cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
LOKABASA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 286 Documents
KUMPULAN SAJAK LENGKAH KARYA ARI ANDRIANSYAH UNTUK BAHAN PEMBELAJARAN APRESIASI SAJAK DI SMA Rahayu, Dinny Octaviasari
LOKABASA Vol 9, No 1 (2018): Vol. 9, No. 1, April 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i1.15615

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan struktur, nilai filosofis, dan bahan pembelajaran apresiasi sajak di SMA kelas XI. Penelitian ini mengunakan metode deskriptif, sedangkan untuk mengumpulkan data menggunakan teknik studi pustaka. Sumber data dalam penelitian ini ada 45 judul sajak karya Ari Andriansyah dalam buku kumpulan sajak Lengkah. Hasil penelitian berdasarkan kajian struktur, ditemukan ada 45 kata yang termasuk diksi sesuai dengan tema, 529 kata yang termasuk ke dalam imaji, 101 kalimat simbol untuk menjelaskan maksud, 168 kalimat yang termasuk irama, 73 kalimat yang menunjukan suasana isi dari sajak, 65 kalimat yang termasuk gaya basa, sedangkan tema dari keseluruhan sajak yaitu mengenai perjalanan dan pengalaman kehidupan. Nilai filosofis dalam penelitian ini, ditemukan ada tiga nilai, yaitu nilai moral, nilai agama (religi), dan nilai atikan. Setelah ditemukan struktur dan nilai filosofis, oleh karena itu bisa digunakan untuk bahan pembelajaran apresiasi sajak di SMA kelas XI. Penelitian ini bisa menambah pengetahuan mengenai sajak, sebagai salah satu karya sastra Sunda modern.AbstractThis study aimed to explain the structure, philosophical values, and poetry appreciation teaching and learning material in Grade XI senior high school. This study employed descriptive methods, while to collect the data it used literature study techniques. The data sources in this study were 45 poems in Lengkah poems collection of Andriansyah works. The results of the structural study found that there are 45 words including diction correspond to the theme, 529 words included in the imagination, 101 sentences of symbols to explain the intentions, 168 sentences including rhyme, 73 sentences that show the atmosphere of poetry, 65 sentences included in language styles, while the theme of the whole poem is about traveling and life experiences. This study found three philosophical values, i.e. moral values, religious values, and achievement values. Since it contained structure and philosophical values, his works can be used for poetry appreciation teaching and learning material in grade XI senior high school. This research can improve knowledge on poetry as one of the modern Sundanese literary works.
NOVEL ANAK RASIAH KODEU BINER KARYA DADAN SUTISNA SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA DI SMP (Analisis Strukturalisme dan Etnopedagogik) Fatimah, Euis Siti
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i1.15965

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan unsur struktural dan etnopedagogik novel Rasiah Kodeu Biner sebagai alternatif bahan pengajaran apresiasi sastra. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, sedangkan teknik yang digunakan adalah teknik telaah pustaka, analisis data, dan teknik interpretasi. Hasil penelitian ditemukan tema novel tentang usaha sekelompok anak memecahkan rahasia surat yang menggunakan bilangan biner. Alur yang digunakan alur campuran. Jumlah tokoh 43 orang. Latar yang ditemukan dalam penelitian ini diantaranya latar tempat, waktu, dan sosial. Judul telah mewakili isi cerita. Pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga. Bahasa yang digunakan bahasa sehari-hari. Novel Rasiah Kodeu Biner memiliki banyak nilai etnopedagogik moral kemanusiaan. Novel ini bisa dijadikan alternatif bahan pembelajaran apresiasi sastra karena memenuhi kriteria pemilihan bahan ajar serta mengandung nilai moral kemanusian sesuai kepribadian siswa. ABSTRACTThe purpose of this study is to describe the structural and ethnopedagogic elements of Rasiah Kodeu Biner novel as an alternative of literature appreciation teaching-learning material. The method used in this research is descriptive analysis method, while the techniques used are literature review techniques, data analysis, and interpretation techniques. The results of the study revealed that the novel theme is about the effort of group of children to solve the secret letter using binary numbers. The sequel used is mixed sequel. Numbers of characters are 43 people. The backgrounds found in this study include setting place, time, and social. The title has represented the story content. The author uses a third-person point of view. Language used is common language. Rasiah Kodeu Biner novel has many ethnopedagogic moral values of humanity. This novel can be used as an alternative material in teaching-learning literature appreciation, as it meets the criteria of the selection of teaching-learning materials and contains the moral values of humanity suitable with the students’ personality.
METODE EXTENDING CONCEPTS THROUGHT LANGUAGE ACTIVITIES (ECOLA) DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA PAMAHAMAN BIOGRAFI Susanto, Heri
LOKABASA Vol 5, No 2 (2014): Vol. 5, No. 2, Okt 2014
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v5i2.15953

