Hermanu Joebagio
Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sebelas Maret

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

MEMBACA POLITIK ISLAM PASCA REFORMASI Joebagio, Hermanu
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 1 (2016)
Publisher : IKIP PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis multidimensi 1997-1998 yang ditandai dengan kenaikan mata uang dollar antara Rp.10.000 hingga Rp.15.000/dollar berakibat hancurnya fundamental ekonomi Indonesia. Kondisi ini menjadi triggered Muslim Islam untuk membangun orientasi-orientasi Islam politik.Islam politik dan politik Islam berbeda dalam pemaknaannya. Islam politik merupakan perjuangan kelompok Muslim garis keras untuk mendapatkan dimensi kekuasaan, dan ketika dimensi kekuasaan telah teraih, al-Qur’an, al-Hadits, dan Fiqh sebagai philosophische grondslag. Sementara itu politik Islam merupakan perjuangan meraih kekuasaan politik dengan menggunakan simbol Islam sebagai basis recruitmentmassa.Ketika kekuasaan dapat diraih, mereka menggunakan Pancasila sebagai philosophische grondslag. Karena itu perkembangan Islam politik pada awal reformasi sangatlah kuat, tetapi selama lima belas tahun pasca reformasi justru orientasi Islam politik menjadi sangat radikal, dan orientasi politik mereka mengikuti pola politik yang bersifat “teror”.Melihat kondisi partai politik Islam pasca reformasi yang begitu lebar variannya, dan ada kecenderungan elit politik partai politik Islam belum 100 persen menjadikan Pancasila sebagai philosophische grondslag dapat memicu rendahnya partisipasi pemilih. Partai politik Islam yang banyak variannya itu ada gagasan untuk menyederhanakan. Keberhasilan Soeharto menyederhanakan partai politik dalam tiga mainstream sosial-demokrat (Golkar), nasionalis (PDI), dan Islam (PPP) sangat baik. Bila tiga mainstream itu dihidupkan kembali dalam bentuk baru, dan diletakkan pada fase lima belas tahun reformasi, maka partisipasi pemilih terhadap partai politik Islam berbanding lurus dengan kekuatan pemilih mayoritas.
ELITE TRADISIONAL DALAM PERGUMULAN SISTEM RELIGIO POLITICAL POWER Joebagio, Hermanu
Paramita: Historical Studies Journal Vol 22, No 2 (2012): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v22i2.2118

Abstract

This study was aimed to describe: (1) the relation among political groups in the system of religio political power, (2) the political system when dealing with foreign trade organization (VOC), and also (3) the political system encouraging vertical mobility of the Javanese society. This research employed historical methods, and the data were collected from both primary and secondary sources. Meanwhile, the reconstruction of historiography greatly regarded diachronic and synchronic aspects. The results of this study showed that religio political power was produced by the process of Islamization. In that political system, there was equality of position between the rulers and the ulama. The ulama as a representation of the people, bring about the consequence that all public policy must be approved by them. Political system is equal to ‘descending of power’. This political system underwent a political change when the central government moved to rural Java, that is changed into nomadism and schizophrenia, because of the strong subordination and repression to the ulama and the opposition groups. The political violence would not build vertical mobility of Javanese people both in education and economic development. Furthermore, this system would face difficulty when deling with the strategy of ex-nihilo by VOC. Key words: religio political power, Islamization, the ulama, ex-nihilo, vertical mobility  Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) relasi antar kelompok politik dalam sistem religio political power, (2) sistem politik itu ketika berhadapan dengan organisasi dagang asing, dan (3) sistem politik itu memacu mobilitas vertikal masyarakat Jawa. Riset ini menggunakan adalah metode sejarah, dan pengumpulan data melalui sumber primer dan sekunder. Sementara itu rekonstruksi sejarah utamakan segi diakronik dan sinkronik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem religio political power adalah hasil dari proses Islamisasi. Dalam sistem politik itu terdapat kesejajaran kedudukan antara penguasa dan ulama. Ulama sebagai representasi rakyat memiliki konsekuensi setiap kebijakan publik perlu mendapat persetujuan ulama. Sistem politik mempunyai bentuk yang sama dengan descending of power. Sistem politik ini mengalami perubahan ketika pusat pemerintahan berpindah di pedalaman Jawa, yakni menjadi nomadisme dan schizophrenia, karena kuatnya represi terhadap ulama dan kelompok oposisi. Kekerasan politik itu tidak akan membangun mobilitas vertikal masyarakat Jawa, baik bidang pendidikan maupun pembangunan ekonomi. Bahkan akan menghadapi kesulitan ketika berhadapan dengan strategi ex-nihilo VOC. Kata kunci: religio political power, Islamisasi, ulama, ex-nihilo, dan mobilitas vertikal    
PEMIKIRAN KEWIRAUSAHAAN KELUARGA MANGKUNEGARAN Joebagio, Hermanu; Birsyada, Muhammad Iqbal; Wasino, Wasino; Suyahmo, Suyahmo
Paramita: Historical Studies Journal Vol 26, No 2 (2016): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v26i2.6697

