cover
Contact Name
Gede Arda
Contact Email
ardagede@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.beta.tep@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25023012     EISSN : 25023012     DOI : -
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) memuat hasil penelitian di bidang teknik biosistem (biosystem engineering). Cakupan dari jurnal ini merentang dari aplikasi ilmu keteknikan untuk pertanian. Diantara bidang ilmu tersebut, yang menjadi fokus adalah Bidang Manajemen Keteknikan Pertanian, Teknologi Pascapanen khususnya produk Hortikultura, Rekayasa dan Ergonomika, Konservasi Sumber Daya Alam, serta khusus tentang aplikasi Instrumentasi dan Sistem kontrol dalam bidang pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS" : 13 Documents clear
Pengaruh Lama Penyimpanan terhadap Karakteristik Kimia Kombinasi Teh Daun Bambu Tabah (Gigantochloa nigrociliata Buse-Kurz) dan Daun Stevia (Stevia rebaudiana B.) Sihombing, Mistiyeni P Sihombing; Kencana, Pande Ketut Diah; Wirawan, I Putu Surya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teh merupakan minuman populer yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat baik di Indonesia maupun di negara lainnya. Pengolahan daun bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata BUSEKURZ) menjadi teh merupakan upaya untuk memanfaatkan senyawa yang ada di dalamnya yang mampu memberikan karakter tersendiri untuk hasil produk teh nantinya. Penambahan kombinasi pemanis alami seperti daun stevia (Stevia rebaudiana B.) pada daun bambu tabah menjadi salah satu contoh teh herbal yang baik untu kesehatan karena menggunakan pemanis alami. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi karakteristik kimia dari kombinasi teh daun bambu tabah dan daun stevia dan lama penyimpanan selama 6 minggu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor, faktor pertama yaitu kombinasi daun stevia dalam bentuk gram dengan daun bambu tabah (A), dan faktor kedua yaitu lama penyimpanan mulai dari minggu ke 1 sampai minggu ke 6 (t). Parameter yang diamati meliputi kadar air, kadar gula, nilai pH, total asam, total fenol serta uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan parameter terjadi pada kadar air, pengukuran pH, dan organoleptik berupa rasa dan hedonik, sedangkan penurunan parameter terjadi pada kadar gula, total asam, total fenol dan uji organoleptik pada warna dan aroma. Penurunan perubahan paling rendah terdapat pada uji parameter total fenol, dan peningkatan perubahan paling besar terdapat pada uji kadar air.
Pengaruh Emulsi Minyak Wijen dan Minyak Sereh sebagai Bahan Pelapis Jambu Biji Merah (Psidium Guajava L.) terhadap Mutu Selama Penyimpanan Zafansyah, Muhamad Ragil; Kencana, Pande Ketut Diah; Wirawan, I Putu Surya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jambu biji merah (Psidium guajava L.) merupakan salah satu buah yang cukup dikenal. Jambu biji merah merupakan buah yang dagingnya lunak, mudah rusak serta cepat membusuk. Salah satu upaya untuk mengurangi kerusakan dan juga memperpanjang masa simpan buah adalah menggunakan edible coating dengan bahan pelapis minyak wijen dan minyak sereh. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh emulsi serta mencari konsentrasi terbaik pada bahan pelapis campuran minyak wijen dan minyak sereh. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktorial. Faktor pertama adalah minyak wijen dengan taraf (W) terdiri dari 3 level konsentrasi, yaitu : 0%, 0,5%, 1% serta faktor kedua adalah minyak sereh (S) yang terdiri dari 3 level konsentrasi, yaitu : 0%, 0,5%, 1% dengan 3 kali ulangan sehingga menghasilkan 27 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh pemberian emulsi minyak wijen dan sereh berpengaruh terhadap nilai susut bobot, total padatan terlarut, intensitas kerusakan, kekerasan buah, dan uji organoleptik selama penyimpanan. Perlakuan konsentrasi minyak wijen 0,5% dan minyak sereh 0,5% (W1S1) merupakan perlakuan yang menghasilkan nilai terbaik yaitu nilai susut bobot 19,15%, total padatan terlarut 6,63 ºBrix, intensitas kerusakan 41,66%, kekerasan buah 20,88%, dan perlakuan konsentrasi minyak wijen 1% dan minyak sereh 0% (W2S0) memiliki nilai organoleptik tertinggi terhadap warna kulit, rasa buah, aroma buah, dan tekstur buah.
