cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 08532982     EISSN : 25492659     DOI : 10.5614/jts
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan berkala setiap tiga bulan, yaitu April, Agustus dan Desember. Jurnal Teknik Sipil diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1990 dengan membawa misi sebagai pelopor dalam penerbitan media informasi perkembangan ilmu Teknik Sipil di Indonesia. Sebagai media nasional, Jurnal Teknik Sipil diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan akan sebuah media untuk menyebarluaskan informasi dan perkembangan terbaru bagi para peneliti dan praktisi Teknik Sipil di Indonesia. Dalam perkembangannya, Jurnal Teknik Sipil telah terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional sejak tahun 1996 dan saat ini telah terakreditasi kembali (2012-2017). Dengan pencapaian ini maka Jurnal Teknik Sipil telah mengukuhkan diri sebagai media yang telah diakui kualitasnya. Hingga saat ini Jurnal Teknik Sipil tetap berusaha mempertahankan kualitasnya dengan menerbitkan hanya makalah-makalah terbaik dan hasil penelitian terbaru.
Arjuna Subject : -
Articles 974 Documents
Kajian Numerik Terhadap Kinerja Link Geser dengan Pengaku Diagonal pada Struktur Rangka Baja Berpenopang Eksentrik (EBF) Yurisman Yurisman; Bambang Budiono; Muslinang Moestopo; Made Suarjana
Jurnal Teknik Sipil Vol 17 No 1 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2010.17.1.3

Abstract

Abstrak. Makalah ini menyajikan hasil studi numerik yang meneliti perilaku link geser dengan menggunakan pengaku diagonal pada bagian badan untuk meningkatkan kinerjanya, pada sistem struktur baja berpengaku eksentrik (EBF). Penelitian ini bertujuan untuk meneliti perilaku link geser dengan menggunakan pengaku diagonal pada bagian badan dibawah pembebanan statik monotonik dan siklik dengan kontrol perpindahan, riwayat pembebanan yang diberikan dalam pengujian ini sesuai dengan standar pembebanan AISC 2005. Analisis dilakukan dengan pendekatan elemen hingga Non-Linier dengan menggunakan perangkat lunak komputer MSC/NASTRAN. Link dimodelkan sebagai elemen shell yang ditumpu pada kedua ujungnya sedangkan beberapa nodal pada posisi pembebanan diperbolehkan untuk bertranslasi dalam satu arah saja (sumbu-y).. Beberapa parameter penting yang dianggap berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja link geser telah dianalisa mencakup: tebal sayap, tebal badan, tebal dan jarak pengaku badan, tebal pengaku diagonal dan geometrik pengaku diagonal. Perilaku link geser dengan pengaku diagonal badan dibandingkan dengan perilaku link standar yang direncanakan sesuai dengan ketentuan AISC 2005. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengaku diagonal badan dapat meningkatkan kinerja link geser dalam hal: kekuatan kekakuan dan dissipasi energi dalam menahan beban lateral. Namun, perbedaan nilai daktilitas antara link geser dengan pengaku diagonal badan dan link geser yang direncanakan sesuai standar AISC tidak begitu signifikan. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa ketebalan pengaku diagonal dan model geometrik pengaku tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja link geser. Abstract. This paper presents a numerical study to investigate the behaviour of shear link in case of enhancement of the shear link performance of Eccentrically Braced Frames (EBF) of steel structures by using diagonal web stiffenner. This research aims to investigate the behaviour of shear link with diagonal stiffenner under monotonic and cyclic of loading with displacement control, the loading hystory is applied to the model of link accordance with standard of AISC 2005. Non-Linier Finite Element Method is applied using the computer software of MSC/NASTRAN. Link is modeled as shell element and fixed at its both ends except for degree of freedom of the vertical displacement (y-direction) at the one end where the load is applied. Several important parameters of shear link has ben investigated: the thickness of flange, web and web stiffener, the space of web stiffner, the thickness of diagonal web stiffner and its geometric. The behaviour of shear link with diagonal  web stiffener is compared to the behaviour of the link designed in accordance with the AISC 2005 Standard Code of Practice. The results of the analysis show that the diagonal web stiffener increases the performance of the shear link in terms of strength, stiffness, energy dissipation to resist lateral load. However, the difference between the ductilities of the link with diagonal web stiffenner and standard link of AISC Code is not significant. Parameters which are significantly influencing the performance of the shear link are the thickness of diagonal web stiffener and its geometry.
Karakteristik Dinamik Bola Baja Sebagai Material Isolasi Seismik Benyamin Bontong; Harun Mallisa; Tan Suryani Sollu
Jurnal Teknik Sipil Vol 17 No 1 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2010.17.1.4

