cover
Contact Name
Fardan Mahmudatul Imamah
Contact Email
imamah2012@gmail.com
Phone
+6281345602487
Journal Mail Official
jurnalkontemplasi@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung, Jl. Mayor Sujadi Timur No. 46 Tulungaung 66221
Location
Kab. tulungagung,
Jawa timur
INDONESIA
KONTEMPLASI: JURNAL ILMU-ILMU USHULUDDIN
ISSN : 23386169     EISSN : 25806866     DOI : -
Focus The focus of this paper is an attempt to actualize a better understanding of the Islamic theology, hermeneutic, sociology, philosophy, communication, hadith, and else, both locally and internationally through the publication of articles, research reports, and book reviews. Scope Its principal concern includes research development and knowledge dissemination on issues related to Islamic theology.
Articles 234 Documents
LIVING QUR’AN: KOMBINASI KALIMAT LAILAHA ILLALLAH DENGAN SURAH AL-KAHFI: 10 DAN AL-ISRA’: 82 DALAM ILMU PERNAFASAN AL-MUSLIMUN (Studi Kasus di Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal Blitar) M. Imam Sanusi Al-Khanafi
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 7 No 2 (2019): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2019.7.2.375-405

Abstract

The analysis used in this study was the sociological theory of Karl Mannheim, especially in three aspects of meaning: Objective meaning, expressive meaning, and documentary meaning. The results of this study were: 1) Objective Meaning, all of students (santri) believed that tradition outwardly and spiritually participates in carrying out government programs to exercise and train the santri, and to accommodate the santri so that they were filled with religious learning that breathe Islam with the aim of amar ma'ruf nahi munkar. 2) Expression Meaning, they believed that the sentence of laa ila hailaha illallah was a fortress, while the combination of surah al Kahfi: 10 and al Isra': 82 it is convinced as a provisions for helping others. They believe that this combination produces a big power. Qolbu containing la ilaha illallahfilters impurity of body and spiritual. So it makes body more clean and healthy. They believed, a heart which was filled with la ilaha illallahwill filter out physical and spiritual impurities of the body, this making both their bodies healthier and cleaner. 3) Documentary Meaning, they were not aware of the implicit meaning in that tradition, so what thing that be done by the doers without realizing indicates the full form of expression. Keyword: la ilaha illallah, surah al-kahfi: 10 dan al-isra’: 82, respiratory science, Al-Kamal Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sosiologi pengetahuan Karl Mannheim, terutama pada tiga aspek makna: Makna Objektif, makna ekspresif dan makna dokumenter. Hasil penelitian ini adalah: Makna Objektif, Makna Ekspresif, dan Makna Dokumenter. Hasil penelitian ini adalah: 1) Makna Objektif, semua santri meyakini bahwa tradisi tersebut secara lahiriah dan rohaniah ikut melaksanakan program pemerintah untuk berolahraga dan mengolahragakan santri, serta menampung para santri agar terisi ilmu-ilmu Agama yang bernafaskan Islam dengan tujuan amar ma’ruf nahi munkar. 2) Makna Ekspresi, mereka meyakini jika kalimat la ilaha illallahmerupakan hisnun (benteng), sedangkan kombinasi antara kalimat la ilaha illallahdengan surah al Kahfi: 10 dan al Isra’: 82 diyakini menghasilkan power untuk menolong diri sendiri maupun orang lain. Mereka meyakini, qalbu yang terisi kalimat la ilaha illallahakan memfilter kotoran jasmani dan rohani dalam tubuh, sehingga menjadikan tubuh keduanya semakin sehat dan bersih. 3) Makna Dokumenter, mereka tidak menyadari makna yang tersirat dalam tradisi tersebut, sehingga apa yang dilakukan para pelaku tanpa sadar menunjukkan bentuk ekspresi secara keseluruhan. Diyakini sebagai bekal untuk diri-sendiri maupun untuk menolong orang lain. Mereka meyakini, kombinasi tersebut menghasilkan energi (power) yang besar, dan qalbu yang terisi kalimat la ilaha illallahmemfilter kotoran jasmani dan rohani dalam tubuh, sehingga menjadikan tubuh keduanya semakin sehat dan bersih. Kata Kunci: la ilaha illallah, surah al-kahfi: 10 dan al-isra’: 82, ilmu pernafasan, Al-Kamal 
STRATEGI KEBUDAYAAN QUR’ANI HASYIM ASY’ARI YANG RAHMATAN LIL ALAMIN Muhamad Sholeh
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 7 No 2 (2019): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2019.7.2.406-446

