cover
Contact Name
Ni Luh Gde Sumardani
Contact Email
-
Phone
+6281338996609
Journal Mail Official
fapetmip@gmail.com
Editorial Address
Gd. Agrokompleks Lt.1 Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Jl. PB. Sudirman Denpasar, Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Majalah Ilmiah Peternakan
Published by Universitas Udayana
ISSN : 08538999     EISSN : 26568373     DOI : https://doi.org/10.24843/MIP
Majalah Ilmiah Peternakan (MIP) diterbitkan oleh Fakultas Peternakan Universitas Udayana. MIP terbit secara berkala, tiga kali dalam setahun, pada bulan Februari, Juni dan Oktober. MIP merangkum berbagai manuskrip di bidang peternakan seperti nutrisi, produksi, reproduksi, pasca panen (pengolahan dan tekhnologi) serta sosial ekonomi bidang peternakan. Manuskrip terbuka untuk para dosen dan peneliti yang berkaitan dengan bidang peternakan, serta terbuka untuk mahasiswa S1, S2, dan S3, dengan mengikuti kaidah yang telah ditetapkan oleh MIP.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 13 No 1 (2010)" : 7 Documents clear
PENGARUH TEPUNG DAUN GAMAL DAN DAUN KELOR DALAM UREA CASSAVA BLOK (UCB) TERHADAP KECERNAAN, KADAR VFA, DAN NH3 IN-VITRO WITARIADI, N M.; BUDIASA, I K. M.; PUSPANI, E.; CAKRA, I G. L. O.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 13 No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.892 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian telah dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh tepung daun gamal dan daun kelor sebagai sumber protein dalam urea cassava blok (UCB) terhadap kecernaan bahan kering, bahan organik, kadar VFA, dan NH3 cairan rumen pakan jerami padi secara invitro. Penelitian dilaksanakan dengan mempergunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan. Sehingga secara keseluruhan terdapat 15 unit penelitian. Adapun ketiga perlakuan tersebut adalah: Perlakuan A (jerami padi + UCB yang ditambah tepung daun kelor); B (jerami padi + UCB yang ditambah tepung daun gamal), dan C (jerami padi + UCB yang ditambah tepung daun kelor dan daun gamal). Varibel yang diamati adalah kecernaan bahan kering (KCBK) , kecernaan bahan organik (KCBO) in-vitro, produksi vollatile fatty acid (VFA), produksi NH3, dan pH supernatan. Hasil penelitian mendapatkan bahwa KCBK, KCBO invitro, VFA, NH3, dan pH supernatan pada ketiga perlakuan berbeda nyata (P<0,05). Penggunaan daun gamal sebagai sumber protein pada UCB menghasilkan KCBK, KCBO, VFA, NH3, tertinggi dibandingkan dengan daun kelor maupun kombinasi antara daun gamal dan daun kelor. EFFECT OF USING GLIRICIDIA (Gliricidia sepium) AND MORINGA (Moringa oleifera) LEAVES MEALS IN UREA CASSAVA BLOCK (UCB) ON DIGESTIBILITY, VOLLATILE FATTY ACID, AND NH3 IN-VITRO. ABSTRACT The experiment has been conducted in order to now the effect of Gliricidia sepium and Moringa oleifera leaves meal a source of protein in urea cassava block (UCB) to the digestibility dray matter and organic matter , VFA and ammonia concentration with rice straw diet. The experiment set in completely randomized design using three treatment. The treatment are: A (rise straw + UCB with Moringa; B (rise straw + UCB with Gliricidia sepium, and C (rise straw + UCB with Moringa and Gliricidia sepium). The observed variable are: dry matter, organic matter digestibility, volatile fatty acid, ammonia concentration, and pH rumen juice. From the result can be conclude that dray matter and organic matter digestibility in-vitro, VFA , ammonia and pH rumen juice from the three treatment, significantly deffren (P<0.05). The utilization of Glirisidia leaves meal as protein source in UCB, given the highest dray matter, and organic matter digestibility, VFA and ammonia compare to the utilization of Moringga leaves meal or the combination of both Glirisidia sepium and Moringga leaves meal.
