cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kelautan Tropis
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14108852     EISSN : 25283111     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 435 Documents
Akumulasi Logam Berat Cr, Pb dan Cu dalam Sedimen dan Hubungannya dengan Organisme Dasar di Perairan Tugu Semarang Chrisna Adhi Suryono
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 2 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.75 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i2.841

Abstract

The concentrations of metals in the marine sediment were found in coatal areas of Tugu Semarang.  Three metals (Cr, Pb and, Cu) has found in coastal areas in research area.  Shingly significantly those heavy metals have significantly influences on the abundance and diversity of benthic organisms.  That has been proved by regression test which number of r= 0,99 on abundance and r= 0,92 on diversity.  The increasing of heavy metals concentration will following of the number of abundance and diversity of benthic organisms in that area.   Konsentrasi logam berat telah ditemukan dalam sedimen laut ut di daerah pesisir Tugu Semarang.  Tiga logam berat seperti (Cr, Pb, dan Cu) telah ditemukan di lokasi penelitian.  Secara nyata terlihat bahwa logam tersebut berpengaruh terhadap kelimpahan dan keanekaragaman organisme dasar perairan.  Hal tersebut dibuktikan dengan regresi berganda antara kelimpahan organisme dengan logam berat dalam sedimen dengan nilai r = 0,99, sedangkan hubungan antara keanekaragaman dengan dengan logam berat dalam sediemen dengan nilai r = 0,92.  Peningkatan konsentrasi logam berat dalam sediiemen akan diikuti penurunan kelimpahan dan keanekaragaman organisme dasar perairan.
Investigasi Kontaminasi Minyak Melalui Fingerprint Kimia di Estuari Muara Angke, Cimandiri dan Cilintang Mohammad Agung Nugraha; Tri Prartono
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 1 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.803 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i1.2366

Abstract

Polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) and hopanes are one of the biomarker components that can be used in petroleum contamination tracing. The study was conducted with the objective of assessing petroleum contamination in sediment based on Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH) and Hopana components in Estuari Muara Angke, Cimandiri and Cilintang. Sediment samples were collected to a depth of ± 10 cm. Sediment samples were dried by freeze-dryer then extracted and fractionated. The fractionated sample was analyzed by gas chromatography-mass spectrometry. Estuary Muara Angke and Cimandiri showed the presence of petroleum contamination while Cilintang was not detected.  Polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH) dan hopana merupakan salah satu komponen biomarker yang dapat digunakan dalam penelusuran kontaminasi petroleum. Penelitian dilaksanakan dengan tujuan mengkaji kontaminasi petroleum dalam sedimen berdasarkan komponen Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) dan Hopana di Estuari Muara Angke, Teluk Jakarta, Cimandiri-Teluk Pelabuhan Ratu dan Cilintang, Ujung Kulon. Contoh sedimen dikumpulkan hingga kedalaman ± 10 cm. Contoh sedimen dikeringkan dengan alat freeze-dryer kemudian dilakukan ekstraksi dan fraksinasi. Sampel yang telah terfraksinasi dianalisis dengan alat kromatografi gas–spektrometri massa. Estuari Muara Angke dan Cimandiri menunjukkan adanya kontaminasi petroleum sedangkan Cilintang tidak terdeteksi.
The Heavy Metal Contamination in Shallow Groundwater at Coastal Areas of Surabaya East Java Indonesia Baskoro Rochaddi; Warsito Atmodjo; Alfi Satriadi; Chrisna Adhi Suryono; Irwani Irwani; Sugeng Widada
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 1 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.71 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i1.4464

Abstract

 The present study was conducted to assess the level of heavy metal contamination in shallow aquifer of Surabaya coastal areas.  Six heavy metals (Arsenic, Mercury, Chromium, Lead, Cupper and Magnesium) of contaminant have been determined in the shallow groundwater.  The samples were then analyzed by using Atomic Absorbent Spectrometry gas and followed by using the method of Standard Method Examination. The result indicated that shallow groundwater in Surabaya has been contaminated by Arsenic (0.243 ppm) and Magnesium (1.262 ppm). Another heavy metal such as Mercury, Chromium, Lead, and Cupper showed bellow detected.  This study has proven the presence of heavy metal as specially Arsenic and Magnesium has been contain in shallow aquifer supplies in the coastal areas of Surabaya.
Prospek Budidaya Kerang Darah (Anadara granosa) untuk Peningkatan Produktifitas Tambak di Kecamatan Tugu Semarang Chrisna Adhi Suryono; Irwani Irwani; Baskoro Rochaddi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 18, No 1 (2015): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.543 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v18i1.509

