cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kelautan Tropis
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14108852     EISSN : 25283111     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 451 Documents
Karakteristik Biofilm Komposit CMC- Gliserol-Alginat dari Sargassum sp pada Perlakuan dengan Kalsium Klorida Ali Ridlo; Sri Sedjati; Endang Supriyantini; Oetari Kusuma Putri
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.13773

Abstract

Bioplastics are plastics made from renewable raw materials such as polysaccharides, proteins and lipids. One of the alternative sources of bioplastic raw materials is hydrocolloid from seaweed, which is abundantly available in Indonesia, so that this hydrocolloid-based bioplastic is very prospective to be developed, and can increase the added value of seaweed. The physical and mechanical properties of alginate bioplastics can be improved by combining them with other materials into biocomposite materials that have superior properties and meet specifications. This study aims to determine the effect of calcium chloride (CaCl2) on the physical and mechanical properties of the CMC-Glycerol-Alginate composite bioplastic from Sargassum sp. Bioplastics were made by mixing 0.5 g of alginate flour, added CMC (1.5 g), and 100 ml of distilled water, then stirred with a magnetic stirrer for 10 minutes at 90oC. After that, the temperature was lowered to 40oC and 5 ml of glycerol was added and then homogenized again for 15 minutes. The mixture was filtered and then poured into a glass mold and the surface was leveled using a stainless steel cylinder, then dried in an oven at 80oC for 12 hours. After that the bioplastic is released from the glass plate. In the soaking method, the bioplastic sheets were immersed in a 2% CaCl¬2 solution for 5 minutes, then dried and stored in a desiccator. In the mixing method, 1 gram of CaCl¬2 was put directly into the alginate-CMC-glycerol mixture and homogenized with a magnetic stirrer at 90oC for 15 minutes, then printed on a glass plate, then dried at 100oC for 12 hours. CaCl2 treatment by mixing and soaking decreased elongation, tensile strength, biodegradability and transparency, but increased water resistance and thickness of the alginate-CMC-glycerol composite bioplastic, and changed the surface properties of the bioplastic to be rougher. No new functional groups were formed due to the interaction between alginate, CMC, glycerol, distilled water and CaCl2.  Bioplastik adalah plastik yang dibuat dari bahan baku terbarukan seperti polisakarida, protein dan lipida. Salah satu alternatif sumber bahan baku bioplastik adalah hidrokoloid dari rumput laut yang tersedia melimpah di Indonesia, sehingga bioplastik berbahan hidrokoloid ini sangat prospektif untuk dikembangkan, serta dapat meningkatkan nilai tambah rumput laut.Sifat fisik dan mekanik bioplastik alginat dapat ditingkatkan dengan cara dikombinasi dengan bahan lain menjadi material biokomposit yang memiliki sifat unggul dan memenuhi spesifikasi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kalsium klorida (CaCl2) terhadap sifat fisik dan mekanik bioplastik komposit CMC- Gliserol-Alginat dari Sargassum sp.Bioplastik dibuat mdengan mencampurkan tepung alginat sebanyak 0,5 g ditambahkan CMC ( 1,5 g), dan akuades 100 ml, lalu diaduk dengan magnetic stirrer selama 10 menit pada suhu 90oC. Setelah itu, suhu diturunkan sampai 40oC dan ditambahkan gliserol 5 ml lalu dihomogenkan lagi selama 15 menit. Campuran disaring lalu dituang dalam cetakan kaca dan diratakan permukaannya menggunakan silinder stainless steel, kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 80oC selama 12 jam. Setelah itu bioplastik dilepaskan dari pelat kaca. Pada metoda soaking lembaran bioplastik direndam dalam larutan CaCl­2 2% selama 5 menit, lalu dikeringkan dan disimpan dalam desikator. Pada metoda mixing, CaCl­2 sebanyak 1 gram dimasukkan langsung ke dalam campuran alginat-CMC-gliserol dan dihomogenkan dengan magnetic stirrer pada suhu 90oC selama 15 menit, lalu dicetak dalam pelat kaca, lalu dikeringkan pada suhu 100oC selama 12 jam. Perlakuan CaCl2 dengan cara mixing dan soaking menurunkan elongasi, kuat tarik, biodegradabilitas dan transparansi, tetapi meningkatkan ketahanan air dan ketebalan bioplastik komposit alginat-CMC-gliserol, serta mengubah sifat permukaan bioplastik menjadi lebih kasar. Tidak terdapat gugus fungsi baru yang terbentuk akibat interaksi antara alginat, CMC, gliserol, akuades dan CaCl2.
Penutupan, Rugositas Terumbu Karang dan Kelimpahan Ikan Karang di Perairan Utara Bangkalan Lisana Ainun Shafa Ariyanti; Henik Novitasari; Insafitri Insafitri; Wahyu Andy Nugraha
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.13769

