cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah
ISSN : 24772771     EISSN : 24778214     DOI : -
Core Subject : Economy,
Journal of History Education Department in Faculty of Teacher Training and Education named Candrasangkala. In Indonesia Candrasangkala is the year of Saka as one of the influence of Hinduism. As a journal name, Candrasangkala is unique and closely related to history in terms of temporal aspects. Thus, Candrasangkala is a scientific journal of education and history as a place for critical thinking.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2016)" : 9 Documents clear
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LIVING HISTORY DALAM MATERI SEJARAH LOKAL GEGER CILEGON 1888 SEBAGAI UPAYA MEMBANGUN NILAI PATRIOTISME SISWA Rikza Fauzan
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.737 KB) | DOI: 10.30870/candrasangkala.v2i2.2851

Abstract

Abstrak : Tulisan ini menjelaskan mengenai penerapan pembelajaran sejarah melalui pemanfaatan materi sejarah lokal (local history) Geger Cilegon 1888 dalam mengembangkan nilai patriotisme di kalangan siswa. Penulisan ini dilatarbelakangi permasalah yang terjadi di lapangan dalam pembelajaran sejarah ialah anggapan yang mengatakan bahwa sejarah adalah pembelajaran yang menjenuhkan, membosankan, model pembelajaran yang monoton, dan kemampuan guru yang tidak optimal dalam melakukan pengembangan. Salah satu model pembelajaran sejarah lokal yang bisa di terapkan adalah sejarah dari lingkungan sekitar (Living History). Pembelajaran dengan menggunakan materi sejarah lokal mengenai peristiwa heroik di sekitar siswa dapat dijadikan sumber belajar dan mengembangkan nilai-nilai perjuangan para pahlawan lokal.
PROTES SOSIAL PETANI INDRAMAYU MASA PENJAJAHAN JEPANG (1942-1945) Wahyu Iryana
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v2i2.2852

Abstract

Abstrak: Lahirnya peristiwa protes sosial petani Indramayu terhadap kewajiban serah padi pada masa penjajahan Jepang tahun 1944. Berawal dari amanat Syuuchokan yang diberlakukan pada tanggal 1 April 2603 sampai 31 Maret 2604 selama satu tahun, hal ini sesuai data yang tertera pada surat kabar Tjahaja, Rebo 12 Itigatu 2604, No.11 Tahoen ke III. Selain hasil bumi sebanyak 200 gram untuk makan seorang sehari dan 20 kg untuk bibit per hektar, semua hasil bumi harus diserahkan kepada Jepang. Hal ini telah menimbulkan inisiatif petani Indramayu untuk melakukan tindakan-tindakan preventif menolak adanya kewajiban serah padi, dan pada akhirnya mengakibatkan pemberontakan petani Indramayu, yang merembet pada terbunuhnya Camat Sindang. Keadaan Indramayu yang kacau mengakibatkan Indramayu tidak mengeluarkan orang untuk Romusha, Heiho, dan PETA yang berimbas pada pemecatan, pemindahan dan pergantian pangreh praja termasuk Bupati Indramayu R.T.A.A. Mohamad Soediono digantikan oleh Dokter Muhammad Moerdjani tanggal 8 Agustus 1944 untuk memulihkan ketertiban di Indramayu. Menurut Sartono Kartodirdjo sejarah merupan hubungan kausalitas yang berangkat pada suatu gejolak sosial dalam masyarakat yang menimbulkan keresahan dan perubahan sosial. Dalam kasus protes sosial petani Indramayu yang dipicu oleh faktor nilai, ekonomi, politik, kultur sosial dalam bentuk struktural sosial di Indramayu. Penulis berpendapat bahwa kesemuanya itu menciptakan kondisi yang harus ada (Neccesery Condition) bagi terjadinya gejolak dan suatu yang pantas untuk menimbulkan ledakan peristiwa (Sufficient condition). (Sartono Kartodirdjo, 1997:75). Pelaku sejarah perlawanan menentang penjajahan Jepang umumnya terdiri dari ulama desa seperti Kiai Sualaiman, Kiai Srengseng, Haji Akhsan, Kiai Abdul Ghani (Kaplongan), Kiai Madrais (Cidempet), Kiai Muktar (Kertasmaya), Tasiah (Pranggong), Haji Dulkarim (Panyindangan Kidul), Sura (Sindang) dan Karsina ( Slijeg). Kendati pun mereka berasal dari desa terpencil, namun mereka mampu memiliki rasa kebangsaan nasional yang terandalkan. Kenyataan sejarah yang demikian itu, memberikan gambaran bahwa penindasan penjajahan telah dirasakan beratnya oleh segenap bangsa Indonesia, dan penduduk hingga ke pelosok desa. Kesamaan sejarah yang dialaminya inilah, menjadi bahan dasar bila terjadi gerakan perlawanan terhadap Jepang, memperoleh dukungan dari rakyat walaupun di desa ataupun di daerah-daerah lain baik dipegunungan ataupun daerah pantai. Sekalipun hampir tak pernah ditulis dalam buku resmi sejarah, petani Indramayu sudah menorehkan tinta emas dalam sejarah perjuangan bangsa.
PROBLEMATIKA DALAM PELAKSANAAN PENDIDIKAN SEJARAH DI SEKOLAH MENEGAH ATAS KOTA DEPOK Yusuf Budi Prasetya Santosa
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.356 KB) | DOI: 10.30870/candrasangkala.v2i2.2853

