cover
Contact Name
Fardan Mahmudatul Imamah
Contact Email
imamah2012@gmail.com
Phone
+6281345602487
Journal Mail Official
jurnalkontemplasi@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung, Jl. Mayor Sujadi Timur No. 46 Tulungaung 66221
Location
Kab. tulungagung,
Jawa timur
INDONESIA
KONTEMPLASI: JURNAL ILMU-ILMU USHULUDDIN
ISSN : 23386169     EISSN : 25806866     DOI : -
Focus The focus of this paper is an attempt to actualize a better understanding of the Islamic theology, hermeneutic, sociology, philosophy, communication, hadith, and else, both locally and internationally through the publication of articles, research reports, and book reviews. Scope Its principal concern includes research development and knowledge dissemination on issues related to Islamic theology.
Articles 234 Documents
Eskatologi Dalam Padangan Hassan Hanafi dan Fazlurrahman (Studi Komparatif Epistemologi Ilmu Kalam) Nurhidayanti Nurhidayanti
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 8 No 1 (2020): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2020.8.1.104-126

Abstract

Abstract The epistemology of the science of kalam of eschatology has become a part of the attention of some of the figures because it includes several branches of science. Such epistemology philosophy, The science of kalam or theology and tasawwuf. In this article, the discussion of eschatology reviewed in the science of kalam the vehicle between the two Islamic thinkers namely Hassan Hanafi and Fazlurrahman. Both offer methodology in assessing the theology which is not only limited to the concept of the formation of dogmas religious but looked at more broadly, see the social conditions as a way to re-educate, sensitize and promote the community. Among the discussion of the theology of the most important is about eschatology where the future of religion. Both figures, making the historical method in the study the concept of eschatology in Islam. The discussion of the eschatology of course discuss the world and the hereafter, but in this paper only focuses on the view between the two regarding the nature barzah, heaven, and hell. Keywords: Eskatologi, Hassan Hanafi, Fazlur rahman. Abstrak Epistemologi ilmu kalam mengenai eskatologi telah menjadi bagian perhatian beberapa tokoh karena mencakup beberapa cabang ilmu pengetahuan. Diantaranya epistemologi filsafat, ilmu kalamatau teologi dan tasawwuf. Dalam artikel ini pembahasan mengenai eskatologi ditinjau dalam ilmu kalam yang mengkomparasikan antara dua pemikir Islam yaitu Hassan Hanafi dan Fazlurrahman. Keduanya menawarkan metodologi dalam mengkaji teologi yang tidak hanya terbatas pada konsep pembentukan dogma-dogma keagamaan akan tetapi memandang lebih luas, melihat kondisi sosial sebagai jalan untuk memahamkan, menyadarkan dan memajukan masyarakat. Diantara pembahasan teologi yang terpenting adalah mengenai eskatologi diamana masa depan sebuah ajaran agama. Kedua tokoh tersebut, menjadikan metode sejarah dalam mengkaji konsep eskatologi dalam Islam. Pembahasan eskatologi tentunya membahas mengenai dunia dan akhirat, namun dalam tulisan ini hanya fokus pandangan antara keduanya mengenai alam barzah, surga dan neraka. Kata Kunci: Eskatologi, Hassan Hanafi, Fazlurrahman.
Reconstruction of Dakwah Verses Mhd. Rasidin; Doli Witro; Rahma Fitria Purwaningsih
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 8 No 1 (2020): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2020.8.1.127-142

