cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Acta Comitas
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25028960     EISSN : 25027573     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 2 (2020)" : 18 Documents clear
Perbandingan Hukum Negara Indonesia Dengan Hukum Negara Belanda Dalam Penyelesaian Perkara Sisa Hutang Debitor Pailit Ketut Gde Swara Siddhi Yatna; Ni Putu Purwanti
Acta Comitas Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/AC.2020.v05.i02.p14

Abstract

Pengaturan hukum kepailitan yang berlaku di Indonesia merupakan produk hukum peninggalan Belanda. Kemajuan yang terjadi menyebabkan produk hukum lama tidak lagi mampu mengakomodir kebutuhan hukum masyarakat. Sehingga hal ini merupakan salah satu alasan untuk diadakannya pembaharuan hukum, khususnya hukum kepailitan. Seperti halnya hukum kepailitan Belanda yang telah mengalami perkembangan mengenai penyelesaian sisa utang debitor. Untuk mengetahui perbedaan penyelesaian sisa utang debitor yang berlaku di Indonesia dengan di Belanda, maka dilakukan suatu penelitian perbandingan. Maka dalam penelitian ini akan meneliti mengenai bagaimana perbandingan hukum negara Indonesia dengan hukum negara Belanda dalam penyelesaian perkara sisa hutang debitor? Penelitian ini akan menggunakan pendekatan perundang-undangan, pendekatan komparatif, pendekatan konseptual, dan pendekatan historis. Perbedaan penyelesaian sisa utang yang diterapkan di Indonesia dan di Belanda dipengaruhi dari perbedaan prinsip yang dinormakan dalam hukum kepailitan di masing-masing negara. Dapat disimpulkan bahwa Belanda telah menerapkan prinsip debt forgiveness, yang mana prinsip ini bertolak belakang dengan prinsip Indonesia yang hutang akan terus mengikuti debitor.
Kewenangan dan Tanggung Jawab Hukum Pejabat Pembuat Akta Tanah Dalam Pelaksanaan Pendaftaran Hak Tanggungan Secara Elektronik Shirley Zerlinda Anggraeni; Marwanto Marwanto
Acta Comitas Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/AC.2020.v05.i02.p05

Abstract

The legal issue in this study, is about the authority and responsibility of PPAT in registering mortgage rights electronically. This research is a normative legal research. The purpose of this study was to determine the authority and responsibility of PPAT in the electronic registration process of Mortgage related to the statement of accountability and the validity of electronic document. The results showed that PPAT has the authority to submit applications for registration of Mortgage Rights electronically at the Office of the Land Agency and a statement of accountability and validity of electronic document data is a condition for using the electronic based Mortgage Rights service system and is an integrated unit with the Regulation of the Minister of Agrarian Affairs and Spatial Planning / Head of the National Land Agency Number 9 of 2019 concerning Electronically Integrated Mortgage Services, the PPAT remains obligated to sign the statement letter. The results of the analysis, that if the electronic documents do not match the actual data, the registration will automatically be rejected by National Land Agency (BPN), as the registration application will not appear. The conclusion is that BPN will process the application electronically, only if the document attached is in accordance with the registration application physical data. Suggestion that can be given to PPAT is not to process registration of mortgage right if there is any mistake in the document required or if the documents are incomplete. Isu hukum dalam penelitian ini, adalah tentang kewenangan dan tanggung jawab PPAT dalam mendaftarkan Hak Tanggungan secara elektronik. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian hukum normatif. Tujuan penelitian untuk mengetahui kewenangan dan tanggung jawab PPAT dalam proses pendaftaran Hak Tanggungan secara elektronik dikaitkan dengan surat pernyataan pertanggungjawaban keabsahan dan kebenaran data dokumen elektronik. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa PPAT berwenang mengajukan permohonan pendaftaran Hak Tanggungan secara elektronik pada Kantor Badan Pertanahan dan surat pernyataan pertanggungjawaban keabsahan dan kebenaran data dokumen elektronik adalah syarat penggunaan sistem layanan Hak Tanggungan secara elektronik serta merupakan satu kesatuan dengan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pelayanan Hak Tanggungan Terintegrasi Secara Elektronik, maka PPAT tetap berkewajiban menandatangani surat pernyataan tersebut. Hasil analisis, bahwa apabila dokumen elektronik tersebut tidak sesuai dengan data yang sebenarnya, maka secara otomatis pendaftaran tersebut akan ditolak oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN), karena aplikasi pendaftaran tidak akan muncul. Kesimpulannya adalah BPN akan memproses permohonan secara elektromnik, jika lampiran dokumen sudah sesuai dengan aplikasi pendaftaran. Saran yang dapat diberikan kepada PPAT adalah untuk tidak memproses pendaftaran hak tanggungan jika terdapat kesalahan persyaratan dokumen atau dokumen tidak lengkap.
Larangan Kepemilikan Tanah Pertanian Secara Absentee Dan Pertanggung Jawaban Hukum Badan Pertanahan Di Kabupaten Tulungagung I Wayan Putra Nugraha; Anak Agung Istri Ari Atu Dewi
Acta Comitas Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/AC.2020.v05.i02.p10

