cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
LOKABASA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 286 Documents
Tatakrama Kepemimpinan Sunda dalam Novel Sejarah Tanjeur na Juritan Jaya di Buana Karya Yoseph Iskandar Isnendes, Retty; Ruhaliah, Ruhaliah; Koswara, Dedi; Permana, Ruswendi
LOKABASA Vol 10, No 1 (2019): Vol. 10, No. 1, April 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i1.16943

Abstract

There is a presumption that Sundanese people leadership is weak and feeble so they can not compete on the national level. Though history recorded some names of Sundanese leaders, such as Prabu Wangi, Prabu Niskala Wastu Kanca, and Sri Baduga Maharaja. In the literature, the name of King Siliwangi is an icon and symbol of the great and successful Sundanese leader of all time. The identity and symbolism of the Sundanese leader are also reflected in the historical novel of Tanjeur na Juritan Jaya di Buana written by Yoseph Iskandar. Uniquely, the novel relies on the manuscript of Prince Wangsakerta from Cirebon which in the 1980s appalled Indonesia history. The novel has been awarded Rancage from Ajip Rosidi's Rancage Foundation. By using descriptive method and literature review technique and interpretation, the novel will be examined his leadership ethics in ethno pedagogic scope. The aims of this study are: (a) to describe the principles of Sundanese leadership in the novel, (b) to describe the etnopedagogical aspect in the novel, and (c) to compare the leadership principles of the past and the present as models of cultural education. The expected outcomes are the descriptions of figures of Sundanese leadership, Sundanese leadership manners, and the cultural education model found in the novel analyzed.AbstrakAda anggapan bahwa kepemimpinan Sunda lemah sehingga tidak dapat bersaing di panggung nasional. Padahal sejarah mencatat sejumlah nama pemimpin panutan Sunda, misalnya saja Prabu Wangi, Prabu Niskala Wastu kancana, dan Sri Baduga Maharaja. Dalam tataran sastra nama Prabu Siliwangi merupakan ikonitas dan simbolitas pemimpin Sunda yang besar dan berhasil sepanjang masa. Ikonitas dan simbolitas pemimpin Sunda tergambar juga dalam novel sejarah Tanjeur na Juritan Jaya di Buana yang ditulis oleh Yoseph Iskandar. Unik dan utamanya, novel tersebut bersandar pada naskah Pangeran Wangsakerta dari Cirebon yang tahun 1980-an menggemparkan jagat kesejarahan Indonesia. Novel tersebut telah mendapat hadiah Rancage dari Yayasan Rancage Ajip Rosidi. Dengan menggunakan metode deskriptif dan teknik telaah pustaka dan interprerasi, novel tersebut akan dikaji tatakrama kepemimpinannya dalam lingkup etnopedagogik. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (a) mendeskripsikan tatakrama kepemimpinan Sunda dalam novel, (b) mendeskripsikan aspek etnopedagogik dalam novel, dan (c) membandingkan tatakrama kepemimpinan masa lalu dan masa sekarang sebagai model pendidikan budaya. Hasil yang diharapkan adalah terdeskripsikannya tokoh-tokoh dalam kepemimpinan Sunda, tatakrama kepemimpinan Sunda, dan model pendidikan budaya dari novel yang dianalisis.
Komunikasi Politik dan Budaya Damai di Zaman Galuh Pakuan dalam Konstelasinya di Masa Kini Sumarlina, Elis Suryani Nani; Permana, Rangga Saptya Mohamad
LOKABASA Vol 10, No 1 (2019): Vol. 10, No. 1, April 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i1.16930