Abstract

Abstrak. Sistem isolasi seismik yang tersedia dewasa ini menggunakan teknologi canggih dan umumnya digunakan pada bangunan berlantai banyak. Penelitian ini mengkaji karakteristik isolasi bola baja yang sederhana tetapi diharapkan handal untuk bangunan rumah. Beban bangunan dimodelkan sebagai massa tunggal dan meja getar memodelkan tumpuan dasar (base). Isolasi bola dipasang di antara massa dengan meja getar. Rumah bola dibuat dua macam yaitu berbentuk tabung belah dan ½ bola. Beban siklis diaplikasikan pada meja getar dengan amplitudo 5, 10 dan 20 mm, frekuensi 151 dan 240 cpm. Friksi dalam sistem isolasi diukur. Respons massa dalam gerakan satu arah direkam pada kertas skala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi percepatan meja getar am, semakin besar persentase redaman percepatan yang dirambatkan ke massa. Dalam rentang parameter input yang diaplikasikan, untuk rumah bola berbentuk tabung belah, redaman percepatan mencapai 92% sampai dengan 99 %, sedangkan untuk rumah bola berbentuk ½ bola mencapai 35% sampai dengan 92 %. Rumah bola berbentuk tabung belah jauh lebih efektif meredam percepatan dibandingkan dengan rumah bola berbentuk ½ bola, dengan angka perbandingan respons percepatan massa 1:7 sampai 1:8. Abstract. Seismic isolation systems being available recently are sophisticated technology and commonly used to reduce multi-storey building response from seismic ground motions. The simple steel ball isolation was conducted to predict the reliability of housing structures in response of seismic ground motion due to earthquake. To develop a model, the building loads are assumed as a single mass system and a vibration table as a supporting base. The steel ball isolation was installed between the mass and the table. Two houses shapes are made, that is, a split cylinder and an half ball. Sinusoidal forces were applied on vibrating table with the amplitudes of 5, 10 and 20 and the frequencies of 151 and 240 cpm. Frictions in the isolation system were measured, while movements of mass responses based on one direction displacement were recorded on scaling papers. This research reveals that the higher the vibrating table acceleration (am), the higher the percentage of  damping spreads through the mass. In the range of the application of input parameters, the accelerations are reduced from 92% to 99 % for split cylinder ball's house, and from 35% to 92 % for half-ball ball's house. The split cylinder-ball house is much more effective to reduce acceleration than the half-ball house. Those ratios of mass acceleration responses are from one eighth to one seventh.
Determining The Critical Degree of Reservoir Lifetime for The Saguling Reservoir Based on The Sediment Inflow Simulation Bakhtiar Bakhtiar; Joetata Hadihardaja; Iwan K. Hadihardaja
Jurnal Teknik Sipil Vol 17 No 1 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2010.17.1.5