Abstract

Reforms have been carried out by the government through many land reform programs that regulate land ownership and legal relations between owners and land objects, so that a prosperous and productive society is created to advance the national economy and food security. One of them is the prohibition of agricultural land ownership regulated in article 10 paragraph (1) of the Basic Agrarian Law. It is expected that the owners of agricultural land will work on their own land so that productivity will be maximized, the community will be taught to work and be productive regularly and routinely. But in reality in the field in Jabalsari village Sumbergempol subdistrict Tulungagung regency there are still many people who control agricultural land absentee and interpreted the rules of ownership of agricultural land absentee not yet effective, so this research aims to find out the causes of absentee ownership of agricultural land and how a large role Tulungagung Regency National Land Agency in terms of absentee ownership of agricultural land. This research is carried out using the Empirical Juridical method namely how the law is implemented in social life. The results of research conducted in Jabalsari village Sumbergempol Sub-district Tulungagung District showed that absentee land ownership in Tulungagung District occurred due to many factors namely: community awareness factors, cultural factors, legal factors, law enforcement factors in the area, facility and infrastructure factors as well as quite a lot It was found that economic factors, and the responsibility of the National Land Agency of Tulungagung Regency still reached the supervision of certified land and improved administration of agricultural land data, this was done so that in the future it would run and orderly administration of the problem of absentee ownership of agricultural land.
Tanggung Jawab Notaris Dalam Penyimpanan Akta In Originali Sebagai Minuta Akta Theresia Gst Agung Indah Utari Dewi; Nyoman Martana
Acta Comitas Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/AC.2020.v05.i02.p01

Abstract

The purpose behind this paper is to understand the implementation in practice related to depositing the deed in originali as a minuta deed at the Notary's office and the responsibility of the notary related to the deposit of the deed in originali as a deed minuta. The method to researching this problem is using empirical juridicial. This research uses an approach in law that is an approach using a statutory regulation (The Statue Approach) and an approach by looking at the facts that occur in the field (The Fact Approach). There are two supporting data which is Interviews data as primary data and literature, laws , and books as Secondary data. Qualitative descriptive analysis technique used in this study as a analysis technique. Compiling data collected systematically after all data has been collected both of them. The results of the discussion obtained show that (1) Implementation in practice of depositing the deed in originali as a minuta deed at the Notary Office is wrong, for example, the deed of Power of Attorney Imposing Mortgage Rights (SKMHT). SKMHT made by Notary / PPAT in practice is made all original in originali in two copies. One deed in originali is kept as part of a collection of Notary protocols as minuta, another deed in originali is given to the authorized person. The purpose of keeping the deed in originali as a minuta is as an archive or document by a Notary Public, in addition to that in binding the deed minuta bundle, the numbers of the minuta deactivate sequentially. (2) Notaries are still responsible for keeping the deed in originali as a minuta deed, because it is a State document, so it is obligatory for each Notary to maintain and store it in a good place, so that it is not easily damaged, disappeared or lost. Tujuan dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui dan menganlisis mengenai implementasi terkait penyimpanan akta in originali sebagai minuta akta di kantor Notaris dan tanggung jawab oleh notaris terkait disimpannya akta in originali sebagai minuta akta. Jenis penelitian yuridis empiris sebagai metode dalam permasalahan penelitian ini. Data primer bersumber dari wawancara dan data sekunder bersumber dari literature, buku-buku, maupun undang-undang. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik kualitatif Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan bahwa (1) Pelaksanaan dalam praktek terhadap penyimpanan akta in originali sebagai minuta akta di kantor Notaris salah contohnya akta Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT). SKMHT yang dibuat oleh Notaris/PPAT dalam prakteknya tersebut dibuat semuanya asli in originali dalam dua rangkap. Satu lembar akta in originali disimpan sebagai bagian dari kumpulan protokol Notaris sebagai minuta, satu lembar akta in originali lagi diberikan kepada penerima kuasa. (2) Notaris tetap bertanggungjawab terhadap penyimpanan akta in originali sebagai minuta akta, karena merupakan dokumen Negara sehingga wajib oleh setiap Notaris memelihara dan menyimpan ditempat yang baik, agar tidak mudah rusak, lenyap ataupun hilang.
Pengaturan Sanksi Tentang Perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas Tanpa Persetujuan Kemenkumhan Ade Chrisna Wardana Putra
Acta Comitas Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/AC.2020.v05.i02.p15