Abstract

Tujuan dari kegiatan ini adalah: meningkatkan produktifitas tambak kurang produktip dengan budidaya kerang darah. Metodologi pemecahan masalah yang digunakan adalah mengubah sistim budidaya monokultur menjadi sistim polikultur dua jenis komoditas yang berbeda yang dapat dibudidayakan secara bersamaan dalam satu tambak. Hasil kegiatan menunjukan mitra kerja (petambak) sangat berantusias untuk mengikuti kegiatan tersebut terlihat dari cara mereka yang mengubah sitim budidaya tambak dari monokultur ke polikultur kerang darah. Setelah mengikuti cara sistim polikultur petambak nampak puas dengan hasil peliharaannya karena kedua jenis biota dapat hidup bersama dan menunjukan pertumbuhan yang baik. Dari hasil kegiatan pengabdian ini dapat disimpulkan bahwa sistim budidaya polikultur .dapat meningkatkan produktifitas tambak.Kata kunci: Tambak, kerang dan produktifitas The aim of the activities was increasing productivity on unproductive brackishwater pound to change the culture system to culture cockle Anadara granosa. The method used to solve the problem was to change the system cultivation from monoculture to be poly-culture two different species which can live and cultivate together in one brackishwater pound.The result shows, the partners was very serious followed all the instruction cultivation process. It can be seen he has change the system of the monoculture cultivation to be poly-culture system which introduce two different species. The result of program showed the farmer (petambak) was very sustified cause of the species can lives together and shows the increasing of weight. The conclusion of the activities was the poly-culture system can improve brackishwater pound productivity.Key words: brakishwater pound, cockle and productivity
Pelestarian Habitat Penyu Dari Ancaman Kepunahan Di Turtle Conservation And Education Center (TCEC), Bali Raden Ario; Edi Wibowo; Ibnu Pratikto; Surya Fajar
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 1 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.312 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i1.602

Abstract

Penyu merupakan salah satu fauna yang dilindungi karena populasinya yang terancam punah. Reptil laut ini mampu bermigrasi dalam jarak yang sangat jauh di sepanjang kawasan Samudera Hindia, Samudera Pasifik, dan Asia Tenggara. Di dunia ada 7 jenis penyu dan 6 diantaranya terdapat di Indonesia. Konservasi merupakan salah satu kegiatan yang diharapkan dapat mencegah punahnya habitat penyu karena predator alami maupun manusia. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 4 - 24 Agustus 2014 dan bertempat di Turtle Conservation and Education Center (TCEC), Denpasar Selatan, Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik konservasi dan persentase keberhasilan penetasan telur penyu di TCEC, Bali. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara, observasi atau pengamatan secara langsung yang dilakukan di lapangan, dan metode pengukuran suhu sarang semi alami. Pengukuran suhu dilakukan untuk mengetahui jenis kelamin dari tukik yang menetas. Hasil penelitian menunjukan bahwa lokasi penangkaran penyu berada di kawasan yang kurang strategis karena letaknya terlalu jauh dari air laut sehingga suhu serta kelembabannya tidak dapat stabil. Kadar air merupakan faktor penting dalam pertumbuhan embrio dan penetasan telur. Hal ini akan menyebabkan penurunan persentase penetasan telur penyu. TCEC didirikan sebagai tempat edukasi konservasi penyu, pelestarian penyu, dan penyedia penyu untuk upacara adat di Bali serta mengurangi perdagangan baik daging, cangkang ataupun telur penyu.  
Kandungan Pigmen Fikobiliprotein dan Biomassa Mikroalga Chlorella vulgaris pada media dengan Salinitas Berbeda Ali Djunaedi; Sunaryo Sunaryo; Chrisna Adi Suryono; Adi Santosa
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 2 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.938 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i2.1736

