cover
Contact Name
Misbah
Contact Email
misbah_pfis@ulm.ac.id
Phone
+628975586104
Journal Mail Official
vidyakarya@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl cemara raya no 28 banjarmasin Utara
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Vidya Karya
ISSN : 02159619     EISSN : 26147149     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Education,
Vidya Karya terbit dua kali setahun pada bulan April dan Oktober, berisi artikel hasil penelitian dan kajian analitis krtitis setara dengan hasil penelitian di bidang teori dan atau praktik kependidikan
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 31, No 1 (2016)" : 11 Documents clear
INTEGRATING HIDE AND SEEK GAME ON TBL (TASK-BASED LEARNING) CLASSROOM Hermanier, Yulieda; Mubaraq, Yasyir Fahmi
Vidya Karya Vol 31, No 1 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The teaching of speaking is emphasized as an important skill due to the large number of students who want to study English in order to use English for communicative purposes. The TBL approach is said to be appropriate way to develop communicative purposes. By using Hide and seek game, the students are willing to communicate with a joyful learning. The game also provides integrated skills in English learning. This study uses qualitative approach by describing the classroom situation and the application of game in the teaching. The data collected through observation in the classroom by using observation sheet as the main instrument. The researchers also took photos and videos as secondary data. This study reveals the strength of Hide and Seek game and how it is applied in the EFL classroom. Key words: Hide and Seek game, Language game, TBL, Communicative Purpose, and EFLAbstrak: Pengajaran speaking ditekankan sebagai salah satu keterampilan penting dikarenakan sejumlah besar siswa yang ingin belajar bahasa Inggris dan menggunakan bahasa Inggris untuk tujuan komunikatif. Pendekatan TBL merupakan  salah satu cara yang tepat untuk mengembangkan tujuan komunikatif. Dengan menggunakan permainan petak umpet, siswa bersedia untuk berkomunikasi melalui pembelajaran yang menyenangkan. Permainan ini juga memberikan keterampilan yang terintegrasi dalam pembelajaran bahasa Inggris. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggambarkan situasi kelas dan aplikasi game dalam pengajaran. Data dikumpulkan melalui observasi di kelas dengan menggunakan lembar observasi sebagai instrumen utama. Para peneliti juga mengambil foto dan video sebagai data sekunder. Penelitian ini mengungkap kelebihan permainan petak umpet dan bagaimana permainan ini diterapkan di kelas EFL.Kata Kunci: Permainan Petak Umpet, Permainan Bahasa, TBL, Tujuan Komunikatif, dan EFL
PEMETAAN KOMPETENSI GURU MATA PELAJARAN EKONOMI TINGKAT SMA/SMK DI KABUPATEN TABALONG Bachri, Achmad Alim
Vidya Karya Vol 31, No 1 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This research aimed to map the Economics teachers competence for vocational high school and senior high school level in Tabalong regency. This research was conducted through three strategic phases, namely (1) data collection, (2) analysis of data; and (3) the presentation of the results of data analysis (reporting) with the teachers as the research subjects. The data collection was conducted by survey method. The analysis of the data was carried out by descriptive quantitative and qualitative refering to Government Regulation No. 19 Year 2005 on National Education Standards and National Education Minister Regulation No. 16 of 2007 on Academic Qualification Standards and Teachers Competency. The research result shows that the teachers of high school education showed the good numbers in which all the core components that include pedagogical competence, personal competence, professional competence and social competence have been understood and implemented. It also occurs to vocational level students that indicates a high category for the average competence of teachers in the area of Economics either urban or peri urban typology. This condition illustrates that vocational school teachers performed in good numbers and it means that all the core components have been understood and implemented. Key words: mapping,  Economics, teachers’ competence,  Abtsrak: penelitian ini bertujuan untuk membuat pemetaan