Abstract

Abstract. This study aims to find out the relationship between the critical degree of reservoir lifetime and sediment inflow. The critical degree of reservoir lifetime is defined as the ratio between the designated lifetime of the reservoir and its effective lifetime. The effective lifetime of a reservoir is affected by the amount of sediment flowing into the reservoir and trap efficiency. Soil and Water Assessment Tool (SWAT) version 2005 model was incorporated into this study to simulate hydrological processes taking place in the catchment. The reliability of of SWATmodel depends greatly on the data availability and some parameter adjustments. From the calibration and validation results on monthly data, the model is considerably of good performance. The  modeling resultsrevealed that the mean sediment yield is 235.86 ton/ha/year, and the mean sediment inflow into the reservoir is 5,102,000 tons per year which is equivalent to 3,836,090 m3 per year resulting in 43.66 years of the reservoir lifetime (21.66 years remaining) which corresponds to the critical degree of 2.29 The graph plotting the values of the sediment inflow and the critical degree of reservoir lifetime reveals a linear relationship. Abstrak. Penelitian ini dimaksudkan untuk mencari hubungan antara tingkat kekritisan umur waduk dengan inflow sedimen. Tingkat kekritisan umur waduk didefinisikan sebagai perbandingan antara umur rencana waduk dengan umur efektifnya. Umur efektif waduk dipengaruhi oleh jumlah sedimen yang masuk ke waduk serta efisiensi pengendapan sedimen. Model Soil and Water Assessment Tool (SWAT) versi 2005 digunakan dalam penelitian ini untuk mensimulasikan proses-proses hidrologi yang terjadi di daerah tangkapan. Keandalan model SWAT sangat bergantung pada ketersediaan data dan penyesuaian beberapa parameter. Dari hasil kalibrasi dan validasi terhadap data bulanan, kinerja model dinilai cukup baik. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sediment yield rata-rata sebesar 235,86 ton/ha/tahun, serta inflow sedimen rata-rata yang masuk ke waduk sebesar 5.102.000 ton per tahun yang ekivalen dengan 3.836.090 m3 per tahun yang menghasilkan umur waduk sebesar 43,66 tahun (21,66 sisa umur waduk) yang bersesuaian dengan tingkat kekritisan 2,29. Grafik yang menghubungan nilai inflow sedimen dengan tingkat kekritisan umur waduk menunjukkan hubungan yang bersifat linear.
Relationship between Urban Form, Socio-Economic, and Demographic With Journey to Work by Train in Sydney, Australia Putu Alit Suthanaya
Jurnal Teknik Sipil Vol 17 No 1 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2010.17.1.6

Abstract

Abstract. This study examines journey to work by train in Sydney and the relationship with urban form, socio-economic and demographic variables by using multiple regression model. Train modal share between area located close to and away from a rail station is compared by using analysis of variance. Results of analyses indicate that the proportion using train between area close to and away from rail station is significantly different. Several urban form variables are related to the proportion using train for work trips. However, when socio-economic factors are included in the analysis, car ownership is the main determinant for the proportion using train whilst urban form variable such as density does not have a significant influence. Although urban form variables are not the most important predictor for rail modal share, urban form does influence the proportion using train in different parts of the metropolitan region. The findings support the use of urban form policies to reduce the dependence on car. A variety of non-urban form factors that affect mode choice are also identified. Abstrak. Studi ini menganalisis perjalanan kerja dengan kereta api di Kota Sydney dan keterkaitannya dengan variabel bentuk kota, sosial ekonomi dan demographi dengan model regresi berganda. Penggunaan kereta api antara lokasi yang dekat dan yang jauh dari stasiun kereta api dibandingkan dengan menggunakan analisis varian. Hasil analisis memperlihatkan bahwa proporsi penggunaan kereta api antara lokasi yang dekat dan yang jauh dari stasiun berbeda secara signifikan. Beberapa variabel bentuk kota terkait dengan proporsi pemakaian kereta api untuk tujuan kerja. Akan tetapi, ketika faktor sosial-ekonomi juga disertakan, kepemilikan kendaraan pribadi menjadi faktor yang dominan, sedangkan variabel bentuk kota seperti halnya kepadatan, tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Walaupun variabel bentuk kota bukanlah variabel terpenting terkait penggunaan kereta api, tetapi variabel bentuk kota juga mempengaruhi pemakaian kereta api pada bagian-bagian yang berbeda di wilayah kota metropolitan. Temuan dari studi ini mendukung penerapan kebijakan untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Berbagai variabel selain bentuk kota yang mempengaruhi  pemilihan moda juga diidentifikasi.
Catatan Teknik (Technical Notes) Penyelesaian Persamaan Vibrasi dengan Integrasi Newton-Cote Syawaluddin Hutahean
Jurnal Teknik Sipil Vol 17 No 1 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2010.17.1.7

Abstract

Abstrak. Paper ini mempresentasikan penyelesaian pesamaan vibrasi secara numeris dengan menggunakan integrasi numeris metoda Newton-Cote. Eksekusi model selama sepuluh kali period gelombang memberikan solusi yang sangat stabil.Abstract. This paper presents a numerical method for solving vibration equation using Newton-Cote's numerical integration. Model execution during ten times of vibration period gives a very stabile solution.
3D Nonlinear Parallel FEM for Analyzing Dynamic Response of the Large- Scale Saturated Soil Layers-Civil Structures Interaction Problem (Part I: Formulation and its Numerical Solution) Jafril Tanjung
Jurnal Teknik Sipil Vol 17 No 2 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2010.17.2.1

