cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kelautan Tropis
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14108852     EISSN : 25283111     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 451 Documents
Keterkaitan Megabentos yang Berasosiasi dengan Padang Lamun terhadap Karakteristik Lingkungan di Perairan Jepara Ita Riniatsih; Ambariyanto Ambariyanto; Ervia Yudiati
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 2 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i2.10870

Abstract

Seagrass bed are one of the ecosistems in shallow waters that can support the biodiversity of marine organisms. Megabenthos as benthic organisms that usually live in association in seagrass beds, have an important role in the food web in their habitat. This study aims to analyse the diversity of megabenthos associated with their habitat characteristics in seagrass waters in Bandengan, Teluk Awur and Panjang Island Jepara. This research was conducted using a descriptive field method, and megabenthos data collecting was carried out using the line transect method. Thr result showed that 158 individuals from 8 species of megabenthos were found (from 2 phyla: Echinodermata and Molluska) from three observation locations. Condition factors that influence the abundance and diversity of megabenthos are the substrat type and seagrass cover.   Padang lamun sebagai salah satu ekosistem di perairan laut dangkal dapat menopang keanekaragaman hayati organisme laut. Megabentos yang termasuk dalam organisme bentik merupakan organisme yang biasa hidup berasosiasi di padang lamun, mempunyai peranan penting dalam jaring-jaring makanan di habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa keanekaragaman megabentos dikaitkan dengan karakteristik habitatnya di perairan padang lamun di Bandengan, Teluk Awur dan Pulau Panjang Jepara. Penelitian ini dilakukan dengan metoda deskriptif lapangan, dan pengambilan data megabentos dilakukan dengan metoda line transek. Hasil pengamatan menunjukkan ditemukan 158 individu dari 8 spesies  megabentos (dari 2 filum: Echinodermata dan Molluska) dari ketiga lokasi pengamatan.  Faktor kondisi yang berpengaruh terhadap kelimpahan dan keanekaragaman megabentos adalah jenis substrat dasar dan tutupan lamun.
Potensi Konsorsium Sampel Air Pelabuhan Kamal dan Bittern dalam Mendegradasi Solar Harfatia Chandra Puspita Sari; Haryo Triajie; Abdus Salam Junaedi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 2 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i2.10097

Abstract

Biodegradation is an alternative in overcoming oil pollution biologically. Utilization of bacteria obtained from contaminated (indigenous) areas is known to be more effective in the degradation process. This study aims to determine the characteristics of indigenous bacteria that have been isolated from Kamal harbor water samples, and the consortium will be compared with the consortium of bacteria isolated from salt waste water (bittern) samples to determine their ability to degrade diesel pollutants. The method used in this research is the enrichment method, to obtain bacterial isolates. The consortium was treated with solar concentrations of 1%, 1.5%, 2%, 2.5%, and 3%. The results showed that 4 types of bacteria were obtained (BI.1, BI.2, BI.3, and BI. 4) from Kamal harbor waters with different macroscopic and microscopic characteristics. The highest %total petroleum hydrocarbons (TPH) reduction by the indigenous consortium was in the 3% diesel treatment with a value of 3.87, while in the bittern consortium there was 2.5% diesel treatment with a value of 3.34. Biodegradasi merupakan salah satu alternatif dalam menanggulangi pencemaran minyak secara biologis. Pemanfaatan bakteri yang diperoleh dari area pencemaran (indigenous)diketahui akan lebih efektif dalam proses degradasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bakteri yang berhasil diisolasi dari sampel air pelabuhan kamal, dan konsorsiumnya akan dibandingkan dengan konsorsium bakteri yang berhasil diisolasi dari sampel air limbah garam (bittern) guna mengetahui kemampuannya dalam mendegradasi bahan pencemar solar. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode enrichment, untuk memperoleh isolat bakteri. Konsorsium diberi perlakuan dengan konsentrasi solar 1%, 1,5%, 2%, 2,5%, dan 3%. Hasli penelitian menunjukkan diperoleh 4 jenis bakteri (BI.1, BI.2, BI.3, dan BI.4) dari perairan pelabuhan kamal dengan karakteristik makroskopis dan mikroskopis yang berbeda-beda. Penurunan %total petroleum hidrokarbon (TPH) tertinggi oleh konsorsium indigenous terdapat pada perlakuan solar 3% dengan nilai sebesar 3,87, sedangkan pada konsorsium bittern terdapat pada perlakuan solar 2,5% dengan nilai sebesar 3,34.
Struktur Komunitas Echinodermata pada Berbagai Tipe Habitat di Daerah Intertidal Pantai Lakeba, Kota Baubau Sulawesi Tenggara WD. Syarni Tala; Kusrini Kusrini; Jumiati Jumiati
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 3 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i3.11610