kompetensi guru bidang mata pelajaran Ekonomi tingkat SMA dan SMK di Kabupaten Tabalong. Penelitian dilakukan melalui tiga tahapan strategis, yaitu (1) pengumpulan  data, (2) analisis data; dan (3) penyajian hasil analisis data (pelaporan) dengan subyek para guru mata pelajaran ekonomi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei. Data penelitian dianalisis menggunakan teknik deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tenaga pendidik satuan pendidikan SMA menunjukkan angka yang baik dimana seluruh komponen inti yang mencakup kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial telah dihayati dan dilaksanakan. Itu juga terjadi kepada tingkat SMK yang menunjukkan kategori tinggi untuk rata-rata kompetensi tenaga pendidik mata pelajaran Ekonomi baik pada wilayah tipologi urban maupun peri urban. Kondisi ini menggambarkan bahwa tenaga pendidik mata pelajaran Ekonomi SMK menunjukkan angka yang baik artinya seluruh komponen inti telah dihayati dan dilaksanakan. Kata kunci: pemetaan, mata pelajaran Ekonomi, kompetensi guru
PENYEBARAN GURU SMAN SE-KOTAMADYA BANJARMASIN SEBAGAI DASAR PENETAPAN REKRUTMEN DAN PENEMPATAN GURU Warni, Herita; Sofyan, Ahmad; Wahyu, Wahyu; Dharmono, Dharmono
Vidya Karya Vol 31, No 1 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract:  The imbalance of the distribution of study field-teachers in state senior high schools (SMAN) in the whole area of Banjarmasin city has became the background of this research. This research aimed at: (1) describing the real condition of distribution of study fields-teachers in state senior high schools in Banjarmasin city, (2) describing the analysis of the number of study field-teachers needed for each state senior high school in the whole area of Banjarmasin city, and (3) identifying the number of study field-teachers that needed and exceed the need for each state senior high school in the whole area of Banjarmasin city. This survey research used the technique of interview and documentation in collecting data. The collected data were presented in the forms of tables and graphics and descriptively analyzed. The research result showed that: (1) there are 552 study field-teachers that spread in 13 state senior high schools in the whole area of Banjarmasin city, (2) the number of study field-teachers needed in state senior high schools in the whole area of Banjarmasin city were 593 teachers, and (3) study fields that exceed in the number of teachers needed were in the fields of religion education, civics education, English language, biology, physics, and counseling training. While study fields that lack of the number of teachers were in the fields of Indonesian language, math, chemistry, economy/ accountancy, sociology, geography, history, art, information and communication technique, local content, and foreign/ethnic language. Keywords: distribution, teacher, and state senior high school (SMAN) Banjarmasin.     Abstrak:  Kondisi belum meratanya penyebaran guru mata pelajaran di SMAN se-Kotamadya Banjarmasin mendorong penulis untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan kondisi rill penyebaran guru mata pelajaran di SMAN se-kota Banjarmasin, (2) mendeskripsikan analisis kebutuhan guru mata pelajaran di SMAN se-kota Banjarmasin, (3) mengidentifikasi kebutuhan dan kelebihan guru per mata pelajaran di SMAN se-kota Banjarmasin. Jenis penelitian ini adalah penelitian survey, dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan dokumentasi. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan grafik selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) jumlah guru mata pelajaran yang tersebar di 13 SMAN se-kota Banjarmasin adalah sebanyak 552 orang, (2) Jumlah guru mata pelajaran yang diperlukan di SMAN se-kota Banjarmasin berdasarkan analisis kebutuhan adalah sebanyak 593 orang, (3) Kelebihan jumlah guru SMAN se-kota Banjarmasin terjadi pada mata pelajaran Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Inggris, Biologi, Fisika, dan Bimbingan Konseling, sedangkan yang masih kekurangan guru terjadi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Kimia, Ekonomi/Akuntansi, Sosiologi, Geografi, Sejarah, Kesenian, Teknik Informasi dan Komunikasi, Muatan Lokal, dan Bahasa Asing/Daerah. Kata Kunci: penyebaran, guru, dan SMAN Banjarmasin