Abstract

Abstract: Educational history is an important instrument to build a nation. A proverb says that history makes people wise and sensible. Anybody could learn from history and then use the lesson for a better future. Educational history as a large concept has a smaller derivative, that is the learning of history. Historical learning is given formally from primary to secondary level of education. In the process, history teacher has a big role for the success of educational history. History teacher act as the front guard in conducting educational history. But in the process there are some problems that inhibit the success of history learning. The problem could be overcome when history teacher returns to the "rail" of true historical education.
PENYUSUNAN MODUL EVALUASI PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS AUTHENTIC ASSESSMENT PORTOFOLIO Chairunisa, Eva Dina; Zamhari, Ahmad
Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.553 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan prototype modul mata kuliah evaluasi pembelajaran sejarah berbasis penilaian portofolio yang efektif, praktis dan mampu menghasilkan informasi tentang perkembangan proses belajar mahasiswa tentang materi evaluasi pembelajaran sejarah melalui penilaian portofolio. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan tahapan prosedur 1) Need Assessement, yang dilakukan pada mahasiswa dan Guru pendidikan sejarah. 2) Literature Review, pencarian referensi. 3) Develop Preminary form of product. 4) Preminary field test. Hasil dari penelitian ini adalah, modul dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu 1) Konsep dasar evaluasi pembelajaran. 2) Metode penilaian dalam Kurikulum 2013. 3) Potensi dalam pembelajaran sejarah dan penyusunan penilaiannya 4) Menyusun Instrumen Penilaian Sikap, 5) Menyusun Instrumen Penilaian Pengetahuan. 6) Menyusun Instrumen Penilaian keterampilan. 7) Penilaian dalam Pembelajaran Sejarah Lokal.
KIPRAH POLITIK PAGUYUBAN PASUNDAN PERIODE 1927-1959 Andre Bagus Irshanto
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.667 KB) | DOI: 10.30870/candrasangkala.v2i2.2849

Abstract

Abstract: This thesis entitled “KIPRAH POLITIK PAGUYUBAN PASUNDAN PERIODE 1927-1959”. The author takes the topic of Paguyuban Pasundan with the above title, because it is based on the results of the study of literature by the author, that there is still the lack of works that discuss Paguyuban Pasundan, especially about political activities. The main issues that will be raised in this thesis is that Paguyuban Pasundan is not limited active in social and cultural sectors but also actively engaged in politics. Based on the main issue can be developed into three formulation of research: 1) What is the background to the Paguyuban Pasundan ? 2) How is the political role of the Paguyuban Pasundan period 1927-1959 ? 3) How is the end of political struggle Paguyuban Pasundan in 1959 ? The method used is the historical method which consists of four stages, namely Heuristic, Criticism, Interpretation, Historiography, and to be helped by using an interdisciplinary approach from the social sciences (especially of Sociology and Politics). The technique that author uses is the study of literature related to the theme of the author analyzed. Based on the results of the study of literature by the author, Paguyuban Pasundan  period 1927-1959 has an important role, especially in the political field. In the period 1927-1942 establishing PPPKI, GAPI and active in the Volksraad. The period of 1942-1945 some of its members active in the formation of Japanese agencies such as newspapers Tjahaja, PETA and Java Hokokai. Period 1945-1950 actively opposed the establishment of Negara Pasundan founded by the Dutch and the last period of 1950-1959 which Paguyuban Pasundan involvement in the 1955 general election.
DAKWAH ISLAM H. ISMAIL MUNDU DI KALIMANTAN BARAT TAHUN 1907-195 Karel Juniardi
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v2i2.2850

