EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika
EDU-MAT adalah jurnal yang didirikan pada tahun 2013 di Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat. EDU-MAT merupakan kumpulan artikel hasil penelitian maupun kajian dosen, peneliti, guru, maupun mahasiswa di bidang pendidikan matematika yang belum pernah dimuat/diterbitkan di media lain. EDU-MAT diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat yang terbit 2 kali dalam setahun, yaitu pada bulan April dan Oktober
Articles
391 Documents
Penggunaan Media Bermain "Bingo Pecahan" untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Kesamaan Nilai Pecahan Pada Siswa Tunarungu
Budi Sanyoto
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/edumat.v3i2.372
Pecahan merupakan bagian dari konsep operasi hitung pembagian. Pada konsep pembagian, bilangan yang dibagi lebih besar dari pembaginya dan hasilnya menunjukkan bilangan yang utuh, hal ini anak bisa belajar dari kebalikan konsep berhitung perkalian. Sedangkan pada pecahan bilangan yang dibagi cenderung lebih kecil dari bilangan pembaginya dan hasilnya tidak bisa menunjukkan hasil yang utuh. Disinilah permasalahan yang sering terjadi pada siswa ketika mempelajari pecahan yang mana bilangan yang dilambangkan bersifat abstrak, apalagi bagi siswa tunarungu, maka guru perlu berimprovisasi dalam mengajarkan pecahan ini dengan menggunakan peraga-peraga dalam rangka meminimalkan verbalisme dan menghilangkan kesan abstrak tersebut. Tujuan penelitian untuk meningkatkan kemampuan pemahaman tentang kesamaan nilai pecahan siswa kelas D3-B SLB-C Negeri Pembina Banjarbaru, dan untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran tentang kesamaan nilai pecahan dengan menggunakan media bermain ”Bingo Pecahan”. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan pada siswa kelas D3-B SLB-C Negeri Pembina Banjarbaru yang berjumlah 5 siswa. Objek dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam pemahaman kesamaan nilai pecahan dan respon siswa dalam pembelajaran tentang kesamaan nilai pecahan dengan menggunakan media bermain ”Bingo Pecahan”. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes dan angket, dan data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif (interpretasi) dan kuantitatif (persentase). Berdasarkan atas penelitian tindakan kelas D3-B SLB-C Negeri Pembina ini, didapatkan adanya perubahan hasil belajar dari siklus I ke siklus II yaitu dari 40% pada akhir siklus I menjadi 80 % pada akhir siklus II. Maka media bermain “bingo pecahan” ini dapat meningkatkan kemampuan pemahaman kesamaan nilai pecahan.. Adapun respon siswa berkenaan pembelajaran menggunakan media bermain “bingo pecahan” menunjukkan respon positif.
MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER DAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 BANJARMASIN
Febriyanti Lusiana Hasibuan;
Hidayah Ansori;
Asdini Sari
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/edumat.v6i2.5683
Pada jenjang Pendidikan, pembelajaran matematika memiliki suatu tujuan salah satunya supaya siswa mempunyai kemampuan untuk memahami konsep matematika. Observasi pendahuluan saat Praktik Pengalaman Lapangan yang dilakukan peneliti, diketahui hasil belajar yang diperoleh siswa SMP Negeri 1 Banjarmasin di kelas VII tahun pelajaran 2017/2018 masih rendah terlihat dari hasil penilaian tengah semester genap (PTS) yang masih berada pada ketuntasan yang rendah. Terdapat faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya hasil belajar salah satunya adalah pemahaman konsep. Dalam usaha mengembangkan pemahaman konsep pada siswa salah satu upaya yang bisa dilakukan dalam proses pembelajaran yaitu penggunaan model advance organizer. Adapun suatu tujuan dipenelitian ini yaitu untuk mengetahui ada atau tidak ada perbedaan suatu pemahaman siswa akan konsep matematis antara siswa kelas model pembelajaran advance organizer dengan siswa kelas model pembelajaran langsung. Penggunaan metode untuk penelitian kali ini yaitu quasi experimental design. Subjek yang ada pada penelitian ini adalah siswa di kelas VII G dan siswa di kelas VII H. Objek dipenelitian ini adalah pemahaman konsep matematis siswa kelas VII pada kelas VII G yang merupakan kelas eksperimen dan siswa kelas VII H yang merupakan kelas kontrol. Penggunaaan model pembelajaran advance organizer dilaksanakan di kelas eksperimen dan penggunaan model pembelajaran langsung dilaksanakan di kelas kontrol. Teknik dan alat pengumpul data pada penelitian ini menggunakan dokumentasi dan tes. Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa pemahaman konsep siswa pada kelas model pembelajaran advance organizer berada pada kategori baik dan pemahaman konsep siswa pada kelas model pembelajaran langsung berada pada kategori cukup, serta terdapat adanya perbedaan yang signifikan pemahaman konsep matematis siswa di kelas model pembelajaran advance organizer dengan siswa di kelas model pembelajaran langsung pada pembelajaran. Kata kunci: Pemahaman konsep matematis, model pembelajaran advance organizer.
