cover
Contact Name
Rangga Saptya Mohamad Permana
Contact Email
rangga.saptya@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalprotvfunpad@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
ProTVF
ISSN : 2548687X     EISSN : 25490087     DOI : -
ProTVF is published twice a year (March and September) published by the Faculty of Communication Science, Universitas Padjadjaran. ProTVF provides open access to the public to read abstract and complete papers. ProTVF focuses on Television and Film studies.
Arjuna Subject : -
Articles 127 Documents
Pencarian informasi melalui televisi dan film oleh tunarungu di Sumedang Azmah Tafwidli Rahmi; Santi Susanti; Herlina Agustin
ProTVF Vol 5, No 1 (2021): March 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v5i1.30283

Abstract

Setiap warga negara berhak mendapatkan informasi dan akses informasi termasuk disabilitas tunarungu, sebagaimana dijamin pasal 18 F UUD 1945, yang menyatakan bahwa setiap orang berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi. Informasi dapat diperoleh dari beragam sumber, termasuk televisi dan film. Bagi disabilitas tunarungu, keterbatasan yang mereka miliki berpengaruh terhadap akses informasi di televisi dan film. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan motif yang mendorong anggota Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kabupaten Sumedang membutuhkan informasi dari televisi dan film, serta upaya yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan informasi tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi serta dokumen yang relevan dengan penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan metode analisis data interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan informasi melalui televisi dan film pada disabilitas tunarungu di Gerkatin Sumedang digerakkan oleh motivasi internal dan eksternal berdasarkan sepuluh faktor kebutuhan berbeda pada setiap individu, antara lain kebutuhan akan hiburan, informasi dan pekerjaan. Film komedi dan aksi lebih mudah dipahami informasinya, karena penyampaiannya lebih menarik dan tidak berbelit. Pemenuhan kebutuhan informasi melalui film dilakukan dengan menonton di bioskop dan Youtube. Informasi di televisi dan film masih sulit diakses, karena kurangnya ketersediaan juru Bahasa isyarat serta teks di dalam setiap tayangan televisi dan film di bioskop. Oleh karena itu, teman tuli di Gerkatin Kabupaten Sumedang berharap adanya teks film dan Juru Bahasa Isyarat dalam setiap tayangan film, agar film Indonesia menjadi ramah bagi disabilitas turarungu.
Kreativitas musik film Sang Pencerah Ardy Aprilian Anwar; Arief Budiman; Zaini Ramdhan
ProTVF Vol 4, No 2 (2020): September 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v4i1.25445

Abstract

Kualitas musik film layar lebar dan layar kaca di Indonesia telah memperdengarkan peningkatan baik walaupun masih banyak ditemukan penggunaan musik OST yang dominan sebagai musik filmnya. Dari fenomena tersebut, peneliti melakukan penelitian pada musik film Sang Pencerah yang digarap oleh Tya Subiakto pada tahun 2010 untuk melihat sudut pandang berpikir kreatifnya. Musik film ini juga mendapatkan penghargaan pada Festival Film Bandung 2011. Berangkat dari dorongan tersebut, kemudian peneliti merumuskan pertanyaan penelitian tentang bagaimana kreativitas musik film Sang Pencerah hingga bagaimana masa lalu Tya Subiakto (komposer) mempengaruhi kreativitas musik film Sang Pencerah. Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian dengan metode kualitatif interpretatif, melihat unsur-unsur nilai budaya dalam wujud musikal untuk dijabarkan secara tekstual dan ditemukan makna-makna objektif berupa hubungan musik dengan konten cerita dalam adegan-adegan film Sang Pencerah. Metode tersebut dilakukan dengan pemetaan sktruktur hubungan antara musik film Sang Pencerah dengan jalan cerita lalu membedahnya dengan literatur atau teori komposisi musik dan teori afektif musik. Setelah itu, untuk memperkuat hasil penafsiran interpretatif maka dilakukan wawancara dengan Tya Subiakto sebagai komposer utama musik film Sang Pencerah serta narasumber primer terkait untuk diolah dan dijadikan landasan interpretasi atau data pendukung. Setelah menemukan struktur musik dari aspek komposisi dan unsur afektif dan diperkuat dengan data wawancara, maka peneliti merumuskan hasil penelitian berupa hubungan cerita dengan kreativitas musik film pada film Sang Pencerah. Untuk memperkuat jawaban penelitian, peneliti membuat analisis perbandingan pada karya lain yang dibuat Tya Subiakto, sehingga menemukan karakteristik dan dasar-dasar berpikir dari bentuk musik pada proses merancang musik film Sang Pencerah.
Historiografi drone: Dari militer hingga sinema Firdaus Noor
ProTVF Vol 4, No 2 (2020): September 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v4i2.26722