Abstract

Phyobilliprotein (phycocyanin and allophycocyanin) pigments content and biomass of Chlorella vulgarisare affected by salinity related to osmotic pressure and density of media. This study was to determine the effect of salinity on phycobiliproteins pigment contents and biomass of microalgae Chlorella vulgaris. The cultivation used microalgae derived from Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP), Jepara. Research method was the Laboratory study with a Completely Randomized Design (CRD). Consisting of one treatment with five stages of salinity treatments: 20, 25, 30, 35, and 40 ppt and using three times of repetition. Analysis of pigments used UV-Vis spectrophotometric extracted with acetone as the solvent. Harvesting time was when it reached at the stationair phase using flocculation method. The results showed that salinity had the significant effect (p <0.05) on Phycobilliprotein pigment and biomass. The treatments of 35 ppt showed that the highest content of phycocyanin and allophycocyanin pigments 1,4426 mg/gram and 1,254 mg/gram and biomass were 0,648 g/L respectively.  Kandungan pigmen fikobiliprotein (fikosianin dan allofikosianin)dan biomasa Chlorella vulgaris dipengaruhi oleh salinitas yang berkaitan dengan tekanan osmotik dan densitas media. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap kandungan pigmen fikobiliproteindan laju pertumbuhan Chlorella vulgaris. Biota uji diperoleh dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP), Jepara. Metode penelitian adalah eksperimen laboratoris dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 taraf perlakuan salinitas, yaitu: 20, 25, 30, 35, dan 40 ppt dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Analisis pigmen dengan metode spektrofotometer UV-Vis yang diekstraksi menggunakan larutan aseton. Pemanenan biomassa pada fase stasioner dengan menggunakan metode flokulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas berpengaruh nyata (p<0.05) terhadap kandungan pigmen fikobiliprotein dan biomasa Chlorella vulgaris. Perlakuan salinitas 35 ppt menghasilkan kadar pigmen fikosianin dan allofikosianin tertinggi, yaitu 1,4426 mg/gram, dan 1,254 mg/gram dan biomassa tertinggi yaitu 0,648 gr/L. 
Bioakumulasi Logam Berat Pb dan Cu terhadap Penaeus merguiensis di Perairan Teluk Kelabat Bagian Dalam Andini Komalasari; Budi Afriyansyah; Muhammad Ihsan; Mohammad Agung Nugraha
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 1 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.839 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i1.3727

Abstract

Bioaccumulation of Pb and Cu Heavy Metals to Penaeus merguiensis in the Waters of Inner Kelabat BayThe waters of Kelabat Bay has a wealth of marine resources that is quite important in supporting the economy of Bangka Regency and West Bangka Regency. The purpose of this research was to measure the concentration of heavy metals Pb and Cu (sea water, sediment, and Penaeus merguiensis) and measure the ability of Penaeus merguiensis in accumulating heavy metals Pb and Cu. Heavy metals Pb and Cu in Water, sediments and Penaeus merguiensis analyzed using Flame Atomic Absorption Spectrophotometer (Flame AAS). The results showed that concentration of heavy metals in water with an average range of Pb (0,1042-0,1748 mg/L) and Cu (0,000013-0,000021 mg/L). Average concentration of heavy metals in Pb sediments (7,15-7,73 mg/kg) and Cu (0,0016-0,00219 mg/kg ). Average concentration of Pb heavy metals in Penaeus merguiensis (1,34-1,54 mg/kg) and Cu (0,0003-0,00045 mg/kg). The average ability of Penaeus merguiensis in accumulating heavy metals Pb and Cu is 15,83 to water and 0,19 to sediment. The value of the Bioconcentration Factor is below 250 (FBK <250) so it falls into the low category. Penaeus merguiensis is more exposed to heavy metals dissolved in water than those released from sediment.Perairan Teluk Kelabat memiliki kekayaan sumber daya laut yang cukup penting dalam mendukung perekonomian Kabupaten Bangka dan Kabupaten Bangka Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kandungan logam berat Pb dan Cu (air laut, sedimen, dan Penaeus merguiensis) dan mengukur kemampuan Penaeus merguiensis dalam mengakumulasi logam berat Pb dan Cu. Logam berat Pb dan Cu padaair, sedimen dan Penaeus merguiensisdianalisis menggunakan Flame Atomic Absorption Spectrophotometer (Flame AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi logam berat dalam air dengan kisaran rata-rata Pb (0,1042-0,1748 mg/L) dan Cu (0,000013-0,000021 mg/L). Kisaran konsentrasi rata-rata logam berat dalam sedimen Pb (7,15-7,73 mg/kg) dan Cu (0,0016-0,00219 mg/kg). Kisaran konsentrasi rata-rata logam berat Pb di Penaeus merguiensis (1,34-1,54 mg/kg) dan Cu (0,0003-0,00045 mg/kg). Kemampuan rata-rata Penaeus merguiensis dalam mengakumulasi logam berat Pb dan Cu yaitu 15,83 terhadap air dan 0,19 terhadap sedimen. Nilai Faktor Biokonsentrasi tersebut di bawah 250 (FBK< 250) sehingga masuk dalam kategori rendah. Penaeus merguiensis lebih banyak terpapar logam berat yang terlarut dalam air daripada yang terlepas dari sedimen. 
Sebaran Aktivitas Radionuklida Alam dalam Sedimen di Perairan Sluke Rembang, Jawa Tengah Jarot Marwoto; Muslim Muslim; Zanet Dwi Aprilia; Purwanto Purwanto; Murdahayu Makmur
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 2 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.917 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i2.4881