Pengaruh Media Penyimpanan dan Tinggi Permukaan Air Pendingin terhadap Mutu dan Lama Simpan Pisang Raja Bulu (Musa Paradisiaca L.) Selama Penyimpanan Barasa, Donari; Kencana, Pande Ketut Diah; Budisanjaya, I Putu Gede
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pisang Raja Bulu merupakan salah satu produk hortikultura yang mudah rusak dan memiliki umur simpan yang relatif singkat. Kemampuan kombinasi media penyimpanan pasir, serbuk gergaji, dan sekam padi dengan tinggi permukaan air yang berbeda sebagai media penyimpanan untuk menjaga kualitas dan memperpanjang masa simpan buah pisang yang diuji selama penyimpanannya. Tujuan penelitian ini ialah untuk menemukan media simpan serta tinggi permukaan air terbaik dari kombinasi media penyimpanan dan tinggi air pendingin sebagai wadah untuk buah pisang. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor perlakuan yaitu ragam media simpan pasir, serbuk gergaji, dan sekam padi, tinggi permukaan air 5 cm, 10 cm, dan 15 cm serta suhu penyimpanan menggunakan suhu ruang (28±2oC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan media simpan pasir dan tinggi permukaan air pendingin 15 cm adalah jenis media terbaik untuk menjaga kualitas dan memperpanjang masa simpan buah pisang raja bulu. Kombinasi tersebut mampu mempertahankan buah pisang selama 16 hari dimana warna aril masih berwarna putih, warna kulit hijau dan tekstur belum melunak.
Pengaruh Posisi dan Tipe Ventilasi Kemasan Peti Karton (Corrugated Box) terhadap Mutu Buah Manggis Selama Proses Transportasi dan Penyimpanan Yulianti, Ni Luh; Kencana, Pande Ketut Diah
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kemasan yang mampu mempertahankan mutu buah manggis pasca transportasi dan selama penyimpanan dalam ruang pendingin. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola Faktorial dimana faktor pertama adalah posisi ventilasi, faktor kedua adalah kombinasi tipe ventilasi. Faktor pertama terdiri dari dua taraf yaitu letak ditengah bidang permukaan kemasan (L1) dan tersebar merata dipermukaan kemasan (L2). Faktor kedua terdiri dari tiga taraf yaitu tipe bundar seluruhnya (V1) tipe oval seluruhnya (V2) dan kombinasi antara oval dan bundar (V3). Luas dimensi ventilasi yang digunakan untuk seluruh perlakuan adalah sebesar 3,45 % dari total luas kemasan. Masing-masing perlakuan tersebut diulang sebanyak 3 kali. Kemasan yang digunakan adalah kemasan karton gelombang berkapasitas 5 kg berdimensi 27 cm x 22 cm x 22 cm tipe fullflap dengan pengaturan buah dalam kemasan menggunakan tipe Face Centred Cubic. Pengujian kemasan dilakukan dengan melakukan melakukan transportasi buah manggis dalam kemasan dengan kondisi jalan dalam kota dan jalan buruk beraspal. Parameter pengujian meliputi perhitungan kuat tekan kemasan, sebaran suhu dalam kemasan, nilai total padatan terlarut buah manggis, nilai pH buah dan persentase susut bobot. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam, dan apabila terdapat pengaruh perlakuan terhadap parameter yang diamati, maka akan dilanjutkan dengan uji Duncan. Berdasarkan hasil uji yang dilakukan diperoleh bahwa interaksi antar perlakuan berpengaruh signifikan terhadap parameter mutu susut bobot buah manggis, TPT dan pH buah. Nilai kuat tekan untuk kemasan hasil rancangan dengan dimensi 27 cm x 22 cm x 22 cm adalah sebesar 284 kgf. Perlakuan L1V1 merupakan perlakuan terbaik yang menghasilkan susut bobot paling rendah yaitu sebesar 2,30% nilai TPT 15.30, pH 2.6 sehingga dapat menjadi kemasan buah manggis yang mampu mempertahankan mutu buah dalam kemasan selama proses transportasi. Abstract The aim of this research was to acquire packaging that can uphold the quality of mangosteen fruit while being transported and stored. A Randomized Group Design Factorial method was used, where the first factor is the location of ventilation and the second factor is a combination of ventilation types. The first factor comprises two levels, specifically, the center location of the packaging surface (L1) and a uniform distribution on the surface of the packaging (L2). The second factor comprises three levels: completely round type (V1), completely oval type (V2), and a combination of oval and round (V3). The ventilation dimension for all treatments was 3.45% of the total packaging area. Each treatment was