Abstract

The manuscripts as cultural documents inherited from Sundanese past ancestors are plentiful and still very relevant to be introduced and revealed at the present. The values of local wisdom contained and revealed in the manuscript, covers various aspects of people's lives concerning the seven elements of Sundanese culture, i.e. religious systems or beliefs, technology, material items, government/society, livelihoods/economics, science/education, language, and arts. The expectations implied and expressed in the texts revealed in this article are still intertwined with the current life of the Sundanese people, especially regarding communication and political ethics, which of course is inseparable from reliable human resources, those are the stakeholders, the government, and the young generation as heirs of the nation. This article is presented and examined through descriptive analytical research methods, involving philological study, historiography, and cultural studies methods in general, which are expected to be able to uncover the local wisdom of government system and political communication contained in the XVI century Sundanese manuscripts, and its constellation with current Sundanese culture.AbstrakNaskah sebagai dokumen budaya tinggalan karuhun orang Sunda masa lampau, sungguh sangat melimpah dan masih sangat relevan untuk dikenalkan dan diungkap isinya pada masa kini. Kearifan lokal nilai-nilai yang terkandung dan terungkap dalam naskah, meliputi beragam aspek kehidupan masyarakat yang menyangkut tujuh unsur budaya Sunda, yakni: sistem religi atau kepercayaan, teknologi dan benda materiil, pemerintahan/kemasyarakatan, mata pencaharian hidup/ekonomi, ilmu pengetahuan/pendidikan, bahasa, dan seni. Harapan yang tersirat maupun tersurat dalam naskah-naskah yang diungkap dalam artikel ini masih terjalin adanya benang merah dengan kehidupan masyarakat Sunda saat ini, khususnya tentang komunikasi dan etika berpolitik”, yang tentu saja tidak terlepas dari sumber daya manusia yang andal, yakni para pemangku kebijakan, pemerintahan, dan generasi muda sebagai pewaris bangsa. Artikel ini dipaparkan dan dikaji melalui metode penelitian deskriptif analisis, dengan melibatkan metode kajian filologis, historiografi, dan kajian budaya secara umum, yang diharapkan mampu mengungkap kearifan lokal sistem pemerintahan dan komunikasi politik yang terkandung dalam naskah Sunda abad XVI Masehi, konstelasinya dengan budaya Sunda masa kini.
Tukuh Ciburuy: Sebuah Kajian Étnografi Indriani, Rini Sri
LOKABASA Vol 10, No 1 (2019): Vol. 10, No. 1, April 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i1.16944

Abstract

This research is an ethnographic study to collect cultural data from an ethnic or unique community in Kabuyutan Ciburuy, Kabupaten Garut, West Java Province. Qualitative analysis was carried out to understand Tukuh Ciburuy terminology as revealed by experts or communities outside of Kabuyutan Ciburuy. Whereas documentation and description were used to reveal various customs, taliparanti, or habits in Kabuyutan Ciburuy that represent the attitude or view of the people of Kabuyutan Ciburuy. Based on the results of the research, it can be concluded that in the Kabuyutan Ciburuy tradition, Tukuh Ciburuy means stick to the rules and implement it regularly. Tukuh Ciburuy manifested by Kabuyutan Ciburuy people and Ciburuy Village is in several ways such as in Pantangan and Seba ceremonies. In Kabuyutan Ciburuy tradition, Pantangan is manifested in activities or things that formally prohibit to be done by its society (taboo). These prohibitions have to be obeyed. If it is violated, it is believed that there will be a disaster for the person did it. The Seba ceremony is carried out by holding on the belief that the ceremony was considered an obligatory by the people of Kabuyutan Ciburuy. This belief is based on the assumption of wishful thinking that strong and magical phenomena will arise. If it is obeyed it will avoid the unwanted disaster. Conversely, if it is not fulfilled it will have a negative effect on Ciburuy people daily life.AbstrakPenelitian ini adalah sebuah penelitian etnografi untuk mengumpulkan data kebudayaan sebuah masyarakat etnik atau unik di Kabuyutan Ciburuy, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Analisis kualitatif dilaksanakan untuk memahami istilah tukuh Ciburuy sebagaimana diungkap oleh para ahli atau masyarakat di luar Kabuyutan Ciburuy. Sedangkan dokumentasi dan deskripsi digunakan untuk mengungkap berbagai adat, tali paranti, atau kebiasaan di Kabuyutan Ciburuy yang merepresentasikan sikap atau pandangan masyarakat Kabuyutan Ciburuy. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diambil kesimpulan bahwa dalam tradisi Kabuyutan Ciburuy, tukuh Ciburuy  bermakna teguh terhadap aturan-aturan yang harus dilaksanakan secara rutin. Tukuh Ciburuy oleh masyarakat Kabuyutan Ciburuy dan Kampung Ciburuy diwujudkan dalam beberapa hal seperti pantangan dan upacara seba. Dalam tradisi Kabuyutan Ciburuy, pantangan diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan atau hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh masyarakatnya. Pantangan-pantangan tersebut tidak boleh dilanggar. Jika dilanggar, dipercaya akan terjadi musibah terhadap orang yang melanggarnya. Upacara seba dilaksankan oleh masyarakat Ciburuy dengan berpegangan pada keyakinan bahwa upacara tradisi dianggap wajib dilaksanakan oleh masyarakat Kabuyutan Ciburuy. Hal tersebut diyakini dengan anggapan bahwa akan timbul hal-hal yang bersipat kuat dan magis. Jika dilaksankan, akan terhindar pula dari berbagai hal yang tidak diinginkan. Sebaliknya, jika tidak dilaksanakan akan menimbulkan akibat buruk bagi kehidupan sehari-hari masyarakat Ciburuy.
Tradisi Babanyo di Kabupaten Bandung Barat untuk Bahan Pembelajaran di SMA Fachrurrofi, Fachmi
LOKABASA Vol 10, No 1 (2019): Vol. 10, No. 1, April 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i1.16931

