cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
LOKABASA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 286 Documents
METODE SOSIODRAMA DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA PUPUH DI SMK PASUNDAN 3 BANDUNG TAHUN AJARAN 2013/2014 Fatimah, Seni Baetuli; Haerudin, Dingding; Hendrayana, Dian
LOKABASA Vol 5, No 2 (2014): Vol. 5, No. 2, Okt 2014
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v5i2.15957

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fakta yang menunjukan bahwa minat dan kemampuan siswa dalam memahami isi teks pupuh masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa membaca pemahaman pupuh sebelum dan sesudah menggunakan metode sosiodrama, dan untuk mengetahui perbedaan antara keduanya. Metode yang digunakan adalah metode kuasi eksperimen dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes. Adapun instrumen yang digunakan yaitu berupa lembar tes. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) kemampuan siswa dalam memahami isi teks pupuh meningkat dari 64,66% menjadi 83,33% dengan perbedaan uji gain 18,66% (2) adanya perbedaan uji gain menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan sebelum dan sesudah menggunakan metode sosiodrama (3) hasil uji hipotesis diperoleh thitung ttabel yaitutitung (7,14) ttabel (2,46), hal ini menunjukkan bahwa hipotesis kerja (Ha) diterima dan hipotesis kerja (Ho) ditolak. Dengan demikian, metode sosiodrama bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa membaca pemahaman pupuh serta dapat menjadi salah satu alternatife dalam teknik pembelajaran.AbstractThis researchwas conducted by the fact which shows that students interest and ability in understanding pupuh text content are still low. This study is aimed to find out students ability in pupuh reading comprehension before and after use sociodrama method, and to discover the difference between both of them. The method used is quasi experimental method with data collection technique using test technique. While, the instrument used is test sheets. According to the result, it can be concluded that (1) the students ability in understanding pupuh text content increases from 64.66% into 83.33% with the difference of gain test 18.66% (2) the difference of gain test shows that there is a significant difference between the ability before and after using sociodrama method (3) hypothesis test result was obtained t-value t-table (7.14) (2.46), it indicates that working hypothesis (Ha) is accepted and working hypothesis (Ho) is rejected. Thus, sociodrama method can be used to increase students ability in pupuh reading comprehension and also can be an alternative in learning technique.
PERBANDINGAN NOVEL LAIN ETA KARYA MOH. AMBRI DENGAN DJEUMPA ATJEH KARYA H.M. ZAINUDDIN (Kajian Struktural dan Etnopedagogik) Gustiani, Witri; Ruhaliah, Ruhaliah; Koswara, Dedi
LOKABASA Vol 9, No 2 (2018): Vol. 9, No. 2, Oktober 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i2.15687

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbandingan struktur cerita dari novel Lain Eta karya Moh. Ambri dan Djeumpa Atjeh  karya H.M. Zainuddin, serta analisis mengenai nilai-nilai etnopedagogiknya. Metode yang digunakan adalah metode deskripsi dengan teknik kajian pustaka. Dua karya sastra ini sama-sama memiliki kesamaan dalam karakter utamanya, yaitu perempuan. Dua novel ini memiliki kesamaan tema, yakni kawin paksa. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah perbandingan antar karya sastra daerah menurut Endraswara, fakta-fakta cerita Robert Stanton untuk kajian struktural, dan nilai-nilai etnopedagogik menurut Sudaryat.Pihak orang tua dari masing-masing karakter utama itu menginginkan agar anaknya menikah dengan lelaki pilihan, bukan dengan yang dicintai oleh anaknya. Konflik ini pada akhirnya membuat keseluruhan cerita berkembang dan mengarah pada akhir cerita yang berbeda. Dengan adanya penelitian ini diharapkan bisa menambah wawasan mengenai sastra perbandingan, serta perbandingan antar karya sastra daerah di Indonesia. AbstractThe aims of this research is to describe about the structure comparison between the novel Lain Eta by Moh. Ambri and Djeumpa Atjeh by H.M. Zainuddin, and the analysis of ethnopedagogical values. These two novels have the same theme, named kawin paksa.The theology used in this research is comparison between literature region by Endraswara, the facts if story by Robert Stanton, and also etnhnopedagogy values by Sudaryat. The method in this research is description, and literature review. These two novels have the same main characters, there is the girl who can’t marriage with their loves because the parents is not agree. Their parents wants to have a son-in-law by the men which parents choose, and the conflict was stared from this. This research hopes is can be add insight about comparative literature, and comparative literature region in Indonesia.
