cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
LOKABASA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 286 Documents
WAWACAN MAHABARATA KARYA R. MEMED SASTRAHADIPRAWIRA DKK. (Kajian Struktural dan Etnopedagogik) Nur Alam, Fajar Sukma
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i1.15966

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur wawacan Mahabarata dan nilai etnopedagogik yang terdapat di dalamnya. Sumber data penelitian ini adalah buku Wawacan Mahabarata karya R. Memed Sastrahadiprawira dkk. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik studi pustaka. Data yang terkumpul diolah dengan teknik analisis unsur langsung. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa struktur formal Wawacan Mahabarata meliputi guru gatra, guru wilangan, guru lagu, watak pupuh, dan sasmita pupuh. Struktur naratif Wawacan Mahabarata memiliki tema sosial, ada 162 tokoh, latar cerita (tempat, waktu, suasana), dan alur maju. Nilai etnopedagogik dalam cerita ini tergambar dari moral kemanusiaan, yakni moral manusia terhadap Tuhan, moral manusia kepada diri pribadi, moral manusia kepada manusia lain, moral manusia kepada alam, moral manusia kepada waktu, dan moral manusia dalam mencapai kepuasan lahir batin.ABSTRACT This study aims to describe the structure of Wawacan Mahabharata and its ethnopedagogic values. The data source of this study data is the book Wawacan Mahabharata of R. Memed Sastrahadiprawira et al. This study used descriptive method. Data collected through literature study techniques. The collected data is processed by direct element analysis technique. Based on the research results, it is found that the formal structure of Wawacan Mahabharata includes guru gatra, guru wilangan, guru lagu, watak pupuh, and sasmita pupuh. The narrative structure of Wawacan Mahabharata has a social theme. There are 162 characters, story background (place, time, atmosphere), and forward sequel. The ethnopedagogic value in this story is depicted from the moral of humanity, the moral of human to God, the moral of human to themself, the moral of human to other human beings, the moral of human to nature, the moral of human to time, and the moral of human in achieving physical and mental satisfaction.
KESALAHAN EJAAN DALAM MENULIS BERITA SISWA KELAS IX SMP LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI TAUN AJARAN 2013/2014 Jubaidah, Ida
LOKABASA Vol 5, No 2 (2014): Vol. 5, No. 2, Okt 2014
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v5i2.15954

Abstract

Latar belakang penelitian ini karena siswa beranggapan bahwa pembelajaran bahasa Sunda sangat sulit. Hal itu menyebabkan siswa tidak begitu hirau terhadap pembelajaran tersebut, termasuk dalam pembelajaran menulis, misalnya kurang memperhatikan ejaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan kesalahan ejaan yang dilakukan oleh siswa kelas IX SMP Laboratorium Percontohan UPI tahun ajaran 2013/2014. Uraiannya menyaran kepada kesalahan (1) penggunaan aksara, (2) menulskan  aksara, (3) menuliskan kecap, (4) menuliskan unsur serapan, dan (5) penggunaan  tanda baca. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan tehnik tes. Pengolahan data dilakukan dengan analisis dokumen. Sumber data dalam penelitian ini yaitu siswa kelas IX SMP Laboratorium Percontohan UPI tahun ajaran 2013/2014. Data yang digunakan merupakan kesalahan ejaan dalam menulis berita yang dilakukan oleh siswa sekolah terebut. Hasilnya dapat disimpulkan bahwa siswa masih banyak melakukan kesalahan ejahan dalam menulis berita. Kesalahannya meliputi : (1) kesalahan penggunaan aksara 101 (43,72%); (2) kesalahan menuliskan aksara 83 (38,10%); (3) kesalahan menuliskan kata 26 (11,25%); (4) kesalahan menuliskan unsur serapan 7 (3,03%); dan (5) kesalahan penggunaan tanda baca 14 (6,06%). Berdasarkan hasil tersebut, guru harus lebih intensif dalam mengajarkan bahasa Sunda, terutama dalam membedakan vokal é, e, dan eu.AbstractThis study is come from the idea that students consider that learning Sundanese is difficult, which makes them tend to be ignorant in Sundanese courses, including in writing, such as not paying attention to how to spell it. This study is aimed to find out and describe spelling errors done by students of grade IX of SMP Laboratorium Percontohan UPI School Year 2013/2014. The spelling error includes (1) letters usage; (2) letters writing; (3) words writing; (4) uptake elements writing; and (5) punctuation usage. This study is using descriptive method with test technique. The data is processed using document analysis. Data source in this study are students of grade IX SMP Laboratorium Percontohan UPI School Year 2013/2014. Data in this study are spelling errors in writing news done by the students. The result of this study shows that most of students still doing spelling errors in writing news. The errors includes (2) error in using letters with total of 101 items (43,72%); (2) error in writing letters with total of 83 items (38,10%); (3) error in writing words with total of 26 items (11,25%); (4) error in writing uptake elements with total of 7 items (3,03%); and (5) error in using punctuations with total of  14 items (6,06%). Based on the results above, it can be concluded that teachers have to be more intensively teaching Sundanese spelling to students, especially in distinguishing vocal é, eandeu.
UNSUR PELESAPAN KALIMAT DALAM BUKU SISINDIRAN JEUNG WAWANGSALAN ANYAR KARYA DÉDY WINDYAGIRI UNTUK BAHAN AJAR MENULIS SISINDIRAN DI SMP KELAS VIII Nugraha, Triya; Sudaryat, Yayat; Hernawan, Hernawan
LOKABASA Vol 9, No 2 (2018): Vol. 9, No. 2, Oktober 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i2.15685

