cover
Contact Name
Radyana
Contact Email
rasdyana@gmail.com
Phone
+628529995952
Journal Mail Official
journal@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University of Makassar, Indonesia Jl.H.M.Yasin Limpo No. 36 Samata, Gowa, Sulawesi Selatan.
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Nature: National Academic Journal of Architecture
ISSN : 23026073     EISSN : 25794809     DOI : -
NATURE: National Academic Journal of Architecture (P-ISSN: 2302-6073, E-ISSN:2579-4809) adalah publikasi ilmiah untuk topik penelitian dan kritik yang tersebar luas dalam studi Desain Arsitektur.
Arjuna Subject : -
Articles 222 Documents
PHYSICAL ELEMENTS OF ACCESSIBILITY FOR WAYFINDING IN AN INFORMATION DEFICIT TOURISM AREA Laksita, Isabella Nindya; Marcillia, Syam Rachma
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 2 (2020): December
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i2a1

Abstract

Abstrak_ Riset ini menyelidiki desa Sanggrahan sebagai pemukiman padat dan perkembangan organik yang sudah tumbuh dari waktu ke waktu menjadi pusat industri rumah tangga bakpia, sebagai tujuan wisata kuliner yang penting di Yogyakarta. Tujuan dari riset ini yaitu untuk menyelidiki pengaruh unsur-unsur fisik aksesibilitas sebagai strategi pencarian arah turis di wilayah defisit data untuk keberlanjutan kawasan pariwisata. Metode riset ini merupakan pemetaan kognitif dan kuesioner terbuka. Hasilnya menunjukkan bahwa di wilayah defisit data, turis cenderung melewati jalan dengan konektivitas yang lebih baik dari semula. Minimnya data di desa, memungkinkan turis menggunakan elemen fisik kota untuk mencari informasi aksesibilitas seperti jalan, simpul, tepi, dan landmark sebagai panduan untuk mencari jalan mencapai toko bakpia, meskipun kondisi fisik elemen dari aksesibilitas ini tidak memadai. Sebaliknya, konsep distrik digunakan oleh turis untuk mengetahui posisi mereka di distrik penjualan Bakpia Pathuk.Kata kunci: Elemen Fisik; Mencari Jalan; Desa Sanggrahan.Abstract_This study investigates Sanggrahan village as a dense and organic growth settlement that has developed over time into a center of bakpia-making home-industry, a crucial culinary tourism destination in Yogyakarta. The purpose of this research is to investigate the influence of physical elements of Accessibility to the tourists-wayfinding strategy in an information deficit area for the sustainability of the tourism area. The method of the study is cognitive mapping and open-ended questionnaires. The results show that in the information deficit area, tourists tend to go through paths with more excellent connectivity from their origins. In the village, the lack of information allows tourists to utilize the physical elements of the city for accessibility information such as paths, nodes, edges, and landmarks as guidance for wayfinding to reach the bakpia shops, even though these physical elements of accessibility conditions are inadequate. In contrast, the concept of the district is used by tourists to know their position in the Bakpia Pathuk sales district.Keywords: Physical Elements; Wayfinding; Sanggrahan Village
OPTIMISASI PARAMETRIK FASAD BILAH HORIZONTAL TERHADAP PENCAHAYAAN ALAMI DENGAN METRIK USEFUL DAYLIGHT ILLUMINANCE (UDI) DI KOTA LHOKSEUMAWE Atthaillah, Atthaillah; Mangkuto, Rizki Armanto
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 1 (2020): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i1a7