Abstract

According to the historical event of the Mangkunegaran dinasty said that of entrepreneurship is more striking than the Mataram kingdom such as Kasunanan Surakarta and Kasultanan Yogyakarta Reign. From the time  Mangkunegaran I until Mangkunegara IV were successful in plugging the power base of the civil economy proves that the civil Mangkunegaran as one kingdom in Kejawen in the field of entrepreneurship is more advanced than in other Javanese kingdoms. For that reason , this study wanted to find the root network entrepreneurial thinking Mangkunegaran as the focus of the study . This study takes the subject of Mangkunegara thought starting Mangkunegaran I until Mangkunegaran IV. The purpose of this study was to analyze in depth network thought what are strongly held by Sri Mangkunegara I until IV in developing civil entrepreneurial base . The research method used is the historical multidimensional method. The result in this study is that the success of the civil Mangkunegaran in building economic power is highly correlated with entrepreneurial thinking of Mangkunegaran. The thought of Mangkunegara I to IV into civil spirit in building the ethos of entrepreneurship as well as the existence of the family and the kingdom . Although it is epistemological, each kings who ruled  differently .Secara historis keberadaan Praja Mang-kunegaran yang unggul dalam bidang kewirausahaan memang lebih maju dari pada kutub-kutub kerajaan Mataram lainnya seperti Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Penelitian ini ingin mendalami dasar pemikiran kewirausahaan Mangkunegaran. Penelitian ini mengambil fokus pemikiran kewirausahaan Mangkunegaran yang bersumber pada ajaran filosofis Mangkunegara I sampai IV. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis secara mendalam pemikiran dan nilai-nilai filosofis yang di pegang teguh oleh Sri Mangkunegara I sampa IV dalam mengembangkan basis kewirausahaan praja. Metode penelitian yang dipakai adalah metode sejarah dengan pendekatan multidimensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesuksesan Praja Mangkunegaran dalam membangun kekuatan ekonomi sangat berkorelasi dengan pemikiran filosofis ajaran leluhur Mangkunegaran. Pemikiran filosofis dari Mangkunegara I sampai IV menjadi spirit praja dalam membangun kewirausahaan serta eksistensi trah dan kerajaannya. Walaupun secara epistimologis, masing-masing raja yang memerintah mengaktualisasikannya secara berbeda-beda.    
STUDI PENDAHULUAN PENGEMBANGAN APLIKASI SMARTPHONE SEBAGAI ALTERNATIF MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH Azmi, Muhammad; Joebagio, Hermanu; Suryani, Nunuk
Vidya Karya Vol 31, No 1 (2016)
Publisher : Vidya Karya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract:  This study aimed at describing the usage of smartphone and internet in the community of college students which can be the basic on the development of an application. This qualitative-descriptive study was conducted through interviews with teacher staff and surveys with 54 students of History Education Study Program in the Teacher Training and Educational Sciences Faculty. The study result shows that: (1) 47 students (87%) owned Smartphone of their own, while the rest of the students as much as 7 persons (13%) do not have Smartphone, (2) 42 students (87%) stated that they  have Smartphone which connected to internet all the timet, while the rest of the students as much as 6 persons (13%) stated the vice versa, (3) Smartphone application which can be developed is the multi-platform semi-online application with  HTML5 base.   Key words: smartphone, history learning media, and multi-platform Abstrak:  Penelitian ini berusaha untuk menggambarkan tentang penggunaan smartphone dan internet di kalangan mahasiswa yang dapat dijadikan dasar dalam pengembangan sebuah aplikasi. Penelitian kualitatif-deskriptif ini dilakukan melalui wawancara dengan staf pengajar dan survei terhadap 54 orang mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat 47 orang (87%) telah memiliki smartphone pribadi, sedangkan sisanya sebanyak 7 orang (13%) tidak memiliki smartphone, (2) terdapat 42 orang (87%) menyatakan bahwa mereka memiliki smartphone yang selalu terhubung dengan internet setiap saat, sedangkan sisanya sebanyak 6 orang (13%) menyatakan tidak, (3) Aplikasi smartphone yang dapat dikembangkan adalah aplikasi multi-platform semi-online berbasis HTML5.   Kata kunci: smartphone, media pembelajaran sejarah, dan multi-platform
KAJIAN POSKOLONIAL GERAKAN PEMIKIRAN DAN SIKAP ULAMA PESANTREN TEGALSARI DALAM PUSARAN KONFLIK MULTIDIMENSIONAL DI JAWA (1742-1862) Nurdianto, Saifuddin Alif; Joebagio, Hermanu; Djono, Djono
Jurnal THEOLOGIA Vol 29, No 1 (2018)
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2018.29.1.2434