Abstract

Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kenyataan bahwa sisindiran merupakan susunan kalimat. Kalimat-kalimat yang terdapat pada sisindiran merupakan kalimat majemuk dan terdapat unsur yang dilesapkan. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mendeskripsikan unsur pelesapan dan bentuk pelesapan yang terdapat pada kalimat sisindiran serta pamakaiannya pada pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan menggunakan teknik studi dokumentasi untuk mengumpulkan data. Data dianalisis menggunakan analisis unsur langsung. Sumber data didapatkan dari buku Sisindiran jeung Wawangsalan Anyar karya Dédy Windyagiri. Hasil penelitian menemukan dua hal, yaitu unsur lesapan dan bentuk lesapan kalimat. Unsur lesapan meliputi 1) pelesapan tunggal yang mencakup pelesapan unsur S, P, O, dan Konj.; 2) pelesapan majemuk yang mencakup pelesapan unsur S+P, S+O, S+K, S+Pel., S+Konj., O+Konj., S+P+Konj., S+O+Konj., dan S+Pel.+Konj. Bentuk pelesapan kalimat berdasarkan prosesnya yang ditemukan adalah 1) delisi tékstual; 2) delisi situasional; dan 3) delisi struktural. Delisis situasional dan unsur lesapan subjek paling banyak ditemukan. Hal ini berhubungan dengan cara penyebarannya yang secara lisan, dalam obrolan langsung si pembicara jarang mengucapkan semua maksudnya secara lengkap karena pasti bisa dimengerti oleh lawan bicaranya dengan dibantu isyarat dari pembicara. Hasil penelitian pelesapan kalimat ini dapat dipakai untuk bahan pengajaran menulis sisindiran. AbstractThe background of this study is because of the reality that sisindiran consists of sentence. Sisindiran sentences is a compound sentence and there are deletion elements. This study aimed to describe deletion elements and the type of deletion contained in sisindiran sentence and its use in learning. This study used a descriptive method with documentation study techniques to collect data. A data analyzed with direct element analysis. Data  sourced in Dedy Windyagiri’s book, Sisindiran jeung Wawangsalan Anyar. The findings show there are two things, deletion elements and type of deletion elements. Deletion elements are: 1) single deletion are include deletion S, P, O, and Konj.. element; 2) plural deletion are include S+P, S+O, S+K, S+Pel., S+Konj., O+Konj., S+P+Konj., S+O+Konj., dan S+Pel.+Konj. elements. Deletion type based on the process that found are 1) textual deletion; 2) situational deletion; and 3) structural deletion. Situational deletion and subject deletion elements are the most found. That is related to the way they are spread orally. Results of this study is can be used for writing study material.
TRADISI SEREN TAUN GURU BUMI DI SINDANG BARANG KABUPATEN BOGOR (Kajian Semiotik) Suryati, Tati
LOKABASA Vol 9, No 1 (2018): Vol. 9, No. 1, April 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i1.15675

