cover
Contact Name
Radyana
Contact Email
rasdyana@gmail.com
Phone
+628529995952
Journal Mail Official
journal@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University of Makassar, Indonesia Jl.H.M.Yasin Limpo No. 36 Samata, Gowa, Sulawesi Selatan.
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Nature: National Academic Journal of Architecture
ISSN : 23026073     EISSN : 25794809     DOI : -
NATURE: National Academic Journal of Architecture (P-ISSN: 2302-6073, E-ISSN:2579-4809) adalah publikasi ilmiah untuk topik penelitian dan kritik yang tersebar luas dalam studi Desain Arsitektur.
Arjuna Subject : -
Articles 222 Documents
ANALISIS PERFORMA MODEL ECO-COOLER SEBAGAI ALTERNATIF BUKAAN ALAMI Pratiwi, Niniek; Arifin, Sri Sutarni
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 1 (2021): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i1a1

Abstract

Abstrak_ Konsumsi nergi listrik nasional terus mengalami peningkatan. Pada 2015 konsumsi listrik sebesar 910 kilowat jam (kWh) per kapita, kemudian meningkat menjadi 1.084 kWh/kapita pada 2019. Di Indonesia, Hermanto,dkk (2005) menyebut sekitar 60% konsumsi listrik hotel di Jakarta digunakan untuk memasok energi mesin AC. Oleh karena itu, usaha penghematan energi yang berkaitan dengan pendinginan ruangan akan berdampak signifikan terhadap usaha penghematan energi di dunia. Salah satu contohnya  yakni penggunaan Eco-Cooler.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa performa dari model Eco-Coolersebagai alternative bukaan alami. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode eksperimen dengan tahapan pengukuran kemudian disimulasikan dengan menggunakan aplikasi Ansysdan dianalisis secara analisis statistik deskriptif. Hasilpengukuran menujukkan bahwa semakin besar perbandingan inletterhadapoutlet maka distribusi kecepatan aliran angin lebih baik. Sementara untuk simulasi bisa ditarik kesimpulan bahwa model C, merupakan model yang lebih baik dibanding model A dan B. Model C mampu membuat jangkauan angin terpanjang yaitu sekitar 2,77 meter dan memiliki kecepatan angin minimum paling besar  berkisar 0,499 m/s dan posisi Eco-Cooler denganketinggian 100 cm memilikijangkauanangin yang lebih baik daripada yang lainnya.Berdasarkan hasil tersebut dapat dilakukan penelitian lebih lanjut untuk membandingkan antara model tersebut dengan jendela yang dipakai pada umumnya. Kedepannya, Eco-Cooler diharapkan mampu menjadi alternative bukaan alami.Kata kunci: Eco-Cooler; Ansys; Angin, Energi Terbarukan. Abstract_ National electricity consumption continues to increase. In 2015, electricity consumption was 910-kilowatt hours (kWh) per capita, then has risen to 1,084 kWh / capita in 2019. In Indonesia, Hermanto et al. (2005) stated that around 60% of hotel electricity consumption in Jakarta had been used to supply AC engine energy. Therefore, energy-saving efforts related to room cooling will significantly impact energy-saving measures in the world. One example is the use of the Eco-Cooler. This research aims to analyze the performance of the Eco-Cooler model as an alternative to natural openings. This research is a quantitative research using experimental methods with measurement stages then simulated using the Ansys application and analyzed by descriptive statistical analysis. The measurement results show that the greater the inlet to outlet ratio, the better the wind speed distribution. As for the simulation, it can be concluded that model C is a better model than models A and B. Model C can make the most extended wind range, which is about 2.77 meters and has the greatest minimum wind speed of 0.499 m / s, and the Eco- position. Coolers with a height of 100 cm have better wind coverage than others. Based on these results, further research can be conducted to compare the model with the windows used in general. In the future, the Eco-Cooler is expected to be an alternative to natural openings.Keywords: Eco-Cooler; Ansys; Wind; Renewable Energy.
IDENTIFIKASI POLA AKTIVITAS PADA RUANG TERBUKA PUBLIK DI KAMPUNG GAMPINGAN KOTA YOGYAKARTA Pramudito, Sidhi; Kurnial, Bezaliel Tera
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 2 (2020): December
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i2a6

