cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Proceeding SENDI_U
Published by Universitas Stikubank
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 228 Documents
Search results for , issue "2017: SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU DAN CALL FOR PAPERS" : 228 Documents clear
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT MAHASISWA ITATS UNTUK BERWIRAUSAHA DENGAN METODE ANALISIS DISKRIMINAN ., Suparto; Baros, Cristiana
Proceeding SENDI_U 2017: SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU DAN CALL FOR PAPERS
Publisher : Proceeding SENDI_U

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.219 KB)

Abstract

Pengaruh pendidikan kewirausahaan selama ini telah dipertimbangkan sebagai salah satu faktor penting untuk menumbuhkan dan mengembangkan hasrat, jiwa dan perilaku berwirausaha di kalangan generasi muda. Salah satu faktor pendorong pertumbuhan kewirausahaan disuatu negara terletak pada peranan universitas melalui penyelenggaraan pendidikan kewirausahaan. Di era globalisasi saat ini, wirausaha sebagai salah satu alat untuk mencapai keunggulan kompetitif. Minat berwirausaha pada mahasiswa dibentuk melalui pengalaman langsung atau pengalaman yang mengesankan dan hal ini akan menyediakan kesempatan bagi individu untuk mempraktekkan, memperoleh umpan balik dan mengembangkan keterampilan yang mengarah pada efikasi personal dan pengharapan atas hasil yang memuaskan. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Fakultas Teknologi ITATS. Tujuan penelitian ini adalah menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi minat mahasiswa ITATS untuk berwirausaha. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah analisis diskriminan yang digunakan untk mengklarifikasi suatu indidvidu atau observasi ke dalam kelompok yang saling bebas dan menyeluruh berdasarkan sejumlah variabel bebas. Beberapa variabel bebas yang digunakan adalah; pengeluaran, pendidikan, lingkungan keluarga, IPK dan usia. Sedangkan variabel responnya adalah minat mahasiswa dalam berwirausaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi minat mahasiswa berwirausaha adalah pendidikan, lingkungan keluarga, pengeluaran dan usia. Diantaranya faktor yang dominan adalah pendidikan. Kata Kunci: Kewirausahaan, Analisis Diskriminan, Minat Mahasiswa
Perancangan Mesin Pencuci Wortel Manual Untuk Petani Berkapasitas Kecil Di Desa Ngargoyoso Dwi Saputra, Wisnu; Kristyanto, B.
Proceeding SENDI_U 2017: SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU DAN CALL FOR PAPERS
Publisher : Proceeding SENDI_U

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.413 KB)

Abstract

Buah dan sayuran mengandung air sangat banyak antara 80-95% sehingga sangatlah mudah mengalami kerusakan karena benturan-benturan fisik. Kerusakan fisik dapat terjadi pada seluruh tahapan dari kegiatan sebelum panen, selanjutnya pemanenan, penanganan, grading, pengemasan, transportasi, penyimpanan, dan akhirnya sampai ke tangan konsumen. Proses Pencucian dalam hal produksi hortikultura dalam tingkat perkebunan merupakan salah satu proses penting yang harus dilakukan. Terdapat dua jenis proses pencucian, yaitu proses berkelanjutan dan pengumpulan (Batch type). Tipe batch adalah jenis proses yang dianjurkan bagi tumbuhan kecil dimana kegunaanya tidak pokok dan biaya produksinya tidak tinggi. Proses pencucian dengan cara direndam di dalam air yang mengalir maupun air tenang hanya efektif apabila kotoran dan lapisan-lapisan yang perlu dibersihkan masih dalam kuantitas kecil dan mudah untuk dihilangkan. Sistem yang relaltif digunakan dalam pembersihan sayuran pada saat ini adalah metode pembersihan dengan menginjak-injak sayuran menggunakan kaki di air yang mengalir atau lahan yang digunakan untuk membersihkan sayuran. Efek negatif yang ditimbulkan dari metode ini tidak hanya pada kerusakan pada sayuran, namun lebih berbahaya lagi karena sayuran yang dicuci dapat terkontaminasi oleh kotoran ketika digosok-gosok menggunkan kaki. Selain itu,proses pembersihan juga menuntut akan adanya pekerja yang lebih banyak dan para pekerja tersebut juga bersentuhan langsung dengan air dingin selama proses pembersihan. Tidak ada alat utama yang digunakan dalam proses pembersihan di wilayah tersebut. Dari latar belakang dan masalah-masalah yang ditimbulkan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menciptakan sebuah alat pencuci sayuran akar berskala kecil yang terjangkau bagi petani kecil untuk meningkatkan kualitas dan menghemat tenaga maupun waktu. Kata Kunci: Buah, Sayuran, Tanaman Akar, Wortel, Mesin Pencunci Sayuran
PENGARUH RAKE ANGLE NETRAL TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN PADA PROSES BUBUT MATERIAL GETAS BATU MARMER Hermawan, Yuni; Soenoko, Rudy; Surya Irawan, Yudy; Arif Setia Budi, Sofyan
Proceeding SENDI_U 2017: SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU DAN CALL FOR PAPERS
Publisher : Proceeding SENDI_U