PENGARUH KALSIUM-ASAM LEMAK SAWIT (CA-ALS) DAN KALSIUM TERHADAP BOBOT TELUR, TEBAL KERABANG DAN KEKUATAN KERABANG AYAM PETELUR LOHMAN DEWI, G. A. M. KRISTINA
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 13 No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.484 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh kalsium-asam lemak sawit (Ca-ALS) dan kalsium (Ca) dalam ransum terhadap bobot telur, tebal kerabang, dan kekuatan kerabang ayam petelur Lohman, telah dilaksanakan selama 20 minggu. Rancangan percobaan yang digunkanan adalah rancangan acakl lengkap (RAL) pola faktorial. Sebagai faktor pertama adalah tingkat penggunaan kalsium-asam lemak sawit (Ca-ALS) sebesar 5%, 10%, dan 15%. Faktor kedua adalah tingkat kalsium yang digunakan 2,75%, 3,00% dan 3,25% . Ayam yang digunakan sebanyak 280 ekor didistribusi kedalam 9 kombinasi perlakuan dan satu kontrol, setiap perlakuan terdiri atasb7 ulangan dan setiap ulangan terdiri atas 4 ekor ayam. Ransum yang digunakan mengandung energi metabolis 2620 kkal/kg dan protein kasar sebesar 16%. Ransum dan air minum diberikan secara adlibitum. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan kalsium-asam lemak sawit (Ca-ALS) sampai 15% dalam ransum ayam petelur Lohman dapat dimanfaatkan dengan baik sebagai sumber asam lemak dan kalsium untuk menghasilkan bobot telur, dan ketebalan kerabang telur. Penggunaan Ca-ALS 15% akan lebih baik dengan penambahan 3,25% kalsium (Ca) dibanding 2,75%, 3,0% untuk meningkatkan kekuatan kerabang telur di awal dan akhir bertelur, diukur pada posisi vertikal atau horizontal. THE EFFECT OF CALCIUM–PALM FATTY ACID (Ca-PFA) AND CALCIUM FOR EGG WEIGHT, EGG SHELL THICKNESS, AND SHELL STRENGTH OF LOHMAN LAYING HENS ABSTRACK The aims of this experiment were to study the effect of calcium-palm fatty acid (Ca-PFA) and calcium in the ration for egg weigh, egg shell thickness, and shell strength of Lohman laying hens was done fot 20 weeks. A completly randomized design (CRD) with factorial used in this experiment, the first factor was 5%, 10%, 15% Ca-PFA and second factor was 2.75%, 3.00% and 3.25% calcium . The treatment consisted 7 replicates with 4 laying hens each and control, totally used 280 laying hens. All feed is iso caloric (ME: 2620 Kcal/kg) and iso protein (CP:16%). Feed and water were offered adlibitum. Result of this experiment showed that used of palm fatty acid (Ca-PFA) until 15% in rations Lohman laying hens to utilized fatty acid and calcium resources for increased egg weigh , egg shell tickness. But can be better with addition 3.25% calcium equal 2.75%, 3.0% increased egg shell strength in vertical or horizontal position, in beginning or finished of layed.