Abstract

Abstrak_ Studi ini melakukan optimasi pengaruh rotasi (α) dan lebar bilah (l) pada fasad bilah horizontal untuk pencahayaan alami yang optimal di Kota Lhokseumawe.  Sebuah ruang belajar sekolah dasar hipotetik tanpa konteks dimodelkan secara komputasional kemudian diuji dengan metrik UDI.  Metode optimasi dengan Genetic Algorithm (GA) dengan Galapagos digunakan untuk mendapatkan solusi-solusi rotasi dan lebar bilah yang optimal terhadap pencahayaan alami.  Mesin simulasi Radiance dan Daysim digunakan yang dihubungkan dengan perangkat permodelan parametrik dengan aplikasi Rhinoceros dan Grasshopper melalui ­plugins Ladybug Tools.  Optimasi dilakukan untuk mendapatkan nilai UDIo.avg (100-2000 Lux) paling maksimal.  Hasil menunjukkan bahwa terdapat pengaruh rotasi dan lebar bilah yang berbeda-beda untuk setiap orientasi di Kota Lhokseumawe.  Ada dua orientasi yang dapat dirasionalkan hasil optimasi dari GA yaitu Utara dengan nilai α=90 dengan beberapa nilai lebar bilah yaitu l=0,20m, l=0,22m, l=0,43 dan l=0,45m mendapatkan nilai UDIo.avg=100%, serta hadapan Timur dengan satu kombinasi yaitu α=-80, l=0,30m dengan UDIo.avg=99,29%.  Sementara, sisi Selatan dan Barat direkomendasi untuk memilih kombinasi solusi-solusi optimal yang sangat variatif oleh GA yang disajikan pada penelitian ini.  Lebih lanjut, hadapan Utara dan Selatan mendapatkan solusi optimal dengan diferensiasi sudut yang kecil terhadap sudut 90 derajat dari bilah horizontal.  Solusi-solusi optimal yang variatif dari sudut rotasi dan lebar bilah yang didapatkan dengan metode GA dapat menguntungkan untuk menciptakan desain fasad yang terlihat tidak seragam untuk setiap orientasi atau bahkan pada satu orientasi.Kata kunci : Optimisasi; Pencahayaan Alami; Desain Fasad; Bilah Horirizontal; Useful Daylight Illuminance. Abstract_ This study examined the effects of optimizing rotation (α) and width (l) of the horizontal blades for optimal daylighting in Lhokseumawe. A hypothetical elementary classroom, without any context, was computationally designed and examined using UDI metric.  Optimization Genetic Algorithm (GA) method with Galapagos were used to obtain the rotation solution and optimal daylighting.  Moreover, Radiance and Daysim simulation engines connected to parametric platform of Rhinoceros and Grasshopper using Ladybug Tools as mediating tools were administered for the analysis.  The optimization was aimed at maximum UDIo.avg (100-2000 Lux).  Result revealed rotation and width of the horizontal blades contributed differently to every orientation in Lhokseumawe.  Two orientations were succeeded to be rationalized based on GA opmization results, first, North showed α=90 and some blades’ width of l=0,20m, l=0,22m, l=0,43 and l=0,45m resulted in UDIo.avg=100%.  Second, East orientation for the combination of α=-80, l=0,30m resulted in UDIo.avg=99,29%.  Further, South and West to maintained solutions from the GA optimization results as presented in this paper.  In addition, North and South sides suggested a small differentiation for its rotation from full horizontal blades, which was 90 degrees.  Various optimum design solutions, for rotation and width of the blades,  from the GA benefitted to create non-uniform façade design for different or even at the similar orientation.  Keywords :  Optimization; Daylighting; Façade Design; Horizontal Blades; Useful Daylight Illuminance.This study conduct an optimization for rotation (α)  and width (l)  of horizontal blades for an optimal daylighting in Lhokseumawe.  A hypothetical classroom for elementary school, without any context, was computationally modeled and examined using UDI metric.  Optimization utilizing Genetic Algorithm (GA) using Galapagos was a tool to explore for rotational and width of the blades for an optimal daylighting inside the room.  Further, Radiance and Daysim were main simulation engines for daylighting through parametric platform of Rhinoceros and Grasshopper using Ladybug Tools as mediating tools to connect to the daylighting simulation engines.  The optimization was aimed at maximum UDIo.avg (100-2000 Lux).  Result revealed rotation and width of the horizontal blades contributed differently to every orientation in Lhokseumawe.  Two orientations were succeeded to be rationalized based on GA opmization results, first, North showed α=90 and some blades’ width of l=0,20m, l=0,22m, l=0,43 and l=0,45m resulted in UDIo.avg=100%.  Second, East orientation for the combination of α=-80, l=0,30m resulted in UDIo.avg=99,29%.  Further, South and West to maintained solutions from the GA optimization results as presented in this paper.  In addition, North and South sides suggested a small differentiation for its rotation from full horizontal blades, which was 90 degrees.  Various optimum design solutions, for rotation and width of the blades,  from the GA benefitted to create non-uniform façade design for different or even at the similar orientation.   
KAJIAN ARSITEKTUR FUTURISTIK PADA BANGUNAN PENDIDIKAN Sahar, Kartika; Aqli, Wafirul
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 2 (2020): December
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i2a10

