cover
Contact Name
Very Julianto
Contact Email
jpsi@uin-suka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
very_psi07@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Psikologi Integratif
ISSN : 23562145     EISSN : 25807331     DOI : -
Core Subject : Social,
This journal is focusing on providing the public with understandings of integrated psychological studies and presenting researches and developments in psychology by articles and reviews. Psikologi Integratif scopes in particular psychological studies in general studies and integrated studies. This journal intends to bring up current issues in psychology subject by contributing to public with researches from psychology and related disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 192 Documents
Eksplorasi Gambaran Flow Experience Pada Pemain Game Online Al Sahid, M. Daiva Abhinaya; Rendy Alfianoor Achmad; Salsabila; Miftah Nadiah Salma; Noor Asyifa Aridha; Siti Sauva Salsabila
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 1 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i1.3313

Abstract

This research examines description of Flow Experience on online gaming experiences. The study aims to explore the depiction of experiences based on the 9 dimensions of Flow Experience for individuals who play online games. The topic of this research is important because the large number of people playing online games in today's digital age can trigger deep experiences related to engagement or full focus while playing, which can impact their experiences, behavior, and daily lives, either positively or negatively. Internet usage in Indonesia has grown rapidly, with most people using it to play online games as a means of communication, self-expression, and entertainment. This study uses a qualitative method in its research. Data collection was conducted on 10 participants selected through purposive sampling techniques. The results of this study indicate the influence of flow experience on online gaming, leading to full engagement, high concentration, and a loss of time perception among players. Practical implications that can be undertaken include the need for education on digital literacy, time management, and strengthening positive social interactions in games to ensure that the gaming experience remains adaptive and supports psychological well-being.   Penelitian ini mengkaji gambaran Flow Experience terhadap pengalaman bermain game online. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi gambaran pengalaman berlandaskan dari 9 dimensi Flow Experience terhadap individu yang bermain game online. Topik penelitian ini penting karena banyaknya orang yang bermain game online di masa digitalisasi sekarang dapat memicu terjadinya pengalaman mendalam terkait keterlibatan atau fokus secara penuh saat melakukan permainan sehingga dapat berdampak terhadap pengalaman, perilaku, dan keseharian baik secara positif atau negatif. Penggunaan internet di Indonesia telah berkembang pesat, dengan sebagian besar masyarakat memanfaatkannya untuk bermain game online sebagai sarana komunikasi, ekspresi diri, dan hiburan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalam penelitiannya. Penggalian data dilakukan kepada 10 partisipan yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peran flow experience terhadap pengalaman bermain game online yang menyebabkan munculnya keterlibatan penuh, konsentrasi tinggi, dan hilangnya persepsi waktu pada pemain. Implikasi praktis yang dapat dilakukan adalah perlunya edukasi tentang literasi digital, manajemen waktu, dan penguatan interaksi sosial positif dalam game untuk memastikan pengalaman bermain tetap adaptif dan mendukung kesejahteraan psikologis maupun sosial pemain.  
Pelatihan Remaja Tangguh Untuk Menurunkan Homesickness Santri Di Pondok Pesantren Lisnawati; Rahma, Salsabila Aulia
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 1 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i1.3326

