cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kelautan Tropis
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14108852     EISSN : 25283111     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 451 Documents
Status Konservasi dan Keanekaragaman Jenis Ikan yang Diperdagangkan di Pasar Ikan Tradisional di Bali I Nyoman Giri Putra; Elok Faiqoh; I Gusti Ngurah Made Wiratama
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.13610

Abstract

The high demand for fish for local consumption and export has led to overfishing and increased the trade of fish that are prohibited by law and international agreements. Therefore, this study aims to calculate species diversity and determine the conservation status of fish traded in traditional fish markets in Bali. Field sampling was carried out at fish markets located in Badung, Buleleng, Karangasem, and Jembrana. Samples are identified to the lowest taxa level that can be determined, based on morphological characters. Diversity parameters such as the Shannon diversity index (H), Simpson (Simp), Fisher Alpha, Species richness (S) and Pielou's evenness (J) were calculated using the Rstudio while the determination of conservation status refers to the IUCN Red List. The number of fish samples collected was 69 individuals from 23 families. Of the total 69 individuals, 61 individuals were successfully identified to species level, while the rest of it were identified to the genus level. The results showed that the family of Labridae/wrasses has the highest number of species (9 species) followed by Clupeidae and Scombridae (7 species each). The result of diversity indices showed that the Kedonganan fish market (Badung) has the highest diversity. Evaluation of the conservation status of traded fish showed that 80% of the traded fish species are still in LC (Least Concern) status, although one species identified as bigeye tuna, Thunnus obesus, is known to have VU (Vulnerable) status.   Tingginya permintaan ikan untuk konsumsi lokal maupun ekspor menyebabkan terjadinya overfishing dan meningkatkan perdagangan ikan-ikan yang dilarang oleh undang-undang maupun kesepakatan internasional. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menghitung keanekaragaman jenis dan menentukan status konservasi ikan yang diperdagangkan di pasar ikan tradisional di Bali. Pengambilan sampel dilakukan di pasar ikan yang terletak di kabupaten Badung, Buleleng, Karangasem, dan Jembrana. Sampel diidentifikasi sampai pada level taksa terendah yang bisa ditentukan, berdasarkan pada karakter morfologi. Parameter keanekaragaman seperti indeks keanekaragaman Shannon (H), Simpson (Simp), Fisher Alpha, Species richness (S) dan Pielou’s evenness (J) dihitung dengan Rstudio sedangkan penentuan status konservasi mengacu pada IUCN RedList. Jumlah sampel ikan yang dikumpulkan sebanyak 69 individu dari 23 famili. Dari total 69 individu, 61 individu berhasil diidentifikasi sampai pada level spesies sedangkan sisanya sampai level genus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Famili Labridae/wrasses memiliki jumlah spesies terbanyak (9 spesies) disusul oleh Clupeidae dan Scombridae (masing-masing 7 spesies). Hasil analisis keanekaragaman menunjukkan bahwa pasar ikan Kedonganan (Badung) memiliki keanekaragaman tertinggi. Evaluasi terhadap status konservasi ikan yang diperdagangkan menunjukkan bahwa 80% jenis ikan yang diperdagangkan masih dalam status LC (Least Concern) meskipun ditemukan juga satu spesies yaitu tuna mata besar, Thunnus obesus yang diketahui dalam status VU (Vulnerable).        
Strategi Pengelolaan Kawasan Pesisir di Pasar Banggi Kabupaten Rembang dengan Pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP) Bambang Argo Wibowo; Azis Nur Bambang; Rudhi Pribadi; Indradi Setiyanto; Kukuh Eko Prihantoko; Himawan Arif Sutanto
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.12381