Abstract

Abstrak_ Arsitektur Futuristik merupakan gaya arsitektur yang berasal dari ide pemikiran atau gagasan ide yang mengungkapkan kebebasan dan berorientasi ke masa depan ke dalam bentuk yang tidak biasa, kreatif dan inovatif. Dari penelusuran literatur dan teori, telah dirumuskan beberapa prinsip Arsitektur Futuristik yaitu; (1) bangunan yang memiliki konsep masa depan; (2) bentuk bangunannya yang tidak biasa atau asimetris; dan (3) memanfaatkan kemajuan di era teknologi dalam penggunaan struktur dan konstruksi bangunannya. Penelitian ini mengambil studi kasus antara lain  Jockey Club Innovation Tower di Hongkong, The Crystal of Knowledge UI di Depok, dan Universitas Multimedia Nusantara di Tangerang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode menganalisis secara deskriptif-kualitatif tentang pengaplikasian ketiga prinsip arsitektur futuristik di ketiga studi kasus tersebut. Hasil dari penelitian ditemukan bahwa penerapan konsep masa depan dalam arsitektur futuristik akan sangat terlihat jika terdapat kekontrasan dari sekitarnya dalam hal bentuk dan tampilan bangunan. Semakin tidak biasa bentukan yang dipilih dan semakin asimetris juga menentukan seberapa maksimal prinsip futuristik itu diterapkan, dan penggunaan sistem struktur yang menggunakan teknologi terkini juga memperkuat penerapan prinsip tersebut.Kata kunci: Arsitektur Futuristik; Arsitektur Pendidikan; Bangunan Pendidikan; Konsep Futuristik. Abstract_ Futuristic Architecture is an architectural style derived from ideas or ideas that express freedom and future-oriented in an unusual, creative, and innovative form. From the search of literature and theory, several principles of futuristic architecture have been formulated, namely; (1) buildings that have a concept of the future; (2) unusual or asymmetrical shape of the building; and (3) utilizing advancements in the technological era in the use of building structures and construction. This research takes case studies including Jockey Club Innovation Tower in Hong Kong, The Crystal of Knowledge UI in Depok, and Multimedia Nusantara University in Tangerang. The method used in this study is a descriptive-qualitative method of analyzing the application of the three futuristic architectural principles in the three case studies. The results of the study found that the application of future concepts in futuristic architecture will be very visible if there is a contrast from the surroundings in terms of the shape and appearance of the building. The more unusual formations chosen and the more asymmetric also determine how the maximum futuristic principle is applied, and the use of structural systems that use the latest technology also reinforces the application of these principles.Keywords: Futuristic Architecture; Educational Architecture; Educational Buildings; Futuristic Concepts.
KAJIAN KONSEP KONTEKSTUAL BENTUK PADA BANGUNAN DI KAWASAN KOTA LAMA SEMARANG Thania, Bella Mareta; Purwantiasning, Ari Widyati
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 1 (2020): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i1a5

