cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
konversi@ulm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Konversi
ISSN : 23023686     EISSN : 25413481     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
PENGARUH MASSA MAGNESIUM SILIKAT (MAGNESOL) DAN WAKTU OPERASI PADA PROSES PEMURNIAN BIODIESEL Bagas A. Jatyaraga; Leonardo K. Atmadja; Dwi A. Anggorowati; Harimbi Setyawati
Konversi Vol 4, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v4i1.258

Abstract

Abstrak-Proses pemurnian biodiesel menggunakan metode pencucian kering telah berhasil dilakukan. Biodiesel yang digunakan berasal dari minyak jelantah. Secara keseluruhan biodiesel yang dimurnikan dengan metode pencucian kering mengalami peningkatan kualitas. Waktu reaksi dan jumlah magnesol yang digunakan sangat mempengaruhi proses pemurnian biodiesel. Kondisi terbaik didapatkan pada waktu reaksi 60 menit dan jumlah magnesol 2 %w/w. Densitas, viskositas,titik nyala, angka setana, gliserol bebas dan gliserol total mengalami peningkatan kualitas masing-masing sebesar 3%, 34%, 7%, 22%, 48% dan 38%. Kata Kunci: biodiesel, pencucian kering, magnesol Abstract-Biodiesel purification process using a dry cleaning method has been successfully performed. Biodiesel is derived from used cooking oil. Overall purified biodiesel dry washing method to increase the quality. Reaction time and amount used magnesol greatly affect biodiesel purification process. The best conditions obtained at reaction time of 60 minutes and the amount of magnesol 2% w / w. Density, viscosity, flash point, cetane number, free glycerol and total glycerol increased the quality are  3%, 34%, 7%, 22%, 48% and 38%, respectively. Keyword: biodiesel, dry cleaning, magnesol
PEMBUATAN MEMBRAN ULTRAFILTRASI DARI POLIMER SELULOSA ASETAT DENGAN METODE INVERSI FASA Agus Mirwan; Vera Indriyani; Yunita Novianty
Konversi Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v6i1.4778

Abstract

Abstrak- Pengolahan air bersih dengan teknologi membran merupakan proses pengolahan air dengan kualitas yang sangat baik dan sesuai untuk pengolahan air minum di negara-negara berkembang karena membran memiliki banyak sekali keunggulan. Salah satu jenis operasi pemisahan membran adalah dengan membran ultrafiltrasi. Ultrafiltrasi merupakan proses penyaringan partikel-partikel dalam rentang ukuran koloid, yaitu larutan dan molekul besar ditahan dipermukaan membran dan zat terlarut dengan ukuran sangat kecil dapat melewati membran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan komposisi % berat dimetilformamida pada pembuatan membran ultrafiltrasi yang terbaik. Membran ultrafiltrasi ini dibuat dengan memvariasikan konsentrasi aditif dimetilformamida yang berfungsi untuk penentuan ukuran pori membran dan konsentrasi aseton. Pencampuran bahan dilakukan dengan pengadukan selama ± 6 jam, hasil cetakan film polimer dikoagulasi selama 1 jam dalam air es (± 4°C) kemudian dicuci dengan air mengalir dan disimpan dalam wadah yang diberi formalin. Kemudian dilakukan pengujian pada membran tersebut menggunakan air gambut dimana permeat yang dihasilkan di ukur volumenya setiap selang waktu 5 menit untuk menentukan fluks membrannya. Kemudian dilakukan analisa terhadap konsentrasi permeat  untuk menentukan koefisien rejeksi, di mana rejeksi yang diharapkan adalah > 90%. Berdasarkan hasil penelitian, membran ultrafiltrasi yang terbaik adalah membran dengan komposisi % berat dimetilformamida 20; 24 dan 28 dimana koefisien rejeksi rata-rata yang diperoleh masing-masing adalah 98,15; 92,80 dan 95,41%. Kata kunci: dimetilformamida, koefisien rejeksi, fluks Abstract-Clean water treatment with membrane technology is a water treatment process with very good quality and suitable for drinking water treatment in developing countries because the membrane has a lot of advantages. One type of membrane separation operation is with ultrafiltration membranes. Ultrafiltration is a process of filtering particles in the size range of colloids, namely liquid while large molecules detained on the surface of the membrane and the solute with very small size can pass through the membrane. The purpose of this study was to determine the best composition of %wt of dimethylformamide in the manufacture of ultrafiltration membranes. Ultrafiltration membrane is made by varying the concentration of the additive of  dimethylformamide which serves for the determination of membrane pore size and the concentration of acetone. Mixing materials done by stirring for ± 6 hours, polymer film printouts is coagulated  for 1 hour in ice water (± 4 ° C) and then washed with running water and stored in a container containing formalin. Then conducted testing on the membrane using peat water where permeate that generated is measured the volume of each interval of 5 minutes to determine the membrane flux. Then analyzing the concentration of permeate to determine the coefficient of rejection, where the expected rejection is> 90%. Based on the research results, the best ultrafiltration membrane was membrane with  composition wt% of dimethylformamide of 20; 24 and 28, where rejection coefficient average respectively was 98.15; 92.80 and 95.41%. Keywords: dimethylformamide, rejection coefficient, flux
ANALYSIS OF ENCAPSULATED YEAST IN COMPUTATIONAL FLUID DYNAMICS APPROACH Riani Ayu Lestari; Rianti Indah Lestari
Konversi Vol 8, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v8i2.7203

