Hermanu Joebagio
Universitas Sebelas Maret

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Tradisi Tunggul Wulung Sebagai Sarana Penguat Jati Diri Bangsa Lany Susanti; Hermanu Joebagio; Sri Yamtinah
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 8, No 01 (2018)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.517 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v8i01.1893

Abstract

Jati diri bangsa merupakan identitas yang dimiliki oleh suatu bangsa yang menjadi ciri khusus. Jati diri bangsa merupakan suatu kebanggaan bahkan menjadi daya tarik tersendiri yang harus tetap dijaga dan dilestarikan secara turun temurun pada generasi muda penerus bangsa. Jati diri bangsa akan terlihat dalam karakter bangsa yang merupakan perwujudan dari nilai-nilai luhur bangsa. Akan tetapi akhir-akhir ini kita mulai di khawatirkan dengan melemahnya jati diri bangsa dalam masyarakat salah satunya disebabkan oleh dampak negatif berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyebabkan degradasi moral pada masyarakat. Masyarakat cenderung individualis karena segala sesuatu dapat dilakukan dengan mudah dan tanpa bantuan orang lain yang pada akhirnya melunturkan nilai-nilai sosial yang selama ini berkembang dan berlaku di masyarakat seperti kekeluargaan, gotong royong, dan toleransi. Kearifan lokal sebagai pusaka budaya memiliki peranan penting sebagai inspirasi dalam penguatan jati diri atau identitas bangsa. Penguatan jati diri suatu bangsa menjadi sangat penting pada era globalisasi dengan tujuan agar tidak luntur atau tercabutnya akar budaya yang diwarisi dari para pendahulu ditengah-tengah kecenderungan homogenitas kebudayaan sebagai akibat dari globalisasi. Bangsa Indonesia mewarisi berbagai kekayaan alam, kekayaan hayati dan kekayaan keragaman sosiokultural. Kekayaan ini merupakan modal dasar yang harus di olah untuk kesejahteraan warga indonesia. Kearifan lokal merupakan modal budaya yang harus dikelola dan dikembangkan yang nantinya akan memperkuat identitas ke-indonesiaan. Penelitian ini dilakukan melalui metode kualitatif yang dilakukan pada saat perayaan Tradisi Tunggul Wulung dengan observasi, wawancara dan dokumentasi untuk melihat nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut yang dapat memperkuat Jati Diri Bangsa. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa dalam Tradisi Tunggul Wulung banyak nilai-nilai sosial sebagai penguat jati diri bangsa, diantaranya adalah kekeluargaan, gotong royong, dan toleransi. Nilai-nilai tersebut terangkum dalam persiapan tradisi hingga pada saat perayaan Tradisi Tunggul Wulung.
Pesantren Tegalsari: Islamic Synergy with Local Wisdom in Cultural Acculturation Saifuddin Alif Nurdianto; Hermanu Joebagio; Djono Djono
AL-TAHRIR Vol 19, No 1 (2019): Islam & Local Wisdom
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/altahrir.v19i1.1571