Abstract

Homesickness is a problem that often occurs in students who live in dormitories, including Islamic boarding schools. Resilience is a protective factor in cases of homesickness. The Resilient Youth Training was prepared by researchers based on the concept of resilience to help deal with the problem of homesickness. This research aims to determine the effectiveness of Resilient Youth Training in reducing the level of homesickness in participants. Participants consisted of 18 students aged 12-15 years who were divided into experimental and control groups with 9 participants each. The research design is a two-group pretest and posttest design. Data collection used the Homesickness Questionnaire in the Likert model. Data analysis used the Mann Whitney U-Test, Wilcoxon Signed Rank Test and N-Gain-Score. The results showed significant differences between the experimental and control groups (post-test: p=.012; follow-up: p=0.000). Resilient Youth Training was effective in reducing the level of homesickness in research participants (pretest-posttest: p=0.001; posttest-follow-up: p=0.002), with an N-Gain Score of 52.1%   Homesickness merupakan permasalahan yang sering terjadi pada siswa yang tinggal di asrama, termasuk pondok pesantren. Ketangguhan atau resiliensi menjadi salah satu faktor protektif pada kasus homesickness. Pelatihan Remaja Tangguh disusun peneliti berdasar konsep resiliensi untuk membantu menangani permasalahan homesickness. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Pelatihan Remaja Tangguh dalam menurunkan tingkat homesickness pada partisipan. Partisipan terdiri dari 18 santri berusia 12-15 tahun yang terbagi menjadi kelompok eksperimen dan kontrol dengan masing-masing berjumlah 9 partisipan. Desain penelitian adalah two-group pretest and posttest design. Pengumpulan data menggunakan Kuesioner Homesickness model Likert. Analisis data menggunakan Mann Whitney U-Test, Wilcoxon Signed Rank Test dan N-Gain-Score. Hasil menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol (post-test: p=0.012; follow-up: p=0.000). Pelatihan Remaja Tangguh efektif dalam mengurangi tingkat homesickness pada partisipan penelitian (pretest-posttest: p=0.001; posttest-follow-up: p=0.002), dengan N-Gain Score sebesar 52.1%.
Resiliensi Santri: Studi Internet Addiction pada Generasi Alpha Subahri, Bambang; Said, Imam Ghazali
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 1 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i1.3236

Abstract

This research examines the academic resilience of Alpha generation students who experience internet addiction, with a focus on the impact of digital technology on their psychological development in the Islamic boarding school environment. In addition, this study also seeks to understand the mechanism of students’ resilience in fighting the challenges of internet addiction, to support their personality development and achievement in the digital era. This study uses a qualitative case study approach to explore factors such as social support, coping skills, religiosity, and Islamic boarding school values ​​that offer solutions based on Islamic psychology to strengthen the mental resilience of students in the digital era. The conclusion of this study states that internet addiction among students has a significant impact on their ability to adapt to more discipline and limited access to technology in Islamic boarding school life. Dependence on the internet causes students to feel isolated, anxious, and frustrated which hinders their resilience in facing academic and social challenges in a new environment. However, Islamic Boarding Schools address this problem with character-building programs that emphasize discipline and responsibility and provide Islamic guidance and counselling services that help identify and overcome internet addiction, as well as alternative facilities such as sports. Arts are also offered to distract students from excessive internet use, support the development of interests and talents, and strengthen their academic resilience.Penelitian ini mengkaji resiliensi akademik santri generasi Alpha yang mengalami kecanduan internet, dengan fokus pada dampak teknologi digital terhadap perkembangan psikologis mereka di lingkungan pondok pesantren. Selain itu, penelitian ini juga berupaya memahami mekanisme resiliensi santri dalam menghadapi tantangan kecanduan internet, guna mendukung perkembangan kepribadian dan pencapaian prestasi mereka di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus untuk mengeksplorasi faktor-faktor seperti dukungan sosial, keterampilan coping, religiusitas dan nilai kepesantrenan yang menawarkan solusi berbasis psikologi islam untuk memperkuat ketahanan mental. Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa kecanduan internet di kalangan santri, menunjukkan dampak signifikan terhadap kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan kehidupan pesantren yang lebih disiplin dan terbatas akses teknologi. Ketergantungan pada internet menyebabkan santri merasa terisolasi, cemas dan frustrasi yang menghambat resiliensi mereka dalam menghadapi tantangan akademik dan sosial di lingkungan yang baru. Namun demikian, Pondok Pesantren mengatasi masalah ini dengan program pembinaan karakter yang menekankan disiplin dan tanggung jawab, serta menyediakan layanan bimbingan dan konseling islam yang membantu mengidentifikasi serta mengatasi kecanduan internet, juga fasilitas alternatif seperti olahraga dan seni juga diberikan untuk mengalihkan perhatian santri dari penggunaan internet berlebihan, mendukung pengembangan minat dan bakat, serta memperkuat resiliensi akademik mereka.
Prevalence and Risk Factors of Emotional Mental Disorder Among University Students: A Cross-Sectional Study Habibah, Umrohtul; Syakurah, Rizma Adlia; Aini, Syarifah; Ikhsan, Diyaz Syauki; Zulissetiana, Eka Febri
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 1 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i1.3177

