cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 08532982     EISSN : 25492659     DOI : 10.5614/jts
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan berkala setiap tiga bulan, yaitu April, Agustus dan Desember. Jurnal Teknik Sipil diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1990 dengan membawa misi sebagai pelopor dalam penerbitan media informasi perkembangan ilmu Teknik Sipil di Indonesia. Sebagai media nasional, Jurnal Teknik Sipil diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan akan sebuah media untuk menyebarluaskan informasi dan perkembangan terbaru bagi para peneliti dan praktisi Teknik Sipil di Indonesia. Dalam perkembangannya, Jurnal Teknik Sipil telah terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional sejak tahun 1996 dan saat ini telah terakreditasi kembali (2012-2017). Dengan pencapaian ini maka Jurnal Teknik Sipil telah mengukuhkan diri sebagai media yang telah diakui kualitasnya. Hingga saat ini Jurnal Teknik Sipil tetap berusaha mempertahankan kualitasnya dengan menerbitkan hanya makalah-makalah terbaik dan hasil penelitian terbaru.
Arjuna Subject : -
Articles 974 Documents
Kekakuan dan Kekuatan Lentur Maksimum Balok Glulam dan Utuh Kayu Akasia Indah Sulistyawati; Naresworo Nugoho; Surjono Suryokusumo; Yusuf Sudo Hadi
Jurnal Teknik Sipil Vol 15 No 3 (2008)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2008.15.3.3

Abstract

Abstrak. Glulam merupakan salah satu metoda mengatasi keterbatasan dimensi bahan dasar kayu yang tersedia. Dengan mempersiapkan lamina-lamina dan menyusunnya serta melakukan proses perekatan antar permukaan lamina dapat menghasilkan dimensi balok sesuai kebutuhan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan nilai kekakuan dan kekuatan lentur maksimum balok glulam dengan ketebalan lamina yang berbeda serta membandingkannya terhadap balok utuh. Kekakuan dinyatakan dalam MOE (modulus of elastcity), dan kekuatan lentur maksimum dinyatakan dalam MOR (modulus of rupture). Penelitian ini menggunakan kayu Akasia (Acacia mangium) termasuk kayu dengan kerapatan menengah. Balok glulam dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok ketebalan lamina, masing-masing 20 mm, 15 mm and 10 mm. Selain balok glulam disiapkan pula balok utuh. Penampang melintang balok glulam maupun balok utuh adalah 60 mm x 60 mm. Perekat yang digunakan adalah Polyurethane merupakan Water Based Polymer Isocyanate. Perekat terdiri dari dua bagian; begian pertama adalah PI 3100 sebagai cairan resin, dan H7 sebagai cairan pengeras. Berat labur perekat diaplikasikan sebesar 280 g/m2 pada kedua permukaan rekatan. Prosedur pengujian dilaboratorium dilakukan berdasarkan ASTM D143-05, Standard Test Methods for Small Clear Specimen of Wood. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi penampang melintang balok glulam mempengaruhi nilai MOE dan MOR-nya; semakin tipis ketebalan lamina mempunyai tendensi semakin tinggi MOE dan MOR-nya; nilai MOE dan MOR balok glulam tidak berbeda nyata dengan balok utuh, dan kedua nilai tersebut dipengaruhi oleh tipe kerusakan balok. Abstract. Glued Laminated Beam represents one method in overcoming limited dimension of available raw material of wood. By stacking sequence of several timber layers to be bonded with glue  perfectly, the dimension which was required could be obtained. The objectives of this research were to determine the stiffness and maximum bending strength of glued laminated beam (glulam) with different thickness of lamina; it was compared to solid beam. The stiffness was represented as MOE (modulus of elasticity), and maximum bending strength as MOR (modulus of rupture). This research used Acacia (Acacia mangium) as a medium density wood. Glulam beam was divided into 3 (three) groups based on the thickness of lamina, 20 mm, 15 mm and 10 mm respectively. Solid beam was also prepared besides glulam beam. The cross section of glulam and solid beam was 60 mm x 60 mm. The adhesive, Polyurethane was used as Water Based Polymer Isocyanate. It consisted of two parts; the first part of the adhesive was PI 3100 as a liquid resin, and H7 as a liquid hardener. The two parts were mixed in the ratio of 100:15 by weight. The glue spread of adhesive was applied 280 g/m2 in a double spread. The procedure of investigation in the laboratory was tested in accordance with ASTM D143-05, Standard Test Methods for Small Clear Specimen of Wood. The result showed that the cross section configuration of glulam beam influenced in the value of MOE and MOR; the lesser the thickness of lamina the higher MOE and MOR value tendency were; the MOE and MOR of glulam beam were not significant different with solid beam, and it were influenced by the type of failure.
Optimisasi Bubuk Slag Nikel dengan Sistem Ternary C-A-S Hanafi Ashad; Amrinsyah Nasution; Iswandi Imran; Saptahari Soegiri
Jurnal Teknik Sipil Vol 15 No 3 (2008)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2008.15.3.4

