cover
Contact Name
Chairil Faif Pasani
Contact Email
chfaifp@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
edu.mat@ulm.ac.id
Editorial Address
Ruang Prodi Pendidikan Matematika Gedung FKIP ULM Banjarmasin Jalan Brigjen H. Hasan Basri, Kayu Tangi, Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika
ISSN : 23382759     EISSN : 25979051     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Education,
EDU-MAT adalah jurnal yang didirikan pada tahun 2013 di Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat. EDU-MAT merupakan kumpulan artikel hasil penelitian maupun kajian dosen, peneliti, guru, maupun mahasiswa di bidang pendidikan matematika yang belum pernah dimuat/diterbitkan di media lain. EDU-MAT diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat yang terbit 2 kali dalam setahun, yaitu pada bulan April dan Oktober
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2017)" : 24 Documents clear
KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DAN KEMANDIRIAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN MODEL KNISLEY DI KELAS VIII Sumartono, Sumartono; Karmila, Mely
EDU-MAT Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unlam Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi matematis adalah kemampuan yang harus ada karena kemam­puan komunikasi matematis membantu dalam hal penyampaian informasi serta pendapat dalam pembelajaran. Selain komunikasi matematis, kemandirian belajar adalah salah satu hal penting untuk dimiliki masing-masing individu, karena keman­dirian belajar menjadi salah satutingkat berhasil matematika seseorang. Tujuannya mengetahui bagaimana komunikais matematis dan kemandirian siwa dengan model knisley dan mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara komu­nikasi matematis dankemandirian siswa dalam pembelajaran matematika memakai model knisley di kelas VIII. Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Eksperimental memakai desaian equivalent time series sejumlah enam kali. Penelitian ini meng­gunakan populasi selurus sisa kelas VIII SMP Negeri 5Banjarmasin TA 2016/2017, dan siswa kelas VIII/F sebagai sampel. Observasi dan tes untuk pengumpulan data. Data yang didapat dianalisis memakai mean, persentase, uji korelasi spearman rank dan regresi. Hasil penelitian menunjukan dengan menggunakan model knisley ke­mam­puan komunikasi matematis siswa dalam pembelajaran matematika berada dalam kualifikasi baik sekali, kemandirian siswa sudah berada pada kategori menjadi kebiasaan, dan terdapat hubungan antara kemampuan komunikasi matematis setiap siswa dengan kemandirian siswa. Kata Kunci:Kemampuan Komunikasi matematis, Kemandirian Siswa, Model Knisley
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH GEOMETRI SISWA SMP NEGERI DI KECAMATAN BANJARMASIN UTARA TAHUN PELAJARAN 2016/2017 Sukmawati, R. Ati; Salsabila, Syefira
EDU-MAT Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unlam Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu tujuan dari pembelajaran matematika yaitu memiliki kemam­puan memecahkan masalah suatu masalah. Salah satu pelajaran yang dipercaya dapat meng­ukur kemampuan pemecahan masalah siswa adalah geometri karena banyak membahas tentang benda-benda, definisi, simbol dan gambar yang dapat dijadikan ide atau gagasan oleh siswa. Penelitian yang dilakukan guna untuk menge­tahui bagai­­mana kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dalam matema­tika pada siswa SMP Negeri di Kecamatan Banjarmasin Utara dan mendapatkan gam­ba­ran ten­tang kemampuan pemecahan masalah siswa. Penelitian ini memakai metode des­kriptif. Populasi penelitiannya yaitu seluruh SMP Negeri di Kecamatan Banjarmasin Utara, sedangkan sampel penelitiannya adalah SMP Negeri 27 Banjar­masin dan SMP Negeri 32 Banjarmasin yang dipilih menggunakan teknik sampel acak bertujuan, yakni dengan memilih sekolah yang memiliki kurikulum KTSP dan KKM matematika sama yaitu 75. Pengumpulan data dilakukan dengan mengguna­kan tes, yakni beru­pa soal uraian dan dianalisis. Hasil dari penelitian memperlihatkan (1) kemampuan pe­me­cahan masalah geometri siswa SMP Negeri di Kecamatan Banjarmasin Utara tahun pelajaran 2016/2017 berada pada kualifikasi baik (2) rata-rata nilai akhir dari seluruh siswa berada di atas nilai KKM yang ditentukan sekolah (3) dari hasil uji beda satu arah dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh kesimpulan tidak ada perbe­daan yang signifikan kemampuan pemecahan masalah geometri siswa SMP Negeri di Kecamatan Banjarmasin Utara.Kata kunci: kemampuan pemecahan masalah, geometri
KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA PADA MATERI TEOREMA PYTHAGORAS DI KELAS VIII SMP NEGERI 15 BANJARMASIN TAHUN PELAJARAN 2016/2017 Noor Fajriah; Jumaidi Nor
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/edumat.v5i2.4648

