cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
LOKABASA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 286 Documents
PIRANTI KOHESI SUBSTITUSI DALAM CERITA RADIN DJAMBAT (Kajian Intertekstual sebagai Pelansir Martabat dan Budaya Masyarakat Lampung) Ariyani, Farida; Suyanto, Edi; Agustina, Eka Sofia
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i1.15967

Abstract

Indonesia kaya akan peninggalan cerita rakyat, termasuk cerita Radin Djambat yang ada di Lampung. Cerita Radin Djambat memuat nilai-nilai perjuangan, persahabatan, dan filosofi yang dapat dijadikan teladan bagi perkembangan dan pembangunan budaya bagi masyarakat Lampung secara khusus dan masyarakat Indonesia secara umum untuk kehidupan saat ini dan masa datang. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan piranti kohesi substitusi dalam legenda Radin Djambat, sebagai pelansir martabat dan budaya masyarakat Lampung. Metode penelitian yang digunakan adalah studi dokumentasi melalui pendekatan intertekstual yang bersifat kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa piranti kohesi substitusi yang terdapat dalam cerita Radin Djambat meliputi piranti yang bersifat anafora dan katafora. Piranti kohesi substitusi yang bersifat anafora ditemukan dalam bentuk substitusi nominal, verbal, dan klausal. Selanjutnya,  piranti kohesi substitusi yang bersifat katafora yang ditemukan hanya dalam bentuk substitusi nominal dan klausal. Selanjutnya, hasil penelitian dapat dijadikan rujukan bagi masyarakat akademisi (peneliti), guru/dosen, mahasiswa, tokoh adat, dan masyarakat luas.ABSTRACTIndonesia is rich in relics of folklore, including the story of Radin Djambat in Lampung. Radin Djambat's story contains the values of struggle, friendship, and philosophy that can be exemplary for the development and cultural development for the people of Lampung in particular and the people of Indonesia in general This study aims to describe the substitution cohesion device in the legend of Radin Djambat, as the spreader of the dignity and culture of the people of Lampung. The research method used is documentation study through qualitative intertextual approach. The results showed that the substitution cohesion devices contained in the Radin Djambat story include anaphoric and cataphoric devices. Anaphoric substitution cohesion devices are found in the form of nominal, verbal, and clausal substitutions. Furthermore, the cataphoric substitution cohesion device is found only in the form of nominal substitution and clause. The results of the research can be used as a reference for other researchers, teachers, lecturers, students, traditional leaders, and the others community.
FOLKLOR DALAM TRADISI NUJUH BULANAN DI KECAMATAN CILAWU KABUPATEN GARUT UNTUK BAHAN PEMBELAJARAN MEMBACA ARTIKEL BUDAYA DI SMA Jeni T, Neneng
LOKABASA Vol 5, No 2 (2014): Vol. 5, No. 2, Okt 2014
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v5i2.15956