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya kemampuan siswa dalam membaca pemahaman biografi  pada siswa kelas XI IPA 2 SMA Laboratorium Percontohan UPI tahun pelajaran 2013/2014. Tujuan dari Penelitian ini untuk mendeskripsikankemampuan membaca pemahaman biografi pada siswa sebelum dan sesudah menggunakan metode ECOLA, meningkat atau tidaknya kemampuan membaca pemahaman siswa, dan mengetahui perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah menggunakan metode ECOLA dalam pemahaman membaca biografi. Métode penelitian yang digunakan yaitu metode kuasi eksperimen, dengan tekhnik tés dalam bentuk pilihan ganda. Dari penelitian ini ditemukan, kemampuan siswa sebelum menggunakan metode ECOLAyaitu belum mampu denganrata-rata pemahaman 63,59.  Berdasarkan aspeknya, ditemukan bahwa aspék  literal 13, interprétasi 5, dan elaborasi 1,4. Sesudah menggunakan metode ECOLA siswa menjadi mampu dengan rata-rata pemahaman 78,59. Berdasarkan aspeknya, aspék literal 17, interprétasi 5,2, dan elaborasi 1,9. Metode ECOLA bisa meningkatkan kemampuan pemahaman siswa, dari rata-rata 63,59 menjadi 78,59. Selain itu, ada beda yang signifikan yaitu, thitung = 11,03 ttabel 2,48, sehingga metode ECOLA cocok digunakeun dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman biografi siswa kelas XI SMA Laboratorium Percontohan UPI taun ajaran 2013/2014, dan bisa dipakai oleh guru dalam pembelajaran membaca pemahaman biografi.AbstractThis research is based on students’ disability of biography comprehension reading of the XI IPA 2 UPI Laboratorium Highschool 2013/2014 school period. This research aimed to describe the students’ capability, whether it’s increased or not, and for knowing the significant differences of the students’ capability of biography comprehension reading before and after applied ECOLA method. The method of this research is experimental quotion, with the multiple-choice test technique. This research found, the students’ haven’t been able to to read biography comprehension before use ECOLA method, with the average comprehension is 63,59. Based on the literal aspect 13, interpretation 5, and elaboration 1,4. After using the ECOLA method the students were capable with the average comprehension 78,59. Based on the aspect, literal aspect 17, interpretation 5,2, and elaboration 1,9. ECOLA  method could increase the students’ comprehension capability, from the average 63,59 become 78,59. Moreover, there’s a significant difference, tsum = 11,03 ttable = 2,48, with the result that ECOLA method is suitable to be used in improving the students of class XI of the UPI Laboratorium Highschool’s capability of biography comprehension reading.
LIMA CARPON SUNDA UNTUK ALTERNATIF BAHAN PEMBELAJARAN MEMBACA CARPON DI SMA KELAS XI (Kajian Struktural dan Ekokritik) Hikmah, Rahayu Nur
LOKABASA Vol 9, No 2 (2018): Vol. 9, No. 2, Oktober 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i2.15684