Abstract

Echinoderms are one of organisms that inhabit intertidal areas which have important ecological roles in marine ecosystems, also have high economic values. The community structure and distribution pattern of Echinoderms in the intertidal area can provide an overview of the condition of the Echinoderm community. This research aims to determine the community structure of Echinoderms in various habitat types in the intertidal areas of Lakeba Beach, Baubau Town. The community structure of Echinoderms were observed using quadratic transec method. Echinoderms found were 777 individuals consisting of 18 species from 5 classes. Echinoderms were distributed in four habitat types, i. e. sandy, sand covered with seagrass, rocky, and rock covered with algae habitats. The highest abundance of Echinoderm was Ophiocoma scolopendrina (Ophiuroidea) and the lowest were Maretia planulata, Arachnoides placenta (Echinoidea), Holothuria scabra, H. leucospilota, Stichopus horrens (Holothuroidea), and Isocrinidae (Crinoidea). The species diversity of Echinoderms was categorized as moderate (H’ = 1,42180), species evenness was moderate (E = 0,49191), and no dominant species of Echinoderm community (D = 0,36601). Echinoderm community living in the intertidal area was influenced by antropogenic factors.  Echinodermata merupakan salah satu organisme yang mendiami daerah intertidal yang memiliki peran ekologis penting bagi ekosistem laut, juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Struktur komunitas dan pola distribusi Echinodermata pada daerah intertidal dapat memberikan gambaran mengenai kondisi komunitas Echinodermata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas dan pola distribusi Echinodermata di daerah intertidal Pantai Lakeba, Kota Baubau. Struktur komunitas dan pola distribusi Echinodermata diamati menggunakan metode transek kuadrat. Echinodermata yang ditemukan berjumlah 777 individu yang terdiri atas 18 jenis dari 5 kelas. Echinodermata terdistribusi pada empat tipe habitat yaitu habitat pasir, pasir yang ditutupi lamun, batu, dan batu yang ditutupi alga. Echinodermata yang memiliki kelimpahan tertinggi adalah Ophiocoma scolopendrina (Ophiuroidea) dan kelimpahan terendah adalah Maretia planulata, Arachnoides placenta (Echinoidea), Holothuria scabra, H. leucospilota, Stichopus horrens (Holothuroidea), dan Isocrinidae (Crinoidea). Keanekaragaman jenis Echinodermata dikategorikan sedang (H’ = 1,42180), kemerataan jenis sedang (E = 0,49191) dan tidak ada jenis yang dominan dalam komunitas Echinodermata (D = 0,36601). Komunitas Echinodermata yang hidup di daerah intertidal pantai dipengaruhi oleh faktor antropogenik.
Variasi Temporal Kelompok Ikan Terumbu Karang di Pulau Tidung Kecil Menggunakan eDNA Metabarkoding dan Sensus Visual Muhammad Fahmi Zuhdi; Hawis Madduppa; Neviaty P. Zamani
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 3 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i3.11810