Abstract

Coral reefs are marine organisms in the form of limestone (CaCO3). Reef fish are fish associated with coral reefs. The abundance of reef fish is influenced by the fertility of coral reefs in the waters. This research was conducted in September 2021 in the waters of Lembung Paseser and Labuhan with 2 stations in the waters of Lembung Paseser and 2 stations in the waters of Labuhan. This study aims to determine the condition of coral reefs, percentage of live coral cover, abundance of reef fish, diversity index (H'), uniformity (E), dominance (C) and to determine the relationship between coral reefs and reef fish. The coral cover data collection method is LIT (Line Intercept Transect) and the coral reef rugosity data collection method uses the CIT (Chain Intercept Transect) method, while the coral fish data collection methods are the belt transect method and the Underwater Visual Census (UVS). Percentage of coral cover ranging from 11% to 37% classified as damaged to moderate damage. The abundance of reef fish at station 1 was 0.18 ind/m2, station 2 was 0.106 ind/m2, station 3 was 0.908 and station 4 was 0.216 ind/m2. The average rugosity value at station 1 is 1.17, station 2 is 1.23, station 3 is 1.33 and station 4 is 1.16. The indicator fish species in Lembung Paseser waters were Chelmon rostratus and Heniochus diphreutes as many as 7 individuals while the indicator fish species in Labuhan waters were Chaetodon vagabundus and Heniochus diphreutes as many as 15 individuals. The correlation between coral reef cover and reef fish was 54.06% which showed a strong correlation, while the correlation between coral reef rugosity was 73.52% which showed a strong correlation.  Terumbu karang merupakan organisme laut berupa batuan kapur (CaCO3). Ikan karang merupakan ikan yang berasosiasi dengan terumbu karang. Kelimpahan ikan karang dipengaruhi oleh suburnya terumbu karang di perairan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2021 di perairan Lembung Paseser dan Labuhan dengan 2 stasiun perairan Lembung Paseser dan 2 stasiun di perairan Labuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang, persentase tutupan karang hidup, kelimpahan ikan karang, indeks keanekaragaman (H'), keseragaman (E), dominasi (C) dan untuk mengetahui hubungan terumbu karang dan ikan karang.  Metode pengambilan data tutupan karang yaitu LIT (Line Intercept Transect) dan metode pengambilan data rugositas terumbu karang menggunakan metode CIT (Chain Intercept Transect), sedangkan metode pengambilan data ikan karang adalah metode belt transek dan Underwater Visual Sensus (UVS).  Persentase tutupan karang berkisar 11% sampai 37% tergolong rusak hingga kerusakan sedang.  Kelimpahan ikan karang pada stasiun 1 sebesar 0,18 ind/m2, stasiun 2 sebesar 0,106 ind/m2, stasiun 3 sebesar 0,908 dan stasiun 4 sebesar 0,216 ind/m2. Nilai rugositas rata rata pada stasiun 1 yaitu 1,17, stasiun 2 yaitu 1,23, stasiun 3 yaitu 1,33 dan stasiun 4 yaitu 1,16. Jenis Ikan indikator di Perairan Lembung Paseser yaitu Chelmon rostratus dan Heniochus diphreutes sebanyak 7 individu sedangkan jenis ikan indikator di Perairan Labuhan yaitu Chaetodon vagabundus dan Heniochus diphreutes sebanyak 15 individu. Korelasi hubungan tutupan terumbu karang dan ikan karang sebesar 54,06% yang menunjukkan hubungan kuat sedangkan kolerasi hubungan rugositas terumbu karang sebesar 73,52% yang menunjukkan hubungan kuat.
Asosiasi Siput Gonggong (Strombus sp.) pada Ekosistem Lamun Di Pesisir Timur Pulau Bintan Nurul Hati; Ita Karlina; Rika Angraeni; Aditya Hikmat Nugraha; Fadhliyah Idris; Jelita Rahma Hidayati
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.13414