Abstract

This study aim to determine priorities in the management of coastal areas in Pasar Banggi, Rembang Regency. Analytical Hierarchy Process (AHP) used to prioritise coastal area management strategy. A total of 15 people were taken as a sample of respondents using purposive sampling consisting of fishermen, coastal community leaders, the Department of Fisheries and Marine Affairs, the Department of Culture and Tourism, the Department of Environment and Academics. The results show that in managing the coastal area at Pasar Banggi, Rembang Regency, the main factor that must be considered is the environment (Ecology) with the most important aspects including mangrove ecosystems, coral reefs, and fish resources. While overall (overall) shows that the priority scale of criteria and alternative management of coastal areas in Pasar Banggi, Rembang Regency with AHP in order of priority is Silvofishery, Ecotourism and Artisanal Fisheries. Thus, the Silvofishery development strategy becomes a top priority in the management of coastal areas in Pasar Banggi, Rembang Regency. Silvofishery is fish farming in the mangrove ecosystem area without having to convert or damage the mangrove ecosystem so that the sustainability of the mangrove ecosystem is maintained.  Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prioritas dalam pengelolaan Kawasan pesisir di Pasar Banggi Kabupaten Rembang. Analysis Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk menentukan prioritas dalam pengelolaan kawasan. Sebanyak 15 orang diambil sebagai sampel responden dengan menggunakan purposive sampling yang terdiri dari nelayan, tokoh masyarakat pesisir, Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup dan Akademisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam mengelola Kawasan pesisir di Pasar Banggi Kabupaten Rembang faktor utama yang harus diperhatikan adalah lingkungan (Ekologi) dengan aspek yang paling penting diantaranya ekosistem mangrove, terumbu karang, dan sumberdaya ikan. Sedangkan secara secara keseluruhan (overall) menunjukkan bahwa skala prioritas kriteria dan alternatif pengelolaan wilayah pesisir di Pasar Banggi Kabupaten Rembang dengan AHP dengan urutan prioritas adalah Silvofishery, Ecotourism dan Artisanal Fisheries. Dengan demikian strategi pengembangan Silvofishery menjadi prioritas utama di dalam pengelolaan wilayah pesisir di Pasar Banggi Kabupaten Rembang. Silvofishery merupakan budidaya ikan di Kawasan ekosistem mangrove tanpa harus mengkonversi atau merusak ekosistem mangrove sehingga keberlanjutan ekosistem mangrove tetap terjaga.
Hubungan Panjang Berat dan Faktor Kondisi Siput Lola (Rochia nilotica) di Perairan Maluku, Sumbawa, dan Bengkulu Risnita Tri Utami; Putri Sapira Ibrahim; Agus Kusnadi; Dedy Kurnianto; Teddy Triandiza; Rosmi N Pesillette
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 3 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i3.14089