Abstract

The purpose of this study is to describe: 1) babanyo tradition in Cihampelas Kabupaten Bandung Barat; 2) semiotic elements contained in the babanyo tradition; and 3) teaching materials to read the articles of babanyo tradition for 12th grade of senior high school. The method used in this study was descriptive method by employing observation, interview, and documentation as its techniques. The data sources in this study were paraji (midwife) and mothers who knew and had carried out babanyo tradition. The results of this study are: 1) a description of the babanyo tradition which includes: conditions, objectives, property and food provided, and the steps in implementing the babanyo tradition, etc .; 2) the semiotic elements contained in  babanyo tradition are amounted to 30, which are the icons consisting of 13 elements, 3 indexes, and  14 symbols. The dominant aspect in this tradition is the symbol, this is due to the signs that included to the symbols have the highest total numbers, compared to the icons and the indexes. The signs are interrelated and have become a unit that forms a tradition; and 3) the results of this study can be used as an alternative learning material for articles reading in 12th grade of senior high school.AbstrakTujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan: 1) tradisi babanyo di Kacamatan Cihampelas Kabupatén Bandung Barat; 2) unsur semiotik yang terdapat dalam tradisi babanyo; serta 3) bahan ajar membaca artikel tradisi babanyo di SMA kelas XII. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode deskriptif dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini adalah paraji (dukun beranak) serta ibu-ibu yang tahu dan pernah melaksanakan tradisi babanyo. Hasil dari penelitian ini yaitu: 1) deskripsi mengenai tradisi babanyo yang mencakup: keadaan, tujuan, properti dan makanan yang disediakan, langkah-langkah dalam pelaksanaan tradisi babanyo, dsb; 2) unsur-unsur semiotik yang terdapat dalam tradisi babanyo berjumlah 30, yang terdiri dari ikon yang terdiri atas 13 unsur, indeks yang berjumlah 3, serta simbol yang berjumlah 14. Aspék yang dominan dalam tradisi ini adalah simbol, hal ini dikarenakan tanda yang termasuk kedalam simbol mempunyai jumlah paling banyak, dibandingkan dengan ikon dan indeks. Tanda-tanda tersebut saling berkaitan serta sudah menjadi satu kesatuan yang membentuk suatu tradisi; dan 3) hasil dari penelitian ini bisa dijadikan alternatif bahan pembelajaran membaca artikel di SMA kelas XII.
Kajian Struktur dan Nilai Budaya Cerita Rakyat Palabuhanratu Sopudin, Sopudin
LOKABASA Vol 10, No 1 (2019): Vol. 10, No. 1, April 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i1.16948