Abstract

The article in the hands of this reader is none other than a reflection of our Islam in Indonesia. This reflection aims to arouse the spirit that surges in the body of the Nahdliyin (NU) people. Which is actually written in it is a mixture of Qanun Asasi (Al-Qur'an and Hadith) KH. Hasyim Asy'ari with a country full of culture. In fact, it is used to formulate the Culture Strategy of Qur'ani in order to save the Unitary Republic of Indonesia (Unitary State of the Republic of Indonesia) is also a syifa ’(medicine) for all people. That the true Cultural Strategy is always used from time to time in order to solve different problems with one main foundation, namely the Qur'an and the Hadith. Because Al-Qur'an is final at the same time Hadith has also been given. So as a Muslim, he should make it as a benchmark that needs to be re-learned in the arena of modern Muslims. So that in Islam we are not rude, angry, liberal, radical, and so on. In conclusion, a true Islam must truly blend with culture, by taking the core of health (the verse of God) combined with real reality. So the concept of rahmatan lil alamin is truly soothing for all humans. Keyword: Cultural Strategy, Al-Qur'an, KH. Hasyim Ash'ari. Artikel yang ada ditangan pembaca ini bukan lain dan tidak bukan merupakan refleksi dari kita ber-Islam di Indonesia. Refleksi ini bertujuan untuk membangkitkan semangat yang menggelora dalam tubuh umat Nahdliyin (NU). Yang sejatinya tulisan didalamnya merupakan percampuran antara Qanun Asasi (Al-Qur’an dan Hadits) KH. Hasyim Asy’ari dengan realias negara yang penuh dengan budaya. Notabene dipakai untuk merumuskan Strategi KebudayaanQur’ani demi untuk menyelamatkan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) juga merupakan syifa’ (obat) bagi semua umat. Bahwa sejatinya Strategi Kebudayaanmemang selalu dipakai dari masa-ke masa demi menyelesaikan masalah yang berbeda dengan satu landasan utama yakni Al-Qur’an dan Hadits. Dikarenakan Al-Qur’an sudah final sekaligus Hadits juga sudah diberikan. Maka sebagi seorang Muslim hendaknya menjadikan ia sebagai patokan yang perlu dirasakan ulang kehikmahannya dalam kancah Muslim modern. Sehingga dalam kita ber-Islam tidak ada sebutan kasar, marah, liberal, radikal, dan lain sebaginya. Kesimpulannya Islam yang benar-benar Islam sejatinya harus berbaur dengan kebudayaan, dengan mengambil inti kemanfatan (ayat Allah) berpadu dengan realitas yang nyata. Sehingga konsep rahmatan lil alamin memang benar –benar menyejukkan bagi semua manusia. Kata Kunci: Strategi Kebudayaan, Al-Qur’an, KH. Hasyim Asy’ari. 
RELASI TRADISI MUSLIM JAWA DAN MUSLIM BERBER (Tinjauan Atas Kemiripan pada Penamaan Bulan-Bulan Islam Jawa Dan Berber Dalam Kaitannya Dengan Perayaan Hari-Hari Besar Islam) Ahmad Musonif
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 7 No 2 (2019): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2019.7.2.228-251

