cover
Contact Name
Gede Arda
Contact Email
ardagede@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.beta.tep@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25023012     EISSN : 25023012     DOI : -
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) memuat hasil penelitian di bidang teknik biosistem (biosystem engineering). Cakupan dari jurnal ini merentang dari aplikasi ilmu keteknikan untuk pertanian. Diantara bidang ilmu tersebut, yang menjadi fokus adalah Bidang Manajemen Keteknikan Pertanian, Teknologi Pascapanen khususnya produk Hortikultura, Rekayasa dan Ergonomika, Konservasi Sumber Daya Alam, serta khusus tentang aplikasi Instrumentasi dan Sistem kontrol dalam bidang pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 344 Documents
Pengaruh Ketinggian Sekat Pengukusan pada Jenis Pakan Ternak Babi dengan Metode Aliran Udara Panas Hendrawan, I Kadek Haris; Setyo, Yohanes; Sumiyati, Sumiyati
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 1 (2024): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i01.p19

Abstract

Pakan babi merupakan komponen penting dalam kegiatan berternak babi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui ketinggian terbaik untuk pengukusan dengan metode aliran udara panas yang mampu memeberikan bahan baku untuk pakan babi dengan memanfaatkan bahan pakan yang berada di wilayah Desa Antiga Kelod, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali, dengan memilih bahan baku yang digunakan yaitu batang pohon pisang, singkong, dan kolbanda. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak kelompok (RAK) dua faktor. Faktor pertama yaitu faktor ketinggian (P) yang terdiri dari ketinggian terdiri dari 3 parah 14 cm 16 cm, dan 18 cm. Faktor kedua adalah jenis bahan pakan yang terdiri dari 3 paraf dengan masing-masing berat massa sebesar 1,5 kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai terbaik pada bahan singkong dan sekat 14 cm (M2P1). Dimana nilai total kalor yang didapat pada proses pengukusan dengan metode aliran udara panas dengan perolehan total kalor sebesar 10896,80 J, maka total kecepatan aliran udara yang dihasilkan yaitu sebesar 0,54 mH2O. Pengukusan yang dilakukan pada bahan pakan dengan lama pengukusan yaitu ±90 menit, nilai tekstur sebesar 7,61 N dan kadar air sebesar 51,90 persen. Hasil data proses evaporasi pada bahan yang mengandung air, serta pada bahan singkong terjadi dekomposisi pada granula pati yang biasa disebut gelatinisas, sehingga granula tersebut tidak dapat kembali seperti teksur dan bentuk keadaan semula. Serta perubahan kalor yang didapat diperoleh dari proses pengukusan yang terjadinya perubahan suhu didalam panci pengukusan. Abstract Pig feed is an important component in pig farming activities. The purpose of this study is to determine the best height for steaming with the hot air flow method that is able to provide raw materials for pig feed by utilizing feed ingredients located in the Antiga Kelod Village area, Manggis District, Karangasem Regency, Bali, by choosing the raw materials used, namely banana tree trunks, cassava, and kolbanda. This study used a two-factor randomized group design (RAK) method. The first factor is the height factor (P) which consists of 3 severe 14 cm, 16 cm, and 18 cm. The second factor is the type of feed ingredients consisting of 3 paraffs with each mass weight of 1,5 kg. The results showed that the best value on cassava material and bulkhead was 14 cm (M2P1). Where the total heat value obtained in the steaming process with the hot air flow method with a total heat gain of 10896,80 J, then the total air flow speed produced is 0,54 mH2O. Steaming carried out on feed ingredients with a steaming duration of ±90 minutes, texture value of 7,61 N and moisture content of 51,90 percent. The results of the evaporation process data on materials containing water, as well as cassava materials occur decomposition in starch granules commonly called gelatinisas, so that the granules cannot return to their original texture and form. As well as the heat change obtained from the steaming process which changes in temperature in the steaming pan.
Analisis Kinerja Distribusi Air Irigasi pada Temuku di Subak I Wayan Tika; Mentari Kinasih; Ni Nyoman Sulastri; Sumiyati Sumiyati; Ida Ayu Gede Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p27

