cover
Contact Name
Very Julianto
Contact Email
jpsi@uin-suka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
very_psi07@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Psikologi Integratif
ISSN : 23562145     EISSN : 25807331     DOI : -
Core Subject : Social,
This journal is focusing on providing the public with understandings of integrated psychological studies and presenting researches and developments in psychology by articles and reviews. Psikologi Integratif scopes in particular psychological studies in general studies and integrated studies. This journal intends to bring up current issues in psychology subject by contributing to public with researches from psychology and related disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 186 Documents
Perilaku Schadenfreude Ditinjau Dari Big Five Personality  Pada Usia Dewasa Awal Kevin Alvito Adi Pradipta; Doddy Hendro Wibowo
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 12 No. 2 (2024): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v12i2.3112

Abstract

   In the process of social interaction, individuals are susceptible to experiencing schadenfreude behavior. One of the factors that causes schadenfreude behavior is personality factors. The aim of this research is to determine differences in schadenfreude behavior in terms of the big five personality in early adulthood. The method used is quantitative with the Kruskas Wallis test process. There were 180 young adults who participated in the research using accidental sampling. This study used the IPIP-BFM-50 scale with dimensions of extraversion, agreeableness, openness, conscientiousness, neuroticism, and schadenfreude behavior scale (α = 0.000). The results of this research are that there are significant differences in schadenfreude behavior in terms of the big five personality. The implication of this research is that it is hoped that early adulthood can make efforts to optimize the extraversion dimension, reduce the neuroticism dimension, and maintain the conscientiousness dimension. agreeableness, and openness so as to avoid schadenfreude behavior     Pada proses interaksi sosial, individu rentan mengalami perilaku schadenfreude. Salah satu faktor yang menyebabkan munculnya perilaku schadenfreude yaitu faktor kepribadian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan perilaku schadenfreude ditinjau dari big five personality pada usia dewasa awal. Metode yang digunakan yaitu kuantitatif dengan proses uji kruskal wallis. Terdapat 180 usia dewasa awal yang menjadi partisipan dalam penelitian dengan menggunakan accidental sampling. Penelitian ini menggunakan skala IPIP-BFM-50 dengan dimensi extraversion, agreeableness, openness, conscientiousness, neuroticism, dan skala perilaku schadenfreude (α = 0,000). Hasil dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan signifikan perilaku schadenfreude ditinjau dari big five personality. Implikasi dari penelitian ini diharapkan usia dewasa awal dapat melakukan upaya mengoptimalkan dimensi extraversion, mengurangi dimensi neuroticism, serta mempertahankan dimensi conscientiousness. agreeableness, dan openness sehingga mampu terhindar dari perilaku schadenfreude. 
Peran Self-Regulation dan Self-Perceived Employability Terhadap Komitmen Afektif Relawan Mahasiswa Humairah, Mardhiyah; Herlena, Benny
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 12 No. 2 (2024): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v12i2.3115

Abstract

Currently, students are competing to join organizations based on their interests for various purposes. However, it turns out that not all students are committed while joining the organization. It is definitely detrimental to the organization, as well as the students themselves. This research aims to determine the commitment of student volunteers and their suitability for interacting with each other. This research method is quantitative correlational. The subjects in this research were 201 final year students who were volunteer members of an organization. They had previously been selected using a purposive sampling technique. The measuring instruments used in this research are the Affective Commitment Scale, Self-Regulation Scale, and Perceived Employability Scale. This study uses multiple linear regression statistics and uses the SPSS series 16 computer as an aid in processing data. The results of this research indicate that self-regulation and perceived employability have a partial or simultaneous relationship with student volunteer commitment.   Para siswa saat ini sangat antusias untuk bergabung dengan organisasi yang menarik minat mereka untuk berbagai tujuan. Walau bagaimanapun, setelah bergabung dengan organisasi tersebut, tidak semua siswa memiliki komitmen yang kuat. Ini pasti merugikan mahasiswa dan organisasi. Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komitmen relawan mahasiswa dan kelayakan mereka berhubungan satu sama lain. Metode penelitian ini adalah kuantitatif korelasional. Metode purposive sampling telah digunakan untuk memilih subjek penelitian ini, yang terdiri dari 201 mahasiswa akhir yang tergabung dalam organisasi tersebut. Penelitian ini menggunakan tiga skala: Skala Komitmen, Skala Pengaturan Diri, dan Skala Persepsi Kelayakan Bekerja. Penelitian ini menggunakan statistik regresi linear berganda dan memakai komputer SPSS seri 16 sebagai bantuan dalam mengolah data. Hasil yang didapat adalah hipotesis terbukti secara statistika bahwa baik secara parsial maupun simultan pengaturan diri dengan persepsi terhadap kelayakan bekerja ada hubungan dengan komitmen yang dimiliki oleh mahasiswa relawan. 
Self-Determination Pecandu Narkoba yang Sedang Menjalani Masa Rehabilitasi Dikaitkan dengan Abstinence Self-Efficacy Purnamasari, Ayu; Iswari, Rosada Dwi; Juniarly, Amalia; Alya, Shafa; Putri, Windy Adelia
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 12 No. 2 (2024): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v12i2.2830