Abstract

Coral reef fish are play key role in coral reef ecosystem. The presence of reef fish affected by antrophogenic and natural factors, such seasonal changes. This study aimed to asess the temporal variation of coral reef fish group in Tidung Kecil Island using eDNA metabarcoding and Undewater Visual Census. This research was conducted at December 2019 (West season) and August 2020 (East season). Target group are dominated in west season (64.1%) and east season (59.25%) using eDNA metabarcoding. While, major group fish are the highest relative abundance in both season by using Underwater Visual Census. Family Carangidae are the highest species richness (15 species) in wet season and Serranidae (3 species) in east season, respectively.  Futhermore, famili Pomacentridae are the most richness species in west and east seasons 10 and 11 species respectively. Thus, it can be concluded these two methods are effective for monitoring structure or abundance of coral reef fish based on seasonal variation. Ikan karang menjadi indikator dalam menilai keanekaragaman hayati di ekosistem tersebut. Keberadaan ikan di ekosistem terumbu karang dapat dipengaruhi oleh faktor antropogenik dan faktor alam salah satunya perubahan musim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelimpahan kelompok ikan terumbu karang di Pulau Tidung Kecil menggunakan eDNA metabarkoding dan Sensus Visual. Pengambilan data dilakukan pada bulan Desember 2019 (musim barat) dan Agustus 2020 (musim timur). Ikan target mendominasi pada musim barat dan timur dengan persentase sebesar 64.11% dan 59.25%. Sensus visual berhasil mendeteksi ikan mayor dengan persentase tertinggi 62.5% di musim barat dan 82.8% di musim timur. Famili Carangidae merupakan famili dengan jumlah spesies tertinggi di musim barat (15 species) dan Siganidae di musim timur menggunakan eDNA metabarkoding (3 species). Hasil UVC menunjukkan famili Pomcentridae memilki jumlah spesies tertinggi di kedua musim (11 dan 10 spesies) menggundakan sensus visual. Dapat disimpulkan bahwa kedua metode tersebut dapat menjadi pendekatan dalam monitoring struktur atau kelimpahan ikan terumbu karang berdasarkan musim. 
Analisis Tutupan Mangrove Taman Nasional Berbak–Sembilang melalui Citra Landsat-8 dan Pemantauan LAI Tengku Zia Ulqodry; Andreas Eko Aprianto; Andi Agussalim; Riris Aryawati; Afan Absori
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 3 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i3.12278

Abstract

Berbak Sembilang National Park of South Sumatra Region (BSNP South Sumatera) is the largest mangrove ecosystem in the western part of Indonesia. Monitoring of mangrove coverage in BSNP South Sumatera carried out using Landsat-8 imagery data based on NDVI values (Normalized Difference Vegetation Index) integrated with mangrove LAI (Leaf Area Index) data. The research purpose was to analyze the mangrove coverage and mapping the density of the mangrove vegetation canopy with the integration of remote sensing data and LAI. This research conducted field survey with LAI measurement of mangrove canopy coverage and integrated with remote sensing data to validate map. The determination and correlation coefficient of NDVI and LAI value of canopy coverage was high (R2 = 0.69 ; r = 83.07).The results of research indicated that the overall distribution of the mangrove area was 94,622.05 ha. The NDVI image integration map with LAI resulted in 4 mangrove canopy density classes consisted of rare canopy (688.80 ha ; 0.73%), moderately dense canopy (1,139.55 ha ; 1.2%), dense canopy (35,003.46 ha ; 37%), and very dense canopy (57,790.20 ha ; 61.07%). Taman Nasional Berbak Sembilang wilayah Sumatera Selatan (TNBS Sumsel) merupakan kawasan ekosistem mangrove terluas di wilayah Indonesia bagian barat. Pemantauan kerapatan kanopi vegetasi mangrove di TNBS Sumsel dilakukan menggunakan data Citra Landsat-8 berdasarkan nilai NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) yang diintegrasikan dengan data LAI (Leaf Area Index) mangrove di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tutupan vegetasi mangrove dan memetakan sebaran kerapatan kanopi mangrove dengan integrasi data penginderaan jauh dan LAI. Penelitian ini menggunakan metode pengolahan data survei lapangan dan hasil pengolahan citra satelit. Nilai koefisien determinasi dan korelasi antara nilai NDVI dengan nilai LAI tutupan Kanopi di Lapangan dikategorikan tinggi (R2 = 0,69 ; r = 83,07). Hasil penelitian menunjukkan tutupan mangrove secara keseluruhan seluas 94.622,05 ha. Peta integrasi citra NDVI dengan LAI mangrove di lapangan menghasilkan 4 kelas kerapatan kanopi mangrove yakni kanopi jarang seluas 688,80 ha (0,73%), kanopi sedang seluas 1.139,55 ha (1,2%), kanopi lebat seluas 35.003,46 ha (37%), dan kanopi sangat lebat seluas 57.790,20 ha (61,07%).
Penambahan Asam Amino Triptofan Dalam Pakan Terhadap Tingkat Kanibalisme Dan Pertumbuhan Litopenaeus vannamei Diana Rachmawati; Johannes Hutabarat; Ayu Istiana Fiat; Tita Elfitasari; Seto Windarto; Eko Nurcahyo Dewi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 3 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i3.11723