Abstract

Abstrak Gangguan distribusi air juga kadang-kadang disebabkan oleh adanya sampah dan faktor pemias (penyusutan debit) serta mengabaikan aliran numbak (aliran lurus) dan ngerirun (aliran berbelok). Dengan pemahaman seperti itu maka petani (krama subak) yang lahannya terletak di hilir cendrung mendapatkan kuota air yang kurang dari seharusnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja manajemen distribusi air irigasi sesuai nilai dan kriteria RPM pada subak tradisional dan subak semi teknis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kuantitaif yang menjelaskan peristiwa berdasarkan nilai RPM dari 30 bangunan bagi (temuku) pada subak di Kabupaten Gianyar. Hasil penelitian menunjukkan 30% memiliki kinerja distribusi air irigasi yang sangat kurang, 30% dengan kriteria kinerja kurang, 13% dengan kriteria kinerja cukup, dan 27% dengan kriteria kinerja baik. Dari hasil tersebut juga dapat diperoleh dimensi baru dari bangunan bagi pada subak dengan pendekatan formula proporsional yang melibatkan variabel luasan subak yang diberikan air irigasi, luasan subak di hilir, serta koefisien gangguan aliran air sekitar 1,05 sampai 1,1. Abstract Disturbances in water distribution are also sometimes caused by the presence of rubbish and biasing factors (decreased discharge) also ignoring the flow of numbak (straight flow) and ngerirun (curved flow). With this understanding, farmers (krama subak) whose land is located downstream tend to get less water quota than they should. This research aims to determine the performance of irrigation water distribution management according to RPM values ??and criteria in traditional subak and semi-technical Subak. This research uses a descriptive-quantitative method that explains events based on the RPM values ??of 30 buildings for (temuku) in Subak in Gianyar Regency. The research results showed that 30% had very poor irrigation water distribution performance, 30% had poor performance criteria, 13% had sufficient performance criteria, and 27% had good performance criteria. From these results, it is also possible to obtain a new dimension of the subak building using a proportional formula approach involving variables of the area of ??the subak provided with irrigation water, the area of ??the subak downstream, as well as a water flow disturbance coefficient of around 1.05 to 1.1.
Pengaruh Pelapisan Nanopartikel Kitosan terhadap Karakter Fisiko-Kimia dan Sensoris Pascapanen Buah Jeruk Siam (Citrus nobilis) Sembiring, Welter Albetta; Utama, I Made Supartha; Widia, I Wayan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 2 (2024): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i02.p20

