cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kelautan Tropis
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14108852     EISSN : 25283111     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 451 Documents
Pengaruh Penambahan Berbagai Jenis Sumber Karbon, Nitrogen Dan Fosforpada Medium deMan, Rogosa and Sharpe (MRS) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Asam Laktat Terpilih Yang Diisolasi Dari Intestinum Udang Penaeid Subagiyo Subagiyo; Sebastian Margino; Triyanto Triyanto
Jurnal Kelautan Tropis Vol 18, No 3 (2015): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.751 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v18i3.524

Abstract

Bakteri asam laktat merupakan fastidious organisms, tumbuh dengan baik pada medium kompleks. Salah satu medium yang telah diakui baik untuk produksi sel bakteri asam laktat adalah medium deMan, Rogosa and Sharpe (MRS). Pada penelitian ini telah dilakukan penelitian pengaruh penambahan komponen nutrisi pada medium MRS terkait upaya untuk mendapatkan komposisi medium yang lebih baik untuk produksi massa sel. Selain itu juga dilakukan pengamatan pertumbuhan pada berbagai nilai pH dan suhu. Eksperimen penambahan komponen nutrisi pada medium MRS meliputi sumber karbon (glukosa dan fruktosa) sebanyak 1%, sumber nitrogen (amonium klorida, amonium nitrat, amonium sulfat dan pepton) sebanyak 0,2 %, dan sumber fosfor (K2HPO4 danKH2PO4) sebanyak 0,1 %. Pengamatan pertumbuhan dilakukan dengan metode spektrofotometri berdasarkan perubahan optical density kultur bakteri. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan glukosa maupun fruktosa memberikan pengaruh menurunkan produksi sel pada awal waktu pertumbuhan (pengamatan 6 jam pertama), tetapi memberikan pengaruh meningkatkan produksi sel setelah waktu pertumbuhan 18 jam dan 24 jam. Perlakuan penambahan sumber nitrogen menunjukan bahwa penambahan pepton memberikan pengaruh meningkatkan produksi sel paling tinggi pada 6 jam kultivasi, selanjutnya mulai 18 jam kultivasi menunjukan penambahan amonium klorida memberikan pengaruh yang paling besar terhadap peningkatan produksi sel. Perlakuan penambahan K2HPO4 maupun KH2PO4 memberikan pengaruh peningkatan pertumbuhan yang tinggi hanya pada 6 jam waktu kultivasi.Kata kunci : bakteri asam laktat, MRS, nutrisi, pH, suhu, pertumbuhan
Geomorfologi Pesisir Pantai Benteng Portugis, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara Warsito Atmodjo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 2 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1012.387 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i2.842

Abstract

The dynamics of coastal geomorphology depending on the rock making up the coastal and oceanographic processes that work. Coastal geomorphology dynamic process influenced by oceanographic processes and can result in the accretion process and coastal erosion. This study aims to determine the dynamics of the process of coastal geomorphology and oceanographic factors that influence the process. This study uses the case with the analysis of dynamics of geomorphological and oceanographic processes that influence in the region penlitian. The research data in the form of tides, currents and sediments in coastal areas. The results of the study be a type of tidal Daily Single with water level Z0 = 55.90; (MSL) 69.14 cm; (HHWL) = 135.48 cm; (LLWL) = 0.78 cm. Waves as high as 0.62 meters and wave period 4.1 seconds. The waves come from the Northeast will burst burst as high as 0.81 meters at a depth of 0.78 meters. Breaking waves at an angle of 19.22 degrees to the shoreline, will result in flow velocity along the coast is 0.98 m / sec.Coastal geomorphology consists of rugged coastal hills of volcanic material composed of tuffaceous sand and clastic limestone and non clastics limestone and limestones; type of geomorphologys was coastal flat composed of silty sand; coastal river estuary composed of silty sand; coastal erosion occurs berm erosion. Geomorphology dynamic process influenced by longshore currents that cause abrasion dominant in the study area. Dinamika geomorfologi pesisir pantai tergantung pada batuan penyusun pesisir pantai dan proses oseanografi yang bekerja. Proses dinamika geomorfologi pesisir pantai di pengaruhi oleh proses oseanografi dan dapat berakibat terjadinya proses akresi dan erosi pesisir. Penelitian ini bertujuan mengetahui dinamika proses geomorfologi pesisir pantai dan proses faktor oseanografi yang berpengaruh. Penelitian ini menggunakan metode kasus dengan analisis dinamika proses geomorfologi dan oceanografi yang berpengaruh di daerah penlitian. Data penelitian berupa pasang surut, arus dan sedimen di wilayah pesisir pantai. Hasil penelitian berupa tipe pasang surut Harian Tunggal dengan elevasi muka air Z0 = 55,90; (MSL) 69,14 cm; (HHWL) = 135,48 cm; (LLWL) = 0,78 cm. Gelombang setinggi 0,62 meter dan periode gelombang 4,1 detik. Gelombang datang dari arah Timur Laut akan pecah pecah setinggi 0,81 meter pada kedalaman sebesar 0,78 meter. Gelombang pecah dengan sudut datang 19,22 derajat terhadap garis pantai, akan mengakibatkan kecepatan arus sepanjang pantai 0.98 m/detik. Geomorfologi pesisir terdiri dari pesisir pantai bukit terjal tersusun material volkanik pasir tufaan dan batu gamping klastik dan batu gamping non klastik; pesisir landai/datar tersusun pasir lanauan; pesisir pantai muara sungai tersusun oleh pasir lempungan; pesisir pantai erosi terjadi erosi berm. Proses dinamika geomorfologi dipenaruhi oleh arus longshore yang menyebabkan adanya dominan abrasi di daerah penelitian. 
Jenis-Jenis Bintang Laut Dan Bulu Babi (Asteroidea, Echinoidea: Echinodermata) Di Perairan Pulau Cilik, Kepulauan Karimunjawa Retno Hartati; Endika Meirawati; Sri Redjeki; Ita Riniatsih; Robertus Triaji Mahendrajaya
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 1 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.414 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i1.2417