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap tradisi nujuh bulanan. Masyarakat sudah tidak terlalu mementingkan tradisi nujuh bulanan, padahal tradisi ini merupakan warisan dari nenek moyang kita yang dapat menjadi ciri khas orang Sunda. Penelitian ini untuk mendeskripsikan: 1) tatacara pelaksanaan tradisi nujuh bulanan, 2) folklor apa saja yang terdapat dalam tradisi nujuh bulanan, 3) hasil penelitian untuk bahan pembelajaran membaca artikel budaya di SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan menggunakan tehnik observasi, wawancara dan dokumentasi.Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kamera dan pedoman wawancara. Hasilnya adalah: pertama, bahwa dalam pelaksanaan tradisi nujuh bulanan terdapat tiga hal yang biasa dilakukan, diantaranya pengajian, membuat rujak dan memandikan yang sedang mengandung. Kedua, dalam tradisi nujuh bulanan terdapat folklor lisan, folklor setengah lisan dan folklor non lisan. Ketiga, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran membaca artikel budaya di SMA kelas XII.Kesimpulan penelitian ini adalah agar masyarakat lebih mengenal tradisi-tradisi leluhur kita kemudian dapat menjaga dan melestarikannya.Saran ditujukan kepada peneliti selanjutnya agar lebih mencari dan menggali lebih dalam tentang mengenai tradisi masyarakat Sunda.AbstractThis study is based on the lack of people knowledge about tingkeban tradition. People have not been prioritizing tingkeban tradition lately, meanwhile this tradition is a heritage from the descent which can be defined as a thew for Sundanese. The aims of this study are to describe: 1) procedure of tingkeban tradition, 2) folklore on tingkeban tradition, 3) the finding of this study as teaching material for reading culture article at senior high school. This study uses desctiptive qualitative method by using technic observation, interview and documentation. Instrument that is used in this study is a camera and a handbook of interview. The finding shows that: first, in the implementation of tingkeban tradition there are three steps that should be done, those are reading holly Qur’an, making traditional fruits and vegetables salad dish (rujak) and bathing pregnancy woman. Second, there are three kinds of folklore in tingkeban tradition, those are oral folklore, half-oral folklore, and verbal folklore. Third, the finding of this study can be used as teaching material for reading culture article on 12th grade of senior high school. The result of this study is expected to people especially Sundanese in order to know more about their traditions so that it can be maintained and preserved. A recommendation is aimed for the next researcher to analyze and to have deeper exploration about Sundanese tradition.
CITRA DAN STEREOTIP PEREMPUAN SUNDA DALAM NOVEL MARJANAH KARYA S. DJODJOPUSPITO (Kajian Struktural dan Feminisme) Nurfajriani, Tsany
LOKABASA Vol 9, No 2 (2018): Vol. 9, No. 2, Oktober 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i2.15686

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) struktur cerita dalam novel Marjanah; dan (2) citra dan stereotip perempuan Sunda dalam novel Marjanah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik dengan menggunakan teknik telaah pustaka dan fokalisator. Sumber data yang digunakan adalah novel Marjanah karya S. Djojopuspito. Hasilnya, terdapat: (1) tema dalam novel Marjanah yaitu tentang kritik sosial terhadap keadaan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) yang tidak saling menghargai. Alurnya berurutan, saling berhubungan antara bagian awal, tengah, dan akhir. Latar dalam novel ini berkisah di perkampungan dan perkotaan, latar waktu yang digunakan lebah banyak waktu faktual. Karakter yang ada dalam novel ini ada 30 nama, sedangkan sifatnya ada yang pintar, kuat, malas, kritis, setia, dll; (2) citra dan stereotip perempuan yang muncul dari novel ini adalah tokoh perempuan priyayi yang mengenyam pendidikan memiliki citra positif, stereotip baik, pintar, kuat, kritis, dan cerdas. Tokoh perempuan priyyi yang tidak mengenyam pendidikan memiliki citra positif dalam pandangan kaum jelata, tapi negatif dalam pandangan lelaki priyayi. Stereotip dalam pandangan rakyat jelata, perempuan priyayi baik, pintar, dan tinggi derajatnya, tapi dalam pandangan lelaki priyayi, lemah, hanya untuk kebutuhan seks, hanya untuk mengurus urusan rumah tangga. Tokoh perempuan jelata yang tidak mengenyam pendidika citranya negatif, stereotipnya lemah, hina derajatnya, dan hanya untuk memenuhi kebutuhan seks. AbstractThis study aims to describe: (1) structure of story and (2) the image and stereotype of Sundanese women in Marjanah Novel. The method used in this study is the descriptive analysis method by using library techniques and focalist method. The data used obtain from Marjanah novel written by S.Djojopuspito. The results found are: (1) Marjanah Novel theme criticize social condition of gender (men and women) who didn’t respect each other. Sequential storyline, each plot connected between the beginning, the middle until the end section. The background of this novel was set in village near countryside, mostly in factual time. The novel has 30 main character names with different characteristic such as smart, forceful, weak, generous, loyal, etc; (2) images and stereotypes of women found the thoughts of educated women have a positive image, good stereotypes, smart, strong, critical, and intelligent. Noble women figure who got positive image respect from common people but disrespected by conglomerate. From common people view, she was smart, kind and has high profile, but in conglomerate view, she was so weak, full of desire, and only house worker. Pauper figure without educational background has negative image which stereotype is weak, vile, and only lust needs.
NASKAH DRAMA MUNTANGAN ALIF KARYA R. HIDYAT SURYALAGA UNTUK BAHAN PEMBELAJARAN MEMBACA DRAMA DI SMP/MTS (Kajian Struktural dan Semiotik) Pratama, Tyas Agung
LOKABASA Vol 9, No 1 (2018): Vol. 9, No. 1, April 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i1.15676