Abstract

Vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) is one of the leading fishery products of the fisheries sector. The problem that is often found in the failure of vannamei shrimp productions is the high level of mortality due to the nature of cannibalism during molting. One solution to minimize the cannibalism of vannamei shrimp is to provide tryptophan supplements in a feed. Tryptophan is a type of essential amino acid that serves as a precursor for serotonin biosynthesis. This study aims to determine the effect and optimal dose of tryptophan added to feed to reduce cannibalism and growth of vannamei shrimp. The test fish used in this study were vannamei shrimp with an average weight of 0,81 ± 0,26 g/individual.  This study used an experimental method, a completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments and three replications. The test feed used in this study was artificial feed with a protein content of 38% plus tryptophan according to treatments A (0%/kg feed), B (0.75%/kg feed), C (1.5%/kg feed), and D (2.25%/kg feed). The results showed that the addition of Tryptophan in the feed had a noticeable effect (P<0,05) on cannibalism levels, survival, and molting rates but had no significant effect (P>0,05) on absolute weight growth, specific growth rates, efficiency ratios protein and efficiency feed utilization of vannamei shrimp. The best dose of tryptophan addition in feed to lower the rate of vannamei shrimp cannibalism in this study was 2,25%, capable of producing a cannibalism rate of 13,33%. Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu produk perikanan unggulan sektor perikanan. Permasalahan yang sering ditemukan dalam kegagalan produksi udang vaname adalah tingginya tingkat mortalitas karena adanya sifat kanibalisme pada saat terjadi molting. Solusi untuk meminimalisir kanibalisme udang vaname adalah dengan memberi suplemasi asam amino pada pakan, salah satunya adalah triptofan. Triptofan merupakan salah satu jenis asam amino esensial yang berfungsi sebagai prekursor untuk biosintesis serotonin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dan dosis optimal triptofan yang ditambahkan ke dalam pakan untuk menurunkan tingkat kanibalisme dan pertumbuhan udang vaname. Ikan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah udang vaname dengan bobot rata-rata 0,81±0,26 g/ekor. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Pakan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah pakan buatan dengan kandungan protein 38% ditambah triptofan sesuai perlakuan yaitu : A (0%/kg pakan), B (0,75%/kg pakan, C (1,5%/kg pakan), dan D (2,25%/kg pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan triptofan dalam pakan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap tingkat kanibalisme, kelulushidupan dan tingkat molting, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan spesifik, protein efisiensi rasio dan efisiensi pemanfaatan pakan. Dosis terbaik dari pemberian triptofan dalam pakan untuk menurunkan tingkat kanibalisme udang vaname dalam penelitian ini adalah 2,25%, mampu menghasilkan tingkat kanibalisme sebesar 13,33%.
Modeling on 137Cs Radioactive Dispersion in Gosong Coast as The Candidate Location for Nuclear Power Plant Akhmad Tri Prasetyo; Muslim Muslim; Heny Suseno
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 3 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i3.11058