PENERAPAN MODEL PROBLEM SOLVING DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN HOT (HIGHER ORDER THINKING) SISWA SDN BANYU LANDAS Uyani, Silvia
Vidya Karya Vol 31, No 1 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This research relates to the implementation of Problem Solving model in Banyu Landas Elementary School. The research objective is to increase students’ Higher Order Thingking Skills (HOTS). The research was conducted by using classroom action research (CAR) method through 2 cycles. Ten six class students of SDN Banyu Landas were used as research subject. The data collection used obeservation sheets and HOT oriented achievement test. The data were qualitatively analyzed with percentage technique. The result of research stated that (1) students’ Higher Order Thingking Skills (HOTS) increased from analysis skills 77,85% in the first cycle up to  synthesys skills 86,58% in the end of second cycle (2) the quality of teacher’s activity increased  from 58,41% in the first cycle  up to 71,14% in the end of second cycle; (2) students’ activity incresed  from 68,39% in the first cycle  up to 70,10% in the end of second cycle.              Keywords: Higher Order Thinking Skills, teacher activity, student activity , Problem Solving. Abstrak: Penelitian ini berkenaan dengan penerapan model Problem Solving di SDN Banyu Landas. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkt tinggi (Higher Order Thingking Skill/HOT) siswa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas dalam 2 siklus. Subyek penelitian adalah 10 orang siswa kelas VI SDN Banyu Landas. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan tes hasil belajar berorientasi HOT. Data dianalisis secara kualitatif dengan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thingking Skill/HOT) peserta didik meningkat dari kemampuan analisis 77,85% pada awal siklus I menjadi kemampuan sintesis 86,58% pada akhir siklus II kualitas, (2) aktivitas guru meningkat dari 58,41% pada siklus 1 menjadi menjadi 71,14%  pada siklus 2; (2) aktivitas siswa meningkat dari 68,39% pada siklus 1 menjadi 70,10% pada siklus II. Kata kunci: HOT (Higher Order Thinking) skills, aktivitas guru, aktivitas siswa, Problem Solving
PENANAMAN NILAI-NILAI KEBANGSAAN DI PONDOK PESANTREN KHALAFIYAH (Studi Kasus di Pondok Pesantren Al Huda Doglo Candigatak Cepogo Boyolali Tahun 2016) Prasetyo, Agus; Sumardjoko, Bambang
Vidya Karya Vol 31, No 1 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: this research aim to describe the cultivation of nation values which do teachers to students in pesantren Al Huda Doglo Candigatak Cepogo Boyolali. Data were collected by interview, observation and documentation. The validity of the data is done by triangulation of sources, techniques, and researchers. Analysis of the data used an interactive model. The results of this study conclude that efforts made in the boarding school teachers in instilling national values is to use the activities in formal institutions and religious activities. Activities in the formal institutions meant that inculcate national values through belonging to boarding school level in the form of kindergarten, Islamic Elementary School (equivalent to elementary school), MTs (equivalent of junior high school), and Madrasah Aliyah (the equivalent of high school). Religious activity is the discussion between teachers and students to assess national values contained in the Quran and Hadith. Keywords: value, nation, and pesantren Abstrak: tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penanaman nilai-nilai kebangsaan yang dilakukan pengajar kepada santri di pondok pesantren Al Huda Doglo Candigatak Cepogo Boyolali. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Validitas data dilakukan dengan triangulasi sumber, teknik, dan peneliti. Analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa upaya yang dilakukan pengajar di pondok pesantren dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan adalah dengan memanfaatkan kegiatan di lembaga formal dan kegiatan keagamaan. Kegiatan di lembaga formal yang dimaksud yakni menanamkan nilai kebangsaan melalui jenjang sekolah milik pesantren berupa Taman Kanak-kanak, Madrasah Ibtidaiyah (setara sekolah dasar), Madrasah Tsanawiyah (setara sekolah menengah pertama), dan Madrasah Aliyah (setara sekolah menengah atas). Kegiatan keagamaan yang dimaksud yakni diskusi antara pengajar dan santri dengan mengkaji nilai-nilai kebangsaan yang terdapat di Al Qur’an serta Hadist. Kata kunci: nilai, kebangsaan, dan pondok pesantren