Abstract

Rochia nilotica (Tegulidae) is a snail that is highly important economically due to its nacre layer on their shells. Lola shells are used as raw material in nail polish and high quality pearl buttons. Recently, the production of Rochia nilotica has drastically decreased. This study aimed to investigate the relationship on length-weight and condition factors of Rochia snails from four sites. Data collection was gathered on may-September 2021 at four sites i.e Kei Island, Morellla (Central Maluku), Sumbawa Island and Enggano Island with purposive sampling method. A total 177 individuals have been collected with a detail of 35 individuals from Kei Island, 61 Individuals from Central Maluku, 51 and 29 individuals from Sumbawa Island and Enggano island respectively.  The result showed that the relationship on length-weight of Rochia snails at Enggano Island, Sumbawa Island, central Maluku and Kei Island was  W=0,00707L2,2804, 0,00686L2,3949, 0,00308L2,5478,dan 0,00025L3,0893 respectively. The result shows that the growth pattern at Bengkulu, Sumbawa, and Morella follows a negative allometric model, while those at Kei Islands follow a positive allometric. Condition factors were relatively varied 1,0020-1,0317 suggested that the research waters were still a suitable environment for the growth of top shells.   Siput lola Rochia nilotica (Tegulidae) merupakan komoditi niaga bernilai ekonomis tinggi karena cangkangnya yang memiliki lapisan mutiara. Cangkang siput lola digunakan sebagai bahan baku industri cat kuku dan kancing yang berkualitas tinggi. Akibat eksploitasi berlebihan, produksi siput lola mengalami penurunan drastis selama beberapa tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan panjang berat dan faktor kondisi dari siput lola di 4 lokasi penelitian yang dipilih. Pengambilan data dilakukan pada bulan April-September 2021 dengan menggunakan metode Purposive Sampling yang dilakukan di 4 lokasi yaitu Kepulauan Kei, Morella, Pulau Sumbawa, dan Pulau Enggano yang mewakili 3 wilayah (Timur, Tengah dan Barat) Perairan Indonesia. Siput Lola yang diperoleh sebanyak 177 individu yang berasal dari 35 individu dari Kepulauan Kei, 61 individu Morella, 51 individu Sumbawa, dan 29 individu Enggano. Hubungan panjang berat siput lola di lokasi penelitian Enggano, Sumbawa, Morella, dan Kepulauan Kei secara berurutan yaitu sebesar W=0,00707L2,2804, 0,00686L2,3949, 0,00308L2,5478,dan 0,00025L3,0893. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola pertumbuhan siput lola di Pulau Enggano, Sumbawa dan Morella mengikuti model allometrik negatif, sedangkan pola pertumbuhan siput lola di Kepulauan Kei mengikuti model allometrik positif. Faktor kondisi relatif beragam dari 1,0020-1,0317 yang mengindikasikan bahwa daerah perairan penelitian masih merupakan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan siput lola.
Aktifitas Antibakteri Isolat Bakteri Asam Laktat Saluran Pencernaan Kuda Laut (Hippocampus kuda Bleeker, 1852) Terhadap Vibrio harveyi Fionica May Sandi; Subagiyo Subagiyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.12368

Abstract

Seahorses (Hippocampus kuda) have high economic value in global trade. Therefore, to meet market demand, cultivation efforts have been carried out. Vibriosis caused by Vibrio harveyi is a disease that is often reported to affect seahorses. In this study, lactic acid bacteria were isolated from the digestive tract of seahorses, and were selected based on their antibacterial activity against V, harveyi. Antibacterial activity test was carried out by agar diffusion method. Isolates with antibacterial activity were identified based on their morphological and biochemical characteristics. The results of this study obtained 3 (three) LAB isolates that were active against V. harveyi from a total of 45 isolates, namely SPKL 34, SPKL 08 and SPKL 58. The SPKL 34 isolate had the highest antibacterial activity. The three isolates were identified as lactobacillus sp  Kuda laut (Hippocampus kuda) memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai salah satu jenis komoditas perdagangan global. Oleh karena itu untuk memenuhi permintaan pasar diantaranya telah dilakukan upaya budidaya. Vibriosis yang disebabkan oleh Vibrio harveyi merupakan penyakit yang sering dilaporkan menyerang Kuda Laut. Pada penelitian telah dilakukan pencarian jenis-jenis bakteri asam laktat (BAL) yang berasal dari saluran pencernaan Kuda Laut yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap V. harveyi. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar. Isolat yang memiliki aktivitas antibakteri diidentifikasi berdasarkan karakteristik morfologi dan biokimia. Hasil penelitian ini memperoleh 3 (tiga) isolat BAL yang aktif terhadap V. harveyi dari total 45 isolat yaitu SPKL 34, SPKL 08 dan SPKL 58. Isolat SPKL 34 memiliki aktivitas yang paling tinggi yaitu dengan rerata luas zona hambat sebesar 4,14±0,60 mm. Hasil identifikasi menunjukkan ketiga isolat merupakan Lactobacillus sp. dengan tingkat kemiripan >80%.
Komunitas Moluska pada Berbagai Kondisi Mangrove di Segara Anakan, Cilacap-Jawa Tengah Nova Mujiono; Nur Rohmatin Isnaningsih
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.13717