Abstract

Latar belakang dari penelitian ini adalah kurangnya kesadaran manusia dalam menjaga lingkungan. Tujuannya, menguak dan mendeskripsikan tentang struktur, ekokritik lima “Carpon” Sunda, serta bisa dijadikan sebagai alternatif bahan pelajaran membaca “Carita pondok” di SMA kelas XI sebagai hasil akhirnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analitik. Hasilnya adalah 1)struktur dari lima cerpen, tema (“Pasir Kiara” tentang menjaga lingkungan, “Tanah Sakarung” tentang lingkungan politik dan religi, “Tempat Nyimpang Saheulaanan” tentang krisis ekonomi dan religi, “Katiga téh Teuing Ku Lila” tentang kerusakan lingkungan, dan “Séké Béntang” tentang menjaga lingkungan); alur maju (“Pasir Kiara,” “Tempat Nyimpang Saheulaanan,” “Katiga téh Teuing Ku Lila,” dan “Séké Béntang”) dan alur ganda (“Tanah Sakarung”); latar “Pasir Kiara” (21 tempat, 28 waktu, 22 suasana, 4 sosial), “Tanah Sakarung” (10, 33,  20, 13), “Tempat Nyimpang Saheulaanan” (18, 24, 31, 10), “Katiga téh Teuing Ku Lila” (3, 6, 8, 2), dan “Séké Béntang” (19, 19, 15, 10); semua sudut pandangnya orang ketiga; gaya bahasa lima cerpen adalah sederhana. 2) Pandangan ekokritik dalam lima cerpen Sunda berkaitan dengan lingkungan, terlihat dari judulnya, juga latar tempat, yang semua ceritanya berada di sebuah pedesaan. Ekokritik yang ada dalam lima cerpen Sunda tersebut membahas mengenai menjaga lingkungan, kerusakan lingkungan, perubahan dan pencemaran lingkungan, serta krisis lingkungan. 3)Karya yang sesuai untuk dijadikan alternatif bahan pelajaran membaca “Carita pondok” di SMA kelas XI, yaitu “Pasir Kiara” karya Yus Rusyana, “Tempat Nyimpang Saheulaanan” karya H. Usép Romli H.M., “Katiga téh Teuing Ku Lila” karya Ruhaliah, dan “Séké Béntang” karya Mamat Sasmita. AbstractThe background of this study is the lack of human awareness in protecting the environment. As the result is to uncover and describe the structure, ecocriticism of the five Sundanese short stories, and can be used as an alternative material for reading “Carita Pondok” in High School class XI as the nd result. The method of this study is descriptive-analytic. The result is 1) the structure of the five short stories , (“Pasir Kiara” the theme is about protecting the environment, “Tanah Sakarung” about the political environment and religious, “Tempat Nyimpang Saheulaanan” about economic crises and religious, “Katiga téh Teuing Ku Lila” about environment damage, “Séké Béntang” about protecting the environment); chronological plot (“Pasir Kiara,” “Tempat Nyimpang Saheulaanan,” “Katiga téh Teuing Ku Lila,” and “Séké Béntang”) and double groove  (“Tanah Sakarung”); the setting of “Pasir Kiara” (21 scene, 28 time, 22 atmosphere, 4 social), “Tanah Sakarung” (10, 33,  20, 13), “Tempat Nyimpang Saheulaanan” (18, 24, 31, 10), “Katiga téh Teuing Ku Lila” (3, 6, 8, 2), and “Séké Béntang” (19, 19, 15, 10); all of it points of view are third person; the five short stories language style is simple. 2) Ecocritical views in the five Sundanese short stories are related to the environment, as seen from the title, also the setting of the place, all of which are in a rural area. The ecocriticism in the five short stories of the Sundanese discusses environmental preservation, environmental damage, environmental pollution and change, and environmental crisis. 3) Works that are suitable to be used as an alternative material for reading lessons “Carita Pondok” in High School  class XI,  is “Pasir Kiara” by Yus Rusyana, “Tempat Nyimpang Saheulaanan” by H. Usép Romli H.M., “Katiga téh Teuing Ku Lila” by Ruhaliah, and “Séké Béntang” by Mamat Sasmita.
TRADISI BABARIT SEBAGAI MODEL BAHAN AJAR KEARIFAN LOKAL DI SMA (Kajian Semiotik dan Etnopedagogik) Anggraeni, Reni
LOKABASA Vol 9, No 1 (2018): Vol. 9, No. 1, April 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i1.15674