replicated three times. A 5 kg capacity corrugated carton of dimensions 27 cm x 22 cm x 22 cm in the full-flap type was utilized for packaging, with the fruit arranged in the Face Centered Cubic type. Packaging tests were conducted by transporting mangosteen fruits in packaging through the city and on poorly surfaced roads. The testing parameters comprised the determination of packaging's compressive strength, the distribution of temperature within the packaging, the total soluble solids value of the fruits, the pH value of the fruits and the percentage of weight loss. The obtained data were analysed by analysis of variance and if there was an effect of treatment on the observed parameters, the Duncan test was applied. The test results highlight the significant impact of treatment interaction on mangosteen fruit quality parameters including weight loss, TPT, and fruit pH. The packaging design measured at 27cm x 22cm x 22cm demonstrated a compressive strength value of 284 kgf. The treatment which produced the lowest weight loss of 2.30%, a TPT value of 15.30 and pH 2.6, is L1V1. This treatment is optimal for packaging mangosteen fruit, as it is able to maintain the fruit's quality.
Kombinasi Perekat dan Bentuk Geometri yang digunakan terhadap Karakteristik Biobriket Batang Bambu Tabah (Gigantochloa Nigrociliata Buse-Kurz) Maysaroh, Fayfi; Kencana, Pande Ketut Diah; Budisanjaya, I Putu Gede
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik terhadap kombinasi bahan perekat dan bentuk geometri yang digunakan terhadap mutu briket bambu tabah yang dihasilkan dan menentukan perlakuan manakah yang memberikan hasil terbaik terhadap katakteristik briket yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan menggunakan 2 faktor dan 3 kali pengulangan. Faktor pertama (A) merupakan kombinasi bahan perekat yang terdiri dari 3 taraf tepung sagu dan tepung tapioka (A1), Tepung sagu dan tepung ketan (A2), dan tepung tapioka dan tepung ketan (A3). Faktor kedua (B) merupakan bentuk geometri yang terdiri dari 3 paraf silinder (B1), kubus (B2), dan balok (B3). Seluruh perlakuan dilakukan ulangan sebanyak 3 kali sehingga didapat 27 data pengamatan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan SPSS dan apabila terdapat pengaruh yang signifikan, kemudian akan dilanjutkan dengan uji lanjut BNT terhadap rata-rata perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antar perlakuan jenis kombinasi perekat dan bentuk geometri memberikan pengaruh yang signifikan terhadap parameter mutu briket yang dihasilkan. Perlakuan briket yang dibuat dengan kombinasi perekat tepung sagu dan tepus ketan dengan bentuk geometri silinder (A2B1) merupaka perlakuan yang menghasilkan briket dengan kualitas paling baik dengan nilai kadar air sebesar (6,80% bb), kadar abu sebesar (12,87%), laju pembakaran sebesar (0.08 g/menit) dan kadar zat menguap sebesar (57,50 %). ABSTRACT This study aims to determine the characteristics of the combination of adhesives and geometric shapes used on the quality of stoic bamboo briquettes produced and determine which treatment gives the best results on the characteristics of the briquettes produced. This study used a Factorial Randomized Group Design (RAK) using 2 factors and 3 repetitions. The first factor (A) is a combination of adhesive materials consisting of 3 levels of sago flour and tapioca flour (A1), sago flour and sticky rice flour (A2), and tapioca flour and sticky rice flour (A3). The second factor (B) is a geometric shape consisting of 3 levels of cylinder (B1), cube (B2), and beam (B3). All treatments were replicated 3 times so that 27 observation data were obtained. The data obtained were analyzed using SPSS and if there is a significant effect, then it will be continued with the BNT further test on the average treatment. The results showed that the interaction between the treatment types of adhesive combinations and geometric shapes had a significant effect on the quality parameters of the briquettes produced. The treatment of briquettes made with a combination of sago starch and sticky rice with a cylindrical geometric shape (A2B1) is the treatment that produces the best quality briquettes with a moisture content value of (6.80% bb), ash content of (12.87%,), burning rate of (0.08 g/min) and volatile metter of (57.50%).
