cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Kantor LP3M Unismuh Makassar Jl. Sultan Alauddin No. 259 Makassar, Indonesia
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
OCTOPUS : Jurnal Ilmu Perikanan
ISSN : 23020670     EISSN : 27464822     DOI : https://doi.org/10.26618/octopus
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Octopus Ilmu Perikanan terbit dua kali setahun yakni Januari dan Juli berisi artikel ilmiah dalam bentuk hasil penelitian dan non penelitian berupa kajian. Jurnal Octopus Ilmu Perikanan bertujuan untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan perikanan dari para akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, dan pemerhati perikanan.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2012): Octopus" : 8 Documents clear
Deteksi Molekular Vektor Penyebab WSSV Pada Udang Windu (Penaeus Monodon) Di Kabupaten Takalar Rahmi Rahmi
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 1, No 2 (2012): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.674 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v1i2.477

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan virus WSSV, pada beberapa vektor virus di tambak dengan metode PCR. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2012 sampai bulan Maret 2012. Sampling dilakukan di tambak Kabupaten Takalar, hewan uji yang digunakan jenis krustasea liar berupa krustasea liar (Mesopodopsis sp, Scylla sp. dan udang liar). Ekstraksi DNA menggunakan Promega-kit. Konsentrasi PCR yang diperlukan yang dibutuhkan adalah 1 x Buffer PCR yang mengandung 0.65 µL dNTPs, 0.25 µL Taq Polymerase, 0.5 µL Primer F, 0.5 µL R, 2 µL Buffer S, 5 µL Template DNA (sampel) dan 16.1 µL ddH2O, dengan konsentrasi total yang dibuat menjadi 25 µL. Kondisi PCR : denaturasi awal 95°C 5’, diikuti dengan 35 siklus denaturasi 95°C 30’’, annealing 60°C 1’, ekstensi 72°C 1’ dan 72°C 5’. Running Elektroforesis,selanjutnya divisualisasi pada UV Transiluminator. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa jenis krustacea liar berupa Mesopodopsis sp. dan Scylla sp. berperan sebagai vektor yang membawa agen penyakit White Spot Syndrom Virus (WSSV) pada tambak udang windu (P. Monodon).Kata kunci: Udang windu, Vektor, WSSV
Optimasi Pemberian Kustar Telur dengan Dosis yang Berbeda terhadap Laju Pertumbuhan dan Sintasan Benih Udang Windu (Penaeus Monodon) Andi Khaeriyah
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 1, No 2 (2012): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.206 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v1i2.478

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan virus WSSV, pada beberapa vektor virus di tambak dengan metode PCR. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2012 sampai bulan Maret 2012. Sampling dilakukan di tambak Kabupaten Takalar, hewan uji yang digunakan jenis krustasea liar berupa krustasea liar (Mesopodopsis sp, Scylla sp. dan udang liar). Ekstraksi DNA menggunakan Promega-kit. Konsentrasi PCR yang diperlukan yang dibutuhkan adalah 1 x Buffer PCR yang mengandung 0.65 µL dNTPs, 0.25 µL Taq Polymerase, 0.5 µL Primer F, 0.5 µL R, 2 µL Buffer S, 5 µL Template DNA (sampel) dan 16.1 µL ddH2O, dengan konsentrasi total yang dibuat menjadi 25 µL. Kondisi PCR : denaturasi awal 95°C 5’, diikuti dengan 35 siklus denaturasi 95°C 30’’, annealing 60°C 1’, ekstensi 72°C 1’ dan 72°C 5. Running Elektroforesis,selanjutnya divisualisasi pada UV Transiluminator. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa jenis krustacea liar berupa Mesopodopsis sp. dan Scylla sp. berperan sebagai vektor yang membawa agen penyakit White Spot Syndrom Virus (WSSV) pada tambak udang windu (P. Monodon).Kata kunci: Udang windu, Vektor, WSSVThis study aims to detect the presence of WSSV virus, the viral vector in some ponds with PCR method. This research was conducted in January 2012 to March 2012. The sampling was conducted in ponds Takalar, test animals used types of wild crustaceans form wild crustaceans (Mesopodopsis sp, Scylla sp. And wild shrimp). DNA extraction using the Promega kit. The concentration of PCR required is needed is 1 x Buffer PCR containing 0.65 mL of dNTPs, 0:25 mL Taq Polymerase, 0.5 mL of Primer M, 0.5 mL R, 2 mL Buffer S, 5 mL of template DNA (sample) and 16.1 mL of ddH2O, with a concentration total were made to 25 uL. PCR conditions: initial denaturation 95 ° C 5 ', followed by 35 cycles of denaturation 95 ° C 30' ', 60 ° C annealing 1', extension 72 ° C 1 'and 72 ° C 5. Running Electrophoresis, then visualized on a UV Transiluminator , Based on the survey results revealed that the wild type form of Mesopodopsis crustaceans sp. and Scylla sp. act as vectors that carry disease agents White Spot Syndrome Virus (WSSV) in shrimp pond (P. Monodon).Keywords: Tiger shrimp, Vector, WSSV
Kandungan Klorofil a dan Karotenoid Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii yang Dibudidayakan pada Kedalaman Berbeda Akmal Akmal; Rajuddin Syam; Dody Dh Trijuno
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 1, No 2 (2012): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.303 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v1i2.473