Abstract

Abstrak_ Kampung Gampingan merupakan salah satu pemukiman padat di kota Yogyakarta. Namun dalam kondisi tersebut, masih dapat ditemukan keberadaan ruang terbuka publik berupa plaza. Ruang terbuka publik itu adalah lapangan multifungsi yang dimanfaatkan warga untuk beraktivitas baik individu maupun kelompok. Hal ini yang menjadi perhatian bagi penulis untuk dapat mengidentifikasi pola aktivitas warga dalam memanfaatkan ruang tersebut sebagai satu-satunya ruang terbuka publik dengan tipologi plaza di kampung ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan teori behavioral setting. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survei lokasi, wawancara, dan mendokumentasikan kegiatan masyarakat kampung pada saat pagi hari, siang hari, sore hari, dan malam hari pada di hari kerja (Senin s.d Jumat) serta hari libur (Sabtu s.d Minggu) dengan pembagian area menjadi 5 macam ruang aktivitas. Temuan data dianalisis dengan metode place centered mapping. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa pola aktivitas warga pada ruang terbuka publik ini adalah terklaster berdasarkan tujuan yang ditentukan oleh ragam atribut ruang, material, ukuran ruang, dan hubungan ruang dengan sekitarnya. Pada ruang ini teridentifikasi kecenderungan pola aktivitas warga yang terkonsentrasi pada area tertentu yang dipengaruhi oleh ragam atribut ruang.Sisi selatan, timur, barat, dan area tengah menjadi area yang cukup dominan dimanfaatkan warga untuk berbagai aktivitas interaksi warga. Berbeda dengan sisi utara yang minim aktivitas interaksi. Hal yang menjadi faktor penentu adanya aktivitas interaksi adalah keragaman atribut ruang serta dimensi ruang. Sebagai rekomendasi, penambahan jumlah dan kualitas atribut ruang dapat menjadi salah satu usulan yang harapannya dapat meratakan aktivitas di ruang terbuka publik dengan tipologi plaza ini.Kata kunci: Pola Aktivitas; Ruang Terbuka Publik; Kampung Gampingan; Yogyakarta. Abstract_ Kampung Gampingan is one of the densest settlements in the city of Yogyakarta. However, the existence of public open spaces such as plazas can still be found. The public open space is a multifunctional field that is used by residents to do activities for both individuals and groups. This is of concern to the writer to be able to identify the pattern of community activities in utilizing the space as the only public open space with plaza typology in this village. This study uses a descriptive-qualitative method with a behavioral setting theory approach. Data collection is done by location survey, interview, and documenting community activities in the morning, afternoon, evening, and evening on weekdays (Monday-Friday) and holidays (Saturday-Sunday) with the division of the area into 5 types of activity space. Data findings were analyzed by the place centered mapping method. The results of this study found that the pattern of citizen activity in this public open space is clustered based on objectives determined by the variety of attributes of space, material, size of space, and the relationship of space with its surroundings. In this space, a trend of residents' activity patterns that are concentrated in certain areas is identified which is influenced by various spatial attributes. The south, east, west, and central areas are areas that are quite dominant for residents to use for various citizen interaction activities. In contrast to the north side which has minimal interaction activity. The thing that determines the existence of interaction activities is the diversity of spatial attributes and spatial dimensions. As a recommendation, increasing the number and quality of space attributes can be one of the proposals which hopefully can even out activities in public open spaces with this plaza typology.Keyword: Pattern of Activities, Public Open Space; Kampung Gampingan; Yogyakarta.
KAJIAN KONSEP TEORI LIMA ELEMEN CITRA KOTA PADA KAWASAN KOTA TUA JAKARTA Rafsyanjani, Muhammad Akbar; Purwantiasning, Ari Widyati
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 1 (2021): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i1a3