Abstract

Abstrak Jeruk Siam (Citrus nobilis) merupakan salah satu buah yang terkenal di Indonesia dan sukar rusak, maka dari itu salah satu pengupayaan yang dapat dilaksanakan adalah menggunakan edible coating dengan bahan pelapis nanopartikel kitosan untuk membantu mencegah kerusakan dan menunjang masa penyimpanan buah. Penelitian memiliki tujuan untuk mengetahui seberapa pengaruh nanopartikel kitosan serta mendapatkan konsentrasi terpilih sebagai bahan pelapis pada karakter fisiko-kimia dan sensoris jeruk siam selama masa periode pascapanennya. Penelitian kali ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan konsentrasi meliputi lima tingkat, yaitu : 0% (E0), 0,2% (E1), 0,4% (E2), 0,8% (E3), 1% (E4) dengan tiga kali ulangan maka menghaslkan 15 unit percobaan. Parameter fisiko-kimia yang diamati pada penelitian ini termasuk dari susut bobot, color difference, kepadatan buah, total padatan terlarut (TPT), total pada asam, serta ukuran sensoris meliputi aroma buah dan rasa manis terhadap buah jeruk siam. Hasil pada penelitian ini menunjukkan hingga pemberian nanopartikel kitosan terbukti berpengaruh terhadap color difference, total padatan terlarut, nilai susut bobot, total asam, dan uji sensoris buah jeruk siam selama masa periode pascapanen. Melakukan pelapisan terhadap buah menggunakan konsentrasi 0,4% (E2) adalah konsentrasi terbaik dengan nilai rata-rata susut bobot 3,5%, nilai rata-rata total padatan terlarut 11,7% Brix, dan memiliki nilai sensoris tertinggi mengenai rasa buah dengan memiliki nilai rata-rata 3,5. Pelapisan buah dengan konsentrasi 0,2 % (E1) mendapatkan hasil terbaik pada color difference 50,9 dan pelapisan buah dengan konsentrasi 1% mendapatkan hasil terbaik pada total asam dengan nilai 2,3%. Abstract Siamese Orange (Citrus nobilis) is one of the best known fruits in Indonesia and is quite resilient to spoilage; therefore, one approach that is being taken is the use of an edible coating with chitosan nanoparticle coating material to help prevent damage and extend the shelf life of the fruit. This research aims to determine the effect of chitosan nanoparticles and to obtain the best concentration as a coating material on the physico-chemical and sensory characteristics of Siam orange during its post-harvest period. This study used a Completely Randomized Design (CRD) with five concentration levels: 0% (E0), 0.2% (E1), 0.4% (E2), 0.8% (E3), and 1% (E4), with three repetitions, resulting in 15 experimental units. The physico-chemical parameters observed include weight loss, color difference, fruit density, total soluble solids (TSS), and total acid content, as well as sensory attributes such as sweetness and aroma of the fruit. The results of this study .showed that the application of chitosan nanoparticles significantly affected weight loss, color difference, total soluble solids, total acid content, and sensory tests of Siam orange during the post-harvest period. Fruit coating with a concentration of 0.4% (E2) was the best concentration with an average weight loss of 3.5%, an average total soluble solids of 11.7% Brix, and the highest sensory value for fruit flavor with an average score of 3.5. Fruit coating with a concentration of 0.2% (E1) achieved the best results in color difference at 50.9, while fruit coating with a concentration of 1% achieved the best results in total acid content with a value of 2.3%.
Pengaruh Perlakuan Pre-sowing dan Fertigation Regime terhadap Produktivitas Microgreen Lobak (Raphanus Sativus) Ulianti, Gusti Ayu Putri Mei; Sumiyati, Sumiyati; Pudja, Ida Ayu Rina Pratiwi; Sulastri, Ni Nyoman
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 1 (2024): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i01.p15

Abstract

Microgreen merupakan tanaman hijau yang dipanen pada usia muda yang dihasilkan dari benih sayuran dari berbagai jenis sayuran yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat umum. Pemeliharaan tanaman microgreen yang tidak membutuhkan lahan luas menjadi salah satu solusi teknik budidaya tanaman modern. Tanaman lobak memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi jika dikonsumsi dalam bentuk microgreen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kombinasi perlakuan pre-sowing dengan fertigation regime dan menentukan kombinasi perlakuan yang menghasilkan produktivitas microgreen terbaik. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor yaitu perlakuan pre-sowing dan fertigation regime dengan 3 kali ulangan. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan yaitu kombinasi perlakuan pre-sowing dan fertigation regime berpengaruh nyata terhadap berat basah dan berat kering microgreen, dan tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan kandungan klorofil tanaman microgreen lobak. Kombinasi perlakuan pre-sowing direndam dengan fertigasi setiap hari memiliki rata-rata tertinggi pada setiap variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman 9,49 cm, jumlah kandungan klorofil 45,99 SPAD, berat basah 108,70 gram, dan berat kering tanaman 9,70 gram. Berdasarkan hasil penelitian, kombinasi perlakuan pre-sowing direndam dengan pemberian fertigasi setiap hari pada microgreen lobak merupakan perlakuan yang menghasilkan produktivitas microgreen terbaik. ABSTRACT Microgreen are green plants that are harvested at a young age which are produced from vegetable seeds from various types of vegetables commonly consumed by the general public. Maintenance of microgreen plants that do not require large areas of land is one of the solutions for modern plant cultivation techniques. Radish plants have a higher nutritional content when consumed in the form of microgreen. The purpose of this study was to determine the effect of the pre-sowing treatment combination with the fertigation regime and to determine the treatment combination that produces the best microgreen productivity. The experimental design used in this study was a randomized block design (RBD) with two factors, namely the pre-sowing treatment and the fertigation regime with 3 replications. The results of the research that has been done are that the combination of pre-sowing treatment and fertigation regime has a significant effect on fresh weight and dry weight of microgreen, and has no significant effect on plant height and chlorophyll content of radish microgreen plants. The combination of pre-sowing treatment soaked with fertigation every day had the highest average for each variable observed, namely plant height 9.49 cm, total chlorophyll content 45.99 SPAD, fresh weight 108.70 grams, and plant dry weight 9.70 grams. Based on the results of the study, the combination of pre-sowing soaked treatment with daily fertigation of radish microgreens was the treatment that produced the best microgreen productivity.
Analisis Prioritas Sarana Pacapanen Kopi Robusta (Coffea Canephora) untuk Menurunkan Susut Kuantitas dengan Menggunakan Metode AHP (Analytical Hierarchy Process) Maharani, Ni Putu Dewi Pradnya; Aviantara, I Gusti Ngurah Apriadi; Wirawan, I Putu Surya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 1 (2024): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i01.p20