Abstract

The study of radioactive dispersion in the ocean should be conducted to prepare the construction of nuclear power plant (NPP) in Gosong Coast, West Kalimantan. This study estimated the distribution of 137Cs radioactive from various scenarios of radioactive waste dumping if nuclear emergency is occurred during NPP’s operation. These scenarios were distinguished based on their volume discharges of radioactive waste into the ocean, included 10 m3 (Scenario I), 50 m3 (Scenario II), and 100 m3 (Scenario III).  Model dispersions were constructed for 15 days by Delft3D-Flow module. The simulation showed that ocean current directions were not significantly different among spring and neap tide, instead the ocean current during the spring period dominantly increased rather than neap period. Ocean currents at Gosong Coast flowed parallel to the shoreline towards Singkawang Coastal Area during ebb tide. Meanwhile, during flood tide, ocean currents at Gosong Coast flowed offshore through Burung Archipelagic. The dispersed model showed the distribution of 137Cs radioactive for 15 days reaching to coastal areas of Burung Archipelagic, Singkawang, and Southern Sambas Coast. Each scenario of the disposal system did not influence the marine pollution of the West Kalimantan Sea.
Analisis Kelimpahan Bakteri Pada Ikan, Substrat, Air Serta Es Yang Digunakan Pada Pengoperasian Minitrawl Di Perairan Pamekasan Fortunata Riana; Abdus Salam Junaedi; Muhammad Zainuri
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 3 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i3.11725

Abstract

Fish is a source of animal protein which is generally the choice of society because it is relatively cheap and easy to obtain. Fish that are sold in dead condition are prone to quality degradiation so that bacteria can easly breed. Data on the amount of bacteria in fish related to the type of gear to another which can greatly affect the quality of the catch. Therefore, this research was conducted using a Minitrawl. The research objective was to see the amount of bacteria in fish caught using a mini fishing boat before being given and after being notified by considering the amount of bacteria in the substrate in the waters, sea water and ice cubes used by fishermen. The TPC (Total Plate Count) research method using Tryptic soy Agar (TSA) as media and pathogenic bacteria using Thiosulfate Citrate Bile Salt Sucrose Agar (TCBS) as media on fish “kardinal pita lebar” (Apogon fasciatus), sea water, substrate in the waters, and ice cubes that use for operating Minitrawl. The result of this research showed value TPC heterotrophic bacteria (TSA) which contaminated sample ITE (fish wihthout ice) 9,89 Log CFU/ml, IS (fish with ice) 9,85 Log CFU/ml, AL (sea water)  4,91 Log CFU/ml, S (substrate in the waters) 5,28 Log CFU/ml and ES (ice cubes that use for fishermen) 3,29 Log CFU/ml amount of pathogenic bacteria (TCBS) in ITE 5,27 Log CFU/ml , IS 3,24 Log CFU/ml,  AL 3,45 Log CFU/ml, S 1,78 Log CFU/ml, ES 3,87 Log CFU/ml,most highest amount is in the ITE with value of TPC heterotrophic bacteria (TSA) 9,89 Log CFU/ml and pathogenic bacteria (TCBS) 5,27 Log CFU/ml.  Ikan merupakan sumber protein hewani yang umumnya menjadi pilihan masyarakat karena memiliki harga yang relatif murah dan mudah didapat. Ikan yang dijual dalam kondisi telah mati rentan terhadap penurunan kualitasnya sehingga bakteri dapat dengan mudah berkembang biak. Data tentang kelimpahan bakteri pada ikan sehubungan dengan jenis alat tangkap perlu menjadi perhatian dengan mempertimbangkan metode penangkapan yang berbeda antara satu alat tangkap dengan alat tangkap lainnya yang sangat mungkin mempengaruhi kualitas hasil tangkapannya. Oleh karena itu, penelitian dilakukan dengan menggunakan MiniTrawl. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kelimpahan bakteri pada ikan yang ditangkap menggunakan MiniTrawl sebelum diberi es dan sesudah diberi es dengan mempertimbangkan kelimpahan bakteri di substrat perairan dan es batu yang digunakan nelayan. Metode penelitian TPC (Total Plate Count) menggunakan media Tryptic Soy Agar (TSA) dan bakteri patogen menggunakan media Thiosulfate Citrate Bile Salt Sucrose Agar (TCBS) pada ikan kardinal pita lebar (Apogon fasciatus), air laut, substrat perairan dan es batu yang digunakan pada pengoperasian MiniTrawl. Hasil penelitian menujukkan nilai TPC bakteri heterotrof (TSA) yang mengkontaminasi sampel ITE (ikan tanpa es) 9,89 Log CFU/ml, IS (ikan dengan es) 9,85 Log CFU/ml, AL (air laut) 4,91 Log CFU/ml, S (substrat perairan) 5,28 Log CFU/ml dan ES (es batu yang digunakan nelayan) 3,29 Log CFU/ml. Kelimpahan bakteri patogen (TCBS) pada ITE 5,27 Log CFU/ml, IS 3,24 Log CFU/ml,  AL 3,45 Log CFU/ml, S 1,78 Log CFU/ml, dan ES 3,87 Log CFU/ml. Kelimpahan tertinggi yaitu pada ITE dengan nilai TPC bakteri heterotrof (TSA) 9,89 Log CFU/ml dan bakteri patogen (TCBS) 5,27 Log CFU/ml.
Perubahan Garis Pantai pada Musim Timur dan Barat kaitannya dengan Karakteristik Gelombang di Pesisir Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan Dwi Fajriyati Inaku; Nurjannah Nurdin; Dewi Yanuarita Satari
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 3 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i3.11095