Abstract

Abstract Da’wah is an activity of inviting others to strengthen the faith of Muslims. The Prophet Muhammad has given examples of how Dakwah should be done. People who accept the materials of Dakwah depend on the way of ulama’s deliver the messages. Then, ulama’ will encounter problems whether people accept or reject what they said. The adherents of radicalism in Islam believe that the teaching of Islam should be presented in many ways, including coercion and violence. This understanding is based on how they interpret some verses in the Quran about dakwah. This paper will try to reconstruct some verses and how the dakwah should be conducted inclusively by describing the ethics of dawah. So, the image of dakwah is not only about the propagation of the Islamic Religion to convert non-muslim to Islam, but also strengthening and deepening the faith of Muslims and helping them lead their daily lives in conformity with Islamic principles. Keywords: Da’wah, Radicalism, Al-Qur’an. Abstrak Dakwah adalah aktivitas untuk mengundang orang lain dalam upaya menguatkan keimanan. Nabi Muhammad telah memberikan contoh bagaimana seharusnya dakwah dilakukan. Masyarakat menerima dakwah tergantung pada bagaimana ulama menyampaikan pesan-pesannya. Dimana kemudian, seringkali para ulama tersebut menghadapi berbagai persoalan apakah pesan tersebut diterima atau justru ditolak oleh masyarakat. Pada titik ini, para penganut radikalisme percaya bahwa ajaran Islam harus disampaikan secara tegas, bahkan jika harus dengan pemaksaan dan kekerasan. Pemahaman ini hadir berdasarkan pemahaman mereka terhadap ayat-ayat AlQuran. Artikel ini berupaya untuk merekonstruksi beberapa ayat AlQuran tentang bagaimana dakwah seharusnya dilakukan secara inklusif, dengan menjelaskan etika dakwah. Sehingga, gambaran tentang dakwah tidak hanya propaganda agama agar non muslim masuk islam, tetapi lebih pada penguatan dan pendalaman keimanan dan membantu masyarakat dalam memahami prinsip-prinsip keagamaan. Kata Kunci: Dakwah, Radikalisme, Al-Qur’an.
Manifestasi Teologi Tanah Hassan Hanafi Dalam Gerakan Reclaiming Petani Di Rotorejo-Kruwuk Blitar Ridho Afifudin
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 8 No 1 (2020): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2020.8.1.143-176

Abstract

Abstract This paper discusses the movement of farmer groups in Blitar in fighting for their rights to plantation land. The land is the company's land that has expired its contract (ex-HGU), so based on government regulations and existing laws, the position of the land may be claimed by residents. But the struggle of the farmers was not as smooth as expected. Various upheaval arose in the process. From this problem, the author sees this problem from the perspective of Hassan Hanafi’s concept of theology. Hanafi explained how human faith became the spirit of the movement to fight for justice. There are two principles stated; First, the principle of needs and benefits, is who most needs access to the land along with the large benefits that will be received. Second, the principle of agreement and understanding; This principle concerns the process of negotiation (deliberation) between the two parties, especially in terms of compensation (ta'widh) if there is a party harmed. Keywords: Teologi, Hassan Hanafi, Gerakan Petani. Abstrak Artikel ini membahas pergerakan kelompok tani di Blitar dalam memperjuangkan hak mereka atas tanah perkebunan. Tanah tersebut adalah tanah perusahaan yang telah habis masa kontraknya (ex-HGU), jadi berdasarkan peraturan pemerintah dan undang-undang yang ada, posisi tanah tersebut dapat diklaim oleh penduduk. Namun perjuangan para petani itu tidak semulus yang diharapkan. Berbagai pergolakan muncul dalam prosesnya. Dari masalah ini, penulis melihat masalah ini dalam perspektif konsep teologi Hassan Hanafi. Seperti yang Hanafi jelaskan tentang bagaimana iman manusia menjadi semangat gerakan untuk memperjuangkan keadilan. Ada dua prinsip yang dinyatakan; Pertama, prinsip kebutuhan dan manfaat, adalah siapa yang paling membutuhkan akses ke tanah bersama dengan manfaat besar yang akan diterima. Kedua, prinsip kesepakatan dan pemahaman; Prinsip ini menyangkut proses negosiasi (musyawarah) antara kedua pihak, terutama dalam hal kompensasi (ta'widh) jika ada pihak yang dirugikan. Kata Kunci: Teologi, Hassan Hanafi, Gerakan Petani.
Tasawuf Dan Perempuan Pemikiran Sufi-Feminisme Kh. Husein Muhammad Muhammad Ainun Najib
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 8 No 1 (2020): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2020.8.1.203-228

