cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran
ISSN : 02164752     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah FK UKI bertujuan sebagai wadah publikasi hasil penelitian staff pengajar fakultas kedokteran internal dan eksternal UKI, sebagai sharing knowledge para dosen fakultas kedokteran serta menunjang pengembangan ilmu kedokteran/kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 217 Documents
Factors Associated with the Incidence of Stunting in 18 - 24 Months Old Children in Malaka Village, Sumedang District, West Java, Indonesia Nia Reviani; Joshua Harmani; Reza Fitriani; Faulina Panjaitan; Eunike Malau; Kenny Timisela
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 1 (2019): JANUARI - MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstract Stunting has been one of major concerns for the Indonesian government. In 2013, Indonesia reached the number of 37.2% for national stunting incidence, constantly increasing from year 2010 (35.6%) and 2007 (36.8%) according to Indonesian Basic Health Research (Riset Kesehatan Dasar). The National Nutrition Status Monitoring (Pemantauan Status Gizi) in 2017 recorded that 17.8% children of Indonesia weremalnourished and 12.1% of them were stunted. Whereas data from the Ministry of Health of the Republic of Indonesia in 2017 showed that the prevalence of underfives nationally with stunting was 29.6%. At provincial level, West Java ranked 26th with 35.3% as the number of stunting incidence. Sumedang District is one of 100 districts assigned as the main focus for stunting intervention program. In addition, Malaka Village in Sumedang District is one of 1,000 villages in Indonesia designed to be intervened as it held a high incident of children suffering from stunting. This study was aimed to find the association between birth length, birth weight, family economic status, exclusive breastfeeding, mother’s knowledge with the incidence of stunting in children aged 24-48 months old. The total sample of the study was 62 children, determined through accidental (convenience) sampling. Malaka Village had a prevalence of stunted children at a percentage of 27.4%. From univariate analysis with Spearman’s Rho correlation test, birth length and exclusive breastfeeding showed significant associations with stunting while other factors failed to demonstrate such associations. Keywords: malnutrition, birth length, birth weight, exclusive breastfeeding Abstrak Stunting merupakan salah satu permasalahan utama bagi pemerintahan Indonesia. Pada tahun 2013, insiden stunting secara nasional di Indonesia mencapai 37.2%. Angka ini meningkat terus-menerus sejak tahun 2010 (35.6%) dan 2007 (36.8%) berdasarkan data dari Riskesdas. Pemantauan Status Gizi tahun 2017 mencatat bahwa 17.8% anak-anak Indonesia mengalami malnutrisi dan 12.1% di antaranya juga mengalami stunting. Data dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2017 menunjukkan bahwa prevalensi balita stunting sebesar 29.6%. Pada tingkat provinsi, Jawa Barat berada pada peringkat 26 dengan insiden stunting sebesar 35.3%. Kabupaten Sumedang merupakan salah satu dari 100 kabupaten yang ditetapkan sebagai focus intervensi stunting. Desa Malaka pada KabupatenSumedang juga merupakan salah satu dari 1,000 desa di Indonesia yang akan dilakukan intervensi sunting karena angka kejadian stunting yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan antara panjang badan lahir, berat badan lahir, status ekonomi keluarga, ASI eksklusif, pengetahuan gizi ibu terhadap kejadian stunting pada anakusia 2448 bulan. Total sampel dari penelitian ini sejumlah 62, yang ditentukan dengan accidental (convenience) sampling. Prevalensi anak stunting di Desa Malaka ditemukan sebesar 27.4%. Dengan analisis univariat menggunakan uji korelasi Spearman Rho, didapatkan bahwa panjang badan lahir dan ASI eksklusif memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian stunting, sedangkan faktor lainnya tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Kata kunci: malnutrisi, panjang badan lahir, berat badan lahir, ASI eksklusif
Identifikasi Telur Cacing Usus dan Kista Protozoa Usus pada Tubuh Lalat dari Warung Makan di Tanjung Duren Timur Jakarta Barat Caecilia A. P. Wulandari; Esther S. Majawati; Adelina Simamora