Abstract

The purpose of this study is to describe Palabuhanratu folklore, intellectual property of the Sundanese people, whose existence is increasingly eroded by foreign cultures. This research employed the descriptive-analytical method. It was employed to obtain an overview of Pelabuhanratu folklore. The results of the study revealed that: (1) Palabuhanratu folklore consists of eight pieces i.e. three legends and five fairy tales. (2) The structure of the story includes the character and characterization, plot, and setting. The story figures amounted from one to seven persons, dynamic and static classification. The story plots are all progressive and simple so that it is easy to understand. The location scene depicts past life, the area is still heavily forested, many large trees, rivers, and mountains that are still untouched by humans. Story events happened in the past, but there are no definite dates, months and years. Generally, the social background of the figures comes from royal or noble family circles. (3) The research found 25 cultural values. The twenty-five cultural values are classified into 5 categories i.e. cultural values of human relations with God, cultural values of human relations with their works, cultural values of human relations with other humans, cultural values of human relations with space and time, and cultural values of human relations with nature. Some of the above cultural values are still inherent in people's lives at the present, some have shifted, and some have undergone changes. (4) Palabuhanratu folklore can be used as a material for literature teaching and learning in schools, especially for enrichment material.AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan cerita rakyat Palabuhanratu yang merupakan kekayaan intelektual masyarakat Sunda yang keberadaannya semakin tergerus oleh budaya asing. Dengan demikian, perlu upaya nyata untuk menelusuri, mengkaji, dan memperkenalkannya kepada generasi muda, termasuk siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif-analitis, metode ini digunakan dengan maksud untuk memperoleh gambaran mengenai cerita rakyat Palabuhanratu. Berdasarkan hasil penelitian, dapat digambarkan sebagai berikut. (1) cerita rakyat Palabuhanratu terdiri atas delapan buah; tiga termasuk legenda dan lima termasuk dongeng. (2) Struktur cerita meliputi tokoh dan penokohan, alur, dan latar. Tokoh cerita mulai dari satu orang sampai tujuh orang, bertifikal dinamis dan statis. Cerita semuanya beralur maju dan sederhana, sehingga mudah dipahami. Latar tempat menggambarkan kehidupan tempo dulu, daerah masih berhutan lebat, banyak pohon besar, sungai, dan gunung yang masih belum terjamah oleh manusia. Peristiwa  cerita terjadi pada masa lampau, namun tidak disebutkan tanggal, bulan, dan tahun yang pasti. Latar sosial, umumnya tokoh berasal dari lingkungan kerajaan atau bangsawan. (3) Nilai budaya yang ditemukan sebanyak dua puluh lima. Kedua puluh lima nilai budaya tersebut dikelompokkan ke dalam lima bagian, yaitu nilai budaya dalam hubungan manusia dengan Tuhan, nilai budaya dalam hubungan manusia dengan karyanya, nilai budaya dalam hubungan manusia dengan sesamanya, nilai budaya dalam hubungan manusia dengan ruang dan waktu, serta nilai budaya dalam hubungan manusia dengan alam. Nilai-nilai budaya tersebut ada yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat sekarang, ada yang telah mengalami pergeseran, dan ada pula yang sudah mengalami perubahan. (4) Cerita rakyat Palabuhanratu dapat dijadikan bahan pembelajaran sastra di sekolah, terutama untuk materi pengayaan.
Nilai Keagamaan dalam Wawacan Babad Salira Yunidawati, Anisa
LOKABASA Vol 10, No 1 (2019): Vol. 10, No. 1, April 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i1.16926