Abstract

Emotional mental health issues among university students have shown an increasing trend over time, reaching concerning levels when compared to the general population. Early detection is very important for the university as an early intervention to improve students’ mental health. This study used an analytic observational design with a cross-sectional approach. A total of 1564 students from 10 faculties of Sriwijaya University filled in the SRQ-29 questionnaire online via social media from January 2020 – 27 August 2020.  The obtained data were analyzed using the Mann Whitney, Chi-Square, and Binary Logistic Regression Test with a significance value of p<0.05. As much as 56.6% of the students experienced symptoms of neurosis, 75.6% had symptoms of PTSD, 55% had psychotic symptoms, while 1.2% had symptoms of substance abuse. Students with a history of chronic disease are more susceptible to experience emotional mental disorders (86%). Gender, faculty, domicile, history of chronic disease and history of mental disorders in the family significantly affected emotional disorders (p <0.05). Universities need to provide mental health facilities that are managed by professionals and ensure the confidentiality of data in their environment.Permasalahan kesehatan mental emosional di kalangan mahasiswa menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu, bahkan pada tingkat yang mengkhawatirkan jika dibandingkan dengan populasi umum. Deteksi dini sangat penting bagi universitas sebagai intervensi dini untuk meningkatkan kesehatan mental mahasiswa. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 1564 mahasiswa dari 10 fakultas Universitas Sriwijaya mengisi kuesioner SRQ-29 secara online melalui media sosial dari Januari 2020 – 27 Agustus 2020. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Mann Whitney, Chi-Square, dan Uji Regresi Logistik Biner dengan nilai signifikansi p<0,05. Sebanyak 56,6% siswa mengalami gejala neurosis, 75,6% mengalami gejala PTSD, 55% mengalami gejala psikotik, sedangkan 1,2% mengalami gejala penyalahgunaan zat. Mahasiswa dengan riwayat penyakit kronis lebih rentan mengalami gangguan mental emosional (86%). Jenis kelamin, fakultas, domisili, riwayat penyakit kronis dan riwayat gangguan jiwa dalam keluarga berpengaruh signifikan terhadap gangguan emosi (p<0,05). Perguruan tinggi perlu menyediakan fasilitas kesehatan jiwa yang dikelola secara profesional dan menjamin kerahasiaan data di lingkungannya.
Spiritualitas Agnostik: Eksistensi dan Pemaknaan Pandangan Non-Religi di Indonesia Theodorus Chrisna Bagas Adiyoso; Ratri Sunar Astuti
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 2 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i2.3371

Abstract

Spirituality in Indonesia, often associated with religious adherents, becomes a separate question when associated with agnosticism. This study aims to describe the spirituality of agnostic individuals in Indonesia and its factors. Qualitative research methods were used, including deductive and inductive approaches, and the data was analyzed using the qualitative content analysis method. The data were obtained through semi-structured interviews with three agnostic individuals in Indonesia. The results showed that the three participants viewed God as existing but did not see from a religious perspective. The participants had illogical experiences and were associated with transcendent dimensions and luck. Informants have a life goal to be kind to others and are based on rationality and transcendent values. Informants consider that doing good is an observance of God. All three informants have been interested in philosophical views other than agnosticism. The factors underlying conversion and maintaining agnosticism in Indonesia are being critical of religious teachings and their adherents, not caring about people's comments, being kind without being religious, having a religion administratively, and being accepted by society. Based on their experiences and feelings, the three informants had experienced negative stigma from their social environment but felt free from religious demands.   Spiritualitas yang sering dikaitkan dengan umat beragama menjadi pertanyaan tersendiri jika dikaitkan dengan agnostisisme, khususnya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran spiritualitas dan faktor pada individu agnostik di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deduktif dan induktif, serta dianalisis dengan metode Analisis Isi Kualitatif (AIK). Data dalam penelitian ini didapatkan melalui wawancara semi-terstruktur pada tiga individu agnostik di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan ketiga informan memandang Tuhan itu ada tetapi tidak melihatnya dari perspektif agama. Ketiga informan mengakui pernah memiliki pengalaman yang tidak logis dan dikaitkan dengan dimensi transenden serta keberuntungan. Ketiganya memiliki tujuan hidup untuk berbuat baik pada sesama dan berprinsip pada rasionalitas serta nilai transenden. Ketiga informan menganggap bahwa berbuat baik adalah praktik spiritual kepada Tuhan. Ketiga informan mengaku pernah tertarik pada pandangan filosofis selain agnostisisme. Ditemukan pula faktor yang mendasari konversi dan alasan mempertahankan pandangan agnostisisme di Indonesia, yakni kritis terhadap ajaran agama dan penganutnya, tidak peduli pada komentar orang lain, dapat berbuat baik tanpa beragama, memiliki agama secara administratif, serta dimaklumi oleh lingkungannya. Berdasarkan pengalaman dan perasaan, ketiga informan pernah mendapat stigma negatif dari lingkungan sosial tetapi merasa bebas dari tuntutan agama.
Collaborative Religious Coping as a Mediator Between Attachment to God and Forgiveness Ahmad, Adib; Muslimah, Hanifah Latif; Agustina, Putri Triana
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 2 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i2.3585