Abstract

Kemampuan yang memegang peran sangat penting pada pembelajaran matematika yaitu kemampuan komunikasi matematis karena komunikasi matematis yaitu kemampuan dalam menulis, menginterretasikan dan mengevaluasi ide, simbol, istilah, serta informasi matematika. Tapi ada faktor-faktor mempengaruhi tahap ke­mam­puan komunikasi matematis siswa, yaitu siswa masih sulit dalam memberikan argumen pada jawaban siswa, siswa juga kesulitan membuat sketsa serta meng­ungkapkan soal atau kejadian sehari-hari ke simbol-simbol matematik. Tujuan pene­litian ini untuk mendeskrpisikan kemampuan komunikasi matematis siswa pada ma­teri Teorema Pythagoras di kelas VIII SMP Negeri 15 Banjarmasinr Tahun Pela­jaran 2016/2017 serta menunjukkan bahwa adanya perbedaan dari kemampuan komu­nikasi matematis siswa  di kelas VIII  A, VIII B, VIII E, VIII F, VIII G, dan VIII H pada materi Teorema Pythagoras di SMP Negeri 15 Banjarmasin Tahun Pelajaran 2016/ 2017. Metodenya deskriptif adalah metode yang dipakai. Semua siswa kelas VIII SMP Negeri 15 Banjarmasin adalah populasi penelitian ini dengan jumlah 246 siswa serta terbagi pada 8 kelas. Sampel penelitiannya yaitu siswa kelas VIII SMP Negeri 15 Banjarmasin sebanyak 6 kelas yang berjumlah 173 orang siswa. Teknik pengum­pulan data memakai bentuk tes yaitu soal uraian. Hasil penelitian ini menyatakan kemampuan komunikasi matematis siswa pada materi Teorema Pythagoras di kelas VIII SMP Negeri 15 Banjarmasin, pada aspek 1 termasuk dalam kualifikasi sangat kurang, pada aspek 2 termasuk dalam  kualifikasi cukup, dan aspek 3 termasuk dalam  kualifikasi cukup. Ada perbedaan signifikan pada aspek kemampuan komu­nikasi matematis  antara siswa kelas VIII A, VIII B, VIII E, VIII F, VIII G, dan VIII H pada kemampuan menyatakan ide-ide matematis melalui tulisan serta menggam­barkan secara visual yaitu hanya pada aspek 1. Kata kunci: Kemampuan Komunikasi matematis, Teorema Pythagoras, dan SMP Negeri 15 Banjarmasin
IDENTIFIKASI KESULITAN MENYELESAIKAN SOAL FUNGSI KOMPOSISI PESERTA DIDIK KELAS X KEUANGAN SMK NEGERI DI BANJARMASIN TAHUN PELAJARAN 2016/2017 Elli Kusumawati; Fitria Aulia
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/edumat.v5i2.4639