Abstract

Abstrak: The spread of Islam in Java has a distinctive pattern, it occurs through acculturation between doctrines of Islam and local wisdom. The acculturation pattern between Islam and Javanese local wisdom has a dialogical form, or occurs by two-way communication between those who want the existence of Javanese culture with the ones who want the implementation of Islamic law. The result is the appearance of a new culture which local people accept and the preachers of Islam can convey the doctrines of Islam as well. This pattern of acculturation also occurred in Pesantren Tegalsari as the oldest pesantren in Java. The theme of Pesantren Tegalsari, especially in the field of cultural acculturation, is interesting to study because many people still do not know about the historical dynamics of this pesantren. Now, Pesantren Tegalsari was better known for the magical stories of The Kiai (religious leaders) of pesantren than pesantren activities in the past. So the study about Pesantren Tegalsari is important to fill empty spaces in local historiography in Indonesia. This paper is the result of qualitative research using an anthropological approach. The results show that acculturation in Pesantren Tegalsari is in three fields: architecture, language, and tradition. The three forms of acculturation were used by The Kiai of Pesantren Tegalsari to spread Islamic teachings so that they could be easily accepted by the people who were still strong with the old beliefs (Hindu-Buddha).الملخص: انتشار الإسلام في جاوى له نمط مختلف، الذي حدث من خلال التثاقف بين العقيدة الإسلامية والحكمة المحلية. النمط التثاقف بين الإسلام والحكمة المحلية الجاوية له شكل حواري، أو حدث من خلال اتصال ثنائي الاتجاه بين أولئك الذين يريدون وجود ثقافة جاوى وأولئك الذين يريدون تطبيق الشريعة الإسلامية. والحاصل ظهور ثقافات جديدة يمكن قبولها من قبل المجتمع المحلي دون إزالة المادة من تعاليم الإسلام. حدث هذا النمط من التثاقف في معهد تيكلساري بصفته أقدم معهد في جاوا الواقعة في بونوروغو. إن موضوع معهد تيكلساري ، خاصة في مجال الثقافات الثقافية ، أمر مثير للدراسة لأن الكثير من المجتمع ما زالوا لا يعرفون عن الديناميات التاريخية لهذا المعهد. خلال هذا الوقت ، كانت معهد تيكلساري مشهور بالقصص السحرية من قادة المعهد. لذا فإن الدراسة عن هذا المعهد مهمة لملء المساحات الفارغة في التاريخ المحلي في إندونيسيا. تستخدم هذه الدراسة طريقة نوعية مع نهج الأنثروبولوجية. أظهرت النتائج أن التثاقف في معهد تيكلساري في ثلاثة مجالات: الهندسة المعمارية واللغة والتقاليد. تم استخدام أشكال التثاقف الثلاثة من قبل قادة المعهد تيكلساري لنشر التعاليم الإسلامية حتى يمكن قبولها بسهولة من قبل المجتمع الذين لم يزالوا قوياً مع المعتقدات القديمة (بوذا-الهندوسي)Abstrak: Penyebaran Islam di Jawa memiliki pola yang khas, yaitu terjadi melalui akulturasi antara ajaran Islam dengan kearifan lokal. Pola akulturasi antara Islam dan kearifan lokal Jawa memiliki bentuk dialogis, atau terjadi melalui komunikasi dua arah antara mereka yang menginginkan eksistensi budaya Jawa dengan orang-orang yang menginginkan penerapan hukum Islam secara kaffah. Hasilnya adalah munculnya budaya baru yang diterima masyarakat setempat tanpa menghilangkan substansi dari ajaran agama Islam. Pola akulturasi ini juga terjadi di Pesantren Tegalsari sebagai pesantren tertua di Jawa yang terletak di Ponorogo. Tema tentang Pesantren Tegalsari, khususnya dalam bidang akulturasi budaya, menarik untuk dikaji karena banyak masyarakat yang masih belum mengetahui tentang dinamika historis dari pesantren ini. Selama ini Pesantren Tegalsari lebih dikenal karena kisah-kisah magis dari para kiai pimpinan pesantren daripada aktivitas pesantren di masa lalu. Maka tulisan tentang Pesantren Tegalsari menjadi penting untuk mengisi ruang-ruang kosong dalam historiografi lokal di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan antropologis. Hasilnya menunjukkan bahwa akulturasi di Pesantren Tegalsari terjadi dalam tiga bidang: arsitektur, bahasa, dan tradisi. Ketiga bentuk akulturasi digunakan oleh para kiai pimpinan Pesantren Tegalsari untuk menyebarkan ajaran Islam agar dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat sekitar yang masih kuat dengan kepercayaan lama (Hindu-Buddha)
Arsitektur rumah adat Sonaf Bikomi-Sanak pada masyarakat Maslete Kabupaten Timor Tengah Utara Nusa Tenggara Timur Mario Yosef Kabosu; Hermanu Joebagio; Susanto Susanto
Jurnal Teori dan Praksis Pembelajaran IPS Vol. 3, No. 2
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.94 KB)

