cover
Contact Name
Radyana
Contact Email
rasdyana@gmail.com
Phone
+628529995952
Journal Mail Official
journal@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University of Makassar, Indonesia Jl.H.M.Yasin Limpo No. 36 Samata, Gowa, Sulawesi Selatan.
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Nature: National Academic Journal of Architecture
ISSN : 23026073     EISSN : 25794809     DOI : -
NATURE: National Academic Journal of Architecture (P-ISSN: 2302-6073, E-ISSN:2579-4809) adalah publikasi ilmiah untuk topik penelitian dan kritik yang tersebar luas dalam studi Desain Arsitektur.
Arjuna Subject : -
Articles 222 Documents
KAJIAN KONSEP LINKAGE PADA KAWASAN TOD (TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT) WEST KOWLOON, HONG KONG Nusyawal, Muhammad Fikri; Purwantiasning, Ari Widyati
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 1 (2020): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i1a10

Abstract

Abstrak_ Pertumbuhan penduduk yang semakin hari semakin bertambah mengakibatkan kepadatan penduduk pada suatu wilayah. Perkotaan  merupakan salah satu wilayah yang signifikan terkena dampak dari kepadatan penduduk tersebut. TOD (Transit Oriented Develompent) merupakan konsep kawasan perkotaan yang memiliki visi untuk menjadi solusi terhadap dampak dari kepadatan penduduk. Kawasan TOD merupakan kawasan perkotaan yang relatif kompleks dan rumit. Kawasan ini memiliki kecenderungan membuat orang-orang merasa bingung dan tersesat dalam beraktivitas atau bergerak. Penelitian ini membahas tentang elemen-elemen linkage visual  berdasarkan teori linkage visual Roger Trancik dan menganalisis penerapan terhadap kawasan TOD. Hasil penelitian disimpulkan bahwa elemen-elemen linkage visual yang teridentifikasi cenderung mengarahkan (membentuk pola) dan mempertegas aktivitas dengan titik pusat kawasan TOD.Kata Kunci: Kawasan; Linkage Visual; TOD (Transit Oriented Development)Abstract_ Population growth is increasingly increasing, resulting in overcrowding in a region. Urban is one area that is significantly affected by population density. TOD (Transit Oriented Development) is an urban area concept that has the vision to be a solution to the impact of population density. The TOD area is a relatively complex and complicated metropolitan area. This area has a tendency to make people feel confused and lost in activities or moving. This study discusses the elements of visual linkage based on Roger Trancik's visual linkage theory and analyzes the application to the TOD region. The results of the study concluded that the details of identified visual linkage tended to direct (form patterns) and reinforce activities with the focal point of the TOD region.Keyword: District, Linkage Visual, TOD (Transit Oriented Development)
EKSPLORASI SIRIP MATAHARI SEBAGAI KONSEP MEREDUKSI SILAU MATAHARI DI GEDUNG KULIAH UNIVERSITAS BENGKULU Ramawangsa, Panji Anom; Prihatiningrum, Atik
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 1 (2020): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i1a4