Pengaruh Teori Belajar van Hiele terhadao Hasil Belajar Geomteru Siswa Kelas VII SMP
Rusyda Amrina;
Karim Karim
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/edumat.v1i1.556
Salah satu pembelajaran yang dapat mengatasi masalah geometri adalah pembelajaran dengan teori belajar van Hiele karena siswa dapat menemukan sendiri konsep geometri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar geometri siswa yang menggunakan pembelajaran dengan teori belajar van Hiele lebih tinggi dibandingkan hasil belajar geometri siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan populasi seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 3 Banjarmasin. Desain penelitian menggunakan desain Randomized Control Group Only. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif dan uji beda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar geometri siswa yang menggunakan teori belajar van Hiele lebih tinggi dibandingkan hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional. Kata kunci : teori belajar van Hiele, pembelajaran konvensional, hasil belajar
Pengaruh Model Penemuan Terbimbing terhadap Pemahaman Konsep Matematika Siswa Kelas VIII SMP
Karim Karim;
Tiya Maulida
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/edumat.v2i1.605
Matematika merupakan cabang ilmu eksak yang berperan penting baik dalam cabang ilmu lain maupun dalam kehidupan sehari-hari, sehingga sangatlah penting bagi siswa untuk memahami konsep matematika secara benar. Memahami konsep merupakan salah satu tujuan dari pembelajaran matematika. Salah satu cara untuk menanamkan pemahaman konsep adalah dengan menerapkan model pembelajaran penemuan terbimbing, karena pada tahapannya model ini melibatkan siswa secara keseluruhan dan guru hanya sebagai fasilitator. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian dengan tujuan untuk: (1) mendeskripsikan aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan model penemuan terbimbing, (2) mendeskripsikan pemahaman konsep siswa dengan model penemuan terbimbing; dan (3) mengetahui ada atau tidaknya pengaruh penerapan model penemuan terbimbing terhadap pemahaman konsep siswa. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan randomized posttest-only control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Banjarmasin, sedangkan pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling, yaitu mengambil 2 kelas secara acak yang tidak mempunyai perbedaan yang signifikan, sehingga diperoleh kelas VIII D sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII C sebagai kelas kontrol. Pada kelas eksperimen pembelajaran dilakukan dengan menggunakan model penemuan terbimbing, sedangkan kelas kontrol menggunakan pembelajaran konvensional. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, observasi dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan model penemuan terbimbing berada pada kriteria baik dan sangat baik, (2) pemahaman konsep siswa yang menggunakan model penemuan terbimbing berada pada kualifikasi amat baik, dan (3) pemahaman konsep siswa kelas eksperimen yang menggunakan model penemuan terbimbing lebih tinggi dari pemahaman konsep siswa kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional, sehingga dapat dikatakan bahwa model penemuan terbimbing memberi pengaruh pada pemahaman konsep siswa. Kata kunci: model penemuan terbimbing, pembelajaran konvensional, pemahaman konsep
Pembelajaran Geometri dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT)
Siti Mawaddah;
Fenty Ayu Prichasari
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/edumat.v3i1.627
Salah satu masalah pembelajaran yang sering dihadapi siswa adalah masalah pembelajaran matematika, karena hingga saat ini siswa masih menganggap bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dipahami dan membosankan sehingga siswa kurang tertarik untuk mempelajarinya serta dapat berdampak pada hasil belajar siswa. Untuk itu diperlukan pembelajaran yang dapat melibatkan semua siswa aktif dalam pembelajaran, dan tidak membosankan yaitu melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan yang menggunakan pembelajaran konvensional dan mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran geometri dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Penelitian ini menggunakan metode quasi experiment, dengan populasi seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 15 Banjarmasin tahun 2013/2014. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive random samplingyaitu memilih kelas VII F dan VII G sebagai sampel penelitian karena direkomendasikan oleh pihak sekolah. Dari dua kelas yang terpilih, kemudian secara acak menentukan kelas eksperimen yaitu di kelas VII F dan kelas kontrol yaitu di kelas VII G. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, dokumentasi, dan angket. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan yang menggunakan pembelajaran konvensional. Siswa juga memberikan respon positif terhadap pembelajaran geometri dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Kata kunci: model kooperatif tipe NHT, hasil belajar siswa, respon siswa.