Abstract

The mangrove forest in Segara Anakan lagoon continues to decrease from land conversion or sedimentation. It could have an impact on the diversity of molluscs. This study aims to inventory the diversity and the patterns of mangrove molluscs communities in the Segara Anakan lagoon area. The method used was a 5x5 m2 sample plot in five different mangrove forest cover conditions (dense mangroves, sparse mangroves, planted mangroves, Nipah, and open land). Each category is represented by two stations. The research was inventorying 19 species of molluscs from eight families. The species with the highest number of individuals was Cerithidea weyersi (26.53% of the population). The species with the widest distribution were Littoraria carinifera and Neripteron violaceum. In general, the molluscs communities found from the Segara Anakan Lagoon have moderate diversity, low dominance, and high evenness. The number of individuals and species based on the category of mangrove habitat conditions varies greatly. In dense mangroves (M1) found 119 individuals from 12 species, sparse mangroves (M2) 278 individuals from 15 species, planted mangroves (MT) 129 individuals from 7 species, Nipah (N) 36 individuals from 6 species, and in open land ( LT) collected 29 individuals from 7 species. The data show that sparse mangroves are preferred by molluscs when compared to dense mangroves. Our studies also added 6 species as new records from the Segara Anakan location, thereby increasing the number of molluscs diversity in the area become 61 species.    Hutan mangrove di laguna Segara Anakan terus mengalami penyusutan luas oleh konversi lahan maupun sedimentasi. Hal ini dapat berdampak terhadap keanekaragaman moluska yang hidup di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendata keanekaragaman dan pola komunitas moluska mangrove di kawasan laguna Segara Anakan. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan petak contoh 5x5 m2 pada lima kondisi tutupan hutan mangrove yang berbeda (mangrove padat, mangrove jarang, mangrove ditanam, Nipah, dan lahan terbuka). Masing-masing kategori diwakili oleh dua stasiun. Penelitian berhasil menginventaris 19 spesies moluska anggota dari delapan famili. Spesies dengan jumlah individu terbanyak adalah Cerithidea weyersi (26,53 % dari populasi). Adapun spesies dengan persebaran terluas adalah  Littoraria carinifera dan Neripteron violaceum. Secara umum komunitas moluska yang dijumpai dari Laguna Segara Anakan memiliki keanekaragaman sedang, dominansi rendah, dan kemerataann tinggi. Jumlah individu dan spesies berdasarkan kategori kondisi habitat mangrove sangat bervariasi. Kondisi mangrove padat (M1)dijumpai 119 individu dari 12 spesies, mangrove jarang (M2) 278 individu dari 15 spesies, mangrove ditanam (MT) 129 individu dari 7 spesies, Nipah (N) 36 individu dari 6 spesies, dan pada lahan terbuka (LT) berhasil dikoleksi 29 individu dari 7 spesies. Data kami menunjukkan bahwa mangrove jarang lebih disukai oleh moluska bila dibandingkan dengan mangrove padat. Penelitian kami juga menambahkan 6 spesies sebagai catatan baru dari lokasi Segara Anakan sehingga menambah jumlah keragaman moluska di kawasan tersebut menjadi 61 spesies.
Gastropoda Telescopium telescopium (Linnaeus, 1758) di Hutan Mangrove Desa Cut Mamplam Provinsi Aceh, Indonesia Ida Marina Harahap; Syahrial Syahrial; Erniati Erniati; Erlangga Erlangga; Imanullah Imanullah; Riri Ezraneti
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.13353