Abstract

Abstract - Computational fluid dynamics of encapsulated yeast has been developed to determine characterization of encapsulated yeast applied for ethanol production from lignocellulose waste. Encapsulated yeast as biologically activate materials enclosed in a semipermeable membrane to protect cell from inhibitor attack. Encapsulated yeast system relates to mass transfer of substrate (glucose) into capsule and out of capsule and fermentation reaction. Modelling of mass transfer was developed to understand capsule performance consisting of 3 parts, cell aggregate, liquid space and thin membrane. Finite element method has been applied to solve partial differential equation of glucose concentration profile against x, y position and t -time in Comsol multhiphysics 3.5a. Capsule geometry was showed in half part capsule, 2D and axis symmetries. Trend line of glucose distribution was effected by thickness membrane that 0.1 mm controlling in mass transfer and cell aggregate of 50%-v of membrane.Keywords: computational fluid dynamics, encapsulated yeast system, glucose mass transfer
PEMANFAATAN ARANG AKTIF DARI SERBUK GERGAJI KAYU ULIN UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS MINYAK GORENG BEKAS Hesti Wijayanti; Harmin Nora; Rajihah Amelia
Konversi Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v1i1.106

Abstract

Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan arang aktif dari serbuk gergaji kayu ulin dalam proses adsorpsi minyak goreng bekas. Tujuan lainnya adalah untuk mengetahui waktu adsorpsi yang paling baik diantara range waktu yang digunakan untuk proses adsorpsi minyak goreng bekas dengan menggunakan arang aktif dari serbuk gergaji kayu ulin. Arang aktif dibuat dengan membakar serbuk gergaji kayu dan diaktivasi menggunakan ZnCl2 0,1 N. Arang aktif yang diperoleh digunakan untuk mengadsorpsi minyak goreng bekas dengan variasi jumlah arang sebanyak 5, 10 dan 15 gram. Selanjutnya minyak goreng bekas dan arang aktif yang sudah dicampurkan dalam Erlenmeyer tersebut diadsorpsi dengan variasi waktu 40, 60 dan 80 menit menggunakan shaker. Setelah disaring, minyak goreng bekas tersebut dianalisa angka asam, bilangan peroksida dan bilangan penyabunannya.Hasil penelitian yang didapatkan yang mememenuhi standar SNI 01- 3741-2002 dan hasil yang paling bagus adalah dengan berat arang aktif 15 gram dan dengan lama waktu pengadukan selama 80 menit. Dengan nilai angka asam sebesar 0,224 mgKOH/gram, bilangan peroksida sebesar 10 mg eq/gram, sedangkan untuk bilangan penyabunan yang memenuhi standar adalah dengan arang aktif 10 gram dan lama waktu pengadukan 40 menit yaitu sebesar 200,09 mg KOH/gram. Keywords : adsorpsi, minyak goreng bekas, arang aktif Abstract - This research conducted to investigate the ability of activated carbon from sawdust ulin wood for waste cooking oil adsorption and to get the best adsorption time from the used time range in this research. Activated carbon was gotten by carbonizing sawdust before activated it with 0.1 N ZnCl2. This activated carbon was used in adsorption waste cooking oil with weight variation of 5,10 and 15 gram that put into shaker for  40, 60 and 80 minute adsorption. After being filtered, this proceeded waste cooking oil would be analyzed in order to measure acid number, peroxide number and saponification number.As the result, the best dose for adsorption regarding SNI 01- 3741-2002 standard was 15 gram activated carbon in 80 minute adsorption which gave acid number was 0,224 mgKOH/gram, peroxide number was 10 mg eq/gram while the best dose to get saponification number that meet SNI 01- 3741-2002 standard was 10 gram in 40 minute adsorption which gave 200,09 mg KOH/gram. Keywords: adsorption, waste cooking oil, activated carbon
PENGARUH WAKTU HIDROLISIS DAN KONSENTRASI KATALISATOR ASAM SULFAT TERHADAP SINTESIS FURFURAL DARI JERAMI PADI Primata Mardina; Hendry Agusta Prathama; Deka Mardiana Hayati
Konversi Vol 3, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v3i2.158

Abstract

Abstrak- Jerami padi merupakan salah satu limbah yang mengandung hemiselulosa yang salah satu komponen utamanya adalah pentosan. Pentosan dapat diubah menjadi furfural dengan suatu reaksi hidrolisis berkatalis asam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu reaksi hidrolisis dan konsentrasi katalisator H2SO4 terhadap yield furfural dari jerami padi. Sintesis furfural dari jerami padi dilakukan dengan cara menghaluskan jerami padi, kemudian menghidrolisisnya dalam larutan asam sulfat dengan konsentrasi yang berbeda (1%, 3%, dan 5% v/v) dan dengan variasi waktu 1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam, dan 5 jam. Cairan hasil hidrolisis didistilasi untuk memisahkan furfural dari larutan asam sulfat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yield furfural yang diperoleh dari hidrolisis jerami padi berbanding terbalik dengan konsentrasi katalisator asam sulfat dan waktu hidrolisis. Yield furfural tertinggi diperoleh pada konsentrasi katalisator asam sulfat 1% dan waktu hidrolisis 1 jam, yaitu 5,441 %. Kata kunci: jerami padi, hidrolisis, hemiselulosa, pentosa, furfural Abstract-Rice straws are one of the hemicellulose-contained wastes, which one of its main components is pentosan. Pentosan can be reacted into furfural with acid catalytic hydrolysis reaction. This research is intended to find out the effect of hydrolysis durations and sulfuric acid (H2SO4) catalyst concentrations towards yield of furfural from rice straws. The synthesis of furfural from rice straws is conducted by refined the rice straws, then hydrolyze it with different concentrations of sulfuric acid solution (1%, 3%, and 5% v/v) and with different durations of hydrolysis reaction (1 hour, 2 hours, 3 hours, 4 hours, dan 5 hours). This hydrolisis reaction produced liquid, which are distilled to separate furfural from sulfuric acid solution. The results of this research show the yield of furfural from rice straws hydrolysis is inversely proportional to sulfuric acid catalyst concentration and hydrolysis duration. The best yield of furfural was 5,441%, which obtained with 1% sulfuric acid catalyst concentration and 1 hour hydrolysis duration.Keywords: rice straws, hydrolysis, hemicellulose, pentosa, furfural
EVALUASI KINERJA TURBINE CONDENSER E-2302 SEBELUM DAN SESUDAH DILAKSANAKAN TURN AROUND 2016 Herdyana Yanunda Putri; Putri Adha Hidayanti; Vera Mardiana Margareta Pasaribu
Konversi Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v6i1.3010