Pengaruh Pendekatan CTL Berorientasi Model STAD terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa
Warno Warno
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/edumat.v4i1.2288
Pendekatan pembelajaran merupakan salah satu faktor yang sangat penting yang dapat mempengaruhi hasil belajar matematika siswa. Pemilihan pendekatan dan model pembelajaran yang tepat membantu siswa dalam menyerap materi pelajaran yang berdampak positif pada hasil belajar. Salah satu pendekatan yang bisa diterapkan dalam pembelajaran adalah pendekatan CTL berorientasi model STAD. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendekatan CTL berorientasi model STAD terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V SDN 2 Rampa Kotabaru. Penelitian ini adalah eksperimental semu (quasi experiment) dengan desain Non equivalent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SDN 2 Rampa Kotabaru tahun pelajaran 2013/2014 yang terdiri dari 12 kelas dengan jumlah 368 siswa. Sampel dalam penelitian ini Kelas VA yang berjumlah 30 siswa sebagai kelompok eksperimen. Kelompok eksperimen diberi perlakuan dengan pendekatan CTL berorientasi model STAD. Sedangkan kelas VB yang berjumlah 30 siswa sebagai kelompok kontrol. Kelompok kontrol menggunakan pembelajaran metode ceramah, tanya jawab dan tugas (konvensional). Teknik pengambilan data dilakukan dengan instrumen hasil belajar siswa melalui pretest dan posttest. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji t test yang digunakan untuk menguji beda rata-rata dua sampel. Sebelumnya dilakukan uji normalitas dan homgenitas data. Hasil uji t, gain score diperoleh t hitung > t tabel yaitu 4.766>2.002 dan nilai probabilitas signifikansi < 0,05 yaitu 0,001. Berdasarkan analisis data hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat perbedaan hasil belajar matematika kedua kelompok cukup signifikan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif pendekatan CTL berorientasi model STAD terhadap hasil belajar matematika siswa.
Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achiviement Division (STAD)
Aisjah Juliani Noor;
Rifaatul Husna
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/edumat.v4i2.2578
Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan berargumentasi, memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah sehari-hari dan dalam dunia kerja, serta memberikan dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasil diskusi dengan guru mata pelajaran matematika kelas VIII B SMP Negeri 11 Banjarmasin diperoleh informasi bahwa mereka jarang menggunakan model-model pembelajaran, mereka hanya menggunakan model pembelajaran langsung yaitu guru menuliskan dan menjelaskan materi yang dipelajari, memberikan soal latihan untuk dikerjakan masing-masing siswa kemudian latihan tersebut dikumpul untuk diberi nilai oleh guru. Guru berperan secara dominan sehingga informasi hanya berjalan satu arah dari guru ke siswa, dan siswa kurang berani menyampaikan pendapat dan mengajukan pertanyaan pada saat pembelajaran berlangsung yang menyebabkan komunikasi matematis siswa masih rendah. Aktivitas belajar siswa masih kurang baik dalam kegiatan pembelajaran. Rendahnya aktivitas belajar siswa menyebabkan rendahnya kemampuan komunikasi matematis siswa. Oleh karena itu, untuk meningkatkan aktivitas dan kemampuan komunikasi matematis siswa salah satunya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswa pada saat diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan untuk mengetahui peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa kelas VIII B SMP Negeri 11 Banjarmasin. Penelitian ini dirancang dan dilaksanakan menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) dalam dua siklus. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII B SMP Negeri 11 Banjarmasin yang berjumlah 32 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi, tes, dan observasi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan rata-rata dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata aktivitas siswa dalam model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada tiap aspek meningkat dari kualifikasi cukup pada siklus I menjadi kualifikasi baik pada siklus II dan kemampuan komunikasi matematis siswa juga meningkat pada tiap indikator dari kategori cukup pada siklus I menjadi kategori baik pada siklus II.