STUDI PENDAHULUAN PENGEMBANGAN APLIKASI SMARTPHONE SEBAGAI ALTERNATIF MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH Azmi, Muhammad; Joebagio, Hermanu; Suryani, Nunuk
Vidya Karya Vol 31, No 1 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract:  This study aimed at describing the usage of smartphone and internet in the community of college students which can be the basic on the development of an application. This qualitative-descriptive study was conducted through interviews with teacher staff and surveys with 54 students of History Education Study Program in the Teacher Training and Educational Sciences Faculty. The study result shows that: (1) 47 students (87%) owned Smartphone of their own, while the rest of the students as much as 7 persons (13%) do not have Smartphone, (2) 42 students (87%) stated that they  have Smartphone which connected to internet all the timet, while the rest of the students as much as 6 persons (13%) stated the vice versa, (3) Smartphone application which can be developed is the multi-platform semi-online application with  HTML5 base.   Key words: smartphone, history learning media, and multi-platform Abstrak:  Penelitian ini berusaha untuk menggambarkan tentang penggunaan smartphone dan internet di kalangan mahasiswa yang dapat dijadikan dasar dalam pengembangan sebuah aplikasi. Penelitian kualitatif-deskriptif ini dilakukan melalui wawancara dengan staf pengajar dan survei terhadap 54 orang mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat 47 orang (87%) telah memiliki smartphone pribadi, sedangkan sisanya sebanyak 7 orang (13%) tidak memiliki smartphone, (2) terdapat 42 orang (87%) menyatakan bahwa mereka memiliki smartphone yang selalu terhubung dengan internet setiap saat, sedangkan sisanya sebanyak 6 orang (13%) menyatakan tidak, (3) Aplikasi smartphone yang dapat dikembangkan adalah aplikasi multi-platform semi-online berbasis HTML5.   Kata kunci: smartphone, media pembelajaran sejarah, dan multi-platform
BLUE-PRINT PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS KONTROVERSI Wijaya, Daya Negri
Vidya Karya Vol 31, No 1 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: History teachers often avoid the controversial material in history learning. This phenomenon did not happen by accident but constructed by some perspectives in writing the past. One of the topics which are full of controversy is that of the era of England colonization in Nusantara. This controversy was raised due to the degradation of the sense of history among educators. Educators actually should be able to dig the historical resources independently and explain the various perspectives clearly. The author, by the help of re-enactment theory, offerred a way in understanding a controversial material through the topic of England colonization. The author hopes that the students will be able to imagine and understand the various controversy in history learning especially in the era of England colonization. Keywords:  England colonization, re-enactment, and controversy Abstrak: Materi sejarah yang sarat akan kontroversi seringkali dihindari oleh guru. Kecenderungan ini bukan suatu kebetulan akan tetapi dikonstruksi oleh berbagai perspektif dalam menuliskan masa lalu. Salah satu materi sejarah yang sarat akan kontroversi adalah masa penjajahan Inggris di Nusantara. Kontroversi tersebut muncul karena degradasi sense of history pendidik. Mereka seyogyanya menggali sumber-sumber sejarah secara mandiri dan mampu menjelaskan perbedaan perspektif tersebut dengan baik. Dengan bantuan teori re-enactment, penulis menawarkan cara dalam memahami materi kontroversial dengan contoh kasus materi kolonialisme Inggris. Penulis berharap siswa akan dapat membayangkan dan memahami beragam kontroversi pada materi sejarah terutama masa penjajahan Inggris. Kata-kata kunci:  kolonialisme Inggris, re-enactment, dan kontroversi
KAPASITAS VITAL PARU-PARU, PANJANG TUNGKAI, KEKUATAN OTOT TUNGKAI DAN PRESTASI LARI 800 METER Basuki, Sunarno