Abstract

 Echinoderms are fundamentally good indicators of health and status of coralline communities in marine waters. Substrat of sandy, rububle and coral reefs are good habitat for Asteroidea dan Echinoidea. This study aim to identify sea star (Asteroidea) and sea urchin (Echinoidea) species from Pulau Cilik waters of Karimunjawa Islands. Asteroidea and Echinoidea observed using the line transect method used, ie subjects within the same distance between the transect and the transect square with observations of 2.5 m on the right and left of transect line line. Morphology, habitat type (substrate & depth) and total number of sea stars and sea urchins at each station were determined. The results showed that Pulau Cilik has six species of Asteroidea (Sea star), ie Linckia laevigata, L. multifora, Neoferdifla ocellata (Family Ophidiasteridae), Luidia alternate (Luidiidae Family), Culcita novaeguineae (Family Oreasteridae) and Acanthaster planci which belongs to Family Acanthasteridae. There were 4 species of Echinoidea Sea urchin) found, i.e. Diadema setosum, D. antillarum, D. savignyi and Echinothrix calamaris, which all were family members of Diadematidae Echinodermata pada dasarnya merupakan indikator kesehatan dan status dari terumbu karang di laut. Dasar perairan yang landai dengan substrat pasir, terumbu karang dan pecahan karang yang merupakan habitat bagi hewan jenis Asteroidea dan Echinoidea. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi henis-jenis bitang laut dan bulu babi dari perairan Pulau Cilik, Kepulauan Karimunjawa. Pengamatan Asteroidea dan Echinoidea menggunakan metoda line transect yang dimodifikasi, yaitu mengamati subjek dalam jarak yang sama sepanjang garis transect dan kuadrat transect dengan pengamatan 2,5 m di sebelah kanan dan kiri garis line transect. Morfologi, tipe habitat (substrat & kedalaman) dan jumlah total bintang laut dan bulu babi di tiap stasiun dicatat selanjutnya sampel diidentifikasi berdasarkan ciri morfologi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di perairan Pulau Cilik ditemukan enam spesies Asteroidea (Bintang Laut), yaitu Linckia laevigata, L. multifora, Neoferdifla ocellata (Famili Ophidiasteridae), Luidia alternate (Famili Luidiidae), Culcita novaeguineae (Famili Oreasteridae) dan Acanthaster planci yang termasuk dalam Famili Acanthasteridae. Species Echinoidea (Bulu Babi) ditemukan 4 spesies  Diadema setosum, D. antillarum, D. savignyi dan Echinothrix calamaris  semua anggota famili Diadematidae. 
Hubungan N-Total dan C-Organik Sedimen Dengan Makrozoobentos di Perairan Pulau Payung, Banyuasin, Sumatera Selatan Beta Susanto Barus; Riris Aryawati; Wike Ayu Eka Putri; Ellis Nurjuliasti; Gusti Diansyah; Elyakim Sitorus
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 2 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.922 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i2.3770