Abstract

The east coast of Bintan Island is an area that has a wide distribution of seagrass with good conditions for the association of Strombus sp in the seagrass ecosystem. This research aims to identify seagrass coverage and abundance of golden snails (Strombus sp) and study the association of golden snails (Strombus sp.) in seagrass ecosystems on the east coast of Bintan Island. This research was conducted on the East Coast of Bintan Island from June until July 2021 (Teluk Bakau Village, Malang Rapat Village and Berakit Village). The tools and materials used in this research were GPS, 1x1 m quadrant transect, roller meter, digital scales, calliper, multitester, hand refractometer, pH meter, pipe (20cm), sieve net, stationery and aluminium foil. The sampling method used three transects with a distance of 100 m towards the sea with a distance between transects of 50 m, with a 1 x 1 m quadrant transect beginning from point 0 until 100 m. Data analysis used in this research were seagrass coverage, Strombus sp. abundance and PCA (Principal Component Analysis) analysis which relates the abundance of barking snails, seagrass cover, water physicochemical parameters and substrate. Strombus sp. found are Strombus urceus, Strombus canarium and Strombus turturella. The Strombus urceus type has a high 4,3 ind/m2 abundance value compared to other types of Strombus sp. at all stations. Types of Strombus canarium and Strombus turturella were mostly found in low seagrass cover and associated with seagrass species Halophila, Thalassia hemprichii and Halodule uninervis, while Strombus urceus species were mostly found in medium and dense seagrass cover and positively associated with Enhalus acoroides, Thallasia hemprichi, Cymodocea rotundata.    Pesisir Timur Pulau Bintan merupakan wilayah yang memiliki sebaran lamun yang luas dengan kondisi baik bagi asosiasi Strombus sp. pada ekosistem lamun. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi tutupan lamun dan kelimpahan siput gonggong (Strombus sp.) dan mempelajari asosiasi siput gonggong (Strombus sp.) pada ekosistem lamun di pesisir Timur Pulau Bintan. Penelitian ini dilakukan di Pesisir Timur Pulau Bintan pada bulan Mei hingga Juni 2021 (Desa Teluk Bakau, Desa Malang Rapat dan Desa Berakit). Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah GPS, transek kuadran 1x1 m, rol meter, timbangan digital, jangka sorong, multitester, hand refracstometer, pH meter, pipa paralon (20cm), sieve net, alat tulis dan alumunium foil. Metode sampling menggunakan 3 transek dengan panjang 100 m ke arah laut dengan jarak antar transek yaitu 50 m, dengan transek kuadran 1 x 1 m dimulai dari titik 0 sampai 100 m. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tutupan lamun, kelimpahan Strombus sp., serta analisis PCA (Principal Component Analysis) yang menghubungkan antar variabel kelimpahan siput gonggong, tutupan lamun, parameter fisika kimia perairan dan substrat. Jenis Strombus sp. yang dijumpai diantaranya Strombus urceus, Strombus canarium dan Strombus turturella. Jenis Strombus urceus memiliki nilai 4,3 ind/m2 kelimpahan yang tinggi dibandingkan dengan jenis Strombus sp. lain pada seluruh stasiun. Jenis Strombus canarium dan Strombus turturella banyak ditemukan pada tutupan lamun yang rendah serta berasosiasi dengan jenis lamun Halophila, Thalassia hemprichii dan Halodule uninervis, sedangkan jenis Strombus urceus banyak ditemukan pada tutupan lamun yang sedang dan padat serta berasosiasi positif dengan Enhalus acoroides, Thallasia hemprichi, Cymodocea rotundata.
Model Prediksi Jumlah Pakan menggunakan Algoritma Evolusi Pikiran - Jaringan Syaraf Tiruan Rambatan Balik untuk Budidaya Udang Erwin Adriono; Maman Somantri; Chrisna Adhi Suryono
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.14256

