cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi
ISSN : 2087085X     EISSN : 25495623     DOI : -
Core Subject : Social,
Komuniti : Jurnal Komuniti is a scientific journal that publishes scientific research papers/articles or reviews in the field of Communication and Media. The scope of this journal includes communication as social science, mass communication, technology communication, communication and networking, media and communication.
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
WAJAH SOEHARTO DALAM INFOTAINMENT (ANALISIS FRAMING TABLOID CEK & RICEK TERHADAP PEMBERITAAN SOEHARTO) Damayanti, Ika
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume III, No. 1, Juli 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v3i1.2964

Abstract

Soeharto adalah orang yang paling berkuasa di Indonesia pada masanya. Dia meninggal dalam sebuah kontroversi yang berhubungan dengan biografinya dan banyak kasus yang belum terselesaikan. Jurnalis telah bekerja sangat keras untuk mengungkap setiap menit di kehidupannya seperti infotainment yang biasa meliput aktifitas-aktifitas selebriti. Masing-masing media memiliki frame sendiri untuk mendeskripsikan kisah Soeharto yang mungkin mempengaruhi masyarakat untuk memahami Soeharto sebagai cara mereka membingkai dirinya.?
Khalayak Twitter Aksi “Reuni 212” 2018: Jaringan Virtual Community dan Digital Masquerading Al Harkan, Ali
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 10, No. 2, September 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v10i2.7360

Abstract

Fenomena Reuni Akbar 212 yang dilaksanakan pada 2 Desember 2018 adalah fenomena yang menarik, sebab tingginya partisipasi kelompok Islam yang berjumlah puluhan hingga ratusan ribu tersebut bermula dari aksi 212 yang semula hanya diikuti oleh ribuan anggota FPI. Salah satu faktor yang mempengaruhi signifikannya peningkatan jumlah peserta aksi dari Aksi Bela Islam I hingga kemarin melakukan reuni yang kedua, adalah adanya aktivitas komunikasi Aksi 212 melalui media sosial. Penelitian ini memiliki rumusan masalah untuk mendalami bagaimana fenomena khalayak aksi Reuni 212 di media sosial Twitter sebagai sebuah komunitas virtual (virtual community) yang membangun jaringan komunikasi. Dengan menggunnakan konsep virtual community Howard Rheingold sebagai pendekatan analisis, serta metode analisis jaringan komunikasi untuk mengetahui pola struktur jaringan komunikasi komunitas yang terjadi, penulis menemukan bahwa 1000 pengguna Twitter yang termasuk dalam jaringan tagar #ReuniAkbar212 pada 2 Desember 2018 merupakan sebuah fenomena komunitas virtual sebagaimana konsepsi Rheingold.Analisis dengan pendekatan teori virtual community menemukan bahwa komunitas virtual pengguna Twitter dalam jaringan tagar #ReuniAkbar212 mencerminkan adanya aktivitas komunikasi yang dimediasi komputer dan jaringan internet di antara para pengguna yang direpresentasikan oleh akun Twitter; aktivitas komunikasi yang terjadi tersebut dalam terminologi Twitter antara lain berupa tweeting, mentioning, replying, dan retweeting; adanya etos berbagi informasi dalam komunitas yang ditunjukkan dengan tingginya jumlah tweet; dan juga terdapat fenomena kepatuhan netiquette komunitas virtual berupa menghindari penggunaan huruf-huruf kapital agar tidak mengesankan kalimat teriakan. Analisis jaringan komunikasi juga menemukan bahwa akun Twitter @prabowo adalah pusat konsentrasi jaringan komunikasi tagar #ReuniAkbar212. Di sisi lain, analisis digital masquerading menemukan bahwa 71,2% pesan-pesan di dalam komunitas bukanlah bernada politik, sementara 28,8% yang lain adalah komunikasi politik namun tidak adanya indikasi pelaksanaan taktik digital masquerading.
KARAKTER LAKI-LAKI DALAM PROGRAM TELEVISI (Analisi Resepsi Peran Pria Sebagai Pekerja Rumah Tangga Dalam Program Sitkom “Dunia Terbalik” Di RCTI). Ilham, Berlian
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume.11 No.1, Maret 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v10i3.5945