Abstract

Abstrak_Ketika kita bicara tentang kawasan kota kita perlu membahas tentang manusia yang berada di dalamnya, dikarenakan banyak sekali ketika kita memikirkan kawasan kota tidak banyak dari mereka yang memperlihatkan dari sisi mikronya yaitu manusia Maka dari itu, penelitian ini mempermasalahkan bagaimana penerapan prinsip teori lima elemen citra kota pada Kawasan Kota Tua Jakarta, kemudian bagaimana mengkaji teori lima elemen citra kota pada Kawasan Kota Tua Jakarta. Dari permasalahan muncul tujuan dari penelitian ini dapat menjelaskan penerapan prinsip lima elemen citra kota pada Kawasan Kota Tua Jakarta. Adapun hasil yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah dengan menjelaskan path, edges, node, district, dan landmark dari Kawasan Kota Tua Jakarta. Hasil yang didapat dari penelitian ini terhadap Kawasan Kota Tua Jakarta adalah Path di dalam kawasan ini ditunjukkan dengan jalur kendaraan, kereta api, sungai, pedestrian, kemudian Edges di dalam kawasan ini ditunjukkan dengan batasan sungai yang membatasi antara zona inti dan zona penunjang, kemudian node di dalam kawasan ini ditunjukkan dengan persimpangan jalan yang terhubung ke kawasan zona inti Kota Tua Jakarta, kemudian district di dalam kawasan ini ditunjukkan dengan kawasan inti dan penunjang sebagai pembeda antara distrik satu dengan yang lainnya, kemudian di dalam kawasan ini ditunjukkan dengan Museum Fatahillah.Kata kunci: Lima Elemen; Kevin Lynch; Kawasan Kota Tua Jakarta Abstract_ When we talk about the city area we need to talk about the human being in it, because there are so many things when we think that the city is not many of them that show from the side of the Micronics man, therefore, This study disputed how to apply the theory principle of five elements of the city image in the Old City area of Jakarta, then how to examine the five elements of the city image element in the Old City area of Jakarta. From the problem arising, the purpose of this research can explain the application of the principle of five components of city image in the Old City area Jakarta. The result of this research is to describe the path, edges, nodes, district, and landmarks of the Old City area of Jakarta. The result of this research on Jakarta's Old City area is Path within this region indicated by vehicle, railway, river, pedestrian, then Edges within this area are characterized by river boundary limiting Between the core zone and the supporting zone, then the nodes within this area are indicated by a crossroads connected to the core zone area of the old City of Jakarta, then district within this area is indicated by the core region and support as Differentiator between District One and another, then within this area is characterized by Fatahillah Museum.Keywords: Five Elements; Kevin Lynch; Jakarta Old Town Area.
TRANSFORMASI FUNGSI SIRING PADA RUMAH TRADISIONAL BUGIS DI BULUKUMBA AS, Zulkarnain; Rahmani, Ahmad Ibrahim; AS, Rahmat Wahidin
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 1 (2021): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i1a2

Abstract

Abstrak_ Penelitian ini ditujukan untuk mengidentifikasi perubahan fungsi maupun bentuk pada kolong rumah (siring) tradisional Bugis yang berprofesi sebagai nelayan, pembuat kapal dan petani di Bulukumba, serta memverifikasi mengenai perubahan bentuk dan wujud fisik siring yang terjadi seperti sekarang ini.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dimana penelitian ini menggunakan sampel, wawancara, pengukuran dan data literatur sebagai pengumpulan data untuk penelitian ini.untuk mengetahui perubahan-perubahan bentuk dan fungsi apa saja yang terjadi pada siring khususnya pada rumah tradisional Bugis yang berprofesi sebagai nelayan, pembuat kapal dan petani. Dilakukan wawancara terhadap seorang narasumber yang berprofesi sebagai nelayan, seorang narasumber yang berprofesi sebagai pembuat kapal dan seorang narasumber yang berprofesi sebagai petani sebagai pemilik rumah tradisional Bugis.Untuk mengetahui perubahan yang terjadi dilakukan observasi dan penjelasan dari narasumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi ditinjau dari wujud fisik dan pola aktivitas yang terjadi antara lain yaitu terjadi perubahan wujud fisik, bentuk, fungsi dan pola aktivitas ruang siring pada rumah tradisional Bugis di Bulukumba terhadap bentuk aslinya.Kata kunci : Bentuk; Fungsi; Pola Aktivitas; Siring; Rumah Tradisional. Abstract_ This research is intended to identify changes in the function or form of traditional Bugis under the house (siring) who work as fishermen, boat builders, and farmers in Bulukumba, as well as to verify the changes in the shape and physical form of siring that are happening today. This study uses a qualitative descriptive method where this study uses samples, interviews, measurements, and literature data as data for this study. to see what changes in form and function occur in the siring, especially in traditional houses, Bugis who work as fishermen, boat builders, and farmers in Bulukumba, as well as verifying regarding changes in the form and siring physical manifestation is happening today. This type of research qualitative, to determine changes in the shape and function of what is happening in the siring, especially in the traditional house Bugis living as fishermen, shipbuilders and farmers, conducted interviews with a resource person who work as fishermen, a resource person who worked as shipbuilders and a resource person who work as farmers as owners of traditional homes Bugis. To determine the changes made observations and explanations of sources. The results showed that the changes in terms of the physical form and activity patterns that occur include: a). siring form b). siring function c) .pola activity. There were changes in physical form, shape, function, and activity patterns siring space in traditional houses Bugis in Bulukumba to its original form.Keywords:  Form; Function; Activity Pattern; Siring; Traditional House.
ADAPTASI PENGGUNAAN RUANG GANG KAMPUNG PADA KEGIATAN HOME BASED ENTERPRISE (HBE) Ernawati, Rita
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 7 No 2 (2020): December
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v7i2a5

