cover
Contact Name
Khoirul Huda
Contact Email
khoirulhuda@unipma.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
agastya@unipma.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota madiun,
Jawa timur
INDONESIA
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA
ISSN : 20878907     EISSN : 25022857     DOI : -
Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya is a biannual journal, published by Universitas PGRI Madiun on January and July, with regitered number ISSN 2087-8907 (printed), ISSN 2502-2857 (online). Agastya provides a forum for lecturers, academicians, researchers, practitioners, to deliver and share knowledge in the form of empirical and theoretical research articles on historical education and learning.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 01 (2018)" : 8 Documents clear
Kajian Makna Simbolis Patung dan Monumen di Kabupaten Ponorogo Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah Lokal Nanda Cahyo Setiaji; Muhammad Hanif
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 8, No 01 (2018)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.873 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v8i01.2069

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kajian makna simbolis patung dan monumen sebagai pembelajaran sejarah lokal, serta untuk mengetahui potensi-potensi lain yang terjadi pada masa yang akan datang di Kabupaten Ponorogo. Penelitian dilakukan di Kabupaten Ponorogo mulai bulan Februari sampai bulan Juli 2015. Sumber data penelitian ini adalah (a) sumber data primer, yaitu sumber data dari informan individu maupun perseorangan, (b)sumber data yang bersifat sekunder, yaitu data yang diperolehdokumen, foto dan rekaman video hasil observasi lapangan. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi langsung, dokumentasi tertulis dengan teknik triangulasi. Analisis data menggunakan kualitatif model interaktif. Pendekatan penelitian ini adalah menggunakan jenis deskripstif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa sejarah berdirinya patung dan monumen di Ponorogo tidak lepas dari kepiawian Bupati terdahulu, yaitu Dr. H. Markum Singodimedjo, MM yang telah membangun simbol-simbol patung cerita Reog dari sumbangan pihak ketiga. Tujuannya untuk tata keindahan kota serta lebih menonjolkan nuansa kota Reog. Dengan dibangunnya patung dan monumen tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepariwisataan dan menjadi sumber pembelajaran sejarah lokal, agar generasi penerus lebih menghargaikearifan budaya luhur yang telah dimiliki.
Totalitas Kehidupan Pesantren: Tinjauan Historis Pemikiran K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi tentang Konsep Pendidikan yang Ideal di Indonesia (1985-2011) Saifuddin Alif Nurdianto; Ajat Sudrajat
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 8, No 01 (2018)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (727.397 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v8i01.1700

Abstract

Abstrak:Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan: Konsep pendidikan ideal yang ditawarkan K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi (1985-2011) dan pengaruh pemikiran K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi dalam bidang pendidikan. Penelitian menggunakan metode penulisan sejarah Kuntowijoyo dengan lima tahapan, yaitu pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Sumber data berupa sumber primer dan sekunder yaitu arsip, dokumen, rekaman pidato, foto, majalah, wawancara, dan buku.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dasar filosofis pendidikan yang dikembangkan oleh K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi adalah Panca Jiwa. Konsep pendidikan yang ditawarkan K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi (1985-2011) adalah totalitas kehidupan dalam dunia pendidikan, pendidikan integral yang dipengaruhi konsep integrasi ilmu dari K.H. Ahmad Dahlan, tri pusat pendidikan yang dipengaruhi pemikiran Ki Hadjar Dewantara, dan konsep jiwa merdeka yang dipengaruhi konsep K.H. Imam Zarkasyi. Adapun pengaruh pemikiran K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi secara internal adalah berkembangnya PMDG menjadi sembilan belas cabang pada masa kepemimpinannya dan bertambahnya jumlah santri dan tenaga pengajar di PMDG dengan presentase 5% selama tiga tahun terakhir. Pengaruh eksternalnya adalah, sistem pendidikan di PMDG mendapatkan pengakuan dari dunia internasional, diadopsi oleh banyak lembaga pesantren, dan memberikan inspirasi terhadap gagasan dari tokoh-tokoh masyarakat.
Kebijakan Pemerintah Kabupaten Pacitan Dalam Pelestarian Museum Buwono Keling Di Kecamatan Punung Kabupaten Pacitan Rizky Nindya Nunggalsari; Soebijantoro soebijantoro
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 8, No 01 (2018)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.31 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v8i01.2037