Abstract

Kontruksi media yang menampilkan karakter laki-laki disetiap tayangan sinetron cukup beragam dalam kompleks mengenai maskulin dan feminin. Sering terlihat stereotip karakter laki-laki yang lemah serta mandiri tanpa perempuan/istri dalam pekerjaan rumah. Padahal dalam kenyataannya laki-laki tetap membutuhkan sosok perempuan/istri dalam suatu keluarga. Dalam suatu keluarga, suami istri memiliki peran tugasnya masing-masing, dalam budaya partiarki suami memiliki tugas untuk mencari nafkah dan istri memiliki tugas pekerjaan domestik di dalam rumah. Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mencaritahu  bagaimana  khalayak  Indonesia  menciptakan  persepsi  mengenai karakter laki-laki dalam televisi dengan dipengaruhi adanya perbedaan latar belakang, perbedaan gender, dan budaya. Analisis  resepsi yang peneliti gunakan untuk melihat peran khalayak sebagai penonton aktif  dalam mengintepretasikan karakter laki-laki yang ditampilkan menurut resepsi mereka. Peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan dibagi menjadi dua kelompok kecil yang masing-masing terdiri dari empat orang anggota. Kelompok kecil tersebut diantaranya kelompok FGD A yang dilakukan di kota Surakarta, dan kelompok FGD B yang dilakukan di kota Lampung. Seluruh anggota FGD terdiri dari ibu rumah tangga yang bekerja beserta suami dan yang pernah bekerja sebagai TKW/TKI, seluruh anggota FGD terdiri dari berbeda etnis budaya meliputi Jawa dan Lampung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kualifikasi meliputi pengalaman dan budaya yang mempengaruhi bagaimana cara pandang mereka dalam memaknai konstruksi media mengenai karakter laki-laki yang ditampilkan. Menurut Fokus Grup A dan Fokus Grup B media sekarang ini menampilkan karakter laki-laki yang bisa dikatakan cukup berlebihan dan memilih meoposisikan segala sesuatu kontruksi media dengan pengalaman hidup yang dilalui dan dari sudut pandang budayanya
PERJALANAN WACANA JOKOWI DALAM PENCALONANNYA SEBAGAI KANDIDAT PRESIDEN 2019-2024 Panuju, Redi
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 10, No. 2, September 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v10i2.6753

Abstract

 Artikel ini mengkaji penggunaan wacana komunisme  yang kerapkali dijadikan issu untuk merepresentasikan keberadaan individu, kelompok maupun institusi tertentu di Indonesia. Wacana digunakan oleh pihak pihak tertentu sebagai cara mengkomunikasi maksud untuk menarik perhatian, membentuk pencitraan, membelah opini  publik, dan pada akhirnya sebagai saluran membangun letimasi politik. Pada akhir bulan September 2017 wacana komunisme sebagai bahaya laten bagi Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merebak kembali melalui instruksi Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo kepada jajaran TNI untuk memutar kembali film ?G.30 S/PKI?. Instruksi Panglima TNI tersebut menimbulkan pro-kontra di masyarakat di luar internal TNI. Melalui analisis wacana model Althusser dan Faucoult akan dapat dikontruksi komunikasi politik yang terjadi di level individu maupun institusi berkaitan dengan ajang pemilu tahun 2019.Kajian ini dapat memberikan gambaran awal dan umum tentang issu issu yang  digunakan sebagai instrument politik dalam kontestasi politik tahun 2019. Issu bahaya laten komunisme akan merecovery kelompok masa lalu yang dilabeling pada masa Orde Baru dan sebaliknya mereposisi kelompok Orde Baru yang dituduh mengaburkan sejarah dan akan muncul kelompok baru sebagai pendulum issu terdebut.Kata Kunci : Komunisme, Legitimasi, produksi wacana, reproduksi wacana,  Pilpres 2019
INTERCULTURAL FRIENDSHIP AS STRATEGY TO REDUCE ANXIETY AND UNCERTAINTY OF ZIMBABWE STUDENTS IN MUHAMMADIYAH SURAKARTA UNIVERSITY Khatimah, Khusnul; Kusuma, Rina Sari
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 11 No.1, Maret 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v10i3.5900