Abstract

Abstrak_Rasa nyaman merupakan salah satu bagian hal penting dalam kelangsungan hidup manusia dan salah satunya adalah kenyamaan visual dari pencahayaan alami. Gedung Kuliah Bersama V (lima) memiliki masalah kelebihan paparan matahari pada sisi samping fasad bangunan akibat pada posisi tersebut berada di sisi Barat dan Timur serta minimnya elemen pembayangan pada bangunan maka dibutuhkan solusi berupa desain sirip matahari sebagai pereduksi silau matahari yang berlebih terhadap bangunan. Metode yang digunakan adalah metode eksplorasi dengan membuat ragam bentuk sirip matahari dan menggunakan metode transformasi lipat dalam mengubah bentuk dasar sirip matahari menjadi bentuk baru dengan kriteria yang akan dicapai adalah jumlah tungkai penggerak bidang kurang dari 5 tungkai dengan bidang yang dapat berintegrasi dengan bentuk fasad. Hasil yang didapat adalah ragam bentuk sirip matahari yang didapat dari ekplorasi bentuk dasar sirip matahari dan pemilihan bentuk horizontal 1 yang sesuai dengan bentuk fasad gedung kuliah bersama V.Kata kunci: Eksplorasi; Silau; Sirip Matahari. Abstract_ Feeling comfortable is an important part of human survival and one of them is the visual comfort of natural lighting. Gedung Kuliah Bersama V (five) has the problem of excessive sun exposure on the side of the building facade due to the position being on the west and east sides and the lack of a shadowing element in the building so that a solution is needed in the form of a sun-shading design to reduce excessive sun glare on the building. The method used is an exploration method by making various forms of the sun shading and using the method of transformation of wrinkles, folding in changing the basic shape of the sun shading into a new form with the criteria to be achieved is the number of moving limbs of less than 5 limbs with fields that can be integrated with the shape facade. The results obtained are various forms of kinetic sun shading obtained from the exploration of the basic shape of the sun shading and the selection of the horizontal plane 1 shape by the shape of the facade Gedung Kuliah Bersama V.Keywords: Exploration; Glare; Sun-Shading.
IDENTIFIKASI FAKTOR PREFERENSI POSISI RUANG TIDUR ORANG TUA DAN ANAK DI RUMAH TINGGAL Hatta, Asta Juliarman; Kusuma, Hanson E; Fitriani, Dara
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 1 (2020): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i1a8

Abstract

Abstrak_ Ruang tidur adalah ruang utama yang dibutuhkan oleh penghuni rumah untuk tempat beristirahat di rumah tinggal. Salah satu persoalan penting yang perlu diperhatikan agar ruang tidur dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan penghuni rumah adalah posisi ruang tidur di dalam rumah tinggal. Dalam proses menentukan pilihan setiap seseorang memiliki pertimbangan dan kecenderungan yang berbeda yang dipengaruhi oleh pengalaman pribadi. Penelitian ini bertujuan mengungkap faktor-faktor preferensi posisi ruang tidur orang tua dan anak di rumah tinggal. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan grounded theory yang diperoleh melalui hasil kuesioner daring yang dibagikan secara non-random sampling. Hasil penelitian mengungkapkan terdapat sembilan faktor preferensi responden dalam memilih tiga posisi ruang tidur orang tua dan anak, yaitu aksesibilitas, keinginan, privasi, kenyamanan, kedekatan, interaksi, keamanan, pengawasan, dan tradisi.Kata kunci: Preferensi; Ruang Tidur; Rumah Tinggal. Abstract_ Bedroom is the main space that is needed by householder as a place to rest at home. One important issue that has to be considered to the bedroom can function properly with the needs and concerns of the householder is the position of bedroom space in the house. In the process of choosing, every person has different consideration and tendency that are influenced by personal experience. The purpose of this research aims to clarify the bedrooms’ position preferences of parents and children at home. The research administered qualitative methods by collecting data through online questionnaires that were distributed by non-random sampling. The result of the analysis revealed nine criteria of respondent’s preferences in choosing the three positions of parents and children bedroom, namely accessibility, desire, privacy, comfortability, proximity, interaction, security, controllability, and tradition.Keywords: Bedroom; Home; Preference.
DIALEKTIKA BUK SEBAGAI BENTUK KESEDERHANAAN MATERIALITAS DALAM SPASIALISASI ARSITEKTUR DI DUSUN MALANGSUKO MELALUI PERSPEKTIF EKISTICS Yusran, Yusfan Adeputera; Utama, Afidz Aditya
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7, No 2 (2020): Nature
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic Univ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i2a2