Abstract

Latar belakang penelitian ini untuk menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam naskah drama Munangan Alif karya R. Hidayat Suryalaga melalui pendekatan struktural dan sémiotik. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan: (1) struktur naskah drama Muntangan Alif karya R. Hidayat Suryalaga; (2) unsur naskah drama Muntangan Alif karya R. Hidayat Suryalaga; (3) unsur sémiotik naskah drama Muntangan Alif karya R. Hidayat Suryalaga; (4) sesuai tidaknya dijadikan alternatif bahan ajar di SMP/MTs. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif analisis. Tehnik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tehnik studi pustaka. Sumber data dalam penelitian ini yaitu naskah drama Muntangan Alif yang tebalnya 35 halaman dan mempunyai 203 dialog. Berdasarkan hasil penelitian, tema naskah drama Muntangan Alif yaitu tema religi, alur maju, tokoh utamanya Bapuh Rohmana dan Ambu Rohimi. Secara umum latar dalam naskah drama Muntangan Alif banyaknya adalah latar geografis, sudut pandang pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga, selain itu pengarang juga menggunakan gaya basa dan pribahasa Sunda. Tanda semiotik yang terdapat dalam naskah drama muntangan alif yaitu 21 ikon, 41 indeks, dan 33 simbol. Hasil penelitian ini direkomendasikan untuk bahan ajar basa dan sastra Sunda. AbstractThe background of this research was to find out the values contained in Muntangan Alif drama script by R. Hidayat Suryalaga through a structural and sémiotic approach. The purpose of this study is to identify and describe: (1) the structure of the Muntangan Alif drama; (2) elements; (3) the sémiotic elements; (4) whether or not it is suitable as an alternative teaching material in Junior High School/MTs. The method used in this research was descriptive analysis method. The technique used in this study was library research techniques. The data source in this study was Muntangan Alif the drama script which is 35 pages and contained 203 dialogues. Based on the results of the research, the theme of the Muntangan Alif drama script is religious themes, chronological plot, the main characters are Bapuh Rohmana and Ambu Rohimi. In general, the setting of the Muntangan Alif drama script is a geographical setting. The author's point of view used a third person's perspective, besides that the author also used Sundanese style and basic proverbs. Semiotic signs contained in Alif vomit drama scripts are 21 icons, 41 indices, and 33 symbols. The results of this study are recommended for teaching and learning material of Sundanese language and literature.
NASKAH SAJARAH CIREBON: TRANSLITERASI DAN ANALISIS NILAI MORAL Mayang Arum, Ai Hayati
LOKABASA Vol 9, No 1 (2018): Vol. 9, No. 1, April 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i1.15612