Abstract

The relation between Javanese and Berber Islamic traditions can be seen from several Berber traditions such as religious holidays such as Mawlid, Eid al-Fitr and Eid al-Adha. The influence of Berbers is also seen in the names of Javanese Islamic months which have similar meanings to the names of Berber Islamic months. This relation can be traced to its historical roots from the pre-colonial period, precisely in the time of Wali Songo. There are some Islamic preachers in the past who came from the Maghrib (morocco) which is the residence of the Berbers. In addition Sultan Agung as the originator of the Javanese Islamic calendar based on his pedigree is also a descendant of the Maghrib. Keywords: Javanese Islamic Traditions, Berber Islamic Traditions, Islamic Month Relasi tradisi Islam Jawa dan Islam Berber dapat dilihat dari beberapa tradisi Berber Seperti perayaan hari besar agama misalnya Mawlid, Idul Fitri, dan Idul Adha. Pengaruh Berber juga tampak pada nama-nama bulan Islam Jawa yang secara makna memiliki kemiripan dengan nama-nama bulan Islam Berber. Relasi ini dapat dilacak akar sejarahnya dari masa pra kolonial, tepatnya pada masa wali songo. Ada beberapa tokoh juru dakwah Islam pada masa lalu berasal dari Maghrib (maroko) yang merupakan tempat tinggal orang-orang Berber. Selain itu Sultan Agung sebagai pencetus kalender Islam Jawa berdasarkan silsilahnya juga merupakan keturunan orang-Maghrib. Kata Kunci: Tradisi Islam Jawa, Tradisi Islam Berber, Bulan Islam  
KONSTRUKSI AGAMA DAN KESAKRALAN MASYARAKAT SEBAGAI MANISFESTASI TOTEM: STUDI TERHADAP PEMIKIRAN EMILE DURKHEIM Ismail Ismail
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 7 No 2 (2019): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2019.7.2.212-227

Abstract

This article tries to explain how the important role of the dotem or totem in building a sense of unity both in the social sphere and the religious side. Based on the results of research conducted by Durkheim, we can conclude that totems have been deeply involved in the pulse of Aboriginal life in Australia. Totems are not just names used by various clans, totems have also been transformed into something sacred. With this sacredness, the totem has become the initial foothold for the formation of social solidarity and is able to encourage the community to construct life ethics and even become the strongest factor in which religion arises. Keywords: Totems, religion, society. Artikel ini berusaha menjelaskan bagaimana peran penting dotem atau totem dalam membangun rasa persatuan baik di ranah sosial maupun sisi agama. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Durkheim, kita bisa menyimpulkan bahwa totem telah terlibat jauh ke dalam nadi kehidupan suku Aborigin di Australia. Totem bukan hanya sekedar nama yang digunakan oleh berbagai macam klan, totem juga telah menjelma menjadi sesuatu yang sakral. Dengan kesakralan tersebut, totem telah menjadi pijakan awal terbentuknya solidaritas sosial serta mampu mendorong masyarakat untuk mengkonstruksi etika hidup bahkan menjadi satu faktor terkuat dimana agama itu muncul. Kata Kunci: Totem, agama, masyarakat.
Philosophical Thinking In The Search For The Existence Of A God Ahmad Noviansah
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 8 No 2 (2020): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2020.8.2.121-142