Abstract

Abstrak_ Budaya dalam suatu ruang muncul sebagai respon manusia dalam memaknai tempatnya beraktivitas. Seiring semakin intensnya digunakan, ruang itu dapat memberikan makna yang mendalam bagi penggunanya. Penelitian ini mengangkat sebuah fenomena yang terjadi di Jalan Melati, Desa Malangsuko, Malang yaitu sebuah konstruksi lokal sederhana pengaman selokan yang bernama Buk dapat menciptakan ruang interaksi yang intens digunakan oleh masyarakat setempat. Lama-kelamaan ruang ini cenderung membentuk sebuah budaya interaksi yang mewarnai kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Secara eksploratori, penelitian ini diawali dengan mengkaji kondisi riil Buk di lokasi untuk mendapatkan bagaimana peran Buk dalam terciptanya ruang budaya. Melalui perspektif Ekistics, fenomena keberadaan Buk dibaca dengan menggunakan aspek alam (nature), manusia (man), masyarakat (society), naungan (shells), dan jaringan (network). Disamping itu, dilakukan pula kuantifikasi hasil kajian kualitatif tersebut dengan menyebarkan kuesioner kepada masyarakat yang tinggal di sepanjang Jalan Melati Desa Malangsuko. Hasilnya menunjukkan bahwa memang proses sosial di dalamnya merupakan hasil dari bagaimana masyarakat di tempat ini memanfaatkan Buk ini dan sekaligus menjadikannya tempat berinteraksi. Proses sosial yang terjadi di tempat ini menunjukkan bahwa Buk memiliki peran sebagai pendukung terjadinya interaksi yang saling berkesinambungan serta memperlihatkan bagaimana manusia menciptakan sebuah elemen konstruksi sederhana sebagai tanggapan alam yang kemudian dimanfaatkan oleh mereka sehari-hari. Kata kunci : Arsitektur yang Sederhana; Ekistics; Spasialisasi. Abstract_ Culture in a space arises as a human response to interpret their activity’s place. As more and more intensely used, space can give a deep meaning to its users. This research attempts to raise a phenomenon that occurs in Jalan Melati in Malangsuko hamlet, Malang where a simple local construction for the gutter safety called Buk can create an intense interaction space used by the local community. Over time this space tends to form a culture of interaction that colours the daily lives of the locals. Exploratively, this study began by examining the real condition at the site to get the role of the Buk in creating cultural space. From the Ekistics perspective, the existence of Buk is read using the five ekistics’ principles; Nature, Man, Society, Shells, and Network. Also, the obtained qualitative study results were quantified by distributing questionnaires to the locals who live along Jalan Melati. The results show that the social process in it is a result of how the locals use this Buk and, at the same time, make it a place to fulfil their social needs. The social processes that occur at there show that Buk has a role as a supporter of continuous interaction and shows how the locals create a simple construction element in response to nature and then utilized it on their daily basis.Keywords:  Ekistics; Inornate Architecture; Spatialization.
KAJIAN DESAIN LANSKAP KORIDOR JALAN DAGO BERDASARKAN PERSEPSI MASYARAKAT DALAM MENDUKUNG CITY BRANDING KOTA BANDUNG Aprillia, Kusriantari Fenny; Rochimah, Estuti
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 1 (2021): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i1a8

Abstract

Abstrak_Kota Bandung sedari dulu dikenal dengan julukan Paris Van Java, memberikan citra tersendiri bagi masyarakat. Paris Van Java lahir dari suasana ruas Jalan Braga dan Jalan Asia Afrika pada zaman Kolonial Belanda. Hingga saat ini pun kedua ruas tersebut merupakan citra kota yang paling kuat dalam slogan Paris Van Java. Kota Bandung sama halnya dengan kota lain di Indonesia, ikut membangun city branding. Pembangunan city branding di Kota Bandung dilakukan dengan banyak cara, salah satunya adalah pembangunan fisik. Pembangunan fisik dilakukan Pemerintah Kota Bandung salah satunya dengan merevitalisasi ruas-ruas jalan. Koridor Jalan Dago adalah salah satu jalan yang ikut direvitalisasi, yaitu dengan konsep trotoar lebar dan penggunaan prinsip panca trotoar bergaya vintage seperti di Jalan Braga dan Jalan Asia Afrika. Adanya revitalisasi Jalan Dago memberikan citra baru pada koridor jalan ini. Oleh karena itu penelitian ini memiliki tujuan untuk mengungkap sejauh mana desain lansekap koridor Jalan Dago setelah revitalisasi dapat mendukung City Branding Kota Bandung, yaitu Paris Van Java. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, serta teknik pengambilan data menggunakan cara survey lapangan dan kuesioner. Hasil yang  didapatkan adalah, revitalisasi koridor Jalan Dago memberikan image positif bagi citra kota dan dapat merepresentasikan Paris Van Java.Kata kunci: City Branding; Koridor jalan; Paris Van Java. Abstract_ The City of Bandung known as the so-called Paris Van Java gives its own image to the local community. Paris Van Java was born of the atmosphere of Braga and Asia Afrika roads in the days of Dutch colonialism. Until today, those roads are the most powerful city image of the Paris Van Java slogan. Bandung city as well as other cities in Indonesia builds city branding. Building city branding in Bandung City is done in many ways, one of them by physical development. Physical development by local government executed by the revitalization of road corridors. Dago corridor is one of the corridors that revitalized, namely by wider sidewalk concept and using the principle of panca protostar (five sidewalks) which is vintage as in Braga and Asia Afrika road. Dago corridor revitalization gives a new image to this corridor. Therefore this research has the purpose to uncover the extent of the landscape corridor design of Dago after revitalization can support city branding of Bandung City, which is Paris Van Java. The methodology used is descriptive quantitative, then data collection by site observation and questionnaire. The result is, the revitalization gives a positive image to the city and presents Paris Van Java.Keywords:  City Branding; Road Corridor; Paris Van Java.
STUDI KARAKTERISTIK RUANG PADA BANGUNAN RUMAH TINGGAL KOLONIAL DI KAWASAN BANGIREJO TAMAN YOGYAKARTA Wihardyanto, Dimas; Ikaputra, Ikaputra
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 2 (2020): December
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i2a7