Abstract

Saat ini drone berkembang menjadi lebih kecil dan lebih cepat, sama dengan kecepatan rana pada kamera. Di dalamnya ada teknologi untuk terbang, kendali nirkabel, kemampuan mengambil gambar, dan kecanggihan warna. Drone mampu terbang rendah tanpa ada gaya tarik ke bawah seperti yang terdapat pada helikopter, drone juga dapat terbang mengitari objek, memiliki kemampuan bermanuver serta dapat mengambil gambar lurus ke depan maupun lurus ke bawah. Pandangan yang dihasilkan drone awalnya merujuk pada pengintaian secara diam-diam yang dikonstruksi saat penggunaan drone dipakai oleh militer yakni untuk mengamati dari atas. Artikel ini berisi penjelajahan tentang perjalanan historis kendaraan udara nirawak yang bisa terbang secara otomatis dengan sistem pengendali di dalamnya, atau populer disebut drone. Tujuan dari artikel ini yaitu untuk mengetahui sejumlah peristiwa penting dalam evolusi kendaraan udara tanpa awak (drone) serta menjelaskan dan memetakan evolusi perkembangan drone dari waktu ke waktu. Kajian ini dilakukan melalui pendekatan sinkronik dan diakronik model Saussure yakni melihat kejadian-kejadian masa lalu yang diurutkan secara kronologis. Dalam penelusuran terkait historiografi drone, penulis membuka peluang untuk melakukan diskusi lebih lanjut melalui simpulan bahwa drone mengajak kita berpikir lebih jauh dari hanya sekadar representasi tapi juga dapat memberikan gambar hidup tentang realitas yang tidak bisa dijangkau oleh pandangan manusia pada umumnya.
Iklan mi instan di televisi pada saat pandemi Covid-19 Aceng Abdullah; Rangga Saptya Mohamad Permana
ProTVF Vol 5, No 1 (2021): March 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v5i1.31326

Abstract

Covid-19 memasuki Indonesia sejak trimester pertama 2020 dan pemerintah menganjurkan masyarakat “di rumah saja” untuk meminimalisir penyebarannya. Salah satu kegiatan yang banyak dilakukan masyarakat ketika “di rumah saja” adalah menonton televisi. Salah satu produk yang sering diiklankan melalui televisi adalah mi instan. Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Untuk mengetahui makna denotasi iklan mi instan di televisi pada saat pandemi Covid-19; (2) Untuk mengetahui makna konotasi iklan mi instan pada saat pandemi Covid-19; dan (3) Untuk mengetahui mitos pada tayangan iklan mi instan pada saat pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik analisis semiotika Roland Barthes. Tiga merk mi instan yang iklan televisinya diteliti adalah iklan-iklan Indomie (tiga iklan), Mie Sedaap (tiga iklan), dan Mie Sukses’s (satu iklan). Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan teknik pendokumentasian pada bulan April 2020. Hasil menunjukkan bahwa secara denotatif, iklan Indomie mengandalkan visualisasi sederhana, hemat kata dan tidak terlalu bombastis, sedangkan iklan Mie Sedaap dan Mie Sukses’s mendandalkan deskripsi informasi produk dengan berbagai narasi yang panjang. Secara konotatif, iklan Indomie sesuai dengan kondisi ketika pandemi dengan fokus pada jargon “di rumah saja”, sedangkan iklan Mie Sedaap dan Mie Sukses’s sebaliknya, menyiratkan bahwa meskipun sedang dalam kondisi pandemi, aktivitas outdoor masih bisa dilakukan dan pandemi Covid-19 tidak perlu ditakuti. Sedangkan dalam tataran mitos, iklan Indomie menggambarkan bahwa orang dengan tingkat ekonomi atas takut dengan Covid-19, iklan Mie Sedaap menggambarkan Korea Selatan berhasil mengatasi pandemi Covid-19, dan iklan Mie Sukses’s menunjukkan bahwa orang dengan tingkat ekonomi bawah tidak akan terjangkit Covid-19.
Proses corporate rebranding TVRI Jawa Barat menuju world class broadcaster Herke Regitadika; Hanny Hafiar; Anwar Sani
ProTVF Vol 4, No 2 (2020): September 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v4i2.27631