Abstract

Abstrak- pt. kaltim Parna Industri (KPI) merupakan pabrik ammonia dengan kapasitas 1.500 MPTD. Kemurnian produk yang dihasilkan sebesar 99,95% berat. Proses yang digunakan pada PT. KPI adalah Haldor Topsoe Process. Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi ammonia adalah gas alam (sebagai sumber H2) dan udara (sebagai sumber N2). PT. Kaltim Parna Industri memiliki dua unit utama yaitu unit proses produksi dan utilitas. Dalam unit proses produksi terdapat beberapa unit utama yaitu unit desulphurizer, reforming system terdiri dari primary dan secondary reformer, unit CO Converter yang terdiri dari High & Low Temperature CO Converter (HTS & LTS), unit CO2, unit methanator, dan ammonia converter. Pada unit utilitas memiliki unit-unit utama yaitu unit sea water intake, unit desalinasi, demineralisasi, daerator, Package Boiler, Water Heat Boiler, sea water cooling tower, waste water treatment system, klorinasi, STG dan emergency diesel denerator, N2 generator, instrument air, dan storage tank. Turbine Condenser E-2302 mempunyai fungsi utama untuk mengkondensasikan steam low untuk memanfaatkan panas laten yang selanjutnya digunakan untuk menggerakan turbin steam-pump (TS/P-2301A/B). Koefisien transfer panas overall turbin kondensor E-2302 sebelum dilakukan Turn Around (TA) memiliki efisiensi sebesar 88,964% dan setelah dilaksakannya Turn Around (TA) sebesar 94,928% dengan teknik perhitungan koefsien tranfer panas overall menggunakan data panas dibanding dengan data luas permukangan dan LMTD (Log Mean Temperature Difference). Kata kunci : Amoniak, Turbine Condenser E-2302, Evaluasi Kinerja Abstract- PT. Kaltim Parna Industri (KPI) is an ammonia plant with a capacity of 1,500 MPTD. The purity of the products produced  99.95% by weight. The process that is used in PT. KPI is Haldor Topsoe Process. The raw material used to produce ammonia is natural gas (as a source of H2) and air (as a source of N2). PT. Kaltim Parna Industri has two main units of production processes and utilities. In the production process of the unit there are several major units, unit desulphurizer, reforming system consists of primary and secondary reformer, CO Converter unit consisting of High and Low Temperature CO Converter (HTS and LTS), CO2 units, unit methanator, and ammonia converter. In the unit utility has main units, there are units of sea water intake, units of desalination, demineralization, daerator, Package Boilers, Water Heat Boiler, sea water cooling towers, waste water treatment system, chlorination, STG and emergency diesel denerator, N2 generator, instrument water, and storage tanks. Turbine Condenser E-2302 has the main function to condense steam low to utilize the latent heat which is then used to drive a steam turbine-pump (TS / P-2301A / B). Overall heat transfer coefficient of turbine condenser E-2302 prior to Turn Around (TA) has an efficiency of 88.964% and afterTurn Around (TA) of 94 928% with heat transfer coefficient calculation technique overalls using calor compared with area and LMTD (Log Mean Temperature Difference). Keywords: Ammonia, Turbine Condenser E-2302, Performance Evaluation
PENGARUH PENGGUNAAN NANAS DAN UMBI POHON GADUNG SEBAGAI KOAGULAN TERHADAP KUALITAS BAHAN OLAHAN KARET RAKYAT Praharnata Praharnata; Joko Sulistyo; Hesti Wijayanti
Konversi Vol 5, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v5i1.4776