Abstract

The quality of water was seen from the macrozoobenthos community analysis that lives in it. The purpose of this research is to know the relation N-total and C-organic in sediment with macrozoobenthos in Payung Island of Banyuasin Regency. This research uses purposive sampling method. Sampling and macrozoobenthic samples using Ekman grab. The types of macrozoobenthos found to consist of Bivalvia class (Nassarius distortus, Abra Soyae), Gastropoda (Septaria linatea, Epitonium pallasi), Polychaeta (Nereis sp) and Oligochaeta (Lumbriculus sp). The dominant macrozoobenthos composition is Nereis sp. The C-organic content in the waters sediments of Payung Island ranged from 10.52 to 17.92% (moderate to high criteria) and N-total ranged from 0.61 to 1.14% (high and very high criteria), C/N ratio ranged from 10 to 29. This indicates that sediment of Payung Island had undergone balance mineralization process and immobilization. The results of linear regression analysis show that C-organic and N-total have a positive relationship with the abundance of macrozoobenthos Kualitas suatu perairan dapat dilihat dari analisa komunitas makrozoobentos yang hidup di dalamnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara kandungan N-total dan C-organik sedimen dengan makrozoobentos di Perairan Pulau Payung. Metodologi penelitian meliputi; pengambilan data parameter fisika kimia (suhu, salinitas, pH, dan DO). Pengambilan sampel sedimen dan makrozoobentos menggunakan ekman grab. Hasil dari penelitian ini, Jenis makrozoobentos yang ditemukan terdiri atas kelas Bivalvia (Nassarius distortus, Abra Soyae), Gastropoda (Septaria linatea, Epitonium pallasi), Polychaeta (Nereis sp) dan Oligochaeta (Lumbriculus sp). Komposisi makrozoobentos yang mendominasi yakni Nereis sp. Kandungan C-organik di sedimen perairan Pulau Payung berkisar 10,52-17,92% (kriteria sedang sampai tinggi) untuk N-total berkisar antara 0,61-1,14% (kategori tinggi dan sangat tinggi), sedangkan C/N rasio berkisar antara 10-29. Hal ini menunjukkan sedimen Pulau Payung telah mengalami proses mineralisasi dan imobilisasi seimbang. Hasil analisis regresi linear  menunjukkan C-organik dan N-total memiliki hubungan yang positif  dengan  kelimpahan makrozoobenthos.
Aktivitas Anti Oksidan Fikosianin Dari Spirulina Sp. Menggunakan Metode Transfer Elektron Dengan DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) Ali Ridlo; Sri Sedjati; Endang Supriyantini
Jurnal Kelautan Tropis Vol 18, No 2 (2015): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.356 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v18i2.515

Abstract

Mikroalga Spirulina sp. Memiliki kandungan fikosianin yang tinggi. Fikosianin berpotensi sebagai pewarna biru alami dan antioksidan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas antioksidan fikosianin dari ekstrak Spirulina sp.dengan metode transfer elektron dengan DPPH (1,1-diphenyl picrilhydrazil). Spirulinasp. Diekstraksi dengan akuades dan buffer fosfat pH 7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan fikosianin Spirulina sp. Yang diekstraksi dengan pelarut aquadest adalah 45,16±1,13 mg/g dw dan 60,51±0,11mg/g dw yang diekstraksi dengan pelarut buffer fosfat pH 7. Aktivitas antioksi dan fikosianin yang diekstraksi dengan aquades lebih tinggi (IC 50 = 110,80 ppm) dibandingkan fikosianin yang diekstraksi dengan buffer fosfat pH 7 (IC 50 =186,76 ppm). Keduanya termasuk dalam kategori antioksidan yang lemah.Kata kunci : Spirulina sp., Fikosianin, Aktivitas Antioksidan, IC50 Microalga Spirulina sp. has a high content of phycocyanin. Phycocyanin has potential as a natural blue colorant and antioxidants. The aim ofthis study wasdetermine the antioxidant activity of phycocianin extracted from Spirulina sp by electron transfer method with DPPH (1,1-diphenyl picrilhydrazil). Spirulina sp was extracted by aquadest and phosphat buffer pH 7. The results showed that content of phycocyanin of Spirulina sp. extracted with aquadest was 45.16±1.13 mg/g dw and 60.51±0.11 mg/g dw that extracted with phosphate buffer pH 7. Antioxidant activityof phycocianin extracted with aquadest was higher (IC50=110,80 ppm) than phycocianin extracted with phosphate buffer pH7(IC50=186.76ppm). Both are included in the weak antioxidants category.Keywords : Spirulina sp., Phycocyanin, Antioxidant Activity, IC50
Analisis Dimensi Fraktal Kejadian Gempa Dl Laut Banda Indonesia Sugeng Widada
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 2 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.468 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i2.837