Abstract

Rebranding merupakan hal yang tidak mudah karena melakukan perubahan posisi dan kesan masyarakat terhadap perusahaan memerlukan proses yang tepat. TVRI stasiun Jawa Barat memiliki strategi untuk menjadi world class broadcaster semenjak tahun 2017 namun belum tercapai. Strategi tersebut kembali diupayakan dengan melakukan berbagai cara agar membangun brand perusahaan salah satunya dengan melalui rebranding. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses corporate rebanding dalam ketujuh tahapan yaitu triggering, analyzing and decision making, planning, preparing, launching, evaluating dan contiuning. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jenis data kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain wawancara mendalam dengan ketujuh informan, dokumentasi dan studi pustaka. Teknik validitas data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa rebranding ini diawali dengan mengidentifikasi masalah pada corporate strategy, competitive position dan external environment. Kemudian, dilakukan analyzing and decision making seperti market analysis, competitive analysis, competitor analysis dan analisis internal dengan analisis SWOT. Setelah membuat keputusan, keputusan tersebut ditindaklanjuti dengan planning seperti repositioning, renaming dan redesigning. Hasil perencanaan tersebut dilakukan persiapan dan pre-launching. Selanjutnya, launching dilakukan pada internal stakeholders dan external stakeholders. Setelah publikasi, hal yang dilakukan adalah mengevaluasi pelaksanaan pada awareness among stakeholders, customer surveys dan corporate image survey. Fase terakhir pada proses corporate rebranding ini yaitu mempertimbangkan keberlangsungan brand baru pada keseluruhan program dengan melihat pada for customers, for personnel dan management personnel. Simpulan dari penelitian ini adalah proses corporate rebranding yang dilaksanakan oleh TVRI stasiun Jawa Barat sudah baik, namun belum maksimal pada beberapa tahap seperti triggering, planning, preparing, evaluating dan continuing.
Representasi preman dalam sinetron Preman Pensiun Hanifa Yusliha Rohmah; Dian Wardiana Sjuchro; Aceng Abdullah
ProTVF Vol 4, No 2 (2020): September 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v4i2.22880

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah, dalam sinetron Preman Pensiun makna preman dibangun secara berbeda. Preman dikenal sebagai sosok yang kriminal dan kejam, namun sinetron Preman Pensiun mengkonstruksikan preman dari sisi dan karakter yang lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana preman direpresentasikan dalam tiga level yaitu level realitas, level representasi, dan level ideologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika yang memusatkan pehatian terhadap tanda. Menurut Fiske, semiotika adalah studi tentang pertanda, yaitu bagaimana makna dibangun dalam “teks” media. Hasil dari penelitian ini yaitu, dalam level realitas penampilan, beberapa preman direpresentasikan dengan pakaian yang urakan, sedangkan Kang Bahar justru terlihat rapih dan casual. Sedangkan dari segi lingkungan dan cara berbicara, kalimat-kalimat ancaman dari seorang preman, digambarkan dalam sinetron ini. Namun, sosok aparat penegak hukum tidak muncul sama sekali di dalam sinetron Preman Pensiun. Lalu, sama seperti kelompok lainnya, ada suatu gesture yang disepakati oleh kelompok Preman dalam sinetron Preman Pensiun. Yang kedua dalam level representasi, alasan seorang preman yang ingin pensiun ditampilkan melalui dialog yang Bahar sampaikan kepada Muslihat. Dalam kode kamera, Pengambilan gambar sebatas sampai medium close up. Dilihat dari segi sound, ciri khas angklung dan suling dalam sinetron ini sangat memorable, dan juga cerita serta pengkarakteran setiap tokoh yang kuat dan bermakna. Sedangkan dalam level ideologi, ada dua ideologi yang diangkat dalam sinetron ini, yaitu ideologi premanisme dan ideologi feminisme.
Menggali Minangkabau dalam film dengan mise-en-scene Herry Nur Hidayat; Bani Sudardi; Sahid Teguh Widodo; Sri Kusumo Habsari
ProTVF Vol 5, No 1 (2021): March 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v5i1.29433