Abstract

The growth of an organism can provide fundamental ecological data and serve as a primary parameter for describing an organism's population dynamics. Telescopium telescopium gastropods were studied in September 2021 using purposive sampling in the mangrove forest of Cut Mamplam Village, Aceh Province. This study aims to provide fundamental data for mangrove management in Indonesia. Data were collected by creating a 40 m perpendicular to the coastline line transect, followed by 10 x 10 m sample plots and five 1 x 1 m sub plots. Following the collection of samples, additional analysis of the density, length and weight relationship, demographic structure, spatial distribution patterns based on the Morisita index, and growth characteristics were conducted as unique characteristics when compared to T. telescopium in other areas analyzed using PCA. The study's findings indicated that the density was low (< 7 ind/m2), the allometric length and weight relationship was negative (b < 3), the dominant growth demographic structure was mature (dominant SL 79.36 – 86.34 mm), the distribution pattern was clustered (Iδ = 02.75), and the BT, BWL, and AL morphometrics, in particular, had a variance of 95.91%. Pertumbuhan suatu organisme dapat menyediakan data ekologi dasar dan merupakan salah satu parameter yang utama dalam mengambarkan dinamika populasi suatu organisme, sehingga kajian gastropoda Telescopium telescopium di hutan mangrove Desa Cut Mamplam Provinsi Aceh dilakukan menggunakan purposive sampling pada bulan September 2021 dengan tujuan sebagai data dasar dalam pengelolaan mangrove di Indonesia, dimana data dikumpulkan dengan cara membuat transek garis sepanjang 40 m tegak lurus garis pantai, kemudian dibuat petak-petak contoh berukuran 10 x 10 m dan selanjutnya dibuat sub plot berukuran 1 x 1 m sebanyak 5 sub plot. Setelah sampel terkumpul, selanjutnya dilakukan analisis kepadatan, hubungan panjang berat tubuh, struktur demografi, pola penyebaran spasial berdasarkan indeks Morisita dan karakteristik pertumbuhannya sebagai penciri khusus bila dibandingkan dengan T. telescopium di kawasan lain yang dianalisis menggunakan PCA. Hasil kajian memperlihatkan bahwa kepadatannya rendah (< 7 ind/m2), hubungan panjang beratnya allometrik negatif (b < 3), struktur demografi pertumbuhan yang dominan ditemukan tergolong dewasa (SL dominan 79.36 – 86.34 mm), pola penyebarannya mengelompok (Iδ = 02.75) dan morfometrik BT, BWL maupun AL sebagai penciri khususnya memiliki varian 95.91%.  
Molecular Identification of Brown Algae Sargassum sp. from the Lombok Coastal Waters Yeni Sulistiyani; Norma Afiati; Haeruddin Haeruddin; Agus Sabdono
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 3 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i3.14760

Abstract

Sargassum is a well-known genus of brown algae in Indonesia that has long been investigated due to its economic importance. To support its biological research, it is important to identify and classify the species studied. Morphological identification had greatly contributed to taxonomy, however, it cannot distinguish Sargassum species accurately due to its plasticity. The current study aims to identify Lombok Sargassum molecularly using an ITS2 DNA barcode. Fresh algae were collected from Ekas Bay (EB) and Aan Cape (AC) in Lombok. DNA was first purified, and then its gene product was amplified using ITS2 primers. DNA sequences were examined and traced using the Basic Local Alignment Search Tool (BLAST). DNA sequences were processed in MEGA-X to reconstruct the phylogenetic tree and estimate the genetic distance. Three species were identified based on the BLAST results: Sargassum cf granuliferum, Sargassum polycystum, and Sargassum oligocystum. The base length obtained ranged from 521 to 637 bp, with a similarity percentage of 99.25 to 100%. The phylogenetic tree exhibited each recognized Sargassum species was clustered with the same species from the gene bank. Interspecies genetic distance was 0,000-0,0039, while amongst Sargassum species it's 0,0136-0,2395. The genetic distance between Sargassum and Ulva adherens (outgroup) was >1. Sargassum species found in Lombok were closely related to other similar species in the GenBank.
Korelasi Klorofil-a dengan Nutrien dan Kualitas Perairan di Pulau Seruni Karimunjawa Indonesia Rikha Widiaratih; Agus Anugroho Dwi Suryoputra; Gentur Handoyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.14170