Abstract

Abstract. In this analytical study a 3D nonlinear parallel FEM algorithm was developed to overcome the physical limitation of a single processor computer when analysing the dynamic response of interaction between a large-scale saturated soil layers and civil structures. The parallel algorithm was derived based on the Domain Decomposition Method (DDM) such that a boundary value problem can be converted into an interface problem. The DDM was used to partite a whole of analytical domain into several non-overlapping subdomains. One feature of the current algorithm is most parts of the computation processes are performed in subdomain basis without interprocessor communication. The interprocessor communication is only take place when solving the interface problem. An iterativesolver of the Conjugate Gradient (CG) algorithm incorporating with the interprocessor communication based on hypercube networking was used to solve it interface problem. Abstrak. Dalam studi analitik ini, algoritma paralel elemen hingga non-linier dikembangkan untuk mengatasi kelemahan dari kemampuan komputer berprosesor tunggal dalam menganalisis tanggap dinamik pada masalah interkasi antara lapisan tanah jemuh dan struktur sipil dalam skala besar. Algoritma paralel dijabarkan berdasarkan motode dekomposisi domain untuk mengubah masalah nilai batas ke masalah interfes. Metode dekomposisi domain digunakan untuk membagi keseluruhan domain yang dinalisis menjadi beberapa subdomain yang tidak saling overlap. Keungulan dari algiritma yang dikembangkan ini adalah sebagian besar proses perhitungan dilakukan dalam basis subdomain tanpa adanya komunikasi antar prosesor. Komunikasi antar prosesor hanya dilakukan ketika menyelesaikan masalah interfes. Metode iteratif Conjugate Gradient, yang digabungkan dengan komunikasi antar prosesor berbasiskan jejaring hypercube, digunakan untuk menyelesaikan masalah interfes tersebut.
Distribusi Vektor Aliran Air Tanah Dua Dimensi dalam Media Rekahan di Big Gossan, Tembagapura, Papua Lambok M. Hutasoit; Mudrik R. Daryono; Lilik Eko Widodo; Toddy Syaifullah
Jurnal Teknik Sipil Vol 17 No 2 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2010.17.2.2

Abstract

Abstrak. PT. Freeport Indonesia (PTFI) berencana membuka tambang bawah tanah baru di Big Gossan dengan metode stope mine, yang menuntut daerah yang akan ditambang berada dalam kondisi kering. Di beberapa lokasi uji, air tanah keluar dari beberapa lubang stope dengan debit yang cukup mengganggu, tetapi di beberapa lokasi lainnya lubang berada dalam kondisi kering. Pemodelan hidrogeologi terdahulu, yang mengasumsikan bahwa akifer adalah media antar butir, tidak dapat menjawab variasi keberadaan air tanah tersebut. Akifer di daerah ini disusun oleh rekahan-rekahan. Dalam penelitian ini, dilakukan kembali pemodelan hidrogeologi dengan penekanan bahwa akifer adalah media rekahan dan pada titik-titik perpotongan antara sesar dan sungai terjadi peresapan. Dalam pemodelan ini, pertama-tama dilakukan analisis geometri dan orientasi rekahan. Hasil analisis digunakan untuk menghitung distribusi muka air tanah dengan Metode Gale dan konduktivitas hidrolik akifer dengan Metode Oda dkk. Kedua parameter tersebut digunakan untuk melakukan pemodelan hidrogeologi dalam dua dimensi, untuk mengetahui distribusi vektor aliran air tanah. Dari penelitian ini diperoleh bahwa konduktivitas hidrolik di daerah ini adalah heterogen, bukan homogen, seperti asumsi dalam pemodelan terdahulu. Hasil pemodelan hidrogeologi menunjukkan bahwa aliran air tanah terkonsentrasi disebelah barat laut dari Stope # 6.Abstract. PT. Freeport Indonesia (PTFI) is planning to open a new underground mine at Big Gossan by using stop mine method which requires dry mining area. In some pilot areas, groundwater flowed from some stope holes significantly, while in other areas, some holes were dry. Previous hydrogeologic modeling, assuming that aquifers were intergranular media, cannot answer the variation of the groundwater occurrence. The aquifers in the study area are composed of fractures. In this research, hydrogeology of the area is remodeled, stressing that the aquifers are fractured media and recharge takes place at the intersections of faults and rivers. In this modeling, fracture geometry and orientation are analysed first. The results are used to calculate groundwater table distribution by using Gale Method and hydraulic conductivity by using Oda et.al. Method. Both parameters are used to construct two dimensional hydrogeological modeling, to know distribution of groundwater flow vector in the research area. This research reveals that hydraulic conductivity in this area is heterogeneus, not homogeneous, as was assumed in the previous modeling. The hydrogeologic model shows that groundwater flow is concentrated to the northwest of Stope # 6.
Pemodelan Retak pada Struktur Beton Bertulang Nuroji Nuroji; Mohamad Sahari Besari; Iswandi Imran
Jurnal Teknik Sipil Vol 17 No 2 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2010.17.2.3