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan dampak pengobatan kedalaman budidaya yang berbeda terhadap klorofil dan karotenoid isi rumput laut K. alvarezii. Penelitian ini terdiri dari lima perlakuan dan setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan, akibatnya, ada 15 unit eksperimental. Rumput laut digantung dengan metode vertikal acak di kedalaman budidaya yang berbeda, mis 20 cm, 100 cm, 200 cm dan 400 cm. Analisis varians dilakukan pada tingkat 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman budidaya tidak signifikan defferent terhadap klorofil dan konten caratenoid. Klorofil dan karotenoid konten relatif tinggi di kedalaman 100 cm (0,013 mg / g-1 dan 0299 mg / g-1) dan terendah di kedalaman 20 cm (0.006 mg / g-1 dan 0163 mg / g-1 ).Kata kunci: klorofil a, karotenoid. kedalaman budidaya, rumput lautThe objective of the research was to elaborate the treatment impact of the different cultivation depths towards the chlorophyll a and carotenoid content of the seaweeds K. alvarezii. The research consisted of five treatments and each treatment consisted of three replications, consequently, there were 15 experimental units. The seaweeds were hanged by a random vertical method in the different cultivation depths, i.e 20 cm, 100 cm, 200 cm and 400 cm. Variance analysis was carried out on the 95% level. The results of the research indicates that the cultivation depths are not significantly defferent towards chlorophyll a and caratenoid content. The chlorophyll a and carotenoid content is relatively high in depth 100 cm (0,013 mg/g-1 and 0,299 mg/g-1) and the lowest is in depth 20 cm (0,006 mg/g-1 and 0,163 mg/g-1).Keywords: chlorophyll a, carotenoid. cultivation depths, Seaweed
Evaluasi Penerapan Petunjuk Budidaya yang Baik (Better Management Practices, Bmp) pada Tambak Udang Tradisional di Kabupaten Pangkajene Kepulauan Mohammad Syaichudin; Sharifuddin Bin A Omar; Dody D T; Richard Callinan
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 1, No 2 (2012): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.354 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v1i2.479