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 1 (2019): JANUARI - MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Penularan penyakit pada manusia dapat terjadi melalui banyak cara antara lain melalui lalat sebagai vektor mekanik. Lalat dapat membawa bakteri patogen, protozoa, larva serta telur cacing yang menempel pada tubuhnya dan dapat mencemari bahan makanan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi telur cacing usus dan protozoa usus pada tubuh lalat di warung makan kelurahan Tanjung Duren Timur, Jakarta Barat. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi deskriptif dengan pendekatan poton lintang. Penelitian dilakukan di Tanjung Duren Timur, Jakarta Barat. Hasilnya, 38 warung tempat penangkapan lalat seluruhnya positif mengandung parasit. Parasit yang ditemukan adalah telur cacing tambang, Ascaris lumbricoides dan kista Entamoeba histolytica pada 17 (44,8%) warung makan, kista Giardia lamblia pada 12 (31,6%) warung makan, dan kista Entamoeba coli pada 32 (84,2%) warung makan. Kata kunci: telur cacing usus, protozoa usus, vektor mekanik, lalat. Abstract Transmission of diseases can occur in many ways, including through flies as mechanical vectors. Flies can carry pathogenic bacteria, protozoa, larvae and worm eggs that attached to their bodies and can contaminate food. The purpose of this cross-sectional study was to identify eggs of the intestinal worm and intestinal protozoa attached to the body of flies at food stalls in Tanjung Duren Timur, West Jakarta. As a result, all (n=38) stalls where flies were caught were entirely positive for parasites. Hookworm eggs, Ascaris lumbricoides and Entamoeba histolytica cysts were found in 17 (44.8%) food stalls; Giardia lamblia cysts in 12 (31.6%); and Entamoeba coli cysts in 32 (84.2%).Keywords: eggs of intestinal worms, intestinal protozoa, mechanical vectors, flies.
Sindrom Wellens Tipe A Frits R.W. Suling
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 1 (2019): JANUARI - MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Sindrom Wellens pertama kali ditemukan tahun 1980 oleh de Zwaan dan Wellens. Kriteria diagnostik yang penting adalah perubahan karakteristik gelombang T, riwayat nyeri dada, enzim jantung meningkat sedikit atau normal, EKG tanpa gelombang Q, tanpa peningkatan peningkatan ST elevasi signifikan dan progresi gelombang R yang normal. Sindroma Wellens merupakan salah satu indikasi bahwa ada sumbatan kritikal arteri koroner terutama LAD yang lebih dari 50%. Tulisan ini akan melaporkan kasus seorang laki laki berusia 57 tahun dengan keluhan nyeri dada tipikal angina yang telah berlangsung selama tiga hari. Pasien dirujuk ke RS POLRI untuk primary percutaneous coronary intervention (PCI), ditemukan stenosis 90% di bagian proksimal left anterior descending artery (LAD) dan dilakukan pemasangan stent dengan hasil baik dan stent paten.Kata Kunci : Wellens, LAD, PCI Abstract Wellens syndrome was first discovered in 1980 by de Zwaan and Wellens. The diagnostic criteria for Wellens syndrome are changes in the characteristics of T waves, a history of chest pain, a slight or normal increase in cardiac enzymes, and ECG without Q waves, without a significant increase in ST segment elevation and normal R wave progression. Wellens syndrome indicates that there is a critical blockage of coronary arteries, especially left anterior descending artery (LAD) that is more than 50%. This paper will report a case of a 57-year-old man with typical chest pain with three days onset of chest pain. The patient was referred to POLRI Hospital for primary percutaneous coronary intervention (PCI), and 90% stenosis was found in the mid proximal of left anterior descending artery (LAD) and stenting was performed, with good results and patent stents.Keywords: Wellens, LAD, PCI
Obesitas pada Anak: Ada Kaitan dengan Asupan Air? Sudung O. Pardede