Abstract

Friendship is a relationship between voluntarily wounded individuals. Friendships have a responsibility to be emotionally supportive, actively provide assistance, maintain confidence, and support each other. Benefit in friendship usually  include skills in activity, emotional support and help. Intercultural friendship is a more specific and more complex phenomenon that has its own characteristics in terms of relationships. The meeting between two different cultures in building a relationship of intercultural friendship. Establish intercultural friendship relationships with local people by immigrants as a form of adaptation to the new environment.  Immigrants are individuals who move from one region to another in a country influenced by push factors and pull factors such as economic, environmental, and educational factors. Immigrants can experience several conditions when they are in a new environment such as feelings of anxiety and uncertainty to interact with the surrounding environment. This study aims to find out how the relationship of intercultural friendship can reduce the level of anxiety and uncertainty of  Zimbabwean students at the Muhammadiyah Surakarta University. The research method used qualitative method by using population from foreign students at Muhammadiyah Surakarta University and purposive sampling technique that is sampling based on student's country of origin Zimbabwe. Data collection by interview and documentation,  for analysis using qualitative content analysis. Credibility and validity use inter-code reliability and triangulation of data sources and theories.Keywords : Adaptation, Migration , Anxiety, Uncertainty, Intercultural, Friendship. 
STRATEGI KOMUNIKASI POLITIK TOKOH PURI UBUD DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI DAN TRADISI BALI Panuju, Redi
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume.11 No.1, Maret 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v10i3.6483

Abstract

Mempertahankan tradisi di era modern merupakan tantangan semua orang, tidak terlepas bagi masyarakat Ubud Kabupaten Gianyar Propinsi Bali. Desa ini dikenal sebagai destinasi wisata terbaik dunia, sehingga interaksi budaya antara pendatang dan wisatawan dengan masyarakat setempat berpotensi merubah tatanan tradisi. Kemajuan pariwisata yang didukung pesatnya perkembangan Ilmu dan Teknologi semakin menguatkan terjadinya perubahan.Namun, pada kenyataannya tradisi di Ubud tidak sepenuhnya berubah, bahkan beberapa pelaksanaan tradisi di Ubud semakin berkembang. Jauh sebelum pesatnya pariwisata, pelestarian dan penanaman tradisi sudah dilakukan masyarakat Ubud yang dipimpin Puri Ubud yang saat itu masih menjadi Raja Ubud. Tatanan pemerintahan dan kekuasaan melanggengkan tradisi, begitu pula sebaliknya. Wisatawan yang datang ke Ubud tujuan utamanya adalah menyaksikan tradisi dan budaya masyarakat Ubud, sehingga pada akhirnya antara tradisi dan pariwisata juga menjadi saling ketergantungan.Perubahan tata pemerintahan pasca kemerdekaan hingga orda baru membuat kewenangan Puri Ubud terbatas, sehingga tokoh Puri Ubud mulai berbenah agar tradisi tidak hancur. Kesempatan mengembalikan era kekuasaan zaman dahulu terbuka lebar pasca reformasi, tokoh Puri Ubud masuk dalam berbagai organisasi tradisional, organisasi sosial hingga organisasi politik. Kekuasaan sebelumnya mulai diambil melalui pengaruh yang lebih luas dalam bidang adat, agama, sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan. Francis Fukuyama menyebut hal tersebut sebagai modal sosial yang berupa jaringan sosial. Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu (2010) menyebut symbolic capital, disamping economic capital. Lebih lanjut menurut Bourdieu ada empat modal yang bisa dipergunanakan dalam mendukung komunikasi politik, yakni modal kapital, modal modal kapital, modal budaya dan modal simbolik. Penelitian ini menggunakan teknik kualitatif deskriptif, pengumpulan data berupa wawancara, observasi, studi dokumen, dengan analisis data deskriptif-kualitatif. Ada dua teori yang digunakan yaitu, Teori Praktik dan Teori Komunikasi Massa. Penelitian ini mengungkap bentuk atau metode komunikasi politik Puri Ubud dalam mempertahankan tradisi, sehingga beberapa tokoh Ubud berhasil meraih menjadi Kepala daerah, anggota DPRD hingga pimpinan lainnya. Empat modal dan menduduki kekuasaan semakin menguatkan tradisi begitu juga kekuasaan.  Eksistensi tradisi di Ubud juga dipengaruhi oleh ideologi pasar, pencitraan, praktik kekuasaan, modal (sosial, ekonomi, budaya, simbolik). Faktor inilah yang saling berkaitan dan bertautan serta bersimbiosis dalam mempertahankan tradisi dan kekuasaan Puri Ubud di zaman modern. Kata kunci : tradisi, komunikasi, puri ubud.  
Fanatisme Fans Sepakbola terkait Flaming dan Netiquette Wirawanda, Yudha
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 10, No. 2, September 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v10i2.6755

