cover
Contact Name
Jurnal Tamaddun
Contact Email
jurnaltamadun@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltamadun@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Tamaddun
ISSN : 23441917     EISSN : 25285882     DOI : -
Jurnal Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam (ISSN 2528-5882) was published by the Department of History of Islamic Civilization Faculty of Ushuluddin, Adab and Da`wah IAIN Sheikh Nurjati Cirebon. Its mission is to disseminate the results of studies and research on the history, specifically Islamic Cultural History which includes science, theory, and historical concepts related to Islam and regional studies, Islamic civilization, Islamic intellectuals, Islamic culture and traditions. The manuscripts contained in this journal are the results of studies, research and literature review conducted by researchers, academics, and observers of Islamic Cultural History. This Tamaddun Journal is published twice in one year, July and December.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2019)" : 11 Documents clear
KUTTAB SEBAGAI PENDIDIKAN DASAR ISLAM DAN PELETAK DASAR LITERASI Novianti Muspiroh
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.967 KB) | DOI: 10.24235/tamaddun.v7i1.4506

Abstract

Abstrak Kajian sejarah mengenai lembaga pendidikan selama ini lebih banyak terfokus kepada madrasah. Padahal kuttab adalah salah satu lembaga pendidikan yang tidak kalah pentingnya. Kuttab merupakan pendidikan dasar untuk anak-anak usia dini dan yang terpinggirkan. Keberadaannya sudah ada sejak sebelum Islam sampai terutama dengan kemunculan madrasah, meskipun selanjutnya tetap bertahan dalam lingkup yang terbatas. Sebagai lembaga pendidikan, kuttab menunjukkan peran yang sangat penting bagi pendidikan anak-anak khususnya dalam literasi dan pendidikan dasar agama. Meskipun sistem pendidikan ini bersifat tradisional, namun kuttab sangat berperan dalam membangun literasi yang baik bagi masyarakat Islam terutama di awal-awal sejarah Islam.  Pendekatan yang digunakan antara lain keteladanan dan pembiasaan. Model pembelajarannya halaqoh. Keywords: Character building, Marginal, Traditional, non-formal
Relasi Islam dan Masyarakat Etnis Tionghoa (Studi Kasus: Komunitas Cina Benteng di Tangerang) Bambang Permadi
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.963 KB) | DOI: 10.24235/tamaddun.v7i1.4498

Abstract

AbstrakKomunitas Cina Benteng merupakan kelompok masyarakat etnis Tionghoa yang tinggal di Tangerang, Banten. Secara historis, orang Cina Benteng memiliki hubungan yang dekat dengan Islam meskipun kini banyak yang mengkonversi kepercayaannya menjadi non-muslim. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) memahami struktur kebudayaan dan kehidupan masyarakat Cina Benteng; dan 2) mengetahui bagaimana tanggapan mereka terhadap Islam, baik sebagai doktrin maupun peradaban. Studi ini menunjukkan bahwa penerimaan Islam secara kultural oleh masyarakat Cina Benteng, tidak serta merta membuat mereka menerima Islam secara doktrin dan agama. Di samping itu, terdapat pula kesan yang konservatif terhadap kelompok Cina muslim.. Keywords: Chinese Muslim, Chinese ethnic, Tangerang.
Kajian Teks Naskah Gandoang Wanasigra Sindangkasih Ciamis Muhamad Mukhtar Zaedin
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.633 KB) | DOI: 10.24235/tamaddun.v7i1.4505

Abstract

AbstrakNaskah Gandoang adalah naskah yang berada di Wanasigra, Sindangkasih, Ciamis, dan merupakan milik Aki Haji Mahmud. Naskah ini merupakan barang warisan turun temurun dari juru kunci Situs Gandoang. Hingga kedatangan penulis ke tempat itu, naskah ini belum banyak disentuh oleh kalangan. Sehingga kemudian menarik minat penulis untuk membahasnya. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji teks naskah Gandoang dengan mentransliterasikan dan menerjemahkan, serta mengkajinya. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filologi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Naskah Gandoang adalah salah satu naskah salinan yang memuat nilai sejarah, karena di dalamnya terdapat data rekaman peristiwa yang terjadi pada abad ke-17 berupa surat pengukuhan kekuasaan. Keywords: manuscript, 17th century, Galuh, Imbanegara, Mataram
Jaringan Ulama Cirebon Abad ke-19 Sebuah Kajian Berdasarkan Silsilah Nasab dan Sanad Syafaah, Aah
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.639 KB) | DOI: 10.24235/tamaddun.v7i1.4497