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses bubut merupakan proses pemesinan yang banyak digunakan dalam komponen-komponen mesin (logam). Setiap proses pembubutan mempunyai karakteristik tertentu dari material yang dihasilkan. Untuk memperoleh karakteristik-karakteristik yang sesuai dengan keinginan maka diperlukan rancangan yang tepat. Karakteristik permukaan suatu benda kerja memegang peranan penting pada pembuatan komponen-komponen mesin. Selain digunakan untuk membuat komponen-komponen mesin, proses bubut dapat juga digunakan untuk membuat benda-benda putar yang terbuat dari non logam, salah satunya adalah batu marmer. Pada penelitian ini dilakukan pemesinan pada material batu marmer dengan panjang 200 mm dan diameter 40 mm, putaran spindel 400 rpm dan kedalaman potong 1 mm. Proses pemesinan dilakukan pada mesin bubut semi-otomatis Maximat dilakukan tanpa cairan pendingin dengan pahat insert karbida “Widia YG6” dengan rake angle 0o (netral). Setelah benda kerja dibubut, kemudian benda kerja diukur kekasaran permukaanya dengan mengunakan alat uji kekasaran. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa nilai kekasaran permukaan 3.726 μm untuk posisi pengukuran 150 mm dari chuck mesin dengan simpangan sebesar 0.773 μm. Nilai kekasaran permukaan 3.24 μm untuk posisi pengukuran 100 mm dari chuck mesin dengan simpangan sebesar 0.42 μm. Nilai kekasaran permukaan 2.977 μm untuk posisi pengukuran 50 mm dari chuck mesin dengan simpangan sebesar 0.391 μm. Rake angle netral menghasilkan rata-rata kekasaran permukaan sebesar 2.789 μm dengan nilai R2 sebesar 96.37%. Kata kunci: proses bubut, batu marmer, rake angle dan kekasaran permukaan.
STRATEGI MENGEMBANGKAN DESA WISATA Syah, Firman
Proceeding SENDI_U 2017: SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU DAN CALL FOR PAPERS
Publisher : Proceeding SENDI_U

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.324 KB)

Abstract

Keberadaan desa wisata saat ini memiliki daya pikat yang baik. Bukan saja karena Indonesia terdiri dari beragam tradisi dan kebudayaan, namun kekayaan alam yang terbentang antara desa satu dengan desa yang lain memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Sehingga ketika wisatawan mencoba untuk mengetahui lebih dalam salah satu desa wisata di Indonesia, sudah barang tentu akan mengunjungi. Peneliti menggunakan metode studi pustaka dengan analisis eksplanasi terhadap kebijakan pemerintah tentang pariwisata, terutama desa wisata. Sebagai desa wisata memiliki potensi alam antara lain pegunungan, agro, pantai, budaya, sejarah, dan lain sebagainya. Peluang desa wisata ini harus mengedepankan konsep Bhinneka Tunggal Ika yang mencerminkan keberagaman kebudayaan, tradisi, keindahan alam, kerajinan dan lain yang sebagai identitas kemudian menjadi satu konsentrasi destinasi wisata tanpa adanya persaingan dalam merebut wisatawan. Untuk itu setiap desa dapat memaksimalkan destinasi wisata yang ada di Indonesia. Namun, memutuskan konsep desa wisata dapat dimulai dari tingkat RT hingga kepala desa dengan tetap menerima masukan dan pandangan camat serta walikota/bupati setempat. Dilanjutkan dengan pembinaan masyarakat yang diharapkan ekonomi desa juga ikut maju. Kata Kunci: Desa Wisata, Strategi Pengembangan, dan Peluang.
SENI PERTUNJUKAN WAYANG ORANG SEBAGAI DAYA TARIK WISATA PERKOTAAN - TINJAUAN KONSEP EXPERIENCE ECONOMY Diyah Setiyorini, Heri Puspito; Bayu Mukti, Artin
Proceeding SENDI_U 2017: SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU DAN CALL FOR PAPERS
Publisher : Proceeding SENDI_U