Abstract

Sejarah perkembangan industri perfilman Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari muatan lokalitas sebagai sumber penciptaan. Sebagai salah satu etnik di Indonesia, Minangkabau diketahui telah menjadi sumber penciptaan film, bahkan sejak awal pertumbuhan industri film di Indonesia. Oleh karena beragamnya unsur keminangkabauan, tidak mudah menampilkan unsur-unsur keminangkabauan yang telah dikenal khalayak penonton. Akan tetapi, kajian sebelumnya terhadap muatan keminangkabauan dalam film seolah mengabaikan citraan visual (visual image) ini. Melalui pendekatan mise-en-scene, artikel ini menguraikan unsur-unsur keminangkabauan yang ditampilkan dalam film, baik visual maupun unsur naratifnya. Di samping itu, artikel ini juga mencoba menjawab beragam kritik etnisitas atas film bermuatan Minangkabau. Analisis difokuskan pada citraan visual unsur keminangkabauan yang berhubungan dengan tokoh dan latar sebagai pembangun aspek naratif dalam tujuh film terpilih. Hasil analisis menunjukkan bahwa citraan visual ikon-ikon Minangkabau tampak mendominasi unsur keminangkabauan dalam film, yaitu rumah gadang, rangkiang, dan pakaian. Ikon visual tersebut muncul dalam bentuk desain pelataran dan propertinya. Beberapa adegan yang menampilkan rumah gadang menunjukkan pula peran dan kedudukan mamak rumah dalam sistem kekerabatan serta representasi demokrasi di Minangkabau. Tampaknya, aspek visual unsur keminangkabauan tersebut ditampilkan untuk memperkuat latar tempat dan sosial sebagai sarana penceritaan. Di samping itu, dapat pula disampaikan bahwa tampilnya unsur keminangkabauan tidak secara mutlak menggambarkan Minangkabau.
Program live update pemberitaan risiko Covid-19 di televisi nasional Indonesia Evi Rosfiantika; Rangga Saptya Mohamad Permana; Jimi Narotama Mahameruaji
ProTVF Vol 4, No 2 (2020): September 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v4i2.28758

Abstract

Penyebaran virus SARSCOV2 terjadi di seluruh dunia dalam waktu yang sangat cepat. Banyak warga dunia merasa khawatir dan panik terinfeksi virus salah satunya diakibatkan pemberitaan yang salah. Warga membutuhkan informasi yang akurat dan terpercaya terutama yang dikeluarkan oleh pemerintah.  Setiap negara melakukan pengendalian informasi, termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 7 tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Gugus Tugas ini juga secara rutin menyajikan informasi dengan cara melakukan live update di stasiun televisi nasional setiap harinya. Tujuan penelitian dalam artikel ini adalah untuk mengetahui isi berita risiko penyebaran virus SARSCOV2 dalam upaya mengurangi risiko pandemi Covid-19 pada live update Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di televisi nasional dalam konteks komunikasi risiko. Penulis memakai metode studi kasus dengan teknik analisis teks guna menganalisis data-data yang telah dihimpun melalui observasi siaran televisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isi berita terkait update Covid-19 adalah yang paling banyak disampaikan (11 kali). Mayoritas makna isi berita yang dari siaran program live update televisi tersebut bersifat “menginformasikan” dan “mengingatkan”, yang berarti dalam tahap-tahap komunikasi risiko O’Neill, informasi dan pesan-pesan yang diberikan dalam siaran program televisi live update Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 ini sudah melewati tahapan sebelum bencana dan tahapan peringatan, serta berada dalam bilik non-partisipasi, manipulasi/terapi, dan informasi dalam konsep “Tangga Arnstein”.
Analisis resepsi audiens remaja terhadap romantisme film Dilan 1990 Rivga Agusta
ProTVF Vol 5, No 1 (2021): March 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v5i1.28808