Abstract

Tujuan penelitian ini mendeskripsikan unsur semiotik, nilai etnopedagogik, dan penerapan hasil penelitian tradisi Babarit pada model ajar kearifan lokal di SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah etnografi, dengan teknik telaah pustaka, observasi partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen penelitian ini adalah pedoman observasi, pedoman wawancara, handphone, kamera digital, dan data profil Desa Cikupa. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, unsur semiotika Roland Barthes meliputi tanda, hubungan simbolik-paradigmatik-sintagmatik, bahasa-wicara dan budaya, dan signifikasi terdapat pada unsur-unsur asal-mula, pelaku, barang-barang, makanan, dan proses pelaksanaan tradisi Babarit. Kedua, nilai pendidikan karakter yang terdapat pada unsur-unsur tradisi Babarit ada 15 yaitu nilai religius, nilai jujur, nilai toleransi, nilai disiplin, nilai kerja keras, nilai kreatif, nilai mandiri, nilai demokratis, nilai rasa ingin tahu, nilai semangat kebangsaan, nilai cinta tanah air, nilai bersahabat/komunikatif, nilai peduli lingkungan, nilai peduli sosial, dan nilai tanggung jawab. Ketiga, hasil kajian semiotik dan etnopedagogik dalam tradisi Babarit dijadikan salah satu alternatif model bahan ajar kearifan lokal pada materi bahasan budaya Sunda di SMA. Selain itu, nilai-nilai yang terdapat dalam tradisi ini bisa dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.AbstractThe purpose of this study was to describe the semiotic elements, ethno-pedagogic values, and the research results from implementation on the local wisdom teaching model in senior high school. The method used in this research was ethnography, with literature review techniques, participant observation, interviews, and documentation. The instruments of this study were observation guidelines, interview guidelines, cell-phones, digital cameras, and Cikupa Village profile data. The results of this study are as follows: First, Roland Barthes's semiotic element includes signs, symbolic-paradigmatic-syntagmatic, speech-language and cultural relations, and significance is found in the elements of origin, actors, goods, food, and the process of implementing Babarit tradition. Second, the value of character education found in the elements of the Babarit tradition is 15 i.e. religious values, honest values, tolerance values, disciplinary values, hard work values, creative values, independent values, democratic values, curiosity values, national spirit values, the value of love the homeland, the value of being friendly/communicative, the value of environment care, the value social care, and the value of responsibility. Third, the results of the study of semiotic and ethnopedagogic in the Babarit tradition were used as an alternative model of local wisdom discussion teaching material in Sundanese culture in senior high school. In addition, the values contained in this tradition can also be used as guidelines in religious and community life.
ASPEK SOSIOLINGUISTIK DALAM STIKER HUMOR Surana, Surana
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i1.15970

Abstract

Ada dua aspek dalam sosiolinguistik yaitu aspek sosial kemasyarakatan dan aspek linguistik. Mengingat aspek sosiolinguistik dalam stiker humor ini juga terkait dengan wujud stiker itu sendiri yang juga merupakan sebuah wacana pendek, maka uraian tentang analisis wacana juga akan dipaparkan dalam tulisan ini (Roberson, D., 2016). Jadi, dalam tulisan berikut diuraikan berbagai aspek sosial yang hanya menyangkut peserta tutur, kebahasaan, dan wujud stiker yang berupa sebuah wacana, dengan metode sosiolinguistik. Aspek sosiolinguistik terdiri atas dua aspek yakni aspek sosial kemasyarakatan dan aspek kebahasaan. Hymes (1972) merumuskan pendapatnya tentang aspek sosiolinguitik dengan menyebutnya sebagai konteks dengan singkatan SPEAKING. Fishman (1968) dengan sebuah konsep yang disimpulkan dalam pernyataan: “Who speak, What language to whom, when and what end” siapa berbicara dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan dan mengenai masalah apa. Pendapat yang lebih luas dikemukakan oleh Poedjosoedarmo. Konteks tuturan diartikan dengan komponen tutur yang meliputi 12 hal yang disingkat dengan memoteknik O, O, E, M, A, U, B, I, C, A, R, A. Konteks dengan aspek-aspek situasi tutur berdasar Leech meliputi 5 (lima) hal yang merupakan kriteria di dalam studi variasi bahasa yakni (1) Penutur dan lawan tutur; (2) Konteks tuturan; (3) Maksud tuturan; (4) Tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas; dan (5) Tuturan sebagai produk tindak verbal. ABSTRACTThere are two aspects in sociolinguistic i.e. social aspect and linguistic aspect. Since the sociolinguistic aspect of the sticker of humor is also related to the form of the sticker itself which is also a short discourse, the description of discourse analysis will also be presented in this paper (Roberson, D., 2016). The following article described various social aspects that only concern with the speech participants, linguistic, and the form of stickers in the form of a discourse are analyzed by sociolinguistic methods. The sociolinguistic aspect consists of two aspects, namely social aspect and linguistic aspect. Hymes (1972) formulated his opinion on the sociolinguistic aspect and named it as a context with the abbreviation SPEAKING. Fishman (1968) with a concept summarized in the statement: "Who speak, What language to whom, when and what end". Other depth opinion is expressed by Poedjosoedarmo. The context of speech is defined by the speech component which includes 12 things that are abbreviated by the mnemotechniques O, O, E, M, A, U, B, I, C, A, R, A. The other context according to Leech's speech situation includes 5 matters which are the criteria in the study of variation of language namely (1) speakers and listeners; (2) speech context; (3) the purpose of the speech; (4) speech act; and (5) speech as speech act product.
MEDIA AUDIO-VISUAL DALAM PEMBELAJARAN MENYIMAK DONGENG DI SMP NEGERI 45 BANDUNG TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Pradilah, Winda Nur
LOKABASA Vol 5, No 2 (2014): Vol. 5, No. 2, Okt 2014
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v5i2.15959