Abstract

The background of the research is the lack of public knowledge about wawacan, whereas as one of the literary works of poetry genre, wawacan consists of purwakanti (rhyme) which contained spiritual values that can be used as guidance and reflections. This research aimed to describe and analyze the transliteration of manuscripts, rhymes, and religious values in "Wawacan Babad Salira". The method used was descriptive method. The sources of the data in this research was the manuscript of "Wawacan Babad Salira" in Desa Cilimus, Situradja, Kabupaten Sumedang. In collecting the data, this research employed a technique such as literature study, interview, and documentation. While in processing the data, this research used direct analysis technique. The instruments used were the interview guides and data cards. The result of analysis revealed that the contents of "Wawacan Babad Salira" manuscript explained about the advice and discourses, especially those related to religious values. The data obtained from "Wawacan Babad Salira" were 315 rhymes. The results of the research revealed 10 types of rhyme consisting of purwakanti pangluyu, purwakanti maduswara, purwakanti cakraswara, purwakanti laraspurwa, purwakanti larasmadya, purwakanti laraswwaas, purwakanti mindoan kawit, purwakanti mindo wekas, purwakanti margaluyu, and purwakanti rangkepan. In general, the most common rhyme was purwakanti margaluyu type which consisted of 109. There were 18 religious values contained in the text covered religious basics teachings of Islam such as aqidah, syari'ah, and morals. The religious values that most frequently explained are about morals.AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai wawacan, padahal sebagai salah satu karya sastra genre puisi, wawacan mengandung rima dan di dalamnya sarat akan nilai-nilai luhur yang bisa dijadikan contoh dan cerminan. Penelitian ini bertujuan untuk mendéskripsikan dan menganalisis transliterasi naskah, jenis rima, dan nilai keagamaan dalam “Wawacan Babad Salira”. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah naskah “Wawacan Babad Salira” yang ada di Desa Cilimus, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik studi pustaka, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan dalam pengolahan data menggunakan teknik analisis secara langsung. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara dan kartu data. Dari hasil transliterasi, bisa diketahui bahwa isi “Wawacan Babad Salira” menerangkan tentang nasihat dan wejangan, khususnya yang berhubungan dengan nilai keagamaan. Data yang diperoleh dari “Wawacan Babad Salira” terdapat 315 rima. Dari hasil analisis, ditemukan 10 jenis rima yang terdiri dari purwakanti pangluyu, purwakanti maduswara, purwakanti cakraswara, purwakanti laraspurwa, purwakanti larasmadya, purwakanti laraswekas, purwakanti mindoan kawit, purwakanti mindoan wekas, purwakanti margaluyu, dan purwakanti rangkepan. Secara garis besar, rima yang paling banyak ditemukan adalah jenis purwakanti margaluyu yang berjumlah 109. Nilai keagamaan yang terkandung dalam naskah meliputi dasar-dasar ajaran agama Islam seperti akidah, syari’ah, dan akhlak. Terdapat 18 nilai keagamaan. Nilai keagaamaan yang paling banyak diterangkan adalah tentang akhlak.
Permasalahan Sosial dalam Antologi Cerkak “Pulo Asu” Setyowati, Herlina; Pamilih, Laksito Wening
LOKABASA Vol 10, No 1 (2019): Vol. 10, No. 1, April 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i1.16932

Abstract

The author can isolate the un-ideal condition of a society in his view through literature. The goal is to open-mind the readers and make them touched by the conflict arise. The story of “Pulo Asu” contains various stories that are very easy to find in the community but are often ignored because they are considered ordinary tales. These stories contain social problems that are examined by descriptive methods with content analysis techniques. As a result, several social problems were raised by the author i.e. the problem of poverty, anti-critic leaders, the practice of KKN (corruption, collusion, nepotism), less critical of new cultures, stigma against late married women, stigma against inmates family, vigilante, belief in mysticism, psychiatric disorder people  abuses, and stigma against adopted children.AbstrakPengarang dapat mengisolasi keadaan masyarakat yang tidak ideal menurut pandangannya melalui karya sastra. Tujuannya agar pembaca dapat terbuka matanya dan tergugah hatinya akan masalah tersebut. Cerita pada kumpulan cerita cekak “Pulo Asu” memuat berbagai kisah yang sangat mudah ditemui di masyarakat tetapi sering kali diabaikan karena dianggap umum. Kisah-kisah tersebut mengandung permasalahan sosial yang dikaji dengan metode deskriptif dengan teknik analisis isi. Hasilnya, ditemukan beberapa permasalahn sosial yang diangkat pengarang yaitu, masalah kemiskinan, pemimpin yang anti kritik, praktik KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), kurang kritis terhadap budaya baru, stigma terhadap wanita yang terlambat menikah, stigma terhadap keluarga narapidana, perbuatan main hakim sendiri, kepercayaan terhadap mistik, perbuatan sewenang-wenang terhadap orang gila, dan stigma terhadap anak adopsi.
Memori Traumatis dalam Novel Jawa Kadang Suriname Sanak Merapi Karya Fuji Riang Prastowo Kajian Postmemory Ernawati, Yunita
LOKABASA Vol 10, No 1 (2019): Vol. 10, No. 1, April 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i1.16951