Abstract

The existence of natural radionuclides has been around since the earth was formed. Steam Power Plant in Sluke Rembang is operated by coal fuel that produces some natural radionuclides that release as a gas through the chimney to atmosphere. These radionuclides fall on the land and sea. The purpose of this study was to know the activity of gamma-emitting natural radionuclides in sediments and its distribution in the Sluke waters of Rembang. The result showed that activity of 40K, 212Pb, 226Ra dan 228Ac appeared fluctuating with a range from 160.54-503.87 Bq/kg; 88.62-333.34 Bq/kg; 66.07-95.24 Bq/kg and 95.30-466.46 Bq/kg respectively. The distribution of natural radionuclides was affected by topography, resources and the movement patterns of currents that move from the source of radionuclides to the northeast. The data obtained in this study will serve as baseline data in natural radionuclide in Sluke, Rembang. Keberadaan radionuklida alam sudah ada sejak bumi terbentuk. Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Sluke Rembang dioperasikan dengan bahan bakar batu bara yang menghasilkan beberapa radionuklida alam dalam bentuk gas yang dilepaskan melalui cerobong asap ke atmosfir. Radionuklida tersebut akhirnya jatuh di darat dan di perairan laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas radionuklida alam dalam sedimen dan distribusinya di perairan Sluke, Rembang. Hasil penelitian menunjukkan nilai aktivitas radionuklida alam 40K, 212Pb, 226Ra dan 228Ac berfluktuasi, secara berturut-turut adalah dari 160,54-503,87 Bq/kg; 88,62-333,34 Bq/kg; 66,07-95,24 Bq/kg dan 95,30-466,46 Bq/kg. Distribusi aktivitasnya dipengaruhi oleh topografi, sumber dan pergerakan pola arus yang bergerak dari sumber radionuklida menuju ke timur laut. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai baseline unsur radionuklida alam (NORM) di Sluke Rembang.
Agensia Penyebab Vibriosis Pada Udang Vaname (Litopenaus vanamei) yang Dibudidayakan Secara Intensif Di Kendal Sarjito Sarjito; M. Apriliani; D. Afriani; A.H. Condro Haditomo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 18, No 3 (2015): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.847 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v18i3.533

Abstract

Budidaya udang vaname (Litopenaus vanamei) secara intensif telah dilakukan di kabupaten Kendal, sebagai upaya peningkatan produksi. Salah satu kendala yang sering terjadi pada budidaya udang intensif adalah serangan penyakit bakteri, termasuk pula vibriosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keanekaragaman bakteri yang berasosiasi dengan udang yang terserang vibriosis secara intensif beserta gejala klinisnya. Udangvaname yang menunjukkan gejala vibriosis diperoleh dari pertambakan intensif di kabupaten Demak. Sebanyak 22 isolat bakteri (SMC 01 – SSD 10) berhasil diisolasi dari hepatopacreas udangvaname pada mediumThiosulfate Citrate Bile Salts Sucrose (TCBS). Berdasarkan perfomance morphologi dari keua puluh dua isolat (bentuk, warna dan karakter koloni) dipilih 5 isolat ( SMC 01,SMC 04, SSD 01, SSD 03, dan SSD 07) untuk uji selanjutnya yaitu karakterisasi secara morfologi dan uji biokimia . Uji sensitivitas terhadap antibiotik yang beredar hanya dilakukan pada 3 isolat terpilih(SMC 01, SMC 04, dan SSD 03). Gejala klinis udang yang terserang vibriosis adalah : tubuh (carapace) memerah, melanosis pada kulit, nekrosis pada ekor, kaki renang dan kaki jalan memerah serta hepatopankreas yang memerah cenderung gelap. Hasil karakterisasi dengan pendekatan secara morfologi dan biokimia diperoleh pula bahwa bakteri yang berasosiasi dengan udangvaname (L. vanamei) dari tambak intensif kabupaten Kendal adalah Vibrio vulnificus (SMC 01), V. mimicus (SMC 04), V.damsella (SSD 01), V. parahaemolytics ( SSD 03) , V. fluvialis (SSD 07). Hasil Uji sensitivitas menunjukkan bahwa ketiga isolat terpilih (SMC 01, SMC 04, dan SSD 03) tidak sensitif terhadap beberapa antibiotik..Kata kunci: vibriosis, sensitifitas, salinitas, udangvaname.
Analisis Kandungan Logam Berat Kromium (Cr) Pada Air, Sedimen Dan Kerang Hijau (Perna viridis) Di Perairan Trimulyo Semarang Ria Azizah Tri Nuraini; Hadi Endrawati; Ivan Riza Maulana
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 1 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.054 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i1.1104