Abstract

Abstract: Pesantren Tegalsari was one of the most influential religious-education institutions in Java during 18-19 century. Those years were the golden era of Pesantren Tegalsari which was known as an institution that produced “pujangga” (Javanese intellectuals) and the people of Tegalsari village was well known for producing high quality of dluwang (traditional paper). On the other hand, the 18-19 century itself was a time of turmoil, both socially and politically. Some events such as Geger Pacina (1742), Javanese Succession War III (1746–1755), Java War (1825-1830), and Cultuurstelsel (1830–1917) were crucial moments in the history of Indonesia, especially in Java. At this point, the ulema (Islamic scholars) of Pesantren Tegalsari played an important role. Thought and attitude movements of ulema (Islamic scholars) in Pesantren Tegalsari had determined the existence of the pesantren and the economic cycle of local commmunity. Historical research with post-colonial political approach was used to study the thought and attitude movement of ulama (Islamic scholars) in Pesantren Tegalsari during 1742–1862. The result of this research shows that Pesantren Tegalsari had a political line to not engage in practical politics. This political line was followed by all the leaders of Pesantren Tegalsari. As the result, Pesantren Tegalsari developed into an institution that produced poets and transformed into a place to seek legitimacy in social, academic, and politic.Abstrak: Pesantren Tegalsari merupakan salah satu lembaga pendidikan-keagamaan yang paling berpengaruh di Jawa abad 18-19. Tahun-tahun tersebut merupakan masa keemasan dari Pesantren Tegalsari yang dikenal sebagai lembaga pencetak pujangga (intelektual Jawa). Bagi masyarakat Desa Tegalsari sendiri, tahun-tahun itu adalah masa perekonomian yang dikembangkan sedang mengalami pertumbuhan yang pesat. Desa Tegalsari terkenal sebagai daerah penghasil dluwang (kertas tradisional) berkualitas tinggi yang diekspor ke berbagai daerah. Di sisi yang lain, abad 18-19 sendiri merupakan masa yang penuh dengan gejolak, baik secara sosial maupun politik. Beberapa peristiwa seperti geger pacina (1742), Perang Suksesi Jawa III (1746-1755), Perang Jawa (1825-1830), dan kebijakan tanam paksa (1830-1917) merupakan momen-momen krusial dalam perjalanan sejarah Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Pada titik inilah ulama Pesantren Tegalsari, sebagai salah satu pimpinan lembaga pendidikan-keagamaan paling berpengaruh di Jawa abad 18-19 sekaligus tokoh panutan bagi masyarakat sekitar, memiliki peranan penting. Gerakan pemikiran dan sikap dari ulama Pesantren Tegalsari menjadi sangat menentukan eksistensi pesantren dan perputaran roda perekonomian masyarakat sekitar. Penelitian historis dengan pendekatan politik-poskolonial akan digunakan untuk mengkaji gerakan pemikiran dan sikap ulama Pesantren Tegalsari tahun 1742-1862. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pesantren Tegalsari memiliki garis politik untuk tidak terjun dalam politik praktis. Garis politik inilah yang diikuti oleh semua pimpinan Pesantren Tegalsari. Hasilnya adalah, Pesantren Tegalsari berkembang menjadi lembaga pencetak pujangga dan menjelma sebagai tempat untuk men­cari legitimasi, baik secara sosial, akademik, maupun politik
Revitalisasi Kearifan Lokal Aceh: Gagasan Islam dan Budaya dalam Menyelesaikan Konflik di Masyarakat Riezal, Chaerol; Joebagio, Hermanu; Susanto, Susanto
Millati: Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 3, No 2 (2018): Millati
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.272 KB) | DOI: 10.18326/mlt.v3i2.227-244