Abstract

Abstrak: This study aimed to describe (1) Brief History of the Kingdom of Kubu; (2) The Islamic Propagation Ismail Mundu; (3) Heritage Ismail Mundu in preaching. This study uses historical research stages heuristic, criticism, interpretation and historiography. This research was conducted in the district of Kubu Raya Teluk Pakedai West Kalimantan Province. The data source consists of informants, literature and documents. Data collection techniques using the technique of direct communication, literature, and documentation study. While the data collection tool used is interview, literature analysis and document analysis. The study concluded that: (1) the Kingdom of Kubu is one of the Islamic empire founded by traders from Hadramawt. Kubu kingdom ruled by the descendants of Al Idrus and recognized by the Netherlands as one of the unoccupied areas in West Kalimantan; (2) Haji Ismail Mundu are scholars Bugis descent who was born in West Kalimantan. He had studied Islam in Mecca. Later, he taugth the religion of Islam in West Kalimantan, especially in the area of Kubu so that he gets the sympathy of King Kubu and was appointed as the Mufti of the Kingdom of Kubu; (3) Haji Ismail Mundu died in 1957 by bequeathing some of his teachings, such as the book collection of wird, the Minutes of Practice, Book Mukhtasar Aqaid and Hukmin Book of Nikah. Apart form the books and manuscripts, relics of Haji Ismail Mundu another form of a mosque called Masjid batu located in the Gulf Pakedai Kubu Raya. The Mosque was built by Haji Ismail Mundu as a center of Islamic learning for him and his disciples.
PENGEMBANGAN MATERI AJAR NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL “GREEN BEHAVIOUR” DI BANTEN Ana Nurhasanah; Yuni Maryuni; Arif Permana Putra; Rikza Fauzan; Nashar Nashar; Eko Ribawati
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.045 KB) | DOI: 10.30870/candrasangkala.v2i2.3735