Abstract

Abstrak. Makalah ini mengkaji tentang optimisasi bubuk slag nikel sebagai bahan substitusi parsial semen dengan sistem ternary C-A-S (CaO-Al2O3-SiO2). Optimisasi dilakukan untuk menentukan kadar bubuk slag nikel di dalam mengkonsumsi senyawa kalsium hidroksida produk sampingan reaksi hidrasi trikalsium silikat (C3S) dan dikalsium silikat (C3S) semen dengan air sehingga membentuk senyawa lain berupa kalsium silikat hidrat (CSH) sekunder. Dalam diagram fase sistem ternary C-A-S, prosentase optimum bubuk slag nikel ditentukan melalui titik perpotongan antara garis keseimbangan reaksi pozzolanik dengan garis pencampuran bahan semen dan bubuk slag nikel. Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan pendekatan diagram fase sistem ternary C-A-S tersebut, prosentase optimum bubuk slag nikel adalah 14,59%. Abstract. This papers study concerning optimization of nickel slag powder as substitution material to partial cement by C-A-S (CaO-Al2O3-SiO2) ternary system. Optimization conducted to determine procentage of nickel slag powder in the consuming calcium hydroxide compound as hydration product of tricalcium silicate (C3S) and dicalcium silicate (C2S) cement with water so that form secondary of calcium silicate hydrate (CSH) compound. By the phase diagram C-A-S ternary system, procentage of optimum nickel slag powder determined by intersection point between of balance line pozzolanic reaction and mixing line of material cement and nickel slag powder. Analysis result indicate that by approach of C-A-S ternary system, percentage optimum of nickel slag powder is 14,59%.
Analisis Struktur Perkerasan Lentur Menggunakan Program Everseries dan Metoda AASHTO 1993 Studi kasus: Jalan Tol Jakarta - Cikampek Tofan Ferdian; Anindita Prasasya; Bambang Sugeng Subagio; Sri Hendarto
Jurnal Teknik Sipil Vol 15 No 3 (2008)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2008.15.3.5