Abstract

Abstrak_ Bangirejo Taman merupakan salah satu kawasan perumahan untuk para pegawai pemerintahan  kolonial Belanda (amtenar) yang berada di Yogyakarta. Penggunaan kata taman dibelakang Bangirejo pada kawasan perumahan ini untuk memperjelas perbedaan karakteristik kawasan perumahan ini dengan permukiman di sekitarnya dimana kawasan perumahan Bangirejo Taman didesain dengan adanya taman lingkungan di tengah kawasan. Peneliti menggunakan pendekatan interpretive historical research untuk mendapatkan karakteristik arsitektur tata ruang yang asli mencakup tata massa, tata ruang, orientasi, sirkulasi, serta hubungan dan hirarki ruang. Karakteristik tersebut didapatkan dengan cara melakukan proses gambar rekonstruksi tata ruang pada perumahan kolonial Bangirejo Taman berdasarkan analisis kesamaan dan perbedaan gambar denah 7 buah rumah tinggal yang dipilih dengan pendekatan snowball sampling. Dari hasil analisis diketahui bahwasanya karakteristik tata ruang bangunan rumah tinggal kolonial di Kawasan Bangirejo Taman dirancang terutama untuk memenuhi aspek fungsionalitas. Hal ini tampak dari adanya pemisahan antara bangunan inti (hoofdgebouw), dan bangunan servis (bijgebouw) yang keduanya dihubungkan oleh selasar. Karakteristik tersebut diperkuat dengan pola konfigurasi dan sirkulasi ruang pada bangunan inti dan servis yang tunggal dan sederhana. Selain memenuhi fungsionalitas ruang, perancangan rumah tinggal kolonial di Kawasan Bangirejo Taman juga memperhatikan higienitas ruang dengan meletakkan bangunan inti dan bangunan servis di bagian tengah dari lahan agar mendapatkan sinar matahari yang cukup, dan prinsip cross ventilation dapat diterapkan.Kata kunci : Arsitektur Kolonial; Karakteristik Ruang; Rumah Tinggal Kolonial; Interpretive Historical Research. Abstract_ BangirejoTaman is a residential area for the employees of the Dutch colonial government (Amtenaar) located in Yogyakarta. The use of the word taman (park) behind Bangirejo in this residential area is to clarify the differences in the characteristics of this residential area with the surrounding settlements where the BangirejoTaman residential area is designed with a neighborhood park in the middle of the area. Researchers used an interpretive historical research approach to obtain the characteristics of the original spatial architecture including spatial planning, spatial planning, orientation, circulation, and relationships, and hierarchical space. These characteristics were obtained by carrying out a process of drawing spatial reconstruction in the colonial housing estate BangirejoTaman based on an analysis of the similarities and differences in the drawings of 7 residential planes that were selected using a snowball sampling approach. From the results of the analysis, it is known that the characteristics of the spatial structure of colonial residential buildings in the BangirejoTaman Area are designed primarily to meet the functional aspects. This can be seen from the separation between the core building (hoofdgebouw), and the service building (bijgebouw) which are both connected by a hallway. These characteristics are reinforced by the pattern of configuration and circulation of space in the core building and a single and simple service. In addition to fulfilling spatial functionality, the design of colonial dwellings in the BangirejoTaman Area also pays attention to space hygiene by placing core buildings and service buildings in the middle of the land in order to get enough sunlight, and the principle of cross ventilation can be applied.Keywords:  Colonial Architecture; Spatial Characteristics; Colonial House; Interpretive Historical Research.
DEFINING THE CONCEPTS & APPROACHES IN VERNACULAR ARCHITECTURE STUDIES Asadpour, Ali
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 2 (2020): December
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i2a8