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.856 KB)

Abstract

Transformasi perkembangan ekonomi telah beralih menuju experience economy. Tahap transformasi diawali dari tahap ekonomi agraria menjadi ekonomi industry, menuju ekonomi jasa, dan saat ini berada pada tahap ekonomi pengalaman. Tahap experience economy, ditunjukan melalui interaksi aktif antara konsumen dengan produsen sehingga membentuk pengalaman yang berkesan dalam mengkonsumsi/mengkonsumir suatu produk/jasa. Makalah ini berisi tinjauan konseptual pengelolaan seni pertunjukan tradisional wayang orang sebagai wujud dari ”experience economy” yang dapat dikembangkan untuk menjadi daya tarik wisata perkotaan. Pembahasan didasari oleh konsep dimensi ”experience” yang dirintis oleh Pine & Gilmore (1999) dalam Ho & Tsai (2010) yang terdiri dari 1) entertainment, 2) education, 3) escapist, dan 4) aestheticism. Hal ini juga dikembangkan oleh beberapa ahli lainnya. Hasil pembahasan diharapkan bermanfaat untuk mengembangkan seni pertunjukan sebagai daya tarik wisata yang dapat meningkatan kesehajteraan masyarakat secara ekonomi, dan juga mendukung pelestarian budaya dan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Kata Kunci: experience economy, seni pertunjukan, daya tarik wisata perkotaan
PEMODELAN EMPIRIS COST 231-WALFISCH IKEGAMI GUNA ESTIMASI RUGI-RUGI LINTASAN ANTENA RADAR DI PERUM LPPNPI INDONESIA Oktavia Manalu, Ria; ., Aryanti; Soim, Sopian
Proceeding SENDI_U 2017: SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU DAN CALL FOR PAPERS
Publisher : Proceeding SENDI_U

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.696 KB)

Abstract

Propagasi gelombang radio memegang peranan yang sangat penting untuk dimengerti dalam perencanaan sistem komunikasi wireless. Besarnya rugi-rugi lintasan (pathloss) yang terjadi di sepanjang lintasan mempengaruhi kualitas sinyal yang dihasilkan di antena receiver. Oleh sebab itu besarnya rugi-rugi tersebut sangat mempengaruhi besarnya parameter fisik, jarak, dan frekuensi yang akan digunakan dalam perencanaan sebuah sel. Penelitian ini dilakukan menggunakan model empiris COST 231-Walfisch Ikegami untuk mengestimasi besarnya Received Signal Level di antena receiver radar sehingga dapat ditentukan posisi dan jarak ideal antena radar yang terbaik. Model ini dipilih karena tidak hanya menghasilkan besarnya harga pathloss sebagai output proses perhitungan, tetapi diperoleh juga rugi-rugi pada daerah kosong, rugi-rugi pada permukaan, dan rugi-rugi difraksi pada atap-jalan dan hamburan. Model ini akan disimulasikan menggunakan perangkat lunak Matlab 7 untuk berbagai frekuensi, tinggi antena, dan jarak. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa jarak ideal posisi antena radar Perum LPPNPI Indonesia adalah ≤ 500m. Kata Kunci: pathloss, wireless, Received Signal Level, Model COST 231-Walfisch Ikegami
PENGEMBANGAN MODEL PERSEDIAAN DAN TRANSPORTASI UNTUK PEMBELIAN MULTI-ITEM PADA SUPPLIER TUNGGAL PADA PURCHASING CONSORTIUM Rahmawati, Nur; Baihaqi, Imam; Widodo, Erwin
Proceeding SENDI_U 2017: SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU DAN CALL FOR PAPERS
Publisher : Proceeding SENDI_U

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.813 KB)