Abstract

Abstrak_ Desain yang kontekstual merupakan desain yang dapat diterima atau dikenali oleh masyarakat dan selaras atau harmoni dengan lingkungan sekitar. Namun kontekstualitas pada bangunan juga dapat mengenalkan bentuk baru yang selaras dengan lingkungan (dikenal dengan istilah kontras) dan desain bangunan yang sudah ada sebelumnya. Konsep kontekstual biasanya diterapkan pada kawasan-kawasan bersejarah dimana terdapat bangunan bersejarah yang masih dilestarikan. Salah satu kawasan bersejarah yang masih melestarikan nilai-nilai sejarah yaitu Kawasan Kota Lama Semarang. Bangunan sejarah yang ada pada Kawasan Kota Lama Semarang  memiliki nilai sejarah yang tinggi. Hal ini karena, bangunan bersejarah yang ada menggambarkan pengaruh budaya lain pada Kawasan Kota Lama Semarang. Pada bangunan bersejarah, konsep kontekstual dapat dilihat dari motif desain bangunan, bentuk dasar bangunan, dan nilai sejarah. Konsep kontekstual bentuk memiliki dua prinsip yaitu kontras dan harmoni. Prinsip kontekstual bentuk bangunan sangat penting penerapannya pada suatu kawasan terutama kawasan bersejarah. Hal ini dapat mempertahankan identitas kawasan, khususnya Kawasan Kota Lama Semarang yang memiliki beragam bangunan. Metode deskriptif kualitatif merupakan metode yang digunakan dalam penelitian ini. Metode ini digunakan untuk menjelaskan secara deskriptif penerapan arsitektur kontekstual dalam segi bentuk bangunan melalui prinsip yang ada dengan mengetahui batasan kawasan dan jenis-jenis bangunan yang ada pada Kawasan Kota Lama Semarang. Hasil yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan memberikan pemahaman mengenai prinsip-prinsip arsitektur kontekstual pada bentuk bangunan bersejarah di Kawasan Kota Lama Semarang.Kata kunci : Kawasan Bersejarah; Kontekstual; Prinsip Kontekstual; Kota Lama Semarang. Abstract_ Contextual Concept is a design that can be accepted or recognized by the community and in harmony with the surrounding environment. However, contextuality in the building can introduce new forms that are in harmony with the environment (familiar with Contrast) and pre-existing building designs. Contextual Concept usually applies to the historical areas that still preserve historical values. One of the historical areas that still preserve historical values is Semarang Old City. Historical buildings that exist in Semarang Old City have a high historical value. It is because existing historic buildings illustrate the influence of other cultures in Semarang Old City. In the historical building, contextual concepts can be seen from the building design motifs, the basic form of the building, and historical value. The concept of contextual form has two principles, namely contrast, and harmony. The contextual principle of the building form is fundamental to be applied in historical areas. It can maintain the identity of the region, especially Semarang Old City which has a variety of buildings. The qualitative descriptive method was used in this study. This method was used to explain the application of contextual architecture descriptively in terms of building shapes through existing principles by knowing the boundaries of the area and types of buildings that exist in Semarang Old City. The results had been achieved from this study were to identify and provide an understanding of the contextual architectural principles of the shape of historic buildings in Semarang Old City.Keywords:  Historic District; Contextual; Contextual Principles; Semarang Old City.
THE APPLICATION OF IOT (INTERNET OF THINGS) FOR SMART HOUSING ENVIRONMENTS AND INTEGRATED ECOSYSTEMS Hildayanti, Andi; Machrizzandi, M Sya'Rani
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 1 (2020): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i1a6