Pengaruh Konsentrasi Disinfektan Menggunakan Film Plastik Terperforasi terhadap Susut Bobot dan Mutu Cabai Rawit Selama Penyimpanan Tarigan, Firnando Desnanta; Utama, I Made Supartha; Tika, I Wayan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Cabai rawit (Capsicum frutescens L) adalah salah satu buah cabai yang banyak dibudidayakan oleh para petani di Indonesia karena memiliki harga jual yang tinggi, dapat digunakan sebagai bumbu masakan, menambah nafsu makan, menguatkan kembali tangan dan kaki yang lemas, melegakan hidung tersumbat pada penyakit sinusitis, mengobati migrain, sebagai obat penyakit rematik, sakit perut dan kediginan. Penanganan pascapanen cabai rawit harus dilakukan secara baik dan hati-hati karena buah cabai rawit memiliki sifat yang mudah mengalami kemunduran mutu setelah panen, dan dapat mengalami kerusakan yang menyebabkan kuantitas maupun susut kualitas. Penggunaan disinfektan jenis clorin dapat memperlambat laju kemunduran mutu produk, terutama akibat dari infeksi mikroorganisme. Penggunaan plastik film sebagai bahan kemasan buah-buahan dapat memperpanjang masa simpan produk hortikultura segar, dimana kemasan film plastik memberikan perubahan gas-gas atmosfer dalam kemasan yang berbeda dengan atmosfer udara normal yang dapat memperlambat perubahan fisiologis yang berhubungan dengan pemasakan dan pelayuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi larutan disinfektan dan kemasan plastic terperforasi beberapa atribut mutu buah cabai rawit selama penyimpanan pada suhu 10+1oC dan untuk mengetahui kombinasi konsentrasi larutan disinfektan dan presentase perforasi plastik kemasan optimal untuk mempertahankan mutu buah cabai rawit selama penyimpanan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama merupakan perlakuan perendaman laruran klorin yang terdiri dari konsentrasi 0 ppm, 75 ppm, dan 150 ppm. Faktor kedua merupakan perlakuan persentase lubang perforasi kemasan yang terdiri dari 0%, 2%, 4%, dan 6%. Penelitian ini menggunakan jenis plastic polypropylene berukuran 20 cm x 30 cm dengan ketebalan 0,06 mm. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali dengan berat masing-masing kemasan 250 gram untuk setiap unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman larutan disinfektan 150ppm dengan kemasan lubang terperforasi sebesar 6% secara signifikan mampu mengurangi susut bobot dan atribut mutu buah cabai rawit dibandingkan dengan perlakuan lainnya. ABSTRACT Cayenne pepper (Capsicum frutescens L) is one of the chilies that is widely cultivated by farmers in Indonesia because it has a high selling price, can be used as a cooking spice, increases appetite, strengthens weak hands and feet, relieves stuffy noses in diseases sinusitis, treating migraines, as a medicine for rheumatic diseases, stomach aches and chills. Post-harvest handling of cayenne pepper must be carried out properly and carefully because cayenne pepper has a characteristic that easily deteriorates after harvest, and can experience damage which causes quantity and quality loss. The use of chlorine-type disinfectants can slow down the rate of deterioration in product quality, especially as a result of microorganism infection. The use of plastic film as a packaging material for fruits can extend the shelf life of fresh horticultural products, where plastic film packaging provides changes in atmospheric gases in the packaging that are different from the normal air atmosphere which can slow down physiological changes associated with ripening and withering. This study aims to determine the effect of the concentration of disinfectant solution and perforated plastic packaging on several quality attributes of cayenne pepper during storage at 10+1oC and to determine the optimal combination of disinfectant solution concentration and percentage of perforated plastic packaging to maintain the quality of cayenne pepper during storage. The experimental design used was a completely randomized factorial design with two factors. The first factor was the chlorine solution immersion treatment which consisted of concentrations of 0 ppm, 75 ppm, and 150 ppm. The second factor is the treatment of the percentage of packaging perforations consisting of 0%, 2%, 4%, and 6%. This study used a type of polypropylene plastic measuring 20 cm x 30 cm with a thickness of 0.06 mm. Each treatment was repeated three times with a weight of 250 grams each for each experimental unit. The results showed that the immersion treatment with a disinfectant solution of 150 ppm with perforated hole packaging of 6% was able to significantly reduce weight loss and fruit quality attributes of cayenne pepper compared to other treatments.