Abstract

Penelitian tentang Pengaturan Sanksi Terhadap Perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas Tanpa” Persetujuan Kemenkumham. Berdasarkan tidak diaturnya sanksi terhadap PT yang melanggar ketentuan Pasal 21 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas mengenai hal mendapatkan persetujuan Kemenkumham dalam perubahan anggaran dasar menyangkut perubahan nama perusahaan serta tujuan perusahaan namun tetap menggunakan akta perubahan anggaran dasar yang baru. Berdasarkan kekosongan norma kemudian diangkatlah topik permasalahan yang akan dibahas yakni : (1) Bagaimana sanksi terhadap Perseroan Terbatas yang menggunakan Akta Perubahan Anggaran Dasar yang baru namun belum disetujui oleh Kemenkumham? (2) Bagaimana kedudukan“Akta Perubahan Anggaran Dasar PT”yang belum mendapatkan persetujuan Kemenkumham? Tujuanya adalah untuk memahami betapa penting persetujuan Kemenkumham terhadap Perubahan Akta Anggaran Dasar PT bagi usaha PT serta pemberian sanksi dari tidak disetujuinya Akta“Perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas oleh” Kemenkumham sehingga memiliki manfaat langsung untuk pembaca yang memiliki keinginan untuk mendirikan PT. Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian hukum yang bersifat normatif. Pendekatan yang digunakan pada penelitan ini adalah pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual.Hasil penelitian menunjukan jika sanksi terhadap Perseroan Terbatas yang melakukan pelanggaran menggunakan akta perubahan anggaran dasar yang belum disahkan oleh Kemenkumham dikenakan sanksi yang diatur dalam pasal 1365 KUHPerdata dan pasal 378 KUHPidana. Kedudukan akta perubahan anggaran dasar yang PT baru kemudian belum mendapatkan persetujuan Kemenkumham itu tidak dapat mengikat para pihak dan PT hanya dapat menggunakan akta perubahan anggaran yang lama.
Kewenangan Notaris Dalam Mengenali Pengguna Jasa dan Perlindungan Hukum Jika Terjadi Tindak Pidana Pencucian Uang Nina Khadijah Maulidia; Gde Made Swardhana
Acta Comitas Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/AC.2020.v05.i02.p06