Abstract

Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk menilai peningkatan produktivitas dan dampak dari pelaksanaan budidaya udang tradisional yang menerapkan BMP. Lokasi penelitian di Desa Gentung, Labakkang Kecamatan, Pangkajene Kepulauan Kabupaten. Empat tambak udang yang dipilih untuk wilayah uji coba, dua kolam yang menerapkan BMP dan dua kontrol lainnya. Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan di 3 siklus tanaman, seperti review penelitian yang berlaku atau penelitian tindakan, maka pada setiap siklus membuat sejumlah perbaikan. Data yang dikumpulkan meliputi: produktivitas pertanian (produksi biomassa dan tingkat kelangsungan hidup) dan tingkat partisipasi masyarakat. Selanjutnya, data dianalisis dengan statistik deskriptif dan SPSS-16 Uji T Indepenedent terus. Berdasarkan hasil membuktikan bahwa penerapan kegiatan BMP di tambak udang tradisional telah mampu meningkatkan produktivitas tambak dengan rata-rata produksi udang di BMP tambak 185,18 kg ha-1 dan kontrol 61,53 kg ha-1, sedangkan rata-rata tingkat kelangsungan hidup yang 38,60% untuk BMP kolam dan 12,99% untuk kontrol. Hasil uji Independent T yang diperoleh menunjukkan bahwa secara signifikan BMP kolam dan kontrol berbeda. Sementara dampak dari implementasi BMP mulai muncul dalam siklus panen kedua dengan 7 peternakan yang mengikuti BMP (kategori dasar BMP), dan yang ketiga tanaman siklus peningkatan menjadi 13 pengikut BMP kolam. Hal ini membuktikan bahwa petani mulai antusias untuk mengadopsi dan menerapkan prinsip-prinsip BMP. Tapi masih perlu beberapa perbaikan untuk mendapatkan hasil yang maksimal, selain mendapatkan dampak yang lebih luas pada daerah, teknik perbaikan yang diperlukan terintegrasi dalam pola cluster atau overlay. Kata kunci: Biosekuriti, WSSV gratis, implementasi BMP, kualitas lingkungan.This research activity aims to assess the improvement of productivity and impact of the implementation of traditional shrimp aquaculture that applying BMP. The research location in the Village of Gentung, Labakkang Sub-District, Pangkajene Kepulauan District. Four shrimp ponds selected for the trial area, two ponds that applying BMP and the other two controls. Implementation of the activities carried out in 3 cycles of crop, as is the review of applicable research or action research, then in each cycle made a number of improvements. Data collected included: farm productivity (biomass production and survival rate) and the level of community participation. Furthermore, the data were analyzed with descriptive statistics and SPSS-16 Test T Indepenedent continued. Based on the results proved that the application of BMP activity in traditional shrimp farms have been able to increase the productivity of ponds with an average production of shrimp in BMP ponds 185.18 kg ha-1 and the control of 61.53 kg ha-1, while the average of survival rate are 38.60% for BMP pond and 12.99% for controls. The results of Independent T test that be obtained showing that significantly BMP pond and control is different. While the impact of BMP implementation began to emerge in the second crop cycle with 7 farms that follow BMPs (category of basis BMP), and the third crop cycle increase become 13 follower BMP pond. It is proving that farmers began enthusiastically to adopt and implement the principles of BMP. But it still needs some improvement to get the maximum results, in addition to getting a wider impact on a region, the necessary repair techniques integrated in a cluster pattern or overlay.Keywords : Biosecurity, free WSSV, BMP implementation, environmental quality.
Pertumbuhan dan Kandungan Karaginan Rumput Laut Eucheuma Cotnnii yang Dibudidayakan pada Jarak Dari Dasar Perairan yang Berbeda Burhanuddin Burhanuddin
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 1, No 2 (2012): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.497 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v1i2.474