Abstract

Abstrak. Paper ini menyajikan pemodelan retak pada struktur beton bertulang dengan menggunakan nonlinear finite element. Pemodelan retak yang digunakan dalam studi ini adalah discrete crack untuk mensimulasikan diskontinuitas regangan. Discrete crack dimasukkan ke dalam struktur ketika tegangan utama tarik pada titik nodal telah mencapai kuat tarik beton. Penerapan discrete crack ini hanya dilakukan jika hasil kombinasi tegangan didominasi oleh tegangan normal tarik. Meskipun demikian, jika tegangan utama tarik pada Gauss point telah melampaui tegangan tarik beton, retak diperlakukan sebagai retak tersebar dengan merubah perilaku material dari isotropik menjadi orthotropik. Untuk menggambarkan arah dan pola retak retak yang benar, pemasukan discrete crack ke dalam struktur tidak hanya dilakukan dengan melakukan pemisahan titik nodal yang tegangannya telah mencapai kuat tarik beton, tapi juga merotasi retak ke arah tegak lurus terhadap arah tegangan utama tarik dan menggeser titik nodal di ujung retak sejauh perambatan retaknya. Beberapa benda uji dengan kasus yang berbeda yaitu Beam J4 (Burns and Siess 1962), Beam OA (Bresler dan Scordelis 1963) dan Beam A4 (Ahmad et al. 1986). dianalisis untuk memvalidasi model. Model ini bukan hanya mampu menunjukkan bahwa respon struktur dari model sangat mendekati hasil pengujian eksperimental, tapi juga dapat menggambarkan pola retak yang benar.Abstract. This paper presents a crack model for reinforced concrete structures by using nonlinear finite element method. The crack model used in this study is a discrete crack to simulate strain discontinuity, Discrete cracks are inserted into the structure when the principal tensile stress of nodes have reached the tensile strength of concrete. Insertion of discrete cracks into the structure is only performed when resulting stress combinations are dominated by normal tension stress. Nevertheless, if the principle tension stress on a Gauss point has exceeded the tensile strength of concrete, the craks is treated as a smeared crack with a change in material behavior from one isotropic to another orthotropic character. To find the appropriate direction and pattern of cracks, insertion of discrete cracks into the structure is not only performed by node separation at nodes which have reached the tensile strength of concrete, but also by rotation of the crack perpendicular to the direction of the principle tension stress and dragging the crack-tip node as far as the crack has propagated. Some specimens with different cases e.i Beam J4 (Burns and Siess 1962), Beam OA (Bresler dan Scordelis 1963) and Beam A4 (Ahmad et al. 1986) were analyzed to validate the model. The model is not only able to shows that the structure response is very close to the experimental test, but also can describe the proper crack pattern.
Peningkatan Kinerja Jaringan Irigasi Melalui Penerapan Manajemen yang Tepat dan Konsisten pada Daerah Irigasi Ciramajaya Roni Komarudin
Jurnal Teknik Sipil Vol 17 No 2 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2010.17.2.4