Abstract

Kopi merupakan hasil perkebunan yang menjadi andalan sebagai sumber devisa negara. Kopi robusta menjadi basis produksi di beberapa wilayah di Indonesia, salah satunya Bali. Di Bali yang menjadi produksi kopi robusta terbanyak berada di Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Namun, dengan banyaknya jumlah produksi yang terbilang cukup tinggi kopi robusta di Kecamatan Pupuan masih banyak diolah menggunakan peralatan tradisional. Peralatan tradisioanal ini masih dipertahankan karena nilai investasi sarana pascapanen cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kriteria dan subkriteria yang sesuai dalam menentukan prioritas sarana pascapanen kopi robusta, serta mengetahui prioritas sarana pascapanen kopi robusta yang dapat menekan susut kuantitas. Diharapkan penelitian ini bermanfaat untuk memberikan masukan kepada pemerintah dalam memberikan sarana pascapanen kopi robusta yang tepat kepada petani, sehingga dapat menurunkan susut kuatitas dan meningkatkan pendapatan petani. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling sebagai metode penentuan responden potensial yang kemudian dianalisa dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process). Dari hasil analisis ini didapatkan Huller sebagai sarana yang prioritas dalam penanganan pascapanen kopi robusta dan dapat menurunkan susut kuantitas. Abstract Coffee is a plantation product that is a mainstay as a source of foreign exchange for the country. Robusta coffee is a production base in several regions in Indonesia, one of which is located in Bali. In Bali, the largest Robusta coffee production is in Pupuan District, Tabanan Regency. However, with the large amount of production which is quite high, Robusta coffee in Pupuan District is still mostly processed using traditional equipment. This traditional equipment is still maintained because the investment value of post-harvest facilities is quite high. This study aims to determine the appropriate criteria and sub-criteria in determining the priority of robusta coffee postharvest facilities, and to determine the priority of robusta coffee postharvest facilities that can reduce quantity losses. It is hoped that this research will be useful to provide input to the government in providing appropriate post-harvest facilities for robusta coffee to farmers, so as to reduce the loss of quantity and increase farmers' income. This study uses purposive sampling method as a method of determining potential respondents which is then analyzed using the AHP (Analytical Hierarchy Process) method. From the results of this analysis, it was found that Huller was an priority tool in postharvest handling of robusta coffee and could reduce quantity loss.
Perbandingan Produksi Biogas Biodigester Batch dan Kontinu pada Instalasi Biogas Kotoran Ternak Situmorang, Rosurya; Wirawan, I Putu Surya; Wijaya, I Made Anom Sutrisna
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 2 (2024): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i02.p18