Pengaruh Nanoemulsi Minyak Wijen Dan Sereh Sebagai Edible Coating Terhadap Karakteristik Fisiko-Kimia dan Sensoris Pasca Panen Wortel (Daucus carota L) Tarigan, Hardiano; Utama, I Made Supartha; Wirawan, I Putu Surya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wortel (Daucus carota L) merupakan jenis sayuran yang selama periode pascapanennya mudah mengalami kemunduran mutu yang merupakan penyebab susut yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi nano-emulsi minyak wijen dan sereh sebagai edible coating terhadap karakteristik fisiko-kimia dan sensoris wortel selama pascapanennya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor yang pertama adalah minyak wijen (W) yang terdiri dari tiga tingkat konsentrasi, yaitu: 0%, 0,5% dan 1% serta faktor yang kedua adalah minyak sereh (S) yang terdiri dari tiga tingkat konsentrasi, yaitu: 0%, 0,5% dan 1%. Penelitian diulang dua kali sehingga menghasilkan 18 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum nano-emulsi minyak wijen dan sereh berpengaruh nyata terhadap nilai susut bobot, kekerasan umbi, collor diference, total padatan terlarut, vitamin A, dan nilai sensoris pada wortel selama periode pasca panen. Perlakuan konsentrasi munyak wijen 1% dan sereh 0,5% (W2S1) sebagai nano-emulsi merupakan perlakuan terbaik untuk mengurangi susut bobot, mempertahankan kekerasan, total padatan terlarut, dan kadar vitamin A umbi wortel selama periode pascapanennya. Sedangkan konsentrasi minyak wijen 1% dan sereh 0% (W2S0), merupakan konsentrasi terbaik dalam mempertahankan perubahan warna dan nilai sensoris umbi wortel.
Estimasi Evapotranspirasi Potensial Menggunakan Algoritma Random Forest Apriliani, Luh Made Putri; Sulastri, Ni Nyoman; Widia, I Wayan; Budisanjaya, I Putu Gede
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Besaran nilai Evapotranspirasi Potensial (ETp) sangat diperlukan untuk perencanaan distribusi air dan pola tanam. Umumnya, perhitungan ETp diperoleh dari perhitungan model empiris, seperti model Penman Monteith (PM) yang direkomendasikan oleh Food and Agriculture Organization (FAO). Namun, penerapan model ini memerlukan variabel cuaca yang banyak dan ketersediaan data cuaca yang tidak memadai. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan model estimasi ETp dengan algoritma Random Forest (RF). Variabel cuaca yang digunakan pada penelitian ini yang dijadikan input dalam pemodelan ETp yaitu radiasi matahari (Rs); suhu udara (T); kelembaban udara (RH); dan kombinasi Rs dan T. Data variabel cuaca diperoleh dari automatic weather station (AWS) di Daerah Irigasi (DI) Tungkub, Mengwi, Bali. Pada kalibrasi model terdapat tiga metrik evaluasi untuk mengevaluasi kinerja model yaitu R2, MSE, dan RMSE. Sementara pada validasi model menggunakan tiga teknik yaitu prediction error plot, residuals plot, dan k-fold CV. Hasil penelitian menunjukkan nilai estimasi ETp rata-rata dengan skenario masukan Rs menggunakan algoritma RF di DI Tungkub 0,14 mm/jam (R2 = 1,00, MSE = 0,00, RMSE = 0,01). Sementara itu, nilai rata-rata ETp PM yaitu 0,15 mm/jam. Skenario masukan Rs menggunakan algoritma RF menunjukan nilai estimasi yang mendekati nilai ETp PM. Abstract The estimation of Potential Evapotranspiration (ETp) is crucial for water distribution planning and cropping patterns. Generally, ETp calculation is obtained from empirical models such as the Penman-Monteith (PM) model recommended by the Food and Agriculture Organization (FAO). However, implementing this model requires numerous weather variables and adequate weather data availability. This research aims to develop an ETp estimation model using the Random Forest (RF) algorithm The weather variables used in this research as inputs for ETp modeling are solar radiation (Rs); air temperature (T); air humidity (RH); and a combination of Rs and T. Weather variable data were obtained from an automatic weather station (AWS) in the Tungkub Irrigation Area, Mengwi, Bali. In model calibration, three evaluation metrics were used to assess model performance, R2, MSE, and RMSE. Meanwhile, for model validation, three techniques were employed, prediction error plot, residuals plot, and k-fold cross-validation. The research results indicate that the average ETp estimation value with the scenario of input Rs using the RF algorithm in the Tungkub Irrigation Area is 0,14 mm/hour (R2 = 1,00, MSE = 0,00, RMSE = 0,01). Meanwhile, the average ETp PM value is 0,15 mm/hour. The scenario of input Rs using the RF algorithm shows estimation values close to the PM ETp value.