Abstract

Abstrak_ Makalah ini membahas arsitektur vernakular dalam hal konsep dan pendekatan dalam studi. Keragaman definisi, sikap, dan preferensi telah menghasilkan berbagai pendekatan dalam beberapa dekade terakhir. Mengenali perbedaan ini dapat membantu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang kondisi saat ini dan cakrawala masa depan dalam penelitian. Tujuan dari penelitian ini termasuk mengidentifikasi dan mengkategorikan pendekatan dominan terhadap arsitektur vernakular. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan deskriptif. Hasil penelitian mengidentifikasi lima kecenderungan yang dianggap arsitektur vernakular sebagai objek estetika, fenomena biologis (jenis dan evolusi), substansi material-fisik (penjelasan fisik), realitas budaya-sosiologis, dan akhirnya sebagai fenomena antropologis. Pendekatan-pendekatan ini merepresentasikan perpindahan dari dokumentasi ke interpretasi, objektivitas ke subjektivitas, dan primitif ke biasa dalam studi. Fenomenologi, hermeneutika, semiotik, studi gender, dan feminisme menetapkan cakrawala baru bagi penelitian arsitektur vernakular. Evolusi sikap dapat dijelaskan di bawah perubahan paradigma penelitian dari positivisme ke post-positivisme dan fenomenologi.Kata kunci: Arsitektur Vernakular; Desain Iklim; Budaya; Sosiologi; Tipologi. Abstract_ This paper addresses vernacular architecture in terms of concepts and approaches in studies. The diversity of definitions, attitudes, and preferences has led to a variety of approaches in recent decades. Recognizing these differences can help to obtain a deeper understanding of today's conditions and future horizons in research. The objectives of this study included identifying and categorizing the dominant approaches toward vernacular architecture. The research used a qualitative and descriptive method. The results identified five tendencies considered vernacular architecture as an object of aesthetics, a biological phenomenon (types and evolution), a material-physical substance (physical explanations), a cultural-sociological reality, and finally as an anthropological phenomenon. These approaches represented the movement from documentation to interpretation, objectivity to subjectivity, and primitive to ordinary in the studies. Phenomenology, hermeneutics, semiotics, gender studies, and feminism set new horizons for vernacular architectural research. The evolution of attitudes can be explained under the change in research paradigms from positivism to post-positivism and phenomenology.Keywords:  Vernacular Architecture; Climatic Design; Culture Sociology; Typology.
POLA SEBARAN PERMUKIMAN KUMUH (STUDI KASUS : KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTA SEMARANG) Aspin, Aspin; Nafsi, Nur
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 1 (2021): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i1a4