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) bentuk dan pelaksanaan tradisi Seren Taun Guru Bumi; serta (2) unsur semiotik yang terdapat dalam tradisi Seren Taun Guru Bumi. Untuk membahas persoalan tersebut, penelitian ini mengggunakan pendekatan semiotik, dengan metode deskriptif analitik. Sedangkan teknik penelitian yang digunakan adalah teknik studi pustaka. Hasilnya: (1) Seren Taun Guru Bumi dilaksanakan setiap tahun sekali pada bula Muharam. Tradisi ini terdiri dari sembilan kagiatan yang harus dilaksanakan selama seminggu. Kegiatan tersebut adalah; sedekah ngadiukkeun, ngembang makam karuhun, tadisi sudat, tradisi munday atau marak, ngala cai kukulu, ngahijikeun cai kukulu, sedekah kuéh, nugel munding, dan helaran dongdang; serta (2) ikon yang terdapat dari tradisi tersebut adalah padi, bunga, air, ikan, kerbau, dan dongdang; indéks yang terdapat dalam tradisi ini tertuang dalam nama tradisinya yaitu sérén taun, sedekah ngadiukkeun, ngembang makam karuhun, ngala cai kukulu, ngahijikeun cai kukulu, sedekah kuéh, munday, nugel munding dan helaran dongdang; (c) simbol yang terdapat dalam tradisi ini di antaranya adalah padi simbol dari kemakmuran, air kukulu dan air tujuh rupa simbol dari kehirupan, bunga tujuh rupa simbol dari kehirupan dan harapan, kue tujuh rupa simbol dari silaturahmi, bakak ayam simbol dari kepasrahan, menyan simbol dari isi hati, parukuyan dan buyung simbol dari raga, dongdang simbol dari segala nikmat yang harus dijaga, berburu ikan simbol dari kesamaan identitas, kerbau simbol dari dunia langit, dan majikeun paré simbol dari menikahkan padi agar hasil benihnya bagus. AbstractThis study aims to describe: (1) the form and implementation of the Seren tradition of the Earth Teachers; and (2) semiotic elements contained in the Seren tradition of the Teachers of the Earth. To discuss this issue, this study uses a semiotic approach, with descriptive analytical methods. While the research technique used is a library study technique. The result: (1) Seren The Earth Teachers are held once a year in the Muharam bull. This tradition consists of nine activities that must be carried out during the week. These activities are; almsgiving, the burial of karuhun, the tadisi sudat, the tradition of munday or rampant, ngala cai kukulu, ngahijikeun cai kukulu, sedekah kuéh, nugel munding, and helaran dongdang; and (2) the icons contained in the tradition are rice, flowers, water, fish, buffalo and dongdang; the indes contained in this tradition are contained in the name of the tradition, namely sérén taun, sedekah ngadiukkeun, karamun burial tombs, ngala cai kukulu, ngahijikeun cai kukulu, kuek haha, munday, nugel munding and helaran dongdang; (c) the symbols contained in this tradition include rice symbol of prosperity, kukulu water and seven forms of inhaled water symbol, seven forms of symbol of inhale and hope, seven forms of symbols from hospitality, chicken bakak symbol of submission, menyan symbol of the contents of the heart, parukuyan and pitcher symbol of the body, the symbol of all the blessings that must be guarded, hunting the symbolic fish of the same identity, the symbol of the buffalo of the celestial world, and the symbolic symbol of marrying the rice so that the seed yield is good.
MODEL WRITING WORKSHOP DALAM PENULISAN PROPOSAL SKRIPSI MAHASISWA DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA DAERAH FPBS UPI Hernawan, Hernawan; Widyastuti, Temmy; Nugraha, Haris Santosa
LOKABASA Vol 8, No 2 (2017): Vol. 8, No. 2, Oktober 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i2.15591