Abstract

Teknologi biogas merupakan salah satu teknologi tepat guna mengolah limbah kotoran ternak secara anaerob dengan memanfaatkan bakteri methanogen untuk menghasilkan gas methana (CH4). Biogas menggunakan bahan baku kotoran ternak dapat diperbaharui (renewable fuel) dan mudah terbakar (flammable) dengan fermentasi anaerob memiliki kandungan gas methana (CH4) bersifat bersih, dan tidak berasap hitam. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan produksi biogas dengan lama waktu fermentasi yang sama dua biodigester upaya memperoleh perbandingan produksi biogas biodigester sistem batch dan kontinu pada instalasi biogas kotoran ternak. Penelitian dimulai dengan design biodigester menggunakan microsoft paint dan membuat alat biodigester. Biogas menggunakan perbandingan bahan baku kotoran babi dan air 1:1. Penelitian dilakukan dua kali uji coba yaitu : biodigester sistem batch sekali isi dan kontinu penambahan campuran bahan baku 18 kg sekali tiga hari. Kedua uji coba dilakukan pengamatan setiap hari menggunakan manometer U untuk menganalisis produksi biogas biodigester sistem batch dan kontinu. Berdasarkan analisis spesifikasi biodigester yang digunakan adalah kapasitas tabung reaktor 0,254 m3, kapasitas isi bahan baku 0,19 m3, volume ruang biogas 0,06 m3. Hasil uji coba dengan lama waktu fermentasi yang sama biodigester sistem batch mencapai tekanan maksimal hari ke-25 sebesar 104060,7 Pa dengan produksi biogas adalah 0,0616199 m3. Biodigester sistem kontinu mencapai tekanan maksimal hari ke-25 sebesar 105330,9 Pa dengan produksi biogas adalah 0,0623721 m3. Berdasarkan uji coba mendapat kesimpulan bahwa produksi biogas kontinu menghasilkan tekanan dan volume biogas lebih tinggi dari batch. Campuran bahan baku menghasilkan biogas lebih maksimal menggunakan biodigester batch dan untuk keberlanjutan produksi biogas setiap hari menggunakan biodigester kontinu. ABSTRACT Biogas technology is an appropriate technology for treating livestock manure anaerobically by utilizing methanogenic bacteria to produce methane gas (CH4). Biogas uses renewable and flammable livestock manure as raw material with anaerobic fermentation, contains methane (CH4) gas which is clean and does not have black smoke. This study aims to obtain biogas production with the same fermentation time for two biodigesters in an effort to obtain a comparison of batch and continuous biogas production in biogas installations of livestock manure. The research began with a biodigester design using Microsoft paint and making a biodigester tool. Biogas uses a raw material ratio of pig manure and water 1:1. The study was conducted in two trials, namely: a single-filled batch bio-digester system and continuous addition of 18 kg of raw material mixture once every three days. The two trials were observed every day using a U manometer to analyze the production of biogas from the batch and continuous biodigester systems. Based on the analysis of the specifications of the biodigester used, the capacity of the reactor tube is 0.254 m3, the raw material content capacity is 0.19 m3, the volume of the biogas chamber is 0.06 m3. The trial results with the same fermentation time of the batch system biodigester reached a maximum pressure of 25th day of 104060.7 Pa with biogas production of 0.0616199 m3. The continuous system biodigester achieves a maximum pressure on the 25th day of 105330.9 Pa with biogas production of 0.0623721 m3. Based on the trials, it was concluded that continuous biogas production produces higher pressure and volume of biogas than batches. The raw material mixture produces maximum biogas using a batch biodigester and for sustainable biogas production every day using a continuous biodigester.
Kajian Kelayakan Finansial Alat Pengusir Burung Tanaman Padi Berbasis Sinar Laser Putri, Hyacintha Dinda Septiana; Widia, I Wayan; Arthawan, I Gusti Ketut Arya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 2 (2024): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i02.p15

