Jurnal Geosaintek
Jurnal GEOSAINTEK adalah jurnal yang dikelola oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ITS dan Departemen Teknik Geofisika ITS. Terbit pada bulan Januari-April, Mei-Agustus, dan Septermber-Desember pada setip tahunnya. Jurnal Goeaintek mempublikasi dan menerbitkan hasil kajian, penelitian, penerapan ilmu pengetahuan serta teknologi di bidang kebumian. Terbuka bagi peneliti, praktisi, serta akademisi dari berbagai lembaga.
Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"Vol 1, No 1 (2015)"
:
8 Documents
clear
Pemetaan Risiko Iklim sebagai Hasil Perumusan Aksi Adaptasi Perubahan Iklim Kabupaten Probolinggo
Amien Widodo;
Adjie Pamungkas;
Ketut Dewi Martha Erly;
Ummi Fadlilah K;
Nurlaili Humaidah
Jurnal Geosaintek Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (779.563 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v1i1.1197
Kabupaten Probolinggo sebagai salah satu kabupaten yang memiliki peran strategis dalam pengembangan wilayah Jawa Timur mulai merasakan adanya gejala-gejala perubahan iklim, seperti kenaikan muka air laut, cuaca ekstrim, kenaikan suhu udara, dan perubahan pola curah hujan. Dampak perubahan iklim ini mengakibatkan permasalahan pada sektor air bersih, kekeringan, banjir, peningkatan wabah penyakit, dan sebagainya. Kegiatan ini difokuskan kepada strategi dan rencana aksi adaptasi dampak perubahan iklim di kabupaten Probolinggo. Tindakan adaptasi adalah penyesuaian pada sistem alam dan sistem kehidupan manusia dalam merespon risiko dan peluang yang timbul dari perubahan iklim yang tidak dapat dihindari. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan profil risiko iklim terhadap sistem kota/kabupaten yang rapuh dan terpengaruh dari dampak perubahan iklim di Kabupaten Probolinggo. Strategi dan rencana aksi adaptasi Kabupaten Probolinggo dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu identifikasi dampak dari fenomena perubahan iklim, penentuan sistem kota yang rapuh, dan pemetaan risiko iklim tiap kecamatan menggunakan software ArcGIS berdasarkan skala kemungkinan dan skala konsekuensi dampak perubahan iklim terhadap sistem kota.
Pemetaan Daerah Rawan Longsor dengan Metode Penginderaan Jauh dan Operasi Berbasis Spasial, Studi Kasus Kota Batu Jawa Timur
Hana Sugiastu Firdaus;
Bangun Muljo Sukojo
Jurnal Geosaintek Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1339.247 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v1i1.1195
Jenis tanah pelapukan hasil letusan gunung api yang memiliki tingkat kesuburan tinggi terdapat di sebagian wilayah Indonesia. Komposisi tanah tersebut tersusun atas lempung dan sedikit pasir. Hal ini akan menimbulkan dampak negatif akan potensi tanah longsor jika tanah tersebut berada di atas batuan kedap air pada perbukitan dengan kemiringan sedang hingga terjal serta tidak ada tanaman keras berakar kuat. Fenomena tersebut dapat terjadi di daerah dengan topografi perbukitan seperti halnya di wilayah Kota Batu. Metode penginderaan jauh yang didasarkan pada citra satelit dapat digunakan untuk memetakan kawasan rawan longsor untuk wilayah yang relatif luas. Citra satelit menggambarkan reflektan dari objek di permukaan bumi yang di dalamnya terdiri dari komposisi beberapa band/kanal dengan rentang panjang gelombang tertentu. Komposit band dari citra digunakan untuk mempertajam objek sehingga memudahkan untuk melakukan klasifikasi tutupan lahan di permukaan bumi. Pemetaan zonasi area rawan longsor di Kota Batu didasarkan dari perhitungan bobot dan scoring tiap parameter longsor yang meliputi kondisi geologi, jenis tanah, curah hujan, tingkat kelerengan serta tutupan lahan hasil olahan citra satelit serta dilanjutkan dengan operasi spasial dari parameter tersebut. Hasil yang didapat menunjukan skor komulatif potensi tanah longsor di Kota Batu berkisar antara 1,55 – 3,65 yang didominasi oleh kategori rawan dengan luas area sekitar 125,97 km2. Pemetaan kawasan rawan longsor sangat diperlukan untuk membantu penetapan arahan kebijakan guna mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat longsor.