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa dalam menyimak dongeng dengan menggunakan media audio-visual. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah one group pretest-posttest design. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik tes. Dalam penelitian ini data dianalisis dengan menggunakan  analisis statistik, yaitu berupa uji normalitas data, uji homogenitas, uji gain, serta uji hipotesis. Hasil dari penelitian ini adalah (1) kemampuan menyimak dongeng siswa kelas VII E SMP Negeri 45 Bandung tahun pelajaran 2013/2014  sebelum menggunakan media audio-visual dengan hasil rata-rata 63,71, sedangkan setelah diberikan treatmentmenghasilkan rata-rata 75; (2) peningkatan hasil uji gain menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan sebelum dengan kemampuan sesudah menggunakan media audio-visual, yaitu 63,71 menjadi 75 dengan beda 11,28; dan (3) dalam uji hipotesis taraf  kepercayaan 99% dengan db=2,44 ada beda yang signifikan antara hasil prates dan hasil pascates siswa, thitung (6,79) ttabel (2,44). Hasil uji hipotésis menunjukkan bahwa thitung ttabel artinya hipotésis (Ha) diterima, dan hipotésis (Ho) ditolak. Berdasarkan hasil di atas, dapat disimpulkan bahwa  media audio-visual efektif dalam meningkatkan kemampuan menyimak dongeng  siswa kelas VII E SMP Negeri 45 Bandung tahun pelajaran 2013/2014.AbstractThis study aimed to describe the ability of students in a fairy tale using audio-visual. Methods used in this studyis A Quasi Experimental Study with design one group pretest-posttest design. The Technique used in this study is a test technique, in this study, the data were analyzed by using statistical analysis, namely in in the form of data normality test, homogenety test, test gains, as well as hypothesis testing. The results of this study are (1) fairy tales listening skills grade VII E 45 SMP Country duo school year 2013/2014, before the use of audio-visual media with an average 63,71, after being given treatment produce an average of 75; (2) an increase in the gain test result show that there are significant difference between the ability befor the ability after using audio-visual media they are 67,71 to 75, with difference 11,28 and; (3) the hypothesis test confidence level of 99% with db=2,44 with no significant difference between the results  students, tvalue(6,79) ttable (2,44) show that hypothesis test results tvalue ttabel  means hypothesis (Ha) is received, and the hypotesis (Ho) is rejected based on the results of above, it can be concluded that the audio-visual media are effective in improving listening skill fairy tale grade students of SMP Negeri 45 Bandung scool year 2013/2014.
KAJIAN STRUKTURAL-SEMIOTIK PADA KUMPULAN SAJAK LAGU PADUNGDUNG KARYA DENI AHMAD FAJAR UNTUK BAHAN PEMBELAJARAN MEMBACA SAJAK DI SMA Jayanti, Arini Dwi
LOKABASA Vol 5, No 2 (2014): Vol. 5, No. 2, Okt 2014
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v5i2.15943