Abstract

Abstrak Serangan burung pada tanaman padi dapat menyebabkan kerugian bagi petani yaitu menurunkan produksi padi. Solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut, dikembangkan alat pengusir burung tanaman padi berbasis sinar laser. Alat ini terdiri dari unit pemancar laser, unit kerangka, unit kontrol dan kendali jarak jauh, serta unit pembangkit energi yang dirancang menjadi satu sehingga dapat berfungsi sesuai harapan. Secara teknis alat ini berpotensi mengurangi kerusakan akibat serangan burung, akan tetapi belum tersedia informasi terkait dengan kelayakan dari aspek finansial. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji kelayakan finansial dari alat pengusir burung tanaman padi berbasis sinar laser. Data yang digunakan dalam kajian ini meliputi biaya investasi alat, biaya tetap, biaya operasional, pengurangan losses, pengurangan tenaga kerja, nilai sisa alat, dan nilai penyusutan alat. Asumsi-asumsi yang diberlakukan dalam kajian ini adalah besaran biaya tetap tahunan sama sepanjang periode analisis, umur ekonomis 5 tahun, dan suku bunga analisis 6%/tahun. Ada 4 kriteria yang digunakan untuk menilai kelayakan finansial yaitu Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period, dan Benefit Cost Ratio (BCR). Hasil kajian menunjukkan bahwa alat pengusir burung berbasis sinar laser dapat dinyatakan layak secara finansial yang dicirikan oleh besaran nilai NPV Rp 10.381.941,88; nilai IRR 23,91%; Payback Period 2,83 tahun; dan BCR 1,21. Berdasarkan hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa alat ini tidak layak secara finansial ketika terjadi kondisi ekonomi penurunan penerimaan dan sekaligus kenaikan pengeluaran sebesar 10%, 20%, dan 30% setiap tahunnya; dan menunjukkan bahwa perubahan tingkat suku bunga, paling berpengaruh terhadap nilai NPV. Abstract Birds attack of rice plants can cause losses for farmers by reducing rice production. To overcome this problem, a laser light-based rice bird repeller was developed. This repeller consists of a laser transmitter unit, frame unit, control and remote-control unit, and energy generator unit designed into one so that it can function as expected. Technically, this repeller can potentially reduce damage from birds attack, but more information is needed regarding its financial feasibility. This study aimed to assess the economic feasibility of a laser-based rice bird repeller. The data used in this study include investment costs, fixed costs, operational costs, reduction of losses, reduction of labor, residual value, and depreciation value. The assumptions applied in this study are that the annual fixed costs are the same throughout the analysis period, the economic life is five years, and the analysis interest rate is 6% /year. There are four criteria used to assess financial feasibility, namely Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period, and Benefit Cost Ratio (BCR). The results show that the laser-based bird repeller can be declared financially feasible, as indicated by an NPV value of IDR 10.381.941,88, an IRR value of 23,91%, a Payback Period of 2,83 years and a BCR of 1,21. Based on the sensitivity analysis results, it shows that this repeller remains financially not feasible under economic conditions of declining revenue and simultaneous increases in expenses by 10%, 20%, and 30% annually, and it indicates that changes in interest rates have the most significant impact on the NPV value.
Dinamika Bahan Organik dan Total Nitrogen Tanah pada Pengelolaan Jerami Padi Sukma Elvayani, I Gusti Ayu Evi; Sulastri, Ni Nyoman; Setiyo, Yohanes
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jerami padi adalah salah satu sisa tanaman berlignoselulosa yang paling banyak di dunia. Jerami padi umumnya dikelola oleh petani diolah dengan metode pembenaman (straw incorporation) dan dibakar (straw burning). Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan dinamika Bahan Organik dan Total Nitrogen Tanah pada pengelolaan jerami padi dan menentukan kandungan hasil mineralisasi Nitrogen setelah perlakuan pengelolaan jerami. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Pola Tersarang (Nested Design) dengan 3 perlakuan yang terdiri dari pembenaman jerami dengan EM4 (SI), pembenaman jerami tanpa EM4 (SI0), dan pembakaran (BR). Pada setiap blok terdapat 3 kali ulangan di masing-masing ulangan diambil 4 sampel, sehingga total sampel tanah yang diambil berjumlah 36 sampel. Penelitian dilakukan dengan analisis laboratorium sampel tanah sebelum dan sesudah perlakuan pada parameter Bahan Organik Tanah (BOT), Total Kjeldahl Nitrogen (TKN). Kandungan BOT tanah sebelum dan sesudah perlakuan pengeloaan jerami berkisar antara 3,94% - 5.11%, klasifikasi BOT tanah tersebut termasuk sedang-tinggi. Peningkatan BOT tertinggi yaitu 29,7% terdapat pada perlakuan pembakaran. Hal ini dapat disebabkan karena meningkatnya mineralisasi karbon selama proses pembakaran jerami padi. Rata-rata TKN tanah berkisar antara 0,17% sampai 0,39% yang termasuk kategori rendah dan sedang. Analisis Wilcoxon Signed Ranks Test menunjukkan bahwa perlakuan pembenaman jerami dengan EM4 dan Pembenaman jerami tanpa EM4, berpengaruh nyata terhadap TKN tanah (p<0,05). Sebaliknya pada perlakuan pembakaran tidak berpengaruh nyata terhadap TKN tanah (p>0,05). Rice straw is one of the most abundant lignocellulosic plant residues in the world. Farmers typically manage rice straw through incorporation and burning methods. This study aims to determine the dynamics of soil organic matter and total nitrogen in rice straw management and to assess the nitrogen mineralization content following straw management treatments. The research employs a Nested Design with three treatments: straw incorporation with EM4 (SI), straw incorporation without EM4 (SI0), and burning (BR). Each block contains three replicates, with four samples taken per replicate, totaling 36 soil samples. Laboratory analysis of soil samples was conducted before and after treatment on parameters such as Soil Organic Matter (BOT) and Total Kjeldahl Nitrogen (TKN). The SOM content of the soil before and after straw management ranged from 3.94% to 5.11%, which is classified as medium to high. The highest increase in SOM, 29.7%, was observed in the burning treatment, likely due to increased carbon mineralization during the rice straw burning process. The average soil TKN ranged from 0.17% to 0.39%, categorized as low to medium. The Wilcoxon Signed Ranks Test analysis indicated that straw incorporation with EM4 and without EM4 significantly affected soil TKN (p<0.05). Conversely, the burning treatment did not have a significant impact on soil TKN (p>0.05).
Pengaruh Jenis Bahan Batang Pisang dan Bentuk Media Tanam terhadap Karakteristik Media Tanam dan Pertumbuhan Tanaman Kangkung Pratama, Muhammad Diarnanda Surya; Sumiyati, Sumiyati; Widia, I Wayan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 2 (2024): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i02.p21