Abstract

This study examines the process of transmitting traumatic memory in a novel Kadang Suriname Sanak Merapi by Fuji Riang Prastowo. Through analysis of traumatic transmission it will be known how the formation of a structured transmission. The purpose of this study is to dismantle the structure of transmission through the process of traumatic transmission from the first generation to the next generation. This research uses Postmemory Theory by Marianne Hirsch. Collecting data in this study conducted in the form of collecting primary data and secondary data. The results of this study are: 1) there are two transmissions that make up the novel, namely the familial transmission of grandmothers and parents so that it leads to affiliative transmission obtained from the office, 2) the Indonesian and Dutch governments experienced hypermasculinization. While Indies and exiles are Infantilized, 3) cropping was done by dominating the story of Indies and exiles as an effort to reconstruct memory.AbstrakPenelitian ini mengkaji proses transmisi memori traumatis dalam novel Kadang Suriname Sanak Merapi karya Fuji Riang Prastowo. Melalui analisis transmisi traumatis maka akan diketahui bagaimana pembentukan tramsmisi yang terstrukur. Tujuan penelitian ini adalah membongkar struktur transmisi melalui proses transmisi traumatis dari generasi pertama ke generasi selanjutnya. Penelitian ini menggunakan teori postmemory yang dipelopori oleh Marianne Hirsch. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dalam bentuk pengumpulan data primer dan data sekunder. Hasil penelitian ini yakni: 1) ada dua transmisi yang membentuk novel, yaitu transmisi familial dari nenek dan orangtua sehingga hal itu mengantarkan kepada transmisi afiliatif yang diperoleh dari kantor; 2) pemerintah Indonesia dan Belanda mengalami Hypermaskulinized. Sedangkan Indies dan orang-orang buangan mengalami Infantilized; 3) cropping dilakukan dengan mendominasikan cerita Indies dan orang buangan sebagai upaya rekonstruksi memori.
RABAB PASISIA SELATAN DI MINANGKABAU DI AMBANG KEPUNAHANNYA Rosa, Silvia
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i1.15969

Abstract

Barabab adalah suatu bentuk pertunjukan seni tradisi yang menyampaikan cerita kaba oleh seorang atau dua orang penampil dengan diiringi oleh permainan alat musik rabab (semacam alat musik gesek yang mirip biola). Pertunjukan Barabab berlangsung semalam suntuk. Biasanya pertunjukkan Barabab dihadirkan sebagai salah satu bentuk bungo alek (hiasan keramaian) dalam sebuah acara, baik perkawinan, perayaan atau peresmian peristiwa-peristiwa penting dalam masyarakat adat di Minangkabau. Permasalahannya kini adalah realitas pewarisan seni pertunjukkan Barabab, Pewarisan aktif keterampilan mempertunjukkan seni tradisi Barabab tidak berlangsung baik dan berkesinambungan dari si pewaris aktif kepada generasi berikutnya.Penampil Barabab adalah pria-pria tua yang sudah berumur di atas 55 tahun dan atau lebih. Lalu bagaimana bila pewarisan tidak berlangsung lurus secara berkesinambungan dari generasi tua kepada generasi muda berikutnya. Tentu saja seni tradisi Barabab akan tinggal kenangan dan nama saja, berganti dengan corak musik Barat yang cenderung lebih diminati oleh generasi muda kini, misalnya organ tunggal dan sejenisnya. Kerisauan akan kepunahan seni tradisi Barabab ini sudah patut direncanakan tindakan penyelamatannya. Salah satu upayanya adalah dengan mencanangkan secara aktif untuk belajar budaya, khususnya belajar seni tradisi pertunjukan Barabab yang telah menjadi ikon seni pertunjukan penting di Pesisir Selatan.Upaya ini penting dilakukan secara terorganisir antara pemerhati budaya (perguruan tinggi) dengan Pemerintah Daerah Pesisir Selatan. Kebijakan-kebijakan pemerintah untuk membangun ruang atau tempat untuk belajar budaya, terutama seni Barabab, tindakan urgen untuk dirintis dan dikembangkan ke depan, dan sejak kini.ABSTRACT Barabab is a form of traditional art performances that convey kaba story by one or two performers that are accompanied by rabab musical instrument (a kind of stringed instrument similar to a violin). The Barabab show lasted all night long. Usually Barabab shows are presented as a form of bungo alek (ornament of the crowd) in an event, whether marriage ceremony, celebration or inauguration of important events in indigenous peoples in Minangkabau. In the reality there is problem that Barabab active inheritance of Barabab's performing arts skills does not go well and sustain from the active performers to other generation. Barabab performers are old men over the age of 55. If the inheritance is not sustainable from older generation to other generation, the Barabab tradition will be extinct. One of the efforts to actively promote the learning of culture, especially learning the art of tradition of Barabab show which has become an icon of important performing arts in South Coastal of Minangkabau. The effort is important to be done in an organized manner between cultural observers (universities) and the South Coastal Government. There is a crusial needs of government decision and policies to build space or place to learn culture, especially Barabab art.
Naskah Drama “Hutbah Munggaran di Pajajaran” Karya Yus Rusyana (Kajian Struktural dan Semiotik) Mustaqim, Farhan; Koswara, Dedi; Permana, Ruswendi
LOKABASA Vol 10, No 2 (2019): Vol. 10, No. 2, Oktober 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i2.21337