Abstract

The Act Number 2 of 2014 concerning Amendments to Law Number 30 of 2004 concerning the Position of Notary (hereinafter abbreviated as UUJNP) Article 16 paragraph (1) letters (a) and (f) determine that the notary in carrying out his obligations, must act trustfully, honestly, safeguard the interests of parties involved in legal actions, and keep the contents confidential deed as well as information obtained for making the deed, unless the law stipulates otherwise, while Regulation of the Minister of Law and Human Rights number 9 of 2017 (hereinafter abbreviated Permenkumham) Article 24 paragraph (2) specifies, that the notary is obliged to report to PPATK regarding the existence of a transaction finance conducted by service users. It appears that between these rules there is a norm conflict between UUJNP and Permenkum. The results of this study prove the fact that the notary is required to apply the principle of service users, consider there are nonconformities, or consider the facts of money laundering. The notary is also required to report users of the service to PPATK if requesting the transaction is suspected. Article 16 paragraph (1) Subparagraph f of the UUJNP, because the actions taken have been regulated in Article 28 of the Law of the UUTTPU. Second, legal permission for a Notary regarding the notary summons for a case in court, then there must be prior approval of the Notary Honorary Council (MKN) in advance and the notary public can also use the right to deny if there is a support for the material or the contents of the deed. Undang No. 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 30 tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris (selanjutnya disingkat UUJNP) Pasal 16 ayat (1) huruf (a) dan (f) menentukan bahwa notaris dalam menjalankan kewajibannya, wajib bertindak amanah, jujur, menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum, dan merahasiakan isi akta serta keterangan yang diperoleh untuk pembuatan akta, kecuali undang-undang menentukan lain, sedangkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia nomor 9 tahun 2017 (selanjutnya disingkat Permenkumham) Pasal 24 ayat (2) menentukan, bahwa notaris wajib melaporkan kepada PPATK mengenai adanya transaksi keuangan yang dilakukan oleh pengguna jasa. Tampak antara aturan-aturan tersebut terjadi konflik norma antara UUJNP dan Permenkum. Inti pemasalahannya yaitu mengenai wewenang notaris dalam mengidentifikasi pengguna jasa yang diatur dalam Permenkumham dan upaya perlindungan notaris secara hukum apabila terjadi kejahatan pencucian uang oleh pengguna jasanya. Metode penelitian ini adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa notaris wajib menerapkan prinsip mengenali pengguna jasa, apabila ada ketidaksesuaian atau diduga adanya tindak pidana pencucian uang. Notaris juga wajib melaporkan pengguna jasa tersebut kepada PPATK jika diduga transaksi tersebut mencurigakan. Tindakan yang dilakukan notaris ini tidaklah melanggar ketentuan Pasal 16 ayat (1) hurup f UUJNP, karena tindakan yang dilakukan tersebut telah diatur pada Pasal 28 UUTTPU. Kedua, perlindungan hukum kepada Notaris terkait pemanggilan notaris dalam perkara di pengadilan, maka harus ada persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) terlebih dahulu dan juga notaris dapat menggunakan hak ingkar jika ada hubungannya dengan materi atau isi akta.
Kepastian Hukum Jumlah Modal Dasar Pendirian Perseroan Terbatas Setelah Berlakunya PP Perubahan Modal Dasar Perseroan Terbatas Ida Bagus Putra Pratama; I Made Dedy Priyanto
Acta Comitas Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/AC.2020.v05.i02.p11

Abstract

Research on legal certainty the amount of basic capital establishment of limited liability company based on the norms of conflict between article 32 paragraph (1) of the limted liability company law concerning "the limited liability company capital of at least Rp 50,000,000.00" with article 1 paragraph (3) of government regulations The limited liability of the company's capital of limited liability concerning "the founding capital of the company is determined by agreement”. 2 problem are formulated: (1) What is the form for deposit of stock capital on the provisions of article 33 of the limited liability company law, (2) How is the legal certainty of the number of basic capital of the limited liability After the validity of government regulation change of the limited liability company. This purpose research is finding form of the deposit of stock capital and the basic capital of the limited liability company before and after enforcement of government regulation of limited liability of the company. The legal research method used normative legal research method with statute approach and conceptual approach. Capital deposits of shares can be made in the form of money and other forms of immovable tangible objects such as land and intangible objects in the form of bill of Rights; and arrangements regarding the underlying capital applicable in the establishment of the limited liability company is Article 1 paragraph (3) of government regulation of the limited liability of the company.
Kewenangan Notaris Dalam Perjanjian Hak Asuh Atas Anak Akibat Perceraian Ni Putu Noving Paramitha Pandy; Ni Luh Gede Astariyani
Acta Comitas Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/AC.2020.v05.i02.p02

Abstract

The purpose of this study is to find out and analyze the authority of a notary in making custody agreements on children, and to know and analyze the legal position of custody agreements on children, to court decisions related to divorce between the two biological parents of children. This type of research is normative research. The type of approach used is the statutory approach and conceptual approach. The legal material collection technique used is literature study. The results showed that the Notary has the authority to make authentic child custody agreements, and the authority of the Notary can have an impact on the divorce proceedings in the court running more efficiently in terms of child custody or the rights and obligations of parents after separation, because Notaries also play a role important as an intermediary and formulator of the desires of both parties (divorced couples). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis mengenai kewenangan notaris dalam pembuatan perjanjian hak asuh atas anak, dan mengetahui serta menganalisis mengenai kedudukan hukum dari perjanjian hak asuh atas anak, terhadap putusan pengadilan terkait perceraian antara kedua orang tua biologis anak. Jenis Penelitian tergolong penelitian normatif. Jenis Pendekatan yang dipergunakan ialah pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan ialah studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Notaris memiliki kewenangan sebagai pembuat perjanjian hak asuh anak yang otentik, serta kewenang Notaris tersebut dapat memberikan dampak pada proses persidangan perceraian di pengadilan berjalan lebih efisien dalam hal hak asuk anak ataupun hak serta kewajiban orang tuanya setelah berpisah, karena Notaris juga berperan penting sebagai penengah dan perumus keinginan kedua belah pihak (pasangan yang telah bercerai).
Kekuatan Mengikat Keputusan Arbitrase ICSID Dalam Penyelesain Sengketa Penanaman Modal Ida Ayu Gde Wulan Purnamasari
Acta Comitas Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/AC.2020.v05.i02.p16