Abstract

ABSTRAK Jaringan Ulama di Cirebon abad ke-19 merupakan rangkaian mata rantai keilmuan baik berupa sanad tarekat yang ketersambungannya merujuk kepada Rasulullah SAW maupun melalui jalur  nasab yang dimiliki oleh para pendiri pesantren di Cirebon yang bermuara kepada Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayat (1448-1568) sebagai pendiri kerajaan Cirebon pada abad ke-15. Keduanya merupakan entry poin yang dapat menghubungkan ketersambungan ulama atau lebih dikenal sebagai jaringan ulama pada abad sebelum dan sesudah abad ke- 19 tersebut. Peran Makkah dan Madinah saat itu, terutama pada abad ke-17 dan 18 bahkan memuncak pada abad ke-19, sangat signifikan dalam membentuk rekonsiliasi tasawuf (mistisisme Islam) dan syariat sehingga muncul istilah neo-sufisme. Dan salah satu bentuk dari neo-sufisme ini adalah pengajaran-pengajaran tarekat selain pengajaran Islam lainnya yang lebih berorientasi kepada fikih. Tarekat Syattariyah kemudian menjadi tarekat yang paling dominan yang diinisiasi oleh para ulama Cirebon yang kemudian membentuk jaringan tersendiri dalam wadah pesantren-pesantren yang tumbuh dan berdiri di Cirebon; selain tentu saja banyak tarekat-tarekat lainnya yang juga berkembang cukup signifikan dengan jumlah pengikut yang cukup massif. Keberadaan pesantren tidak bisa dilepaskan dari keberadaan halaqa; baik di Makkah atau di al-Azhar Kairo, sampai kemudian  pesantren ini mengalami fungsi yang semakin meluas tidak hanya sebagai tempat kajian intelektual dan spiritual semata, tetapi juga sebagai tempat pengkaderan calon ulama-ulama yang kelak menjadi generasi penerus bagi terbentuknya jaringan ulama antar pesantren, khususnya yang berada di wilayah Cirebon. Kata Kunci: Cirebon, Tarekat Syatariyah, sanad, nasab, jaringan ulama
THE DUTCH ISLAMIC POLICIES : PERAN POLITIK CRISTIAN SNOUCK HURGRONJE DI WILAYAH HINDIA-BELANDA Mohammad Khotimussalam
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.257 KB) | DOI: 10.24235/tamaddun.v7i1.4509

Abstract

Abstrak Kecendrungan penjajah untuk melanggengkan kekuasaannya mendorong Pemerintah Belanda untuk menetapkan beberapa kebijakan-kebijakan yang terkait dengan dengan wilayah kekuasaanya. Menyadari betul bagaimana Umat Islam di wilayah Hindia-Belanda sebagai mayoritas, maka mau tidak mau Belanda harus memahami karakter sosial Umat Islam. Sebelum kedatangan Cristian Snouck Hurgronje kebijakan Belanda terhadap warga muslim pribumi masih abu-abu. Hal itu karena ketidak-tahuan pihak Belanda terhadap ajaran dan masyarakat Islam. Setelah melakukan studi ke-Islaman di Makkah selama sekitar dua tahun, Hurgronje diminta untuk datang ke Indonesia dan ditugaskan untuk meneliti Aceh kemudian Jawa. Setelah itu barulah muncul kebijakan-kebijakan khusus pemerintah Hindia-Belanda berkaitan dengan Islam yang pertama kali digagas oleh Hurgronje. Ia akhirya dikenal sebagai peletak dasar sistem ‘islam politiek’ yang tujuan utamanya untuk melanggengkan kekuasaan Belanda di daerah jajahannya.Keywords : Cristian Snouck Hurgronje, Politik Islam, Hindia-Belanda.
EEN MOOI DORP: Perkembangan Linggajati Pada Masa Hindia Belanda, 1800-1942 Tendi Tendi
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.488 KB) | DOI: 10.24235/tamaddun.v7i1.4508