Abstract

This research entitled “The Manuscript “Hutbah Munggaran di Pajajaran” by Yus Rusyana (A Structurally Semiotic Study). Nowdays, there are tot much author that write Sunda manuscript drama, beside that write drama manuscript in comparison with author short story, novel or poetry. Drama to load manuscript is limited, so it is difficult ti find a book manuscript collection drama. Purpose of this study was conducted to identify and describle works of literature, in particular manuscript drama based on structure-semiotic then applied as a learning materian in SMA/SMK/MA. The description of these problem the authors, used two methods namely descriptive analytical method used in data processing, and structural-semiotic. Structural studies are used to describle the structure of the drama while semiotic studies are used to identify and describle the meaning contained in the text of manuscript by Yus Rusyana entitled “Hutbah Munggaran di Pajajaran. The data source used in this research is from the drama manuscript by Yus Rusyana entitled “Hutbah Munggaran di Pajajaran”. After the identification of the manuscript drama can be described theme of religion that is the issue of moral. Other findings based on studies semiotic is in the script “Hutbah Munggaran di Pajajaran” there are 17 icons, 15 index, and 11 symbols.AbstrakDewasa ini tidak banyak pengarang yang menulis naskah drama Sunda, apalagi jika dibandingkan dengan penulis cerpen, novel, atau puisi. Lahan untuk memuat naskah drama pun terbatas, sehingga sulitnya mencari buku kumpulan naskah drama. Tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karya sastra, khususnya naskah drama berdasarkan struktur dan semiotiknya kemudian diterapkan sebagai bahan pembelajaran di SMA/SMK/MA. Dalam pendeskripsian permasalahan tersebut, penulis menggunakan dua metode, yakni metode deskriptif analitis, dan struktural-semiotik. Kajian struktural digunakan untuk mendeskripsikan struktur drama sedangkan kajian semiotik digunakan dalam mendeskripsikan makna yang terdapat dalam naskah karya Yus Rusyana yang berjudul “Hutbah Munggaran di Pajajaran”. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dari naskah drama karya Yus Rusyana yang berjudul “Hutbah Munggaran di Pajajaran”. Setelah proses identifikasi terhadap naskah drama tersebut dapat dideskripsikan naskah tersebut bertemakan tentang réligi yang memiliki fokus di persoalan moral. Penemuan lainnya berdasarkan kajian semiotik yaitu, dalam naskah “Hutbah Munggaran di Pajajaran” terdapat 17 ikon, 15 indeks dan 11 simbol.