JABAR MASAGI: PENGUATAN KARAKTER BAGI GENERASI MILENIAL BERBASIS KEARIFAN LOKAL Suherman, Agus
LOKABASA Vol 9, No 2 (2018): Vol. 9, No. 2, Oktober 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i2.15678

Abstract

Jabar Masagi merupakan salah satu program pemerintah Provinsi Jawa Barat periode 2018 – 2023 dengan oreintasi pada pendidikan karakter. Sasaran program ini terutama generasi muda atau kaum milenial. Dengan menggunakan metode deskriptif, tulisan ini mengupas landasan program tersebut disertai dengan uraian nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Hasilnya, keterkaitan antara program Jabar Masagi dengan nilai kearifan lokal Sunda di antaranya terlihat dari rincian program yang sangat erat kaitanya dengan pandangan hidup, moto, dan ungkapan-ungkapan tradisional Sunda. Oleh sebab itu, pencanangan program ini selain merupakan acuan praktis dalam berperilaku, sekaligus merupakan reaktualisasi nilai-nilai kesundaan yang telah lama dianut. Melalui program gerakan yang dimotori oleh pemerintah daerah, semangat pemahaman dan pengamalan kembali terhadap nilai-nilai kesundaan dapat digelorakan secara semarak dan lebih kontekstual.ABSTRACTJabar Masagi is one of the government programs of West Java Province for the period 2018 - 2023 with a focus on character education. The target of this program is mainly the younger generation or millennials. By using descriptive methods, this paper examines the basis of the program along with a description of the value of local wisdom contained in it. As a result, the link between the West Java Masagi program and the value of Sundanese local wisdom can be seen from the details of the program that are closely related to the views of life, motto, and traditional Sundanese expressions. Therefore, the declaration of this program is not only a practical reference in behaving, it is also a re-actualization of the values of delay that have long been adopted. Through a movement program driven by the local government, the spirit of understanding and re-applying to the values of delay can be raised in a lively and more contextual manner.
TRADISI NYAWÉR PANGANTÉN SEBAGAI BAHAN AJAR BAHASAN BUDAYA SUNDA DI SMA Sulistian, Andri Tri
LOKABASA Vol 9, No 1 (2018): Vol. 9, No. 1, April 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i1.15613

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya perhatian dan pengetahuan masyarakat terhadap kearifan budaya lokal yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah tradisi nyawér pangantén yang dilaksanakan dalam upacara perkawinan adat Sunda. Berdasar pada latar belakang, penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan struktur dan fungsi tradisi nyawér pangantén, 2) mendeskripsikan nilai etnopedagogik yang terdapat dalam tradisi nyawér pangantén, dan 3) mendeskripsikan tradisi nyawér pangantén bisa menjadi alternatif bahan ajar bahasan budaya Sunda di SMA. Metode yang digunakan yaitu deskriptif dalam penelitian kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini yaitu mencakup data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dan observasi. Data sekunder diperoleh dari telaah pustaka dan perekaman serta pendokumentasian. Penelitian ini dikaji dengan kajian struktur tradisi lisan, etnopedagogik, serta hasil bahasannya digunakan menjadi bahan ajar di SMA. Dari hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa tradisi nyawér pangantén mempunyai aspék teks, ko-teks, dan konteks yang sangat penting. Selain itu, dalam tradisi nyawér pangantén juga terdapat moral manusia kepada Tuhan, kepada pribadinya, kepada manusia lainnya, kepada alam, terhadap waktu, dan dalam mencapai kepuasan lahir dan batin. Serta hasil analisis dalam pembahasan tradisi nyawér pangantén dapat digunakan sebagai bahan ajar bahasan budaya Sunda di SMA.AbstractThis research was motivated by the low level of knowledge and concern of the community towards local wisdom culture existed in everyday life. One of them is nyawer pangantén tradition, which commonly held during Sundanese traditional wedding ceremony. Based on the above background, this study aimed to 1) describe the structure and function of traditional pangantén custum, 2) describe the ethnopedagogic values contained in the traditional pangantén custom, and 3) describe the traditional pangantén custom as an alternative teaching material for Sundanese culture in Senior high school. The method used was descriptive in qualitative research. Sources of data in this study included primary and secondary data. Primary data obtained from interviews and observations. While secondary data was obtained from literature review, recordings and documentation. This research was performed by a study of the structure of oral traditions, ethno-pedagogic, and the results of the discussion used as teaching materials in high school. From the results of data analysis, it can be concluded that nyawer pangantén tradition has a very important aspect of text, co-text, and context. In addition, nyawer panganten tradition contained human morality to God, to themselves, to other humans, to the nature, to time, and in achieving satisfaction outwardly and inwardly. Furthermore, the results of the analysis revealed that nyawer pangantén tradition can be used as a teaching material for discussing Sundanese culture in Senior High School.