PEMANFAATAN KLOBOT JAGUNG SEBAGAI WAFER RANSUM KOMPLIT UNTUK DOMBA RETNANI, YULI; FURQAANIDA, N.; PRATAS, R. G.; ROFIQ, M. N.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 13 No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.53 KB)

Abstract

ABSTRAK Limbah pertanian pada umumnya memiliki kandungan protein, kecernaan, dan palatabilitas yang rendah disamping itu sifatnya yang voluminous menyulitkan dalam penanganan, baik pada saat transportasi maupun penyimpanannya, sehingga memerlukan suatu cara untuk meningkatkan nilai guna limbah pertanian. Klobot jagung merupakan salah satu limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber serat, karena kandungan seratnya tinggi yaitu sebesar 32%. Kendala yang dihadapi dalam penggunaan klobot jagung sebagai pakan ternak yaitu sifatnya yang voluminous, sehingga masih belum banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Untuk memudahkan penyimpanan dan menjaga ketersediaannya maka klobot jagung dimanfaatkan dengan pengolahan fisik dalam bentuk wafer. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui taraf terbaik dari klobot jagung yang dapat digunakan sebagai substitusi sumber serat pengganti rumput lapang di dalam wafer ransum komplit untuk domba ditinjau dari kualitas sifat fisik yaitu kadar air, kerapatan wafer, daya serap air, dan palatabilitas. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah: ransum yang mengandung 30% rumput lapang + 70% konsentrat (R1); ransum yang mengandung 20% rumput lapang + 10% klobot jagung + 70% konsentrat (R2); ransum yang mengandung 10% rumput lapang + 20% klobot jagung + 70% konsentrat (R3); dan ransum yang mengandung 30% klobot jagung + 70% konsentrat (R4). Variabel yang diukur adalah kandungan air, densitas, penyerapan air, dan palatabitas dari wafer klobot jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan R2 dan R3 berpengaruh terhadap kandungan air (p<0,05). Perlakuan R2, R3, dan R4 berpengaruh sangat nyata terhadap daya serap air (p<0,01), tetapi tidak berpengaruh terhadap densitas. Nilai kandungan air berkisar antara 9,39%-12,61%, dan nilai densitas berkisar antara 0,70 g/cm3-0,75 g/cm3, sedangkan nilai palatabilitas wafer berkisar 550-885 g/hari. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa klobot jagung dapat digunakan sebagai pengganti rumput sebagai bahan pakan alternatif sampai 20% pada ransum komplit untuk domba. THE UTILIZATION OF CORN HUSK AS COMPLETE RATION WAFER FOR SHEEP ABSTRACT Generally, agricultural waste contain low protein, digestibility, and palatability, while its property is voluminous, so its difficult on handling either at transportation or storage. We need a special way for increasing the value of agricultural waste. Corn husk is one of agricultural waste that can be used as source of fiber, in which its contain 32% of fiber approximately. However, there is a problem to use corn husk as animal feed, in which its has voluminous property, so the utility of corn husk still not more used yet as animal feed. To facilitate its storage and keep availability, the corn husk must be made with physical processing as wafer form. Objectives of this research were to know the best level of corn husk that can be used to substitut roughage as fiber source in completely feed for sheep with wafer form, and to know the physical quality and palatability of corn husk wafer. Experimental method that used in this research was Completely Randomized Design with 4 treatments and 3 replications. The four treatments were ration for sheep, consist of R1 (30% field grass + 70% concentrate), R2 (20% field grass + 10% corn husk + 70% concentrate), R3 (10% field grass + 20% corn husk + 70% concentrate) and R4 (30% corn husk + 70% concentrate). The results were analyzed by using Analysis of Variance (ANOVA) and to be continued with Contras Orthogonal if the effect of treatments were different significantly. Variables to be measured were water content (%), density (g/cm3), water absorption (%) and palatability of corn husk water. The result show that treatments of R2 and R3 influenced to water content significantly (P<0.05). The treatments of R1, R2, R3 and R4 influenced the increase of water absorption with very significant (P<0.01), but their effect were not significant to density. The average values of water contain were ranging between 9.39% to 12.61%. The average of density values were ranging between 0.70 g/cm3 to 0.75 g/cm3 and the values of palatability of water were ranging between 550-885 g/day. Based on the research results above, the corn husk can be used to replace serious grass as alternatively animal feed until 20% of water in completely feed for sheep.