Abstract

Sonaf Bikomi-Sanak merupakan salah satu wujud hasil kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat  Maslete yang bertahan hingga saat ini. Arsitektur rumah adat  Sonaf Bikomi-Sanak dikatakan sebagai salah satu arsitektur tradisional sebab bentuknya ditularkan secara turun temurun dari generasi ke generasi, sebagaimana bentuk  arsitektur bangunannya sangat melekat dengan situasi masyarakat Maslete dan lingkungan sekitarnya. Di era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi tidak menuntut masyarakat Maslete untuk merubah bentuk bangunan arsitektur rumah adatnya tetapi justru masyarakat tetap mempertahankan keaslian arsitektur bangunan rumah adat Sonaf Bikomi-Sanak. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data diperoleh melalui proses wawancara dan observasi.DOI: 10.17977/um022v3i22018p109
Konstruksi Pembelajaran Sejarah Islam Berbasis Teks Kajen dan Serat Cebolek dengan Pendekatan Ways of Knowing Manggara Bagus Satriya Wijaya; Hermanu Joebagio; Sariyatun Sariyatun
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.611 KB) | DOI: 10.30829/j.v2i2.1676

Abstract

Learning History in the Curriculum as a whole emphasizes the importance of collective memory so that inhibits the growth of critical reasoning in the Student. This review covers an alternative approach in teaching history subjects applied in senior high school. The use of the concept of critical questions and emancipatory models of "ways of knowing" by Juergen Habermas is a strategy taken by teachers in teaching history lessons that can arouse the critical awareness of student. In-depth research is done by qualitative method to know the activity of teachers and learners thoroughly at the time of learning about the history of Shaykh Ahmad Mutamakkin and the settlement of his case stipulated in the Kajen manuscript and Cebolek manuscript as enrichment of the material history Mataram Islamic Kingdom. The results showed that during the learning prose took place the teacher has succeeded in creating the creation of the process of emancipation in the students themselves. Such emancipation enables an increase in the interest of learners to create their own knowledge on the material discussed in a historical perspectiveKata kunci: local wisdom in history, critical pedagogy in teaching history, emancpatory reserach
POLITIK ISLAM DALAM PUSARAN SEJARAH SURAKARTA Hermanu Joebagio
Millah: Journal of Religious Studies Vol. XIII, No. 1, Agustus 2013 Politik dan Agama dalam Bingkai Multikulturalisme
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol12.iss3.art7

Abstract

This article tries to analysis political strategy at the time of islamzation in 16th to 19th century. This analysis use political theory, it’s descending and ascending of power. By supporting of the Saints, it’s possible for Jin Bun (Raden Patah) built the Kingdom of Demak, and by supporting not only spread of islamization, but also reinforced political and social structure. Implication of that Islam was possible running embraces in Demak society. Conversion from Hindu to Islam could be investigation by language symbolism, for instance, the title of Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah. Although the Kingdom of Demak had been collapsed, but islamization processes moved to Pajang and than to the Palace of Mataram. Furthermore Sultanate of Mataram, Sultan Agung, introduceda new strategy for spread of islamization in Java, that were: (1) palace as center ofIslamization, and (2) Islam center points of Javanese culture. The new strategy were continued of political strategy of the Saints. In the other side, Sultan Agung  supported the Saints to built pesantren or madrasah (local boarding school) that had been a grassroots political legitimation. And a grassroot power based on values of solidarity or ashabiyyah.
Penilaian Pembelajaran Sejarah Konstruktivistik: Pendekatan Critical Discourse Analysis Nur Fatah Abidin; Hermanu Joebagio; Sariyatun Sariyatun
Yupa: Historical Studies Journal Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.284 KB) | DOI: 10.30872/yupa.v1i1.87