Abstract

Abstract In this paper discusses the thought of philosophy in seeking the existence of God. So God in human view is very interesting in terms of existence and existence, the reason of man is not able to find and show the presence of human rationally. So that the notoriousness of God from the realm of rational and sought after the existence of it, he bore many major religions in the world, all religions believe that one God is strongest. Then the pilots arose, and the existence of the Lord, that was: 1. Saint Augustine who believed that God was by looking at the history of the drama of Creation, 2. Thomas Aquinas, He combined the thought of Aristotle with Christian Revelation. The truth of faith and the perceived religious experience are able to understand God, 3. Descartes He thought of the Lord commencing from his main principle which is “a combination of Catholic and scientific Pietism”, 4. Immanuel Kant with his methods in seeking the existence of God with his moral law, 5. Alfred North Whitehead He used religious dogma adopted by humans and then sought the truth of the religion from whom. Keywords: Philosophy of Deity, human reason for God, theism as the concept of deity. Abstrak Didalam tulisan ini membahas tentang pemikiran filsafat dalam mencari eksistensi Tuhan. Jadi Tuhan dalam pandangan manusia merupakan hal yang sangat menarik diketahui keberadaanya dan eksistensinya, nalar manusia tidak mampu menemukan dan menunjukan keberadaan manusia secara rasioanal. Sehingga kemsiteriusan Tuhan dari alam rasional ditalar dan dicari eksistensinya olehkarnya ia melahirkan banyak agama-agama besar didunia, semua agama meyakini bahwa satu Tuhan terkuat. Lalu timbullah para filosof yang memikirakan eksistensi Tuhan yaitu: 1.Santo Agustinus yang percaya bahwa Tuhan ada dengan melihat sejarah dari drama penciptaan, 2.Thomas Aquinas dia menggabungka pemikiran Aristoteles dengan Wahyu Kristen. Kebenaran iman dan pengalaman keagamaan yang dirasakan mampu memahami Tuhan, 3.Descartes dia memikirkan Tuhan bermula dari prinsip utamanya yang merupakan “gabungan antara peitisme Katolik dan sains”, 4.Immanuel Kant dengan metodenya dalam mencari eksistensi Tuhan yaitu dengan hukum moralnya, 5.Alferd North Whitehed dia menggunakan dogma-dogma agama yang dianut oleh manusia lalu mencari kebenarannya agama tersebut dari siapa. Kata Kunci : Filsafat Ketuhanan, Alasan Manusia Menalar Tuhan, Teisme Sebagai Konsep Ketuhanan.
Reading Hizb Ghozali In Boarding School Luqmaniyyah Yogyakarta Oki Dwi Rahmanto
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 8 No 2 (2020): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2020.8.2.87-120

Abstract

Abstract Reading Hizb Ghozali in Pondok Pesantren Luqmaniyyah Yogyakarta Hizib Ghozali is one of the many benefits of Hizb. As for the practice, Santri must do the Tirakat. Besides, Tirakat of Santri is obliged to do readings Hizib Ghozali every day. If Santri violates will be punished by the caretaker of Pesantren Luqmaniyyah Yogyakarta. By using Karl Mannheim's Sociology of knowledge theory, it is hoped that this research could reveal meaning the Santri in the reading of Hizb Ghozali. Karl Mannheim discusses in detail the behavioural behaviour and meaning of human behaviour. Karl Mannheim distinguishes between three different meanings in social action, i.e. objective, expressive and documentary meaning. As for the results of this research, the objective meaning contained in the reading Hizb Ghozali in Pondok Pesantren Luqmaniyyah is reading Hizib Ghozali is a form of Ijazahan from Kyai Na'im as caretaker of Pesantren Luqmaniyyah, besides, the recitation of Hizb Ghozali believed to grant all the Hajat desired. The meaning of expressive is the recitation of Hizb Ghozali performed by the students because of the sense of Ta'dzim on the teacher and can be trusted to give many benefits. The meaning of the documentary in the reading of Hizb Ghozali is the recitation of Hizb Ghozali in Pondok Pesantren Luqmaniyyah Yogyakarta is a practice that can be a thorough culture.. Keywords: Hizib Ghozali, Karl Mannheim's, Sociology of knowledge theory. Abstrak Membaca Hizib Ghozali dalam Pondok Pesantren Luqmaniyyah Yogyakarta, Hizib Ghozali adalah salah satu banyak manfaat dari Hizib. Adapun prakteknya, Santri harus melakukan Tirakat tertentu. Selain itu, Tirakat Santri wajib melakukan pembacaan Hizib Ghozali setiap hari. Jika Santri melanggar akan dihukum oleh penjaga Pesantren Luqmaniyah Yogyakarta. Dengan menggunakan Karl Mannheim tentang ilmu pengetahuan teori, diharapkan bahwa penelitian ini dapat mengungkapkan makna Santri dalam membaca Hizb Ghozali. Karl Mannheim membahas secara rinci perilaku dan makna perilaku manusia. Karl Mannheim membedakan antara tiga makna berbeda dalam aksi sosial, seperti makna, ekspresif dan dokumenter. Adapun hasil penelitian ini, tujuan yang terkandung dalam membaca Hizb Ghozali di Pondok Pesantren Luqmaniyyah adalah bentuk dari Ijazahan dari Kyai Na'im sebagai pengurus dari Pondok Pesantren Luqmaniyyah. Makna ekspresif pembacaan Hizib Ghozali dilakukan oleh Santri karena rasa takdzim pada Kyai dan dapat dipercaya untuk memberikan banyak keuntungan. Makna dari film dokumenter dalam pembacaan dari Hizib Ghozali adalah pembacaan dari Hizb Ghozali di Pondok Pesantren Luqmaniyyah Yogyakarta adalah latihan yang dapat menjadi budaya menyeluruh. Kata Kunci : Hizib Ghozali, Karl Mannheim, Sosiologi Teori Pengetahuan.
Keistimewaan Manusia (Analisis Pesan Dakwah Felix Siauw dalam Video Youtube Kajian Islam Rahmatan Lil Alamin) Hadiana Trendi Azami
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 8 No 1 (2020): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2020.8.1.1-21