Abstract

Abstract Husein Muhammad is often classified as a liberal feminist because of his involvement in the thoughts and movements of feminism in Indonesia. Some researchers emphatically liberal feminism in the thinking of Kiai Husein. However, if it is read carefully, there are slips of feminist thought and movement of Kiai Husein with a Sufistic nuance even though it starts from the interpretation of gender or fiqh of the female which is indeed the core of his science. Kiai Husein's Sufistic thought traces are clearly seen in three ways. First, women are sacred and respectable creatures. This is excerpted from the speech of the Muhammad in the event of hajj WADA'. Second, loving equality is a loving God (mahabbah). For Kiai Husein, the sign of someone loving his Lord is a sincere recognition of the equality of men and women. The use of the concept of mahabbah in feminism confirms, in the thought of Kiai Husein, Sufism in feminism. Third, women are not a matter of the body, but spirit. In the midst of the ideology of capitalism which makes the female body a vessel of sensuality, Kiai Husein defended women through human essence, including men, which lies in the spirit. Keywords: Woman, Sufism, KH. Husein Muhammad, thoughts, feminism. Abstrak Husein Muhammad acapkali diklasifikasikan sebagai feminis liberal lantaran keterlibatannya dalam pemikiran dan gerakan feminisme di Indonesia. Beberapa peneliti dengan tegas feminisme liberal dalam pemikiran Kiai Husein. Namun, bila dibaca dengan saksama, terselip pemikiran dan gerakan feminisme Kiai Husein yang bernuansa sufistik sekalipun hal itu berawal dari tafsir gender atau fikih perempuan yang memang menjadi core keilmuannya. Jejak pemikiran sufistik Kiai Husein terlihat dengan gamblang dalam tiga hal. Pertama, Perempuan adalah makhluk suci dan terhormat. Ini disarikan dari pidato Nabi Muhammad dalam peristiwa haji wada’. Kedua, mencintai kesetaraan adalah mencintai Tuhan (mahabbah). Bagi Kiai Husein, tanda seorang mencintai Tuhannya adalah pengakuan yang tulus terhadap kesetaraan laki-laki dan perempuan. Penggunaan konsep mahabbah dalam feminisme menegaskan, dalam pemikiran Kiai Husein, tasawuf dalam feminisme. Ketiga, perempuan bukan soal tubuh, tapir ruh. Di tengah ideologi kapitalisme yang menjadikan tubuh perempuan sebagai bejana sensualitas, Kiai Husein melakukan pembelaan terhadap perempuan melalui esensi manusia, termasuk laki-laki, yang terletak pada ruh. Kata Kunci: Perempuan, tasawuf, KH. Husein Muhammad, pemikiran.
Fahisyah Dalam Al-Qur’an Rifqi As’adah
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 8 No 1 (2020): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2020.8.1.177-202