Abstract

This article discusses about assessment of the constructivism approach in history learning with Critical Discourse Analysis (CDA). CDA provides a set of in-depth analysis method which includes the realm of linguistic, social, and cultural. The CDA is composed of three stages of a dynamic analysis and related to each other: (1) analysis of the text, (2) analysis of the practice of discourse, and (3) analysis of social practices. In the context of history learning with constructivism approach, the third stages can be used to assess the development of the system and the structure of the thinking of learners. CDA approach can be used to analyse the work of learners with description test. Therefore, the necessary rubric based on assessment rubrics and discourse analysis of the level of development of thinking learners. Based on the research results, the CDA can be used in learning history, specifically with constructivism approach. Assessment of history learning with constructivism approach is expected to be an alternative assessment of learning that not only assess student knowledge of quantity, but also to measure the development of the system and the structure of the thinking of learners.
Pembelajaran Sejarah Berbasis Nilai-nilai Serat Wedhatama untuk Menumbuhkan Etika dan Moral Siswa Renny Pujiartati; Hermanu Joebagio; Sariyatun Sariyatun
Yupa: Historical Studies Journal Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.145 KB) | DOI: 10.30872/yupa.v1i1.90

Abstract

Serat Wedhatama is a serat that is written by Mangkunegara IV, where in there are the cultural values of their nation. Their culture is then necessary to transform students through education, in particular the historical studies. This paper is a part of Research and Development (R&D) using the model of the Borg & Gall development model oriented learning history based Serat Wedhatama values to improve ethics and morals in students and habitual in educational institutions. In the first stage measures undertaken include: (1) the mapping ethical values and morals in the Serat Wedhatama through the process of hermeneutics; (2) a description of the learning history at State High School 5 Surakarta; (3) the formulation of draft models learning history based Serat Wedhatama values. The results of this study are: (1) produce deconstruction of ethical values and morals in Serat Wedhatama, (2) description of the condition of learning history at a high school in Surakarta, (3) a draft model of a learning history based values of Serat Wedhatama
Student Teams Achievement Division with a Learning Video to Increase Students` Achievements and Learning Motivation in Social Science Learning Ais Murjianti; Hermanu Joebagio; Nunuk Suryani
Yupa: Historical Studies Journal Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.708 KB) | DOI: 10.30872/yupa.v2i2.119

Abstract

This research aims to measure the effectiveness of the implementation of learning model STAD using video to improve the students’ motivation and students ‘achievement. The type of this research is classroom action research, that is conducted at Sidoharjo Junior High School 2 Sragen, Indonesia. The implementation of cooperative learning with STAD model using video could improve the students` learning achievement. The average score was 76, 13, and the percentage of minimal classical completeness reach 87, 09 %. However, perceived on the classical completeness criteria, all of the students have completed the criteria, and reach 85 % of the learning target. The implementation of STAD using natural resources video could improve the student`s motivation. The result of the research shows the average score of 83, 97%, and the percentage of minimum criteria shows 80%.
Model Pembelajaran IPS Terintegrasi Nilai-Nilai Catur Guru sebagai Civic Intelligence di Bali Lianda Dewi Sartika; Hermanu Joebagio; Susanto Susanto
Yupa: Historical Studies Journal Vol 4 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.747 KB) | DOI: 10.30872/yupa.v4i1.172

Abstract

Materi lokal yang relevan dengan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sangat mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran dan tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, Pemerintah Republik Indonesia telah mengatur dengan membuat regulasi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2013 mengenai potensi muatan lokal dalam pembelajaran. SMP PGRI 1 Denpasar Provinsi Bali telah menindaklanjuti dengan mengembangkan pembelajaran IPS terintegrasi nilai-nilai Catur Guru sebagai kecerdasan warganegara. Penelitian ini dilakukan pada Desember 2019 hingga Februari 2020 dengan mengunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan adanya daya dukung dan intersection nilai-nilai Catur Guru, IPS, pendidikan nasional serta juga Civic Intelligence menjadi kunci keberhasilan model pembelajaran IPS terintegrasi nilai-nilai Catur Guru. Hal ini dikarenakan nilai-nilai Catur Guru sangat relevan dan dekat dengan lingkungan peserta didik. Dukungan dari pemerintah, satuan pendidikan serta daya inovatif-kreativitas guru IPS memegang peranan penting untuk mencapai ini semua