Abstract

AbstrakAwal abad kesembilan belas merupakan waktu dimana Linggajati masih berdiri sebagai pusat distrik. Saat itu, Linggajati dikenal sebagai sebuah daerah yang membawahi beberapa desa dengan pemimpinnya yang bergelar tumenggung. Kondisi itu terus bergerak dinamis seiring dengan berkembangnya politik yang ada di tanah Jawa. Ketika Inggris dan Belanda melakukan The Anglo–Dutch Treaty of 1814, Jawa kembali menjadi milik Belanda. Beberapa tahun setelahnya, reorganisasi wilayah pun terjadi dan Linggajati bertransformasi menjadi desa kecil yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Cirebon. Ketika orang-orang Belanda semakin dalam memasuki ranah pribumi, Linggajati merupakan salah satu desa yang banyak ditinggali oleh bangsa kulit putih tersebut. Artikel ini merupakan upaya untuk melihat Linggajati sebagai sebuah desa yang terus eksis pada masa kolonial Hindia Belanda. Di samping itu, artikel ini juga berusaha untuk melihat alasan atau latar belakang dari tingginya minat orang-orang Belanda untuk tinggal menetap dan hidup di Linggajati. Metode sejarah dengan pendekatan yang bersifat naratif menjadi pilihan untuk mendasari penelitian ini. Dari studi yang dilakukan, diketahui bahwa pada masa kolonial Hindia Belanda, Linggajati mengalami beberapa transformasi sebelum menjadi sebuah desa seperti sekarang ini. Struktur yang menaunginya pun terus berubah, mulai dari bertanggung jawab secara langsung pada Kesultanan Cirebon, Letnan Jenderal Raffles, regent kabupaten, dan kepala wadana, hingga sekarang ke tingkat kecamatan. Adapun tingginya animo masyarakat kulit putih untuk menetap di Linggajati adalah karena kondisi alam dan suasana di desa yang sangat indah. Hal itu juga dibarengi dengan jarak desa yang tidak terlalu jauh dari Cirebon, yang saat itu menjadi kantong-kantong populasi penduduk Eropa.Kata kunci: masyarakat kolonial, kebudayaan indies, desa pedalaman, Linggajati, Cirebon.
Islam dan Demokrasi : Kebebasan dan Hak Asasi dalam Pandangan Racid Ghannoushi Hasbiyallah Hasbiyallah
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.482 KB) | DOI: 10.24235/tamaddun.v7i1.4502

Abstract

ABSTRAKTunisia merupakan sebuah negara yang berhasil meraih kemerdekaan dari Prancis pada tahun 1954. Kultur budaya yang ada di Tunisia memang sangat kental dengan budaya Islam Arab, dan bahkan mampu memberi pengaruh signifikan bagi politik di Tunisia. Pengaruh tersebut selanjutnya mendapat respon beragam dari para tokoh pemimpin negara itu, dimulai dari masa kepemimpinan Bourguiba yang dianggap otoriter oleh rakyat Tunisia yang kemudian dikudeta oleh Ben Ali tahun 1989. Oleh kerena itu, banyak kalangan menyayangkan serta berupaya untuk mengantisipasi hilangknya nilai-nilai luhur tersebut dengan menggaungkan demokrasi sebagai wadah kebebasan dan terjaminnya hak asasi manusia, salah satu tokoh tersebut adalah Rachid Ghannoushi yang senantiasa memperjuangkan tumbuhnnya nilai-nilai kebebasan dan hak asasi manusia bagi segenap rakyat Tunisia.Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian pustaka (library research) yang bersifat deskriptif-analitik-kualitatif. Ruang lingkup penelitian dibatasi pada demokrasi pandangan Ghannoushi sebagai objek penelitian serta kebebasan dan hak asasi manusia sebagai unit analisis. Sedangkan metode pengumpulan data dilakukan dengan penelahaan bahan-bahan pustaka baik yang terdiri dari bahan-bahan yang bersifat primer maupun sekunder, dan metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis dari Miles dan Huberman, serta tahap-tahap penelitian dalam penelitian ini menggunakan metode Bogdan, yaitu tahap pra lapangan, tahab kegiatan, dan tahap analisis data.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan Ghannoushi terhadap demokrasi begitu kuat. Ia berpendapat bahwa demokrasi selalu mengutamakan hak asasi, kebebasan dan keadilan tidak bertentangan dengan syariat Islam, bahkan demokrasi seiring dengan tuntutan Maqasid Syari’ah. Ghannoushi melihat demokrasi itu sebagai sesuatu yang progresif dan dinamis sebagai sistem yang berpangkal kepada kuasa rakyat (rakyat adalah sumber kekuasaan) untuk menjamin hak-hak dan kebebasan. Kata Kunci: Rachid Ghannoushi, Demokrasi, Kebebasan, Hak Asasi Manusia. 
PERAN KOMUNITAS MUSLIM AUSTRALIA DALAM PERKEMBANGAN ISLAM DI AUSTRALIA ABAD 20 M Siti Ambiah; Dedeh Nur Hamidah
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.344 KB) | DOI: 10.24235/tamaddun.v7i1.4507