Abstract

Abstrak_ Perkembangan teknologi meningkat pesat seiring berjalannya waktu. Mulai dari mobil pintar yang bisa berjalan sendiri ke berbagai tujuan tanpa pengemudi, hingga perangkat rumah pintar yang bisa secara otomatis bersuara mengingatkan untuk melakukan aktifitas sesuai jadwal. Semua teknologi terbaru ini adalah bagian dari Internet of Things. Internet of Things (IoT) adalah konsep dimana objek memiliki kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi dari manusia ke manusia atau dari manusia ke komputer. IoT adalah struktur dimana, orang diberi identitas eksklusif dan kemampuan untuk memindahkan data melalui jaringan tanpa memerlukan dua arah antara manusia ke manusia, sumber ke tujuan atau interaksi antara manusia dan komputer. Jadi, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan penerapan sistem IoT dalam mendukung program smart building dan lingkungan yang terintegrasi. Penelitian ini dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mengeksplorasi manfaat teknologi IoT. Hasil penelitian ini menunjukkan dengan menghubungkan sistem bangunan yang berbeda dengan sensor dan perangkat IoT yang terhubung ke jaringan, aplikasi bangunan pintar untuk lingkungan perumahan pintar, dan ekosistem dapat terintegrasi menggunakan data lintas operasi, memberikan visibilitas yang lebih besar, wawasan cepat, dan pengalaman penghuni yang lebih baik. Teknologi IoT dapat bekerja dengan baik jika interaksi antara perangkat IoT dengan manusia atau pengguna harus berjalan dengan baik, karena IoT tidak akan berfungsi secara optimal jika pengguna tidak dapat mengoperasikannya dengan baik.Kata kunci: Internet of Things (IoT); Bangunan Pintar; Lingkungan Perumahan Pintar; Ekosistem Terpadu, Sistem Bangunan. Abstract_ Technological development increases rapidly over time. Starting from smart cars that can walk alone to various destinations without a human driver, to smart home devices that can automatically remind the voice to do activities on schedule. All of this latest technology is part of the Internet of Things. Internet of Things (IoT) is a concept where objects can transfer data through networks without requiring interaction from human to human or from human to computer. IoT is a structure in which objects, people are given an exclusive identity and the ability to move data through networks without requiring two directions between humans to humans, that is, sources to destinations or interactions between humans and computers. So, this research aims to identify and explain the application of the IoT system in support of smart building programs and integrated environments. This study was analyzed descriptively qualitative with a case study approach to explore the benefits of IoT technology. The results of this study indicate by connecting disparate building systems with networked IoT sensors and devices, smart building applications for smart housing environments and integrated ecosystems can use data across operations, providing greater visibility, valuable insights, and better occupant experiences. IoT technology can work well if the interaction between IoT devices with humans or users must go well because the function of IoT will not work optimally if the user cannot operate it properly.Keywords: Internet of Things (IoT); Smart Building; Smart Housing Environment; Integrated Ecosystems, Building Systems.
KETERKAITAN RUANG INTERAKSI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DENGAN KUALITAS HIDUP DI SEKOLAH LUAR BIASA Marcillia, Syam Rachma; Widodo, Eko
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 1 (2020): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i1a1

Abstract

Abstrak_Interaksi sosial pada umumnya didefinisikan sebagai hubungan antara dua individu atau lebih yang diwujudkan dalam suatu aktivitas pada tempat tertentu. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial pada praktiknya membutuhkan dukungan melalui interaksi sosial dan lingkungan yang kondusif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji keterkaitan ruang interaksi sosial ABK dan kualitas hidup di Sekolah Luar Biasa (SLB). Pengamatan behavior mapping dengan teknik place centered mapping diterapkan dalam penelitian ini untuk memperoleh data terkait karakter pengguna, setting fisik, dan pola aktivitas yang terjadi. Terkait penilaian kualitas hidup ABK, peneliti mengadaptasi instrumen Kidscreen-52 dengan mengambil aspek Physical dan Psychological Well-Being, Moods and Emotions, Autonomy, dan Social Support and Peers. Kelima aspek tersebut disusun ke dalam kuesioner, selanjutnya melibatkan 29 ABK dengan berbagai jenis ketunaan dan jenjang kelas sebagai responden. Hasil studi menunjukkan bahwa lingkungan SLB memiliki peran positif sebagai ruang interaksi sosial, selain mampu memenuhi kelima aspek kualitas hidup ABK tersebut di atas. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa interaksi sosial ABK juga dipengaruhi oleh jenis ketunaan dan jenjang kelas, selanjutnya akan berpengaruh pada preferensi setting fisik dan jenis aktivitas yang dilakukan.Kata Kunci: Ruang Interaksi; Karakter Pengguna; Setting Fisik; Kualitas Hidup; Kidscreen-52.  Abstract_ Social interaction is generally defined as the relationship between two or more individuals which is manifested in an activity at a particular place. Special needs children as an inseparable part of social life in practice require support through social interactions and conducive environment to improve their life quality. This research examined the interrelationship of social interaction space for special needs children and their life quality at special needs school. Behaviour mapping observation using place centred mapping techniques was applied to obtain data related to user characters, physical settings, and patterns of activities that occur. Regarding the assessment of life quality, researchers adapted the Kidscreen-52 instrument by taking aspects of Physical and Psychological Well-Being, Moods and Emotions, Autonomy, and Social Support and Peers. These aspects were compiled into a questionnaire and then distributed to 29 special needs children as respondents. The results showed that the school environment has a positive role as a space for social interaction and to accomplish the five aspects of life quality of the special needs children. Also, it revealed that their social interactions were also influenced by the type of disability and grade level, which affected the physical setting preferences and the varieties of undertaken activities.Keywords: Interaction Space; User’s Character; Physical Setting; Life Quality; Kidscreen-52.
KONSEP ARSITEKTUR HIJAU PADA BANGUNAN BEITOU PUBLIC LIBRARY Nugraha, Aditya Fhazar; Sari, Yeptadian
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 2 (2020): December
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i2a3

