cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2019)" : 7 Documents clear
Upaya Pewarisan Kesenian Tradisional Ditengah Zaman Milenial Melalui Pembelajaran Angklung Pada Siswa Kelas XII IPA 2 SMAN 13 Kabupaten Tangerang Eka Yulyawan Kurniawan
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v4i1.6906

Abstract

Abstract : In this age of the millennium, even more so, you can easily access the internet or social media, this is very worrying because traditional arts are increasingly being abandoned by the younger generation of Indonesia. For this reason, the inheritance of traditional arts must be carried out, and the most effective media for inheriting traditional arts is the world of education. For this reason the author conducted research on angklung in SMAN 13 Tangerang District, because in these schools they have used complete traditional musical instruments, and can be done to do this research. It is hoped that by learning angklung art students become more familiar with Indonesian traditional arts, and participate in preserving it in the future, and through family angklung learning, creative, and mutual respect. This research is descriptive using analysis and data through interview techniques and directly in the field. It is hoped that there will be an angklung learning process that can instill a sense of love for Indonesian traditional arts, and also students can become more creative. Abstrak :  Pada zaman milenial ini pengaruh budaya asing semakin pesat, bahkan dari usia sekolah dasar kini sudah dengan mudah mengakses internet atau media sosial lainnya, hal ini sangat mengkhawatirkan karena kesenian tradisional semakin lama semakin ditinggalkan oleh generasi muda Indonesia. Untuk itu pewarisan kesenian tradisional harus dilakukan, dan yang paling efektif sebagai media pewarisan kesenian tradisional adalah melalui dunia pendidikan. Untuk itu penulis melakukan penelitian pembelajaran angklung di SMAN 13 Kabupatn Tangerang, karena di Sekolah tersebut fasilitas alat musik tradisional lengkap, dan mendukung untuk dilakukan penelitian ini. Diharapkan dengan pembelajaran kesenian angklung siswa menjadi lebih mengenal kesenian tradisional indonesia, dan ikut melestarikannya kelak dikemudian hari, dan melalui pembelajaran angklung siswa dilatih bekerjasama, kreatif, dan juga saling menghargai. Penelitian ini bersifat deskriftif analisis dengan pendekatan evaluasi dan pengumpulan data melalui teknik wawancara dan observasi langsung di lapangan. Diharapkan nantinya proses pembelajaran angklung mampu menanamkan rasa cinta terhadap kesenian tradisional Indonesia, dan juga siswa bisa menjadi lebih kreatif.
Generasi Muda dan Seni Tradisi (Studi Kasus di Kawasan Cisaranten Wetan, Bandung) Ria Intani T
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v4i1.6846

Abstract

Abstract : The milineal era is synonymous with modern culture that put great import on western culture  instead of tradition. It is assumed that modern culture is considered more interesting than its opposite. Consequently, keeping up with modern culture is considered as prestige. Thus, it is encouraging to find the younger generation engaged in traditional culture, in this case the performing arts of reak (traditional dance using stuffed animals in form of lion) and kudarenggong (horsedance). The aims of this research is to explain what are the reasons behind the willingness of the younger generation to engage with traditional arts and secured their parents support. The study was conducted with qualitative research methods through interview. The results of the study show that the involvement of the younger generation in traditional arts is inseparable from environmental factors. Abstrak : Era milineal identik dengan budaya modern yang mengedepankan budaya yang berakar dari Barat, dan sebaliknya menafikan budaya yang berakar dari leluhurnya. Ditengarai bahwa budaya modern dianggap lebih menarik dan sebaliknya dengan budaya tradisional. Merapat pada budaya  modern dianggap sebagai suatu prestise, dan sebaliknya dengan budaya tradisional. Apa pun sebabnya,  menggembirakan ketika mendapati generasi muda menggeluti budaya tradisional, dalam hal ini seni reak dan kuda renggong. Melihat kenyataan itu, melalui penelitian ini ingin diketahui apa yang menjadi alasan generasi muda yang bersangkutan mau menggeluti seni tradisional dan apa alasan orang tua (bagi yang masih lajang) mendukung anaknya. Penelitian ini menggunakan teknik  wawancara untuk penggalian datanya dengan pemaparannya secara deskriptif. Hasil penelitian sekaligus menjadi kesimpulan penelitian ini bahwa keterlibatan generasi muda dalam seni tradisi tidak lepas dari faktor lingkungan. 
Pembiasaan Musikal Menggunakan Lagu Bertema Sebagai Alternatif Mengenal Huruf Untuk Anak Usia Dini Yulianti Fitriani
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v4i1.6913