Abstract

Menentukan komposisi fungsi adalah bagian kompetensi dasar yang wajib dipunyai siswa. Dalam menyelesaikan soal materi fungsi komposisi beberapa siswa masih ada yang kesulitan ketika menentukan fungsi komposisi. Berdasarkan hasil Praktik Pengajaran di Sekolah, diperoleh informasi peserta didik kesulitan dalam mem­be­rikan alasan sehingga diperoleh indikasi bahwa peserta didik belum mampu dalam menganalisis soal. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kesulitan peserta didik ketika mengerjakan soal dimateri fungsi komposisi dilihat pada langkah penyelesaian. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif dengan populasi selu­ruh anak didik SMK Negeri kelas X Keuangan di Banjarmasin tahun pelajaran 2016/ 2017. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampel total dan sampel acak. Cara pengumpulan data memakai tes dan analisis data memakai persentase. Hasil pe­ne­litian menunjukkan bahwa untuk menyelesaikan soal komposisi dua fungsi (g o f)(x) dan (f o g)(x) peserta didik mengalami kesulitan dalam mensubsti­tusikan fungsi. Menentukan fungsi jika komposisi fungsi dan fungsi lain diketahui peser­ta didik mengalami kesulitan ketika melakukan permisalan kemudian pensub­stitusian. Menyelesaikan soal komposisi tiga fungsi peserta didik mengalami kesuli­tan menuliskan rumus komposisi tiga fungsi (f o g o h)(x). Menyele­saikan soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari (soal cerita) menggunakan fungsi kom­posisi peserta didik mengalami kesulitan dalam menentukan rumus komposisi dua fungsi yang digunakan. Kata kunci: Identifikasi Kesulitan, Fungsi Komposisi
KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP KUBUS DAN BALOK PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI SE KECEMATAN ALALAK TAHUN PELAJARAN 2016/2017 Rizki Amalia; Ayu Mulia Islami
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/edumat.v5i2.4649

Abstract

Pemahaman konsep sangat penting bagi siswa dikarenakan konsep mate­matika saling berhubungan. Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara terlihat kemam­puan pemahaman konsep matematis siswa dalam materi kubus serta balok rendah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, bertujuan mengetahui ke­mam­­­puan pemahaman konsep kubus serta balok siswa SMP Negeri kelas VIII se-keca­matan Alalak. Seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri se-kecamatan Alalak tahun pela­jaran 2016/2017 sebagai populasi dimanasampel diambil dari kelas VIII seba­nyak 30% dari tiap SMP Negeri kecamatan Alalak dengan teknik purposive sam­pling. Tek­nik pengumpulan data menggunakan tes, sedangkan teknik analisisnya meng­gu­na­kan persentase serta rata-rata. Hasil penelitian memperlihatkan kemam­puan pema­ha­man konsep kubus serta balok siswa kelas VIII SMP Negeri se-keca­matan Alalak terkualifikasi sangat tinggi dan tinggi serta nilai rata-rata pemahaman konsep mate­matikanya terkategori baik. Kata Kunci: Kemampuan pemahaman konsep, kubus dan balok.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS VII SMP NEGERI 15 BANJARMASIN TAHUN PELAJARAN 2016/2017 Harja Santana Purba; Lia Lismayanty
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/edumat.v5i2.4640

Abstract

Berdasarkan wawancara dari guru matematika di SMP Negeri 15 Banjar­masin menyatakan terdapat beberapa siswa kelas VII yang rata-rata hasil belajar nya masih rendah. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian penerapan model pem­belajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) yang memiliki tujuan mem­­peroleh perbedaan antara hasil belajar mengunakan model pembe­laja­ran koo­peratif tipe Team Assisted Individualization dan hasil belajar siswa menguna­kan pem­be­lajaran langsung pada mata pelajaran matematika. Peneliti memakai meto­de kuasi eksperimen dengan populasi peserta didik kelas VII SMP Negeri 15 Banjarmasin. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampling bertujuan (purpo­ssive sampling), yaitu memilih kelas VII F sebagai kelas eksperimen diterapkan mo­del pembelajaran koo­peratif tipe TAI dan kelas VII G sebagai kontrol dengan mema­kai pembelajaran lang­sung. Teknik yang digunakan yaitu tes, dan dokumentasi. Ana­lisis statistik data digunakan statistik deskriptif yang terdiri dari rata-rata dan perhitu­ngan persentase, sedangkan statistik inferensial terdapat dari uji normalitas, uji homogenitas, uji t. Hasil yang diteliti memberikan kalau ada perbedaan signifikan yang antara rata-rata hasil belajar peserta didik yang belajar dengan memakai model pembelajaran TAI juga rata-rata hasil belajar peserta didik dengan memakai pem­belajaran langsung. Kata Kunci: model pembelajaran kooperatif tipe TAI, pembelajaran langsung, hasil belajar.
KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA PADA MATERI ARITMATIKA SOSIAL DI KELAS VII SMP NEGERI ALALAK TAHUN PELAJARAN 2016/2017 Hidayah Ansori; W. Banu Oka Sutresna
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/edumat.v5i2.4630