Abstract

Abstrak_ Home Base Enterprises (HBEs) merupakan suatu kegiatan usaha berbasis keluarga yang dilakukan secara fleksibel. Kegiatan produksi di rumah berdampak pada kompleksitas tatanan dan penggunaan ruang. Ruang publik sangat penting dalam mewadahi aktivitas pengguna dengan beragam kebutuhan dan kondisi sosial budaya. Gang kampung memiliki peran dalam mengakomodasi berbagai aktivitas masyarakat baik sebagai ruang publik maupun ruang privat. Fenomena di kampung menunjukkan bercampurnya berbagai aktivitas ternyata tidak menimbulkan konflik penggunaan ruang. Penelitian ini fokus pada strategi menjaga keharmonisan penggunaan gang kampung sebagai ruang ekonomi dan sosial. Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan metode penelitian deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara, mapping dan analisis triangulasi. Penggunaan gang untuk aktivitas HBE Kampung Kue Rungkut Lor merupakan kesepakatan bersama masyarakat. Aturan dirumuskan untuk mengontrol waktu, ruang dan elemen yang boleh digunakan untuk aktivitas HBE. Penelitian ini merumuskan bahwa keharmonisan penggunaan ruang didasarkan pada nilai kebersamaan dan kekeluargaan. Fleksibilitas tatanan fisik kampung merupakan faktor penting menjaga ketahanan dan keberlanjutan kampung untuk mewadahi berbagai aktivitas. Penggunaan ruang publik yang bertanggung jawab untuk berbagai aktivitas masyarakat menjadi faktor kunci menciptakan kehidupan kampung yang harmonis.Kata kunci: Adaptasi Penggunaan Ruang; Gang Kampung; Home Base Enterprise. Abstract_ Home Base Enterprises (HBEs) is a family-based business activity that is carried out in a flexible way. Production activities at home have an impact on the complexity of the order and use of space. Public space is very important in accommodating user activities with a variety of needs and socio-cultural conditions. The kampung’s alley has a role in accommodating various community activities both as a public and private space. The phenomenon in the kampung figures out that the mix used for various activities does not cause conflicts. This research focuses on the strategy in maintaining the harmonious use of kampung’s alley as an economic space and social space. This research was conducted by applying descriptive qualitative research methods through field observations, interviews, mapping, and triangulation analysis. The use of the alley for the activities of HBE Kampung Kue Rungkut Lor was based on a community agreement. Rules are formulated to control the time, space, and elements that can be used for HBE activities. This research formulates that harmony in the use of space is based on the value of togetherness and kinship. The flexibility of the physical structure in the kampung is an important factor in maintaining the resilience and sustainability to accommodate a variety of activities. The responsible use of public space for various community activities is the key factor in creating harmonious life in the kampung.Keywords:  Adaptation Use of Spac; Kampung’s Alley; Home Base Enterprise.
KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR MODULAR PADA RUMAH SUSUN ITB JATINANGOR Putri, Shely Pratiwi Sanjaya; Purwantiasning, Ari Widyati
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 1 (2021): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i1a9