Abstract

Abstrak. Optimasi penggunaan air agar dapat digunakan secara lebih efektif dan efisien, sebagai jawaban atas semakin meningkatnya permintaan akan air untuk kebutuhan tanaman maupun air bagi peruntukan lainnya. Permasalahan yang sering dihadapi dalam operasional jaringan irigasi yang dapat dijadikan indikasi atas rendahnya kinerja jaringan diantaranya efisiensi distribusi air masih rendah terutama di tingkat jaringan tersier, manajemen operasional irigasi kurang tepat penerapannya sehingga dapat menimbulkan konflik, biaya operasi dan pemeliharan tidak mencukupi sehingga fungsi jaringan cepat menurun. Untuk mengatasi hal tersebut perlu melakukan analisis berdasarkan pemilihan alternative manajemen operasional irigasi yang tepat dan konsisten meliputi prosedur penentuan alokasi air, metoda alokasi air ke jaringan tersier, metoda distribusi air pada jaringan utama dan sistem kontrol aliran yang paling tepat diterapkan pada daerah studi, dengan menggunakanmetode kartu skor (scoring card method) sehingga diharapkan dapat meningkatkan kinerja sistem jaringan irigasi yang telah dibangun, jika belum/ tidak sesuai bagaimana semestinya yang harus  diterapkan agar kinerjanya dapat ditingkatkan.Abstract. The optimum of water usage should be done effectively and efficiently, as the answer to the increase of water demand for plantation or other purposes. The problems that accur in the operational of irrigation channel that can be an indication of low production channel are among others the low efficiency of water distribution especially in tertiary channel, the inaccurate of the implementation of channel operational management that can create conflict, the expenses of operational and maintenance is not sufficient so it can decrease the channel function. To overcome such problems, an analysis should be done based on the selection of accurate and consistent alternative of channel operational management covering the procedure of determining water allocation, the method of water allocation to tertiary channel, the method of water distribution to primary channel and the accurate channel control system implemented to the study area using scoring card method so it is expected to increase the production of existing irrigation channel system, if it is not in line, what kind of system that can increase the production.
Studi Pengembangan Peta Indeks Resiko Banjir pada Kelurahan Bukit Duri Jakarta Muhammad Syahril Badri Kusuma; Harkunti P. Rahayu; Mohammad Farid; M. Bagus Adityawan; Tia Setiawati; Rasmiaditya Silasari
Jurnal Teknik Sipil Vol 17 No 2 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2010.17.2.5

Abstract

Abstrak. Banjir merupakan bencana yang sering terjadi di ibukota DKI Jakarta dengan kejadian terbesar pada tahun 2007. Penentuan langkah yang tepat dalam menyelesaikan masalah banjir dapat dibantu dengan pemetaan resiko banjir. Daerah studi kasus dalam penelitian ini adalah Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta yang terletak di hulu pintu air Manggarai. Penelitian difokuskan pada estimasi bahaya banjir, kerentanan, kapasitas, dan resiko di daerah studi. Peta genangan banjir dikembangkan dengan model matematis aliran 1-D tak tunak DUFLOW dengan hidrograf banjir tahun 2007. Limpasan hidrograf banjir akan membebani daerah retensi dan menyebabkan variasi genangan. Indeks bahaya banjir dianalisis berdasarkan peta genangan dengan diverifikasi data lapangan. Analisis indeks kerentanan menggunakan parameter jaringan pipa dan kabel, jenis bangunan, sebaran populasi, dan potensi bahaya kolateral. Analisis indeks kapasitas memakai parameter kondisi pompa, tanggul, dan intervensi (peningkatan kewaspadaan banjir). Peta resiko dievaluasi menggunakan GIS dalam skenario optimis dan pesimis dengan persamaan: resiko = bahaya x kerentanan / kapasitas. Intervensi pada skenario optimis menunjukkan penurunan resiko signifikan di beberapa daerah, sedangkan pada skenario pesimis tidak berbeda dibandingkan kondisi eksisting. Peta resiko kondisi eksisting  dianalisis serupa dengan keadaan aktual, dimana daerah studi merupakan daerah beresiko banjir tinggi karena perumahan penduduk yang padat dan kapasitas penanggulangan banjir yang tidak memadai.Abstract. Flood is a frequent disaster in DKI Jakarta with the worst event occurred in 2007. Determining right steps to resolve flooding problem can be assessed by developing flood risk map. Case study area observed is Kelurahan Bukit Duri, Tebet Subdistrict, Jakarta, at Manggarai floodgate upstream. This study emphasizes on the estimation of flood hazard (inundation), vulnerability, capacity, and risk of case study. Inundation map is developed with 1-D steady flow mathematical model DUFLOW with 2007 flood hydrograph input. Overflow water from flood hydrograph will inundate retention area and create inundation. Flood hazard index is based on inundation depth and verified with field data. Vulnerability index parameters are infrastructure lifeline network, building quality, population distribution, and possible source of collateral hazard. Capacity index parameters are pump and dike conditions and intervention (flood awareness improvement). Risk map evaluation uses GIS in optimistic and pessimistic scenarios with equation: risk = hazard x vulnerability / capacity. Intervention in optimistic scenario shows significant risk reduction in some areas, while pessimistic scenario shows similar result with existing condition. Existing condition risk map is able to present actual condition of high flood risk in case study area caused by dense residential area and inadequate flood prevention capacity.