Abstract

Abstrak- Prakoagulasi lateks merupakan penggumpalan spontan lateks yang biasanya disebabkan oleh pengaruh asam, enzim dan bakteri. Bahan yang digunakan untuk mempercepat prakoagulasi sering dikenal sebagai koagulan. Beberapa penduduk di Kalimantan Selatan menggunakan beberapa koagulan alami yang tidak banyak dikenal seperti umbi akar pohon gadung dan tongkol nanas, sehingga dalam penelitian ini kami ingin mengkaji lebih dalam mengenai penggunaan koagulan alami ini, mengamati dan membandingkan kualitas karet yang dihasilkan. Percobaan dilakukan dengan melakukan pengamatan pada sampel lateks yang telah dicampurkan dengan koagulan yang telah divariasi, penelitian ini mencoba meniru cara pengolahan karet remah kering, sehigga sampel karet yang dibuat memiliki sifat teknis yang dapat diuji. Adapun uji yang dilakukan dalam penelitian ini antara lain; uji prakoagulasi dengan koagulan yang bervariasi, uji prakoagulasi dengan dosis koagulan yang divariasikan, uji prakoagulasi lateks dengan air sisa prakoagulasi awal dan uji sifat teknis karet. Dari hasil analisa sampel gadung diperoleh kadar nitrogen karet sebesar 0,22 %, Po 31, dan PRI 76, pada sampel nanas diperoleh kadar nitrogen sebesar 0,24%, Po 21,5 dan PRI 56. Kata kunci: Prakoagulasi, lateks, koagulan, enzim, bakteri Abstract- Latex precoagulation is a spontaneous clot of latex that is usually caused by the effects of acids, enzymes and bacteria. Materials used to make precoagulation faster known as a coagulant. Some people in South Kalimantan using some natural coagulant that is not widely known as a gadung tree root and pineapple cob, so in this study we wanted to examine more deeply about the use of this natural coagulant, observe and compare the quality of rubber produced. The experiments were performed by making observations on a sample of latex was mixed with a coagulant which has been varied, this study tried to imitate the dry crumb rubber processing, so the rubber samples that created has technical properties that can be tested. The tests performed in this study were precoagulation test with varying coagulant, precoagulation test with coagulant dose varied, latex precoagulation test with waste water of early precoagulation and test of the technical properties of the rubber. From the analysis of gadung sample  obtained rubber nitrogen content of 0.22 %, Po 31, and the PRI 76, the pineapple samples obtained rubber nitrogen content of 0.24 %, 21.5 Po and the PRI 56. Keywords: Precoagulation, latex , coagulants , enzymes , bacteria  
PENGARUH PROSES DELIGNIFIKASI PADA PRODUKSI GLUKOSA DARI TONGKOL JAGUNG DENGAN HIDROLISIS ASAM ENCER Primata Mardina; Adelina I. Talalangi; Jhon F. M. Sitinjak; Andri Nugroho; M. Reza Fahrizal
Konversi Vol 2, No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v2i2.78