KEJADIAN KOLIBASILOSIS PADA ANAK BABI BESUNG, I NENGAH KERTA
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 13 No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.754 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian kolibasilosis pada anak babi berdasarkan kelompok umur. Sebanyak 2005 ekor sampel berupa usap rektal anak babi diambil dari peternakan babi di Kabupaten Badung, Tabanan, Gianyar dan Kodya Denpasar di Provinsi Bali. Seluruh sampel dilakukan isolasi dan identifikasi Escherichia coli (E. coli). Hasil penelitian menunjukkan angka kejadian kolibasilosis pada anak babi sebesar 846 (42%), dan faktor resiko tertinggi kejadian kolibasilosis ini ditemukan pada anak babi berumur antara 0-2 minggu sebesar 62%. INCIDENCE OF COLIBACILLOSIS IN PIGLETS ABSTRACT A study was conducted to know the incidence of colibacillosis in piglets based of age factors. A total 2005 samples of fecal swab isolated from a piglets in farm of Badung, Tabanan, Gianyar and Denpasar regency, district of Bali. Fecal swab samples were collected from feces and continued by isolation and identification Escherichia coli. This study showed that, the incidence of colibacillosis in piglets were 846 (42%) and the high risk factors occurrence of colibacillosis for young piglets between 0-2 weeks (62%).
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENERAPAN TEKNOLOGI SAPTA USAHA PETERNAKAN DENGAN TAMPILAN DOMBA GARUT TIPE TANGKAS DAN TIPE PEDAGING DI KABUPATEN GARUT DJONI, DJONI; ROHAYATI, TATI
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 13 No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.14 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat penerapan teknologi sapta usaha peternakan dengan tampilan domba garut tipe tangkas dan tipe pedaging. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Cisurupan sebagai sentra peternakan domba garut tipe tangkas, dan di Kecamatan Wanaraja sebagai sentra peternakan domba garut tipe pedagin, berlangsung selama tiga bulan. Metode yang digunakan adalah metode survai. Unit analisis yang diteliti adalah Kabupaten Garut. Data dianalisis dengan metode pemahaman (verstehen). Hubungan antara kedua buah variabel, secara simultan dianalisis dengan Uji Korelasi Kendall W dan secara parsial dengan Uji Korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penerapan teknologi sapta usaha peternakan pada domba garut tipe tangkas berada pada ketegori baik, sedangkan tipe pedaging berada pada kategori cukup. Berat badan (tampilan) domba garut tipe tangkas jantan berada pada kategori baik, betina tipe tangkas dan tipe pedaging berada pada kategori cukup, sedangkan tipe pedaging jantan berada pada kategori kurang. Hasil analisis secara simultan menunjukkan terdapat hubungan yang sangat nyata antara penerapan teknologi sapta usaha peternakan dengan berat badan domba garut tipe tangkas dan tipe pedaging, baik jantan maupun betina. Secara parsial terdapat hubungan yang sangat nyata antara perkandangan, tatalaksana pemeliharaan, pengelolaan reproduksi, serta panen, pascapanen dan pemasaran dengan berat badan domba garut tipe tangkas jantan; tatalaksana pemeliharaan serta panen, pascapanen dan pemasaran dengan berat badan domba garut tipe tangkas betina; panen, pascapanen dan pemasaran dengan berat badan domba garut tipe pedaging jantan, serta perkandangan dengan berat badan domba garut tipe pedaging betina. Kesimpulan yang ditarik adalah tingkat penerapan teknologi sapta usaha peternakan pada domba garut tipe tangkas dilaksanakan dengat tepat, sedangkan tipe pedaging masih perlu perbaikan. Berat badan domba garut tipe tangkas jantan proporsional, betina tipe tangkas dan tipe pedaging perlu ditingkatkan, sedangkan tipe pedaging jantan kurang berat (kurus). Semakin tepat penerapan teknologi sapta usaha peternakan akan semakin baik pula berat badan domba garut