Abstract

Abstract In the discussion of this paper, the author tries to trace the meaning of fâhisyah by describing the actual meaning of the word f fâhisyah contained in of the Qur'an, by classifying and by examining the word fâhisyah in accordance its context. The method used by the author is munâsabah (internal relation), with some quotations from the dictionary, exegesis works, and hadits corroborating the exploration. This method will answer the problem of to whom and what for the word fâhisyah is used. This study presents the meaning of fâhisyah in the Qur'an in a more comprehensive and representative way and will make the use of the word fâhisyah and it is content in the Qur’an clear. Keywords: Fâhisyah, Mûjam, Classification Makkah-Civil, Hadith. Abstrak Dalam pembahasan tulisan ini penulis mencoba menelusuri makna fâhisyah dengan menggambarkan makna sebenarnya dari kata fâhisyah yang terkandung dalam Al-Qur'an, dengan mengklasifikasikan dan dengan memeriksa kata fâhisyah sesuai konteksnya. Metode yang digunakan oleh penulis adalah munâsabah (hubungan internal), dengan beberapa kutipan dari kamus, karya tafsir, dan hadis yang menguatkan eksplorasi. Metode ini akan menjawab masalah kepada siapa dan untuk apa fâhisyah digunakan. Studi ini menyajikan makna fâhisyah dalam Al-Qur’an dengan cara yang lebih komprehensif dan representatif dan akan membuat penggunaan kata fâhisyah dan isinya dalam Al-Qur’an menjadi jelas. Kata Kunci: Fahisyah, Mû’jam, Klasifikasi Makkah-Madani, Hadis.
Altruisme Sebagai Benteng Pertahanan Keluarga Di Era 4.0 (Penafsiran Qs. Al-Hasyr Ayat 9 Perspektif Tafsir Al-Tanwir Wa Al-Tahrir Dan Al-Mizan Fi Al-Tafsir) Fairuz Dianah; Mohammad Hadi Sucipto; Abdul Djalal; Mohammad Kurjum
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 8 No 1 (2020): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2020.8.1.229-263

Abstract

Abstract This paper discusses altruism in QS. Al-Hasyr verse 9 in Tafsir al-Tanwir wa al-Tahrir and al-Mizan fi al-Tafsir represented by lafadz خصاصة. Altruism is very important to be studied moreover it is related to the problems of the family of the 4.0 era today which are rife with discrimination of women, divorce, and economic problems. Returning to the values of religious altruism is one solution to build a family defense that is sakinah mawaddah and warahmah. The purpose of this study is to understand the comparison of Tafsir al-Tanwir wa al-Tahrir and al-Mizan fi al-Tafsir to understanding altruism khasasah and their implications for family defense in the 4.0 era. To achieve the objectives, the method use id qualitative method with a semantic approach. Through this reading the results obtained in study are; fist; altruism is understood as a voluntary activity carried out by a person or group to help others without expecting anything in return. Second; khasasahin QS. Al-Hasyr verse 9 has several meanings namely; 1) loving his brother because of God, 2) generous and far from being miserly, 3) putting this brother ahead of himself. Through this understanding, the implications derived from the substance of this study are the creation of altruism as a stronghold in the family in this era. Keywords: altruism, QS. Al-Hasyr: 9, Tafsir al-Tanwir wa al-Tanwir, al-Mizan fi al-Tafsir. Abstrak Tulisan ini membahas tentang altruisme dalam QS. Al-Hasyr ayat 9 pada Tafsir al-Tanwir wa al-Tahrir dan al-Mizan fi al-Tafsir yang direpresentasikan oleh lafadz خصاصة. Altruisme sangat penting dikaji apalagi dikaitkan dengan problem keluarga era 4.0 dewasa ini yang marak dengan diskriminasi perempuan, perceraiaan dan problem ekonomi. Mengembalikan pada nilai-nilai altruisme agama menjadi salah satu solusi untuk membangun pertahanan keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami komparasi Tafsir al-Tanwir wa al-Tahrir dan al-Mizan fi al-Tafsir terhadap pemahaman altruisme khasasahdan implikasinya terhadap pertahanan keluarga di era 4.0. Untuk mencapai tujuan tersebut, metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan semantik. Melalui pembacaai ini, hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah; pertama; altruisme dipahami sebagai kegiatan suka rela yang dilakukan seseorang atau kelompok untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. Kedua; lafad khasasah dalam QS. Al-Hasyr ayat 9 memiliki beberapa makna yaitu; 1) mencintai saudaranya karena Allah, 2) dermawan dan jauh dari sifat kikir, 3) mengutamakan saudaranya daripada dirinya sendiri. Melalui pemahaman ini, implikasi yang didapat dari substansi penelitian ini adalah terciptanya altruisme sebagai benteng pertahanan dalam keluarga di era sekarang ini. Kata Kunci: altruisme, QS. Al-Hasyr: 9, Tafsir al-Tanwir wa al-Tahrir, al-Mizan fi al-Tafsir.
Typology The Study Of Hadith Orientalist: Thinking A. Kevin Reinhart In “Juynbolliana, Gradualism, The Big Bang, And Hadith Study In The Twenty First Century” Ummi Kalsum Hasibuan
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 8 No 2 (2020): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2020.8.2.225-252