Abstract

 Latar belakang penelitian ini dikarenakan sajak masih berkembang di masyarakat, termasuk pelajar dan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teks-teks sajak yang terdapat dalam kumpulan sajak Lagu Padungdung karangan Deni Ahmad Fajar, untuk mendeskripsikan: (1) struktur sajak, (2) unsur semiotik sajak, dan (3) penerapan hasil penelitian terhadap bahan pembelajaran membaca sajak di SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitik dengan menggunakan tehnik studi pustaka dan analisis data, yakni mencari referensi yang dapat dijadikan landasan teori untuk mendeskripsikan hasil analisis. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kartu data. Analisis struktural dalam sajak meliputi unsur tema, nada, rasa, dan amanat yang terdapat dalam struktur sajak, yang kemudian dipahami maknanya melalui analisis semiotik Charles Sander Peirce, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Hasil pengolahan data struktural didapat tema, nada, rasa, dan amanat. Tema yang paling banyak yaitu, tema cinta dan kematian, nadanya nada menyindir dan sedih, rasanya menggambarkan rasa kerinduan, dan amanatnya lebih banyak mengingatkan pada pembaca. Hasil pengolahan semiotik didapat data unsur ikon ada 76, unsur indeks ada 140, dan unsur simbol ada 120. Secara keseluruhan dari hasil penelitian ini terdapat 30 sajak yang bisa direkomendasikan untuk bahan pembelajaran membaca sajak di SMA. Abstract This research is based on the ever-growing development in the community,including senior  high school students and college  students. The study aims to analyze poem texts from the poem anthology Lagu Padungdung by Deni Ahmad Fajar, to describe: (1) poem structure, (2) poem semiotic elements,  and (3) the application of the result of the study on teaching poem reading in senior high school. The method used in the study is descriptive-analysis by conducting literature review and data  analysis,  namely  searching available to be referredtheories as the foundation to describe the analysis results. The instrument used isdata cards. Structural analysis in poem covers theme, tone, feel, and moral valueof the poem, which are later interpreted through Charles Sander Peirce semiotic analysis, namelyicon, index, dan symbool. The result of structural data collections includes theme, tone, feel, and moral value. The most common themes are love and death, thetones are sarcasm and sorrow, the feel is yearning, and the moral value deals morewith making the readers to remember. The result of semiotic analysis is that thereare 76 icons, 140 indexes, and 120 symbols. Overall findings of this study is that there are  approximately 30 poems which can be recommended to be used asteaching materials of poem reading in senior high school.
BAHASA SUNDA DIALEK TASIKMALAYA DI KECAMATAN KARANGNUNGGAL Mulyani, Enur Sri
LOKABASA Vol 9, No 2 (2018): Vol. 9, No. 2, Oktober 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i2.15680