Abstract

Purchasing Consortium (PC) adalah bergabungnya dua atau lebih organisasi dengan badan hukum terpisah baik secara sendiri, maupun melalui pihak ketiga melalui pembagian dan atau penyatuan volume pembelian, informasi, dan resources yang dimiliki. Tujuan dari penggabungan tersebut adalah untuk dapat meningkatkan bargaining power, sehingga diperoleh harga beli barang atau jasa yang lebih murah dari supplier. Penelitian ini mencoba melakukan permodelan untuk dapat meminimumkan total biaya tahunan, pada beberapa buyer yang melakukan pembelian multi item melalui PC pada supplier tunggal yang menawarkan skema diskon tetap dengan menggabungkan pengiriman. Dalam penelitian ini digunakan metode analitis untuk menyelesaikan permasalahan serta metode game theory untuk pengalokasian saving. Dari hasil percobaan numeric diperoleh hasil bahwa dengan melakukan pembelian dan pengiriman melalui PC, total biaya yang dihasilkan lebih baik bila dibandingkan dengan pembelian dan pengiriman tanpa melalui PC pada setiap kombinasi jarak antara supplier-buyer maupun buyer-buyer. Shapley value yang digunakan dalam pengalokasian saving dapat membagi saving sesuai dengan kontribusi yang dilakukan tiap anggota dalam pembentukan PC bila dibandingkan dengan pembagian sama rata. Kata kunci: Purchasing consortium, multi item supplier tunggal, skema diskon tetap, Shapley value
ANALISA POSTUR KERJA PADA PEWARNAAN BATIK TULIS (CELUP TRADISIONAL) DAN (CELUP MESIN) MENGGUNAKAN METODE RAPID UPPER LIMB ASSESSMENT (RULA) Siswiyanti, Siswiyanti; Rusnoto, Rusnoto
Proceeding SENDI_U 2017: SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU DAN CALL FOR PAPERS
Publisher : Proceeding SENDI_U

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1427.48 KB)

Abstract

Proses pewarnaan batik tulis di Kalinyamat Wetan Kota Tegal umumnya dilakukan dengan celup (tradisonal) denganpostur kerja stooping (membungkuk) dan squatting(menjongkok). Postur ini dirasa pekerja menimbulkan keluhan muscuoskeletal karena beban tubuh tertumpu pada kedua kaki. Akibat proses ini dalam kurun waktu yang lama dan berulang ulang akan menimbulkan beban otot statis pada tubuh bagian tertentu seperti : leher, lengan,pergelangan tangan, punggung dan kaki. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa / membandingkan postur kerja pada proses pewarnaan batik tulis setelah dilakukan perancangan mesin pewarna batik tulis, dari proses celup tradisional (membungkuk) menjadi proses celup otomatis/mesin (berdiri. Metode penelitian adalah Ekseperimen sama subjek dimana subjek pengrajin batik tulis akan menggunakan cara celup tradisional dan mesin untuk dianalisa menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (RULA). Hasil penelitian terhadap posisi kerja pengrajin pada proses pewarnaan celup(tradisional) diperoleh bawah postur pekerja secara stooping (membungkuk) dan posisi squatting(menjongkok)nilai skor 5-7 dengan level musculoskeletal tinggi (perlu segera dilakukan perbaikan). Sedangkan posisi kerja pewarnaan celup (mesin) nilai skor 2-4 dengan level musculoskeletal rendah (mungkin perlu dilakukan perbaikan dalam jangka waktu yang lama). Sikap kerja pewarnaan batik tulis celup (menggunakan mesin posisi berdiri), lebih alamiah dibandingkan dengan sikap kerja celup tradisional posisi menjongkok/ membungkuk/ duduk. Kata kunci: postur tubuh, mesin pewarna batik tulis,metode rula
PENGUKURAN KINERJA DENGAN MENGGUNAKAN METODE BALANCED SCORECARD DI PT. UBS SURABAYA Suhartini, Suhartini; Ahrori, Ahrori
Proceeding SENDI_U 2017: SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU DAN CALL FOR PAPERS
Publisher : Proceeding SENDI_U

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.431 KB)