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kemampuan menulis proposal skripsi mahasiswa Departemen Pendidikan Bahasa Daerah FPBS yang masih rendah, karena belum ada model pembelajaran menulis proposal skripsi yang tepat. Oleh karena itu, perlu adanya model pembelajaran menulis proposal skripsi yang efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan menulis proposal penelitian (skripsi)  mahasiswa sebelum dan setelah menggunakan model writing worshop. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kuasi eksperimen dengan sumber data 55 mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian rata-rata pretest diketahui 66,00 dan rata-rata posttest sebesar 83,18, dengan t hitung adalah 27,755. Maka, dapat disimpulkan adanya perbedaan yang signifikan antara kemampuan mahasiswa dalam menulis proposal skripsi sebelum dan setelah menggunakan model writing workshop. Jadi, dapat disimpulkan bahwa model Wiritng Workshop  dapat meningkatkan kemampuan menulis proposal skripsi mahasiswa Departemen Pendidikan Bahasa Daerah FPBS Tahun Akademik 2017-2018. Kata Kunci: writing workshop, proposal skripsi.  Abstract This research is motivated by the ability to write thesis proposal of the Department ofSundanese Language Education Department of FPBS which is still insufficient, because there is lack of learning model of appropriate writing  thesis proposal. Therefore, it is necessary to have a learning model of writing an effective and efficient thesis proposal. The purpose of this study is to describe students’ ability to write research thesis proposals before and after utilizing writing model workshop. The method used in this research is quasi experiment involving 55 students as data source. Based on the result of research, it showed that pretest score  average is 66,00 and post test score average equal to 83,18, with  27,755 t count. Thus, it can be assumed that there is a significant difference between the ability of students in writing thesis proposal before and after utilizing  writing workshop model. Thus, it can be concluded that writing workshop model can improve students ability to write thesis proposal in the Department of Sundanese Language Education  of FPBS in 2017-2018 academic year. Keywords: writing workshop, thesis proposal.
IDEOLOGI DAN IDENTITAS MASYARAKAT SUNDA DALAM ROMAN CARIOS AGAN PERMAS KARYA JOEHANA (Pendekatan Kritik Poskolonial) Abdilah, Arif Ali; Isnendes, Retty
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i1.15961

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan ideologi dan identitas masyarakat Sunda yang tercermin dalam karya sastra, khususnya roman. Deskripsinya berkaitan dengan pengaruh dan perubahan ideologi dan identitas sebab-akibat adanya kolonialisme. Untuk dapat menguraikan hal tersebut, maka dalam tulisan ini digunakan pendekatan kritik poskolonial, dengan menggunakan metode deskriptif-analitik. Untuk menganalisis data digunakan teknik fokalisator dan teknik interpretasi. Hasilnya menunjukkan bahwa dalam roman Carios Agan Permas, setiap kelas sosial masyarakat memiliki ideologi yang berbeda-beda. Bagi kelas kuasa, ideologi digunakan untuk mempertahankan kohesi sosial dan memperkuat kekuasaan. Ini terepresentasikan oleh subjek Haji Serbanna dan Imas. Bagi kelas tertindas, ideologi digunakan sebagai bentuk perlawanan. Bentuk ideologi ini hadir dalam diri Ambu Imba dan Otong. Dalam roman ini terdapat juga ideologi kelas kuasa, namun dalam praktiknya digunakan untuk melakukan resistensi sekaligus melindungi kelas tertindas. Adapun identitas yang terbentuk adalah identitas hibrid, dalam arti, subjek yang terdapat dalam roman ini memiliki sifat yang ambigu sekaligus ambivalen. Hal ini tampak pada subjek Haji Serbanna, Imas, sedangkan identitas yang terbangun dalam diri Brani bersifat ambigu.ABSTRACTThis study aims to describe the ideology and identity of the Sundanese community which is reflected in the literary works, especially romance. Its description concerns with the influence and change of ideology and the causal effect identity of colonialism. In describing this study, the writer used Poscolonial Criticism Approach and descriptive-analytic method. Fokalisator and interpretation techniques were used to analyze the data. The analysis result of Carios Agan Permas romantic story shows that every social society class has different ideologies. For the rulling class, the ideology is used to maintain social cohesion and to strengthen the power. It is represented by the subject of Haji Serbanna and Imas. For the oppressed class, the ideology is used as a form of resistance. This form of ideology is present in Ambu Imba and Otong. In this romantic story there is also a rulling class ideology, but in practice it is used to carry out resistance and to protect the oppressed class. The formed identity is a hybrid identity, in a sense, the subjects in this romantic story have both ambiguous and ambivalent caracter. The ambivalent character is seen in the subject of Haji Serbann and Imas, while the ambiguous caracter is found in Brani personality.
NILAI PENDIDIKAN DALAM FOLKLOR ASPEK KAPAMALIAN DI DESA TANJUNGWANGI KECAMATAN CICALENGKA KABUPATEN BANDUNG Permasih, Diani; Koswara, Dedi; Kosasih, Dede
LOKABASA Vol 5, No 2 (2014): Vol. 5, No. 2, Okt 2014
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v5i2.15946