Abstract

Abstrak_ Kecamatan Semarang Utara merupakan Kecamatan dengan potensi sosial ekonomi yang tinggi karena didalamnya terdapat pelabuhan, stasiun kereta api dan kawasan-kawasan komersial, potensi sosial ekonomi yang tinggi menyebabkan tingginya aktivitas di lokasi tersebut. Akibatnya wilayah tersebut menarik untuk dijadikan sebagai tempat bermukim, seiring berjalannya waktu banyak pendatang yang ingin tinggal dan menetap di wilayah tersebut, yang kemudian berimbas pada meningkatnya kebutuhan lahan, dan akhirnya mendirikan bangunan di lahan-lahan yang terbatas dan berpotensi untuk menimbulkan kawasan-kawasan kumuh.Penelitian ini bertujan untuk mengetahui Pola Sebaran Permukiman Kumuh di Kecamatan Semarang Utara.Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan analisis pola sebaran permukiman kumuh yang meliputi sebaran permukiman kumuh dan bentuk-bentuk permukiman kumuh.Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan rasionalistik. Terdapat 10 titik sebaran permukiman kumuh di Kecamatan Semarang Utara, 6 titik sebaran kawasan kumuh diantaranya membentuk pola permukiman terpusat atau mengelompok, dan 4 titik sebaran kawasan kumuh lainnya membentuk pola permukiman linier mengikuti jalan, mengikuti sungai dan rel kereta api. Kawasan kumuh tersebut cenderung tumbuh mendekati sekitar kawasan industri, kawasan sempadan sungai, kawasan pasar, kawasan pelabuhan, stasiun dan rel kereta api.Kata Kunci: Permukiman Kumuh; Sebaran Permukiman; Pola Permukiman. Abstract_ North Semarang Sub-district is a sub-district with high socio-economic potential. There are ports, railway stations, and commercial areas; high socio-economic potential causes high location. As a result, the site is interesting to be used as a place to live; as the passage of time, many migrants want to stay and settle in the area, which then impacts on the increasing demand for land, and eventually builds buildings on limited grounds and potentially to cause slum areas. This research aims to find out the pattern of the distribution of slum settlements in the North Semarang District. To achieve these objectives, several analyses are analyzed for slum settlement patterns covering the distribution of slums and slum forms—this research using the qualitative descriptive method with a rationalistic approach. There are 10 points of distribution of slum settlements in the North Semarang Sub-district, 6 spots of slum areas among them form a centralized or clustered settlement pattern, and four other spots of slum areas form a linear settlement pattern following the road, following the rivers and railways. The slum areas tend to grow close to industrial areas, riverbanks, market areas, port areas, stations, and railways.Keywords:  Slum Settlement; Distribution Of Settlements; Settlement Patterns.
HEALING LANDSCAPES: THE EFFECTS OF ITS PARAMETERS ON DIFFERENT GENDER (CASE STUDY: ERAM GARDEN & AZADI PARK OF SHIRAZ-IRAN) Razmara, Mina; Asadpour, Hajar; Taghipour, Malihe
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 2 (2020): December
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i2a4

Abstract

Abstrak_ Lanskap penyembuhan menciptakan ruang yang membantu orang mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental mereka. Dalam budaya Iran, taman bersejarah serta taman kota (dalam beberapa dekade terakhir) dapat bermanfaat untuk menciptakan lanskap penyembuhan. Mempertimbangkan model Canter Place, parameter lanskap penyembuhan disajikan dalam bentuk tiga dimensi: fungsional, persepsi-semantik, dan fisik-visual. Karena pria dan wanita berperilaku berbeda dalam menghadapi lingkungan mereka, penelitian ini mengevaluasi bagaimana taman Persia dan taman kota berpengaruh (dengan dua pola struktural yang berbeda) di antara pria dan wanita. Metode penelitian adalah kuantitatif, dan data dikumpulkan dengan teknik kuesioner. Kemudian, analisis varian variabel Unianova tunggal dalam perangkat lunak SPSS 23 digunakan untuk mengevaluasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam persepsi dimensi dalam penyembuhan antara pria dan wanita. Pemahaman seorang wanita tentang dimensi penyembuhan persepsi-semantik dan fungsional di Azadi Park berbeda dan kurang dari pria. Di Taman Eram, tidak seperti Taman Azadi, tidak banyak perbedaan antara kegiatan pria atau wanita. Secara umum, umpan balik wanita lebih rendah daripada pria, pada parameter penyembuhan lingkungan Azadi Park (struktur lanskap organik). Oleh karena itu, perlu untuk lebih memperhatikan inklusivitas gender dari lanskap penyembuhan perkotaan dalam desain.Kata kunci : Lanskap Penyembuhan; Taman Persia; Taman Kota; Taman Shiraz Eram; Jenis Kelamin. Abstract_ Healing Landscapes are spaces that help people to reduce their stress and improve their mental health. In Iranian culture, historic gardens and urban parks (in recent decades) can be useful to create healing landscapes. Considering the Canter Place model, the parameters of landscape healing presented in the form of three dimensions: functional, perceptual-semantic, and physical-visual. Since men and women behave differently in dealing with their surroundings, this research evaluates how Persian gardens and urban parks effect (with two different structural patterns) among men and women. The research method was quantitative, and data gathered by the questionnaire technique. Then, Unianova single-variable analysis of variance test in SPSS 23 software was used to evaluate the data. The results indicated no difference in the perception of the physical-visual dimension of healing between men and women. A woman's understanding of the perceptional-semantic and functional dimension of healing in Azadi Park was different and less than men. In Eram Garden, unlike Azadi Park, there was not much difference between of men or women’s activities.  In general, women's feedback is lower than men, on the environment healing parameters of Azadi Park (organic landscape structure). Therefore, it is necessary to pay more attention to the gender inclusiveness of urban healing landscapes in design.Keywords:  Healing Landscape; Persian Garden; Urban Park; Shiraz Eram Garden; Gender.
EVALUATION AND STUDY PLAN THE FISHERMEN SETTLEMENT CASE STUDY: WURING VILLAGE, WEST ALOK DISTRICT, SIKKA REGENCY Boer, Alexius
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 2 (2020): December
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i2a9