Abstract

Abstrak_ Di kota besar dan metro pengembangan hunian vertikal sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak, permasalahan berupa ketersediaan lahan merupakan salah satu faktor pendorong pemangku kepentingan untuk segera menyelesaikan permasalahan tersebut. Kontruksi yang digunakan pun bermacam-macam dan terus berkembang setiap tahunnya. Pada masa setelah perang dunia kedua konsep hunian dengan modular mulai popular, dan konsep tersebut memiliki banyak keunggulan sehingga pada masa sekarang sudah mulai digunakan dan dikembangkan. Secara general konsep Arsitektur Modular dapat didefinisikan berupa objek rancangan berdasarkan modul tertentu, dengan bentuk yang sama dan diulang secara berulang-ulang. Le Corbusier juga berpendapat pada “Teori Modular” bahwa melihat Modular bukan hanya sebagai angka yang mengadopsi harmoni, namun juga sebagai alat pengukur yang dapat menghitung jarak, permukaan, dan volume. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan tujuan untuk mengetahui dan memahami Penerapan Konsep Arsitektur Modular pada Rumah Susun ITB Jatinangor. Kesimpulan yang didapat ialah Rumah Susun ini telah menerapkan dan sesuai  dengan prinsip serta syarat modular dari Teori Modular Le Corbusier dan Teori Ryan E. Meskipun pada sistem struktur, bangunan ini secara keseluruhan belum menggunakan komponen prefabrikasi, namun secara garis besar 95% bangunan ini telah menggunakan modul prefabrikasi antara lain komponen kolom, balok, plat, dinding, tangga dan tiang pancang. Sehingga bangunan ini dapat dikatakan sebagai bangunan modular. Serta komponen bangunan yang tidak dalam komponen modular ialah komponen pada struktur bawah yaitu pada pilecap dan pada dinding pada area tangga, yang menggunakan metode konvensional pada saat pembangunan terjadi.Kata kunci: Hunian Vertikal; Modular; Prefabrikasi. Abstract_ In large cities and metro vertical residential development has become a very urgent need. The problem of land availability is one of the driving factors for stakeholders to solve the problem immediately. The construction used is various and continues to grow every year. In the post-world war second world, the concept of modular housing began to be popular, and the concept has many advantages, so it has started to be used and developed in the present. In general, the concept of Modular Architecture can be defined as a design object based on a specific module, with the same shape and repeated repeatedly. Le Corbusier also argues in the "Modular Theory" that it sees Modular not only as a number that adopts harmony but also as a gauge that can calculate distance, surface, and volume. This research uses a qualitative descriptive method to know and understand the Application of Modular Architecture concepts in ITB Jatinangor Flats. The conclusion obtained is that this flat has been applied and by the modular principles and requirements of The Le Corbusier Modular Theory and Ryan E Theory. Although in the structure system, the building as a whole has not used prefabricated components, but in general, 95% of the building has used prefabricated modules, including column components, beams, plates, walls, stairs, and stakes. So this building can be said to be a modular building, and building components that are not in modular components are elements on the lower structure on the pile cap and on the wall in the stairwell area, which uses conventional methods at the time of construction.Keywords:  Vertical Housing; Module; Prefabricated. 
KARAKTERISTIK STRUKTUR DAN KONSTRUKSI BANUA TAMBEN Oktawati, A. Eka; Hardiansyah, Hardiansyah
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 1 (2021): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i1a7

Abstract

Abstrak_Banua Tamben merupakan rumah tongkonan generasi ketiga, konstruksi arsitektur banua tamben memiliki keunikan dibanding dengan rumah tongkonan saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan karakteristik sistem struktur dan  konstruksi arsitektur banua tamben yang mempresentasikan sistem konstruksi sebagai struktur, dengan fokus pada kajian terhadap proses penyusunan dan penggabungan bagian banua tamben sehingga membentuk sebuah banua tamben yang utuh. Metode penelitian dilakukan dengan penelitian kualitatif, dimana dalam penelitian ini digunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil temuan memperlihatkan bahwa struktur dan konstruksi banua tamben yang tersusun dari beberapa bagian yaitu bagian bawah dan bagian atas. Secara keseluruhan banua tamben memiliki ciri khas konstruksi yang bisa disebut istilah “tamben”, (bahasa Toraja = berselang-seling), yaitu  menumpukkan balok melintang  secara tumpang tindih dan berselang-seling sehingga membentuk struktur ruang pada kolom rumah.Kata kunci: Banua; Tamben; Struktur; Konstruksi Abstract_ Banua Tamben is a third generation tongkonan house, the architectural construction of Banua Tamben is unique compared to the current tongkonan house. This study aims to find characteristics of the Banua Tamben architectural construction that presents the construction system as a structure, with a focus on the study of the process of compiling and joining parts of the Banua Tamben to form a complete Banua Tamben. The research method used is qualitative research, wherein this research qualitative descriptive analysis techniques are used as a technique in the analysis. The findings show that the structure and construction of the Banua Tamben are composed of several parts, namely the bottom and the top. Overall banua tamben has a characteristic construction which can be called the term tamben, (Toraja language = criss-cross), which is stacking transverse beams overlapping and crossing to form a spatial structure in the column of the house.Keywords:  Banua; Tamben; Structure; Construction
EFEKTIVITAS PEMANFAATAN ALUN-ALUN SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK Shafar, Muhammad Uliah; Sari, Suzanna Ratih
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 1 (2021): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i1a5