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pertumbuhan dan kandungan karaginan rumput laut Eucheuma cottonii yang dibudidayakan pada kedalaman yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan dii perairan Teluk Mattoangin, Kabupaten Bantaeng Propinsi Sulawesi Selatan pada bulan Maret- April 2012. Wadah yang digunakan adalah tiang pancang berukuran 2 m sebanyak 36 buah. Berat awal bibit rumput laut 100 gram/rumpun diikat dengan tali rafia, selanjutnya diikatkan pada tali polyethilene dengan jarak tanam 25 cm dan jarak bentangan 30 cm,sebanyak 49 rumpun/unit percobaan dengan menggunakan rumput laut jenis Eucheuma cottonii. Rumput laut ditimbang setiap 10 hari untuk mengetahui laju pertumbuhannya. Analisis kandungan karaginan, nitrat, dan fosfat dilakukan di laboratorium Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP) Maros. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan (A = jarak dari dasar 30 cm; B = jarak dari dasar 60 cm; C = jarak dari dasar 90 cm) dengan masing-masing 3 ulangan. Untuk melihat pengaruh perlakuan dilakukan analisis sidik ragam, jika berbeda nyata dilanjutkan dengan uji BNT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase laju pertumbuhan harian rumput laut Eucheuma cottonii tertinggi pada perlakuan B (jarak dari dasar 60 cm) sebesar 13,79%, disusul perlakuan A (jarak dari dasar 30 cm) sebesar 11,09% dan terendah pada perlakuan C (jarak dari dasar 90 cm) sebesar 10,59%. Kandungan karaginan tertinggi diperoleh pada perlakuan B (jarak dari dasar 60 cm) 41,5%, disusul perlakuan A (jarak dari dasar 30 cm) 39,3%, dan terendah pada perlakuan C (jarak dari dasar 90 cm) sebesar 34,0%.Kata kunci: Pertumbuhan, Karaginan, dan Eucheuma cotnniiAbstractThis study aimed to compare the growth and content of carrageenan seaweed Eucheuma cottonii cultivated at different depths. This study was conducted dii Gulf waters Mattoangin Bantaeng district of South Sulawesi in March-April 2012. The container used is piling measuring 2 m by 36 pieces. Initial weight of 100 grams of seaweed seedlings / hill tied with rope, then tied a rope polyethylene with a spacing of 25 cm and a distance of 30 cm stretch, as much as 49 hills / unit experimenting with using seaweed Eucheuma cottonii. Seaweed is weighed every 10 days to determine the growth rate. Analysis of the content of carrageenan, nitrate, and phosphate conducted in the laboratory of Brackish Water Aquaculture Research (BRPBAP) Maros. The study design used was completely randomized design (CRD) with three treatments (A = distance from the bottom 30 cm; B = the distance from the bottom 60 cm; C = distance from the base 90 cm) with each of the three replications. To see the effect of treatment carried out analysis of variance, if significantly different followed by LSD test. The results showed that the percentage of daily growth rate Eucheuma cottonii seaweed highest in treatment B (the distance from the bottom 60 cm) of 13.79%, followed by treatment of A (distance from the bottom 30 cm) amounted to 11.09% and the lowest in treatment C ( distance from the bottom 90 cm) of 10.59%. The highest content of carrageenan obtained in treatment B (the distance from the bottom 60 cm) of 41.5%, followed by treatment of A (distance from the bottom 30 cm) of 39.3%, and the lowest in treatment C (the distance from the bottom 90 cm) of 34.0 %.Keywords: Growth, carrageenan, and Eucheuma cotnnii.
Efektifitas Ekstrak Kulit Manggis Garcinia Mangostana dalam Menghambat Bakteri Vibrio Harveyii Sutia Budi; Sabriani Sabriani
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 1, No 2 (2012): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.27 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v1i2.480

Abstract

Ekstrak kulit manggis Garcinia mangostana memiliki kempuan sebagai antibakteri, antifungi, antiinflamasi, antileukemia, antiagregasi, antimikrobakteri dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengtahui efektifitas ekstrak kulit manggis dalam menghambat bakteri Vibrio harveyii. Penelitian dilakukan sebanyak tiga tahapan kerja kerja yaitu tahap preparasi sampel, tahap mengekstrasi zat antioksidan dan tahap pengujian antioksidan atau antibakteri yang dilakukan secara in-vitro. Sebagai data pembanding dilakukan pengujian dengan melakukan pengujian uji hambat dengan menggunakan larutan fisiologis (control negative) dan antibotik Erytromycyn (control positif). Hasil penelitian menunjukkan zona hambat ekstrak kulit manggis terhadap bakteri Vibrio harveyii sebesar 76 mm, menunjukkan kategori aktivitas penghambatan sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak kulit manggis dapat dijadikan sebagai salah satu solusi penanggulangan penyakit vibriosis.Kata kunci: Manggis, Zona Hambat, VibrioGarcinia mangostana mangosteen peel extract has ABILITY as antibacterial, antifungal, anti-inflammatory, antileukemia, antiagregasi, anti micro bacteria and antioxidants. This study aims to mengtahui effectiveness of mangosteen peel extract to inhibit the bacterium Vibrio harveyii. The study was conducted as many as three working stages: stage work sample preparation, extracting phase oxidant and antioxidant or antibacterial testing phase conducted in-vitro. As the comparative data was examined by testing the inhibitory test using physiological solution (negative control) and antibotik Erytromycyn (positive control). The results showed inhibition zone mangosteen peel extract against bacteria Vibrio harveyii by 76 mm, showing a very strong inhibitory activity category. This indicates that the mangosteen peel extract can be used as one of the solutions vibriosis disease prevention.Keywords: Manggis, Zone of Inhibition, Vibrio
Perubahan Sel Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii yang Dibudidayakan pada Kedalaman Berbeda Darmawati Darmawati
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 1, No 2 (2012): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.65 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v1i2.475