Abstract

Abstrak_ Bangunan perpustakan memiliki banyak manfaat dimana terdapat banyak ilmu pengetahuan yang bisa dimanfaatkan dengan baik, namun ketertarikan untuk menggunakan perpustakaan tersebut perlu yang Namanya kualitas pelayanan dan juga tersedianya buku yang lengkap sehingga dapat menarik lebih banyak pengguna untuk dapat mengunjungi perpustakaan. Peranan prinsip rancangan bangunan arsitektur hijau lebih efisien digunakan pada bangunan perpustakaan karena prinsip ini sangat membantu bangunan dalam menciptakan ruang yang nyaman sehingga pengunjung yang datang merasa nyaman berada didalam bangunan.Kata kunci : Perpustakaan; Bangunan; Arsitektur Hijau. Abstract_ Library building has many benefits where there is a lot of knowledge that can be put to good use. Still, the interest to use the library needs to be called Quality of service and also the availability of complete books so that it can attract more users to be able to visit the library. The role of green architecture building design principles is more efficiently used in library buildings because this principle is very helpful in building structures to create a comfortable space so that visitors who feel comfortable in the building.Keywords:  Library; Building; Green Architecture.
ANALISIS INSTRUMEN MITIGASI KEBISINGAN LALU LINTAS PADA RUANG TERBUKA BINAAN PUBLIK (RTBPU) DI WILAYAH PERKOTAAN Suhartina, Suhartina; Jumawan, Faris; Artayani, Meldawati
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 1 (2020): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i1a3