Abstract

Latar belakang penelitian ini didasari oleh berkurangnya penggunaan kapamalian sebagai alat untuk mendidik dan menjaga keselamatan diri oleh masyarakat. Skripsi ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk menginventarisasi kapamalian yang ada di Desa Tanjungwangi Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan teknik observasi dan wawancara. Data yang berhasil dikumpulkan lalu dideskripsikan, dianalisis berdasarkan nilai pendidikan yang mencakup nilai moral, nilai sosial, nilai agama, dan analisis unsur semiotiknya. Sumber data diambil dari lima narasumber.Kapamalian yang terkumpul dari hasil wawancara dengan narasumber adalah sebanyak 94 kapamalian.Aneka kapamalian tersebut dideskripsikan berdasarkan hasil wawancara. Aspek-aspek yang dianalisis dalam penelitian ini adalah 1) deskripsi arti kapamalian, 2) analisis nilai pendidikan yang terdapat dalam kapamalian, serta 3) unsur semiotik yang terdapat dalam kapamalian tersebut.Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diharapkan adanya upaya pemerintah dalam meninventarisir aspek-aspek kapamalian yang tersebar di masyarakat, sehingga kapamalian tersebut masih dijadikan alat atau media dalam mendidik anak.AbstractThe background of this research is based on the rare use of kapamalian (superstition) as a tool to educate and protect one self.  This research paper is aimed to collect kapamalian (superstitions) which exist in Tanjungwangi, Cicalengka  Bandung regency. The purpose of the research is for describing the meaning, the function, analyzing the education value and semiotic approach of the superstitions (kapamalian). This research was conducted by using descriptive analytic method with observation and interview as the technics of collecting data. The data gained then described, analyzed based on the education values, and its semiotic elements. From one village, five sample informants were chosen. From the interview session, it is found that there are 94 kapamalian, and then those kapamalian were described based on the interview between the researcher and the informants. The aspects analyzed in this research are 1) meaning description of kapamalian, 2) analysis of education value lies on kapamalian, and 3) semiotic features of those kapamalian. Based on the research, it is expected that there will be attempts from the government to preserve the kapamalian aspects spread in the society, so that the kapamalian still be able to use as a tool or media in educating children.
Cerita “Hibat” Karangan R.H. Moehamad Meosa sebagai Embrio Cerita Pendek Sunda dalam Wacana Kolonialisme Abad ke-19 Darpan, Darpan
LOKABASA Vol 10, No 1 (2019): Vol. 10, No. 1, April 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i1.16928