Abstract

The Banda Sea region is an active earthquakes area which indicated by mean monthly incident of quakes more than 220. The condition is caused the area being located in the triple jucntion. Earthquakes system in this region which occur during September 2015 up to October 2016 is analyzed by fractal approach to investigate the subduction system.Earthquakes system is chaotic, so can be quantified using fractal concept. Quantify result of Banda Sea earthquakes system using Aki method is fractal dimension 2.08. It indicates that the slab was fractured by some fault in form an angle or upright possition with the subduction strike. Such a thing also be proven by the fact that the length zone of slab moved during each earthquake is not same, the variation is about 6 – 1,056 m. Based on the fractal analysis, also be identified that about 6.25 magnitute six earthquakes are expected each year. The result of study support the previous studies which propose that the tectonic system in Banda Sea region is very complex.  Kawasan Laut Banda merupakan daerah aktif gempa yang ditunjukan dengan kejadian gempa rata-rata bulanan Iebih dan 220. Keadaan ini dapat dimengerti mengingat kawasan tersebut merupakan pertemuan tiga buah lempeng yang bergerak. Pola kegempaan di daerah tesebut yang tejadi pada September 2015 hingga Oktober 2016 dicoba dianalisa menggunakan pendekatan fraktal untuk mengetahui pola subduksi di daerah tersebut. Pola kegempaan merupakan suatu kejadian yang chaos, sehingga dapat dilakukan kuantisasi berdasarkan konsep fraktal. Hasil kuantisasi pola gempa Laut Banda meggunakan metode Aki diperoleh dimensi fraktal 2,08. Hal ini menunjukan bahwa slab yang menunjam dan bergerak sehingga menimbulkan gempa terbagi dalarn beberapa bagian melalui suatu sesar yang menyududut / tegak lurus jurus subduksi. Keadaan ini dikuatkan oleh hasil perhitungan panjang daerah yang bergerak untuk setiap kejadian gempa tidak sama, yaitu bervariasi dari 6 – 1.056 m. Berdasarkan analisa fraktal tersebut juga diketahui bahwa gempa dengan magnitudo 6,25 akan terjadi 6 kali dalam satu tahun. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa tatanan tektonik di daerah Laut Banda sangat kompleks.
Kesadahan Air Media Pemeliharaan dan Pengaruhnya Terhadap Kualitas Produk Kepiting Soka Sunaryo Sunaryo; Ali Djunaedi; Adi Santoso
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 2 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.362 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i2.1741