Abstract

Abstract This article explores the typology of orientalist hadith studies with a focus on one of the works of orientalist figures, namely: A. Kevin Reinhart with the title "Juynbolliana, Gradualism, The Big Bang and Hadith Study in the Twenty-First Century". The research method in the article is descriptive-qualitative with library research. The purpose of the article is to examine comprehensively the typology of hadith studies, useful for readers in conducting hadith studies and for adding knowledge and insight for readers to think critically. The results of this paper indicate that: first; Kevin is a leading expert at Dartmouth College Hanover, New Hampshire, the United States who was born on February 15, 1952. Second; KR offers the term "gradualism and big bang" as an attempt to make an analogy by it and the study of large (giant) gravity fields that often occur in black holes (meaning that there is no light (emitter) that escapes from the black hole). Third; KR tries to provide a mapping of "counterfeiting and faith" using a model study conducted by Ignaz Goldziher and Josep Schacht. Fourth; Finally, KR would like to try to study the criticism of Sanad hadith academically represented by an orientalist figure who was very involved in his study, namely G.H.A. Juynboll and other scholars who came from the west and were sceptical, such as; Michael Cook, Herberg Berg, Harald Motzki, Gregor Scholer, Norman Calder and Andreas Gorke. There are also other figures, namely; Fuad Sezgin and Nabia Abbot. In addition to examining the science of isnad KR also discusses the authority of sunnah/hadith and the inevitable study of the question of the authenticity of the hadith in which the two themes are represented by the orientalist Jonathan Brown. Keywords: A. Kevin Reinhart, Gradualism dan Big Bang, Pemalsuan dan Iman Abstrak Artikel ini mengeksplorasi tentang tipologi kajian hadis orientalis dengan fokus kepada salah satu hasil karya tulis tokoh orientalis yaitu: A. Kevin Reinhart dengan judul “Juynbolliana, Gradualism, The Big Bang and Hadith Study in the Twenty First Century”. Metode penelitian dalam artikel bersifat deskriptif- kualitatif dengan penelitian yang berjenis pustaka (library research). Tujuan dari artikel adalah ingin mengkaji secara komprehensif terkait dengan tipologi kajian hadis, berguna bagi para pembaca dalam melakukan kajian hadis dan untuk menambah ilmu pengetahuan maupun wawasan bagi para pembaca agar dapat berpikir secara kritis. Hasil dari tulisan ini menunjukkan bahwa: pertama; Kevin merupakan ahli terkemuka di Darmouth college Hanover, New Hampshire, Amerika Serikat yang dilahirkan pada tanggal 15 Februari 1952. Kedua; KR menawarkan istilah “gradualism dan big bang” sebagai usaha untuk dianalogikan olehnya serta kajian mengenai medan grativasi yang besar (raksasa) sering terjadi lubang hitam (maksudnya tidak terdapat cahaya (pemancar) yang lolos dari lubang hitam tersebut). Ketiga; KR berupaya memberi pemetaan terhadap “pemalsuan dan iman” dengan menggunakan model kajian yang dilakukan oleh Ignaz Goldziher dan Josep Schacht. Keempat; Terakhir KR ingin mencoba mengkaji studi kritik sanad hadis secara akademi diwakili oleh tokoh orientalis yang sangat andil dalam studinya adalah G.H.A. Juynboll serta cendikiawan lainnya yang berasal dari barat dan bersifat skeptis, seperti; Michael Cook, Herberg Berg, Harald Motzki, Gregor Scholer, Norman Calder dan Andreas Gorke. Juga terdapat tokoh lainnya, yaitu; Fuad Sezgin dan Nabia Abbot. Selain mengkaji tentang ilmu isnad KR juga membahas tentang otoritas sunnah/hadis serta studi tidak terhindarkannya dari pertanyaan keaslian hadis yang mana kedua tema bahasan tersebut diwakili oleh tokoh orientalis Jonathan Brown. Kata Kunci: A. Kevin Reinhart, Gradualism dan Big Bang, Pemalsuan dan Iman
Konsep Ilmu Dan Pendidikan Dalam Persfektif Surat Al-Mujadilah Ayat 11 Ahmad Fahrudin; Arbaul Fauziah
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 8 No 1 (2020): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2020.8.1.264-284