Abstract

This research aims to investigate the mediating role of collaborative religious coping in the relationship between attachment to God and forgiveness. The sample consists of 198 students from one of the faculties at a leading state university (PTN) in Indonesia, located in Yogyakarta. Three scales were administered: the Forgiveness Scale, the Attachment to God Scale, and the Collaborative Religious Coping Scale. The results of the structural equation model regression analysis showed that collaborative religious coping mediating the relationship between attachment to God and forgiveness. Attachment to God has a significant positive effect on collaborative religious coping and forgiveness. However, collaborative religious coping did not have a significant effect on forgiveness, so the mediating effect of collaborative religious coping in the relationship between attachment to God and forgiveness was not significant. These findings imply that a personal and secure attachment to God may serve as an independent spiritual resource that directly fosters forgiveness, suggesting that the role of collaborative religious coping may be more situational than central. The discussion explores the underlying reasons for these outcomes, providing a deeper understanding of the dynamics at play. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki peran mediasi koping religius kolaboratif dalam hubungan antara kelekatan terhadap Tuhan dan pemaafan. Sampel terdiri dari 198 mahasiswa dari salah satu fakultas di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terkemuka di Indonesia, yang berlokasi di Yogyakarta. Tiga skala yang digunakan: Skala Pemaafan, Skala Kelekatan terhadap Tuhan, dan Skala Koping Religius Kolaboratif. Hasil analisis regresi model persamaan struktural menunjukkan bahwa koping religius kolaboratif memediasi hubungan antara kelekatan terhadap Tuhan dan pemaafan. Kelekatan terhadap Tuhan berpengaruh positif signifikan terhadap koping religius kolaboratif dan pemaafan. Namun, koping religius kolaboratif tidak berpengaruh signifikan terhadap pemaafan, sehingga efek mediasi tidak signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa kelekatan yang aman kepada Tuhan dapat berfungsi sebagai sumber daya spiritual yang berdiri sendiri dan secara langsung menumbuhkan kemampuan memaafkan, sehingga peran collaborative religious coping lebih bersifat situasional daripada menjadi faktor utama. Diskusi studi ini menggali alasan yang mendasari hasil tersebut untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika yang terjadi. 
Quarter-life Crisis ditinjau dari Intoleransi Ketidakpastian pada Emerging Adult dengan Coping Religius sebagai Moderator Rifqa Amalia Azzyati; Nida Ul Hasanat
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 2 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i2.3410