Abstract

Abstract : The idea for this article comes from previous research which produced an interesting paradigm in the teaching and learning process in Early Childhood (AUD). Starting from the results of a case study belonging to Oktaria (2018) who sought and found a musical approach for children with special needs in one of the AUD schools reconstructing further thought, that learning patterns for the AUD are highly dependent on the repetitive aspect (repetitive) which results in learning to be very fun for children. But repetition isn't always fun. There must be variations (read: themed) on the material to be reined. For this reason, this paper will describe musical habituation through the appreciation of themed songs as an enjoyable alternative to learning for AUD through descriptive-correlative studies by framing two fundamental issues concerning; 1) An understanding of musical habituation and fun learning for AUDs, and 2) Examples of themed songs that can be developed for study materials. The results obtained are expected to help the teacher in carrying out learning so that children are happy to learn in class.  Abstrak : Gagasan penulisan artikel ini berasal dari penelitian terdahulu yang menghasilkan sebuah paradigma menarik dalam proses belajar-mengajar pada Anak Usia Dini (AUD).  Bertolak dari hasil penelitian studi kasus milik Oktaria (2018) yang mencari dan menemukan pendekatan musikal bagi anak berkebutuhan khusus di salah satu sekolah AUD merekonstruksi pemikiran selanjutnya, bahwa pola belajar bagi AUD sangat bergantung pada aspek repetitif (berulang-ulang) yang mengakibatkan belajar menjadi sangat menyenangkan bagi anak. Namun repetisi tidaklah selamanya menyenangkan. Harus terdapat variasi (baca: bertema) pada bahan yang akan direpetisikan. Untuk itu, tulisan ini akan menggambarkan pembiasaan musikal melalui apresiasi lagu-lagu bertema sebagai alternatif belajar menyenangkan bagi AUD melalui kajian deskriptif-korelatif dengan membingkai dua persoalan mendasar mengenai; 1) Pemahaman dari pembiasaan musikal dan belajar menyenangkan bagi AUD, dan 2) Contoh lagu-lagu bertema yang dapat dikembangkan untuk bahan belajar. Hasil yang diperoleh diharapkan dapat membantu Guru dalam melaksanakan pembelajaran agar anak senang untuk belajar di kelas.
Fungsi Rebab Dalam Penyajian Karawitan Sunda Rian Permana
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v4i1.6847

Abstract

Abstract : This research and study aims to determine the extent of the role of the fiddle in the presentation of Sundanese musicians, both the function of the fiddle with sekar or sekar gending. It is hoped that this research and study can provide useful information about how a rebab interpreter should work when performing Sundanese musical performances. This needs to be understood as a basis for understanding, especially for a trigger, so that the appearance of his performance can be enjoyed in harmony, in rhythm, one taste, and one accord in one Sundanese musical dish. Abstrak : Penelitian dan kajian  ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana peranan rebab dalam penyajian karawitan Sunda, baik secara fungsi rebab dengan sekar maupun sekar gending. Diharapkan penelitian dan pengkajian ini dapat memberikan manfaat informasi tentang bagaimana semestinya garap seorang juru rebab ketika melakukan sajian karawitan Sunda. Hal ini perlu dipahami sebagai dasar pemahamn khususnya bagi seorang juru rebab agar sajian penampilannya dapat terasa dinikmati selaras, seirama, satu rasa, dan sehati pada satu garapan sajian karawitan Sunda. 
Tari Walijamaliha Sebagai Stimulus Kreativitas dalam Menciptakan Gerak Tari Dwi Junianti Lestari; Arif Permana Putra
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v4i1.6854