Penentuan Area Korosi Tanah Lokal Berdasarkan Resistivitas Tanah untuk Perancangan Sistem Proteksi Katodik
Dwa Desa Warnana;
Ary Iswahyudi;
Septa Erik Prabawa
Jurnal Geosaintek Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j25023659.v1i1.1198
Variasi korosi tanah lokal, diagnosis kelembapan, dan parameter fisika-kimia tanah telah diselidiki di lokasi rencana pembangunan produced water treatment plant dengan menggunakan pengukuran resistivitas, pH tanah dan air, serta pengujian parameter fisika-kimia air permukaan. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan penilaian terhadap sifat korosi tanah lokal dan rapat arus dalam tanah dalam mendesain sistem proteksi katodik. Dari hasil pengukuran diperoleh bahwa tanah permukaan secara umum bersifat tidak korosi, akan tetapi pada kedalaman 1,7 meter hingga 3,6 meter tanah bersifat sangat korosi dengan derajat keasaman tanah yang normal (pH = 7). Hal ini disebabkan muka air tanah yang dangkal dengan derajat keasaman air yang normal pula. Dengan demikian, kualitas air tanah merupakan penyebab utama korosi pipa baja yang tertanam jika tidak diproteksi. Untuk mencegah korosi dari instalasi pembangunan tersebut maka rapat arus proteksi yang dibutuhkan untuk melindungi pipa baja adalah 4,5 – 16 A m-2.
Estimasi Cadangan Batu Gamping di Desa Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik dengan Metode Resistivitas 2-Dimensi
Ayi S. Bahri;
Juan Pandu Gya Nur Rochman;
Sayyidatul Khoiridah;
Ary Iswahyudi
Jurnal Geosaintek Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1091.755 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v1i1.1194
Telah dilakukan survei geofisika dengan menggunakan metode resistivitas 2D untuk memperkirakan besar cadangan batu gamping yang ada di Desa Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Konfigurasi yang digunakan pada metode resistivitas 2D ada dua macam yaitu konfigurasi Dipole-dipole dan Wenner. Pembuatan lintasan dilakukan sebanyak 15 lintasan dengan panjang 300 meter dan 600 meter. Hasil interpretasi menunjukkan bahwa litologi penyusun batuan di daerah penelitian ada dua yaitu Formasi Madura yang berupa batu gamping terumbu dan Formasi Watukoceng yang merupakan napal berpasir. Formasi Madura memiliki nilai resistivitas di atas 240 Ωm dengan ketebalan lapisan bervariasi antara 20–35 meter. Sedangkan Formasi Watukoceng mempunyai nilai resistivitas kecil yaitu di bawah 240 Ωm dengan kedalaman antara 20-50 meter. Nilai resistivitas terbesar yaitu di atas 3000 Ωm yang menunjukkan adanya gua bawah permukaan di daerah penelitian. Cadangan potensi batu gamping yang didapatkan dari hasil perhitungan pada penelitian ini yaitu sebesar ±41.500.000 ton.
Potensi Geowisata Bukit Jamur Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur
Wijaya, I Putu Krishna;
Widodo, Amien
Jurnal Geosaintek Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (575.371 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v1i1.1199
Informasi geologi pada umumnya digunakan untuk kepentingan eksplorasi dalam bidang energi, pertambangan, keteknikan, dan lingkungan. Padahal dalam bidang pariwisata informasi geologi juga dapat digunakan untuk mendukung pengembangan suatu kawasan pariwisata khususnya wisata alam. Bukit Jamur di Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik memiliki keunikan dan nilai estetika yang layak untuk dijadikan sebagai suatu lokasi wisata. Bukit Jamur juga menarik dari sisi geologi karena merupakan bagian dari puncak antiklin yang telah tererosi. Bukit Jamur tersusun atas batu pasir karbonatan dan batu gamping terumbu (bafflestone) yang diinterpretasikan terbentuk di lingkungan reef front. Oleh karena itu, kawasan ini sangat berpotensi untuk dijadikan kawasan geowisata, laboratorium alam, dan sebagai tempat pembelajaran struktur geologi, stratigrafi, petrologi karbonat dan mix-silisiklastik maupun kuliah lapangan terutama bagi mahasiswa geosains.
Aspek-Aspek Geodetik dalam Hukum Laut
Joko Hartadi
Jurnal Geosaintek Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (679.256 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v1i1.1193
Pada tahun 1982 Konvensi PBB Tentang Hukum Laut III mengakui bahwa lebar laut teritorial Negara kepulauan adalah 12 mil dengan lebar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) selebar 200 mil. Menurut konvensi tersebut setiap Negara harus melaporkan koordinat batas-batas, baik batas laut teritorial maupun batas ZEE. Masalah yang dihadapi Indonesia adalah koordinat batas yang dilaporkan bukan merupakan mengukuran langsung di lapangan tetapi diperoleh dari perhitungan di peta. Di masa depan koordinat yang dilaporkan harus diperoleh melalui pengukuran langsung di lapangan.