Abstract

This article answers the question of how the form of revitalization of local wisdom in Aceh culture as the capital to resolve conflicts in the community. The important thing that will support this article is how Islamic ideas and Acehnese culture combine into one formulated from within, at least strengthening traditional institutions as the basis for managing Aceh culture is an important discourse to measure indicators of the ongoing settlement of Islamic conflicts. The results indicate that the re-actualization of Aceh culture which had been submerged by the conflict and tsunami, has now been revived especially on the social bases that were lost and even blurred. When there was a conflict in the Acehnese community, the mechanism for resolving conflicts was carried out using the Acehnese cultural approach known as Di’et, Sayam, Suloh, Peusijuek and Peumat Jaroe, involving Aceh traditional institutions at the village level, such as the geuchik (village headman), teungku imum and traditional leaders. This local wisdom in the discourse of the Aceh Government has reached the implementation of policies by making regional regulations through qanun to revitalize Aceh’s local wisdom by reviving some traditional institutions that have not been functioning.
Humanisme dalam Serat Jangka Jayabaya Perspektif Javanese Wordview Sasmita, Gusti Garnis; Joebagio, Hermanu; Sariyatun, Sariyatun
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 8 No 1 (2018): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.051 KB)

Abstract

Serat Jangka Jayabaya is a literary work that can be used as a source of historical learning. The local genius of Javanese worldview is reflected in humanism values in the manuscript. Which is much misunderstood by most people even historians. This study uses qualitative research methods that reveal the value of Jayabaya humanism based on content, authorship and axiological manuscripts through interviews and literature studies. The results show that the concept of "jangka" is the guidance as well as the control of Java society in viewing various social phenomena. The guidelines are summarized in the concept of humanism values reflected as knowledge, equity, equality, dignity, and moral ethics.
BISNIS KELUARGA MANGKUNEGARAN Birsyada, Muhammad Iqbal; Wasino, Wasino; Suyahmo, Suyahmo; Joebagio, Hermanu
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.24.1.975

Abstract

The history of economic development of Javanese community has experienced a very unique dynamic. In the XV and XVI centuries, trading tradition has been done by Javanese community along the north coastal of Java. But, the trading tradition getting dimmer in line with the strategy of economic centralization carried out by Sultan Agung prohibiting the people to trade in foreign countries. In the XIX century, that’s econdition is change, Mangkunegara IV restore the entrepreneurial tradition through various strategies. In addition, to restoring the entrepreneurial tradition of Javanese society, Mangkunegara IV also broke the old tradition of kepriyayinan (Javanese aristocrate) to want to do business, not just live in pleasure as breeds nobility or gentry class. Therefore, reviewing to the business strategy of Mangku­negaran IV becomes important, as part of the history of economic develop­ment Javanese community. By using the historical method and a multi­dimensional approach, through a variety of primary sources such as Mangku­negara IV literature, the study found that the Mangkunegaran IV’s business strategy conducted by building a centers of sugar cane farm and modernization of sugar factories on a large scale, so as to obtain additional revenue for the Mangkunegaran IV family. The successfull of his business, demonstrates to the Javanese nobility that he was a king who had a strong entrepreneurial spirit.***Sejarah perkembangan ekonomi masyarakat Jawa mengalami dinamika yang sangat unik. Pada abad XV dan XVI, tradisi berdagang telah dilakukan oeh masyarakat Jawa di sepanjang pantai utara Jawa. Akan tetapi tradisi tersebut se­makin meredup seiring adanya strategi sentralisasi ekonomi yang dilakukan oleh Sultan Agung yang melarang rakyatnya berdagang ke manca negara. Pada abad XIX, Mangkunegara IV mengembalikan tradisi wirausahawan tersebut melalui berbagai strategi. Selain itu, Mangku­negara IV juga mendobrak tradisi “kolot kepriyayinan” Jawa agar mau melakukan bisnis, bukan hanya hidup dalam ke­senangan sebagai trah bangsawan. Karena itu, mengkaji strategi bisnis keluarga Mangkunegaran IV menjadi penting, sebagai bagian dari sejarah perkembangan ekonomi masyarakat Jawa. Dengan metode penelitian sejarah dan pendekatan multidi­mensional, melalui berbagai sumber primer seperti karya-karya sastra Mangkunegara IV, penelitian ini menemukan bahwa strategi bisnis keluarga Mangkunegaran IV dilakukan dengan membangun pusat-pusat perkebunan tebu dan modernisasi pabrik gula secara besar-besaran, sehingga memperoleh pen­dapatan tambahan bagi praja. Kesukses­an bisnis ini menunjukkan kepada para bangsawan Jawa bahwa dia adalah seorang raja yang memiliki jiwa entrepreneur­ship yang kuat.
PSYCHOHISTORY DALAM KAJIAN SELF-ESTEEM TEKS DEKLARASI NU 1983 TENTANG HUBUNGAN PANCASILA DAN ISLAM Jamil, Robit Nurul; Joebagio, Hermanu; Djono, Djono
Jurnal THEOLOGIA Vol 29, No 2 (2018)
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2018.29.2.2825