Abstract

Abstrak Batang pisang memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai media tanam organik yang dapat memudahkan kegiatan pertanian dengan penerapan sistem hidroponik. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui karakteristik fisik media tanam hasil pemanfaatan batang pisang dan pengaruh jenis bahan batang pisang terhadap pertumbuhan tanaman kangkung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan yaitu jenis bahan batang pisang ((A1) batang asli, (A2) batang semu, (A3) kombinasi batang asli dan semu) dan bentuk akhir media tanam ((B1) serbuk dan (B2) cetakan). Penelitian ini mencangkup enam variasi yang setiap variasinya diulang tiga kali percobaan, dengan total delapan belas unit percobaan. Variabel yang di teliti yakni massa jenis, kapasitas penyerapan air, tingkat keasaman, jumlah daun, tinggi tanaman, lebar daun, serta warna daun. Penelitian ini membuktikan bahwasannya media tanam batang pisang memiliki nilai kapasitas lapang diantara 51,54 % – 62,91% dengan nilai pH berada diantara kisaran nilai pH ideal yaitu antara 5,93 dan 6,23, dan massa jenis ideal dimiliki oleh media tanam batang asli dalam bentuk cetakan (A1B2) dengan nilai 0,43 g/cm3. Jumlah daun tertinggi dihasilkan oleh media tanam batang asli dalam bentuk cetakan (A1B2) dengan nilai rata-rata 10, lebar daun tertinggi dihasilkan oleh media tanam batang semu dalam bentuk serbuk (A2B1), dan warna daun tertinggi dihasilkan oleh media tanam batang asli dalam bentuk cetakan (A1B2) dan media tanam batang semu dalam bentuk serbuk (A2B1) dengan nilai rata-rata 4. Abstract Banana stems have the potential to be used as organic growing media which can facilitate agricultural activities with the application of a hydroponic system. This study aims to determine the physical characteristics of the planting medium resulting from the utilization of banana stems and the effect of the type of banana stem material on growth of water spinach. This study used a randomized block design (RBD) with two treatment factors, namely the type of banana stem material ((A1) true stem, (A2) pseudo stem, (A3) a combination of true and pseudo stem) and the final form of planting medium ((B1) powdered and (B2) print). This study consisted of 6 treatment combinations with each treatment being repeated 3 times, so that 18 experimental units were obtained. Parameters observed were density, field capacity, pH, number of leaves, plant height, leaf width, and leaf color. The results showed that the planting medium for banana stems had a field capacity value of between 51.54% - 62.91% with a pH value in the range of ideal pH values, namely between 5.93 and 6.23, and the ideal density for stem growing media original in printed form (A1B2) with a value of 0.43 g/cm3. The highest number of leaves was produced by the original stem planting medium in mold form (A1B2) with an average value of 10, the highest leaf width was produced by the pseudo stem planting medium in the form of powder (A2B1), and the highest leaf color was produced by the original stem planting medium in the form of mold (A1B2) and pseudostem growing media in powder form (A2B1) with an average value of 4.
Deteksi Residu Insektisida Profenofos pada Cabai Merah (Capsium annum L.) melalui Augmentasi Citra dan CNN (Convolutional Neural Network) Maulida, Zulfa Hana; Budisanjaya, I Putu; Utama, I Made Supartha; Chaicana, Chatchawan; Syahputra, Wahyu Nurkholis Hadi
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 2 (2024): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i02.p11