Abstract

Perubahan sel rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan pada kedalaman berbeda. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan sel jaringan rumput laut jenis K. alvarezii yang dibudidayakan pada kedalaman berbeda. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Takalar, menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan kedalaman perairan 20 cm, 50 cm dan 100 cm, masing-masing dilakukan pengulangan 3 kali. Peubah yang diamati adalah perubahan sel rumput laut K. alvarezii pada kedalaman berbeda. Selanjutnya dilakukan analisis ragam (Anova). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman perairan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap perubahan sel rumput laut K. alvarezii. Perubahan sel rumput laut lebih cepat pada kedalaman 50 cm dari permukaan air laut.Kata kunci: Perubahan sel, Kedalaman perairan, Rumput laut Kappaphycus alvarezii. Changes Kappaphycus alvarezii seaweed cells are cultured at different depths. This study aims to analyze changes in tissue cells seaweed K. alvarezii cultivated at different depths. This study was conducted in Takalar, using a completely randomized design with water depth treatment of 20 cm, 50 cm and 100 cm, respectively be repeated 3 times. The parameters measured were cell changes seaweed K. alvarezii at different depths. Furthermore, analysis of variance (ANOVA). The results showed that the depth of the water does not provide significant effect on cell changes K. alvarezii seaweed. Changes seaweed cells more rapidly at a depth of 50 cm from the surface of the sea.Keywords: Changes in the cell, depth of water, seaweed Kappaphycus alvarezii.
Optimasi Frekuensi Pemberian Pakan Alami Jenis Branchionus Plicatilis Terhadap Sintasan Larva Rajungan (Portunus Pelagicus) Stadia Zoea Murni Murni
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 1, No 2 (2012): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.09 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v1i2.476

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan frekuensi pemberian pakan alami B. plicatilis yang tepat untuk sintasan larva rajungan stadia zoea. Pemeliharaan larva rajungan berlangsung selama 12 hari. Pemeliharaan dimulai dari zoea I sampai megalopa I. Pemberian pakan menggunakan pakan alami jenis B. plicatilis dengan kepadatan 15 ind/ml. Pemberian B. plicatilis pada stadia zoea I dan II menggunakan B. plicatilis tipe S atau kecil. Pada stadia zoea III dan IV menggunakan B. plicatilis tipe L atau ukuran besar. Frekuensi pemberian pakan larva rajungan disesuaikan dengan perlakuan yang dicobakan. Sampling sintasan larva rajungan dilakukan setiap terjadi pergantian stadia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sintasan larva rajungan tertinggi dihasilkan pada perlakuan C (4 kali/hari), kemudian disusul perlakuan B (3 kali/ hari), perlakuan A (2 kali/hari) dan perlakuan E (5 kali/hari). Hal ini disebabkan karena frekuensi pemberian pakan alami yang diberikan sesuai dengan kebutuhan larva rajungan. Sehingga nutrisi tercukupi untuk mempertahankan tingkat kelangsungan hidupnya. Selain itu disebabkan karena jumlah pakan yang diberikan sesuai dengan kapasitas tampung lambung larva rajungan sehingga pakan yang diberikan dapat dikonsumsi dan dicerna oleh larva rajungan.Kata kunci: Brachionus plicatilis, Sintasan, ZoeaAbstractThis study aims to determine the natural frequency of feeding B. plicatilis right to survival rate of crab larvae stadia zoea. Maintenance crab larvae lasts for 12 days. Maintenance begins on zoea I to megalopa I. Feeding use of natural feed type B. plicatilis with a density of 15 ind / ml. Giving B. plicatilis at stadia zoea I and II using the B. plicatilis type S or small. In the stadia zoea III and IV using B. plicatilis L type or size. Crab larvae feeding frequency adapted to the treatment is tested. Sampling is done every crab larvae survival rate occurs turn of stadia. The results showed that the survival rate is the highest crab larvae produced in treatment C (4 times / day), followed by treatment B (3 times / day), treatment A (2 times / day) and treatment E (5 times / day). This is because the natural frequency of feeding are given according to the needs of small crab larvae. So that adequate nutrients to sustain their survival rate. In addition due to the amount of feed that is given in accordance with capacities of the stomach so that the crab larvae feed given can be consumed and digested by the larvae of crabs.Keywords: Brachionus plicatilis, Survival, zoea

Page 1 of 1 | Total Record : 8