Abstract

Special concern on the sources of Islamic history contributes to the thoughts and identity of Indonesian Muslims. Muslim self-esteem can be formed from these historical sources. The formation of Muslim self-esteem gives the right decision so that it does not come out of the context of religion and humanity. The historical source used in this study is the text of the 1983 Nahdlatul Ulama Declaration (NU). The concept of Islam Nusantara (NU) 2015 is an implication of the values of the text of the declaration. The purpose of this study is to provide new insights regarding the 2015 NU's concept of Islam Nusantara by analyzing the historical sources of the text of the 1983 NU Declaration and exploring the values of self-esteem contained in the text of the declaration. The study used a qualitative method with psychohistory approach. This study produced two discussions: 1) The 2015 NU's concept of Islam Nusantara. 2) Psychohistory self-esteem in the historical source of the text of the 1983 NU Declaration. This study concluded that the conception of Islam Nusantara 2015 was mandated by the 1983 NU declaration, in its implementation provides Islamic self-esteem that can hinder the process of radicalization.
NARRATION AND DISCOURSE OF BHINNEKA TUNGGAL IKA IN INDONESIAN REVISED HISTORY TEXTBOOK: A HISTORY DIDACTICS APPROACH Djono, Djono; Joebagio, Hermanu
Paramita: Historical Studies Journal Vol 29, No 1 (2019): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v29i1.15311