Abstract

Abstrak. Di dalam metoda analisis desain overlay/lapis tambah terdapat suatu faktor variasi jenis beban kendaraan yang menjadi salah satu parameter penting dalam perencanaan desain overlay. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis struktur perkerasan eksisting dari jalan tol Jakarta-Cikampek, untuk perioda analisa antara 1988 sampai 2008 dan untuk menghitung tebal overlay yang diperlukan, berdasarkan pada data lendutan menggunakan alat Falling Weight Deflectometer (FWD). Dari data lendutan, nilai modulus resilien pada setiap lapisan dapat ditentukan. Dengan mempertimbangkan teori kerusakan kumulatif dan tekanan/tegangan yang diijinkan pada setiap lapisan, ketebalan overlay yang diperlukan dapat diperoleh. Hasil ini dapat dibandingkan dengan hasil perhitungan menggunakan metoda semi-analitis, misalnya metoda AASHTO 1993. Nilai modulus resilien setiap lapisan dapat menggambarkan tingkat kelemahan suatu lapisan dalam struktur perkerasandimana lapisan yang lemah ditunjukan oleh nilai modulus yang lebih rendah. Nilai kerusakan kumulatif (Cumulative Damage) pada setiap bagian-bagian jalan dapat menunjukkan lokasi mana yang perlu memperoleh overlay. Jika kerusakan kumulatif aktual nilainya lebih besar dari yang diijinkan, maka pada lokasi jalan tersebut perlu dilakukan overlay. Hal ini berarti struktur perkerasan tersebut berada dalam kondisi yang buruk dan perlu diperbaiki secepatnya.Abstract. An analytical method of overlay design has some advantages, such as to take into account the variation of loading types, which will give more exact and accurate results. The purpose of this research is to analyze the existing pavement structure of Jakarta-Cikampek toll road, for analysis period between 1988 to 2008 and to calculate the Overlay Thickness required, based on the deflection data using Falling Weight Deflectometer (FWD) equipment. From the deflection data, Resilient Moduli in each layer can be determined. Considering the Cumulative Damage theory and the allowable stress/strain in each layer, the overlay thickness needed were obtained. These results could be compared to the calculation results using semi-analytical method i.e. AASHTO® 2003 method.The result of Resilient Moduli in each layer shows that those values could identify the weakness layer in the pavement structure, indicated by the lower value of Moduli. The calculation of Cumulative Damage for each section showed some locations that needed to be overlaid immediately. If the actual Cumulative Damage is greater than the allowable one, the overlay is needed. This means that pavement structure was not strong enough and need to be repaired in short term.
Penentuan Debit Harian Menggunakan Pemodelan Rainfall Runoff GR4J untuk Analisa Unit Hidrograf pada DAS Citarum Hulu Dhemi Harlan; Muljana Wangsadipura; Cecep Muhtaj Munajat
Jurnal Teknik Sipil Vol 16 No 1 (2009)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2009.16.1.1

Abstract

Abstrak. Penelitian ini mengkaji pemodelan rainfall-runoff menggunakan metode GR4J (Ge´nie Rural a` 4 parame`tres Journalier) pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum hulu. Dalam studi ini digunakan input data berupa data hujan harian dan data evapotranspirasi potensial yang hasilnya dikalibrasi menggunakan data debit pengamatan harian. Dalam studi ini akan dicari nilai optimum dari parameter pemodelan GR4J yang menghasilkan simpangan atau error yang paling kecil. Ada dua tahapan dalam pemodelan ini, yaitu: kalibrasi model dan validasi model. Kalibrasi model menggunakan data lima tahun pertama dan validasi model menggunakan data lima tahun kedua. Untuk menghitung simpangan yang terjadi digunakan metode Nash-Sutcliffe Coefficient (NS) dan metode Relative Volume Error (RVE). Pemodelan ini mengoptimasi empat parameter bebas berupa Kapasitas Maksimum Production Store (X1), Koefisien Perubahan Air Tanah (X2), Kapasitas Maksimum Routing Store (X3), dan Waktu Puncak Ordinat Unit Hidrograf (X4). Parameter waktu puncak ordinat unit hidrograf (X4) digunakan untuk keperluan studi banjir berupa analisa unit hidrograf yang menggunakan metode linear reservoir cascade. Kajian dilakukan dengan memanfaatkan DAS Sungai Citarum yang merupakan suatu DAS terukur. Kalibrasi menggunakan data pengamatan di stasiun debit Nanjung dan berdasarkan data pengamatan di beberapa stasiun hujan di dalam DAS. Hasil dari kajian ini menyimpulkan bahwa data lima tahun pertama memiliki parameter yang hampir sama dengan data lima tahun kedua. Hal ini menunjukan pola curah hujan dandebit tidak mengalami perubahan yang berarti. Abstract. This research is to study the rainfall-runoff modeling using GR4J (Ge´nie Rural a` 4 parame`tres Journalier) on Citarum Hulu River Basin. In this study, the data input of daily rainfall and potential evapotranspiration are used, and the result will calibrated with the observed data of daily discharge. In this study, the optimum value of GR4J model parameters will be observed to get the smallest error deviation. There are two stages in this modeling. Firstly is model calibration and secondly is model validation. Model calibration uses the first of five years of data input and model validation uses the following five years. The Nash-Sucliffe Coefficient (NS) and The Relative Volume Error (RVE) methods are used to obtain the error deviation. This study is intended to optimize four free parameters, there are the maximum capacity of production store (X1), the groundwater exchange coefficient (X2), the maximum capacity of routing store (X3), and the time base of unit hydrograph (X4). The last parameter (X4) is used to study flood discharge in the form of unit hydrograph analysis that uses linear reservoir cascade. This study uses gaged river basin, Citarum River Basin. Calibration uses the observed discharge data of Nanjung Station and based on the observed data of several rainfall stations inside the river basin. The result of this study shows that the first five years data has parameters quite similar with the second five years data. This shows rainfall and discharge pattern are not change significantly.
Kajian Hubungan Antara Debit Berubah dengan Tinggi Muka Air dan Kecepatan Aliran Indratmo Soekarno; Heruyoko Heruyoko
Jurnal Teknik Sipil Vol 16 No 1 (2009)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2009.16.1.2