Abstract

Menentukan jumlah pakan yang sesuai merupakan hal penting dalam kegiatan budidaya udang berjenis Litopenaeus Vannamei. Jumlah pakan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain Jumlah Udang, Umur udang, DO, Salinitas, Alkalinitas, Suhu dan PH. Hubungan antar faktor tersebut dengan jumlah pakan sulit dibuatkan dalam persamaan matematis maupun dengan metode statisik. Permasalahan tersebut dapat diselesaikan menggunakan Neural network. Neural network menjadi solusi untuk memodelkan hubungan input dan output yang kompleks. Hubungan Jumlah pakan dan faktorlainnya akan dimodelkan menggunakan metode Backpropagation NN yang dikombinasikan dengan algoritma optimasi seperti Genetic Algoritm dan Mind Evotionary Algoritm. Model BPNN, BPNN – GA dan BPNN MEA akan dibandingkan performa menggunakan MSE, RSME, MAE dan MAPE. Dari ketiga metode yang digunakan didapatkan hasil paling baik adalah pada BPNN MEA yaitu nilai MSE, RSME, MAE dan MAPE berturut-turut adalah 40,92; 6,39; 6,51 dan 20,29.   Determining the appropriate amount of feed is important in the aquaculture of Litopenaeus Vannamei shrimp. The amount of feed can be influenced by many factors including the number of shrimp, shrimp age, DO, salinity, alkalinity, temperature and PH. The relationship between these factors and the amount of feed is difficult to make in mathematical equations or with statistical methods. These problems can be solved using a neural network. Neural network is a solution for modeling complex input and output relationships. The relationship between the amount of feed and other factors will be modeled using the Backpropagation NN method combined with optimization algorithms such as Genetic Algorithm and Mind Evotionary Algorithm. The BPNN, BPNN – GA and BPNN MEA models will be compared using MSE, RSME, MAE and MAPE. Of the three methods used, the best results were obtained on BPNN MEA, with values of MSE, RSME, MAE and MAPE respectively 40,92; 6,39; 6,51  and 20,29.
Alokasi Energi, Fekunditas, dan Sintasan Larva Cacing Nipah Simpatrik (Polychaeta: Nereididae) Junardi Junardi; Tjandra Anggraeni; Ahmad Ridwan; Edy Yuwono
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.13867

Abstract

Two species of semelparity Nypa palm worms can only reproduce once during their lifetime lives sympatrically. This reproductive is a unique strategy for allocating energy and fecundity to maximize fertility and larval survival. Information about energy allocation and fecundity of semelparity Nypa palm worms is not yet available. This study aimed to obtain data on the strategy of two species of sympatric Nypa palm worms related to total energy allocation, fecundity, and larval survival. Energy allocation determining by the proportion between reproductive energy and somatic energy. Fecundity was calculated based on the total number of oocytes obtained from the same individual samples used for energy measurement. Larvae survival was counting the trochophore and 3-setigers larvae resulting from fertilization. Energy allocation, fecundity, and survival were analyzed descriptively. The results showed that both sympatric species allocated energy for reproduction. The fecundity of Namalycastis rhodochorde was higher than that of Namalycastis abiuma, but had lower larval survival than N. abiuma. Fecundity in N. rhodochorde is a strategy to compensate for the low survival rate. Meanwhile, N. abiuma had lower fecundity but had high larval survival. Fecundity and larval survival between the two sympatric Nypa palm worm species differed, but both allocated the same energy. Different larval survival yet similar energy allocation is their strategy to survive in the same environmental conditions.    Dua spesies cacing nipah semelparitas yang hanya dapat melakukan reproduksi sekali selama hidupnya ditemukan hidup secara simpatrik. Kemampuan adaptasi ini mengindikasikan adanya strategi yang khas dalam mengalokasikan energi dan fekunditasnya sehingga dapat memaksimalkan fertilitas dan sintasan larva, namun informasi tersebut masih belum tersedia. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan data strategi dua spesies cacing nipah simpatrik terkait dengan alokasi energi total, fekunditas, dan sintasan larva. Alokasi energi dideterminasi dengan menghitung proporsi antara energi reproduksi  dan energi somatis. Fekunditas dihitung berdasarkan jumlah total oosit yang didapatkan dari sampel individu yang sama dengan yang digunakan untuk pengukuran energi. Penghitungan sintasan dilakukan dengan menghitung jumlah larva trokofor dan larva 3-setiger hasil fertilisasi. Data alokasi energi, fekunditas, dan sintasan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan kedua spesies simpatrik mengalokasi energi untuk reproduksi. Fekunditas Namalycastis rhodochorde lebih tinggi dibandingkan Namalycastis abiuma, namun memiliki sintasan larva yang lebih rendah dari N. abiuma. Fekunditas pada N. rhodochorde merupakan startegi untuk mengimbangi rendahnya sintasan. Sementara itu, N. abiuma memiliki fekunditas yang lebih rendah namun memiliki sintasan larva yang tinggi. Fekunditas dan sintasan larva antara kedua spesies cacing nipah simpatrik ditemukan berbeda namun keduanya mengalokasi energi yang sama. Perbedaan fekunditas dan sintasan serta persamaan alokasi energi merupakan strategi spesies simpatrik untuk dapat bertahan hidup pada kondisi lingkungan yang sama. 
Pemetaan Sebaran Lamun Menggunakan Metode Lyzenga Studi Kasus Pulau Kapoposang, Provinsi Sulawesi Selatan Dwi Rosalina; Katarina Hesty Rombe; Hasnatang Hasnatang
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.13484