Abstract

Seruni Island is one of the islands located in the easternmost and is an uninhabited island in Karimunjawa, Jepara Regency, Central Java. Seruni Island has a tourist attraction, namely a stretch of white sand, coral reefs, and which is currently used by local people for seaweed cultivation. There are still many tourism opportunities and marine utilization that have not been utilized optimally. Knowing the availability of chlorophyll-a and its correlation with nutrients (ammonia, nitrate, and phosphate) and water quality on Seruni Island can provide an initial overview of the fertility conditions of the waters on Seruni Island so that other marine utilization opportunities can be wide opened. In situ data are collected such as seawater samples, which are then analyzed in the laboratory, as well as water quality parameters including salinity, pH, DO, temperature and brightness. Although Seruni Island is an uninhabited island, however, it is possible that there will be runoff from the surrounding inhabited islands, which will increase the concentration of chlorophyll-a. The results showed that chlorophyll-a had a high and negative correlation with nutrients, namely ammonia (r=-0.985), and water quality, namely temperature and brightness (r=-0.895 and r=-0.734).  Pulau Seruni merupakan salah satu pulau yang lokasinya terletak paling timur dan merupakan pulau tidak berpenghuni di Karimunjawa, Kabupaten Jepara Jawa Tengah. Pulau Seruni memiliki daya tarik wisata yaitu hamparan pasir putih, terumbu karang, dan yang saat ini dimanfaatkan masyarakat setempat untuk budidaya rumput laut. Masih banyak peluang wisata dan pemanfaatan bahari yang belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan mengetahui ketersediaan klorofil-a dan korelasinya terhadap nutrien (ammonia, nitrat dan fosfat) dan kualitas perairan di Pulau Seruni dapat memberikan gambaran awal terkait kondisi kesuburan perairan yang ada di Pulau Seruni, sehingga dapat terbuka peluang pemanfaatan bahari lainnya. Data in situ yang diambil berupa sampel air laut, yang selanjutnya dianalisis di laboratorium, serta parameter kualitas perairan meliputi salinitas, pH, DO, suhu dan kecerahan. Walaupun Pulau Seruni merupakan pulau yang tidak berpenghuni, namun demikian tidak menutup kemungkinan terdapat limpasan massa air yang berasal dari pulau sekitarnya yang berpenghuni yang berdampak pada meningkatnya konsentrasi klorofil-a. Hasil penelitian menunjukkan klorofil-a memiliki korelasi yang tinggi dan bernilai negatif dengan nutrient, yaitu ammonia (r=-0,985), dan kualitas perairan yaitu suhu dan kecerahan (r=-0,895 dan r=-0,734). Kata kunci : klorofil-a, nutrient, kualitas perairan, Korelasi, P.Seruni
Pemodelan Pola Sedimentasi di Muara Cisadane untuk Mendukung Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara Mardi Wibowo; Hanah Khoirunnisa; Khusnul Setia Wardhani; Reni Wijayanti
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.13732

Abstract

NCICD is one of the national strategic programs to deal with coastal problems in Jakarta. One alternative structure to be built is WLP or known as coastal resort. As an initial step to make it happen, BAPPENAS plans to build a WLP pilot plan around the S. Cisadane estuary. One of the main considerations for designing the WLP layout is the process and pattern of sedimentation around the Cisadane estuary. Therefore, computational modeling of sediment transport around the Cisadane estuary was carried out for a period of 1 year (August 2020-July 2021). This modeling uses MIKE-21 module MIKE21/3 Integrated Models software which combines hydrodynamics and cohesive sediment transport models. Based on the results of this modeling, it is known that there are differences in sediment transport patterns in the west and east monsoons. During 1 year, changes in the thickness of the bottom sediment around the estuary of S. Cisadane ranged from -0.4 to 0.7 m with a mean of 0.086 m. Coastal reservoir design must take into the very dynamic sedimentation process around the Cisadane estuary.   Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN) merupakan salah satu program strategis nasional untuk menangani permasalahan pesisir di Jakarta. Salah satu alternatif struktur yang akan dibangun adalah WLP atau dikenal sebagai coastal reservoir. Sebagai langkah awal mewujudkannya BAPPENAS merencanakan membangun pilot plan WLP di sekitar muara S. Cisadane. Salah satu pertimbangan utama untuk mendesain layout WLP adalah proses dan pola sedimentasi di sekitar muara Cisadane. Oleh karena itu dilakukan pemodelan komputasi transpor sedimen di sekitar muara Cisadane selama kurun waktu 1 tahun (Agustus 2020-Juli 2021). Pemodelan ini menggunakan software MIKE-21 module MIKE21/3 Integrated Models yang menggabungkan model hidrodinamika dan transpor sedimen kohesif. Berdasarkan hasil pemodelan ini diketahui bahwa terdapat perbedaan pola transpor sedimen di musim barat dan musim timur. Selama 1 tahun, perubahan ketebalan sedimen dasar di sekitar muara S. Cisadane berkisar -0,4-0,7 m dengan rerata 0,086 m. Pola sedimentasi yang sangat dinamis harus mendapatkan perhatian khusus dalam merancang waduk lepas pantai. 
Analisis Target strength Kuda Laut (Hippocampus comes) Terhadap Ukuran Feren Rika Susanti; Dony Apdillah; Ita Karlina
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.13409