Abstract

The phenomenon of relapse is still widespread. It is show that the recovery of drug patients has less effective effect without the support of motivation to change from that individual. In psychology, the motivation of drug patients to change is generally associated with the term self-determination. This correlational-quantitative study aims to determine whether there is a relationship between self-determination and abstinence self-efficacy on drug addicts undergoing rehabilitation. Respondents in this study are 200 drug addicts undergoing rehabilitation. The sampling technique uses purposive sampling. The measurement instrument used Self-Determination Scale ( = 0,859) and Abstinence Self-Efficacy Scale ( = 0,930). According to the correlation study results, self-determination and abstinence self-efficacy had a significant value of 0,000 (p<0,05) with r = 0,373. It can be concluded that there is a significant positive relationship between the two variables. The individual that had motivation to change (self-determination) will help them to increase their confidence to recover from drug use.   Masih maraknya fenomena relapse pada pasien narkoba menunjukkan bahwa pemulihan narkoba kurang efektif tanpa adanya dukungan motivasi berubah dari diri individu itu sendiri. Dalam ilmu psikologi, motivasi pasien pengguna narkoba untuk berubah umumnya dikaitkan dengan istilah self-determination. Penelitian kuantitatif-korelasional ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan self-determination dan abstinence self-efficacy pada pecandu narkoba yang sedang menjalani masa rehabilitasi. Partisipan adalah 200 pecandu narkoba yang sedang menjalani masa rehabilitasi yang didapat melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Self-Determination ( = 0,859) dan Skala Abstinence Self-Efficacy ( = 0,930). Hasil analisis korelasi menunjukkan self-determination dan abstinence self-efficacy memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05) dengan r = 0,373, sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan positif yang signifikan. Individu yang memiliki motivasi untuk berubah (self-determination) akan membantunya untuk lebih yakin dengan kemampuannya untuk pulih dari penggunaan narkoba (abstinence self-efficacy).
Cultivating Academic Resilience through Self-Efficacy: A Correlational Study in Juvenile Prisons Saefudin, Wahyu; Sriwiyanti, Sriwiyanti; Yusoff, Siti Hajar Mohamad
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 12 No. 2 (2024): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v12i2.2986

Abstract

This study aims to analyze the correlation and impact of self-efficacy on academic resilience among juvenile offenders in juvenile detention centers. The study uses a quantitative research methodology with a sample of 100 juveniles from 6 juvenile detention centers in Indonesia. Correlation data were analyzed using Pearson’s correlation and regression analysis with SPSS version 25.0. The results show a significant relationship and impact between the two independent variables—self-efficacy and academic resilience—and the dependent variable. The study finds that self-efficacy contributes 47.2% to academic resilience. Juveniles with high academic resilience tend to have high academic involvement, good interpersonal relationships, appreciation for their education, happiness, and strong academic performance.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi dan pengaruh efikasi diri terhadap ketahanan akademis di antara pelaku kejahatan remaja di lembaga pemasyarakatan remaja. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kuantitatif dengan sampel 100 remaja dari 6 lembaga pemasyarakatan remaja di Indonesia. Data korelasi dianalisis menggunakan korelasi Pearson dan analisis regresi dengan SPSS versi 25.0. Hasil penelitian menunjukkan hubungan dan pengaruh yang signifikan antara dua variabel independen—efikasi diri dan ketahanan akademis—terhadap variabel dependen. Penelitian ini menemukan bahwa efikasi diri menyumbang 47,2% terhadap ketahanan akademis. Remaja dengan ketahanan akademis yang tinggi cenderung memiliki keterlibatan akademis yang tinggi, hubungan interpersonal yang baik, penghargaan terhadap pendidikan mereka, kebahagiaan, dan kinerja akademis yang kuat.
Efikasi Diri dan Intensi Perilaku Cyberbullying Pada Remaja Hanifa, Dea Aurellia; Agustina, Laelatus Syifa Sari
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 12 No. 2 (2024): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v12i2.3092