Abstract

Abstrak. Banjir merupakan bencana alam yang perlu perhatian serius agar dampak yang diakibatkan dapat diminimalkan. Pada kejadian banjir terjadi suatu fenomena dimana debit, tinggi muka air dan kecepatan aliran mencapai nilai maksimum pada waktu yang tidak bersamaan. Penelitian ini ditujukan untuk membuktikan dan memperlihatkan fenomena tersebut dengan membuat suatu pemodelan aliran tak tunak pada flume di Laboratorium Uji Model Fisik Hidraulik, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung. Selain pemodelan fisik, untuk mendukung penelitian ini dilakukan pula pemodelan numerik satu dimensi dengan syarat batas yang didapat dari hasil pemodelan fisik. Dari hasil pemodelan fisik maupun numerik diperoleh bahwa kecepatan aliran mencapai nilai maksimum terlebih dahulu, kemudian debit mencapai nilai maksimum dan tinggi muka air mencapai nilai maksimum terakhir. Dan hasil pemodelan numerik satu dimensi tidak jauh berbeda nilainya dengan hasil pemodelan fisik. Pemodelan numerik satu dimensi tidak hanya dilakukan untuk penampang berbentuk persegi panjang saja, pemodelan juga dilakukan untuk saluran dengan penampang berbentuk trapesium dengan kemiringan z = 1 dan z = 2. Hal ini dilakukan untuk melihat efek dari perbedaan bentuk penampang saluran. Dengan syarat batas, kekasaran saluran dan lebar dasar saluran yang sama didapatkan debit pada saluran berpenampang trapesium dengan z = 2 lebih besar dibandingkan dengan saluran berpenampang trapesium dengan z =1 dan saluran berpenampang persegi panjang. Hal ini disebabkan karena pada saluran berpenampang trapesium dengan z = 2 memiliki luas penampang basah yang lebih besar dibandingkan saluran berpenampang trapesium dengan z = 1 dan saluran berpenampang persegi panjang,mengingat debit adalah fungsi dari kecepatan aliran dan luas penampang basah. Abstract. Flood is a natural disaster needs a serious attention to minimize its negative impact. When flood occurs, a phenomenon happens where discharge, water level and stream velocity reach the maximum value at the different time. This research is conducted to prove and show the phenomenon by constructing an unsteady flow model in a The Hydraulic Laboratory, Civil and Environment Engineering Department. To support this research, besides physical model, one dimension numerical model is also being used as a boundary condition from the result of physical model. The result of physical and numerical model is that the stream velocity reaches the maximum point earlier, then the discharge reaches the maximum point and the water level reaches the last maximum point.The result of one dimension numerical model has similar value with the physical model. The one dimension numerical model is not only done for the rectangular shape, but also for the trapezium shape channel with inclination z = 1 and z = 2. It is done to see the effect of the different between channel shapes. With identical boundary condition of the roughness coefficient and width of the bottom channel, the discharge of the trapezium shape channel with inclination z = 2 is larger than the discharge of the trapezium shape channel with inclination z = 1 and the discharge of the rectangular shape channel. It is caused by the trapezium shape channel with inclination z = 2 that has larger wetted area compared to the trapezium shape channel with inclination z = 1 and the rectangular shape channel considering discharge is the function of stream velocity and wetted area.
Predicting The Influence of Accident Related Factors on Motorcycle Fatal Accidents Using Logistic Regression (Case Study : Tabanan, Bali) D. M. Priyantha Wedagama
Jurnal Teknik Sipil Vol 16 No 1 (2009)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2009.16.1.3