Abstract

Siswa dalam pembelajaran matematika masih berpusat pada hasil, soal-soal yang disajikan mengenai ingatan atau hapalan, siswa tidak dituntut untuk mene-mukan jawaban atau cara berbeda yang lain dalam menyelesaikan masalah. Kuriku-lum 2013 revisi 2017 menuntut kemampuan tingkat tinggi dengan istilah HOTS sehingga kemampuan berpikir kreatif sangat diperlukan dalam proses pembelajaran matematika. Cara berpikir yang berbeda berdasarkan jenis kelamin kemungkinan kemampuan berpikir kreatifnya juga terdapat perbedaan. Oleh karena itu, dilaksa-nakan penelitian kemampauan berpikir kreatif berdasarkan jenis kelamin pada kon-sep aritmatika sosial di kelas VII SMP Negeri Kecamatan Alalak tahun pelajaran 2016/2017. Penelitian ini bertujuan untuk (1) memperoleh deskripsi kemampuan berpikir kreatif siswa laki-laki pada konsep aritmatika sosial di kelas VII SMP Negeri Alalak tahun pelajaran 2016/2017 (2) memperoleh deskripsi kemampuan berpikir kreatif siswa perempuan pada materi aritmatika sosial di kelas VII SMP Negeri Alalak tahun pelajaran 2016/2017 (3) mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kreatif antara siswa laki-laki dan siswa perempuan pada konsep aritmatika sosial di kelas VII SMP Negeri Alalak tahun pelajaran 2016/2017. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri Alalak. Sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan tek-nik purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan tes. Teknik analisis data menggunakan rata-rata, persentase, dan uji T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kemampuan berpikir kreatif siswa laki-laki termasuk dalam kategori sangat kurang. Indikator kelancaran, keaslian dan keluwesan dikategorikan sangat kurang, indikator terperinci dikategorikan kurang, (2) kemampuan berpikir kreatif siswa perempuan termasuk dalam kategori sangat kurang. Indikator kelancaran, keaslian dan keluwesan dikategorikan sangat kurang, indikator terperinci dikategorikan ku-rang, (3) Terdapat perbedaan yang signifikan antara skor kemampuan berpikir kreatif siswa laki-laki dengan skor kemampuan berpikir kreatif perempuan.Kata kunci: berpikir kreatif, jenis kelamin, aritmatika sosial
KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DAN KEMANDIRIAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN MODEL KNISLEY DI KELAS VIII Sumartono Sumartono; Mely Karmila
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/edumat.v5i2.4650

Abstract

Komunikasi matematis adalah kemampuan yang harus ada karena kemam­puan komunikasi matematis membantu dalam hal penyampaian informasi serta pendapat dalam pembelajaran. Selain komunikasi matematis, kemandirian belajar adalah salah satu hal penting untuk dimiliki masing-masing individu, karena keman­dirian belajar menjadi salah satutingkat berhasil matematika seseorang. Tujuannya mengetahui bagaimana komunikais matematis dan kemandirian siwa dengan model knisley dan mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara komu­nikasi matematis dankemandirian siswa dalam pembelajaran matematika memakai model knisley di kelas VIII. Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Eksperimental memakai desaian equivalent time series sejumlah enam kali. Penelitian ini meng­gunakan populasi selurus sisa kelas VIII SMP Negeri 5Banjarmasin TA 2016/2017, dan siswa kelas VIII/F sebagai sampel. Observasi dan tes untuk pengumpulan data. Data yang didapat dianalisis memakai mean, persentase, uji korelasi spearman rank dan regresi. Hasil penelitian menunjukan dengan menggunakan model knisley ke­mam­puan komunikasi matematis siswa dalam pembelajaran matematika berada dalam kualifikasi baik sekali, kemandirian siswa sudah berada pada kategori menjadi kebiasaan, dan terdapat hubungan antara kemampuan komunikasi matematis setiap siswa dengan kemandirian siswa. Kata Kunci:Kemampuan Komunikasi matematis, Kemandirian Siswa, Model Knisley
IMPLEMENTASI MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA SMP NEGERI 23 BANJARMASIN Iskandar Zulkarnain; Winda Evina Dewi
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/edumat.v5i2.4641