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tergesernya bahasa Sunda dialek Tasikmalaya di Kecamatan Karangnunggal oleh bahasa asing karena adanya globalisasi dan kemajuan teknologi.   Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang (1) Bahasa Sunda dialek Tasikmalaya, (2) ciri-ciri pembeda Bahasa Sunda dialek Tasikmalaya dengan Bahasa Sunda Lulugu, (3) bentuk kata Bahasa Sunda dialek Tasikmalaya, dan (4) dialektometri Bahasa Sunda dialek Tasikmalaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik wawancara, simak, dan observasi. Instumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner, daftar pertanyaan, dan alat rekam. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu: pertama, ada 486 kosa kata bahasa Sunda dialek Tasikmalaya; kedua, terdapat 46 kata yang termasuk dalam pembeda fonetik, 7 kata termasuk pembeda morfologis, 6 kata termasuk pembeda homonimi, 411 termasuk pembeda sinonimi, 22 kata termasuk pembeda onomasiolgis, dan 15 kata termasuk pembeda semasiologis; ketiga, terdapat 324 kecap salancar yang ada pada empat pola suku kata, kata terbanyak ada pada pola dua suku kata, 137 kecap jembar yang terdiri dari 54 kecap rundayan, 28 kecap rajékan, 46 kecap kantétan, dan 9 kecap wancahan; keempat, hasil presentase dalektometri Bahasa Sudna dialek Tasikmalaya yaitu 55,39 yang artinya ada pada tingkat beda dialek. Bahasa Sunda dialék Tasikmalaya sudah sepatutnya dilestarikan oleh masyarakat khususnya masyarakat Kabupaten Tasikmalaya di Kecamatan Karangnunggal.AbstractThis research was motivated by the shift of Sundanese dialect in Tasikmalaya, particularly in Karangnunggal Subdistrict, due to foreign language campaign as the result of globalization and technological advancement. The purpose of this research was to describe about (1) Sundanese dialect Tasikmalaya, (2) the distinguishing features of Sundanese dialect Tasikmalaya with Sundanese Lulugu, (3) wangun kecap Sundanese dialect Tasikmalaya, and (4) dialectometry Sundanese dialect of Tasikmalaya. The method used in this research wass descriptive method with interview technique, references, and observation. The instruments used in this study were questionnaires, interview guides, and recording tools. The results of this study were; first, there were 486 Sundanese soy sauce in Tasikmalaya dialect; second, there were 46 words that belong to phonetic differentiator, 7 words including morphological differentiator, 6 words including homonymous differentiation, 411 including synonymous differentiation, 22 words including onomasiologis differentiator, and 15 words including semasiologic differentiator; third, there were 324 kecap salancar available in four syllabic patterns, most said in the two syllabic pattern, 137 kecap jembar consisting of 54 kecap rundayan, 28 kecap rajékan, 46 kecap kantétan, and 9 kecap wancahan; fourth, the result of dialectometry presentation of Tasikmalaya’s dialect was 55,39 which means there is a different dialect level. Sundanese dialect in Tasikmalaya was duly preserved by the community, especially Tasikmalaya regency in Karangnunggal subdistrict.
RIMA DALAM CERITA PANTUN BUDAK MANDJOR SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA DI SMA Rulita, Erna Ervilyana
LOKABASA Vol 9, No 1 (2018): Vol. 9, No. 1, April 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i1.15616

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis dan pola rima yang terdapat dalam cerita pantun serta implikasinya untuk bahan pembelajaran apresiasi sastra di SMA. Metode deskrptif digunakan dalam penelitian ini, data diolah dengan menggunakan tekhnik telaah pustaka. Data rima yang diperoleh dari cerita pantun Budak Mandjor yang dipantunkan oleh Ki Atjeng Tamadipura (Situraja – Sumedang) sejumlah 582 rima dengan frekuensi 1.182 kali. Hasil penelitian ini ditemukan 11 jenis rima yang meliputi  purwakanti pangluyu, purwakanti maduswara, purwakanti mindoan kawit, purwakanti laras madya,  purwakanti cakraswara, purwakanti rangkepan, purwakanti laras wekas, purwakanti mindoan wekas, purwakanti margaluyu, purwakanti laras purwa, purwakanti mindoan kata. Jenis rima yang paling dominan adalah purwakanti pangluyu yang berjumlah 125 dengan frekuensi sebanyak 246 kali (20,81%). Sedangkan pola yang ditemukan dari setiap jenis rima tersebut merupakan pola struktur bahasa yang meliputi konsonan, vokal, suku kata, kata dan frasa. Hasil penelitian ini direkomendasikan untuk bahan pembelajaran aprésiasi sastra di SMA kelas XII. AbstractThis study aimed to describe the types and patterns of rhymes contained in pantun story and their implications for literature appreciation teaching and learning materials in senior high school. This study employed descriptive method, and its data were processed by literature review techniques. The data of rhyme obtained from the story of the Budak Mandjor pantun story sung by Ki Atjeng Tamadipura (Situraja - Sumedang) of total 582 rhymes with a frequency of 1.182 times. This study found 11 types of rhymes which included purwakanti pangluyu, purwakanti maduswara, purwakanti mindoan kawit, purwakanti laras madya, purwakanti cakraswara, purwakanti rangkepan, purwakanti laras wekas, purwakanti mindoan wekas, purwakanti margaluyu, purwakanti laras purwa, purwakanti mindoan kata. The most dominant type of rhyme is purwakanti pangluyu, which totaled 125 and its frequency is 246 times (20.81%). While the pattern type found in each rhyme is a language structure pattern that includes consonants, vowels, syllables, words and phrases. The results of this study are recommended for literary teaching-learning materials in Grade XII Senior High School.