cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Acta Pharmaceutica Indonesia
ISSN : 0216616X     EISSN : 27760219     DOI : -
Core Subject :
Acta Pharmaceutica Indonesia merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu farmasi sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): farmasetika, kimia farmasi, biologi farmasi, bioteknologi farmasi, serta farmakologi dan farmasi klinik. Acta Pharmaceutica Indonesia is the official journal published by School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung. The journal covers all aspects of pharmaceutical issues which includes these following topics (but not limited to): pharmaceutics, pharmaceutical chemistry, biological pharmacy, pharmaceutical biotechnology, pharmacology and clinical pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 46 No. 2 (2021)" : 6 Documents clear
EFFECT OF HONEY ON HEALTHY AND ALLOXAN DIABETIC MALE SWISS-WEBSTER MICE (MUS MUSCULUS) WITH AND WITHOUT GLIBENCLAMIDE THERAPY Andy Susbandiyah Ifada; Andreanus Andaja Soemardji; Ilma Nugrahani
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 46 No. 2 (2021)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/api.v46i2.15460

Abstract

This study was conducted to know the effect of honey from Sumbawa on healthy and alloxan-induced diabetic mice. It consisted of honey quality test, glucose tolerance test (GTT) and alloxan-induced diabetes. On GTT, healthy animals were given pure honey, diluted honey 20% and 50%,  blood glucose levels were measured every 30 minutes for 3 hours. Diabetic mice obtained by inducing alloxan at a dose of 50 mg/kg bw. Blood glucose levels of diabetic mice in range of 400-500 mg/dL. Honey and combination of glibenclamide with honey were given for 21 days. Glibenclamide dose of 0.65 mg/kg bw was used as standard drug. Blood glucose levels were measured on days 10, 17 and 24. On the next day, the animals were sacrificed and pancreas were isolated. Pure honey, 20%, and 50% honey showed to raise blood glucose levels. Blood glucose level in mice group that given pure honey stayed in the normal value of 140 mg/dL until 180 minute observation, significantly different from the group of glucose 20% (p<0.05). Honey and combination of glibenclamide with honey in alloxan diabetic mice did not caused a decrease of blood glucose levels that significantly different compared to the sore group (p>0.05). It can be concluded honey maintains blood glucose levels of healthy mice on a normal value of 140 mg/dL until 180 minutes. In alloxan diabetic test, neither honey nor the combination of glibenclamide and honey did not show a decrease in blood glucose levels that significantly different to the sore group.
FORMULATION AND STABILITY STUDY OF DETAM I SOYBEAN VARIETY (GLYCINE MAX (L.) MERR.) EFFERVESCENT GRANULES WITH DIFFERENT TYPE OF EFFERVESCENT AGENTS Aditya Trias Pradana; Christentia Steffany; Rika Yulia
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 46 No. 2 (2021)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/api.v46i2.15751

Abstract

The research was conducted to analyze the effect of different types and concentrations of the acid source on the physical characteristics and chemical stability of black soybean (Glycine max (L.) Merr.) Detam I variety effervescent granules. Effervescent granules were made in three different acid sources, which are  15% citric acid for formula I, a mixture of 5% citric acid and 10% tartaric acid for formula II and a mixture of 8% citric acid and 16% tartaric acid for formula III, respectively. The granules’ physical characteristics were obtained by particle size distribution, specific density, bulk density, moisture content, flow time, angle of repose, and effervescent time. Total phenolic content was evaluated for 28 days and the samples were collected at 0, 1, 4, 7, 14, 21, and 28 days. The sample was then measured using a visible spectrophotometric method at 505.5 nm wavelength. The results showed that granule effervescent with formula III was selected as the best formula in all parameters measured, except on the particle size distribution result. In addition,  total phenolic in the formula I was the highest content with a better stability profile, compared to formula II and III. It showed that the formula with a combination of 8% citric acid: 16% tartaric acid is the most optimum formula physically, even for further research, adsorbent use or binder ratio in the formula, and moisture resistant of the primary packaging must also be considered.      
PENENTUAN KADAR FLAVONOID DARI EKSTRAK ETANOL DAN ETIL ASETAT DAUN KESAMBI (Schleichera oleosa. L) Syamsu Nur; Nursamsiar Nursamsiar; Khairuddin Khairuddin; Megawati Megawati; Alfat Fadri
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 46 No. 2 (2021)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/api.v46i2.15772

Abstract

Daun kesambi (Schleichera  oleosa L.) merupakan tanaman yang mengandung senyawa saponin, tanin, alkaloida, steroid, fenolik, dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid total yang terkandung dalam ekstrak etanol dan etil asetat daun kesambi (S. oleosa L.) dengan atau tanpa hidrolisis. Ekstraksi dilakukan dengan metode refluks menggunakan pelarut etanol 70% dan etil asetat dengan atau tanpa penambahan asam asetat sebagai penghidrolisis sehingga diperoleh ekstrak etanol 70% dan etil asetat dengan atau tanpa hidrolisis. Penentuan kadar flavonoid total dari masing-masing sampel dilakukan secara kolorimetri menggunakan pereaksi AlCl­­3 dan serapan masing-masing sampel diukur dengan menggunakan spektrofotometer UV-Visible. Hasil penelitian menunjukkan kadar total falvonoid untuk sampel ekstrak etanol tanpa hidrolisis sebesar 62,1±0,98 (mgEQ/g) sedangkan sampel yang dihidrolisis asam asetat sebesar 57±0,23 (mgEQ/g). Kadar total flavonoid untuk sampel ekstrak etil asetat tanpa hidrolisis sebesar 40,7±0,77 (mgEK/g) sedangkan sampel yang dihidrolisis asam asetat sebesar 39,8±0,18 (mgEK/g). Hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan kadar flavonoid total dari masing-masing sampel dengan atau tanpa proses hidrolisis.
SKRINING TOKSISITAS AKUT LIMA RIMPANG SUKU ZINGIBERACEAE MENGGUNAKAN EMBRIO IKAN ZEBRA Anggra Paramita; Indra Wibowo; Muhamad Insanu
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 46 No. 2 (2021)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/api.v46i2.16093