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 1 (2019): JANUARI - MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Obesitas merupakan masalah kompleks pada anak dan telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia terlebih pada negara maju dan berkembang.Penyebab obesitas bersifat multifaktorial, namun penyebab dasarnya adalah ketidak seimbangan antara kalori yang dikonsumsi dan yang digunakan atau dikeluarkan.Salah satu penyebab obesitas adalah asupan kalori yang berlebih yang diperoleh dari makanan atau minuman seperti minuman mengandung gula. Penambahan gula dan zat pewarna pada air minum merupakan upaya meningkatkan asupan air, karena air mempunyaibanyak fungsi dalam tubuh makhluk hidup yang berperan menjaga kesehatan dan hidupJika asupan air berkurang, dapat terjadi kurang air tubuh atau dehidrasi. Beberapa penelitian melaporkan volume air yang dikonsumsi sebagian masyarakat berada di bawah standar yang dianjurkan, dan lebih dari 20% anak dan remaja mengonsumsi air di bawah standar.Salah satu upaya meningkatkan konsumsi air per hari adalah menyediakan minuman dalam kemasan dengan memberi warna dan rasa seperti menambahkan gula.Penambahan gula atau kalori ke dalam minuman berperan terhadap kejadian obesitas terutama pada anak. Berbagai upaya dilakukan untuk tata laksana obesitas, namun konsumsi air putih sebagai salah satu faktor yang dapat dipertimbangkan dalam tata laksana obesitas belum banyak diperbincangkan. Dalam kepustakaan disebutkan bahwa minum air putih dapat menurunkan berat badan karena air putih tidak mengandung kalori sehingga asupan kalori total berkurangdan meningkatnya oksidasi lemak melalui peran insulin karena minum air non kalori tidak menstimulasi insulin.Kata kunci: air, anak, minuman, obesitas Abstract Obesity is a complex problem in children and has become a worldwide health problem especially in developing and developed countries. Although obesity has multifactorial etiologies, its basic etiology is imbalance between caloric intake and expenditure. One cause of obesity is excessive caloric intake from food or glucose containing beverages. The addition of glucose and food coloring in drinking water is an attempt to increase water intake since water has many functions in living organisms and plays a key role in maintaining health and life. Decreased water intake may cause dehydration. Studies reported that the volume of water consumed by a portion of people was below the recommended standard and more than 20% of children and adolescents had substandard water consumption. An attempt to increase daily water consumption is to provide packed-beverages with the addition of color, flavour and glucose. The addition of glucose or calorie in beverages contributes to increased incidence of obesity in children. Several attempts are addressed to manage obesity; however, clear-drinking water consumption as a considerable factor in obesity management still has been not much of a discussion. Literatures stated that consuming cleardrinking water could decrease body weight because drinking water didn’t contain calorie and therefore led to decreased total caloric intake and increased insulin-related fat oxidation since consumption of non-caloric water didn’t stimulate insulin secretion. Keywords : water, children, beverages, obesity
Malaria in Pregnancy: A Holistic Review and Approach to Laboratory Findings, Management and Outcomes Tigor P. Simanjuntak; Giovanni A. Simbolon; Novita Hermanus; Nadya R. Permata; Clarissa Agdelina
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 1 (2019): JANUARI - MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstract Malaria is an infectious disease caused by protozoa of the genus Plasmodium, transmitted by the bite of female mosquitoes Anopheles. Malaria can infect various populations including pregnant women. The incidence of malaria in pregnancy is quite high especially in tropical - endemic regions such as Indonesia, Papua New Guinea, Nigeria, West Africa and Sudan. It happens because there is no enhanced control activities such as two prevention approaches advocated by the WHO, as well prevention intermittently with sulfadoxine- pyrimethamine (SP) and the treatment of malaria during pregnancy. There are several factors that influence the high prevalence of malaria such as mosquito vectors, malaria parasites, human hosts and environment. As a result of the presence of malarial parasites in the placenta appear serious adverse outcomes to the mother, fetus and newborn. Malaria can be diagnosed with microscopy, rapid diagnostic test (RDT), and polymerase chain reaction (PCR).The firstline treatments recommended by the WHO in the second and third trimester of pregnancy are artemisinin-based combination treatments (ACT).Keywords: Malaria, pregnancy, laboratory findings, management, outcomes Abstrak Penyakit malaria merupakan infeksi yang disebabkan oleh genus Plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Malaria