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 32 No 3 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 32 No 2 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 32 No 1 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 31 No 3 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 31 No 2 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 31 No 1 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 30 No 3 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 2 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 1 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 3 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 2 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 1 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 3 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 27 No 3 (2020) Vol 27 No 2 (2020) Vol 27 No 1 (2020) Vol 27, No 1 (2020) Vol 26, No 3 (2019) Vol 26 No 3 (2019) Vol 26, No 2 (2019) Vol 26 No 2 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26 No 1 (2019) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25 No 3 (2018) Vol 25, No 2 (2018) Vol 25 No 2 (2018) Vol 25 No 1 (2018) Vol 25, No 1 (2018) Vol 24, No 3 (2017) Vol 24 No 3 (2017) Vol 24 No 2 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24, No 1 (2017) Vol 24 No 1 (2017) Vol 23 No 3 (2016) Vol 23, No 3 (2016) Vol 23 No 2 (2016) Vol 23, No 2 (2016) Vol 23 No 1 (2016) Vol 23, No 1 (2016) Vol 22, No 3 (2015) Vol 22 No 3 (2015) Vol 22 No 2 (2015) Vol 22, No 2 (2015) Vol 22, No 1 (2015) Vol 22 No 1 (2015) Vol 21, No 3 (2014) Vol 21 No 3 (2014) Vol 21 No 2 (2014) Vol 21, No 2 (2014) Vol 21, No 1 (2014) Vol 21 No 1 (2014) Vol 20 No 3 (2013) Vol 20, No 3 (2013) Vol 20, No 2 (2013) Vol 20 No 2 (2013) Vol 20, No 1 (2013) Vol 20 No 1 (2013) Vol 19 No 3 (2012) Vol 19, No 3 (2012) Vol 19 No 2 (2012) Vol 19, No 2 (2012) Vol 19, No 1 (2012) Vol 19 No 1 (2012) Vol 18, No 3 (2011) Vol 18 No 3 (2011) Vol 18, No 2 (2011) Vol 18 No 2 (2011) Vol 18 No 1 (2011) Vol 18, No 1 (2011) Vol 17 No 3 (2010) Vol 17, No 3 (2010) Vol 17, No 2 (2010) Vol 17 No 2 (2010) Vol 17 No 1 (2010) Vol 17, No 1 (2010) Vol 16, No 3 (2009) Vol 16 No 3 (2009) Vol 16, No 2 (2009) Vol 16 No 2 (2009) Vol 16 No 1 (2009) Vol 16, No 1 (2009) Vol 15, No 3 (2008) Vol 15 No 3 (2008) Vol 15 No 2 (2008) Vol 15, No 2 (2008) Vol 15, No 1 (2008) Vol 15 No 1 (2008) Vol 14 No 4 (2007) Vol 14, No 4 (2007) Vol 14 No 3 (2007) Vol 14, No 3 (2007) Vol 14 No 2 (2007) Vol 14, No 2 (2007) Vol 14, No 1 (2007) Vol 14 No 1 (2007) Vol 13 No 4 (2006) Vol 13, No 4 (2006) Vol 13, No 3 (2006) Vol 13 No 3 (2006) Vol 13 No 2 (2006) Vol 13, No 2 (2006) Vol 13, No 1 (2006) Vol 13 No 1 (2006) Vol 12, No 4 (2005) Vol 12 No 4 (2005) Vol 12 No 3 (2005) Vol 12, No 3 (2005) Vol 12 No 2 (2005) Vol 12, No 2 (2005) Vol 12 No 1 (2005) Vol 12, No 1 (2005) Vol 11 No 4 (2004) Vol 11, No 4 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11 No 3 (2004) Vol 11, No 2 (2004) Vol 11 No 2 (2004) Vol 11, No 1 (2004) Vol 11 No 1 (2004) Vol 10, No 4 (2003) Vol 10 No 4 (2003) Vol 10 No 3 (2003) Vol 10, No 3 (2003) Vol 10, No 2 (2003) Vol 10 No 2 (2003) Vol 10, No 1 (2003) Vol 10 No 1 (2003) More Issue