Abstract

Massively using the internet that exists today turns out to have a negative impact, such as the emergence of cyberbullying behavior. One of the factors that can influence the emergence of cyberbullying intentions is self-efficacy, this can occur due to a lack of belief in the ability of the self (self-efficacy) that individuals have which can lead to the intention of this behavior. This study aims to determine the relationship between self-efficacy and the intention of cyberbullying behavior in adolescents. There were 349 respondents collected through accidental sampling technique. The measuring instrument used in this study is the General Self-Efficacy Scale (GSES) to measure self-efficacy variables and the Cyberbullying Intention Scale to measure cyberbullying behavior intention variables. The results showed that there was a significant negative correlation between self-efficacy and cyberbullying behavior intention with a correlation coefficient (r) -0.270 and sig 0.000 (p < 0.05). This means that the higher self-efficacy, the lower intention of cyberbullying behavior will appear and vice versa.   Masifnya penggunaan internet yang ada saat ini ternyata menimbulkan dampak negatif, salah satunya adalah kemunculan perilaku cyberbullying. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kemunculan intensi cyberbullying adalah efikasi diri, hal ini dapat terjadi karena kurangnya keyakinan akan kemampuan diri (efikasi diri) yang dimiliki individu sehingga dapat memunculkan intensi terhadap perilaku tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan efikasi diri dengan intensi perilaku cyberbullying pada remaja. Terdapat 349 responden yang diperoleh melalui teknik accidental sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah General Self-Efficacy Scale (GSES) untuk mengukur variabel efikasi diri dan Skala Intensi Cyberbullying untuk mengukur variabel intensi perilaku cyberbullying. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi negatif yang signifikan antara efikasi diri dan intensi perilaku cyberbullying dengan koefisien korelasi (r) -0,270 dan sig 0,000 (p < 0,05). Artinya, semakin tinggi efikasi diri maka akan semakin rendah intensi perilaku cyberbullying yang akan muncul dan begitu pula sebaliknya.
Kesejahteraan Subjektif Guru Honorer: Trait dan State Syukur Anggarani, Fadjri Kirana; Andari, Nabila Putri
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 12 No. 2 (2024): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v12i2.3158

Abstract

Amid the limitations of honorary teachers regarding welfare demands, it shows that there is still a sense of satisfaction and happiness even though the lack of income is a burden and an obstacle. These feelings indicate subjective well-being which not only influenced by material but also internal dispositions. The study aimed to examine the effect of the gratitude trait on subjective well-being directly or indirectly through the mediation of the gratitude state. Participants are honorary teachers in Surakarta with the required sample size of 122 - 144 people. Measurements were made using the subjective well-being scale, the gratitude trait scale, and the gratitude state scale. The data were tested using path analysis model regression analysis based on the procedure of the Baron & Kenny mediator. The results showed a greater role contribution to the direct effect (βc' = 0.326) of the gratitude trait on subjective well-being than the indirect effect through the mediation of the gratitude state (βab = 0.068). These results provide an overview of the subjective well-being of honorary teachers associated with the gratitude trait and the gratitude state.   Di tengah keterbatasan guru honorer terkait tuntutan kesejahteraan menunjukkan masih terdapat rasa puas dan bahagia meskipun kekurangan pendapatan menjadi beban dan hambatan. Perasaan tersebut menunjukkan kesejahteraan subjektif yang bukan hanya dipengaruhi oleh material, melainkan disposisi internal. Tujuan penelitian adalah menguji pengaruh trait syukur terhadap kesejahteraan subjektif secara langsung maupun tidak langsung melalui mediasi state syukur. Partisipan adalah guru honorer di Surakarta dengan besar sampel yang dibutuhkan sebanyak 122 - 144 orang. Pengukuran dilakukan menggunakan skala kesejahteraan subjektif, skala trait syukur, dan skala state syukur. Data diuji dengan analisis regresi model analisis jalur berdasarkan prosedur mediator Baron & Kenny. Hasil penelitian menunjukkan kontribusi peran yang lebih besar pada pengaruh langsung (βc’ =0.326) trait syukur terhadap kesejahteraan subjektif dibandingkan pengaruh tidak langsung melalui mediasi state syukur (βab =0.068). Hasil ini memberikan gambaran kesejahteraan subjektif pada guru honorer yang terkait dengan trait syukur dan state syukur.
Parental Reflective Functioning Among Parents with History of Childhood Abuse: A Preliminary Mixed-Method Study Fitri, Radhiatul; Supra Wimbarti; Nita Handayani; Edilburga Wulan Septandari
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 1 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i1.2969