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui isi teks dalam naskah Sejarah Cirebon, mengidentifikasi keadaan dan asal-muasal naskah, nyusun transliterasi dan menganalisis nilai moral yang terkandung di dalamnya. Dengan begitu, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode filologi edisi naskah tunggal, sedangkan analisis strukturnya menggunakan metode deskriptif-analitis. Adapun langkah-langkah yang dilaksanakannya yaitu 1) deskripsi naskah, 2) transliterasi teks, 3) analisis teks. Naskah yang dijadikan bahan penelitian ini ditulis dalam huruf Pegon. Naskah ini merupakan koleksi pribadi almarhum Aki Yahya Permana, dari Panawangan-Ciamis. Bentuknya wawacan, dan ukuran naskahnya adalah 16,5 x 21,5 x 2,5 cm. Dari hasil penelitian ini ditemukan 1) deskripsi naskah sajarah cirebon 2) transliterasi naskah sajarah cirebon 3) ajén moral dina naskah sajarah cirebon. Nilai-nilai moral yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu 1) nilai moral manusia pada Tuhan, 2) nilai moral manusia pada dirinya, 3) nilai moral manusia pada manusia lainnya 4) nilai moral manusia pada alam, 5) nilai moral manusia terhada waktu, 6) nilai moral manusia dalam mencapai kepuasan lahiriah dan batiniah.AbstractThis study was aimed to determine the contents of the text in the Cirebon manuscript history, identify the circumstances and the origin of the text, arrange transliteration and analyze the moral values contained in it. That way, the method used in this study is a single manuscript edition method of philology, while the structure analysis used descriptive-analytical methods. The steps carried out were 1) text description, 2) text transliteration, 3) text analysis. The manuscript was employed as material for this research was written in Pegon's letter. This text is a private collection of the late Aki Yahya Permana, from Panawangan-Ciamis. The script form is wawacan, and its size of is 16.5 cm x 21.5 cm x 2.5 cm. The results of this study found the following results:1) the description Cirebon manuscript history 2) the transliteration of Cirebon manuscript history 3) the moral doctrine and Cirebon manuscript history. Moral values that can be implemented in everyday life, i.e. 1) human moral values to God, 2) human moral values to themselves, 3) human moral values to other humans, 4) human moral values to nature, 5) human moral values to time, 6) human moral values in achieving satisfaction outwardly and inwardly.
METODE TIGA LANGKAH: MENGAJAR BAHASA SUNDA DENGAN MATERI KAWIH ASUH BARUDAK Hendrayana, Dian
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i1.15963

Abstract

Hampir di seluruh tingkatan (SD, SMP/MTs, SMA/SMK/MA) di Jawa Barat, para guru mata pelajaran Bahasa Sunda kerap mengeluhkan minimnya media pembelajaran dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Seperti diketahui, dalam Kurikulum 2013 perkakas yang disebut sebagai media pembelajaran sangat dibutuhkan demi membangun kegiatan belajar-mengajar yang kreatif, inovatif, dan menyenangkan. Media pembelajaran boleh jadi bisa berbentuk alat peraga, gambar-gambar, media audio, media audio-visual, pertunjukan, serta media lainnya yang mampu mebantu para guru terhadap kelancaran kegiatan belajar-mengajar. Untuk memenuhi kebutuhan media pembelajaran bahasa Sunda tersebut, dalam empat tahun terakhir muncul salah satu bentuk media pembelajaran yang disebut ‘Kawih Asuh Barudak’. Media ini berbentuk media audio yang berupa nyanyian berbahasa Sunda dengan peruntukan para siswa di tiga tingkatan. Atas rekomendasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, dalam satu setengah tahun terakhir, media pembelajaran ‘Kawih Asuh Barudak’ telah disosialisasikan melalui kegiatan pelatihan terhadap para guru di seluruh Jawa Barat, sehingga media pembelajaran ini hingga saat ini sudah mulai dimanfaatkan sebagai bahan penunjang dalam pembelajaran Bahasa Sunda.ABSTRACTAlmost in all school levels (SD, SMP/MTs, SMA/SMK/MA) in West Java, Sundanese language teachers often complain about the lack of teaching-learning media in carrying out teaching and learning activities. As it is known, in the Curriculum 2013 teaching-learning media is needed to build creative,innovative, and fun teaching and learning activities. Teachinglearning media can be designed in the form of teaching media, pictures, audio media, audiovisual media, performances, and other media that can help teachers to smooth teaching and learning activities. To meet the needs of teaching-learning Sundanese language media, in the last four years appeared one teaching-learning media called 'Kawih Asuh Barudak'. The form of this media is audio media in the form of Sundanese language song designed for students devided in three levels. On the recommendation of West Java Provincial Education Office, in the last one and a half years, the teaching-learning media 'Kawih Asuh Barudak' has been socialized through training activities for teachers throughout West Java, so this teachinglearning media has been utilized as a supporting material in Sundanese language learning Sunda.
MODEL PEMBELAJARAN BERPIKIR INDUKTIF UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENERAPKAN VOKAL É, E, DAN EU DALAM MENULIS PENGALAMAN Nurlia, Elsa
LOKABASA Vol 5, No 2 (2014): Vol. 5, No. 2, Okt 2014
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v5i2.15947

