cover
Contact Name
Very Julianto
Contact Email
jpsi@uin-suka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
very_psi07@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Psikologi Integratif
ISSN : 23562145     EISSN : 25807331     DOI : -
Core Subject : Social,
This journal is focusing on providing the public with understandings of integrated psychological studies and presenting researches and developments in psychology by articles and reviews. Psikologi Integratif scopes in particular psychological studies in general studies and integrated studies. This journal intends to bring up current issues in psychology subject by contributing to public with researches from psychology and related disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 194 Documents
Forgiveness dengan Altruisme pada Santri Pondok Pesantren Shofiyyah; Suryani, Suryani
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 2 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i2.3436

Abstract

Altruism behavior is an important aspect that every santri needs to have as a form of survival in living in a group life in an Islamic boarding school. One of the factors contributing to the emergence of altruism behavior is forgiveness, defined as an individual’s capacity to forgive. This study aims to examine the relationship between forgiveness and altruism among santri in Islamic boarding school students. This research employed a quantitative correlational approach. The subjects of the study were students of the boarding school in Surabaya at the Wustho and Ulya Formal Diniyah Education levels who live in dormitories. The sampling technique was simple random sampling, with a total of 270 respondents. The instrument used was an adaptation of the Self Report Altruism Scale and the Heartland Forgiveness Scale. Data analysis used a simple linear regression technique. The findings indicate a significant positive relationship between forgiveness and altruism, suggesting that higher levels of forgiveness among santri are associated with higher levels their altruism behavior. Conversely, the lower the level of forgiveness, the lower the altruism shown by students.   Perilaku altruisme merupakan aspek penting yang perlu dimiliki setiap santri sebagai bentuk kebertahanan hidup dalam menjalani kehidupan berkelompok di pondok pesantren. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap munculnya perilaku altruisme adalah forgiveness, yakni sikap memaafkan yang dimiliki individu. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui hubungan forgiveness dengan altruisme pada santri pondok pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Subjek penelitian adalah santri pondok pesantren di Surabaya pada jenjang Pendidikan Diniyah Formal Wustho dan Ulya yang tinggal di asrama. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling dengan jumlah responden sebanyak 270 orang. Instrumen yang digunakan merupakan adaptasi dari Self Report Altruism Scale dan Heartland Forgiveness Scale. Analisis data menggunakan regresi linier sederhana. Temuan penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara forgiveness dengan altruisme, yang berarti bahwa semakin tinggi tingkat forgiveness yang dimiliki santri, maka semakin tinggi pula perilaku altruismenya. Sebaliknya, semakin rendah tingkat forgiveness, maka semakin rendah pula altruisme yang ditunjukkan oleh santri.
Intensitas Komunikasi dan Mood Pasca Makan terhadap Perilaku Konsumsi Junk Food pada Komunitas Kuliner di Twitter Putri, Qonita Aristawidya; Syahreni, Nabila Dwi; Erdhika, Kanayla Raffa; Yanti, Avrilia Dewi; Lusiana, Nova
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 2 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i2.3469

Abstract

The consumption of junk food has been increasing among adolescents and young adults, along with the growth of food-related communities on social media that shape consumption norms and individuals’ emotional experiences after eating. Intense social interactions within online communities and post-meal affective states are assumed to play an important role in reinforcing junk food consumption as part of a lifestyle. This study examined the effects of communication intensity in a Twitter-based food community and post-meal mood on junk food consumption behavior. A quantitative survey method was applied to 103 community members selected through purposive sampling, using the Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ), the Food-Related Mood Scale (FDMS), and a researcher-modified communication intensity scale. Multiple linear regression analysis revealed that communication intensity (β=0.443; p<0.05) and post-meal mood (β=0,289; p<0,05) had significant positive effects and jointly explained 38.2% of the variance in junk food consumption behavior. These findings highlight the role of digital communities in shaping consumption norms and emphasize the importance of mood as a trigger in the emotional cycle of eating behavior. Food-related online communities have the potential to be optimized as collaborative nutrition education platforms to promote healthier eating patterns and enhance psychological awareness after consumption.   Perilaku konsumsi junk food semakin meningkat di kalangan remaja dan dewasa muda, seiring dengan berkembangnya komunitas kuliner di media sosial yang turut membentuk norma konsumsi serta pengalaman emosional individu setelah makan. Interaksi sosial yang intens dalam komunitas daring dan kondisi afektif pasca mengonsumsi makanan diduga berperan penting dalam memperkuat kecenderungan konsumsi junk food sebagai bagian dari gaya hidup. Penelitian ini menganalisis pengaruh intensitas komunikasi pada komunitas kuliner di Twitter dan mood pasca makan terhadap perilaku konsumsi junk food. Metode kuantitatif survei diterapkan pada 103 anggota komunitas (purposive sampling) menggunakan instrumen DEBQ (perilaku makan), FDMS (mood pasca makan), dan skala intensitas komunikasi yang telah dimodifikasi oleh peneliti. Analisis regresi linier berganda mengungkapkan bahwa intensitas komunikasi (β=0,443; p<0,05) dan mood pasca makan (β=0,289; p<0,05) berpengaruh positif signifikan, serta secara bersama-sama menjelaskan 38,2% variasi perilaku konsumsi junk food. Temuan menegaskan peran komunitas digital dalam membentuk norma konsumsi serta pentingnya mood sebagai pemicu siklus emosional dalam perilaku makan. Komunitas pecinta kuliner berpotensi dioptimalkan sebagai sarana edukasi gizi kolaboratif untuk mendorong pola makan yang lebih sehat dan meningkatkan kesadaran psikologis pasca konsumsi.
The Impact of Cross-Cultural Adjustment and Intercultural Sensitivity on Intergroup Bias in Migrant Students Soedarmadi, Yanies Novira; Nurjaman, Tabah Aris
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 14 No. 1 (2026): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/qa5gt961