Abstract

Quarter-life crisis refers to a psychological crisis characterized by confusion in identity exploration, feelings of helplessness, and anxiety related to future uncertainty experienced during emerging adulthood. Religious coping is viewed as one of the strategies used to manage psychological crises. This study explored the moderator effect of religious coping between intolerance of uncertainty and quarter-life crisis among emerging adults in Indonesia. Using a quantitative approach, data were collected through a survey involving 301 participants, employing the Quarter-Life Crisis Scale, the Indonesian version of IUS-12, and the Indonesian version of Brief RCOPE. Based on Moderated Regression Analysis (MRA), religious coping did not function as a moderator between intolerance of uncertainty and quarter-life crisis. Multiple regression analysis revealed that religious coping and intolerance of uncertainty jointly served as variables that significantly predicted of quarter-life crisis.   Quarter-life crisis merujuk pada krisis psikologis yang ditandai dengan kebingungan dalam eksplorasi identitas, perasaan tidak berdaya, dan kecemasan mengenai ketidakpastian masa depan yang cenderung dialami pada fase emerging adulthood. Sementara itu, coping religius dipandang sebagai salah satu upaya untuk mengatasi krisis psikologis. Penelitian ini mengeksplorasi peran coping religius sebagai moderator antara intoleransi ketidakpastian serta quarter-life crisis pada emerging adult di Indonesia. Dengan pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan melalui survei terhadap 301 partisipan menggunakan Skala Quarter-life Crisis, IUS-12 versi Indonesia, dan Brief RCOPE versi Indonesia. Berdasarkan Moderated Regression Analysis (MRA), coping religius tidak berperan sebagai moderator antara intoleransi ketidakpastian dan quarter-life crisis. Dari analisis regresi ganda, coping religius dan intoleransi ketidakpastian bersama-sama berperan signifikan sebagai prediktor quarter-life crisis.
Peran Problem-Focused Coping dan Family Protective Factors dalam Membangun Resiliensi Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus Agustina, Menik Tetha; Trisnadewi, Benedicta Audrey Putri; Kumalasari, Ervina
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 2 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i2.3421

Abstract

Parents of children with special needs face ongoing challenges, including high caregiving demands, prolonged stress, and the need to adjust parenting expectations. This study examines the role of problem-focused coping and family protective factors in predicting parental resilience. Participants were 83 parents of children with physical or psychological developmental disorders receiving services at YPAC Semarang, selected through purposive sampling. Data were collected using the Inventory of Family Protective Factors (IFPP), Brief-Coping Orientation to Problems Experienced Inventory (Brief-COPE), and the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Pearson correlation analysis showed that problem-focused coping and family protective factors were positively associated with resilience (r = .317 and r = .153). Multiple regression analysis indicated that both variables significantly predicted parental resilience simultaneously (R = .371, p < .01), contributing 13.8% of the variance (R² = .138). The findings suggest that parental resilience is a multidimensional construct influenced by coping strategies, family strengths, and other psychological and contextual factors. Strengthening problem-focused coping and enhancing family protective factors may therefore support resilience development among parents of children with special needs.   Orang tua anak berkebutuhan khusus menghadapi tuntutan pengasuhan yang tinggi, stres berkepanjangan, serta penyesuaian strategi pengasuhan. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran koping berfokus masalah dan faktor perlindungan keluarga terhadap resiliensi orangtua. Subjek penelitian berjumlah 83 orang tua anak dengan gangguan perkembangan fisik atau psikologis di YPAC Semarang yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan IFPP, Brief-COPE, dan CD-RISC. Hasil analisis korelasi menunjukkan hubungan positif antara koping berfokus masalah dan faktor perlindungan keluarga dengan resiliensi (r = .317; r = .153). Analisis regresi berganda menunjukkan kedua variabel secara simultan memprediksi resiliensi secara signifikan (R = .371; p < 0,01) dengan kontribusi sebesar 13,8% (R² = .138). Hasil penelitian menegaskan bahwa resiliensi orangtua merupakan konstruk multidimensional yang dipengaruhi oleh strategi koping, kekuatan keluarga, dan faktor psikososial lainnya. Oleh karena itu, penguatan koping adaptif dan faktor perlindungan keluarga penting dalam meningkatkan resiliensi orangtua anak berkebutuhan khusus.
Penyusunan Alat Ukur Kesiapan Menghadapi Kematian dalam Perspektif Islam Arsita, Dina; Ruhaena, Lisnawati; Azahra, Fathia Fitri; Fitri, Rindifa Amilatul; Aulia, Ranisya Wilda; Purwandari, Eny
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 2 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i2.3510