Vidya Karya Vol 31, No 1 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. This study intends to study the relationship between the vital lung capacity, leg length, and leg muscle strength to describe the 800m run achievement of SMP 2 Banjarbaru South Kalimantan students.  The purpose of this study was to determine: 1) The relationship between the vital capacity of the lungs and the run achievement of 800m. 2) The relationship between the leg length and the run achievements of 800m. 3) The relationship between leg muscle strength and the run achievements of 800m. 4) The relationship between leg muscle strength, leg length,  together with vital lung capacity and the run achievement of 800m. The method used in this study is correlational while the data collected by using tests and measurements. The population in this study were 8th grade students of SMP Negeri 2 Banjarbaru consisting of 315 students. Of 32 students were selected being the samples determined by purposive. Data analysis was conducted by using product moment correlation technique. The study showed that: 1) There is no relationship between the vital capacity of the lungs and the run achievement of 800m. 2) There is no relationship between the length of the leg and the run achievements of 800m. 3) There is a relationship between leg muscle strength and the run achievements of 800m. 4) There is a relationship between the vital lung capacity, leg length together with leg muscle strength and the run achievements of 800m. Keywords:  relationship, vital lung capacity, the lengths of the leg,  leg muscle strength, the run achievements of 800m. Abstrak. Penelitian ini bermaksud mempelajari hubungan antara faktor kapasitas vital paru-paru, panjang tungkai, dan kekuatan otot tungkai untuk menggambarkan prestasi lari 800 meter siswa SMP Negeri 2 Banjarbaru Kalimantan Selatan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui: 1) hubungan antara kapasitas vital paru-paru dengan prestasi lari 800 meter, 2) hubungan antara panjang tungkai dengan prestasi lari 800 meter, 3)   hubungan antara kekuatan otot tungkai dengan prestasi lari 800 meter, 4) hubungan antara kekuatan otot tungkai, panjang tungkai dan kapasitas vital paru-paru dengan prestasi lari 800 meter. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional dengan teknik pengambilan data melalui tes dan pengukuran. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik SMP Negeri 2 Banjarbaru kelas 8 berjumlah 315 orang dengan sampel penelitian berjumlah sampel 32 orang yang ditetapkan secara purposive. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik  korelasi produk moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Tidak ada hubungan antara kapasitas vital paru-paru  dengan prestasi lari 800 meter. 2) Tidak ada hubungan antara panjang tungkai  dengan prestasi lari 800 meter. 3) Ada hubungan antara kekuatan otot tungkai  dengan prestasi lari 800 meter. 4) Ada hubungan antara kapasitas vital paru-paru, panjang tungkai dan kekuatan otot tungkai  dengan prestasi lari 800 meter. Kata kunci:  Hubungan, kapasitas vital paru, panjang tungkai, kekuatan otot tungkai, prestasi lari 800 meter
IMPLEMENTASI TEACHING FACTORY DI SMKN 2 GEDANGSARI GUNUNGKIDUL Yunanto, Dwi
Vidya Karya Vol 31, No 1 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Evaluation of ‘teaching factory’ implementation in SMKN2 Gedangsari Gunung Kidul Yogyakarta aimed to determine the implementation of ‘teaching factory’ in Boutiqe Fashion skill program of SMKN 2 Gedangsari Gunung Kidul. ‘Teaching factory’ method is given by the vocational school to graduated students in order to prepare them to become more independent. This research was a descriptive study using seven parameters approach based on SED-TVET instruments. The population consisted of students, productive teachers, vice principal of curriculum affairs, and principals who run schools teaching factory. The data analyzed by using percentages. The results showed that overall SMKN 2 Gedangsari haven’t implemented teaching factory in productive subject with the percentation of 41.93%, teaching factory implementation management as much as 26.67%, workshop or laboratory management as much as 64%, training learning pattern as much as 42.86%, teaching factory marketing as much as 24.00%, products and services as much as 68%, human resources in the management of teaching factory as much as 48% and industrial relations as much as 20%. Keywords: Teaching