Abstract

Abstract Education is one of the main things that can make a significant contribution to the development and progress of a nation. This fact is evidenced by the existence of a generation of people who are quality-produced from educational institutions in Indonesia, if the young generation of this nation does not attend education, perhaps the development and progress of the times will not be able to be like today. Education, especially in Muslims, one of the foundations and guidelines for which is the Koran, through some of the verses it contains, there are some instructions and knowledge that are very extraordinary if we dig into the meaning for the meaning. So it is important for Muslims to make Al-Qur'an as a guide in processing their studies. Education and knowledge are two main things that are interrelated, they are like two sides of a coin that cannot be separated, even always in pairs. In the context of this article, the concept of knowledge and education from the perspective of the Koran will be discussed, namely taking one of the verses in Surah al-Mujadilah, verse 11. The verse explains the various things it contains, then explains Asbabun Nuzul, describes the verse, Menafsiri is then analyzed, hopefully, what is discussed here becomes a study that can increase wealth, both theoretical wealth and scientific wealth practically. Keywords: Science, Education, Al-Mujadilah. Abstrak Pendidikan merupakan salah satu perkara pokok yang mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Fakta ini dibuktikan dengan adanya generasi bangsa yang secara kualitas dihasilkan dari bangku lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, jika generasi muda bangsa ini tidak mengenyam bangku pendidikan, mungkin perkembangan dan kemajuan zaman tidak mampu seperti sekarang ini. Pendidikan khususnya dalam umat Muslim, salah satu landasan dan yang menjadi pedomannya adalah al-Qur’an, melalui beberapa ayat yang dikandungnya, terdapat beberapa petunjuk dan ilmu yang sangat luar jika diselami makna demi maknanya. Maka menjadi penting bagi umat Muslim menjadikan al-Qur’an sebagai pegangan dalam berproses di dalam menuntut ilmu. Pendidikan dan ilmu merupakan dua hal pokok yang berkaitkelindan, keduanya ibarat dua sisi mata uang logam yang tak mampu dipisahkan, bahkan selalu berpasangan. Dalam konteks artikel ini, maka akan di bahas kosep ilmu dan pendidikan dari persfektif al-Qur’an, yaitu mengambil salah satu ayatnya dalam surat al-Mujadilah ayat 11. Ayat tersebut dijelaskan berbagai hal yang dikandungnya, kemudian dijelaskan asbabun nuzul, mendeskripsikan ayat, menafsiri kemudian dianalisis, semoga apa yang dibahas di sini menjadi sesuatu kajian yang mampu menambah kekayaan, baik kekayaan secara teoritis maupun kekayaan keilmuan secara praktis. Kata Kunci: Ilmu, Pendidikan, Al-Mujadilah.
Criticism of The Methods Of Interpretation Yusuf Al-Qardawi Against The Hadith Rukyat Hilal Abdul Mufid
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 8 No 2 (2020): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2020.8.2.1-36