LIRIK TEMBANG SUNDA CIGAWIRAN (Kajian Historis, Struktural, dan Etnopedagogik) Astriani, Dian; Koswara, Dedi
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i1.15964

Abstract

Tujuan penelitian ini mendeskripsikan perkembangan, struktur, dan nilai étnopédagogik lirik tembang Sunda Cigawiran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan teknik observasi, telaah pustaka, dan wawancara. Instrumen yang digunakan berupa pedoman wawancara, pedoman inventaris, dan kartu data. Sumber data dalam penelitian ini adalah 14 lirik tembang yang diperoleh dari wawancara dan studi pustaka. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa tembang Sunda Cigawiran mengalami perkembangan dan struktur puisi yang tentu. Perkembangan tembang Sunda Cigawiran berubah dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan zaman. Struktur lirik tembang Sunda Cigawiran mempunyai struktur fisik (imaji, simbol, musikalitas, dan gaya bahasa) serta struktur batin (tema, rasa, nada, dan amanat). Lirik tembang Sunda Cigawiran secara umum ditulis dalam bentuk pupuh, tapi tidak sepenuhnya memenuhi aturan pupuh yang digunakannya. Téma dari teks tembang Sunda Cigawiran pada umumnya berkaitan erat dengan keagamaan. Imaji yang paling banyak ditemukan dalam teks ini adalah imaji visual (penglihatan). Musikalitas/wirahma tembang Sunda Cigawiran mencakup pada bentuk pupuh, yang mempunyai guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu. Gaya bahasa umumnya merupakan bahasa yang umum, hiperbol, dan konotatif. Rasa yang paling banyak ditemukan menunjukkan rasa takut. Sedangkan amanat secara umum adalah memebrikan peringatan kepada manusia agar selamanya memohon perlindungan kepada Alloh swt. Dalam lirik tembang Sunda Cigawiran terkandung nilai etnopedagogik, yaitu Prilaku Nyunda Trisilas (silih asih, silih asah, silih asuh), Catur Jatidiri Insan (pengkuh agamana, jembar budayana, luhung élmuna, rancagé gawéna), Gapura Panca Waluya (cageur, bageur, bener, pinter, singer), dan Moral Kemanusiaan (moral manusia kepada Tuhan, moral manusia kepada diri pribadi, moral manusia kepada manusia, moral manusia kepada alam, moral manusia kepada waktu, dan moral manusia dalam mencapai kepuasan lahir dan batin). ABSTRACTThe purpose of this study describes the development, structures, and etnopedagogic values of Cigawiran Sundanese song lyrics. The method used in this research is descriptive method, while the data is taken by observation technique, literature review, and interview. The instruments used are interview guides, inventory guides, and data cards. The data sources in this study are 14 songs lyrics obtained from the interviews and literature study. From the research results found that Cigawiran Sundanese song has developed and formed its structures of poetry. The development of Cigawiran Sundanese song changed from time to time along with the period. Cigawiran Sundanese song structure has the physical structures (images, symbols, musicalities, and language styles) and the inner structures (themes, tastes, tones, and messages). Cigawiran Sundanese song lyrics in generally are written in stanzas, but does not fully comply with the rules of the stanzas it used. The theme of the Cigawiran Sundanese song texts are generally closely related to religion. The most common images found in this text is the visual image (sight). Musicality of Cigawiran Sundanese song includes the stanza form, which has guru gatra, guru wilangan, and guru lagu. Language styles are generally a common language, hyperbole, and connotative. The most common sense shows fear. While the message in generally gives warning that people must always ask protection to Alloh SWT. In the Cigawiran Sundanese song lyrics contained etnopedagogic values. That are Prilaku Nyunda Trisilas (silih asih, silih asah, silih asuh), Catur Jatidiri Insan (pengkuh agamana, jembar budayana, luhung élmuna, rancagé gawéna), Gapura Panca Waluya (cageur, bageur, bener, pinter, singer), and humanity moral (the moral of human to God, the moral of human to themself, the moral of human to other human being, the moral of human to nature, the moral of human to the time, and the moral of human in achieving physical and mental satisfaction).