Analisis Saluran Pemasaran Bawang Prei (Allium ampeloprasum L.) yang Dibudidayakan di Desa Candikuning, Baturiti, Tabanan Saqinah, Sonia; Aviantara, I Gusti Ngurah Apriadi; Tika, I Wayan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bawang prei (Allium ampeloprasum L.) merupakan jenis tanaman hortikultura yang banyak dibudidayakan oleh petani di Desa Candikuning, Baturiti, Tabanan. Berdasarkan data BPS Provinsi Bali tahun 2021, hasil produksinya mencapai 1.055 ton. Namun, untuk pemasaran komoditas ini belum ada kejelasan informasi mengenai saluran pemasarannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui saluran pemasaran, distribusi margin pemasaran dan margin keuntungan, tingkat efisiensi pemasaran, serta proporsi keterlibatan petani dalam kegiatan pemasaran bawang prei. Responden terdiri dari 30 orang petani, 7 orang pengepul, 5 orang pedagang besar, dan 5 orang pedagang kecil yang dipilih melalui prosedur Accidental Sampling dan Snowball Sampling. Data yang diperoleh terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Temuan penelitian menunjukkan adanya tiga model berbeda dalam saluran pemasaran bawang prei, diantaranya saluran I (petani – pengepul – pedagang besar – konsumen) saluran II (petani – pengepul – pedagang kecil – konsumen) dan saluran III (petani – pengepul – pedagang besar – pedagang kecil – konsumen). Saluran III memiliki total margin tertinggi yaitu sebesar Rp 12.467/kg, sedangkan saluran I memiliki total margin terendah yaitu sebesar Rp 8.467/kg. Pedagang besar memperoleh margin keuntungan tertinggi yaitu Rp 3.546/kg, sedangkan pedagang kecil pada saluran III memperoleh margin keuntungan terendah yaitu Rp 1.734/kg. Saluran I mempunyai farmer's share paling besar yakni 67%, sedangkan saluran III paling rendah yaitu 58%. Tingkat efisiensi semua saluran pemasaran bawang prei yang dibudidayakan di Desa Candikuning termasuk dalam kategori efisien. Namun, berdasarkan biaya pemasaran, margin pemasaran, dan farmer’s share yang diperoleh, saluran I merupakan saluran yang paling efisien. Abstract Leek (Allium ampeloprasum L.) is a kind of horticultural plant cultivated by farmers in Candikuning Village, Baturiti, Tabanan. Based on BPS data from Bali Province in 2021, production reached 1,055 tons, but there is no clear information regarding the marketing channels. This research aims to determine marketing channels, distribution of marketing margins and profit margins, level of marketing efficiency, and the proportion of farmer involvement in leek marketing activities. The sample consisted of 30 farmers, 7 collectors, 5 larges, and 5 small traders. They were specifically chosen through Accidental Sampling and Snowball Sampling procedures. The data obtained consists of qualitative and quantitative information. Research findings show that there are three different trends in leek marketing channels, specifically channel 1 (farmers – collectors – wholesalers – consumers), channel II (farmers – collectors – small traders – consumers), and channel III (farmers – collectors – wholesalers – traders) small – consumer). Channel III has the highest total margin of IDR 12,467/kg, while Channel 1 has the lowest (IDR 8,467/kg). Large traders get the highest profit margin of IDR 3,546/kg, while small traders in channel III get the lowest profit margin of IDR 1,734/kg. Channel 1 has the largest farmer's share, 67%, while channel III has the lowest, 58%. All of the channels remain in the efficient category. Based on marketing costs, marketing margins, and farmer's share obtained, channel 1 is the most efficient.