Abstract

Film Dilan 1990 dengan segmentasi remaja ini menimbulkan euforia di kalangan remaja Indonesia. Tema romantisme film Dilan 1990 yang mengangkat tentang kehidupan romantis remaja yang hidup di tahun 1990 mendapat respons yang beranekaragam dari penonton remaja di Indonesia. Di antaranya banyak yang menggunakan potongan adegan dalam film tersebut untuk dijadikan meme di media sosial dan bahkan menggunakan potongan dialog tokoh di dalamnya untuk berkomunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resepsi audiens remaja yang hidup di era milenial sekarang ini terhadap romantisme remaja pada tahun 1990 yang diusung pada film Dilan 1990. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis resepsi yang dilakukan kepada lima orang informan remaja. Hasil penelitian menunjukkan terdapat beberapa pemaknaan audiens remaja terhadap romantisisme dalam film Dilan 1990.Hal-hal yang dimaknai sebagai romantisisme yang ada dalam film Dilan 1990 antara lain yaitu ‘Bandung Sebagai Kota Romantis’, ‘Tangisan Tokoh Sebagai Wujud Kemurungan’, ‘Rindu itu Berat’, ‘Rasa Suka yang Meluap’, dan ‘Romantisme Unik dalam Kata-kata Tokoh’. Posisi pembacaan audiens remaja yang dominan adalah dominant-hegemonic position dan negotiated position. Pemaknaan romantisme oleh audiens remaja berdasar kedua posisi tersebut dipengaruhi faktor sosiologis dari setiap informan yang memiliki latar belakang era yang cukup berbeda dengan tema yang diangkat pada film Dilan 1990.
Representasi penyandang disabilitas pada film “Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta” Ivany Hanifa Rahmi; Ilham Gemiharto; Putri Limilia
ProTVF Vol 5, No 1 (2021): March 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v5i1.29673

Abstract

Film ‘Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta’ merupakan film Indonesia pertama yang diputar dalam ‘Sundance Film Festival’. Berlatar belakang sebuah sekolah netra, film ini mengangkat isu disabilitas yang saat ini di seluruh dunia masih dihadapkan pada isu under representation dan miss representation. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan representasi penyandang disabilitas pada film tersebut menggunakan metode analisis isi dengan menguji konten yang terdapat pada diegesis film terhadap prinsip-prinsip penggambaran penyandang disabilitas pada ‘Disabling Imagery and The Media’ oleh Collin Barnes, yaitu: ‘bahasa dan terminologi disabilitas’, ‘cara penggambaran disabilitas’, dan ‘penggambaran penyandang disabilitas pada iklan’. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Penggunaan bahasa dan istilah yang dalam film ini telah mencerminkan kebudayaan masyarakat dalam konteks sosial secara tepat tanpa melakukan labelling; (2) Penyandang disabilitas dalam film ini telah digambarkan secara akurat dan ‘multifaceted’ menggunakan progressive framing. Terdapat tiga stereotip penyandang disabilitas di media yang digambarkan pada film ini yaitu; the disabled as normal, the disabled as their own worst enemy, dan the disabled as atmospheric or curio. Dalam tahap pembuatan media, komunitas disabilitas telah dilibatkan tetapi dalam pemilihan peran masih terjadi tradisi mixed bag’ dan; (3) Dalam konteks periklanan, film ini telah menggunakan penyandang disabilitas pada product placement dan brand integration dengan menggambarkan keterpaksaan penyandang disabilitas dalam menggunakan alat bantu, membantu komunitas disabilitas, dan secara jelas mencantumkan keterlibatan abled bodied dalam pembuatan konten.

Page 7 of 13 | Total Record : 127