Abstract

Pada saat ini persaingan bisnis yang semakin ketat sebagian besar perusahaan mempunyai strategi untuk dapat bersaing dengan kompetitor lainnya. Baik dari segi mutu, model dan strategi pemasaran. Untuk mencapai semua itu diperlukan adanya kinerja perusahaan yang baik. Pengukuran Kinerja yang digunakan di PT. UBS masih dilihat dari financial perusahaan. Penelitian ini akan menggunakan metode Balanced scorecard dalam mengukur kinerja perusahaan. Nilai pengukuran yang dilakukan pada periode Januari-Desember 2013 mencapai sebesar 73,35% pada periode Januari-Desember 2014 mencapai sebesar 75,5% dan pada periode kedua Januari-Desember 2015 mencapai sebesar 81,23% dan pada periode Januari-Desember 2016 mencapai sebesar 77,49%. Berdasarkan analisa untuk dapat meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan adalah memberikan pelatihan terhadap karyawan perusahaan baik dari segi produksi hingga pemasaran agar mencapai hasil yang terbaik dan dapat bersaing dengan kompetitor perusahaan lainnya. Kata kunci : Pengukuran kinerja, Balanced Scorecard, Key Performance Indicators
USULAN PERBAIKAN KONDISI KERJA YANG ERGONOMIS GUNA MENURUNKAN KELELAHAN OPERATOR PADA PEMBUATAN GUCI (STUDI KASUS: MUGEN CRAFT) Isna Oesman, Titin; Damar Witjaksono, Stevanus Haryo; ., Winarni
Proceeding SENDI_U 2017: SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU DAN CALL FOR PAPERS
Publisher : Proceeding SENDI_U

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.68 KB)

Abstract

Mugen Craft bergerak di industri kerajinan pembuatan gerabah, berlokasi di Desa Kasongan, Bantul, Yogyakarta, salah satu hasil produksi adalah guci. Pekerjaan dilakukan secara manual oleh operator sehingga mengalami kelelahan dan keluhan pada bagian tubuh dari dampak beban kerja yang ditimbulkan. Hal ini diketahui dengan dengan dilakukan pendahuluan dengan menggunakan kuesioner 30 itemkelelahan subjektif (dari IFRC). Penelitian ini difokuskan pada tingkat kelelahan operator dari dampak proses kerja bagian pembuatan guci. Penelitian menentukan pengaruh beban kerja terhadap tingkat kelelahan subjektif operator dengan menggunakan denyut nadi, %HR Reserve, %CVL, dan NORDIC, serta kondisi lingkungan kerja. Hasil pengukuran dan pengolahan data digunakan untuk merencanakan usulan alternatif mengurangi tingkat kelelahan operator. Hasil penelitian menunjukan rata-rata denyut nadi kerja pada rentangan umur 25-43 tahun adalah 108,12 dpm (beban kerja berat) dan didapatkan rata-rata %CVL operator adalah 32,54% (diperlukan perbaikan). Pengukuran kelelahan kerja subjektif dari IFRC didapatkan kelelahan 62%. Pengukuran NORDIC diperoleh keluhan nyeri paling sering muncul selama 12 bulan terahkir adalah 87,5% bagian leher, 75% pergelangan tangan kanan, 100% punggung atas, 75% pinggang, 100% lutut, dan 87,5% pergelangan kaki. Pengukuran NORDIC diperoleh keluhan nyeri hingga tidak dapat bekerja secara normal selama 12 bulan terahkir paling sering muncul adalah 25% bagian leher, 25% bahu kanan, 25% pergelangan tangan kanan, 50% punggung atas, 37,5% lutut, dan 37,5% pergelangan kaki. Pengukuran NORDIC diperoleh keluhan nyeri paling sering muncul selama 7 (tujuh) hari terahkir adalah 62,5% leher, 50% pergelangan tangan kanan, 75% punggung atas, 62,5% pinggang, 75% lutut, dan 87,5% pergelangan kaki. Pengukuran lingkungan kerja terhadap intensitas cahaya sebesar 207 Lux (aktivitas kerja kurang teliti), sedangkan pengukuran suhu udara didapatkan 30,3°C-33,4°C (suhu udara panas), dari dampak lingkungan kerja memberikan beban tambahan pada tingkat kelelahan operator. Diperlukan alternatif perancangan kondisi kerja yang sesuai dengan prinsip ergonomi yaitu suatu kondisi kerja yang meningkatkan kenyamanan dan produktivitas kerja. Kata Kunci: beban kerja, lingkungan kerja, kelelahan kerja, nordic