Abstract

Remote sensing is an alternative to help detect the distribution of seagrass. The satellite image used is Landsat 8 Image (LDCM). Seagrass is a plant that lives in shallow and estuarine waters. This study aims to map the distribution of seagrass on Kapoposang Island using the lyzenga method and validate the data by calculating the density and cover of seagrass. This research was conducted on Kapoposang Island. the results of the analysis of the shallow water correction lyzenga obtained seagrass area of about 40.58 ha. There were 6 types of seagrass found on Kapoposang Island, namely Thalassia hemprichii, Enhalus acroides, Cymodocea rotundata, Halodule pinifolia, Halophila ovalis, and Syringodium isoetifolium. The highest density value was Thalassia hemprichii 24-38 ind/m², while the lowest density was Halophila ovalis and Enhalus acroides 1 ind/m². The highest seagrass closing value was 29%. Determination of the status of seagrass beds in damaged condition and poor category because it only reached 29.9%.   Penginderaan jauh merupakan alternative untuk dapat membantu mendeteksi sebaran lamun. Citra satelit yang digunakan adalah Citra Landsat 8 (LDCM). Lamun merupakan tumbuhan yang hidup diperairan dangkal dan estuari. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan sebaran lamun di Pulau Kapoposang dengan menggunakan metode lyzenga  dan validasi data dengan menghitung kerapatan dan penutupan lamun. Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Kapoposang. hasil analisis lyzenga koreksi perairan dangkal diperoleh luasan lamun sekitar 40.58 Ha. Adapun jenis lamun yang ditemukan di Pulau Kapoposang 6 jenis lamun yaitu Thalassia hemprichii, Enhalus acroides, Cymodocea rotundata, Halodule pinifolia, Halophila ovalis, dan Syringodium isoetifolium. Nilai kerapatan tertinggi Thalassia hempricii 24-38 ind/m², sedangkan kerapatan terendah yaitu Halophila ovalis dan Enhalus acroides 1 ind/m². Nilai penutupan lamun tertinggi 29%. Penentuan status padang lamun dalam kondisi rusak dan kategori miskin dikarenakan hanya mencapai 29,9%.
Karakteristik Arus Laut Permukaan dari High Frequency Radar pada Musim Timur di Selat Bali Shafira Tsanyfadhila; Aris Ismanto; Muhammad Helmi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 3 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i3.13978