Abstract

This preliminary study explored Parental Reflective Functioning (PRF) among parents with a history of childhood abuse. PRF, the ability to understand a child’s mental state, played a key role in breaking the cycle of intergenerational maltreatment. An explanatory sequential mixed-method design was employed, involving 10 participants in a quantitative phase and two in a follow-up qualitative phase. No significant correlation was found between childhood abuse and PRF. However, qualitative findings revealed key themes, including coping strategies, parenting outcomes and related challenges. This study provided initial insights and highlighted the need for further research with larger samples. Studi pendahuluan ini mengeksplorasi fungsi refleksi orangtua (FRO) pada orangtua dengan riwayat kekerasan di masa kanak-kanak. FRO, kemampuan untuk memahami keadaan mental anakk, berperan penting dalam memutus siklus kekerasan intergenerasi. Penelitian ini menggunakan desain mixed-method dengan pendekatan sekuensial eksplanatori, melibatkan 10 partisipan pada fase kuantitatif dan dua partisipan pada fase kualitatif lanjutan. Tidak ditemukan korelasi signifikan antara kekerasan di masa kanak-kanak dengan FRO. Namun, temuan kualitatif mengungkap tema-tema utama, termasuk strategi koping, outcome pengasuhan dan tantangan terkait. Studi ini memberikan wawasan awal dan menekankan perlunya penelitian lanjutan dengan jumlah partisipan yang lebih besar.
Peran Orientasi Kepribadian Anchor terhadap Work Engagement Akhnaf, Ardhito Faza; Fahmie, Arief
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 1 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i1.3063

Abstract

Work engagement played an important role for companies because it would have an impact on high employee performance which would lead to profits for the company. One of the things that can affect work engagement is personality. Therefore, this study aimed at the role of personality orientation according to the dimensions of the anchor personality theory on work engagement. This study involved 151 employees of PT X as research participants. The research design used in this study is to use a quantitative approach with a correlational method. The measuring tool used in this study is the work engagement scale developed by Hayuningtyas & Helmy (2015) and the short version of the Anchor Personality Inventory compiled by Itsnaini & Riyono (2022). Then the data obtained by purposive sampling method through questionnaires distributed randomly to employees working at PT.X. The data obtained were then analyzed using multiple regression analysis. The results of this study indicate that increasing anchor self and virtues will significantly increase work engagement. Meanwhile, an increase in anchor materials and others will not significantly increase work engagement.   Work engagement membawa peran penting bagi perusahaan sebab akan berdampak pada tingginya kinerja karyawan yang akan bermuara pada keuntungan bagi perusahaan tersebut. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi work engagement adalah kepribadian. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan peran orientasi kepribadian menurut dimensi pada anchor personality theory terhadap work engagement. Penelitian ini melibatkan 151 karyawan PT.X sebagai partisipan penelitian. Adapun desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah skala work engagement yang dikembangkan oleh Hayuningtyas & Helmy (2015) dan Anchor Personality Inventory versi singkat yang disusun oleh Itsnaini & Riyono (2022). Kemudian data diperoleh dengan metode purposive sampling melalui kuesioner yang disebarkan secara acak pada karyawan yang bekerja di PT.X. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meningkatnya anchor self dan virtues secara signifikan akan meningkatkan work engagement. Sementara itu, peningkatan anchor materials dan others tidak mempunyai peran signifikan terhadap work engagement.
Motivasi Berprestasi Siswa Ditinjau dari Efikasi Diri dan Dukungan Sosial Orangtua Kemala Fitri; Elfida, Diana; Kusnadi
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 1 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i1.3090