Abstract

Abstrak_Pelataran pantai losari dalam perkembangannya sebagai ruang terbuka binaan publik (RTBPU) dirancang untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjungnya, namun salah satu faktor penyebab munculnya ketidak nyamanan pengunjung adalah kebisingan. Berdasarkan hal tersebut, maka dipandang perlu untuk melakukan perhitungan tingkat kebisingan jalan raya pada Pelataran Pantai Losari guna mengetahui apakah tingkat kebisingan yang terjadi masih dapat ditolerir atau sudah melampaui ambang batas sehingga perlu dilakukan mitigasi untuk menurunkan tingkat kebisingan. Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) mengidentifikasi tingkat kebisingan yang disebabkan oleh lalu lintas pada RTBP Pelataran Pantai Losari, (2) Menganalisis pengaruh instrument mitigasi kebisingan lalu lintas terhadap tingkat kenyamanan pengunjung pada RTBPU Pelataran Pantai Losari. Lokasi pengambilan data penelitian dilaksanakan di Pelataran Pantai Losari jalan Penghibur Kota Makassar, penelitian dilaksanakan pada 5 titik pengukuran selama 3 minggu, waktu pengukuran: pukul 07.00 s/d 24.00 WITA. Jenis penelitian menggunakan survey bersifat analitik dengan metode cross sectional. Penelitian kebisingan Pelataran Pantai Losari menunjukkan bahwa rata-rata tingkat kebisingan dari aktivitas lalu lintas pada siang-malam hari sebesar 68,01 – 74,97 dB (A), dan tingkat kebisingan campuran dari aktivitas dari pengunjung dan aktivitas lalu lintas sebesar 68,02 – 73,86 dB (A). Instrument mitigasi yang berfungsi dengan baik dalam mereduksi kebisingan lalu lintas berada pada kawasan Pelataran bahari/pantai losari, hal ini dipengaruhi oleh banyaknya jenis dan jumlah instrument mitigasi yang terdapat pada daerah ukur seperti pohon, taman, tugu, sculpture/patung, disertai dengan jarak ukur yang besar.Kata kunci: Mitigasi Kebisingan; Lalu Lintas; Pelataran Pantai Losari. Abstract_ The Yard of Losari Beach in its development as a public of open space built (RTBPU) is designed to provide comfort for its visitors, but one of the factors causing visitor inconvenience is noise. Based on this, it is necessary to calculate the road noise level at the Losari Beach Yard in order to determine whether the noise level that occurs can still be tolerated or has exceeded the threshold so that mitigation is needed to reduce the noise level. The objectives of this study were (1) Identifying the noise level caused by traffic at the RTBP Losari Beach Yard, (2) Analyzing the effect of traffic noise mitigation instruments on the comfort level of visitors at RTBPU Losari Beach Yard. The location of the data collection was carried out at the Losari Beach Yard on the Penghibur street in Makassar City, the study was conducted in 5 measurement points for 3 weeks, measurement time: 07.00 - 24.00 WITA. The type of research that used was an analytical survey with a cross sectional method. Noise research of Losari Beach Court showed that the average noise level of day-night traffic activity is 68.01 - 74.97 dB(A), and the mixed noise level of visitor activity and traffic activity is 68.02 - 73, 86 dB(A). Mitigation instruments that are function well in reducing traffic noise are in the maritime / beach area of Losari, this is influenced by the number and type of mitigation instruments found in measuring areas such as trees, parks, monuments, sculptures, accompanied by large distancesKeywords: Noise Mitigation; Traffic; Losari Beach Yard.
PENERAPAN KONSEP PENGHAWAAN ALAMI PADA DESAIN SANATORIUM DI KABUPATEN GOWA M, Suhardi; Marwati, Marwati; Nursyam, Nursyam
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 1 (2020): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i1a9

Abstract

Abstrak_Salah satu prinsip arsitektur berkelanjutan berupa sistem penggunaan energi yang efisien seperti penghawaan yang alam dan kurangnya fasilitas rehabilitasi di Kabupaten Gowa. Sanatorium adalah wadah dengan basis pelaksanaan tindakan medis yang berfungsi sebagai tempat isolasi, perawatan dan rehabilitasi pasien TBC (Tuberculosis). Tujuan penulisan adalah membuat desain sanatorium dengan menggunakan konsep penghawaan alami yang berlokasi di Kabupaten Gowa, Kecamatan  Pattallassang, Desa Timbuseng. Metode pembahasan diawali dengan pengumpulan data yang diolah melalui analisis dan sintesis data yang kemudian diproses menjadi sebuah konsep perancangan sanatorium  meliputi kondisi fisik lokasi, bentuk dan ruang , letak dan bentuk bukaan jendela.  Proses analisis diawali dengan pembahasan kondisi fisik tapak berupa elevasi tanah, orientasi angin, lintasan matahari, suhu pada tapak. Kemudian dilanjutkan dengan pengolahan zona ruang dan bentuk dan diakhiri dengan pembahasan letak bukaan jendela pada bangunan. Hasil desain meliputi letak bangunan yang bermassa yang dipisah ruang terbuka, bentuk bangunan tidak lebar, pengelompokan  ruang yaitu zona perawatan, pengelola, poliklinik dan konsep penerapan penghawaan alami berupa model bukaan jendela terbuka pada zoning perawatanKata Kunci: Penghawaan Alami; Sanatorium; Kabupaten Gowa . Abstract_ One of the principles of sustainable architecture in the form of efficient energy use systems is natural memorization and lack of rehabilitation facilities in the Gowa district. The Sanatorium is a container with an implementation base of preventive action that serves as a place of isolation, maintenance, and rehabilitation of TB patients (Tuberculosis). The purpose of writing is to create a sanatorium design using an original memorizing concept in Gowa District, Pattallassang subdistrict, Timbuseng village. The discussion method begins with the collection of data processed through the analysis and synthesis of data then transformed into a design concept of the Sanatorium covering the physical condition of the location, shape, and space, layout and shape of the window openings. The analysis process begins with discussing the site's physical health in the land elevation, wind orientation, sun trajectory, and tread temperature. Then it is followed by the processing of space zones and shapes and concludes with the discussion of window openings in buildings. The results of the design include a building that has a mass split open space, the form of the building is not comprehensive, the space grouping is the maintenance zone, the organizer, the Polyclinic and the concept of implementation of natural aspiration in the form of the open window opening in the treatment zoningKeywords: Natural Conditioning, Sanatorium, Gowa Districts
PENGARUH KOLONIALISASI BELANDA DI KAWASAN PUSAT KOTA PULAU JAWA : SEBUAH KAJIAN LITERATUR Wihardyanto, Dimas; Rahmi, Dwita Hadi
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 1 (2020): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i1a2