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya kemampuan siswa menerapkan vokal é, e, dan eu dalam menulis pengalaman. Penelitan ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1) kemampuan menerapkan vokal é, e, dan eu dalam menulis pengalaman siswa kelas VII-I SMP Negeri 29 Bandung tahun ajaran 2013/2014 sebelum menggunakan model pembelajaran berpikir induktif; 2) kemampuan menerapkan vokal é, e, dan eu dalam menulis pengalaman siswa kelas VII-I SMP Negeri 29 Bandung tahun ajaran 2013/2014 setelah menggunakan model pembelajaran berpikir induktif; 3) perbedaan kemampuan menerapkan vokal é, e, dan eu dalam menulis pengalaman siswa kelas VII-I SMP Negeri 29 Bandung tahun ajaran 2013/2014 sebelum dan setelah menggunakan model pembelajaran berpikir induktif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen, serta desain penelitiannya adalah pre-test and post-test group. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa: 1) kemampuan menerapkan vokal é, e, dan eu dalam menulis pengalaman siswa kelas VII-I SMP Negeri 29 Bandung tahun ajaran 2013/2014 sebelum menggunakan model pembelajaran berpikir induktif dikatagorikanC (cukup), dengan rata-rata 66,38%; 2) kemampuan menerapkan vokal é, e, dan eu dalam menulis pengalaman siswa kelas VII-I SMP Negeri 29 Bandung tahun ajaran 2013/2014 setelah menggunakan model pembelajaran berpikir induktif dikatagorikan B (baik), dengan rata-rata 77,83%; serta 3) ada perbedaan yang signifikan antara kemampuan menerapkan vokal é, e, dan eu dalam menulis pengalaman siswa kelas VII-I SMP Negeri 29 Bandung tahun ajaran 2013/2014 sebelum dan setelah menggunakan model pembelajaran berpikir induktif yang terlihat dari hasil gainnya yaitu 11,45%. Hasil uji hipotesis pun menunjukan , yaitu4,60 2,76 yang artinya hipotesis kerja ( ) diterima dan hipotesis nol ( ) ditolak. Jadi, model pembelajaran berpikir induktif dapat meningkatkan kemampuan menerapkan vokal é, e, dan eu dalam menulis pengalaman siswa kelas VII-I SMP Negeri 29 Bandung tahun ajaran 2013/2014. AbstractThis research is triggered by lack of student ability to apply vocal é, e, and eu in the writing experience. This research aims to describe: 1) the ability to apply the vocal é, e, and eu in the writing students experience at class VII-I SMP Negeri 29 Bandung academic year 2013/2014 before using the learning modelof inductive thinking; 2) the ability to apply vocal é, e, and eu in the writing students experience at class VII-I SMP Negeri 29 Bandung academic year 2013/2014 after using the learning model of inductive thinking; 3) The differences of ability to apply vocal é, e, and eu in the writing students experience at class VII-I SMP Negeri 29 Bandung academic year 2013/2014 before and after using the learning model of inductive thinking. The method used in this research is an experiment quasi and then this research design is the pre-test and the post-test group. Based on the results, it can be concluded that: 1) the ability to apply vocal é, e, and eu in the writing students experience at class VII-I SMP Negeri 29 Bandung academic year 2013/2014 before using the learning model of inductive thinking is categorized C (enough), with an average 66,38%; 2) the ability to apply vocal é, e, and eu in the writing students experience at class VII-I SMP Negeri 29 Bandung academic year 2013/2014 after using the learning model of inductive thinking is categorized B (good), with an average 77,83%, and 3) there is a significant difference between the ability to apply vocal é, e, and eu in the writing students experience at class VII-I SMP Negeri 29 Bandung academic year 2013/2014 before and after using the learning model of inductive thinking that can be seen from its gain result is 11,45%. The result of the hypothesis test represents the value  is 4,60 2,76 which means that the working hypothesis ( ) is accepted and the null hypothesis ( ) is rejected. Therefore, thelearning model of inductive thinking can improve the ability to apply vocal é, e, and eu in the writing students experience at class VII-I SMP Negeri 29 Bandung academic year 2013/2014.
KAPAMALIAN DI DESA KANEKES KECAMATAN LEUWIDAMAR KABUPATEN LEBAK-BANTEN (Ulikan Etnopedagogi) Kusaeri, Muhamad
LOKABASA Vol 9, No 2 (2018): Vol. 9, No. 2, Oktober 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i2.15682