Abstract

Abstrak. Desa nelayan merupakan desa yang mata pencaharian penduduknya adalah perikanan laut. Meningkatnya jumlah penduduk desa nelayan menyebabkan peningkatan kebutuhan hidup yaitu kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan serta mengakibatkan kondisi kualitas lingkungan yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mengkaji kondisi pola spasial permukiman nelayan dan arahan penataan permukiman nelayan di Permukiman Wuring. Penelitian dilakukan dengan penelitian kualitatif. Tahap ini akan melakukan evaluasi dan penilaian kondisi spasial permukiman. Analisis data yang digunakan didasarkan pada skor dengan kriteria dan indikator yang telah ditentukan (Dirjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum, 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan kegiatan identifikasi Kawasan Permukiman. Kumuh). Evaluasi kondisi permukiman nelayan di Perkampungan Wuring dapat dilihat dari nilai total keseluruhan komponen penilaian untuk Sembilan komponen penilaian. Hasil yang diperoleh adalah 2,88, artinya secara keseluruhan kualitas permukiman nelayan masih tergolong buruk karena di bawah angka 3. Arah pengembangan Perkampungan Wuring harus berdasarkan tata guna lahan. Pembagian zonasi kawasan permukiman nelayan Desa Wuring terdiri atas: Zona I, Perdagangan dan Jasa, Zona II, Pemanfaatan dan Zona III, Perlindungan. Kami menyimpulkan bahwa Desa Wuring dinilai buruk oleh karena itu mereka harus menata kembali kawasan tersebut menjadi zona tiga titik, Zona II dan Zona III.Kata Kunci: Evaluasi; Penilaian; Pola Ruang; Perkampungan Wuring; Zona Abstract. The increase in the fisherman village population causes an increase in the necessities of life, namely the need for clothing, food, shelter, education, and health, and leads to poor environmental quality conditions. This study aims to evaluate and assess the condition of the spatial pattern of fishermen settlements and the direction of arrangement of the fishermen settlement in Wuring Village. The research was conducted by qualitative research. This stage will carry out an evaluation and assessment of the spatial conditions of the settlement. The data analysis used is based on a score with predetermined criteria and indicators (DirjenCiptaKarya, Ministry of Public Work, 2014, concerning Guidelines for Implementation of Settlement Area identification activities. Grungy). Evaluation of the condition of the fishermen settlement in Wuring village can be seen from the total value of the overall assessment components for the 9 assessment components. The result obtained is 2.88, meaning that the overall quality of the fishermen settlement is still considered poor because it is below number 3. The zoning division in the fishing settlement area of Wuring village consists of Zone I, Trade and services, Zone-II, Utilization, and Zone III, Protection. We conclude that Wuring Village assed as a bad point therefore they should rearrange the area to be three-point Zone I, Zone II, and Zone III.Keywords: Evaluation; Assessment; Spatial Pattern; Wuring Village; Zone