Abstract

Issues faced by migrant students, such as misperceptions, prejudice, and discrimination, can lead to intercultural conflicts and physical violence that warrant further investigation. This study aimed to examine the contributions of cross-cultural adjustment and intercultural sensitivity to intergroup bias among migrant students in the Special Region of Yogyakarta. Participants included 96 migrant students residing outside the Special Region of Yogyakarta with diverse ethnic cultural backgrounds, selected via purposive sampling. The measurement instruments comprised the Cross-Cultural Adjustment Scale, the Intercultural Sensitivity Scale, and the Intergroup Bias Scale. Data were analyzed using multiple regression. Results indicated a significant effect of cross-cultural adjustment and intercultural sensitivity on intergroup bias among migrant students (F = 40.404; df = 2; p < .001). The combined contribution of cross-cultural adjustment and intercultural sensitivity to the reduction of intergroup bias was 46.5%. Beberapa isu yang dihadapi mahasiswa perantau seperti kesalahan persepsi, prasangka, dan diskriminasi dapat menyebabkan munculnya konflik antarbudaya dan kekerasan fisik yang perlu untuk dikaji lebih jauh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kontribusi penyesuaian lintas budaya dan sensitivitas antarbudaya terhadap intergroup bias pada mahasiswa perantau di Daerah Istimewa Yogyakarta. Subjek penelitian terdiri dari 96 orang mahasiswa perantau yang berdomisili di luar Daerah Istimewa Yogyakarta dengan latar belakang suku budaya berbeda, yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan dalam pengukuran adalah Skala Penyesuaian Lintas Budaya, Skala Sensitivitas Antarbudaya dan Skala Intergroup Bias. Analisis data menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh negatif variabel penyesuaian lintas budaya dan sensitivitas antar budaya terhadap intergroup bias pada mahasiswa perantau (F = 40.404; df = 2; p < .001). Kontribusi penyesuaian lintas budaya bersama dengan sensitivitas antarbudaya terhadap penurunan intergroup bias adalah sebesar 46,5%.
Fenomena “Marriage is Scary”: Ketakutan Generasi Z terhadap Pernikahan di Era Digital Itaqitafuzhi, Layyinatussania; Jayanti, Anissa Dwi; Puspito, Ixy Osteoni; Devi, Azari Fidella; Azizah, Lely Nur
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 14 No. 1 (2026): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/d24wth63

Abstract

The emergence of the “Marriage is Scary” narrative among Generation Z reflects changing perspectives on marriage in the digital era. This study aims to explore how Generation Z interprets their fear of marriage and the social experiences that shape these perceptions. This research used a qualitative phenomenological approach involving five Generation Z participants aged 18–21 years selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured interviews and analyzed using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The findings identified five main themes: fear of marital risks, doubts and unpreparedness for marriage, concerns about relationship quality, the influence of social environment and patriarchal culture, and the impact of social media. These findings indicate that fear of marriage among Generation Z is shaped by personal experiences, social observations, and digital narratives. Munculnya narasi “Marriage is Scary” di kalangan Generasi Z menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap pernikahan di era digital. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana Generasi Z memaknai ketakutan terhadap pernikahan serta pengalaman sosial yang membentuk persepsi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Lima informan Generasi Z berusia 18–21 tahun dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian mengidentifikasi lima tema utama, yaitu ketakutan terhadap risiko pernikahan, keraguan dan ketidaksiapan menikah, kekhawatiran terhadap kualitas hubungan, pengaruh lingkungan sosial dan budaya patriarki, serta pengaruh media sosial terhadap persepsi pernikahan. Temuan ini menunjukkan bahwa ketakutan terhadap pernikahan dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, pengamatan sosial, dan paparan narasi digital.