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan kurangnya pemahaman masyarakat umum pada  makna dan nilai pendidikan dalam kapamalian yang hidup disekelilingnya. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan kapamalian yang ada di Desa Kanekes, menjelaskan klasifikasi dan fungsinya, perkembangannya, dan memaparkan nilai-nilai etnopedagogi yang ada dalam kapamalian tersebut. Metode yang digunakan yaitu medtode deskriftif kualitatif. Sumber data dalam penelitian adalah dari tiga informan di Desa Kanekes. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, dan wawancara, serta analisis datanya dengan menggunakan kartu data. Hasil penelitiannya yaitu, pertama ditemukan 140 kapamalian yang ada di Desa Kanekes. Kedua klasifikasinya terbagi kedalam, 24 pamali dasar, 8 pamali untuk barés kolot, 103 pamali untuk umum, dan 5 pamali untuk tamu yang secara umum memiliki fungsi sebagai aturan adat. Ketiga perkembangannya, ada 13 pamali yang termasuk pamali baru. Keempat nilai étnopedagoginya, ada 1 pamali yang berkaitan dengan moral manusia dengan Tuhan (0,8%), 63 pamali yang berkaitan dengan moral manusia dengan pribadinya (45%), 22 pamali yang berkaitan dengan moral manusia dengan manusia lainnya (15,7%), 16 pamali yang berkaitan dengan moral manusia dengan alam (11,4%), 8 pamali yang berkaitan dengan moral manusia dengan waktu (5,7%), dan 30 pamali yang berkaitan dengan moral manusia dalam mencapai kesejahteraan lahir batin (21,4%). Kesimpulannya, kapamalian yang ada di Desa Kanekes mempunyai peran penting sebagai aturan adat yang dipercaya dan diterapkan oleh masayrakatnya, selain itu pamali mempunyai nilai pendidikan moral bagi masyarakat yang berbasis pada kearifan lokal yang disebut etnopedagogi.AbstractThe background of this research is people’s lack understanding towards meaning and value of kapamalian exist around them. The puposed of this research is to describe kapamalian in Kanekes village, explain the classification and its function, the development, and revealing ethno-pedagogical values contained in the Kapamalian. This research employed descriptive qualitative approach. The data were gained from three native villagers in Kanekes village. The employed technique in the research was studi pustaka, observation, interview, and the data analysis was conducted using the data card. The first finding was that there were 140 kapamalian in Kanekes village. Secondly, the classification was divided into 24 basic pamali, 8 pamali for the barés kolot, 103 pamali for the public, and 5 pamali for the guest which basically played as the culture rules. Thirdly, the development, there were 13 new pamali. Fourthly, the ethno-pedagogical value, there was 1 pamali related to humans morality to God (0,8%), 63 pamali related to human morality with their personality (45%), 22 pamali related to the human morality to humans (15,7%), 16 pamali related to human morality to nature (11,4%), 8 pamali related to the human morality to time (5,7%), and 30 pamali related to human morality to their way to achieve prosperity (21,4%). Conclusion, kapamalian in Kanekes village plays an important role in regulating the culture which is believed and applied by the people, besides, pamali contains moral value for the people based on the local values namely ethno-pedagogy. 
TRADISI MOTONG MUNGGEL DI KABUPATEN TASIKMALAYA UNTUK BAHAN PEMBELAJARAN MEMBACA ARTIKEL DI SMA Ramdhani, Mu’min Ishak
LOKABASA Vol 9, No 1 (2018): Vol. 9, No. 1, April 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i1.15618