Abstract

Abstrak_Ruang terbuka publik memiliki efek yang sangat besar terhadap kesejahteraan masyarakat perkotaan. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan rekomendasi desain untuk membangun kembali fasilitas alun-alun menjadi lebih baik, dalam hal memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan. Karena meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap ruang publik, alun-alun Andi Makkasau yang berada di kota Parepare mengalami perubahan yang signifikan dalam mengakomodasi aktivitas penggunanya. Beberapa fasilitas ditambahkan seperti alat kebugaran, tempat duduk komunal, panggung utama, panggung musik dan toilet. Membuat alun-alun ini menyediakan pemanfaatan yang beragam. Namun, ketersediaan pemanfaatan tersebut tidak mengungkap efektivitas yang ada pada ruang tersebut. Renovasi alun-alun Andi Makkasau diharapkan memperhatikan dampak dari perubahan pengaturan fasilitas-fasilitas yang tersedia. Dengan menggunakan metode behavioral mapping, penelitian ini dapat menjelaskan hubungan antara pengguna dan fasilitas sebuah ruang publik. Melalui hasil sketsa dan simbol dari hasil observasi yang dilakukan pada pagi hari dan sore hari dengan menggunakan metode placecenter map, diketahui respon dari perilaku pengguna terhadap fasilitas yang digunakan di alun-alun Andi Makkasau. Adapun metode yang digunakan untuk menganalisisperforma fasilitas, penelitian ini menggunakan evaluasi purnahuni (EPH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa renovasi alun-alun ini tidak mendukung atribut sebagian besar penggunanya, sehingga rekomendasi terhadap rancangan kedepannya sangat diperlukan.Kata kunci: Behavioral Mapping; Ruang Terbuka Publik; Place Centre Map; Fasilitas Publik. Abstract_ Public open space has a significant effect on the welfare of urban communities. The objective of this study was to produce design recommendations for rebuilding the square facilities for the better, in terms of having a positive impact on welfare. Due to the increasing public need for public space, the Andi Makkasau square in the city of Parepare has undergone significant changes in accommodating the activities of its users. Some facilities were added, such as fitness equipment, communal seating, main stage, music stage, and toilet. As a result, this square provided multiple uses. However, the availability of these uses did not reveal the effectiveness of that space. The renovation of Andi Makkasau square was expected to pay attention to changes in the arrangement of available facilities. By using the behavioral mapping method, this study could explain the relationship between users and facilities of open space. Through the sketches and symbols from the observations made in the morning and evening using the place center map method, user behavior was known to the facilities used in the Andi Makkasau square. The method used to analyze the facility's performance; this study used the post-occupancy evaluation (POE). The results showed that the renovation of this plaza did not support the attributes of most of its users, so recommendations for future designs were needed.Keywords: Behavioral Mapping; Public Open Space; Place Centre Map; Public Facilities.
TAMAN KANAK KANAK BAGI PENYANDANG AUTISME DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR PERILAKU Yulistya, Yusnia Hanna; Roosandriantini, Josephine
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 2 (2021): December
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i2a1