Abstract

Dari hasil diskusi bersama guru pamong matematika kelas VIII SMP Negeri 23 Banjarmasin dan hasil pengamatan selama mengikuti Praktik Pengalaman Lapa­ngan di sekolah tersebut diperoleh informasi kemampuan matematis siswa tergolong rendah. Di eksperimen ini, peneliti menerapkan model Problem Based Learning pada pengajaran matematika yang diinginkan bisa menyelesaikan permasalahan itu. Pene­litian ini memiliki tujuan guna mendapatkan informasi mengenai: (1) Hasil belajar siswa yang menerapkan model Problem Based Learning, (2) Hasil belajar siswa yang menerapkan pembelajaran langsung, (3) Perbedaan hasil belajar siswa yang belajar dengan menerapkan model Problem Based Learning dan yang belajar dengan menerapkan pengajaran langsung. Metode yang dipakai pada penelitian ini yaitu meto­de Quasi Experimental Design. Purposive random sampling digunakan sebagai teknik pengambilan sampel dengan mengadopsi dua kelas dari delapan kelas. Untuk menyesuaikan rekomendasi sekolah, dua kelas yang terpilih yaitu kelas VIII D dan VIII H. Kelas kontrol serta eksperimen ditentukan dengan acak, dan kelas VIII H ditetapkan sebagai kelas eksperimen sedangkan VIII D sebagai kelas kontrol. Tes digu­nakan guna menghimpun data. Teknik analisis data yang dipakai adalah statis­tika deskriptif dan statistika inferensial. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa: (1) Hasil belajar siswa SMP Negeri 23 Banjarmasin yang menerapkan model Problem Ba­sed Learning berada pada kualifikasi sangat baik, (2) Hasil belajar siswa SMP Negeri 23 Banjarmasin yang menerapkan pengajaran langsung berada pada kuali­fikasi baik, (3) Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata hasil belajar siswa yang belajar dengan menerapkan model Problem Based Learning dan rata-rata hasil belajar siswa yang menerapkan pengajaran langsung.Kata kunci: Problem Based Learning, matematika siswa SMP
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DALAM MATEMATIKA MENGACU PADA WATSON-GLASER CRITICAL THINKING APPRAISAL PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI DI BANJARMASIN TENGAH TAHUN PELAJARAN 2016/2017 Agni Danaryanti; Adelina Tri Lestari
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/edumat.v5i2.4631

Abstract

Salah satu kemampuan penting untuk dimiliki oleh seorang siswa adalah kemam­­­puan berpikir kritis. Di level SMP, anak mulai mampu menangkap secara lebih jelas maksud dari suatu permasalahan, mempertimbangkan, mengajukan du­ga­an, dan menganalisis dengan sederhana keterkaitan antar subjek permasalahan. Bagi anak usia SMP, di sinilah peran berpikir kritis telah dapat diterapkan bahkan diting­katkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kemampuan berpikir kri­tis siswa kelas VIII SMP Negeri di Banjarmasin Tengah tahun pelajaran 2016/2017. Metode deskriptif adalah metode yang digunakan dalam penelitian ini. Populasi pene­litian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri kecamatan Banjarmasin Tengah. Sampel dalam penelitian ini diambil secara acak. Teknik pengumpulan data menggunakan tes yang berisi soal kemampuan berpikir kritis mengacu pada Watson-Glaser Critical Thinking Appraisal. Teknik analisis data menggunakan inter­pretasi nilai akhir, per­sen­tase, dan rata-rata. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa termasuk dalam kategori sedang. Pada indikator penarikan kesimpulan (infe­rence), kemampuan berpikir kritis siswa berada pada kategori sedang. Pada indikator indikator asumsi (recognition of assumptions), ber­ada pada kategori sangat tinggi. Pada indikator deduksi (deduction), berada pada kategori tinggi. Pada indikator me­naf­sirkan informasi (interpretation), berada pada kate­gori sedang. Pada indikator meng­analisis argumen (evaluation argument), ber­ada pada kategori rendah.Kata kunci: kemampuan, berpikir kritis, Watson-Glaser Critical Thinking  Appraisal

Page 2 of 3 | Total Record : 24