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh tentang kebijakan Pemerintah Kabupaten Pacitan dalam pelestarian Museum Buwono Keling di Kecamatan Punung Kabupaten Pacitan. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis studi kasus. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sekunder. Pengumupulan data menggunakan observasi wawancara, dokumentasi. Validasi yang digunakan adalah trianggulasi sumber. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Museum Buwono Keling adalah museum arkeologi yang berada di Dukuh Krajan Kulon Desa Mantren Kecamatan Punung Kabupaten Pacitan. Museum ini dibangun pada bulan April tahun 1995 oleh suaka peninggalan sejarah purbakala Jawa Timur, dan difungsikan pada tahun 1996 yakni sebagai tempat penyimpanan peninggalan prasejarah. Peranan Pemerintah Kabupaten Pacitan dalam pengelolaan dan pelestarian Museum Buwono Keling dibutuhkan, agar Museum tetap terjaga dan terlestarikan. Berkaitan dengan hal itu  diterapkan kebijakan dalam pengelolaan Museum. Namun kebijakan yang telah disepakati belum terealisasikan dengan baik. Kenyataannya Pemerintah Kabupaten Pacitan kurang tanggap atau tidak mempedulikan keberadaan Museum Buwono Keling. Padahal museum tersebut dapat menjadi suatu objek wisata yang tidak hanya mempunyai unsur rekreatif tapi memiliki unsur edukatif terutama mengenai kehidupan pra sejarah yang berhubungan dengan awal peradaban manusia.
Peranan Gemblak Dalam Kehidupan Sosial Tokoh Warok Ponorogo Andri Dwi Wahyu Wiranata; Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 8, No 01 (2018)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.849 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v8i01.2036

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah perkembangan Gemblak di Kabupaten Ponorogo dan untuk menganalisis dan mendiskripsikan peranan Gemblak dalam kehidupan sosial tokoh Warok Ponorogo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Tempat penelitian dilaksankan di Kabupaten Ponorogo mulai bulan Mei sampai Juni 2017. Objek penelitian adalah peranan Gemblak dibalik kehidupan sosial tokoh Warok Ponorogo. Subyek penelitian yaitu pelaku sejarah, seniman daerah, serta narasumber rujukan dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo dan Pengurus PERPUSDA Kabupaten Ponorogo. Pengumpulan data menggunakan tiga macam, yaitu: observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan teknik purposive sampling. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi mengasuh Gemblak sudah berkembang lama di Kabupaten Ponorogo, bahkan diperkirakan sejak berdirinya Kabupaten Ponorogo tradisi ini sudah berlangsung di lingkungan masyarakat Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini juga menunjukkan peranan Gemblak sangat penting di dibalik kehidupan sosial tokoh Warok Ponorogo. Peranan Gemblak sebagai pendamping Warok yang setia menemani dan menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan Warok dalam segala bentuk aktivitanya. Gemblak juga bisa di ibaratkan seperti istri Warok, sebab peranannya yang menggantikan sosok wanita dalam kehidupan Warok Ponorogo. Sebagai asuh yang dipelihara oleh Warok, Gemblak juga berperan sebagai lambang kejayaan  bagi Warok Ponorogo di lingkungan sosialnya.
Masyarakat Geopark Gunung Sewu Pacitan Dalam Perspektif Ekonomi, Tradisi Dan Budaya Erista Zulki Fahrudi; Dheny Wiratmoko
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 8, No 01 (2018)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.844 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v8i01.1485

Abstract

Geopark gunung sewu dengan suasana pedesaannya menyimpan banyak keindahan didalamnya termasuk salah satunya adalah pantai. Wilayah yang tidak hanya konservasi namun, juga keindahan dan kekayaan alamnya dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi masyarakat. Pacitan adalah salah satu didalamnya. Meskipun belum semua, sebagian destinasinya telah dikelola Pemda. Dengan adanya kepariwisataan pada wilayah gunung sewu Pacitan diharapkan perekonomian masyarakat bisa tumbuh dan mengangkat taraf kehidupan mereka. Dengan dua wilayah yaitu pesisir pantai dan pegunungan membuat masyarakat berkebudayaan berbada. Daerah pantai maju dengan pariwisata pantainya, sedang daerah yang tidak berada di garis pantai memanfaatkan kekayaan alam yang ada didalamnya. Pertanian menjadi lahan dan penghasilan utama bagi sebagian besar penduduk Pacitan. Apabila kesulitan mencari pekerjaan di sekitar, mereka merantau keluar baik ke kota maupun luar kota. Selain itu sebagai masyarakat tradisional menjaga dan melestarikan tradisi leluhur tetap dipegang teguh oleh masyarakat sekitar.
Belis: Tradisi Perkawinan Masyarakat Insana Kabupaten Timor Tengah Utara (Kajian Historis dan Budaya Tahun 2000-2017) Fransiska Idaroyani Neonnub; Novi Triana Habsari
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 8, No 01 (2018)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.536 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v8i01.2035