Abstract

Spectre adalah salah satu thread di forum daring Kaskus. Thread ini memungkinkan pengguna untuk melakukan flaming yang berkaitan dengan fanatisme pendukung sepakbola. Walaupun memperbolehkan prosumsi flaming, namun Spectre tetap memiliki netiquette. Penelitian ini menganalisis praktik fanatisme fans sepakbola terkait flaming dan netiquette. Penelti menggunakan teori habitus dan arena dari Bourdieu untuk menganalisis perilaku pengguna. Peneliti juga menggunakan konsep prosumsi dan netiquette untuk menganalisis data. Peneliti menggunakan metode etnografi virtual untuk menganalisis permasalahan. Peneliti berkesimpulan bahwa bentuk fanatisme dan flaming di ruang siber dibentuk juga oleh netiquette. Namun kebiasaan dan budaya fanatisme pengguna di Kaskus juga membentuk netiquette yang ada di Spectre.
Media Sosial dan Kerukunan Umat Beragama di Bali (Representasi Masyarakat Bali terhadap Berbagai Posting Terkait Gerakan Aksi Damai terkait Isu Penistaan Agama di Media Sosial dan Dampaknya pada Kerukunan Umat Beragama di Bali) Nusa, Lukman
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 11 No.1, Maret 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v10i3.6589

Abstract

AbstractThe character of social media causes the process of  information’s dissemination becomes much more unimpeded. The freedom sometimes causes some parties  forget about the importance of maintaining harmony among religious people. The are posts founded in the social media that lead to issues of SARA or in this research is related to the case of blasphemy committed by Ahok. The posts in some degree is being reputed as a common one, especially in the territory of Java which is dominated by moslem societies and for some parties it even becomes a necessity to express their voices to defend their religion, or so they say.  Then the question is how the representation of Balinese society dominated by the non-moslem societies, react to the posts in Facebook related to the case. The theory of social representation by Moscovisci is used to answer the problem of representation. Case studies with data collection of in-depth interviews is used to analyze Balinese society representation about  this issue.Keywords: representations, case study, social media, religious harmony
SETYO NOVANTO SEBAGAI MEME INTERNET: ANALISIS DIMENSI MIMETIK DI YOUTUBE Nur Rohmah, Lara Sakti; Kusuma, Rina Sari
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 10, No. 2, September 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v10i2.7884

Abstract

Perkembangan teknologi membuat penyebaran informasi berpindah begitu cepat. Cepatnya penyebaran informasi dari satu orang ke orang lain disebut dengan viral. Berbagai hal viral mudah ditemukan di dunia maya, misalnya gambar viral, video viral, status viral, hingga lagu viral. Sesuatu yang sedang viral di media sosial kerap dijadikan bahan meme oleh warganet. Meme menjadi fenomena hangat di dunia maya dan menjadi wahana hiburan karena sifatnya yang lucu dan menghibur. Salah satu meme yang sempat viral dan menjadi perbincangan hangat di jagat maya adalah meme kasus korupsi e-KTP Setya Novanto. Meme Setya Novanto diunggah ke Youtube oleh warganet sebagai ekspresi kesal dan marah masyarakat atas berbagai “drama” yang dilakukan Setya Novanto di kasus e-KTP. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konstruksi pesan meme internet Setya Novanto di Youtube berdasakan model analisis tiga dimensi meme. Metode penelitian ini adalah analisis isi dengan mengikuti model analisis meme Loar Shifman, yakni dengan memecah setiap video menjadi tiga dimensi: content (konten), form (bentuk), dan stance (sudut pandang).
[RETRAKSI] DINAMIKA PRAKTIK JURNALISME WARGA MELALUI MEDIA BARU Yuniar, Ananda Dwitha
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 11 No.1, Maret 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v10i3.6272

Abstract

Artikel dengan judul "DINAMIKA PRAKTIK JURNALISME WARGA MELALUI MEDIA BARU" ditarik dari publikasi di Volume 11, No.1 Tahun 2019 karena materi artikel ini sudah diterbitkan melalui Jurnal Nomosleca Vol. 4, No. 2 Tahun 2018 dengan judul "CITIZEN MOVE TO JOURNALIST? DINAMIKA PRAKTIK JURNALISME WARGA MELALUI MEDIA BARU" yang diunggah secara daring melalui laman http://jurnal.unmer.ac.id/index.php/n/article/view/2545

Page 8 of 24 | Total Record : 234