Abstract

This study aims to develop a valid and reliable instrument to measure preparedness for death from an Islamic perspective. This measurement tool is essential for Muslim communities as it incorporates Islamic religious values. The research was conducted in three stages: literature review, semi-structured interviews, and blueprint development. The collected data were analyzed using Exploratory Factor Analysis (EFA) to examine the factor structure and construct validity of the instrument. The initial blueprint consisted of 55 items, which were reduced to 20 items after content validity assessment by seven experts (three Islamic scholars and four psychologists). The instrument was administered to 205 respondents. The EFA results refined the scale from four factors and 20 items to two factors and 19 items. The findings indicate that preparedness for death in Islam comprises two dimensions: a transcendental dimension (belief in destiny, awareness of the afterlife, and commitment to worship) and a social dimension (support from family, peers, and the religious environment).   Penelitian ini bertujuan menyusun instrumen yang valid dan reliabel untuk mengukur kesiapan menghadapi kematian dalam perspektif Islam. Alat ukur ini penting untuk masyarakat muslim karena mempertimbangkan aspek religius Islam. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap: kajian literatur, wawancara semi-terstruktur, serta penyusunan blueprint. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik Exploratory Factor Analysis (EFA) guna mengeksplorasi struktur faktor dan menguji konstruksi alat ukur yang dikembangkan. Blueprint yang awalnya berjumlah 55 aitem menjadi 20 aitem setelah uji validitas isi oleh tujuh ahli (3 ahli agama dan 4 ahli psikologi). Responden yang mengisi skala ini adalah 205 orang. Dalam proses EFA empat faktor dan 20 aitem mengerucut menjadi dua faktor dan 19 aitem. Hasil penelitian Temuan menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi kematian dalam Islam terdiri dari dimensi transendental (iman kepada takdir, kesadaran akan kehidupan setelah mati, dan komitmen ibadah) serta dimensi sosial (dukungan keluarga, teman, dan lingkungan religius)
“Saya Tidak Mau Ikut Demonstrasi”: Collective Action terhadap Procedural Injustice Ditinjau dari Empat Tipologi Budaya Syarif, Akhmad Saputra; Fathiyah, Amya Bunga; Bahtiar, Fadhilatussyifa Auliyarahmani; Arafah, Fajriah Rahmah B; Rosalinda, Nadhifa Annisa
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 2 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i2.3342

Abstract

This study aims to examine whether cultural typologies: vertical collectivism (VC), horizontal collectivism (HC), vertical individualism (VI), and horizontal individualism (HI), predict individuals’ intentions to engage in collective action in response to procedural injustice. The study employed a quantitative survey design involving 300 participants (67.67% female; 89% aged 18–30 years). Participants were presented with a procedural injustice vignette and subsequently completed the Individualism–Collectivism Scale (Triandis & Gelfand, 1998) and the Belief-Aligned Collective Action Scale (Cervone et al., 2023). Data were analyzed using multiple linear regression while controlling for age and gender. The findings indicate that vertical individualism significantly predicts higher intentions to engage in collective action (p < .001), whereas other cultural typologies do not show significant effects. These results suggest that individualistic orientations emphasizing competition and status differentiation may play a stronger role in motivating collective action under conditions of procedural injustice.   Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran tipologi budaya; vertical collectivism (VC), horizontal collectivism (HC), vertical individualism (VI), dan horizontal individualism (HI), dalam memprediksi intensi individu untuk terlibat dalam aksi kolektif ketika menghadapi ketidakadilan prosedural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei yang melibatkan 300 partisipan (67,67% perempuan; 89% berusia 18–30 tahun). Partisipan terlebih dahulu diberikan skenario ketidakadilan prosedural (vignette), kemudian diminta mengisi Individualism–Collectivism Scale (Triandis & Gelfand, 1998) dan Belief-Aligned Collective Action Scale (Cervone et al., 2023). Data dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan mengontrol variabel usia dan jenis kelamin. Hasil analisis menunjukkan bahwa hanya tipologi budaya vertical individualism yang secara signifikan memprediksi peningkatan intensi aksi kolektif (p < .001), sementara tipologi budaya lainnya tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa orientasi individualistik yang menekankan kompetisi dan diferensiasi status memiliki peran yang lebih kuat dalam mendorong aksi kolektif dalam konteks ketidakadilan prosedural.