Abstract

Penanaman modal asing adalah hal yang sangat memberikan pengaruh terhadap pembangunan dalam negeri negara-negara di dunia. Berdasarkan hal tersebut menjadi menarik untuk dikaji konsep penanaman modal asing di Indonesia dan mengenai kekuatan mengikat keputusan lembaga Arbitrase ICSID dalam penyelesaian sengketa penanaman modal antara Churchill Mining dan Pemerintah Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode normatif dengan menggunakan data sekunder yang terdiri atas bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa penanaman modal asing adalah melakukan usaha dengan menanamkan modal di wilayah Indonesia yang dilakukan baik oleh perorangan warga negara asing, badan usaha asing, dan/atau pemerintah asing. Selanjutnya terkait dengan putusan ICSID dalam sengketa Churchill Mining dan Pemerintah Indonesia bersifat final dan mengikat sehingga harus dapat dilaksanakan karena para pihak. Arbitrase ICSID melaksanakan persidangan menurut aturan hukum internasional sebagaimana yang ditentukan dalam Konvensi ICSID, regulasi serta aturan yang dibentuk untuk proses pelaksanaan persidangan.
Urgensi Executeur Testamentair Dalam Pelaksanaan Wasiat Putu Eva Laheri
Acta Comitas Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/AC.2020.v05.i02.p07

Abstract

Testament is a person’s or testator’s last will in associated with his assets. A testament is necessary to avoid disagreements among heirs regarding the distribution of inheritance assets even though a testament does not apply absolutely due to the heir has a legal rights to file a claim at court regarding the contents of the testament thus there is no absolute guarantee that the last wish of the testator shall be carried out, subject to the provisions of the testament made. The aims of this study are to examine the responsibilities and authority given to the will executor (execute testamentair) to secure the implementation of the testament after testator pass away. This article uses a method of normative research with the statutory approachment and concept approachment. The results show that the responsibility and authority of a will executor is regulated in the articles 1007 - 1014 of the Indonesian Code of Civil (KUHPerdata) including to secure the last testament of the deceased should be implemented, and in case there is a dispute, a will executore shall appear to court to confirm the legality of the will or testament of the testator. Wasiat adalah amanat terakhir seseorang atau pewaris terkait dengan harta kekayaannya. Wasiat bermanfaat untuk menghindari selisih pendapat diantara ahli waris terkait pembagian harta peninggalan pewaris meskipun pada pelaksanaannya wasiat tidak berlaku absolut karena ahli waris memiliki hak secara hukum untuk mengajukan gugatan ke pengadilan berkaitan dengan isi wasiat sehingga tidak ada jaminan mutlak keinginan terakhir dari pewasiat dapat terlaksana sesuai dengan ketentuan wasiat yang dibuatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pertanggungjawaban dan wewenang yang diberikan kepada pelaksana wasiat (executeur testamentair) untuk memastikan pelaksanaan wasiat setelah pewaris atau pewasiat meninggal dunia. Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggung jawab dan wewenang seorang pelaksana wasiat sesuai Pasal 1007 -1014 KUHPerdata) diantaranya pelaksana wasiat wajib mengupayakan agar kehendak terakhir pewaris dapat terlaksana dan apabila terjadi perselisihan, pelaksana wasiat dapat mengajukan tuntutan ke pengadilan untuk mempertahankan berlakunya surat wasia sehingga peran pelaksana wasiat sangatlah penting untuk menjamin kepastian terlaksananya wasiat sebagai amanat terakhir dari seorang pewaris/pewasiat.

Page 1 of 2 | Total Record : 18