Abstract

Abstrak_ Pendidikan dasar bagi seorang anak merupakan hal fundamental yang akan mempengaruhi dan membentuk anak memiliki karakter yang tangguh, termasuk juga bagi anak berkebutuhan khusus, dalam hal ini berpusat pada anak autis. Anak-anak penyandang autisme memiliki karakteristik yang berbeda, yaitu anak autis tidak dapat berinteraksi secara normal dengan individu yang lainnya. Pendidikan untuk anak autisme lebih ditekankan dimulai saat mereka masih taman kanak-kanak, sehingga dibutuhkan fasilitas pendidikan yang diperuntukkan bagi penyandang autisme. Tujuan dari penelitian ini adalah menggambarkan karakteristik sekolah taman kanak-kanak bagi penyandang autisme, agar dapat menjadi stimulus bagi tumbuh kembang anak autis. Kebutuhan akan ruang untuk sosialisasi sangat berguna bagi anak-anak penyandang autisme dikarenakan mereka memilik masalah pada interaksi sosialnya. Penelitian ini lebih kepada menunjukkan kriteria yang diperlukan dalam menciptakan ruang interaksi sosial yang dapat berguna membantu dalam proses merancang bangunan bagi anak autis. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kualitatif deskriptif yaitu dengan menggunakan studi literatur yang berkaitan dengan kriteria desain yang dapat berguna dalam menciptakan sebuah sekolah taman kanak-kanak penyandang autisme. Hasil dari penelitian ini yaitu kriteria desain untuk sekolah taman kanak-kanak tersebut dapat mempertimbangkan segi pendekatan arsitektur perilaku dalam mendesain, sehingga mengenali karakteristik pengguna agar dapat tercipta kenyamanan dan keamanan bagi si pengguna (user).Kata kunci: Arsitektur Perilaku; Penyandang Autisme; Taman Kanak – Kanak. Abstract_ Basic education for a child is a fundamental thing that will influence and shape the child to have a strong character, including for children with special needs, in this case centering on children with autism. Children with autism have different characteristics, namely, autistic children cannot interact normally with other individuals. Education for children with autism is more emphasized starting when they are still in kindergarten so that educational facilities are needed for people with autism. The purpose of this study is to describe the characteristics of kindergarten schools for people with autism. The need for space for socialization is very useful for children with autism because they have problems in their social interactions. This research is more to show the criteria needed in creating a space for social interaction that can be useful in helping in the process of designing buildings for children with autism. The research method used in this research is the descriptive qualitative method, namely by using literature studies related to design criteria that can be useful in creating a kindergarten school with autism. So, by paying attention to these design criteria the school can have comfort and safety for children with autism. Also, the resulting design criteria can be considered in terms of a behavioral architectural approach.Keywords: Behavior Architecture; People with Autism; Kindergarten.
STUDI COWORKING SPACE BAGI MILENIAL Nisrina, Annisa; Handoyo, Andreas
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 2 (2021): December
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i2a2

Abstract

Abstrak. Perubahan arah sektor ekonomi dari ekonomi industri ke ekonomi kreatif tentunya juga membawa perubahan pada sistem bekerja di dalamnya. Pemanfaatan teknologi yang semakin canggih membuat cara bekerja pada hampir semua jenis pekerjaan menjadi lebih mudah. Kaum milenial pun perlahan mulai meninggalkan gaya bekerja tradisional dan mulai beralih ke gaya bekerja yang fleksibel dan santai. Dengan coworking space, milenial dapat dengan mudah memilih dimana, kapan, dan bagaimana mereka akan bekerja. Selain itu, adanya manfaat dari berbagai sisi seperti ekonomi, sosial, sustainability, dan psikologis, juga menjadi alasan coworking space banyak diminati saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan apa saja yang diperlukan milenial pada coworking space untuk memberikan kenyamanan. Menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif, didapatkan hasil bahwa selain fasilitas yang memadai, banyak hal lain yang perlu diperhatikan untuk membangun coworking space. Penelitian ini dilakukan di kota Bandung, sebelum terjadinya pandemi dan belum diterapkannya pola kebiasaan baru. Kedepannya, penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dalam mendesain coworking space yang lebih baik dan menerapkan pola kebiasaan baru. Kata kunci: Coworking Space; Kebutuhan; Milenial. Abstract. Changes in the direction of the economic sector from the industrial economy to the creative economy also bring changes to the working system in it. The use of increasingly sophisticated technology makes it easier to work on almost all types of work. Millennials are slowly starting to leave the traditional work style and begin to shift to a flexible work style. Coworking space is a place for this style of work. With coworking space, millennials can easily choose where, when and how they will work. In addition, the benefits from various sides such as economic, social, sustainability, and psychological, also the reason coworking space is in great demand today. This study aims to determine what millennials need in coworking space to provide comfort. Using a descriptive analytic method with a qualitative approach, the results show that in addition to adequate facilities, many other things need to be considered to build an ideal coworking space. This research was conducted in Bandung, before the occurrence of pandemic and new normal was not implemented. In the future, this research is expected to be one of the references in designing better coworking spaces and applying new normal rules.Keywords:  Coworking Space; Needs; Millennials.