Abstract

Mangrove crabs (Scylla serrata Forsskål, 1775) is one of the biological resources of the sea, that have economically important value and has been widely cultivated by traditional farmers to meet food needs in both the local and export markets. But the resulting quality of soft shell crab is not optimal. Quality is determined by the hardness of crab carapace after moulting.  Approach to problem solving can be done through the research process of the aquatic organisms to their environment adaptation.This research was aimed to acknowledge the influence of the difference in water softening against time duration the hardening rate of the crabs carapace. This research had done in the area of brackishwater pond in the village of Mojo, Ulujami, Pemalang Regency during 8 months. Animal test used a Mangrove crab (S. serrata Forsskål, 1775), the weight size of 80-150 g, individually kept in plastic boxes (30 x 20 x 25 cm), 15 pieces per m2 density. Research was carried out using case study method. The observation parameters of research was aimed at the water softening and calcium content of rearing water media and body fluids of mangrove crabs, and time duration of carapace hardening. The data obtained from the results of the measurement and calculation of the research parameters of each sampling, include: carapace hardening response due to differences in water softening and calcium content in the rearing media as well as  calcium content in the body fluid of the mangrove crab was analyzed using t-test. Observation on the research results showed that the process of soft shell crab production using rearing media of brackishwater and freshwater, each was respectively difference in the containing value of water softening and calcium content (p < 0.01).   The water softening and calcium content of mangrove crabs as well as the calcium content of body fluid of the mangrove crab to response of time duration the carapace hardening on the mangrove crab after moulting as a whole indicated very significant difference (p < 0.01).  But the results of the statistical analysis of calcium content in the body fluid of mangrove crab with the environmental rearing water media on each individual habitat suggested not significant difference (p ≥ 0.01).  The conclusions of these research, i.e. water softening and calcium content of the rearing water of mangrove crab was the determining factor in the quality of the soft shell crab product. On the occasion research was advised to do optimization of water softening in the rearing crab, so resulting highly quality product of soft shell crab.   Kepiting bakau (Scylla  serrata  Forsskål, 1775) merupakan salah satu sumber daya hayati laut yang mempunyai nilai ekonomis penting dan banyak dibudidayakan oleh petani tradisional untuk memenuhi kebutuhan pangan baik di pasar lokal maupun ekspor. Namun kualitas kepiting soka yang dihasilkan belum optimal. Kualitas kepiting soka sangat ditentukan oleh tingkat kekerasan kulit kepiting setelah moulting. Pendekatan pemecahan masalah ini dapat dilakukan melalui penelitian proses adaptasi organisme perairan terhadap lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan kesadahan terhadap lama waktu kecepatan pengerasan carapace kepiting. Penelitian dilakukan selama 8 bulan di pertambakan Desa Mojo, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang. Hewan uji yang dipergunakan berupa Kepiting Bakau (S. serrata Forsskål, 1775), berat 80 - 150 g, dipelihara pada bok plastik (30 x 20 x 25 cm) secara seluler, padat penebaran 15 ekor per m2. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode studi kasus. Parameter penelitian ditujukan pada kesadahan dan kandungan kalsium air media pemeliharaan dan cairan tubuh Kepiting Bakau serta lama waktu pengerasan carapace. Data yang didapatkan dari hasil pengukuran dan perhitungan parameter penelitian pada tiap - tiap pengambilan sampel, meliputi: respon pengerasan carapace akibat perbedaan kesadahan dan kandungan kalsium dalam media air pemeliharaan serta kandungan kalsium dalam tubuh kepiting bakau dianalisis dengan menggunakan uji t tes. Hasil pengamatan di dalam penelitian menunjukkan bahwa proses produksi kepiting soka menggunakan media pemeliharaan air tambak dan tawar, masing – masing mengandung nilai kesadahan dan kandungan kalsium yang berbeda (p<0,01).  Kandungan kesadahan dan kalsium air media pemeliharaan Kepiting Bakau pada media air pemeliharaan yang berbeda menunjukkan perbedaan sangat signifikan terhadap respon waktu pengerasan carapace Kepiting Bakau setelah moulting (p<0,01). Namun hasil analisis statistik kandungan kalsium cairan tubuh kepiting bakau dengan lingkungan media air pemeliharaan pada masing – masing habitat menunjukkan tidak adanya perbedaan yang sangat nyata (p≥0,01). Kesimpulan penelitian ini, yaitu kesadahan dan kandungan kalsium air pemeliharaan merupakan faktor penentu kualitas produk kepiting soka. Pada penelitian selanjutnya disarankan untuk mengoptimalkan kesadahan sehingga dihasilkan produk kepiting soka berkualitas tinggi.                                                      
Aktivitas Cesium (137Cs) Di Perairan Hutan Mangrove Karangsong, Kabupaten Indramayu Muslim Muslim; Wahyu Retno Prihatiningsih; Adhi Prasojo; Jarot Marwoto; Purwanto Purwanto
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 1 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.001 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i1.3575