Abstract

Abstract The main source for Muslims in understanding Islamic teachings is the Koran and Hadith. For Muslims, the Hadith second ranks after the Koran. Throughout Islamic history, hadith is a source of controversy in Islamic law. Among the problems that are still warm and almost always occur today is an understanding of the observations of the crescent related to the determination of the beginning of the Islamic month. Questioning about the differences in determining the beginning of the Hijri month is the result of different perspectives to understand the hadith about crescent observations. Therefore, the method of understanding the hadith about "crescent observation" is very urgent to be investigated more deeply. The conclusion of this literature-based research process can be seen that the impact of Yusuf al-Qaradawi's understanding of the Hilal rukyat traditions of Hilal is al-Qaradawi's hope to unite fasting and Eid al-Fitr in Europe based on priorities, not unifying all Muslims in the hemisphere of the earth. Keywords: Al-Qaradawi, Hadith, Observation. Abstrak Sumber utama bagi umat Islam dalam memahami ajaran Islam adalah Alquran dan Hadis. Bagi umat Islam, hadis menduduki peringkat kedua setelah Alquran. Sepanjang sejarah Islam, hadis merupakan sumber kontroversi dalam hukum Islam. di antara masalah yang masih hangat dan hampir sering terjadi saat ini adalah pemahaman tentang observasi bulan sabit terkait penentuan awal bulan Hijriah. Menyoal tentang perbedaan dalam menentukan awal bulan Hijriah adalah hasil dari perspektif yang berbeda untuk memahami hadis tentang pengamatan bulan sabit. Oleh karena itu, metode memahami hadis tentang "pengamatan bulan sabit" sangat mendesak untuk diteliti secara lebih mendalam. Kesimpulan akhir dari proses penelitian berbasis kepustakaan ini dapat dilihat bahwa dampak dari pemahaman Yusuf al-Qaradawi terhadap hadis-hadis rukyat hilal Hilal adalah harapan al-Qaradawi untuk menyatukan puasa dan idul fitri di Eropa atas dasar prioritas, bukan menyatukan semua Muslim di belahan muka bumi. Kata kunci : Al-Qaradawi, Hadis, Observasi.
Laduni Science On Muhammad Luthfi Ghozali’s Perspective Muhamad Fatoni; Ngainun Naim
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 8 No 2 (2020): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2020.8.2.37-60

Abstract

Abstract This article examines the science of laduni and how to acquire it. Laduni science is generally perceived as a supernatural science that cannot be obtained aside from by few individuals. This knowledge is often associated with things that happen abruptly without any preceding process. Muhammad Lutfi Ghozali disproved this assumption by proposing logical, rational arguments and sticking to the naṣ of the Qur'an and Hadith. Muhammad Luthfi Ghozali explained that laduni science has an analytical mechanism. Those who understand the substance of laduni science and construct causal mechanisms will be achievable to acquire this knowledge. The thought of Muhammad Lutfi Ghozali places a comprehension of laduni science that seems mystical and irrational. Keywords: laduni science, Muhammad Luthfi Ghozali, rational, mystical Abstrak Artikel ini membahas tentang ilmu laduni dan cara-cara mendapatkannya. Ilmu laduni umumnya dipahami sebagai ilmu mistik yang tidak mungkin diperoleh kecuali oleh sebagian kecil orang. Ilmu ini kerapkali dihubungkan dengan hal yang terjadi secara tiba-tiba tanpa adanya proses yang mendahuluinya. Muhammad Luthfi Ghozali membantah anggapan tersebut dengan mengajukan argumentasi logis, rasional serta tetap berpegang pada naṣ Al-Qur’an dan hadits. Muhammad Luthfi Ghozali menjelaskan bahwa ilmu laduni memiliki mekanisme rasional. Mereka yang memahami substansi ilmu laduni dan membangun mekanisme sebab akan mungkin untuk mendapatkan ilmu ini. Pemikiran Muhammad Luthfi Ghozali ini mendudukkan pemahaman tentang ilmu laduni yang seolah mistik dan tidak rasional. Kata kunci: ilmu laduni, Muhammad Luthfi Ghozali, rasional, mistik.