Abstract

Bali Strait has many activities in port and water, such as passenger and freight transportation, tourism, and fisheries. Oceanographic conditions, especially sea surface current (SSC), affect the smoothness of ports and shipping activities in the Bali Strait. High-Frequency Radar (HF Radar) has the advantage of monitoring and mapping surface currents and ocean waves with high resolution. Because of the narrow strait area, HF Radar is very beneficial in describing the characteristics of SSC in the Bali Strait. Therefore, HF Radar data is used to describe the dynamics of SSC in the Bali strait, especially in ship crossing lane, with a temporal approach during Southeast Monsoon, June to August 2020. This study was conducted for 15 days each month which included neap tide and spring tide. Surface current charts are created to analyze the pattern of temporal SSC against the wind, tides, and their components. The results showed In the southeast monsoon, the average current speed at the research site ranged from 0.1 – 1.08 m/s. The direction of the surface current is predominantly towards the south. The characteristics of surface currents in the Bali Strait are influenced by tides, sea level anomalies, and coastal morphology. Temporally, the speed of the current is greater during the ebb phase and when the spring tide. Spatially, the central region of the Bali Strait waters has a greater current speed. Knowledge of areas and times with higher current speeds can be the basis for determining the shipping lane between ports in the Bali Strait.  Selat Bali memiliki banyak kegiatan di pelabuhan dan perairan, seperti transportasi penumpang dan barang, pariwisata, serta perikanan. Kondisi oseanografi, khususnya arus permukaan laut, mempengaruhi kelancaran pelabuhan dan aktivitas pelayaran di Selat Bali. High-Frequency Radar (HF Radar) memiliki keunggulan pemantauan dan pemetaan arus permukaan dan gelombang laut dengan resolusi tinggi. Karena wilayah selat yang sempit, HF Radar sangat bermanfaat dalam menggambarkan karakteristik arus permukaan laut di Selat Bali. Oleh karena itu, data HF Radar digunakan untuk menggambarkan dinamika arus permukaan laut di jalur penyeberangan Selat Bali dengan pendekatan temporal pada musim timur, bulan Juni hingga Agustus 2020. Penelitian ini dilakukan selama 15 hari tiap bulan yang mencakup waktu pasang purnama dan pasang perbani. Grafik arus permukaan dibuat untuk menganalisis pola arus permukaan laut secara temporal ketika musim timur terhadap angin, pasang surut dan komponennya. Hasil menunjukkan pada musim timur, rata – rata kecepatan arus di lokasi penelitian berkisar antara 0.1 – 1.08 m/s. Arah arus permukaan dominan ke arah selatan. Karakteristik arus permukaan di Selat Bali di pengaruhi oleh pasang surut, sea level anomaly dan morfologi pantai. Secara temporal, kecepatan arus lebih besar ketika menuju surut dan ketika pasang purnama. Secara spasial, wilayah tengah perairan Selat Bali memiliki kecepatan arus yang lebih besar. Pengetahuan mengenai wilayah perairan dan waktu – waktu dengan kecepatan arus yang tinggi dapat menjadi dasar dalam penentuan alur pelayaran antar pelabuhan di Selat Bali.
Distribusi Horizontal Klorofil-A dan Material Padatan Tersuspensi di Muara Bodri, Jawa Tengah Alif Maulida Amna; Lilik Maslukah; Sri Yulina Wulandari
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.13949