Abstract

Hidrolisis asam encer dari tongkol jagung untuk produksi glukosa mengalami hambatan karena adanya lignin. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh dari proses perusakan lignin dengan proses menggunakan hidrolisis basa Hidrolisis basa yang biasa disebut delignifikasi dilakukan pada suhu 55oC selama 4 jam dengan konsentrasi larutan basa, yaitu NaOH 5%, 10% dan 15% berat Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH yang optimal untuk pengurangan lignin adalah 15% berat dengan persentase pengurangan sebesar 89,3%. Tongkol jagung yang tidak dan telah didelignifikasi dengan NaOH kemudian dihidrolisis dengan menggunakan H2SO4 0,75% berat dengan waktu dan suhu yang berbeda dan dianalisis kadungan glukosanya. Glukosa yang dihasilkan dari partikel tongkol jagung yang didelignifikasi dengan NaOH 15% wt lebih besar daripada tongkol jagung yang tidak didelignifikasi untuk semua variasi waktu dan suhu. Hal ini menunjukkan proses delignifikasi untuk merusak struktur lignin akan meningkatkan reaktivitas dari katalis asam pada proses hidrolisis asam encer. Kata kunci: Tongkol jagung, lignin, delignifikasi, hidrolisis asam encer, glukosa. The dilute acid hydrolysis of corn cob for glucose production has faced barrier because of lignin. In this research, an effective lignin destruction process by alkali hydrolysis which affects glucose production from corn cob as lignocellulose biomass was investigated. Alkali hydrolysis called delignification was performed at 55oC for 4 hr with various NaOH concentrations: 5%, 10% and 15%-wt. It was found that optimal NaOH concentration for lignin reduction was 15%-wt and the percentage of reduction was 89.3%. The untreated and NaOH 15%-wt treated solid fraction were hydrolyzed by 0.75%-wt H2SO4 with various times and temperatures. The glucose content of liquid fraction from hydrolysis was analyzed. The result showed that the yield of glucose for NaOH 15% -wt treated corn cob was higher than that of untreated corn cob for various temperatures and operation times. It implied the destruction of lignin structure would enhance the reactivity of acid catalyst for diluted acid hydrolysis process. Keywords: Corn cob, lignin, delignification, acid dilute hydrolysis, and glucose
PRODUKSI BIOETANOL DARI ALKALI-PRETREATMENT JERAMI PADI DENGAN PROSES SIMULTANEOUS SACHARIFICATION AND FERMENTATION (SSF) Iryanti Fatyasari Nata; Jody Hartoto Prayogo; Toni Arianto
Konversi Vol 3, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v3i1.132

Abstract

Abstrak- Jerami padi merupakan limbah pertanian yang mengandung 39% selulosa dan 27,5% hemiselulosa, jika dihidrolisis jerami padi dapat dikonversi menjadi gula sederhana selanjutnya difermentasi menjadi bioetanol.  Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pretreatment jerami padi dan kondisi operasi (jumlah enzim selulase dan Saccharomyces cereviseae) dalam produksi bioetanol dengan proses Simultaneous Saccharification Fermentation (SSF). Proses delignifikasi dilakukan dengan cara merendam jerami padi yang sudah dihaluskan dengan 2% NaOH (w/v) pada suhu 85oC selama 1 jam. Jerami padi dikeringkan setelah pretreatmen yang sebelumnya dicuci sampai pH filtratnya netral. Selanjutnya jerami padi kering digunakan sebagai substrat dalam SSF dengan menggunakan enzim selulase (20, 30 dan 40 FPU) dan S. Cerevisiae ( 2, 4 dan 6 ose) selama 3 hari dalam acetate buffer pH 5 serta penentuan konsentrasi etanol menggunakan Gas Chromatography (GC). Dengan analisis Scanning Electrom Microscope (SEM) dan X-Ray Diffraction (XRD), struktur permukaan yang rapi dan diselimuti oleh lignin menjadi kasar dan pecah yang diiringi dengan peningkatan struktur kristal sebesar 33,24% dari jerami padi setelah pretreatment dengan NaOH. Kadar bioetanol yang dihasilkan untuk 20 FPU, 30 FPU dan 40 FPU dengan kandungan S.Cerevisiae 2 ose berturut-turut adalah 0,45%, 0,44% dan 0,43%.  Dari variasi jumlah S. Cerevisiae 2,4 dan 6 ose dengan enzim selulase 20 FPU menghasikan bioetanol sebesar 0,45%, 0,46% dan 1,07%.  Kadar bioetanol yang dihasilkan dengan substrat yang di pretreatment dapat meningkatkan konsentrasi bioetanol sebesar 82,2% pada kondisi SSF yang sama. Pretreatment terhadap substrat memberikan efek terhadap produk SSF karena dengan penghilangan lignin akan memaksimalkan kerja enzime selulase mengkonversi sellulosa menjadi glukosa.  Kata Kunci : Jerami padi, delignifikasi, bioetanol, SSFAbstract- Rice straw is an agricultural waste which contains 39% cellulose and 27.5% hemicelluloses. Rice straw can be converted into bio ethanol by Simultaneous Saccharification Fermentation (SSF) process.  The aims of this research are to investigate the influence of rice straw pretreatment and operation condition (number of cellulose enzyme and Saccharomyces cereviseae) for bioethanol production. The bioethanol conversion was devided by 2 steps, there were delignification and SSF. Delignification process was done by soak rice straw in NaOH 2% heated at temperature 85 oC for 1 hour then washed with water. The pretreatment rice straw was used as substrate in SSF. SSF was conducted in the presence of cellulase enzyme (20, 30, and 40 FPU) and Sacharomyces Cerevisiae (2,4 and 6 ose) for 3 days. The bioethanol concentration produced for 20 FPU, 30 FPU, and 40 FPU in 2 ose S.careviseae are 0,45%, 0,44%, and 0,43%  respectively. The addition number of Saccharomyces cereviseae was gave high concentration of bioethanol. The result shown that bioethanol concentration of 2 ose, 4 ose and 6 ose are 0,45%, 0,46% and 1,07%, respectively. In the same concentration of enzyme (20 FPU) which pretreatment and non pretretament substrate was increased of bioethanol concentration up to 82,2%. The pretretment process was broken the structure of lignin and made enzyme easy to attached cellulose and converted to glucose. Keywords : Rice straw, delignification, bioethanol, SSF
PENGARUH KONSENTRASI PELARUT HCl PADA EKTRAKSI PEKTIN DARI KULIT PISANG AMBON Fakhrizal Fakhrizal; Rizqi Fauzi; Yuli Ristianingsih
Konversi Vol 4, No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v4i2.264