tipe tangkas dan tipe pedaging, baik jantan maupun betina. THE RELATIONSHIP BETWEEN APPLICATION LEVEL OF THE SEVEN ENDEAVORS TECHNOLOGY OF ANIMAL HUSBANDRY AND THE PERFORMANCE OF GARUT SHEEP OF CONTEST AND BEEF TYPES IN GARUT REGENCY ABSTRACT The research aimed to find out the relationship between the application level of the seven endeavors technology of animal husbandry and the performance of Garut Sheep of contest and beef types in Garut Regency. The research was conducted in Cisurupan Subdistrict as center of garut sheep of contest type, and at Wanaraja Subdistrict as center of garut sheep of beef type, was conducted for three months. The method used was survey method. The analysis unit was Garut Regency. The data obtained were primary and secondary data. The primary data were obtained using interview technique. The obtained data were analyzed with the comprehension method (verstehen). The relationship between the application level of the seven endeavors technology of animal husbandry and the performance of garut sheep of contest and beef types was simultaneously analyzed using the Kendall W Correlation Test and partially was analyzed using the Rank Spearman’s Correlation Test. The results of the research indicated that the level of the application level of the seven endeavors technology of animal husbandry and the performance of garut sheep of contest type was in good category, whereas of the beef type was in medium category. The performance of garut rams of contest type was in good category, the garut ewes of contest and beef types were in medium category, while the garut rams of beef type was in poor category. The results of simultaneous analysis showed that there were significant relationship between the application level of the seven endeavors technology of animal husbandry and the body weight of garut sheep of contest and beef types, both of rams and ewes. Partially, the analysis showed that there were significant relationship between stables, management, reproduction management, and harvest, as well as postharvest and marketing and the body weight of the garut rams of contest type; between the management, harvest, and postharvest and marketing and the body weight of the garut ewes of contest type; between the harvest, postharvest and marketing and the body weight of the garut rams of beef type; and between the stables and the body weight of the garut ewes of beef type. The conclusion was that the application of the seven endeavors technology of animal husbandry of garut Sheep of contest type was appropriate, whereas of the beef types some improvements were needed. The body weight of the garut rams of the contest type was proportional, the garut ewes of the contest and beef types should be improved, whereas the Garut rams of beef type was less weight (thin). The more appropriate the application of the seven endeavors technology of animal husbandry, the better the performance of the Garut Sheep of contest and beef types, both rams and ewes, would be.
KOEFISIEN CERNA NUTRIEN DAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN BABI LANDRACE YANG DIBERI RANSUM DENGAN SUPLEMENTSI MULTIVITAMIN DAN MINERAL BERUPA MINYAK IKAN ASTAWA, P. A.; BUDAARSA, K.; BUDIASA, I K. M.; SUASTA, I M.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 13 No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.054 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian telah dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang kecernaan nutrien dan pertambahan berat badan babi landrace yang diberi ransum dengan suplementsi multivitamin dan mineral berupa minyak ikan. Babi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 9 ekor babi landarce betina. Penelitian lapangan dilaksanakan di Desa Candikusuma Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana, Bali sedangkan analisis laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Udayana, berlangsung selama 5 bulan. Rancangan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 (tiga) perlakuan dan 3(tiga) ulangan, sehingga secara keseluruhan terdapat 9 unit percobaan. Tiap unit percobaan menggunakan satu ekor babi landrace dengan berat badan awal 6,11±1,71. Ketiga perlakuan tersebut adalah : Perlakuan MI0 (ransum tanpa minyak ikan) yang digunakan sebagai kontrol; perlakuan MI1 (ransum dengan 100 ml minyak ikan); dan perlakuan MI2 (ransum dengan 200 ml minyak ikan). Ransum disusun dalam 100 kg, isoprotein dan isikalori berdasarkan rekomendasi NRC (1988). Peubah yang diamati meliputi koefisien cerna (bahan kering, bahan organik, serat kasar, dan protein kasar), dan pertambahan berat badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi minyak ikan sebagai sumber vitamin dan mineral pada level 100 ml dalam ransum pada babi landrace dapat meningkatkan koefisien cerna bahan kering, bahan organik, dan protein kasar, sedangkan kecernaan serat kasar mengalami penurunan. Untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan ransum pada babi landrace fase starter dapat dilakukan dengan pemberian suplementasi minyak ikan sebagai sumber vitamin-mineral sebesar 100 ml. DIGESTIBLE COEFFICIENT OF NUTRIENT AND WEIGHT INCREASMENT ON LANDRACE WHICH WAS GIVEN COMMERCIAL FEED WITH MULTIVITAMIN SUPLEMENT AND MINERAL OF FISH OIL ABTRACT A research has been carried out to know nutrient digestion and weight increasment landrace. Nine female landrace pig were used on this research.This research was held in Jembrana Regency, Melaya sundistrict, Candikusuma Village while the laboratory analysis was held in Laboratory of Animal Feed Nutrition, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University. This research took 5 months from preparation until reporting. Completely randomized design (CRD) with three treatments in three replicates as totally 9 units research. There were one pigs in each replicates, with weight at 6.11±1.71 kg. The three treatments were: MI0 (without fish oil); MI1 (with 100 ml fish oil); and MI2 (with 200 ml fish oil). Those woofs were arranged at 100 kg with isoprotein and isicalory based on NRC (1998) recommendation. During the research, we watched for digest coefficient of dry mater, organic mater, crude protein, crude fiber and weight incensement. The result of this research showed that fish oil supplementation as a vitamin-mineral source with 100 ml level on feed of landrace could increase coefficient of dry mater digestion, organic mater, and crude protein, except crude fiber. Fish oil on 100 ml level was giving the best result to increase landrace weight on strater.
METODE CEKAMAN LURUH BULU YANG COCOK UNTUK KONDISI DI INDONESIA HAMZAH, RAZAK ACHMAD
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 13 No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.691 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mencari Program Cekaman Luruh Bulu yang cocok dan menguntungkan dengan kondisi lingkungan dan kondisi peternak di Indonesia. Penelitian ini menggunakan180 ekor ayam tipe medium (Dekalb Warren), umur 84 minggu. Percobaan yang berfaktor 2×2×2, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima kali ulangan dan setiap ulangan terdiri atas 4 ekor ayam. Faktor pertama yaitu pemberian minum dan puasa minum selang sehari. Faktor kedua ialah jangka waktu puasa makan 10 hari dan puasa makan 5 hari. Faktor ketiga ialah jumlah makanan yang diberikan pada masa pemulihan yaitu pakan dengan jumlah 50%, dan 25% dari komsumsi normal. Jadi ada 9 jenis perlakuan program cekaman luruh bulu yang dicobakan. Data hasil penelitian dianalisis sidik ragam (ANOVA), dan dlakukan uji perbandingan orthogonal. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa perlakuan B (puasa makan 10 hari pertama, tidak puasa minum, hari ke 11 sampai dengan ke 30, diberi pakan 25% dari normal, dapat meningkatkan rataan produksi telur ayam tua menjadi 68,20%, memperbaiki konversi ransum, dan nilai Haugh Unit dengan sangat nyata. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa metode Cekaman Luruh Bulu yang dipakai dalam penelitian ini, kalau diterapkan pada ayam tua akan mendapatkan keuntungan Rp 2.500.000,- per 1000 ekor ayam; sebaliknya kalau ayam tua itu dibiarkan saja bertelur terus tanpa perlakuan, peternak akan merugi Rp 467.000,- per 1000 ekor ayam. STRESS METHODS FOR MOLTING SUITABLE FOR CONDITIONS IN INDONESIA ABSTRACT The objective of the research is to find out the appropriate and beneficial forced molting program that suitable with the environment and the condition of the farmer in Indonesia. The research used 180 medium type chickens, strain Dekalb Warren, aged 84 weeks old. The research applied 2×2×2 factors and used complete randomized design in (CRD) 5 times replications with 4 chickens for each repeat. The first factor was water supplying and without water supply. The second factor was the duration of no feeding for 10 and 5 days. The third factor was the amount of feed given during recovery period, that was 50% and 25% of the normal consumption. So, the total of the treatment of forced molting program applied were 9 treatments. Data obtained were analysed using analysis of variance (ANOVA), orthogonal comparison test. The result obtained showed that the treatment B (without feeding for the first 10 days, having water supply, day 11 to 30 were feed 25% of normal consumption) could be increasing the average of egg production of old chicken to 68.20%, improving feed convertion, egg quality: Haugh Unit value, yolk percentage, significantly and no differences were obsesrved among treatments versus control for egg weighth, albumen percentage, eggshell thickness. The result was also showed that the Forced Molting Stress Method used in this experiment, would be giving profit of Rp 2,500,000;- per 1,000 chickens if implemented; in the contrary, if the old chickens are allow to keep laying egg without treatment, the farmer would get deficit of Rp 467,000;- per 1,000 chickens.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 27 No 1 (2024): Vol. 27 No. 1 (2024) Vol 26 No 3 (2023): Vol. 26 No. 3 (2023) Vol 26 No 2 (2023): Vol. 26 No. 2 (2023) Vol 26 No 1 (2023): Vol. 26 No. 1 (2023) Vol 25 No 3 (2022): Vol. 25 No. 3 (2022) Vol 25 No 2 (2022): Vol. 25 No. 2 (2022) Vol 25 No 1 (2022): Vol 25, No 1 (2022) Vol 24 No 3 (2021): Vol. 24 No. 3 (2021) Vol 24 No 2 (2021): Vol. 24 No. 2 (2021) Vol 24 No 1 (2021): Vol. 24 No. 1 (2021) Vol 23 No 3 (2020): Vol. 23 No. 3 (2020) Vol 23 No 2 (2020): Vol. 23 No. 2 (2020) Vol 23 No 1 (2020): Vol. 23 No. 1 (2020) Vol 22 No 3 (2019): Vol. 22 No.3 (2019) Vol 22 No 2 (2019): Vol. 22 No.2 (2019) Vol 22 No 1 (2019): Vol. 22 No.1 (2019) Vol 21 No 3 (2018): Vol 21, No 3 (2018) Vol 21 No 2 (2018): Vol 21, No 2 (2018) Vol 21 No 1 (2018): Vol 21, No 1 (2018) Vol 20 No 1 (2017): Vol 20, N0 1 (2017) Vol 20 No 3 (2017): Vol 20, No 3 (2017) Vol 20 No 2 (2017): Vol 20, No 2 (2017) Vol 19 No 3 (2016): Vol 19, No 3 (2016) Vol 19 No 2 (2016): Vol 19, No 2 (2016) Vol 19 No 1 (2016): Vol 19, No 1 (2016) Vol 18 No 3 (2015): Vol 18, No 3 (2015) Vol 18 No 2 (2015): Vol 18, No 2 (2015) Vol 18 No 1 (2015): Vol 18, No 1 (2015) Vol 17 No 3 (2014): Vol 17, No 3 (2014) Vol 17 No 2 (2014): Vol 17, No 2 (2014) Vol 17 No 1 (2014): Vol 17, No 1 (2014) Vol 16, No 1 (2013) Vol 15, No 1 (2012) Vol 14, No 1 (2011) Vol 13, No 3 (2010) Vol 13 No 1 (2010) Vol 12 No 3 (2009) Vol 11 No 1 (2008) Vol 10 No 3 (2007) Vol 10 No 2 (2007) Vol 10 No 1 (2007) Vol 9 No 3 (2006) Vol 9 No 2 (2006) Vol 9 No 1 (2006) Vol 8 No 3 (2005) Vol 8 No 2 (2005) Vol 8 No 1 (2005) Vol 7 No 2 (2004) More Issue