Abstract

Abstract This article will discuss the idiosyncrasy of humans by using a qualitative method and descriptive analysis approach. According to Felix Siauw in understanding the potential of human life should be dissected in advance about human nature and the factors that influence it. After that can be aware of potential human life that is at once a privilege of the human. Among the privileges of man, namely physical needs, instincts, sense and mind, and nature for days. The purpose of this Article review about understanding the verses of the Qur'an and the message of da'wah put forward by Felix Siauw in channel Youtube Felix Siauw. How Felix Siauw in explaining the nature of privileges human. How faceted shape of the idiosyncrasy of man according to Felix Siauw, functionality, and usability to determine the potential of human life in the context of the present. The study will be reviewed from the perspective of maqasid of shari'ah especially related to the message verses of the Qur'an. Keywords: Idiosyncrasy, Human, Potential, Life. Abstrak Artikel ini akan membahas keistimewaan manusia dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan analisis deskriptif. Menurut Felix Siauw dalam memahami potensi kehidupan manusia harus dibedah terlebih dahulu tentang hakikat manusia dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Setelah itu, dapat diketahui potensi kehidupan manusia yang sekaligus menjadi keistimewaan manusia. Diantara keistimewaan manusia yaitu kebutuhan jasmani, naluri, akal dan pikiran, dan fitrah untuk bertauhid. Tujuan Artikel ini mengkaji tentang pemahaman ayat al-Qur’an dan pesan dakwah yang dikemukakan oleh Felix Siauw dalam chanel Youtube Felix Siauw. Bagaimana cara Felix Siauw dalam menjelaskan hakikat keistemewaan manusia. Bagaiamana ragam bentuk keistimewaan manuia menurut Felix Siauw, fungsi dan kegunaan untuk mengetahui potensi kehidupan manusia dalam konteks kekinian.Kajian tersebut akan dikaji dalam perspektif maqasid syari’ah terutama terkait pesan ayat al-Qur’an. Kata kunci : Keistimewaan, Manusia, Potensi, Hidup.
Ilmu Dalam Perspektif Imam Al-Ghazali Muhammad Fadhlulloh Mubarok
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 8 No 1 (2020): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2020.8.1.22-38