Abstract

Abstract. There were about 86.62% motorcycle accidents of all road accidents during period 2003-2008 in Tabanan regency, Bali Province. Of those motorcycle accidents, 50% included motorcycle fatal accidents. This study investigates the influence of accident related factors on motorcycle fatal road accidents during period 2003-2008 in the Regency of Tabanan, Bali, using logistic regression technique. Based on accident data, eight predictor variables were employed in the developed models. The study found that the odds of motorcycle fatal accident due to motorists failed to yield and collision with light vehicles were both about 0.4 times lower than for accident due to other causes and collision with motorcycles respectively. Thus, the probabilities of failed to yield andlight vehicle were about 30% and 28% respectively contributing on motorcycle fatal accidents. Abstrak. Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor berkisar 86,62% dari seluruh kecelakaan lalu lintas yang terjadi selama periode tahun 2003-2008 di Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Dari kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor tersebut, 50% merupakan kecelakaan fatal. Pada studi ini, regresi logistik digunakan untuk analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kecelakaan fatal yang melibatkan sepeda motor dalam kurun waktu tahun 2003-2008 di Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Dari data kecelakaan lalu lintas, delapan variabel penduga digunakan pada penyusunan model. Hasil analisis memperlihatkan bahwa kecelakaan fatal akibat pengendara kendaraan bermotor tidak memberikan prioritas kepada pengguna jalan lainnya dan akibat tabrakandengan kendaraan ringan mempunyai odds yang sama yaitu 0,4 kali lebih rendah dibandingkan kecelakaan karena sebab-sebab lainnya dan kecelakaan akibat tabrakan dengan sepeda motor. Peluang dari pengendara kendaraan bermotor tidak memberikan prioritas kepada pengguna jalan lainnya dan tabrakan dengan kendaraan ringan adalah berturut-turut sebanyak 30% dan 28% dalam mempengaruhi terjadinya kecelakaan fatal yang melibatkan sepeda motor.
Model Refraksi-Difraksi Gelombang Air oleh Batimetri dengan Mengerjakan Persamaan Kekekalan Energi Syawaluddin Hutahean
Jurnal Teknik Sipil Vol 16 No 1 (2009)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2009.16.1.4