dapat menginfeksi berbagai populasi termasuk perempuan hamil. Insidens malaria dalam kehamilan cukup tinggi terutama di wilayah tropis - endemik seperti Indonesia, Papua Nugini, Nigeria, Afrika Barat, dan Sudan. Hal itu terjadi karena ketiadaan penanggulangan/pencegahan seperti yang dianjurkan WHO yaitu pemberian sulfadoxine- pyrimethamine (SP) intermiten dan pengobatan malaria dalam kehamilan. Ada banyak faktor yang berperan terhadap kejadian malaria yakni nyamuk sebagai vektor, parasit malaria, manusia sebagai pejamu dan lingkungan yang juga berperan terhadap kejadian malaria dalam kehamilan. Malaria dalam kehamilan berakibat serius trehadap ibu, janin dan neonatus. Diagnosis dapat ditegakkan secara mikroskopi, rapid diagnostic test (RDT), dan polymerase chain reaction (PCR). Pengobatan lini pertama yang direkomendasikan oleh WHO pada trimester ke dua dan ketiga kehamilan adalah kombinasi artemisinin (artemisinin-based combination treatments - ACT).Kata kunci: Malaria, kehamilan, pemeriksaan laboratorium, tatalaksana, luaran
Hubungan antara Gangguan Pendengaran dan Kualitas Hidup pada Orang Lanjut Usia Destinea Silvanaputri; Bambang S. R. Utomo; Lina Marlina; Fransiskus Poluan; Jurita Falorin; Julita M. Dewi; Dame J. Pohan
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 2 (2019): APRIL - JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Menurut data USA-Bureau of the census, Indonesia diperkirakan akan mengalami pertambahan warga lansia terbesar di seluruh dunia antara tahun 1990-2025, yaitu sebanyak 414%. Sejalan dengan bertambahnya usia harapan hidup di Indonesia, masalah kesehatan bagi usia lanjut akan semakin banyak, salah satunya adalah gangguan pendengaran. Pada individu yang berusia lebih dari 65 tahun, sekitar 30% di antaranya mengalami penurunan fungsi pendengaran (presbiskusis) dan setelah usia 75 tahun, angka tersebut meningkat menjadi 50%. Masalah pendengaran dapat berpengaruh pada kualitas hidup lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gangguan pendengaran dan kualitas hidup pada lansia di Sasana Tresna Werdha Karyabakti Ria Pembangunan Cibubur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian cross sectional. Teknik sampling pada penelitian ini adalah total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 48 orang. Responden mengisi dua kuesioner, yaitu Hearing handicap inventory elderly-screening version (HHIE-S) dan World Health Organization quality of life (WHOQOL-BREF). Terdapat kecenderungan bahwa lansia yang memiliki gangguan pendengaran berisiko lebih besar untuk memiliki kualitas hidup yang kurang baik, walaupun hubungan tidak bermakna (odds ratio 2,0; 95% confidence interval 0,49,7; p=0,605). Diperlukan sampel penelitian yang lebih besar dan desain penelitian yang lebih baik untuk meneliti lebih lanjut hubungan antara gangguan pendengaran dan kualitas hidup pada lansia.Kata kunci: Lanjut usia, gangguan pendengaran, HHIE-S, kualitas hidup, WHOQOL-BREF Abstract According the data from USA Bureau of the census, Indonesia is expected to experience the largest increase (414%) in elderly citizens worldwide between 1990-2025. In line with the increasing life expectancy of the people in Indonesia, there will be more health problems for the elderly, for example hearing loss. In individuals aged over 65 years old, about 30% of them experience decreasing hearing ability (presbiskusis) and after 75 years old, that number increases to 50%. Hearing problem can affect to the quality of life of the elderly. This research aimed to determine the relationship of hearing loss with the quality of life for elderly in Sasana Tresna Werdha Karyabakti Ria Pembangunan Cibubur. This research used a cross sectional method with total sampling technique. All 48 respondents filled out two questionnaries: the hearing handicap inventory elderly-screening version (HHIE-S) and the World Health Organization Quality of Life (WHOQOL-BREF). From the results of the analysis, it was found that respondents with poor hearing quality had a higher risk of having poor quality of life, although the association was not significant (odds ratio 2,0; 95% confidence interval 0,4-9,7; p=0,605). Bigger study with better design is needed to evaluate the relationship between hearing loss and qulaity of life in elederly.Keywords: Elderly, hearing loss, HHIE-S, quality of life, WHOQOL-BREF.