KEMAMPUAN MENGUASAI KOSA KATA ANAK USIA 4-5 TAHUN DI TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL RANTING LEUWIDAUN KABUPATEN GARUT Nurlatifah, Eva
LOKABASA Vol 5, No 2 (2014): Vol. 5, No. 2, Okt 2014
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v5i2.15948

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masyarakat Sunda, yang dewasa ini sudah sedikit menggunakan bahasa Sunda dalam mendidik anak-anaknya. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan kemampuan anak pada usia 4-5 tahun dalam menguasai kosa kata dalam bahasa Sunda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Untuk teknik yang digunakan dalam mengunpulkan data adalah wawancara tidak terstruktur. Sumber data dalam penelitian ini adalah enam orang anak TK Aisyiyah, dengan pertimbangan jenis kelamin dan umur. Tiga orang anak laki-laki dan tida orang anak perempuan dijadikan sumber data, usia responden ada dalam rentang 4-5 tahun. Sumber data dipilih secara acak. Dalama menggunakan kata ada berbagai macam kata untuk satu acuan yang sama. Bahasa yang digunakan belum sempurna, bahasa Sunda masih dicampur oleh bahasa Indonesia. Kemampuan menguasai kosa kata murid TK ada dalam kategori kurang, dari 149 kata yang sudah diujikan terhadap enam anak TK. Kemampuan anak dalam memahami bahasa Sunda dari data yang sudah didapa adalah 55 kata (36,85%) dan 71 kata (47%) belum diketahui oleh anak. Kemampuan paling tinggi anak TK 5 yang mampu menguasai 67 kata (44,97%), kamampuh tertinggi kedua adalah anak TK 6 yang mampu menguasai 60 kata (40,2%), kemampuan tertinggi ketiga diperoleh anak TK 4 yang mampu menguasai 55 kata (36,85%), kemampuan tertinggi keempat adalah anak TK 1 yang mampu menguasai 53 kata (35,56%), kemampuan tertinggi kelima yaitu anak TK 3 yang mampu menguasai 51 kata (34,17%), dan kemapuan terendah yaitu anak TK 2 yang hanya mampu 47 kata (31,54%). Dilihat dari kelompok kata yang banyak dikuasai oleh anak adalah istilah kekerabatan yakni 91,67%, kemudia kata bilangan pokok sebanyak 83,88%. Golongan kata ketiga yang banyak diukuasai oleh anak TK adalah kata kerja pokok 81,81%, kemuudian nama anggota badan yang mampuh dikuasai 75,54%, istilah keadaan/sifat pokok dikuasai sebanyak 75%. Golongan yang paling sedikit dikuasai anak adalah kata ganti dan kata petunjuk. Kosa kata yang paling sesuai dengan umur anak adalah kata yang berhubungan dengan istilah kekerabatan sebanyak 91,67%, kata bitangan pokok 83,33%, kata kerja pokok 81,81%, nama anggota tubuh 75,54%. Sisanya adalah kata yang kurang sesuai adalah kata ganti dan kata petunjuk 75% karena jumlah kata yang dikuasai siswa paling sedikitAbstractThe background of this research is based on how Sundanese people rarely use Sunda language in educating their children nowadays. The main goal of this research is to describe children abilities, 4-5 years old, in understanding their Sunda language vocabularies. The descriptive method is used to do this research. The researchers do the unstructured interview technique. The respondents of this research are six students from Aisyiyah kindergarten. Three of them are men and three of them are women who are 4-5 years old. The data sources are chosen randomly. In using words, there are some words which have same reference. The Sunda language, which is used, is not perfect. People still combine Sunda language and Indonesian language in one time when they are speaking. From 149 words which have been tested to kindergarten students’, their abilities are still not good. From the data which have been taken, students’ abilities in understanding the words are they know 55 words (36,85%) and do