Abstract

Achievement motivation is the drive within an individual to achieve success with all his efforts and abilities in accordance with established standards and to be superior to others. In order for students to have achievement motivation, they need to pay attention to the factors that influence achievement motivation, both internal and external. Previous research shows the role of self-efficacy and parental social support in influencing a person's drive to succeed. Based on this, this research aims to examine the relationship between student achievement motivation in terms of self-efficacy and parental social support. Quantitative methods were used as research method. There were 243 high school/equivalent students in Kuok District who were the research samples using a purposive sampling technique. Data were collected using an adapted scale of the Motivation Achievement Inventory, the General Self-Efficacy Scale, and a modified scale of the Child and Adolescent Social Support Scale. Then non-linear regression analysis technique was used to analyze the research data. The research results showed a significant and positive relationship between self-efficacy and achievement motivation with an effective contribution of 22.5%. Then there was a significant and positive relationship between parental social support on achievement motivation and an effective contribution of 15.3%. It could be concluded that the increase in students' achievement motivation was due to an increase in students' self-efficacy. Then, on the other hand, this is also due to the increase in parental social support that students receive.   Motivasi berprestasi adalah dorongan dalam diri individu untuk mendapatkan kesuksesan dengan segenap usaha dan kemampuan sesuai dengan standar yang ditetapkan serta menjadi lebih unggul dibanding orang lain. Agar siswa memiliki motivasi berprestasi perlu memperhatikan faktor-faktor yang memengaruhi motivasi berprestasi baik internal dan eksternal. Penelitian terdahulu memperlihatkan peran efikasi diri dan dukungan sosial orangtua memengaruhi dorongan seseorang untuk sukses. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan menguji hubungan motivasi berprestasi siswa ditinjau dari efikasi diri dan dukungan sosial orangtua. Metode kuantitatif digunakan sebagai metode penelitian. Terdapat 243 siswa Sekolah Menengah Atas/Sederajat di Kecamatan Kuok yang menjadi sampel penelitian dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan skala adaptasi Motivation Achievement Inventory, General Self-Efficacy Scale, dan skala modifikasi the Child and Adolescent Social Support Scale kemudian dianalisis menggunakan analisis regresi non linear. Hasil penelitian menunjukan hubungan yang signifikan dan positif antara efikasi diri terhadap motivasi berprestasi dengan sumbangan efektif sebesar 22,5%, terdapat hubungan signifikan dan positif antara dukungan sosial orang tua terhadap motivasi berprestasi dengan sumbangan efektif sebesar 15,3%.  Dapat disimpulkan bahwa meningkatnya motivasi berprestasi siswa karena adanya peningkatan efikasi diri dalam diri siswa. Kemudian dilain sisi juga diakibatkan karena meningkatnya dukungan sosial orang tua yang diterima siswa.
Kesehatan Mental Siswa SMA di Kota Samarinda: Efektivitas Pelatihan Konsep Diri Aisyah Wahyuni, Siti; Hasan Abdillah, Muhamad; Idham Madani, Abubakar
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 13 No. 1 (2025): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v13i1.3210

Abstract

Mental health has become an important issue faced by many students, one of which is bullying cases at school. These cases can occur directly or through social media, which have serious impacts on students' mental health. This study aims to see the effectiveness of the treatment given to high school students in Samarinda City. The research method used is a quantitative approach with an experimental research design, while the sampling technique used is nonprobability sampling with a purposive sampling type, where the selection of subjects is based on certain criteria and objectives. The initial number of research participants was 10 students. However, during the implementation phase, 4 students withdrew from the study, resulting in only 6 students who participated in and completed the entire experimental procedure. The results showed that it was quite effective (P = 0.040) in improving the mental health of high school students in Samarinda. In conclusion, there was an increase in mental health for high school students in Samarinda City after participating in the training.   Kesehatan mental menjadi isu penting yang dihadapi oleh banyak siswa salah satunya mengenai kasus bullying di sekolah. Kasus tersebut dapat terjadi secara langsung ataupun melalui media sosial, yang berdampak serius pada kesehatan mental siswa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keefektifan perlakuan yang diberikan kepada siswa di salah satu SMA Kota Samarinda. Metode penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian eksperimen, adapun teknik sampling yang digunakan yaitu nonprobability sampling dengan jenis purposive sampling, dimana pemilihan subjek berdasarkan krtiteria dan tujuan tertentu. Subjek penelitian semula berjumlah 10 siswa. Namun, dalam pelaksanaannya, 4 siswa mengundurkan diri sehingga hanya 6 siswa yang mengikuti dan menyelesaikan seluruh rangkaian eksperimen hingga akhir. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan aplikasi JASP versi 0.18.3 dengan uji Repeated Measure Anova. Hasil penelitian menunjukkan cukup efektif (P=0,040) dalam meningkatkan kesehatan mental siswa salah satu SMA di Samarinda. Kesimpulannya terdapat peningkatan kesehatan mental terhadap siswa di salah satu SMA Kota Samarinda setelah mengikuti pelatihan.