Abstract

Abstrak_Selama kolonialisasi Belanda, kota-kota di Indonesia pada umumnya dan kota-kota di Jawa pada khususnya mendapatkan pengaruh yang cukup signifikan. Pengaruh tersebut terlihat jelas pada kawasan pusat kota. Pola pusat kota Jawa yang telah terbentuk sejak masa kerajaan Hindu-Budha dan berkembang pada masa kerajaan Islam menerima pengaruh Eropa semenjak Belanda mulai menjajah Indonesia. Melalui metode kajian literatur, peneliti mencoba mengkaji bagaimana pengaruh kolonialisasi Eropa terhadap pusat kota di Jawa. Dari hasil kajian literatur diketahui bahwasanya pusat kota Jawa berkembang dari yang semula sangat kental nuansa kosmologisnya menjadi semakin fungsional untuk melayani masyarakat terutama masyarakat Eropa. Terdapat perbedaan pengaruh Eropa terhadap pusat kota di Jawa mengikuti letak posisi geografis kota tersebut. Kota-kota yang berada di pesisir Jawa akan menerima pengaruh Eropa dengan pendekatan akuisi, dan kota-kota di pedalaman Jawa akan menerima pengaruh Eropa dengan pendekatan akulturasi. Perbedaan pendekatan tersebut kemudian menghasilkan wajah pusat kota yang berbeda, dimana kota-kota di pesisir Jawa akan cenderung memiliki wajah Eropa atau campuran dengan Eropa sebagai dominasi, dan kota-kota di pedalaman Jawa akan cenderung tetap memiliki wajah pribumi atau campuran dengan pribumi sebagai dominasi.Kata kunci: Arsitektur Kolonial; Pusat Kota; Kota Pesisir; Kota Pedalaman: Kajian Literatur. Abstract_ During Dutch colonialism, cities in Indonesia in general and cities in java, in particular, gained significant influence. The influence is seen in the downtown area. The influence is seen in the downtown area. The pattern of the Javanese city centre that had been formed since the Hindu-Buddhist kingdom and developed during the Islamic kingdom received European influence since the began to colonialism in Indonesia. Through the method of literature review, researchers tried to describe how European colonialism in the city centre on Java. From the results of the literature study, it was known that the central city of Java developed from what was once a very thick cosmological nuance to become increasingly functional to serve the public, especially European society. There are differences of European influence to the central city of Java following the geographical position of the city. The cities on the coast of Java will receive European influence with the acquisition approach, and cities on the island of Java will receive European influence with the acculturation approach. The difference of both approaches results in a different face of the central city, where cities on the coast of Java will tend to have a European or mixed face with Europe as domination, and cities in the island of Java will tend to continue to have an indigenous face or mix with the indigenous as domination.Keywords: Colonial Architecture; Central City; Coastal City; Inland City; Literature Review.