Abstract

The research is based on the assumption that literary works written in the second half of the 19th century were the result of the efforts of the Dutch colonial government to incorporate the ideology of colonialism in culture field, and tried to instill modern ideas from the West through literacy activities. Some of these texts are stories written in short prose that are realistic. The story of "Hibat" is one of them. Based on the narrative characteristics, it can be concluded that the story can be regarded as a Sundanese short story embryo in its modern concept. The analysis of the story "Hibat" was carried out with the aim of finding the form of writing configuration and its narrative characteristics so that the elements of the story were found to be different from the traditions of the previous story writing. Through descriptive methods and structural analysis techniques, it is known that the story "Hibat" is unique and different when compared to the tradition of story writing in more traditional Sundanese. The story shows new features including its configuration written in short prose, leaving the tradition of old story writing that indulges in fantasy, myths, and irrationality, and written with the awareness of wanting to portray everyday life in its environment. The implications of this study must be corrective efforts in the history of Sundanese literature, which considered the birth of Sundanese short stories beginning with the emergence of the Parahiangan magazine (1929-1942) and the publication of Dogdog Pangréwong by G.S. in 1930.AbstrakPenelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa karya sastra yang ditulis pada paruh kedua abad ke-19 adalah hasil dari upaya pemerintah kolonial Belanda untuk memasukkan ideologi kolonialisme dalam bidang budaya, dan mencoba menanamkan ide-ide modern dari Barat melalui kegiatan literasi. Beberapa dari teks-teks tersebut adalah cerita yang ditulis dalam prosa pendek yang realistik. Cerita "Hibat" adalah salah satunya. Berdasarkan ciri-ciri naratifnya, dapat disimpulkan bahwa cerita “Hibat” dapat dianggap sebagai embrio cerita pendek Sunda dalam konsepnya yang modern. Analisis cerita "Hibat" dilakukan dengan tujuan menemukan bentuk konfigurasi penulisan dan ciri-ciri naratifnya sehingga ditemukan unsur-unsur cerita yang berbeda dari tradisi penulisan cerita sebelumnya. Melalui metode deskriptif dan teknik analisis struktural, diketahui bahwa cerita "Hibat" mengandung keunikan dan berbeda jika dibandingkan dengan tradisi penulisan cerita dalam bahasa Sunda yang lebih tradisional. Cerita ini menunjukkan unsur-unsur baru antara lain konfigurasinya ditulis dalam prosa pendek, meninggalkan tradisi penulisan cerita lama yang menonjolkan fantasi, mitos, dan irasionalitas, serta ditulis dengan kesadaran ingin menggambarkan kehidupan sehari-hari di lingkungan pengarangnya. Implikasi dari penelitian ini harus ada upaya korektif dalam sejarah sastra Sunda, yang menganggap kelahiran cerita pendek Sunda dimulai dengan munculnya majalah Parahiangan (1929-1942) dan penerbitan buku Dogdog Pangréwong karangan G.S pada tahun 1930.
Kemampuan Menulis Aksara Sunda Siswa SMA/SMK se-Jawa Barat dalam Lomba Riksa Budaya Sunda 2018 Utami, Lita
LOKABASA Vol 10, No 1 (2019): Vol. 10, No. 1, April 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i1.16940

Abstract

This research was aimed at describing students’ ability in writing Sundanese script i.e. consonant, conjunction, vocal, or numbers. This research employed a descriptive method, by using tests and documentation as its technique. The source of this research was 68 Sundanese script texts taken from the result of writing Sundanese script competition for vocational and senior high school students of west java. The result of this research revealed that: first, 99.31%. of the students are able to write consonants. Though, there are 165 mistakes done by students in writing Ja consonant letters. Second, 98.36% of the students are able to write ‘rarangken’, but still, there are 246 mistakes done by students in writing pamaéh ‘rarangken’ letters. Third, 98.08% of the students are able to write vocal. However, there are 39 mistakes done by students in writing “é” vocal letters. Fourth, 91.1%. of the students are able to write numbers, while 127 mistakes of writing the absolute symbol (| |) were still found. The research result revealed that the students of west java vocational and senior high school who are able in writing Sundanese script in Riksa Budaya Sunda 2018 were 63.22% or  43 students out of  68 contestant students.AbstrakTujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan kemampuan menulis aksara Sunda siswa baik dalam huruf konsonan, ‘rarangken’, vokal, atau angka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif, dengan menggunakan tekhnik tes dan dokumentasi. Sumber data penelitian ini yaitu teks hasil lomba menulis aksara Sunda siswa SMA/SMK setara se-Jawa Barat, dengan jumlah 68 teks aksara Sunda. Hasil penelitian ini yaitu pertama, kemampuan siswa dalam menulis huruf konsonan dapat dikatakan mampu, dengan persentase 99.31%. Terdapat 165 kesalahan yang dilakukan oleh siswa. Dengan kesalahan konsonan terdapat dalam huruf ja. Kedua, kemampuan siswa dalam menulis ‘rarangken’ dapat dikatakan mampu, dengan persentase 98.36%. Terdapat 246 kesalahan yang dilakukan siswa. Dengan kesalahan terdapat dalam pamaéh. Ketiga, kemampuan siswa dalam menulis vokal dapat dikatakan mampu, dengan persentase 98.08%, dengan jumlah kesalahan 39. Dengan kesalahan vokal terdapat dalam vokal “é”. Keempat, kemampuan siswa dalam menulis angka dapat dikatakan mampu, dengan persentase 91.1%. Jumlah kesalahan 127. Dengan kesalahan angka dalam tanda mutlak (| |). Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa kemampuan menulis aksara Sunda siswa dapat dikatakan mampu menulis aksara Sunda dengan benar, dengan persentase 63.22%, atau 43 siswa dari 68 siswa yang mengikuti lomba.
Konservasi Naskah Sunda Kuno di Kabupaten Bandung Koswara, Dedi; Permana, Ruswendi
LOKABASA Vol 10, No 1 (2019): Vol. 10, No. 1, April 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i1.16929