Abstract

Abstrak. Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya mengenai model refraksi gelombang dengan menggunakan potensial aliran gelombang nonlinier yaitu Hutahaean (2007c) dan (2008c). Adapun pengembangan yang dilakukan adalah dengan mengerjakan persamaan muka air yang merupakan gabungan antara persamaan kontinuitas dan persamaan kekekalan energi, Hutahaean (2005) dan (2007a) serta dengan mengerjakan persamaan momentum terbatas, Hutahaean (2008a) dan (2008b). Perkembangan yang dihasilkan adalah bahwa terjadinya breaking ganda yang jelas pada model, tetapi masih diperlukan koefisien breaking sebagaimana halnya dengan model terdahulu.Abstract. This paper presents extended researches of earlier version about model of water wave refraction using nonlinier flow potential, Hutahaean (2007c) and (2008c). The extension is the using of surface water equation, which is superposition of continuity equation and energi conservation equation, and the working of limited momentum equation, Hutahaean (2008a) and (2008b). The improvement from the earlier version is that the model can show double breaking clearly, but the model still need a breaking coefficient as the earlier models need.
Distorsi Sambungan Baut akibat Curling dan Pencegahannya Studi Kasus Sambungan Pelat Tipe Geser (lap-joint) dengan Baut Tunggal Wiryanto Dewobroto; Mohamad Sahari Besari
Jurnal Teknik Sipil Vol 16 No 2 (2009)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2009.16.2.1

Abstract

Abstrak. Fenomena curling jarang dijumpai dan dibahas pada perilaku keruntuhan sambungan pelat baja hot-rolled yang relatif tebal, tetapi menjadi fenomena biasa pada perilaku keruntuhan sambungan pelat baja cold-formed yang relatif tipis (Cornell 1954; Roger-Hancock 2000; AISI 2001; Wallace et.al 2001). Jadi ketika pada uji tarik sambungan pelat hot-rolled yang relatif tebal (Dewobroto, 2009) dijumpai adanya curling dan mekanisme keruntuhan akhir memperlihatkan distorsi sambungan, yang berbeda dengan bentuk-bentuk mekanisme keruntuhan sambungan yang ada (Vinnakota, 2006), maka hal itu tentu patut dipertanyakan. Permasalahan yang akan diungkap, yaitu: (1) apa yang menyebabkan timbulnya curling; (2) apakah itu menjadi penyebab terjadinya distorsi pada sambungan; (3) bagaimanakah strategi untuk mengatasinya. Makalah ini menyajikan hasil penelitian numerik yang mencoba menjawab pertanyaan tersebut, sekaligus dapat menjelaskan dampak positip memakai ketentuan jumlah baut minimum pada sambungan lap (geser) dengan konfigurasi tertentu, yang ternyata secara efektif dapat menjadi mencegah distorsi sambungan sehubungan dengan adanya efek curling tersebut.Abstract. The phenomena of curling seldom happened on failure behavior of hot-rolled steel plate bolts connection, but relatively common found on the failure of cold-formed bolts connection (Cornell 1954; Roger-Hancock 2000; AISI 2001; Wallace et.al 2001), that relatively thin. So, it is interesting to find the curling phenomena on single bolts connection experiment (Dewobroto, 2009) that consist of hot-rolled steel plate. Also the final failure mechanism is different from the common mechanism of failure of bolts steel connection (Vinnakota, 2006), so it is to be questionable. Issues that are going to viewed are: (1) What caused curling to occur; (2) Was the same cause result distortion on the connection; (3) What are the strategies to overcome it. This paper will report the result of numerical simulation that suppose to resolve the question, also explains the benefit of using minimum bolt requirement, in a certain configuration on lap joint that can effectively avoid the distortion of the connection due to influence of curling.
Analisis Pengaruh Temperatur terhadap Kuat Tekan Beton Irma Aswani Ahmad; Nur Anny Suryaningsih Taufieq; Abdul Hamid Aras
Jurnal Teknik Sipil Vol 16 No 2 (2009)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2009.16.2.2