Abstract

Abstrak- Pektin adalah komponen polisakarida kompleks yang terdapat pada dinding sel tanaman. Pektin sering dimanfaatkan pada industri proses pengolahan makanan, koagulan pada industri karet dan adsorben pada pengolahan air limbah. Kulit pisang merupakan salah satu sumber pektin yang sangat potensial karena dalam kulit pisang terkandung senyawa pektin. Proses ekstraksi asam digunakan untuk dekomposisi komponen pektin yang terkandung dalam kulit pisang. Penelitian ini menggunakan 50 gram kulit pisang yang direaksikan dengan HCl dalam sebuah reaktor tangki berpengaduk. Proses ekstraksi ini dilakukan pada suhu 800C selama 1,5 jam dengan memvariasikan konsentrasi pelarut HCl (0,25N; 0,3N dan 0,35N. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh konsentrasi pelarut HCl pada proses ekstraksi pektin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi pelarut HCl maka semakin tinggi yield pektin yang dihasilkan. Yield pektin maksimum yang diperoleh pada penelitian ini adalah 67,55%. Kadar metoksil dan galakturonat yang diperoleh pada penelitian ini adalah 4,34% dan 84,48%.  Kata Kunci : kulit pisang, pektin, ekstraksi, HCl Abstract- Pectin is a complex polysaccharides compound which is contained in plant cell walls. It is used in food manufacturing processes, coagulant for rubber industry and adsorbent for waste water treatment. Banana peel is one of the potential sources of pectin, because inside of banana peel contain pectin compound. Acid extraction process was used to decompose pectin compound which contained in banana peel. In this research, fifty grams of banana peel was reacted with hydrochloric acid using stirred tank reactor. This process was operated at temperature 80 0C for 1.5 hour in various solvent concentration (0.25N; 0.3N and 0.35N). The purpose of this research was to study the effect of solvent concentration in pectin extraction process. The result showed that the solvent concentration, the higher yield of pectin. The maximum yield of pectin which was obtained in this research is 67.55%. The Methoxyl contain and Galacturonic which was obtained in this research are 4.34% and 84.48%. Keywords: Banana peel, pectin, extraction, HCl

Page 11 of 27 | Total Record : 263