Pembentukan Germ Tube Candida albicans dan Candida tropicalis pada Media Putih Telur Mulyati; Syarifah E. Jannah; Retno Wahyuningsih
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 2 (2019): APRIL - JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Spesimen penelitian adalah 340 isolat Candida yang diisolasi dari biakan bahan klinik penderita kandidosis (darah, sputum, tinja, urin, kerokan kulit, sekret vagina, usap mulut dan fistula). Isolat Candida dimurnikan dan diidentifikasi dengan metode fermentasi karbohidrat (gold standar) dan didapatkan Spesies Candida yang akan diuji terdiri dari 58 isolat C. albicans, 90 isolat C. tropicalis dan 192 isolat Candida lainnya. Selanjutnya dilakukan uji pembentukan germ tube pada media cair yang mengandung protein yaitu putih telur ayam buras. Pada setiap tabung perbenihan dimasukkan ± 1 ml putih telur dan dimasukkan inokulum dengan konsentrasi ±105-106 sel/ml, kemudian sedikit dikocok agar tercampur. Tabung biakan ditutup dengan kapas dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 2 jam. Hasil dinyatakan positif bila terbentuk kecambah (germ tube). Hasil uji pembentukan germ tube menunjukkan seluruh spesies yang diidentifikasi sebagai C. albicans (n=58) yang membentuk germ tube hanya 2 (3,4%) isolat tidak membentuk germ tube. Sebaliknya, pada C. tropicalis (n=90) hanya ditemukan 4 isolat (4,4%) yang membentuk germ tube dan secara morfologis tidak berbeda dengan germ tube yang dibentuk oleh C. albicans tetapi jumlahnya sedikit. Kata kunci: C.albicans, C.tropicalis, uji Germ tube, putih telur Abstract As of 340 Candida isolates were isolated from the culture material of patients with candidosis (blood, sputum, feces, urine, skin scrapings, vaginal secretions, mouth swabs and fistulas). Candida isolates were purified and identified by carbohydrate fermentation method (gold standard). The Candida species to be tested consisted of 58 C. albicans isolates, 90 C. tropicalis isolates and 192 other Candida isolates. Subsequently, the germ tube formation test was carried out on liquid media containing protein, such as chicken egg white. In each seedling tube, ± 1 ml of egg white was inserted and an inoculum was inserted with a concentration of ± 105-106 cells / ml, then shaken slightly to mix. The culture was covered with cotton and incubated at 37oC for 2 hours. The results were positive if germ tube was formed. The results of germ tube formation test showed that of 58 species identified as C. albicans, only 2 (3.4%) isolates did not form germ tubes. In contrast, of 90 C. tropicalis isolates, only 4 (4.4%) formed the germ tube and morphologically did not differ from the germ tube formed by C. albicans but the amount was small.KeyWord: Candida albicans, Candida tropicalis, germ tube, egg white
Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Ekstrak Kembang Kol (Brassica oleracea var. Botrytis) Fri Rahmawati; Antonio A. I. Tjiarwana; Maria Bintang
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 2 (2019): APRIL - JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menghambat reaksi radikal bebas di dalam tubuh. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-pikril hidrazil) dan uji toksisitas dengan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) terhadap ekstrak kembang kol (Brassica oleracea var. Botrytis). Ekstrak kembang kol dibuat dengan metode maserasi menggunakan etanol 70% sebagai pelarut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IC50 ekstrak etanol kembang kol sebesar 292.26 ppm dan nilai LC50 sebesar 677.95 ppm. Kata Kunci: kembang kol, Antioksidan, toksisitas Abstract Antioxidants are compounds that can inhibit the reaction of free radicals in the human body. This study aims to determine the antioxidant activity with DPPH (2,2-diphenyl-1-pikril hidrazil) method and toxicity test by the BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) method of cauliflower extract (Brassica oleracea var. Botrytis). Cauliflower extract was made using maceration extraction method with 70% ethanol as solvent. The results showed that the IC50 and value of cauliflower ethanol extract was 292.26 ppm and LC50 677.95 ppm. Keywords: cauliflower, Antioxidant, toxicity