Abstract

Abstrak. Pemanasan yang dialami beton akibat terbakar akan mengakibatkan perubahan mendasar dari sifat-sifat beton. Atas dasar hal tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kuat tekan setelah terbakar dan model hubungan antara temperatur dan kuat tekan beton. Benda uji yang digunakan berbentuk kubus ukuran 15cm x 15cm x 15cm. Pemanasan dilakukan dalam oven pada temperatur 200oC - 600oC dengan interval kenaikan 50oC. Analisis data dilakukan dengan analisis statistik deskriptif dan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tekan beton rata-rata menurun dengan adanya kenaikan temperatur. Beton yang telah dipanasi pada temperatur 200oC, 400oC dan 600oC, kuat tekan rata-ratanya berturut-turut sebesar 85,83%, 58,40% dan 35,08% dari beton normal. Model regresi yang dihasilkan jika berbentuk regresi linier persamaannya adalah y = -0,2802x + 248,79 dengan nilai R2= 0,8539. Sedangkan model regresi berbentuk regresi polinomial derajat 2 persamaannya adalah y = 10-4x2 "“ 0,3402x + 255,65 dengan nilai R2= 0,8576. Abstract. Heating that occurs to concrete due to fire, changes the characteristic of concrete. Thus, this research is done to know the compressive strength of burnt concrete and relation between temperature and compression strength. The specimens shape was cubic, counted 100, of 15 x 15 x 15 cm3. Heating is made in oven at temperature of 200oC - 600oC with 50oC increased interval. Analysis of data was made by descriptive analysis and regression analysis. The result showed that the average of compressive strength decreased while the temperature increased. The residual of compressive strength at temperature of 200oC, 400oC and 600oC were consecutively 85,83%, 58,40% and 35,08% compared to normal concrete. The regression model is y = -0.2802 x + 248.79 and R2= 0.8539 of linear regression. Meanwhile, polynomial regression is y = 10-4 x2 "“ 0.3402 x + 255.65 with R2= 0.8576.
Peta Respons Spektrum Provinsi Sumatera Barat untuk Perencanaan Bangunan Gedung Tahan Gempa Delfebriyadi Delfebriyadi
Jurnal Teknik Sipil Vol 16 No 2 (2009)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2009.16.2.3

Abstract

Abstrak. Gempa aceh pada bulan Desember 2004 silam telah membuktikan zona sumber gempa subduksi Sumatera mampu menghasilkan magnitude Mw9,0 yang hampir setara dengan kejadian gempa pada zona subduksi di sekitar kepulauan Mentawai pada tahun 1883. Berdasarkan pertimbangan itu, dilakukan studi analisis hazard kegempaan pada wilayah Provinsi Sumatera Barat berdasarkan kriteria desain yang disyaratkan dalam SNI-1726-2002, yaitu untuk umur bangunan 50 tahun dan nilai kemungkinan terlampaui 10%. Analisa tersebut dilakukan berdasarkan teori probabilitas total dengan memanfaatkan perangkat lunak EQRISK yang dimodifikasi dan menggunakan pemodelan sumber gempa 2-D berdasarkan kajian seismotektonik dan identifikasi regional fault. Respons spektra desain di permukaan tanah diperkirakan berdasarkan faktor amplifikasi yang mengacu pada NEHRP 1997 berdasarkan spektra percepatan di batuan dasar untuk periode 0,2 detik dan 1,0 detik. Hasil akhir yang diperoleh adalah peta spektral percepatan pada lapisan batuan dasar di wilayah Provinsi Sumatera Barat dan respons spekra desain permukaan tanah dengan periode ulang 500 tahun.Abstract. The big earthquake event acted in Desember, 2004, shows that the subduction zone of the Sumatran trench is able to produce the magnitude 9,0 which is almost equal with the magnitude of the big earthquake event on Mentawai island in 1883. Therefore, a seismic hazard analysis was conducted on area of province West Sumatera to evaluate the significant code which develops based on SNI-1726-2002, that implements spectral hazard for 10 % probability of exceedance in building life time period of 50 years. The analyses were carried out using 2-D earthquake source model and the seismic hazard analysis software named EQRISK that is based on the total probability theorm. The design response spectrum on site ground surface are approximated by the amplification factor of NEHRP 1997 codes on spectral periods of 0,2 second and 1,0 second. The final result of this study are the spectral acceleration maps on the bedrock of province West Sumatera, and the design response spectrum on site ground surface for return period of 500 years.