Aplikasi Ensemble Empirical Mode Decomposition (EEMD) pada Sinyal Mikroseismik untuk Identifikasi Dinamika Hidrotermal Bawah Permukaan, Studi Kasus Daerah Potensi Geotermal Gunung Lamongan Jawa Timur
Tri Martha Kusuma Putra;
Widya Utama;
Makky S. Jaya
Jurnal Geosaintek Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (945.974 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v1i1.1192
Proses reduksi noise sinyal non-linear dan non-stasioner dilakukan dengan mendekomposisi data atau sinyal utama menjadi sejumlah sinyal yang disebut IMF (Intrinsik Mode Function). Metode reduksi noise yang digunakan adalah Empirical Mode Decomposition (EMD). EMD menguraikan sinyal seismik menjadi beberapa osilasi komponen intrinsik. Setiap komponen dari Fungsi Mode intrinsik (IMF) memiliki frekuensi yang bervariasi sesuai dengan karakteristik wilayah. Metode Ensemble Empirical Mode Decomposition (EEMD) sebagai pengembangan dari metode Empirical Mode Decomposition (EMD) yang dikembangkan oleh Zhaohua Wu dan Norden E. Huang (2009). Proses reduksi noise menggunakan metode EEMD digunakan untuk mendapatkan even lokal. Even lokal diasumsikan sebagai even yang berasal dari dinamika hidrotermal bawah permukaan. Studi kasus penelitian ini adalah wilayah potensi geotermal Gunung Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Akusisi dilakukan selama 24 jam pada tanggal 10 Mei 2011 menggunakan 5 stasiun mikroseismik. Alat mikroseismik merupakan alat DSS Cube EDL yang dikembangkan oleh GFZ memiliki pita frekuensi 4,5 – 120 Hz. Tercatat terdapat 8 even lokal dan 1 even regional yang berasal dari gempa tektonik. Gempa tektonik yang tercatat merupakan gempa yang terjadi di utara Molucca. Penentuan even lokal didasarkan pada 2 kriteria utama yaitu rentang jeda waktu gelombang P antar stasiun (0,3 – 0,5 detik) dan memiliki frekuensi rendah antara 1 hingga 6 Hz. Jeda waktu antar stasiun terjadi karena adanya perbedaan jarak antar stasiun dan kondisi bawah permukaan. Hasil analisa dapat dilakukan delineasi daerah seismik aktif yang berada di bagian utara Gunung Lamongan. Tampak adanya pola kerucut dan kemunculan manifestasi yang memperkuat bahwa adanya dinamika hidrotermal yang sebagian besar di bagian utara Gunung Lamongan. Hasil penelitian ini merupakan studi pendahuluan untuk melakukan metode pengukuran mikroseismik dengan pita frekuensi yang lebih lebar (0,001 – 2000 Hz) dan sebagai refrensi untuk akusisi metode geofisika lebih lanjut.
APLIKASI METODE SEISMIK REFRAKSI DAN MASW UNTUK LINTASAN TEROWONGAN. STUDI KASUS : WILAYAH “SMBR”
Moch Lutfi Zakaria;
Warnana Dwa Desa;
Nefrizal Nefrizal
Jurnal Geosaintek Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j25023659.v1i1.3993
Metode seismik refraksi telah banyak digunakan untuk rekayasa bawah permukaan dalam mengidentifikasi struktur dan stratigrafi dengan memanfaatkan perbedaan elastic properties pada batuan. Pada penelitian seismik refraksi diterapkan untuk analisa bawah permukaan dalam penentuan jalur terowongan. Terowongan yang direncanakan melewati perbukitan di wilayah SMBR sangat penuh dengan resiko geologi seperti adanya struktur dan zona weathering layer. Panjang lintasan akuisisi ini sepanjang 1800 m dengan 38 titik tembak. Dari hasil pengolahan data diperoleh 3 buah lapisan, Lapisan pertama adalah soil atau tanah residual dengan rentang velocity 300-1200 m/s, pada lapisan kedua terdapat sandstone dengan rentang nilai velocity 1800 – 3100 m/s dan pada lapisan ketiga terdapat lapisan siltstone dengan rentang 2400-4400 m/s. Selain itu terdapat struktur berupa patahan pada meter ke-1105. Berdasarkan data bor sampai kedalaman 50 m dominan terdapat sandstone sehingga sering terjadi lose. Dengan mengetahui kondisi bawah permukaan diharapkan proses konstruksi menjadi lebih efektif dan menurunkan risiko kecelakaan kerja.=====================================================Seismic refraction methods have been widely used to analyze some of the elastic properties of rocks. In this study, improvements were made to the subsurface analysis in determining the tunnel path. The tunnel that is separated in the hills in the area of SMBR is very complete with geological risks as well as zone structure and weathering layers. The length of this line is 1800 m long with 38 shoot points. From the data processing obtained 3 layers, the first layer is the ground or residual soil with a velocity of around 300-1200 m / s, in the second layer there is sandstone with an average velocity range 1800 - 3100 m / s and on the layer of soil there is a layer siltstone with range 2400-4400 m / sec. In addition there is a fracture structure on 1105. Based on borehole data with a depth of 50 m dominant there is sandstone, often a loss. By knowing the subsurface condition is expected to make the construction process more effective and reduce the risk of work accident.