Abstract

The mangrove forest in Karangsong-Indramayu has been selected as a central mangrove forest for western Indonesia, in addition to a marine ecotourism destination. This condition with more visitors stimulates increase in organic carbon content in this water, which has the ability to bind to polluting elements, such as heavy metals and radionuclides. The purpose of this study is to understand the factors that effect 137Cs levels activities in Karangsong waters of Indramayu. To understand which factors effect 137Cs levels, we collected water quality which has the ability to bind to polluting elements data including temperature, salinity, DO, pH, depth and current speed.  The result showed that the 137Cs activities ranged 0.07-1.01 mBq/L with an average of 0.589 mBq/L. This value is higher than 137Cs activities in ITF (Indonesian Through Flow) which had value 0.274 mBq/L.  The higher 137Cs activities in Karangsong waters were caused by the presence of mangrove forest that effect the high levels of organic carbon rather than water quality that show relative homogeny in all stations.Perairan pantai Karangsong, Kabupaten Indramayu telah dijadikan sebagai pusat mangrove di bagian barat Indonesia, disamping sebagai eko wisata bahari. Kondisi tersebut tentunya akan meningkatkan kandungan karbon organik di perairan tersebut yang mempunyai kemampuan kuat untuk mengikat unsur-unsur pencemar seperti logam berat dan radionuklida. Tujuan penelitian ini ingin mengetahui tingkat aktivitas 137Cs di perairan Karangsong, Indramayu. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat aktivitas 137Cs  di  perairan Karangsong, maka dianalisa beberapa parameter kualitas air seperti suhu, salinitas, DO, pH, kedalaman dan kecepatan arus. Hasil analisa menunjukkan aktivitas 137Cs adalah 0,07-1,01 mBq/L, dengan nilai rata-rata 0,589 mBq/L. Nilai tersebut lebih tinggi dari nilai 137Cs di ARLINDO (Arus Lintas Indonesia) yang nilai rata-ratanya 0,274 mBq/L. Tingginya aktivitas 137Cs tersebut lebih dipengaruhi dari adanya hutan mangrove yang menyebabkan tingginya bahan karbon organik dari pada pengaruh kualitas perairan yang relatif seragam.
Polusi LogamBerat Antropogenik (As, Hg, Cr, Pb, Cu dan Fe) pada Pesisir Kecamatan Tugu Kota Semarang Jawa Tengah Chrisna Adhi Suryono
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 1 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.267 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i1.598

Abstract

The concentrations of metals in the marine sediment, groundwater anad marine water werefound in coatal areas of Tugu Semarang. Six metals (As, Hg, Cr, Pb, Cu and Fe) in coastalareas in Tugu Semarang were examined. The gradually decreased concentrations (As, Hg,Cr, Pb, Cu and Fe) in sediment, marine water and groundwater, and the highest concentration of metals found in marine sediment and the lowest in coatal groundwater. The connectivity of metals in marine sediment, groundwater and marine waters was consequently pH and saliniy of land and water environment. The increasing number of reclamation, disposal water from industrial and urban areas may be to support the increasing metals on the coastal areas of Tugu Semarang.  Konsentrasi logam berat telah ditemukan dalam sedimen laut, air tanah dan air laut di daerah pesisir Tugu Semarang.  Enam logam berat seperti (As, Hg, Cr, Pb, Cu and Fe) telah di teliti.  Secara nyata terlihat bahwa logam (As, Hg, Cr, Pb, Cu and Fe) menurun konsentrasinya dari sedimen, air laut dan air tanah, dan konsentrasi tertinggi terdapat dalam sedimen laut dan terendah terdapat pada air tanah.  Konektifitas logam berat dalam sedimen, air laut dan air tanah diakibatkan oleh perubahan pH dan salinitas pada sedimen dan air.  Peningkatan aktifitas reklamasi, buangan air limbah baik dari industri maupun pemukiman kemungkinan menyebabkan peningkatan logam berat di wilayah pesisir Tugu Semarang.  
Ekologi Perairan Semarang – Demak : Inventarisasi Jenis Kerang yang Ditemukan di Dasar Perairan Chrisna Adhi Suryono; Ita Riniatsih; Ria Azizah; Ali Djunaedi; Baskoro Rochaddi; Subagiyo Subagiyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 2 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.378 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i2.1700

Abstract

The present study was conducted to inventory the cockles (bivalve) in coastal waters between Semarang to Demak.  The samples were collected by bottom trawl modification (dragger) around those areas.  The results were found ten various cockles there were Anadara granosa, A. pilula, A. gubernaculum, A. inaequivalvis, Pharella javanica, Paphia undulate, Marcia hiantina, Harvella plicataria, Mactra violacea, and Placuna placenta.  Meanwhile the waters quality in the in this areas still support to organisms to survive based on the standard water quality from Indonesian Ministry of Environmental.  Tujuan penelitian ini adalah untuk menginventarisasi jenis jenis kerang yang ada di perairan antara Semarang dan Demak.  Sampel diambil dengan trawl dasar modivikasi (dragger) sekitar perairan tersebut.  Hasil penelitian menunjukakan beberapa jenis kerang didapat seperti: Anadara granosa, A. pilula, A. gubernaculum, A. inaequivalvis, Pharella javanica, Paphia undulate, Marcia hiantina, Harvella plicataria, Mactra violacea, and Placuna placenta. Berdasar Kepmen Lingkungan Hidup kualitas perairan yang ada di daerah tersebut dapat dikatakan masih mendukung untuk kehidupan organisme.

Page 7 of 46 | Total Record : 451