Abstract

The presented research depicts the narration and discourse of Bhinneka Tunggal Ika in the history subject. By using history didactic approach, this research focuses on two dimensions of analysis: (1) the narration and discourse of the history textbook and (2) teachers’ interpretation as well as objectification towards the discourse of Bhinneka Tunggal Ika in the history textbook. The Socio-cognitive discourse analysis was used as the research method and attitude. The corpus of analysis was the revised edition of the compulsory history textbook published by The Republic of Indonesia’s Ministry of Education and Culture, and the research participants are 15 teachers of Senior High Schools in Surakarta. The remarkable finding of this research is the unequal position between unity and diversity. This research exposes that the textbook posits the narration and discourse of unity above the sense of diversity. These narrations and discourse are confirmed by the most of research participants in which they tend to articulate the importance of unity and integration in their interpretation. Following this interpretation, the teachers’ objectification is postulated in some attitudes such as patriotic, mutual-cooperation, and solidarity, led to the ideology of nationalism. The authors highlighted the unequal position between unity and diversity as the crucial problem in the textbook narration and discourse that, in certain degrees, could become a latent problem for the national integration, such as minority intolerance and annihilation.Keywords: Bhinneka Tunggal Ika, history textbook, unity above diversity Penelitian ini menggambarkan narasi dan wacana Bhinneka Tunggal Ika dalam mata pelajaran sejarah. Dengan menggunakan pendekatan didaktik sejarah, penelitian ini berfokus pada dua dimensi analisis: (1) narasi dan wacana buku teks sejarah dan (2) interpretasi guru serta objektifikasi terhadap wacana Bhinneka Tunggal Ika dalam buku teks sejarah. Analisis wacana sosial-kognitif digunakan sebagai metode dan sikap penelitian. Analisis teks menggunakan edisi revisi dari buku teks sejarah wajib yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dan peserta penelitian adalah 15 guru Sekolah Menengah Atas di Surakarta. Temuan dari penelitian ini adalah posisi yang tidak setara antara persatuan dan keanekaragaman. Penelitian ini mengungkap bahwa buku teks menempatkan narasi dan wacana persatuan di atas rasa keberagaman. Narasi dan wacana ini dikonfirmasi oleh sebagian besar peserta penelitian di mana mereka cenderung mengartikulasikan pentingnya persatuan dan integrasi dalam interpretasi mereka. Setelah interpretasi ini, objektifikasi guru dipostulatkan dalam beberapa sikap seperti patriotik, gotong royong, dan solidaritas, mengarah pada ideologi nasionalisme. Para penulis menyoroti posisi yang tidak setara antara persatuan dan keragaman sebagai masalah krusial dalam narasi dan wacana buku teks yang, dalam derajat tertentu, bisa menjadi masalah laten bagi integrasi nasional, seperti intoleransi minoritas dan pemusnahan.Kata kunci: Bhinneka Tunggal Ika, buku teks sejarah, kesatuan di atas keanekaragaman 
Co-Authors Abdul Aziz Adi Prayitno Akhmad Arif Musadad Akhmad Musadad, Akhmad Alfi Hafidh Ishaqro, Alfi Hafidh Ali Djamhuri Alifia, Latifah Nur Andang Firmansyah Anjar Mukti Wibowo, Anjar Mukti Ariningtyas, Ristiana Eka Asri, Sangkin Mundi Assidiqi, Muadz B Budiyono Bayu Kurniawan Bhisma Murti Budiarto, Mochamad Kamil Budiyono Budiyono Chairany Fitriah Dian Estiningtyas Didik Gunawan Tamtomo Djono Djono Dono Indarto Endah Puspita Sari Esti Dwi Wardayati Esti Nurhayati, Esti Firza, F. Fredyastuti Andryana Harjanti, Noor Hastuti, Tri Puji Hasudungan, Anju Nofarof Heni Rina Setiyawati, Heni Rina Herman J Waluyo Husain Haikal Ihsan Ihsan IZZATUL FAJRIYAH Jamil, Robit Nurul Jati, Linda Puspita Jati, Linda Puspita Leo Agung S Leo Agung S. Leo Agung, Leo Madhan Anis Maria Lodika Long Muhammad Azmi Muhammad Iqbal Birsyada Muhammad Rivai Muhammad Sadikin Naharani, Adrestia Rifki Nunuk Suryani Nurdianto, Saifuddin Alif Nuryasin, Taufiq Omiano Sabu P, Eti Poncorini Pangestu, Ninil Dwi Pawito -, Pawito Prasetya, Hanung Primus Tanesi, Primus Putri, Anak Agung Alit Kirti Estuti Narendra Putriningrum, Eva Rahardjo, Setyo Sri Ratna Herna Purnamawati, Ratna Herna Reka Seprina, Reka Riezal, Chaerol Rita Adriani Benya Adriani S., Sariyatun S., Sumarno S., Sutarmi Sahru Romadloni Saiful Bachri Saptorini, Dyah Sariyatun Sariyatun Sariyatun, S. Sarwiyati, S. Sasmita, Gusti Garnis SRI ASTUTIK Sudiyanto Sudiyanto Sugeng Basuki, Sugeng Sulahyuningsih, Evie Sumiyatun Septianingsih Sunardi Sunardi Sunardi, S. Supanti Supanti, Supanti Supanti, S. Surasmini Surasmini, Surasmini Surasmini, S. Surgawi, Titis Susanto Susanto Sutarto, Agus Suyahmo Suyahmo Titin Ratnaningsih Tri Utami Umi Hartati, Umi Warto - Warto Warto Wasino Wasino Wasino, W. Wibowo, Subekty Windiarti Dwi Purnaningrum Yusinta Tia Rusdiana Zulfikar, Fachri