factory, seven parameters, vocational school Abstrak . Evaluasi  pelaksanaan pembelajaran teaching factory  di SMKN 2 Gedangsari Gunung Kidul Yogyakarta bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan teaching factory di program keahlian Tata Busana Butik di SMKN 2 Gedangsari Gunung Kidul. Pembelajaran teaching factory diberikan oleh sekolah kejuruan pada siswa yang telah lulus agar mereka siap untuk mandiri. Penelitian ini merupakan penelitian  deskriptif  dengan mengunakan pendekatan tujuh parameter yang bersumber pada instrumen SED-TVET. Populasi penelitian adalah peserta didik, guru produktif, wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan kepala sekolah yang menjalankan teaching factory di sekolah tersebut. Data dianalisis dengan menggunakan teknik persentase. Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  secara keseluruhan SMKN 2 Gedangsari belum menerapkan proses pembelajaran teaching factory dalam mata pelajaran produktif, dengan persentasi sebesar 41,93%., kegiatan managemen pelaksanaan  teaching  factory  sebesar 26.67%, pengelolaan bengkel atau laboratorium sebesar 64%,  pola pembelajaran training  sebesar 42,86%, pemasaran teaching factory sebesar 24%, produk dan jasa sebesar 68%, sumber daya manusia dalam pengelolaan teaching factory  sebesae 48% serta hubungan industri sebesar 20%. Kata kunci: Teaching factory, tujuh parameter, sekolah kejuruan
VALIDITAS MODEL PEMBELAJARAN GROUP SCIENCE LEARNING; PEMBELAJARAN INOVATIF DI INDONESIA Prahani, Binar Kurnia; Nur, Mohammad; Yuanita, Leny; Limatahu, Iqbal
Vidya Karya Vol 31, No 1 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Result of a preliminary study showed that in general the collaborative problem solving skills, science process skills, and confidence of students of SMA Negeri 19 Surabaya, SMAN 1 Tegaldlimo, MA Roudlotun Nasyin Mojokerto are still low. Therefore, researchers developed a model instructional group science learning to enhance collaborative problem solving skills, science process skills, and confidence. The purpose of this research is to get validity of Group Science Learning (GSL) developed to improve collaborative problem solving skills, science process skills, and confidence. Methods of data collection validation using Focus Group Discussion (FGD). Group science learning model developed needs to be validated by experts through Focus Group Discussion (FGD). Group science learning model assessed the validity of the learning model based on content validity and construct validity. Results of the validation by experts through focus group discussions indicate that group science learning model to improve the collaborative problem solving skills, science process skills, and confidence in this study are included in the category of very valid. This group science learning model can be implemented in learning to improve the collaborative problem solving skills, science process skills, and confidence. Keywords:  content validity, construct validity,  and group science learning model  Abstrak: Hasil studi awal menunjukkan bahwa secara umum keterampilan pemecahan masalah kolaboratif, keterampilan proses sains, dan kepercayaan diri siswa SMA Negeri 19 Surabaya, SMA Negeri 1 Tegaldlimo, MA Roudlotun Nasyin Mojokerto masih rendah. Oleh karena itu peneliti bermaksud mengembangkan model group science learning. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan validitas model Group Science Learning  yang dikembangkan untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah kolaboratif, keterampilan proses sains, dan kepercayaan diri. Metode pengumpulan data validasi menggunakan Focus Group Discussion (FGD). Validitas model pembelajaran Group Science Learning dinilai berdasarkan validitas isi dan validitas konstruk. Hasil validasi oleh pakar melalui FGD menunjukkan bahwa model Group Science Learning untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah kolaboratif, keterampilan proses sains, dan kepercayaan diri dalam penelitian ini termasuk dalam kategori sangat valid. Model Group Science Learning dapat diimplementasikan dalam pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah kolaboratif, keterampilan proses sains, dan kepercayaan diri.Kata Kunci: Validitas isi, validitas konstruk,  dan group science learning model

Page 1 of 2 | Total Record : 11