Abstract

Abstrak Penggunaan insektisida dalam pertanian meningkat pesat namun juga menghadapi tantangan terkait dampak negatifnya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Salah satu insektisida yang umum digunakan adalah profenofos. Profenofos sering digunakan petani untuk mengendalikan hama pada tanaman cabai merah di Indonesia. Oleh karena itu, deteksi residu insektisida profenofos pada cabai penting untuk memastikan keamanan konsumsi cabai. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi residu insektisida profenofos pada cabai merah (Capsicum Annum L.) melalui augmentasi citra dan CNN (Convolutional Neural Network). Dalam penelitian ini, dilakukan penyiapan larutan insektisida, pengambilan citra cabai, pengujian dengan GC (Gas Chromatography) Agilent 6890N, pra-pemrosesan citra, dan implementasi pemodelan CNN. Dilakukan penyemprotan pada 15 cabai dengan konsentrasi 0 dan 10 mg/l, diikuti pengambilan citra menggunakan smartphone sehingga terdapat 30 citra. Selanjutnya, setiap citra diaugmentasi sebanyak 50 kali, menghasilkan total 1530 citra. Proses ini melibatkan rotasi, pergeseran, zoom, serta horizontal dan vertical flipping. Model CNN yang terdiri dari convolution layer dan fully connected dilatih dengan optimizer Adam, loss function categorical crossentropy, learning rate 0,0001, dan dilakukan pelatihan sebanyak 20 epoch. Hasil analisis menunjukkan bahwa model mencapai akurasi sebesar 85% dengan nilai precision, recall, dan F1-score masing-masing adalah 0,86; 0,85; dan 0,84. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode augmentasi citra dan CNN telah berhasil mendeteksi residu insektisida profenofos pada cabai merah dengan konsentrasi 0 dan 10 mg/l. Abstract The use of insecticide in agriculture is rapidly increasing but also faces challenges related to their negative impacts on human health and the environment. One commonly used insecticide is profenofos. Farmers frequently use Profenofos to control pests on red chili plants in Indonesia. Therefore, detecting profenofos insecticide residue on chili is crucial to ensure the safety of chili consumption. This study aims to develop a new method for detecting profenofos insecticide residues on red chilies (Capsicum Annum L.) through image augmentation and CNN (Convolutional Neural Network). In this study, insecticide solution preparation, chili image acquisition, testing with GC (Gas Chromatography) Agilent 6890, image preprocessing, and CNN model implementation were conducted. Insecticide solution spraying was conducted on 15 chilies with concentrations of 0 and 10 mg/l, followed by smartphone image acquisition, resulting in 30 images. Subsequently, each image was augmented 50 times, resulting in 1530 images. This process involves rotation, shifting, zoom, and horizontal and vertical flipping. The CNN model, consisting of convolution layers and fully connected layers, was trained with the Adam optimizer, categorical cross-entropy loss function, the learning rate of 0,0001, and trained for 20 epochs. The analysis results indicate that the model achieved an accuracy of 85% with precision, recall, and F1-score values of 0,86, 0,85, and 0,84, respectively. Based on these results, it can be concluded that the image augmentation and CNN method successfully detected profenofos insecticide residues on red chilies at concentrations of 0 and 10 mg/l.