Abstract

The conservation of Ancient Sundanese manuscripts through transliteration training was motivated by concerns about the condition of the ancient Sundanese manuscripts that had been decayed so that they were unreadable because they were eaten by termites and were hit by time bombs. Such conditions can cause the contents information of the text cannot be extracted and conveyed to the next generation. Based on the above background, there is a need to organize an activity to provide training of the procedures in collecting, documenting, describing, and transliterating Sundanese manuscript written in Arab Pegon script into Latin script. The intended ancient Sundanese manuscript is a manuscript originating from an individual collection or those which are still scattered in the community. The target community is Sundanese language teacher community in Kabupaten Bandung. The approach used is a philological approach along with training and workshop methods. The results obtained revealed that Sundanese Language teachers in Kabupaten Bandung have a strategic role in preserving the Ancient Sundanese manuscript. Teachers have a very important role to provide information to the public about the preservation of ancient Sundanese manuscripts in the area where they live. The manuscripts from transliteration as well as studies that esteem the education of local cultural wisdom can be used as alternative teaching material in the school.AbstrakKonservasi naskah Sunda Kuno melalui pelatihan transliterasi yang dilaksanakan ini dilatarbelakangi adanya kekhawatiran terhadap kondisi naskah (manuscript; handscrift) Sunda Kuno yang sudah lapuk sehingga tidak terbaca karena rusak dimakan rayap dan terkena bom waktu. Kondisi demikian dapat menyebabkan informasi isi teks yang terkandung di dalamnya tidak tergali dan tidak tersampaikan kepada generasi berikutnnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, perlu adanya suatu kegiatan yang dilakukan untuk memberikan pelatihan tentang tatacara mengumpulkan, mendokumentasikan, mendeskripsikan, serta mekanisme transliterasi naskah Sunda beraksara Arab Pegon ke dalam aksara Latin. Naskah Sunda Kuno yang dimaksud adalah naskah yang berasal dari koleksi perseorangan atau yang masih tersebar di masyarakat. Masyarakat yang menjadi sasaran adalah kelompok masyarakat guru bidang studi Bahasa daerah/Sunda di Kabupaten Bandung. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filologis dengan metode pelatihan dan workshop.  Hasil yang diperoleh yaitu bahwa guru bidang studi Bahasa Daerah/Sunda di Wilayah Kabupaten Bandung memiliki peran strategis dalam melestarikan naskah Sunda Kuno. Guru memiliki peranan sangat penting untuk memberikan penerangan kepada masyarakat tentang pelestarian naskah Sunda Kuno yang berada di daerah tempat mereka tinggal. Naskah hasil transliterasi serta kajiannya yang bernilai pendidikan kearifan budaya lokal dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif bahan-ajar di sekolah.