not know 71 words (47%). The highest is from student 5 who understands 67 words (44,97%), the second is from the student 6 who understands 60 words (40,2%), the third is from student 4 who understands 55 words (36,85%), the fourth is from student 1 who understands 53 words (35,56%), the fifth is from student 3 who understands 51 words (34,17%), and the last is from student 2 who only understands 47 words (31,54%). From the data, it can be seen that the most known words by kindergarten students are words about relationships which is 91,67%, and then cardinal numbers which is 83,88%. The third is the verbs which is 81,81%, and then the name of parts of body which is 75,54%, the term of situation/characteristic  which is 75%. The least terms which are understood by students are pronouns and direct words.
MEDIA KOMIK CERITA BABAD JAMPANG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN CERITA BABAD Sari, Neneng Juwita
LOKABASA Vol 9, No 2 (2018): Vol. 9, No. 2, Oktober 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i2.15683

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya kemampuan membaca pemahaman siswa terhadap teks cerita babad. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan tentang (1) mengukur kemampuan siswa di kelas eksperimen, sebelum dan setelah menggunakan media komik, (2) mengukur kemampuan siswa di kelas kontrol, sebelum dan setelah yang tidak menggunakan media komik, dan (3) mengukur perbandingan antara kemampuan membaca pemahaman siswa yang menggunakan media komik dan siswa yang tidak menggunakan media komik.. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen murni (True Experimental Design). Hasil dari penelitian ini yaitu; 1) data yang didapat dari penelitian ini setelah uji sifat data, memiliki distribusi tidak normal (P0,05) dan homogen (P0,05), 2) hasil uji hipotesis menggunakan uji-z menujukan bahwa kemampuan siswa di kelas kontrol P=0,000 (P0,05=signifikan) dan kemampuan siswa di kelas eksperimen P=0,000 (P0,05=signifikan), 3) uji hipotesis menunjukan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antara kemampuan siswa yang menggunakan media komik dan siswa yang tidak menggunakan media komik, artinya bahwa Ho ditolak dan Ha diterima P0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa media komik efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman cerita babad. AbstractThis research was motivated by the lack of  ability to students in understanding babad storiest. The purpose of this study is to describe about (1) measure the asibility of students in the experimental class, before and after using comic media, (2) measure the asibility of students in the control class, before and after not using comic media, and (3)compare the students ability in reading comprehension between using the media and students who don’t use comic media. This study uses a quantitative with approach with pure experimental method (treu experimntal design). The reult of this study are; 1) after processing data, this research has an abnoral distribution (P 0,05), and homogeneous (P 0,05), 2) The results of hypothesis using the z-test shows that the ability of students in the control class P = 0,000 (P 0,05 = significant), and the ability of students of in the experimental class P = 0,000 (P 0,05 = signficant), 3) The hypotehesis, showing that the signifiacant difference between the ability of students who use media of comics and students who do not use the media comics, means that Ho is rejected and Ha is accepted P 0,05. So it can be concluded that comic media is effective  to improve reading comprehension ability of babad stories.