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah, nilai dan makna pergeseran "belis" dalam tujuh belas tahun terakhir pada tradisi  perkawinan di masyarakat Insana Kabupaten Timor Tengah Utara. Penelitian dilakukan di Kecamatan Insana Kabupaten Timor Tengah Utara Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Penelitian ini dilakukan selama lima bulan antara bulan Februari sampai Juli 2017. Adapun bentuk pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif; yaitu penelitian yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Jenis penelitian ialah penelitian deskriptif. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sekunder. Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa "Belis" merupakan tradisi dalam perkawinan adat masyarakat Insana, "belis" merupakan tradisi yang telah ditinggalkan dan diadopsi oleh masyarakat Insana. Dalam perkawinan adat masyarakat Insana, "belis" selalu mempunyai tempatnya tersendiri sebab berbicara soal perkawinan berarti berbicara soal "belis". Sejarah adanya "belis" dalam tradisi perkawinan adat masyarakat Insana adalah suatu peninggalan kebudayaan dari leluhur yang diadopsi dari kehidupan para raja atau bangsawan. Nilai yang terkandung dalam "belis", yakni nilai historis dan nilai budaya. Nilai sejarah karena "belis" merupakan suatu peninggalan tradisi dari zaman nenek moyang masyarakat Insana dan mempunyai nilai adat-istiadat, sedangkan nilai budaya karena "belis" itu selalu dan terus-menerus dilakukan dalam tradisi perkawinan masyarakat Insana, "belis" hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Insana. Pergeseran makna belis dalam tujuh belas tahun terakhir dapat ditinjau dari beberapa aspek yakni ekonomi, tinggi rendahnya pendidikan dari mempelai wanita dan juga adanya kebiasaan meniru dari suku lain.
Pengaruh Konferensi Asia Afrika (KAA) Tahun 1955 Terhadap Kemerdekaan Negara-Negara Di Benua Afrika Yadi Kusmayadi
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 8, No 01 (2018)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.576 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v8i01.1586

Abstract

Penelitian ini bertolak dari pemikiran bahwa Konferensi Asia Afrika merupakan gagasan yang diajukan dalam Konferensi Kolombo, yang dihadiri oleh Indonesia, India, Birma, Pakistan dan Srilangka pada bulan April 1954. Selanjutnya usul tersebut di tindak lanjuti dalam Konferensi Bogor yang diadakan akhir bulan Desember 1954. Sehingga pada bulan April 1955 Konferensi Asia Afrika diselenggarakan yang dihadiri oleh 29 negara. Pengaruh Konferensi Asia Afrika terhadap negara-negara di Afrika merupakan jawaban yang positif terhadap perjuangan bangsa-bangsa terjajah terhadap kaum kolonialis yang berada di Afrika. Maka rakyat di Afrika bangkit mengadakan perlawanan terhadap penjajah bangsa Eropa Barat, menyadari akan pentingnya semangat Bandung karena mempunyai dampak yang tak ternilai terhadap gerak perjuangan dalam usaha membebaskan diri dari kaum imperialis. Konferensi Asia Afrika dapat dianggap sebagai momentum histroris yang sangat penting dalam sejarah dunia. Semangat Bandung menaikkan citra di dunia Internasional khususnya bagi bangsa Afrika.
Tradisi Tunggul Wulung Sebagai Sarana Penguat Jati Diri Bangsa Lany Susanti; Hermanu Joebagio; Sri Yamtinah
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 8, No 01 (2018)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.517 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v8i01.1893

Abstract

Jati diri bangsa merupakan identitas yang dimiliki oleh suatu bangsa yang menjadi ciri khusus. Jati diri bangsa merupakan suatu kebanggaan bahkan menjadi daya tarik tersendiri yang harus tetap dijaga dan dilestarikan secara turun temurun pada generasi muda penerus bangsa. Jati diri bangsa akan terlihat dalam karakter bangsa yang merupakan perwujudan dari nilai-nilai luhur bangsa. Akan tetapi akhir-akhir ini kita mulai di khawatirkan dengan melemahnya jati diri bangsa dalam masyarakat salah satunya disebabkan oleh dampak negatif berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyebabkan degradasi moral pada masyarakat. Masyarakat cenderung individualis karena segala sesuatu dapat dilakukan dengan mudah dan tanpa bantuan orang lain yang pada akhirnya melunturkan nilai-nilai sosial yang selama ini berkembang dan berlaku di masyarakat seperti kekeluargaan, gotong royong, dan toleransi. Kearifan lokal sebagai pusaka budaya memiliki peranan penting sebagai inspirasi dalam penguatan jati diri atau identitas bangsa. Penguatan jati diri suatu bangsa menjadi sangat penting pada era globalisasi dengan tujuan agar tidak luntur atau tercabutnya akar budaya yang diwarisi dari para pendahulu ditengah-tengah kecenderungan homogenitas kebudayaan sebagai akibat dari globalisasi. Bangsa Indonesia mewarisi berbagai kekayaan alam, kekayaan hayati dan kekayaan keragaman sosiokultural. Kekayaan ini merupakan modal dasar yang harus di olah untuk kesejahteraan warga indonesia. Kearifan lokal merupakan modal budaya yang harus dikelola dan dikembangkan yang nantinya akan memperkuat identitas ke-indonesiaan. Penelitian ini dilakukan melalui metode kualitatif yang dilakukan pada saat perayaan Tradisi Tunggul Wulung dengan observasi, wawancara dan dokumentasi untuk melihat nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut yang dapat memperkuat Jati Diri Bangsa. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa dalam Tradisi Tunggul Wulung banyak nilai-nilai sosial sebagai penguat jati diri bangsa, diantaranya adalah kekeluargaan, gotong royong, dan toleransi. Nilai-nilai tersebut terangkum dalam persiapan tradisi hingga pada saat perayaan Tradisi Tunggul Wulung.

Page 1 of 1 | Total Record : 8