Pemanfaatan Limbah Pelepah Siwalan (Borassus flabellifer) menjadi Briket Bahan Bakar Tungku Arta, I Wayan Roli; Wirawan, I Putu Surya; Yulianti, Ni Luh
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pelepah siwalan adalah bahan berselulosa yang sesuai digunakan sebagai materi dasar untuk pembuatan briket. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan karakteristik briket dari arang pelepah siwalan dengan ukuran mesh dan persentase perekat yang berbeda serta memperoleh parameter perlakuan yang menghasilkan briket pelepah siwalan berkualitas paling baik. Dalam penelitian ini, digunakan desain eksperimen Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah variasi ukuran mesh yang terdiri dari 3 variasi mesh (S1: 60 mesh, S2: 80 mesh) dan faktor kedua adalah persentase perekat yang terdiri dari 5 variasi (M1: 30%, M2:35%, M3: 40%, M4: 45%, M5: 50%). Dengan kombinasi rancangan eksperimen ini yang diulang dua kali, diperoleh sebanyak 20 sampel pengulangan. Parameter yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah jumlah kadar air, jumlah kadar abu, kuat tekan, kerapatan dan laju pembakaran. Hasil dari penelitian ini adalah ada interaksi yang signifikan antara ukuran partikel arang dan persentase perekat terhadap parameter-parameter seperti kadar air, kadar abu, kuat tekan, kerapatan, dan laju pembakaran. Perlakuan terbaik diperoleh pada penggunaan ukuran 80 mesh dan persentase perekat 50%, kadar air dengan nilai 6,66%, kadar abu dengan nilai 4,35%, kuat tekan sebesar 64,16 N, kerapatan massa dengan nilai 0,43 g/cm³ dan laju pembakaran dengan nilai 0,107gr/menit. Abstract Palm tree fronds are a cellulose material that is suitable for use as a basic material for making briquettes. The aim of this research is to obtain the characteristics of briquettes from siwalan frond charcoal with different mesh sizes and adhesive percentages and to obtain treatment parameters that produce the best quality siwalan frond briquettes. In this research, a Randomized Group Design (RAK) experimental design was used with two factors. The first factor is the variation in mesh size which consists of 3 mesh variations (S1: 60 mesh, S2: 80 mesh) and the second factor is the adhesive percentage which consists of 5 variations (M1: 30%, M2: 35%, M3: 40%, M4: 45%, M5: 50%. By combining this experimental design which was repeated twice, 20 repetition samples were obtained. The parameters that are focused on in this research are the amount of water content, the amount of ash content, compressive strength, density and combustion rate. The results of this research are that there is a significant interaction between charcoal particle size and adhesive percentage on parameters such as water content, ash content, compressive strength, density and burning rate. The best treatment was obtained using 80 mesh size and an adhesive percentage of 50%, water content with a value of 6.66%, ash content with a value of 4.35%, compressive strength of 64.16 N, mass density with a value of 0.43 g/cm³ and combustion rate with a value of 0.107gr/minute.

Page 1 of 2 | Total Record : 13