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DALAM MATEMATIKA MENGACU PADA WATSON-GLASER CRITICAL THINKING APPRAISAL PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI DI BANJARMASIN TENGAH TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Agni Danaryanti;
Adelina Tri Lestari
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/edumat.v5i2.4631
Salah satu kemampuan penting untuk dimiliki oleh seorang siswa adalah kemampuan berpikir kritis. Di level SMP, anak mulai mampu menangkap secara lebih jelas maksud dari suatu permasalahan, mempertimbangkan, mengajukan dugaan, dan menganalisis dengan sederhana keterkaitan antar subjek permasalahan. Bagi anak usia SMP, di sinilah peran berpikir kritis telah dapat diterapkan bahkan ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMP Negeri di Banjarmasin Tengah tahun pelajaran 2016/2017. Metode deskriptif adalah metode yang digunakan dalam penelitian ini. Populasi penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri kecamatan Banjarmasin Tengah. Sampel dalam penelitian ini diambil secara acak. Teknik pengumpulan data menggunakan tes yang berisi soal kemampuan berpikir kritis mengacu pada Watson-Glaser Critical Thinking Appraisal. Teknik analisis data menggunakan interpretasi nilai akhir, persentase, dan rata-rata. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa termasuk dalam kategori sedang. Pada indikator penarikan kesimpulan (inference), kemampuan berpikir kritis siswa berada pada kategori sedang. Pada indikator indikator asumsi (recognition of assumptions), berada pada kategori sangat tinggi. Pada indikator deduksi (deduction), berada pada kategori tinggi. Pada indikator menafsirkan informasi (interpretation), berada pada kategori sedang. Pada indikator menganalisis argumen (evaluation argument), berada pada kategori rendah.Kata kunci: kemampuan, berpikir kritis, Watson-Glaser Critical Thinking Appraisal
Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation dalam Pembelajaran Matematika untuk Membina Karakter Kreatif dan Tanggung Jawab
Chairil Faif Pasani;
Fista Damayanti
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/edumat.v6i1.5094
Sekarang ini nilai-nilai karakter semakin memudar, sehingga pendidikan karakter perlu diterapkan salah satunya melaui pendidkan sekolah khususnya karakter kreatif dan tanggung jawab. Model pembelajaran group investigation adalah model yang dapat membina karakter kreatif dan tanggung jawab. Tujuan penelitian ini adalah membina karakter kreatif dan tanggung jawab serta memperbaiki hasil belajar siswa dengan mengunakan penerapan model pembelajaran group investigation dan menganalisis hubungan antara karakter kreatif dan tanggung jawab dengan hasil belajar. Metode penelitiannya adalah quasi eksperimen. Sampel penelitiannya adalah siswa kelas VIIIB SMPN 1 Banjarmasin. Teknik mengumpulkan data dengan observasi kelas dan tes uraian. Teknik penyelidikan data fakta dengan memakai statistika penjabaran dan inferensial. Hasil penelitian menunjukan model pembelajaran group investigation dapat membina karakter kreatif dan tanggung jawab siswa serta bisa memperbagus nilai siswa, ada kaitan antara perilaku kreatif dan tanggung jawab dengan nilai siswa.Kata Kunci: group investigation; kreatif; tanggungjawab
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE ROTATING TRIO EXCHANGE TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI
Sahril Sahril;
Noor Fajriah;
Sumartono Sumartono
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/edumat.v6i2.5678
Model pembelajaran kooperatif tipe Rotating Trio Exchange (RTE) merupakan model pembelajaran berkelompok dimana ada rotasi siswa dalam kelompok agar tercipta kelompok-kelompok belajar yang mampu memberikan pemahaman dan memunculkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Penelitian ini diharapkan dapat mendeskripsikan: (1) kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang menerapkan model kooperatif tipe RTE dan (2) efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe RTE dibandingkan dengan model pembelajaran langsung terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Metode yang digunakan adalah eksperimen semu dan Nonequivalent Group Pretest Posttest Design sebagai desain penelitian. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas X SMK ISFI Banjarmasin dengan jumlah 101 siswa yang tersebar dalam empat kelas. Sampel penelitian adalah 28 siswa kelas X C Farmasi SMK ISFI Banjarmasin sebagai kelas eksperimen dan 29 siswa kelas X A Farmasi SMK ISFI Banjarmasin siswa sebagai kelas kontrol yang dipilih berdasarkan purposive sampling. Teknik pengumpulan data adalah dokumentasi dan tes. Data yang didapatkan dianalisis menggunakan statistika deskriptif dan statistika inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe RTE berada pada klasifikasi baik dan (2) model pembelajaran kooperatif tipe RTE lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran langsung terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.Kata Kunci: Rotating Trio Exchange (RTE), kemampuan berpikir tingkat tinggi, menganalisis, mengevaluasi, mencipta