Abstract

Abstract: Banten people have diverse cultural treasures. Hidden treasure of Banten literature, one of them, Walijamaliha Dance. This dance work takes the idea of a story about the order of life of the people of Banten. The purpose of this study was to determine the process and learning outcomes of Walijamaliha Dance for students of FKIP Untirta  periode 2016/2017 Academic Year. This study used descriptive qualitative method. The object of this research is the Banten Dance lecturer and 35 students. The result of this study to increase the creativity in creating dance moves need for stimulus through positive results, in instilling a love of Banten cultural roots.Abstrak: Masyarakat Banten memiliki khazanah budaya yang cukup beragam. Khazanah kepustakaan Banten, salah satunya, Tari Walijamaliha. Karya tari ini mengambil ide cerita tentang tatanan kehidupan masyarakat Banten. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui proses dan hasil pembelajaran Tari Walijamaliha pada mahasiswa pendidikan sendratasik FKIP Untirta Tahun Akademik 2016/2017. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Objek penelitian ini adalah dosen pengampu matakuliah Tari Banten dan 35 mahasiswa. Hasil Penelitian ini menunjukkan untuk meningkatkan kreativitas dalam menciptakan gerak tari perlu adanya stimulus sebagai hasil aktivitas positif dalam menanamkan kecintaan akan akar budaya Banten 
Implementasi Pembelajaran Tari dalam Mengembangkan Rasa Percaya Diri Anak Usia 4-6 Tahun (Penelitian Kualitatif Deskriptif di Sanggar Raksa Budaya Kota Serang - Banten) Tineung Arum Purnamasari; Alis Triena Permanasari
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v4i1.6844

Abstract

Abstract : This research is motivated by the self-confidence of children aged 4-6 years who have developed well in Sanggar Raksa Budaya. This confidence can develop due to dance learning conducted at Sanggar Raksa Budaya. Target of Cultural Mercury and to study supporting and inhibiting factors in developing self-confidence of children aged 4-6 years at Sanggar Raksa Budaya. In this study, researchers used a qualitative descriptive method. The subjects of this study were children of Group A Sanggar Raksa Budaya who supported 15 children. Data collection techniques obtained in research obtained from observations, interviews, field notes and documentation. Upon approval, the researcher analyzed the data as expected. Based on the results of research that can be obtained from the learning process for children aged 4-6 years, it is done through the planning stage with the preparation of syllabus, the implementation stage with motion training, renewal carried out to learn learning. Child's self-confidence develops well because at the time of assessment the child is required to demonstrate the dance in front of other group friends without being exemplified by the trainer. While the supporting factors of dance learning are the willingness to participate in learning activities that arise from children without coercion from other parties and the availability of infrastructure facilities. As for the inhibiting factors, namely the feeling of boredom that arises when learning takes place. Abstrak : Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rasa percaya diri anak usia 4–6 tahun yang berkembang baik di Sanggar Raksa Budaya. Rasa percaya diri ini dapat berkembang karena disebabkan oleh pembelajaran tari yang dilakukan di Sanggar Raksa Budaya. Adapun penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pembelajaran tari dalam mengembangkan rasa percaya diri anak usia 4-6 tahun di Sanggar Raksa Budaya dan untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat impelementasi dalam mengembangkan rasa percaya diri anak usia 4-6 tahun di Sanggar Raksa Budaya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah anak-anak Kelompok A Sanggar Raksa Budaya yang berjumlah 15 orang anak. Teknik pengumpulan data yang diperoleh dalam penelitian berasal dari pengamatan (observasi), wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Pada penulisan laporan, peneliti menganalisa data sesuai dengan aslinya. Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh bahwa proses pembelajaran tari untuk anak usia 4-6 tahun dilakukan melalui tahapan perencanaan dengan menyiapkan silabus, tahapan pelaksanaan dengan melatih gerak, tahap evaluasi yang bertujuan untuk mengetahui pencapaian pembelajaran. Rasa percaya diri anak berkembang dengan baik karena pada tahap evaluasi anak dituntut untuk memperagakan tarian didepan teman-teman kelompok yang lain tanpa dicontohkan pelatih. Adapun faktor pendukung dari pembelajaran tari yaitu kemauan mengikuti kegiatan pembelajaran yang muncul dari dalam diri anak tanpa paksaan pihak lain dan tersedianya sarana prasarana. Sedangkan untuk faktor penghambat yaitu rasa bosan yang muncul saat pembelajaran berlangsung.
Efektivitas Multimedia Interaktif dan Mobile Learning dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Seni Budaya Irwanto Irwanto Irwanto; Riki Ahmad Taufik; Hudiana Hernawan; Syamsul Rizal
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v4i1.6845