Abstract

The Bodri Estuary receives mass input of water from land which carries nutrients and suspended matter. This will have an impact on the fertility and quality of the Bodri Estuary. Monitoring the quality of these waters is very important so that the condition of the waters and the level of fertility are known, which are closely related to fishery productivity. The aim of this study was to obtain the concentration and horizontal distribution of chlorophyll-a, total suspended solids (TSS) and its relationship to other environmental parameters, such as salinity, pH, DO, temperature, and transparancy. Sampling was carried out in July 2020. The analysis of chlorophyll-a using the spectrometric and TSS by gravimetric method. Principal component analysis (PCA) in this study was used to see the relationship between chlorophyll-a and TSS on the other environmental parameters. The results showed that the concentration of chlorophyll-a ranged from 1.09 - 15.89 g/L and SPM ranged from 53.2 mg/L - 139 mg/L. The distribution of chlorophyll-a and TSS showed higher in the estuary and slowly decreased towards the sea. The results of the analysis showed that chlorophyll-a and TSS had a very strong positive correlation (r = 0.927, P < 0.001). Salinity and pH are parameters of the aquatic environment that affect its distribution. The negative correlation between TSS and chlorophyll-a on salinity illustrates the influence of the water mass source from the river. This relationship illustrates the important role of river water input on fertility processes in marine areas in supporting potential fishing areas  Muara Bodri menerima masukan massa air dari darat yang membawa nutrien dan material tersuspensi.  Hal ini akan berdampak terhadap kesuburan dan kualitas Muara Bodri. Monitoring kualitas perairan ini sangat penting dilakukan sehingga diketahui terkait kondisi perairan dan tingkat kesuburan, yang sangat berkaitan dengan produktivitas perikanan. Penelitian ini bertujuan mendapatkan konsentrasi dan distribusi horizontal dari klorofil-a, material padatan tersuspensi (MPT) serta hubungannya terhadap parameter lingkungan lain, seperti salinitas, pH, DO, suhu, dan kecerahan. Pengambilan sampel dilakukan pada Juli 2020. Metode analisis klorofil-a dilakukan secara spektrometri dan MPT secara gravimetri. Analisis komponen utama (AKU) dalam penelitian ini digunakan untuk melihat keterkaitan antara klorofil-a dan MPT terhadap parameter lingkungan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi klorofil-a berkisar antara 1,09 - 15,89 µg/L dan MPT berkisar 53,2-139 mg/L. Distribusi klorofil-a dan MPT menunjukkan lebih tinggi di muara dan secara perlahan-lahan mengalami penurunan ke arah laut. Hasil analisis menunjukkan bahwa klorofil-a dan MPT memiliki korelasi positif sangat kuat (r = 0,927, P < 0,001). Korelasi positif ini menggambarkan bahwa kontribusi klorofil-a sangat tinggi terhadap MPT tersebut, sehingga dapat menggambarkan melimpahnya fitoplankton. Salinitas dan pH, merupakan parameter lingkungan perairan yang berpengaruh terhadap distribusinya. Korelasi negatif dari MPT dan klorofil-a terhadap salinitas menggambarkan adanya pengaruh sumber massa air dari sungai. Hal ini menginformasikan peran penting masukan air sungai terhadap proses kesuburan di wilayah laut dalam mendukung daerah tangkapan ikan yang potensial.
Identifikasi Mikroplastik pada Sedimen Pantai Sukaraja, Lampung Rina Budi Satiyarti; Suci Wulan Pawhestri; Innas Salwa Adila
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 3 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i3.12786

Abstract

Microplastics are small part of degraded plastic waste which it size is under 5 mm. Microplastic could be found in water, soil, and air. A large amount of microplastics could harm the environment, especially aquatic ecosystem and water drainage. The aims of this study means to determine the characteristics and amount of microplastics in sediment from Sukaraja Beach, Bandar Lampung City. This research is ecology based study by using a quantitative descriptive approach. Sampling method was done using purposive sampling method at 3 locations. Observation result showed the colors of the microplastics are transparent white, blue, black, red and brown. The size of the microplastic particles were >250 µm. The amount of microplastics found in the sediment were 42 particles with  15 fibers, 6 films , 15 fragments, and 6 pelets. The total abundance of each station was 93.34 particles/kg at station I; 93.34 particles/kg at station II; and 93.34 particles/kg at station III. The DO results at station 1 were 3.61 mg/l at low tide and 5.79 at high tide, station II are 3.32 mg/l at high tide and 7.03 mg/l at low tide, and  station III, the DO results at high tide were 3.41 mg/l and 5.21 at low tide.   Mikroplastik adalah potongan dari limbah plastik yang terdegradasi dan memiliki ukuran kurang dari 5 mm, dapat dijumpai pada air, tanah, maupun udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan jumlah kelimpahan mikroplastik yang ada pada sampel sedimen Pantai Sukaraja Kota Bandar Lampung. Penelitian ini berbasis ekologi dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan secara random pada 3 titik lokasi penelitian. Warna mikroplastik yang ditemukan beragam mulai dari putih transparan, biru, hitam, merah dan coklat. Adapun ukuran dari partikel mikroplastik yang diperoleh dari penyaringan mikroplastik adalah >250 µm hal ini didasari oleh penggunaan saringan mesh yang memiliki kerapatan 250 µm. Total jumlah mikroplastik yang ditemukan pada sampel sedimen adalah 42 partikel dengan rincian 15 partikel tipe fiber, 6 partikel film, 15 partikel fragmen, dan 6 partikel pelet. Adapun total kelimpahan dari masing-masing stasiun adalah 93,34 partikel/kg pada stasiun I; 93,34 partikel/kg pada stasiun II; dan 93,34 partikel/kg pada stasiun III. Pada stasiun 1 diperoleh hasil DO yakni sebesar 3,61 mg/l pada kondisi surut dan 5,79 pada kondisi pasang. Adapun hasil yang diperoleh pada stasiun II yaitu 3,32 mg/l pada kondisi pasang dan 7,03mg/l pada kondisi surut. Pada stasiun III diperoleh hasil DO saat pasang 3,41 mg/l dan 5,21 saat surut.
Mikrofragmentasi Untuk Restorasi Karang Masif di Pulau Sambangan Karimunjawa Haryanti, Dwi; Maskur, Alif; Munasik, Munasik
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 3 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i3.15124