Abstract

Abstract Science is the obligation of muslims to open the horizons of the islamic world yag rooted in the revelation of the Qur'an and the Sunnah, supported by akaluntuk the development of Islamic education. The islamic life is very closely connected with education, in order to continue generasa young intellect and know religion. A figure of islam Al-Imam Al-Ghazali is an expert philosopher famous with his work we Ihya; Ulumuddin (reviving the knowledge of religion). In the book of Ihya ‘Ulumuddin explained about the concept of science that can be drawn as a reference of scientific a muslim. in the works of Al-Ghazali explained in detail about the meaning of the concept of science which is very important for the development of islamic religious education. Al-Ghazali divides knowledge into two categories, namely: fardhu ‘ain and fardhu kifayah. Therefore, the concept of education should be started from the fard ‘ain fardhu kifayah. Keywords: Of Science, Imam Al-Ghazali, Fard ‘Ain, Fard Kifayah. Abstrak Ilmu merupakan kewajiban muslim untuk membuka cakrawala dunia islam yag bersumber pada wahyu Al-Qur’an dan Sunnah dengan didukung oleh akaluntuk perkembangan pendidikan Islam. Kehidupan islam sangat erat hubungannya dengan pendidikan, demi meneruskan generasa muda yang intelek dan tahu agama. Seorang tokoh islam Al-Imam Al-Ghazali merupakan ahli filosof masyhur dengan karyanya kita Ihya; Ulumuddin (menghidupkan kembali pengetahuan agama). Dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin dijelaskan tentang konsep keilmuan yang dapat ditarik sebagai rujukan ilmiah seorang muslim. dalam karya Al-Ghazali dijelaskan secara detail tentang makna konsep keilmuan yang sangat penting demi perkembangan pendidikan agama islam. Al-Ghazali membagi ilmu menjadi dua kategori yaitu: fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Oleh karena itu, konsep pendidikan seharusnya dimulai dari yang fardhu ‘ain untuk fardhu kifayah. Kata Kunci: Ilmu, Imam Al-Ghazali, Fardhu ‘Ain, Fardhu Kifayah.
Toleransi Agama Menurut Pandangan Syaikh Wahbah Al-Zahayli Alaika Abdi Muhammad
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 8 No 1 (2020): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2020.8.1.39-74

Abstract

Abstract Religious tolerance has always been an interesting topic of study. The relations between religions in various parts of the world make the study has an important position. Many religious leaders try to explain the meaning of tolerance based on the verses of the Koran. The contemporary scholar who gives serious attention to tolerance is Wahbah al-Zuhayli. Methodologically, his interpretation tends to follow the approach of classical Ulema scholars. The problem of tolerance that he explained is based on the current social reality of religious communities. The idea of tolerance offered by al-Zuhayli begins with an explanation of the concept of wasatiyyah al-Islam. Furthermore, the interpretation of al-Zuhayli's tolerance has four main points: First, the union of Islam with the Abrahamic Religion. The existence of several roots of the same teachings in Abrahamic Religion is a way to form a moderate and tolerant attitude. Second, the principle of freedom in choosing a religion. Third, the prohibition of spreading hatred and terror. Fourth, the recommendations prioritizing justice. Al-Zuhayli's interpretation revealed a pattern of harmonious and tolerant relations between religious communities. This is, at the same time, a scientific criticism of the doctrines of violence that are echoed by radical groups. Keywords: Religious tolerance, Wahbah al-Zuhayli, Wasathiyyah al-Islam (Islamic moderations). Abstrak Tema toleransi agama selalu menjadi topik yang menarik untuk dikaji. Pasangsurut hubungan antar umat beragama di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia, membuat kajian ini memiliki posisi yang penting dalam studi agama. Banyak agamawan, khususnya para ulama tafsir yang bersaha menjelaskan makna toleransi secara normatif berdasarkan ayat-ayat Al-Qurán. Ulama kontemporer yang memberi perhatian serius tentang toleransi adalah Wahbah al-Zuhayli. Meski secara metolodolgis penafsiran al-Zuhayli cenderung mengikuti pendekatan nas ulama klasik. Namun, problem toleransi yang ia jelaskan berdasarkan realitas sosial umat beragama saat ini. Gagasan toleransi yang ditawarkan oleh al-Zuhayli diawali dengan penjelasannya tentang konsep wasatiyyah al-Islam (moderasi Islam). Selanjutnya, al-Zuhayli mengelompokan empat hal pokok tema toleransi yang dijelaskan al-Qur’an. Pertama, relasi antar Agama Samawi. Adanya beberapa akar ajaran yang sama dalam agama samawi merupakan jalan untuk membentuk sikap moderat dan toleran. Kedua, asas kebebasaan dalam memilih agama. Poin ini menegaskan prinsip Ri’ayah al-Din yang diusung syari’at Islam. Ketiga, larangan menebar kebencian. Dan ke-empat Larangan tindakan teror serta anjuran mengutamakan keadilan. Setiap manusia berhak mendapatkan perlindungan atas kemerdekaan jiwanya. Penafsiran al-Zuhayli mengungkap adanya pola hubungan harmonis dan toleran antar umat beragama. Hal ini sekaligus merupakan kritik ilmiah atas doktrin-doktrin kekerasan yang sering dikumandangkan kelompok radikal. Kata Kunci: Toleransi agama, Wahbah al-Zuhayli, Wasathiyyah al-Islam (moderasi Islam).
Pemahaman Hadis Majlis Ulama Indonesia (MUI): Telaah Atas Fatwa tentang Pemilu Azam Azam
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 8 No 1 (2020): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2020.8.1.75-103