Abstract

Latar belakang dari penelitian ini adalah kurangnya pengetahuan masyarakat pada tradisi motong munggel, baik itu masyarakat Kabupaten Tasikmalaya secara khusus ataupun masyarakat Jawa Barat secara umumnya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan mengenai (1) sejarah tradisi motong munggel, (2) langkah-langkah dalam tradisi motong munggel, (3) unsur semiotik dalam tradisi motong munggel, dan (4) bahan ajar membaca artikel tradisi motong munggel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif desktiptif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pedoman wawancara dan kartu data. Hasil dari penelitian ini adalah; pertama, sejarah mengenai tradisi motong munggel, dimana tradisi ini mulai dilaksanakan di Desa Jayamukti kurang lebih sejak tahun 1989; kedua, adanya langkah-langkah dalam tradisi motong munggel terdiri dari tiga bagian yaitu langkah-langkah sebelum, langkah-langkah saat berlangsung, dan langkah-langkah setelah berlangsungnya tradisi motong munggel; ketiga, tanda yang ditemukan dalam tradisi motong munggel berjumlah 23 tanda, yang terdiri atas 14 ikon, indeks sebanyak 6 , dan simbol sebanyak 3; keempat, hasil dari penelitian ini bisa dijadikan sebagai bahan pembelajaran membaca artikel budaya di SMA kelas XII. Tradisi motong munggel merupakan suatu tradisi yang harus dilestarikan. Selain dari memiliki tujuan, nilai-nilai dan tanda-tanda yang memiliki makna bagi kehidupanpun dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran membaca artikel di SMA kelas XII.AbstractThe background of this study was the lack of knowledge on Motong Munggel tradition of Tasikmalaya people in particular and West Java people in general. The purpose of this study was to describe all aspects of Motong Munggel tradition include; (1) the history, (2) the steps (3) the semiotic elements, and (4) reading article teaching and learning materials. The method used in this research was the descriptive qualitative method with observation, interview, and documentation techniques. The instruments used in this study were interview guidelines and data cards. The results of this study are as it follows: first, the history revealed that tradition of Motong Munggel began to be practiced in Jayamukti village since 1989; second, the steps in the Motong Munggel tradition consist of three parts, i.e. the preceding steps, in progress step, and the steps after Motong Munggel performed; third, there were 23 signs found consisted of 14 icons, six indexes, and three symbols; fourth, the results of this study can be used as teaching and learning material for cultural article reading of Grade XII Senior High School students. Motong Munggel is a tradition that has to be preserved. Besides it has meaningful goals, values and signs that have for people life it can also be used as teaching and learning material.
PANDANGAN HIDUP DAN SISTEM PENGETAHUAN LOKAL MASYARAKAT JAWA DI BALIK EKSPRESI GAYA BAHASA DALAM EMPAT KARYA SASTRA KI PADMASUSASTRA Wisnu Wibowo, Prasetyo Adi
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i1.15968

Abstract

Empat karya sastra Ki Padmasusastra mencerminkan pola pikir, pola pandang masyarakat Jawa terhadap Tuhan dan alam sekitarnya. Penelitian ini berusaha menemukan pola-pikir, pandangan dunia, pandangan hidup dan sistem pengetahuan lokal yang dimiliki Ki Padmasusastra sebagai bagian dari masyarakat Jawa di balik ekspresi bahasa Jawa yang dipergunakannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif..Ekspresi gaya bahasa yang digunakan dalam empat karya Ki Padmasusastra merupakan gambaran perilaku untuk mencapai kesejahteraan hidup yang tercermin dalam perilaku verbal, baik menyangkut pandangan hidup (way of life), pandangan dunia (world view), maupun pola-pikir yang tercermin dalam sistem pengetahuan (cognition system) masyarakatnya.ABSTRACTThe four literary works of Ki Padmasusastra reflect the mindset and Javanese society's point of view of God and the nature.This research tries to find the pattern of thought, world view, view of life and local knowledge system of Ki Padmasusastra as part of Javanese society that reflected by  Javanese expression. This research uses descriptive qualitative method. The expression of the language style used in the four literary works of Ki Padmasusastra is a description of behavior to achieve the welfare of life which is reflected in verbal behavior, whether it concerns with the way of life, the world view, and the pattern of thought that are reflected in the cognition system of the society.

Page 11 of 29 | Total Record : 286