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 32 No 3 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 32 No 2 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 32 No 1 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 31 No 3 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 31 No 2 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 31 No 1 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 30 No 3 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 2 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 1 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 3 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 2 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 1 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 3 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 27 No 3 (2020) Vol 27 No 2 (2020) Vol 27 No 1 (2020) Vol 27, No 1 (2020) Vol 26, No 3 (2019) Vol 26 No 3 (2019) Vol 26 No 2 (2019) Vol 26, No 2 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26 No 1 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25 No 3 (2018) Vol 25, No 2 (2018) Vol 25 No 2 (2018) Vol 25, No 1 (2018) Vol 25 No 1 (2018) Vol 24 No 3 (2017) Vol 24, No 3 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24 No 2 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24 No 1 (2017) Vol 24, No 1 (2017) Vol 23, No 3 (2016) Vol 23 No 3 (2016) Vol 23 No 2 (2016) Vol 23, No 2 (2016) Vol 23 No 1 (2016) Vol 23, No 1 (2016) Vol 22 No 3 (2015) Vol 22, No 3 (2015) Vol 22, No 2 (2015) Vol 22 No 2 (2015) Vol 22, No 1 (2015) Vol 22 No 1 (2015) Vol 21 No 3 (2014) Vol 21, No 3 (2014) Vol 21 No 2 (2014) Vol 21, No 2 (2014) Vol 21, No 1 (2014) Vol 21 No 1 (2014) Vol 20 No 3 (2013) Vol 20, No 3 (2013) Vol 20, No 2 (2013) Vol 20 No 2 (2013) Vol 20 No 1 (2013) Vol 20, No 1 (2013) Vol 19, No 3 (2012) Vol 19 No 3 (2012) Vol 19 No 2 (2012) Vol 19, No 2 (2012) Vol 19 No 1 (2012) Vol 19, No 1 (2012) Vol 18, No 3 (2011) Vol 18 No 3 (2011) Vol 18, No 2 (2011) Vol 18 No 2 (2011) Vol 18 No 1 (2011) Vol 18, No 1 (2011) Vol 17, No 3 (2010) Vol 17 No 3 (2010) Vol 17 No 2 (2010) Vol 17, No 2 (2010) Vol 17, No 1 (2010) Vol 17 No 1 (2010) Vol 16 No 3 (2009) Vol 16, No 3 (2009) Vol 16 No 2 (2009) Vol 16, No 2 (2009) Vol 16 No 1 (2009) Vol 16, No 1 (2009) Vol 15, No 3 (2008) Vol 15 No 3 (2008) Vol 15, No 2 (2008) Vol 15 No 2 (2008) Vol 15, No 1 (2008) Vol 15 No 1 (2008) Vol 14 No 4 (2007) Vol 14, No 4 (2007) Vol 14, No 3 (2007) Vol 14 No 3 (2007) Vol 14 No 2 (2007) Vol 14, No 2 (2007) Vol 14, No 1 (2007) Vol 14 No 1 (2007) Vol 13, No 4 (2006) Vol 13 No 4 (2006) Vol 13, No 3 (2006) Vol 13 No 3 (2006) Vol 13 No 2 (2006) Vol 13, No 2 (2006) Vol 13, No 1 (2006) Vol 13 No 1 (2006) Vol 12 No 4 (2005) Vol 12, No 4 (2005) Vol 12, No 3 (2005) Vol 12 No 3 (2005) Vol 12 No 2 (2005) Vol 12, No 2 (2005) Vol 12, No 1 (2005) Vol 12 No 1 (2005) Vol 11, No 4 (2004) Vol 11 No 4 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11 No 3 (2004) Vol 11, No 2 (2004) Vol 11 No 2 (2004) Vol 11, No 1 (2004) Vol 11 No 1 (2004) Vol 10, No 4 (2003) Vol 10 No 4 (2003) Vol 10 No 3 (2003) Vol 10, No 3 (2003) Vol 10, No 2 (2003) Vol 10 No 2 (2003) Vol 10 No 1 (2003) Vol 10, No 1 (2003) More Issue