LEKSIKON ANYAMAN BAMBU DI KECAMATAN PACET KABUPATEN BANDUNG (Kajian Etnolinguistik) Setiani, Puspa Endah; Sudaryat, Yayat; Kuswari, Usep
LOKABASA Vol 9, No 1 (2018): Vol. 9, No. 1, April 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i1.15673

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya mempertahankan tradisi, adat-istiadat, dan bahasa daerah yang merupakan kekayaan suatu bangsa. Anyaman bambu merupakan salah satu tradisi yang masih bertahan saat ini dalam himpitan kehidupan modern sangat penting untuk dilestarikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui leksikon anyaman bambu yang ada di Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif melalui pendekatan kualitatif. Sumber data penelitian adalah para pengrajin anyaman bambu di Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah wawancara dan observasi. Data yang sudah diperoleh dianalisis berdasarkan kajian etnolinguistik. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilaksanakan, terdapat 19 leksikon anyaman bambu yang ada di kecamatan Pacet Kabupaten Bandung. Leksikon anyaman bambu tersebut diklasifikasikan berdasarkan fungsinya, yaitu (1) alat dapur, (2) alat rumah tangga, (3) alat pertanian, (4) alat perikanan, dan (5) alat bangunan rumah. Sedangkan berdasarkan kajian etnolinguistik, terdapat istilah-istilah anyaman awi yang mengandung nilai-nilai budaya yang tinggi yang erat hubunganna sistem kepercayaan yang ada pada masyarakat. AbstractThis research is motivated by the importance of maintaining traditions, customs, and regional languages, which constitute national property. Bamboo woven, one of the traditions that still survive today though under the pressure of modern life is very important to be preserved. This study aims to find out bamboo woven lexicon in Pacet of Bandung district. The method used was the descriptive method with a qualitative approach. The source of the research data is bamboo woven craftsmen in Pacet, Bandung District. The instrument used to collect data was interviews and observations. The data obtained was analyzed based on ethnolinguistic studies. Based on the results of the research, there are 19 woven bamboo lexicons. The lexicon of woven bamboo is classified based on its functions, i.e. (1) kitchen utensils, (2) household appliances, (3) agricultural tools, (4) fishing equipment, and (5) house building tools. Whereas based on ethno-linguistic studies, there are woven terms that contain high cultural values that are closely related to the belief system that exists in society.
TATAKRAMA BAHASA SUNDA DALAM KOMUNIKASI LISAN MASYARAKAT KAMPUNG JEMO KABUPATEN SUMEDANG Wulandari, Sri Rizki; Sudaryat, Yayat; Hernawan, Hernawan
LOKABASA Vol 5, No 2 (2014): Vol. 5, No. 2, Okt 2014
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v5i2.15958

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan tatakrama dalam komunikasi lisan masyarakat yang berada di Kampung Jémo, Desa Nagrak, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui serta mendeskripsikan tatakrama bahasa Sunda, dalam komunikasi lisan masyarakat Kampung Jémo Desa Nagrak Buahdua Kabupaten Sumedang. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Tehnik yang digunakan adalah tehnik observasi dan wawancara. Adapun instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara dengan dilengkapi alat perekam berupa ponsel. Hasilnya: (1) sebagian besar masyarakat Kampung Jémo mengetahui tentang tatakrama bahasa Sunda, tetapi tidak menggunakannya dalam percakapan sehari-hari; (2) kontéks situasi dalam pemakaian tatakrama bahasa Sunda, dilakukan dalam situasi santai dan formal. Jika diberi pertanyaan mengunakan bahasa Sunda, umumnya (42,10%) menjawab menggunakan bahasa Sunda yang halus; dan (3) tahapan kata yang dipakai oleh masyarakat Kampung Jémo, lebih banyak menggunakan bahasa kasar (41,1%). Hal ini menunjukan jika masyarakat mengetahui tatakrama bahasa Sunda, tetapi tidak digunakan dalam pembicaraan sehari-hari, dan lebih banyak menggunakan bahasa kasar.AbstractThe background of this research is to know and describe the etiquette of the society live in Jemo village in Nagrak, the district of Buahdua in Sumedang regency, in spoken communication. The purpose of this research is to know and describe the etiquette of sundanese language in spoken language