Abstract

Penelitian ini bertolak dari keresahan terhadap rendahnya pembelajaran sejarah lokal sebagai sebuah identitas yang semakin tidak menyentuh generasi muda saat ini dan nilai tradisi masyarakat adat Baduy sebagai salah satu etnis lokal Banten yang terabaikan sebagai salah satu karakter bangsa. Rumusan masalah Nilai-nilai budaya apa saja yang dikembangkan dari masyarakat adat Baduy dalam pembelajaran sejarah di SMAN 3 Rangkasbitung? dan Bagaimana aktualisasi pendidikan nilai budaya adat suku Baduy dalam pembelajaran sejarah di SMAN 3 Rangkasbitung? serta Bagaimana internalisasi pendidikan nilai budaya adat suku Baduy melalui pembelajaran sejarah bagi peserta didik di SMAN 3 Rangkasbitung. Metodologi penelitian yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan Etnografi dan Naturalistik Inkuiri.Dari hasil penelitian pembelajaran sejarah lokal dalam pengembangan materi nilai tradisi masyarakat adat Baduy dimulai dengan melakukan (1) Observasi dan wawancara terhadap narasumber (2) analisis hasil wawancara dan studi literatur (3) Internalisasi nilai-nilai tradisi masyarakat adat baduy dala pembelajaran di SMAN 3 Rangkasbitung, memanfaatkan sejarah lokal masyarakat adat Baduy (Selanjutnya guru yang kesulitan diupayakan untuk mampu meningkatkan aktivitas, kreativitas, dan kegairahan siswa maupun guru mengenai nilai-nilai tradisi masyarakat adat baduy dan penanaman nilai pelestarian lingkungan. Kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan tujuan pembelajaran diantaranya kemampuan kerja sama, tanggung jawab, mencari dan menemukan sumber belajar, mandiri, sikap berani, menghargai waktu, pantang menyerah, dan toleransi serta menghubungkan peristiwa sejarah dengan kehidupan seharihari dalam upaya mempersiapkan warga negara yang berjiwa multikultural dan memiliki rasa cinta dan bangga terhadap Indonesia.
PERKEMBANGAN BUDAYA ETNIS TIONGHOA DI INDONESIA TAHUN 1998-2008 Maryuni, Yuni
Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas etnis Tionghoa dalam menjalankan ritual agama dan adat istiadat leluhur di Indonesia bergantung pada aturan pemerintah yang mengaturnya secara holistik. Baik itu dalam menjalankan kegiatan keagamaan, adat istiadat leluhur dan hak-hak sebagai warga negara yang sejajar dengan etnis lain di Indonesia.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan budaya Etnis Tionghoa di Indonesia tahun 1998-2008. Pemilihan kurun waktu tersebut berdasarkan pada perubahan peraturan pemerintah yang menjadi awal bagiterbukanya pintu kebebasan Etnis Tionghoa sebagai WNI dengan penghapusan istilah pri dan non pri dan kebebasan dalam pengekspresian budaya Tionghoa. Pengakuan identitas bagi Etnis Tionghoa sangatlah penting untuk metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu historis factual dengan tahapan: heuristic, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi dan politik dengan model penulisan bersifat deskriptif analisis. Hasil penelitian menunjukan bahwa setelah dikeluarkannya aturan pemerintah mengenai penyelesaian masalah etnis Tionghoa yang dimulai dari Presiden Habibie mengeluarkan Inpres No. 26/ 1998 sampai dengan tahun 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono …..etnis Tionghoa memiliki kedudukan yang sejajar dengan etnis lain sebagai masyarakat Indonesia. Menghapus istilah “pri” dan “non-pri”, agar tidak mempertajam perbedaan antara kedua golongan tersebut.Kemudian, Presiden Abdurachman Wahid menerbitkan Keppres No. 6 tahun 2000 yang mencabut Inpres No. 14 tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Dengan terbitnya Keppres ini, perayaan Konghuchu ataupun aktivitas kebudayaan warga Cina lainnya tidak perlu lagi ijin khusus. Ditambah lagi dengan dijadikannya Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional pada era pemerintahan Presiden Megawati sejak 2002.
PERKEMBANGAN BUDAYA ETNIS TIONGHOA DI INDONESIA TAHUN 1998-2008 Maryuni, Yuni
Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas etnis Tionghoa dalam menjalankan ritual agama dan adat istiadat leluhur di Indonesia bergantung pada aturan pemerintah yang mengaturnya secara holistik. Baik itu dalam menjalankan kegiatan keagamaan, adat istiadat leluhur dan hak-hak sebagai warga negara yang sejajar dengan etnis lain di Indonesia.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan budaya Etnis Tionghoa di Indonesia tahun 1998-2008. Pemilihan kurun waktu tersebut berdasarkan pada perubahan peraturan pemerintah yang menjadi awal bagiterbukanya pintu kebebasan Etnis Tionghoa sebagai WNI dengan penghapusan istilah pri dan non pri dan kebebasan dalam pengekspresian budaya Tionghoa. Pengakuan identitas bagi Etnis Tionghoa sangatlah penting untuk metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu historis factual dengan tahapan: heuristic, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi dan politik dengan model penulisan bersifat deskriptif analisis. Hasil penelitian menunjukan bahwa setelah dikeluarkannya aturan pemerintah mengenai penyelesaian masalah etnis Tionghoa yang dimulai dari Presiden Habibie mengeluarkan Inpres No. 26/ 1998 sampai dengan tahun 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono …..etnis Tionghoa memiliki kedudukan yang sejajar dengan etnis lain sebagai masyarakat Indonesia. Menghapus istilah “pri” dan “non-pri”, agar tidak mempertajam perbedaan antara kedua golongan tersebut.Kemudian, Presiden Abdurachman Wahid menerbitkan Keppres No. 6 tahun 2000 yang mencabut Inpres No. 14 tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Dengan terbitnya Keppres ini, perayaan Konghuchu ataupun aktivitas kebudayaan warga Cina lainnya tidak perlu lagi ijin khusus. Ditambah lagi dengan dijadikannya Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional pada era pemerintahan Presiden Megawati sejak 2002.

Page 1 of 1 | Total Record : 9