Abstract

Coral reefs in Indonesia has been degraded due to various environmental stressors and only a few are left under very good category. Coral reef restoration efforts need to be planned to improve the condition of damaged coral reef ecosystems. Microfragmentation is one of the methods used for massive coral reef restoration. This research aims to determine the growth rate and survival rate of Porites and Cyphastrea using different fragment sizes. The coral fragments were used 1 cm2, 2 cm2, and 4 cm2. This research was conducted in a maintenance tank owned by PT Pura Baruna Bahari located on Sambangan Island from September to December 2021. Observation of growth rate and survival rate were checked every one week by taking photos of coral fragments. These photos were processed using Image J. The results show that the highest growth rate of Porites was found in fragments 2 cm2 (0.272 cm2/week) and the lowest was obtained from fragments 4 cm2 (0.092 cm2/week). The highest growth rate of Cyphastrea was found in fragments 2 cm2 with the growth rate of 0.736 cm2/week and the lowest was obtained from fragments 4 cm2 with the growth rate of 0.447 cm2/week. The survival rates of coral fragments Porites and Cyphastrea were 100% and 98.21%, respectively. The results of growth rate analysis using One Way ANOVA showed that there was a significant difference (P<0.05) on Porites growth rate and no significant difference (P>0.05) were found on Cyphastrea’s growth rate. The highest growth rate was achieved at 2 cm2 fragments of Porites and Cyphastrea fragments.  Kondisi ekosistem terumbu karang di Indonesia telah mengalami degradasi akibat berbagai tekanan lingkungan, dan hanya sedikit yang berada dalam katagori sangat baik. Restorasi terumbu karang perlu dilakukan untuk memperbaiki kondisi ekosistem terumbu karang yang telah rusak. Mikrofragmentasi merupakan salah satu metode yang digunakan untuk usaha restorasi terumbu karang masif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan dan kelulushidupan karang Porites dan Cyphastrea menggunakan ukuran fragmen yang berbeda. Fragmen karang yang digunakan berukuran 1 cm2, 2 cm2, dan 4 cm2. Penelitian ini dilakukan di bak pemeliharaan milik PT Pura Baruna Bahari yang terletak di Pulau Sambangan pada bulan September – Desember tahun 2021. Pengamatan laju pertumbuhan dan kelulushidupan dilakukan setiap 1 minggu dengan cara pengambilan foto fragmen karang. Pengolahan data laju pertumbuhan dilakukan menggunakan perangkat lunak Image J. Hasil penelitian ini berupa laju pertumbuhan dan kelulushidupan setiap fragmen karang Porites dan Cyphastrea. Laju pertumbuhan Porites tertinggi didapatkan pada fragmen yang berukuran 2 cm2 dengan nilai 0,272 cm2/minggu dan terendah didapatkan dari fragmen yang berukuran 4 cm2 dengan nilai 0,092 cm2/minggu. Laju pertumbuhan Cyphastrea tertinggi didapatkan pada fragmen yang berukuran 2 cm2 dengan nilai 0,736 cm2/minggu dan terrendah didapatkan dari fragmen yang berukuran 4 cm2 dengan nilai 0,447 cm2/minggu. Kelulushidupan fragmen karang Porites dan Cyphastrea secara berurutan bernilai 100% dan 98,21%.  Hasil analisa laju pertumbuhan menggunakan One Way ANOVA menunjukkan berbeda nyata (P<0,05) pada karang Porites dan tidak beda nyata (P>0,05) pada karang Cyphastrea. Laju pertumbuhan tertinggi dicapai pada fragmen ukuran 2 cm2 pada fragmen karang Porites dan Cyphastrea.