Abstract

Detection of shoreline changes needs to be done to determine changes so that supervision and management planning in a coastal area can be carried out, one of which is on the coast of Takalar Regency, South Sulawesi. This study aims to map changes in the coastline in Takalar Regency in different seasons and to see the effect of the waves on these changes. This study uses Landsat satellite imagery data from 1998-2018, and wave data obtained from Copernicus Marine Environment Monitoring Services (CMEMS). The shoreline data extraction was using the combination of single band and band ratio approach while the shoreline change rate calculation was using the Digital Shoreline Analysis System (DSAS) application. In addition, GeoDa application was used to obtain the regression analysis of the effect of waves on shoreline changes. The results showed that there were similar patterns of shoreline changes between monsoon and west monsoon, although the value were different. Coastal erosion occurs in almost all Takalar coastal area. Some areas that have a high coastal erosion value were the sub-district of South Galesong and Mappakasunggu while the areas that have a high accretion value were the sub-districts of Sanrobone, Mappakasunggu, and Mangarabombang. The waves had a significant influence on changes in shoreline in both the monsoon and west monsoon (P <0.05) with a percentage of 17,2% for the monsoon and 7.3% for the west monsoon which indicated there were other factors that influence shoreline change besides the wave factor on the Takalar Coast. Deteksi perubahan garis pantai perlu dilakukan dalam rangka pengawasan dan perencanaan pengelolaan di suatu kawasan, salah satunya di Pesisir Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan perubahan garis pantai di Kabupaten Takalar berdasarkan musim dan melihat pengaruh gelombang terhadap perubahan tersebut. Penelitian ini menggunakan data Citra Satelit Landsat tahun 1998-2018, dan data gelombang yang diperoleh dari Copernicus Marine Environment Monitoring Services (CMEMS). Ekstraksi data garis pantai menggunakan pendekatan perkalian single band dan ratio band sedangkan perhitungan laju perubahan garis pantai menggunakan aplikasi Digital Shoreline Analysis System (DSAS). Analisis regresi untuk melihat pengaruh gelombang terhadap perubahan garis pantai menggunakan aplikasi GeoDa. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pola yang hampir sama antara perubahan garis pantai musim timur dan musim barat meskipun dengan besaran yang berbeda. Abrasi terjadi hampir di seluruh Pesisir Takalar. Daerah yang memiliki nilai abrasi yang tinggi yaitu Kecamatan Galesong Selatan dan Mappakasunggu sedangkan daerah yang memiliki nilai akresi tinggi yaitu Kecamatan Sanrobone, Mappakasunggu, dan Mangarabombang. Gelombang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan garis pantai baik pada musim timur maupun barat (P<0,05) dengan persentase 17,2% untuk musim timur dan 7,3% untuk musim barat yang mengindikasikan terdapat faktor lain yang ikut mempengaruhi perubahan garis pantai selain faktor gelombang di Pesisir Takalar.
Pengaruh El Niño Terhadap Pola Distribusi Klorofil-a dan Pola Arus di Wilayah Perairan Selatan Maluku Yosafat Donni Haryanto; Hadiman Hadiman; Rezfiko Agdialta; Nelly Florida Riama
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 3 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i3.10456