Abstract

Abstract : Learning outcomes in Cultural Arts subjects to date have not yet reached the competency standards set by the KKM. One of the factors causing low learning outcomes is the cognitive low level of students' understanding of dance theory. This shows that the learning process of cultural arts needs to be developed with a different learning approach. The problem in this study is whether there are: (1) improvement in learning outcomes of class XI students who use Interactive Multimedia? (2) increase learning outcomes of class XI students who use Mobile Learning? and (3) differences in the increase in learning outcomes of class XI students who use Interactive Multimedia with Mobile Learning on the subject matter of Dance Art in Garut 8? The research method used was quasi-experimental with the design of the Static Group Prestest-Posttest Design. The results of the study show: 1) there is an increase in learning outcomes of class XI students who use Interactive Multimedia with an increase in student learning outcomes obtained included in the high category; 2) there is an increase in learning outcomes of class XI students who use Mobile Learning with an increase in student learning outcomes obtained included in the high category; and 3) there are differences in the increase in learning outcomes of class XI students who use Interative Multimedia with Mobile Learning. The use of Interactive Multimedia is more effective in improving learning outcomes compared to mobile learning in the subject matter of dance material in Cultural Arts subjects at SMK 8 8 Garut. Abstrak : Hasil belajar pada mata pelajaran Seni Budaya sampai saat ini belum mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan KKM. Salah satu faktor penyebab rendahnya hasil belajar adalah masih rendahnya pemahaman siswa secara kognitif terhadap teori seni tari. Hal tersebut menunjukan proses pembelajaran seni budaya ini perlu dikembangkan dengan pendekatan pembelajaran yang berbeda. Permasalahan pada penelitian ini apakah terdapat: (1) peningkatan hasil belajar siswa kelas XI yang menggunakan Multimedia Interaktif? (2) peningkatan hasil belajar siswa kelas XI yang menggunakan Mobile Learning? dan (3) perbedaan peningkatan hasil belajar siswa kelas XI yang menggunakan Multimedia Interaktif dengan Mobile Learning pada pokok bahasan materi Seni Tari di SMKN 8 Garut? Metode Penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain the Static Group Prestest-Posttest Design. Hasil penelitian menunjukan: 1) terdapat peningkatan hasil belajar siswa kelas XI yang menggunakan Multimedia Interaktif dengan peningkatan hasil belajar siswa yang diperoleh termasuk dalam kategori tinggi; 2) terdapat peningkatan hasil belajar siswa kelas XI yang menggunakan Mobile Learning dengan peningkatan hasil belajar siswa yang diperoleh termasuk dalam kategori tinggi; dan 3) terdapat perbedaan peningkatan hasil belajar siswa kelas XI yang menggunakan Multimedia Interatif dengan Mobile Learning. Penggunaan Multimedia Interaktif lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan dengan mobile learning pada pokok bahasan materi seni tari pada mata pelajaran Seni Budaya di SMKN 8 Garut. 

Page 1 of 1 | Total Record : 7