Abstract

Abstract The existence of Majlis Ulama Indonesia is seen as very important amid the reality of the plurality of Indonesian Islamic society. The advancement and religiousness of Muslims in the realm of religious thought, social organization, tendencies of flow, and political aspirations not only being a strength but also often incarnates into weaknesses and sources of conflict among Muslims themselves. The Majlis Ulama Indonesia is to create good living conditions, society, nationality, and good national matters, towards a quality society and the realization of the glory of Islam and Muslims in the Unity Republic of Indonesia. The Majlis Ulama Indonesia is to create good living conditions, society, nationality, and good national matters, towards a quality society and the realization of the glory of Islam and Muslims in the Unity Republic of Indonesia. The phenomenon of elections is a contemporary problem faced by the Majlis Ulama Indonesia, in this case, there is not a normative text that is explicitly contained in the Qur'an or the Sunnah of the Prophet. Then it is necessary to take new steps to interconnect between historical-political texts in order to create dynamic dialogue, and then the decision of the Majlis Ulama Indonesia is obliged to participate in making elections, one of which is to choose a leader who is trustworthy and has skills in the field of leadership. Because considering the mafsadat and maslahat, thus participation in the election is an obligation to choose a leader who is considered beneficial, both for the common people, nation, and state. Keywords: Hadis, Majlis Ulama Indonesia, Fatwa, electoral Election. Abstrak Eksistensi Majlis Ulama Indonesia dipandang sangat penting di tengah realitas pluralitas masyarakat Islam Indonesia. Kemajmukan dan keagamaan umat Islam dalam alam fikiran keagamaan, organisasi sosial, dan kecendrungan aliran dan aspirasi politik selain dapat merupakan kekuatan, tapi juga sering menjelma menjadi kelemahan dan sumber pertentangan dikalangan umat Islam sendiri. Majlis Ulama Indonesia adalah tercipta kondisi kehidupan, kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan yang baik, menuju masyarakat yang berkualitas dan terwujudnya kejayaan Islam dan kaum muslimin dalam negara Kesatuan Republik Indonesia. Fenomena pemilu merupakan problematika kontemporer yang dihadapi oleh Majlis Ulama Indonesia, dalam kasus ini tidak selalu ada teks normatif yang secara eksplisit terdapat dalam al-Qur’an maupun sunnah Nabi. Maka perlu menempuh langkah-langkah baru untuk menginterkoneksikan antara teks historis-politik agar tercipta dialogis yang dinamis, maka keputusan dari Majlis Ulama Indonesia wajib ikut serta untuk mengsuksekan pemilu, salah satunya adalah memilih pemimpin yang amanah dan punya skil dalam bidang kepemimpinan. Karena mempertimbangkan antara mafsadat dan maslahat, dengan demikian itu keikutsertaan dalam pilres adalah suatu kewajiban untuk memilih pemimpin yang dianggap bermaslahat, baik bagi umat, bangsa dan negara. Kata Kunci: Hadis, Majlis Ulama Indonesia, Fatwa, Pemilihan Umum.