Abstract

Seahorses are marine biota that have distinctive body characteristics that can be distinguished from other fish. Male seahorses have brood pouches. Estimation of the presence of seahorses is still very limited, an effective approach is needed to detect the presence of seahorses. The approach is carried out with an underwater acoustic approach to predict the presence of seahorses by looking at observations, namely the strength of the target. This study aims to analyze the value of Target Strength (TS) of seahorses based on size. The method used is the method of collecting experimental data. The seahorse used collected ten samples. The object placement method uses the ikat method. The TS response value was recorded using a Simrad EK-15 instrument with a frequency of 200kHz and morphometric measurements were performed. Morphometric measurements in the form of standard length measurements, seahorse head length to record acoustic signals in 3 conditions, namely females, non-pregnant males and pregnant males. Analysis of the relationship between the value of the target strength with seahorse morphometrics using statistical analysis, namely linear regression, ANOVA analysis and Tukey's follow-up test. The resulting seahorse is a species of Hippocampus. The distribution range of the resulting TS response values ranges from -58.38 dB to -67.75 dB. The result of this study is the influence of the measuring variable on the TS value formed  Kuda laut merupakan biota laut yang memiliki karakteristik tubuh unik  yang dapat di bedakan dari ikan lainnya. Pendugaan keberadaan kuda laut di alam masih sangat terbatas, saat ini masih menggunakan teknik visual statistik yang bersifat sampling point. Pendekatan underwater acoustic diperlukan untuk menduga keberadaan dari kuda laut di perairan, dibutukan informasi  nilai pantulan akustik yang dikenal dengan target strength. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai Target strength (TS) dari kuda laut berdasarkan ukuran. Metode yang perekaman sinyal akustik pada lingkungan alami dari habitat kuda laut. Kuda laut yang digunakan berjumlah sepuluh sampel denan metode pemeruman menggunakan thetred method. Perekaman nilai respon TS menggunakan alat scientific echosounder Simrad EK-15 frekuensi 200kHz. Pengukuran morfometrik berupa pengukuran panjang standar, panjang kepala. Data akustik dianalisis dengan perangkat lunak Sonar-5 Pro, selanjutnya analisis statistik regresi linear. Hasil penelitian menujukan hubungan nilai target strength rata-rata berkisar antara -58,38 (SD±2,93) sampai dengan -67,75 dB (SD±1,26). Hubungan TS terhadap panjang standar (PS) menunjukan hubungan positif, semakin besar ukuran kuda laut maka semakin besar pula nilai TS. Dengan formulasi TS = 20,62 log10 (PS) – 84,32 [dB], dengan koefisien determinasi  sebesar 14,1 %. Sementara itu hubungan TS terhadap Panjang Kepala (PK) diformulasikan menjadi TS = 11,43 log10 (PK) – 67,72 [dB] dengan koefisien determinasi 4,1 % lebih rendah dibandingkan dengan variabel panjang standar. Hasil ini telah mempertegas bahwa ukuran kuda laut dapat mempengaruhi nilai TS.