used by Jemo villagers in Nagrak, the village of Sumedang regency. This research paper uses descriptive method and the data were gained through observation and interview. The instrument of this research was in the form of interview that was recorded through cellular phone. The results are: (1) The majority of Jemo villagers know the etiquette of Sundanese language, but they do not use it in their daily conversation; (2) the context of Sundanese language etiquette is applied in the formal and informal situation. If they are asked by using Sundanese language, generally (42,10%) they answer it in polite Sundanese language.; and (3) the word’s phase used by jemo villagers are rude utterance. In the data analysis, there are (41,1%) of the rude utterance spoken by them. So, the result shows that people know the etiquette of Sundanese language, but they do not apply it in their daily conversation, They tend to speak the rude utterance
INVENTARISASI PUISI MANTRA DI KECAMATAN SITURAJA KABUPATÉN SUMEDANG (ULIKAN STRUKTURAL) Ningrum, Dina Siti
LOKABASA Vol 9, No 2 (2018): Vol. 9, No. 2, Oktober 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i2.15679

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berkurangnya keberadaan puisi mantra di masyarakat serta berkurangnya orang yang mempunyai mantra. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan; 1) puisi mantra di Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang; 2) klasifikasi puisi mantra di Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang; dan 3) analisis struktur mantra yang ditemukan di Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dengan tekhnik studi pustaka, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, data puisi mantra yang terkumpul adalah sejumlah 105 puisi mantra dari 12 narasumber, yang terdiri dari 22 asihan, 22 jangjawokan, 38 ajian, 6 singlar, 3 rajah, 14 jampé. Selanjutnya, dari 105 puisi mantra dipilih jadi 25 puisi mantra yang mencakup 9 asihan, 4 jangjawokan, 4 ajian, 2 singlar, 1 rajah, jeung 5 jampé. Hasil dari analisis 25 puisi mantra yaitu: wangun dan wirahmanya tidak teratu, kebanyakan dari puisi mantra dibangun lebih dari 8 baris, purwakanti yang sering muncul adalah purwakanti mindoan kawit, purwakanti mindoan kawit, larasmadya, maduswara, laraspurwa, jeung laraswekas. Bangbalikan yang sering muncul adalah bangbalikan rantay rakitan a b/ a c dan bangbalikan runtuy puhu, dan pencitraan yang sering ditemukan adalah pencitraan penglihatan (visual) dan pencitraan perasaaan (taktil). Dapat disimpulkan, puisi mantra yang terkumpul dari masyarakat Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang mempunyai manfaat untuk memperluas dan menambah pengetahuan mengenai sastra dan budaya Sunda, serta bisa memahami pembahasan struktur puisi mantra. AbstractBackground this study based on the reduced presence of poetry in society as well as a reduced spell people know and have been rarely spell. The purpose of the study is to describe; 1) poem mantra in district Situraja, Sumedang; 2) classification of poem mantra in district Situraja, Sumedang; and 3) structure analysis found in district Situraja, Sumedang. This research uses descriptive method, with the dwarf in the study of the literature, interviews and documentation. Based on the results of this research, the data collected is the mantra of poems a number of 105 poem spell of 12 speaker, consisting of 22 asihan, 22 jangjawokan, 38 ajian, 6 singlar, 3 rajah., 14 jampé. Next, from 105 poem mantra was chosen so the mantra of poetry includes 25 poem,  9 asihan 4 jangjawokan, 4  singlar, 2 ajian, 1 rajah  jeung  5 jampé. The results of the analysis of 25 poems mantra: wangun jeung wirahma, most of the poem spell built more than 8 lines, purwakanti faqs purwakanti mindoan is purwakanti mindoan, kawit kawit, larasmadya, maduswara, laraspurwa laraswekas, bangbalikan and who often appears is bangbalikan rantay assembled a b/a c and bangbalikan runtuy puhu, and imaging often found is eyesight (visual) imaging and imaging sence (tactile). It can be inferred, the poem spell collected from the community Sub-district Situraja, Sumedang has benefits to expand and add to the knowledge of the literature and culture of Sundanese, and could understand the discussion of the structure of the poem spell.