Abstract

Tumbuhan suku Zingiberaceae dikenal sebagai sumber obat tradisional. Pemanfaatan sebagai tanaman obat sudah dikenal secara turun temurun dari generasi ke generasi. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengujian toksisitas untuk mengevaluasi dan memprediksi keamanan penggunaan tanaman obat tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui toksisitas akut dari ekstrak dan fraksi temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.), temu mangga (Curcuma mangga Roxb.), jahe merah (Zingiber officinale Rosc. var. rubrum), bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) dan kencur (Kaempferia galanga L.) berdasarkan nilai LC50 (Lethal concentration 50). Proses ekstraksi rimpang dari tanaman temu hitam, temu mangga, jahe merah, bangle, dan kencur dengan ekstraksi sinambung menggunakan pelarut etanol 70%. Ekstrak yang dihasilkan difraksinasi menggunakan pelarut bertingkat (n-heksan, etil asetat dan air). Pengujian toksisitas akut dilakukan menggunakan ikan zebra. Dari pengamatan diperoleh perbedaan morfologi embrio dan larva ikan zebra yang dipaparkan dengan ekstrak etanol, fraksi etil asetat maupun fraksi air jika dibandingkan dengan kontrol negatif yang berisi media E3 1X. Perbedaan tersebut antara lain edema perikardial, edema kantong kuning telur (yolk sac), tulang belakang lengkung, tulang ekor lengkung, koagulasi dan malformasi rahang. Hasil nilai LC50  diperoleh melalui perhitungan regresi probit  kemudian data diekstrapolasi ke dalam golongan sesuai dengan kategori toksisitasnya. Dari penelitian diperoleh hasil bahwa ekstrak, fraksi etil asetat maupun fraksi air dari sampel tergolong dalam toksisitas sedang, sedikit beracun, dan praktis tidak beracun.  
Pemanfaatan Tumbuhan Bersifat Laksatif dan Prokinetik untuk Konstipasi Vanessa Claudia Wiharja; Elin Yulinah Sukandar; Irianti Bahana Maulida Reyaan
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 46 No. 2 (2021)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/api.v46i2.16923

Abstract

Konstipasi merupakan suatu kondisi yang ditandai oleh perubahan konsistensi feses menjadi keras, ukuran tinja besar, dan penurunan frekuensi defekasi. Laksatif dan prokinetik digunakan dalam penanganan konstipasi. Banyak tumbuhan yang memiliki efek tersebut sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengatasi konstipasi. Penelitian ini menggunakan data-data dari artikel yang ditemukan pada mesin pencari mulai dari 1 Januari 2010 hingga 29 Maret 2021. Dari hasil pencarian, ditemukan 93 tumbuhan yang telah di uji secara praklinik dan klinik. Tumbuhan dengan efek laksatif dan prokinetik yang potensial antara lain Allium mongolicum Regel., Ipomoea nil (L.) Roth., Carissa carandas L., Linum usitatissimum L., Prunus mume (Siebold) & Zucc., Piper nigrum L., Cucumis melo L., Eugenia dysenterica DC., Opuntia ficus-indica (L.) Mill., Cassia fistula L., Rosa damascena Herrm., dan Senna alexandrina Mill. dengan berbagai mekanisme kerja. Tumbuhan yang dibahas dalam studi ini diharapkan dapat digunakan untuk terapi alternatif, pengembangan senyawa baru dan pembuatan obat-obatan baru untuk mengatasi konstipasi.  
Kajian Pustaka 27 Tanaman Indonesia dengan Aktivitas Antihipertensi Raras Adinindya Putri; Elin Yulinah Sukandar; Hubbi Nashrullah Muhammad
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 46 No. 2 (2021)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/api.v46i2.16952

Abstract

Kasus hipertensi di Indonesia selalu meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, sebanyak 34,11% penduduk Indonesia berusia >18 tahun mengalami hipertensi. Obat anti hipertensi digunakan dalam jangka waktu lama, bahkan seumur hidup, dan efek sampingnya tidak sedikit. Kajian pustaka mengenai efek antihipertensi dari 27 tanaman Indonesia telah dilakukan dengan mengumpulkan data ScienceDirect (sciencedirect.com), PubMed (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov), dan Google Scholar (scholar.google.com), serta buku Cabe Puyang: Warisan Nenek Moyang Edisi I. Pustaka menunjukkan banyak tumbuhan yang digunakan secara empiris oleh masyarakat. Sebagian tumbuhan tersebut telah melalui uji praklinis dan uji klinis. Tanaman yang berkhasiat antihipertensi secara empiris berjumlah 27 dan yang tidak ditemukan baik data uji praklinis maupun data uji klinisnya adalah tanaman buni (Antidesma bunius Spreng), trengguli (Cassia fistula Linn), lobi-lobi (Flacourtia inermis Roxb.), ranti (Solanum nigrum Linn), pulai (Alstonia spectabilis R. Br), dan srigading (Nyctanthes arbor-tristis L.). Keenam tanaman tersebut berpeluang untuk diteliti khasiat antihipertensi dan keamanannya.  

Page 1 of 1 | Total Record : 6