Abstract

Metal pollution becomes a problem that is very threatening to marine ecosystems. This is because heavy metals difficult be destroyed and will accumulate in the water. This study aims to determine the content of chromium (Cr) in Water, Sediment and green mussels (Perna viridis) and know the maximum limit weekly consumption and the feasibility of the Green Shellfish consumption. Samples were taken in January 2016 for Trimulyo waters. Research using descriptive methods. Sampling was done by purposive sampling method. Heavy metal content analysis using AAS. MTI Value (Maximum Tolerable Intact) is calculated by the formula MWI / Ct to determine the value of the maximum limit of consumption of green mussels per week. The results showed the content of chromium (Cr) in water in Trimulyo waters of <0.003 mg / L, the content of chromium (Cr) in the sediments ranged from 20.49 to 45.78 mg / kg. The content of heavy metals Chromium (Cr) in Green Mussels ranged from <0.01 to 0.20 mg / kg. Maximum weight intake of green mussels are safe for consumption of water Trimulyo per week for women with an average body weight of 45 kg for metal Chromium (Cr) is 13.27 ± 4.78 kg per week. As for males with an average weight of 60 kg of 17.68 ± 6.37 kg per week. According to the Minister of Environment Decree 51 of 2004 Trimulyo water conditions have not categorized the heavy metal contaminated Chromium (Cr). The content of heavy metals chromium (Cr) in the sediments are well below the standards set by NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) of 1999. As for the heavy metal content of chromium (Cr) in the Green Mussel showed that the clams in these waters has not been contaminated by heavy metals Chromium (Cr) according to the quality standard by the Food adulteration (metallic Contamination) Hong Kong in 1997. Pencemaran logam menjadi suatu masalah yang sangat mengancam bagi ekosistem laut. Hal ini diduga karena logam berat susah hancur dan akan terakumulasi di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan Kromium (Cr) dalam Air, Sedimen dan Kerang Hijau (Perna viridis) serta mengetahui batas maksimum konsumsi mingguan dan tingkat kelayakan konsumsi Kerang Hijau. Sampel diambil pada Bulan Januari 2016 di perairan Trimulyo. Penelitian menggunakan metode deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan secara Purposive Sampling Method. Analisis kandungan logam berat menggunakan AAS. Nilai MTI (Maximum Tolerable Intact) dihitung dengan rumus MWI/Ct untuk mengetahui nilai batas maksimum konsumsi Kerang Hijau per minggu. Hasil penelitian menunjukkan kandungan Kromium (Cr) dalam air di perairan Trimulyo sebesar <0,003 mg/L, kandungan Kromium (Cr) pada sedimen berkisar antara 20,49 – 45,78 mg/kg. Kandungan logam berat Kromium (Cr) pada Kerang Hijau berkisar antara <0,01 – 0,20 mg/kg. Berat Maksimal asupan Kerang Hijau yang aman dikonsumsi dari perairan Trimulyo per minggu untuk wanita dengan berat badan rata-rata 45 kg untuk logam Kromium (Cr) adalah 13,27±4,78 kg per minggu. Sedangkan untuk laki-laki dengan berat badan rata-rata 60 kg sebesar 17,68±6,37 kg per minggu. Menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.51 Tahun 2004 kondisi perairan Trimulyo dikategorikan belum tercemar logam berat Kromium (Cr). Kandungan logam berat Kromium (Cr) pada sedimen berada di bawah baku mutu yang ditetapkan oleh NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) Tahun 1999. Sedangkan untuk kandungan logam berat Kromium (Cr) pada Kerang Hijau menunjukkan bahwa kerang di perairan tersebut belum tercemar oleh logam berat Kromium (Cr) sesuai dengan baku mutu oleh Food Adulteration (Metalic Contamination) Hong Kong Tahun 1997.  

Page 6 of 44 | Total Record : 435