Abstract

Abstrak Australia adalah salah satu negara yang dari segi geografi teletak berdekatan dengan Asia, namun secara kebudayaan lebih dekat dengan Barat. Mayoritas penduduk Australia beragama Kristen, meski demikian Islam dapat berkembang dengan baik di sana. Perkembangan Islam ini tak lepas dari peran komunitas-komunitas Muslim yang ada di sana, komunitas ini adalah orang-orang Islam yang melakukan migrasi ke Australia dengan bebagai latar belakang alasan, seperti ekonomi, politik, dan sebagainya. Untuk dapat berbaur dan mempertahankan keislamannya, Muslim dalam komunitas Muslimnya melakukan berbagai upaya. Dari latar belakang tersebut, penelitian ini akan berpacu pada bentukan rumusan masalah sebagai berikut; pertama, bagaimana sejarah masuknya Islam ke Australia, kedua, bagaimana perkembangan Islam dan komunitas Muslim di Australia, dan ketiga, bagaimana peran komunitas Muslim Australia dalam perkembangan Islam di Australia abad 20 M.  Dalam menyusun penelitian ini penulis menggunakan pendekatan Library  Reseach atau penelitian kepustakaan. Metode yang digunakan yakni metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, interpretasi, verifikasi dan historiografi, sehingga mampu menyajikan bentuk tulisan yang mudah dipahami.   Kata Kunci: Peran, Komunitas Muslim, Australia.
Abad Keemasan dan Pembangunan Sosial di Negara Usmani abad ke-16: Pendekatan Struktur, Kultur dan Proses. Frial R Supratman
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.691 KB) | DOI: 10.24235/tamaddun.v7i1.4501

Abstract

AbstrakPembangunan sosial merupakan proses purba yang sudah ada sejak manusia itu ada. Tanpa pembangunan sosial peradaban maju tidak akan pernah bisa muncul. Dalam makalah ini penulis ingin menginvestigasi pembangunan sosial di masyarakat non-Barat pada periode modern awal yaitu di Negara Usmani (Ottoman State). Negara Usmani pada abad ke-16 sering dipandang sebagai negara adidaya dan abad ke-16 merupakan ‘Abad Keemasan’ (Golden Age) dari Negara Usmani, khususnya ketika Negara Usmani berada di bawah pemerintahan Sultan Suleyman Kanuni (1520-1566). Dalam hal ini kita ingin mencari tahu bagaimana pembangunan sosial yang terjadi di Negara Usmani. Pembangunan sosial yang dimaksud tentu saja bukan pembangunan sektoral, tetapi pembangunan yang menyeluruh sehingga menciptakan masyarakat yang partisipatif dengan melibatkan elemen dasar kehidupan sosial yaitu struktur, kultur dan proses. Dengan demikian maka kita akan mencari tahu bagaimana pembangunan sosial berjalan di Negara Usmani pada abad ke-16. Keberadaan pembangunan sosial ini diharapkan mampu menjadi bahan penilaian terhadap eksistensi “abad keemasan” yang selama ini menjadi perdebatan dalam historiografi sejarah Usmani.Keywords: Social development; Ottoman; Golden Age; Structure; Culture; Process
Jaringan Ulama Cirebon Abad ke-19 Sebuah Kajian Berdasarkan Silsilah Nasab dan Sanad Farihin Farihin; Aah Syafaah; Didin Nurul Rosidin
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.249 KB) | DOI: 10.24235/tamaddun.v7i1.4675

Abstract

ABSTRAK Jaringan Ulama di Cirebon abad ke-19 merupakan rangkaian mata rantai keilmuan baik berupa sanad tarekat yang ketersambungannya merujuk kepada Rasulullah SAW maupun melalui jalur  nasab yang dimiliki oleh para pendiri pesantren di Cirebon yang bermuara kepada Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayat (1448-1568) sebagai pendiri kerajaan Cirebon pada abad ke-15. Keduanya merupakan entry poin yang dapat menghubungkan ketersambungan ulama atau lebih dikenal sebagai jaringan ulama pada abad sebelum dan sesudah abad ke- 19 tersebut.Peran Makkah dan Madinah saat itu, terutama pada abad ke-17 dan 18 bahkan memuncak pada abad ke-19, sangat signifikan dalam membentuk rekonsiliasi tasawuf (mistisisme Islam) dan syariat sehingga muncul istilah neo-sufisme. Dan salah satu bentuk dari neo-sufisme ini adalah pengajaran-pengajaran tarekat selain pengajaran Islam lainnya yang lebih berorientasi kepada fikih.Tarekat Syattariyah kemudian menjadi tarekat yang paling dominan yang diinisiasi oleh para ulama Cirebon yang kemudian membentuk jaringan tersendiri dalam wadah pesantren-pesantren yang tumbuh dan berdiri di Cirebon; selain tentu saja banyak tarekat-tarekat lainnya yang juga berkembang cukup signifikan dengan jumlah pengikut yang cukup massif.Keberadaan pesantren tidak bisa dilepaskan dari keberadaan halaqa; baik di Makkah atau di al-Azhar Kairo, sampai kemudian  pesantren ini mengalami fungsi yang semakin meluas tidak hanya sebagai tempat kajian intelektual dan spiritual semata, tetapi juga sebagai tempat pengkaderan calon ulama-ulama yang kelak menjadi generasi penerus bagi terbentuknya jaringan ulama antar pesantren, khususnya yang berada di wilayah Cirebon. Kata Kunci: Cirebon, Tarekat Syatariyah, sanad, nasab, jaringan ulama

Page 1 of 2 | Total Record : 11