Penilaian Toksisitas Ekstrak Kulit dan Daging Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Muhammad Alfarabi; Evilin E. Yuniarti
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 2 (2019): APRIL - JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Buah naga merupakan tanaman pangan dari genus Hylocereus yang daging buahnya dapat dimakan dengan rasa yang manis, namun kulit buahnya tidak dimanfaatkan sehingga menjadi limbah organik. Secara umum, daging buah dan kulit buah memiliki senyawa aktif yang bermanfaat pada bidang farmakologi. Aktivitas senyawa tersebut perlu diuji secara ilmiah sebelum dimanfaatkan secara luas. Salah satu uji bioaktivitas senyawa aktif dari tumbuhan adalah brine shrimp lethality test (BSLT). Uji dilakukan untuk menunjukkan aktivitas senyawa aktif tumbuhan berupa efek toksik terhadap larva udang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas ekstrak kulit dan daging buah naga dengan menggunakan BSLT. Hasil penelitian menunjukkan nilai LC50 daging buah naga merah terdapat pada konsentrasi 425 ppm dan pada kulit buah naga merah memiliki nilai LC50 terdapat pada konsentrasi 637,5 ppm. Data tersebut menunjukkan bahwa kedua ekstrak daging dan kulit buah naga merah memiliki aktivitas berupa efek toksik terhadap larva udang.Kata Kunci: Hylocereus polyrhizus, BSLT, senyawa aktif, efek toksik Abstract The flesh of dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) has sweet taste, but the skin of that fruit cannot be consumed and it becomes organic waste. Generally, the fruit and skin of fruit have active compounds and useful for pharmacology. Before widely used, the active compounds must be tested scientifically. Brine shrimp lethality test (BSLT) is common test for plant active compounds. This test is showing the toxic effect from plant active compounds against brine shrimp. The aim of this study is to determine toxic effect of flesh & skin of dragon fruit extracts. The results showed the dragon fruits flesh had LC50 in 425 ppm and the skin had LC50 in 637,5 ppm concentration. Data showed both of the extracts had toxic effect on brine shrimp. Keyword: Hylocereus polyrhizus, BSLT, active compound, toxic effect
Laporan Kasus: Stres Pasca Trauma Dwi Karlina
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 2 (2019): APRIL - JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Gangguan stres pasca trauma adalah respons terhadap stresor yang bersifat katastropik. Tulisan ini melaporkan tentang tiga pasien: satu pasien mengalami Tsunami Aceh, yang lain menjadi saksi kecelakaan yang mengerikan, dan yang terakhir korban teror bom. Dua pasien pertama dengan dua kali psikoterapi kembali pulih. Pasien terakhir mengalami gangguan stres pasca trauma kronis, ditambah masalah keluarga, tidak ada dukungan keluarga, dan baru pulih setelah mendapat enam kali psikoterapi.Kata kunci: stress, pasca trauma, psikoterapi Abstract Post traumatic stress disorders is a response to a catastrophic stressor. Three patients haved Tsunami Aceh, witnessing of tragic accident and terrorism. Two patients were healed after two times psychotherapy. The last patient had chronic post traumatic stress disorders, family problem, no support from others and took six times psychotherapy to heal.Key words: stress, post traumatic, psychotherapy