sama sebagaimana kandungan tulang/gigi. Tetapi HAp yang ada di Indonesia masih import. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat bahan biokeramik hidroksiapatit dari gipsum alam Kulon Progo (KPNG) kemudian mengkarakterisasi dengan pengujian FTIR. Sintesa HAp dilakukan dengan teknik Hydrohermal Microwave dengan mereaksikan antara KPNG (CaSO4.2H2O) dengan diamonium hidrogen fosfat [(NH4)2HPO4]. Kemudian hasil reaksinya dianalisa dengan pengujian FTIR dan dibandingkan dengan HAp 200 Jepang sebagai pembanding. Dari hasil analisa didapat pola-pola FTIR hidroksiapatit hasil reaksi menyerupai HAp 200 Jepang dan HAp SRM 2910.
ANALISIS KEBUTUHAN ENERGI PROSES PENGGILINGAN KEDELAI DENGAN PENGGERAK MESIN DIESEL DAN MOTOR LISTRIK PADA INDUSTRI TAHU Putro, Sartono
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 17, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan teknologi di industri tahu masih mempunyai tingkat keborosan energi yang cukup tinggi Selama ini pada industri tahu dalam proses penggilingan kedelai menggunakan mesin diesel dan motor listrik. Tetapi manajemen energi yang digunakan belum efektif, sehingga perlu diadakan pengkajian ulang tentang konsumsi energinya.Penelitian ini dilakukan dengan menganalisa kebutuhan bahan bakar, beban oli, daya dan energi  untuk proses produksi penggilingan kedelai hingga menjadi sari dari tahu dengan variabel motor listrik dan motor diesel. Sampel didapatkan dari UKM industri tahu dengan 5 UKM menggunakan motor listrik dan 5 UKM menggunakan motor diesel.Dari penelitian didapatkan bahwa penggunaan motor listrik sebagai penggerak penggiling kedelai lebih murah biaya penggilingannya dibandingkan dengan penggerak mesin diesel. Selain itu, penggunaan mesin penggiling kedelai yang berdaya besar lebih boros konsumsi bahan bakarnya daripada penggerak penggiling  kedelai yang yang berdaya kecil.

Page 4 of 37 | Total Record : 366