Abstract

El Niño is a phenomenon that can affect changes in weather and climate elements in Indonesia, especially rainfall. During the El Niño events, the rainfall in Maluku region tended to decrease. This condition can indeed cause prolonged drought. However, El Niño events also have a positive impact, especially in water areas. During the El Niño events, the chlorophyll-a concentration in the water will increase. This is due to the upwelling process that removes nutrients from the sea. High chlorophyll-a concentrations will bring pelagic fish species in the waters. The correlation test between sea surface temperature (SST) during El Niño and chlorophyll-a has a value of -0.91. This correlation value indicates that when SST increases, the chlorophyll-a concentration in the waters will decrease, on the other hand, if SST has decreased, the chlorophyll-a concentration in the water will increase. The value of chlorophyll-a concentration in the water during the El Niño event (July - February) showed a significant increase compared to during normal conditions. Of all the El Niño events, 2015 to 2016 was the year with the strongest El Niño events. The chlorophyll-a concentration during El Niño 2015 to 2016 was very high, ranging from 0.2 to 1.0 mg / m3. The results obtained indicate that the El Niño event has a positive correlation with the increase in chlorophyll-a concentration in the water. El Niño merupakan fenomena yang tidak bisa dihindari, kejadian El Niño  dapat mengurangi curah hujan seperti di wilayah Maluku. Namun, kejadian El Niño  juga mempunyai dampak postif khususnya di wilayah perairan. Pada saat terjadi El Niño  maka konsentrasi klorofil-a di perairan akan meningkat. Hal ini disebabkan karena adanya proses upwelling yang mengangkat nutrisi dari dalam laut. Konsentrasi klorofil-a yang tinggi akan mendatangkan jenis ikan pelagis di perairan. Uji  korelasi antara suhu permukaan laut (SST) pada saat El Niño  dengan klorofil-a memiliki nilai  - 0.91. Nilai korelasi ini menunjukkan bahwa pada saat SST mengalami kenaikan maka konsentrasi klorofil di perairan akan menurun, sebaliknya jika SST mengalami penurunan maka konsentrasi klorofil diperairan akan meningkat. Nilai konsentrasi klorofil-a diperairan pada saat kejadian El Niño  (Juli - Februari) menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan pada saat tidak terjadi El Niño . Dari semua kejadian El Niño , tahun 2015 - 2016 merupakan kejadian dengan El Niño  yang sangat kuat. Konsentrasi klorofil-a pada saat El Niño  2015 - 2016 sangat tinggi berkisar 0.2 - 1.0 mg/m3. Dari hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa kejadian El Niño  dapat mempengaruhi konsentrasi klorofil-a diperairan.