cover
Contact Name
Amelia Rahmi
Contact Email
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Isamic Communication Journal
ISSN : 25415182     EISSN : 26153580     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Islamic Communication Journal, ISSN: P-2541-5182 E-2615-3580, published by the Department of Communication and Islamic Broadcasting Faculty of Da'wa and Communication UIN Walisongo Semarang. This journal has a scope of studies and research on the science of communication, media and da'wah. Incoming articles can be either research or conceptual results of classical or current scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 1 (2024)" : 8 Documents clear
Da'wah in the digital era: Analysis of Husain Basyaiban's da'wah message in TikTok content Amelia, Riska; Riyadi, Agus; Murtadho, Ali
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.18930

Abstract

This study is motivated by the development of social media as a means of preaching, including Husain Basyaiban's Tiktok. This study aims to find out what da'wah messages are contained in the TikTok content in terms of the meaning of denotation, connotation, and myth. Therefore, this study is library research with a descriptive qualitative approach. The semiotic analysis used is the Roland Barthes model, a theoretical framework that examines signs and their meanings in cultural contexts. In this analysis, we identified and interpreted the signs (visual and textual elements) in Husain Basyaiban's TikTok video, considering their cultural and social contexts. The results of the analysis show that the video contains several meanings and messages, namely: mutual respect between religious communities, not insulting other people's beliefs, respecting other people's religious rituals when religion is insulted, fighting, being careful in protecting your beliefs, the importance of conscience in maintaining tolerance, Islam is the true religion, there is no prejudice against religions other than Islam, preaching is an obligation, and Muslims carry a great trust. Then, in Husain Basyaiban's TikTok video, researchers also found the meaning of the video's denotation, connotation, and myth. With the meaning obtained, this study implies the importance of disseminating da'wah content through social media. Social media like TikTok can display short moral content but with deep meaning.*****Studi ini dilatarbelakangi oleh perkembangan media sosial sebagai sarana dalam berdakwah diantaranya adalah Tiktok Husain Basyaiban. Studi ini bertujuan untuk mengetahui apa saja pesan dakwah yang terkandung dalam konten tiktok tersebut dilihat dari makna denotasi, konotasi, dan mitos. Oleh karenanya studi ini merupakan studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Analisis yang digunakan merupakan analisis semiotika dengan model Roland Barthes. Hasil analisis menunjukkan bahwa di dalam video tersebut mengandung beberapa makna dan pesan, yakni: saling menghormati antar umat beragama, tidak menghina keyakinan orang lain, menghormati ritual agama orang lain, ketika agama dihina wajib dilawan, berhati-hati dalam menjaga akidah, pentingnya hati nurani dalam menjaga toleransi, Islam adalah agama yang benar, tidak berburuk sangka terhadap agama selain Islam, berdakwah merupakan suatu kewajiban dan umat Islam mengemban amanah yang besar. Kemudian dalam video tiktok Husain Basyaiban, peneliti juga menemukan makna denotasi, konotasi dan mitos dari video tersebut. Dengan makna yang didapat tersebut, studi ini mengimplikasikan pentingnya diseminasi konten dakwah melalui media sosial. Media sosial seperti TikTok dapat menampilkan konten moral singkat tetapi dengan makna yang mendalam.
A century of struggle: Afghanistan’s media development under monarchies Pamirzad, Qurban Hussain
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.19593

Abstract

This paper has used a series of historical sources, mainly in the Persian language, to explore the one-century history of Afghanistan’s media. The country has 150 years of media history, of which a century occurred during the monarchy's political system. This study explains the chronological order and structure of the media from the first newspaper, Shams-u-Nahar, which was founded in 1873 during the reign of Amir Shir Ali Khan. In addition to explaining the press's role in the war for the independence of Afghanistan, it also explores the media’s situation during King Zaher Shah’s (1933-1973) reign, when a diverse media environment emerged; simultaneously, systematic political repression was carried out and derailed the achievements. This comprehensive centenary review of Afghanistan’s media history fills the research gap about Afghanistan's media, which has only been accessible to readers and researchers in the Persian language so far. Hence, this paper will be the first of its kind to cover this era in detail, address this research void, and pave the way for researchers to learn more about Afghanistan's media history.*****Makalah ini menggunakan serangkaian sumber sejarah, terutama dalam bahasa Persia, untuk mengeksplorasi sejarah satu abad media Afghanistan. Negara ini memiliki sejarah media selama 150 tahun, dan satu abad di antaranya terjadi pada masa sistem politik monarki. Kajian ini menjelaskan urutan kronologis dan struktur media dari surat kabar pertama, Shams-u-Nahar, yang didirikan pada tahun 1873 pada masa pemerintahan Amir Shir Ali Khan. Selain menjelaskan peran pers dalam perang kemerdekaan Afghanistan, artikel ini juga mengeksplorasi situasi media pada masa pemerintahan Raja Zaher Shah (1933-1973), ketika lingkungan media yang beragam muncul; secara bersamaan, represi politik sistematis dilakukan dan menggagalkan pencapaian. Tinjauan komprehensif sejarah media Afganistan yang berusia seratus tahun ini mengisi kesenjangan penelitian tentang media Afganistan, yang sejauh ini hanya dapat diakses oleh pembaca dan peneliti dalam bahasa Persia. Oleh karena itu, makalah ini akan menjadi makalah pertama yang membahas era ini secara rinci, mengatasi kekosongan penelitian, dan membuka jalan bagi para peneliti untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah media Afghanistan.
From fatwa to social media: Unleashing global muslim solidarity through fatwa and digital activism movement Alfarisi, Muhammad Fahmi Reksa; Huda, Ahmad Nashikhul; Asharsyira, Almeyda
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.20501

Abstract

The Israel-Palestine war has brought an enormous amount of attention to religious tension, global solidarity, and humanitarian movement in the Muslim world. This study investigates the underlying factor behind the fatwa issuance and its impact on the new trend of global solidarity in the digital sphere. The theory of mediation of meaning and new media by Hoover has been used to navigate the Fatwa of the Indonesian Ulama Council. This fatwa, regarding boycotts, divestments, sanctions movement, and the spread of Julid Fisabilillah digital activism, is a significant factor in shaping global Muslim solidarity. The digital activism is conducted by Indonesian and Malaysian netizens on specific social media platforms such as X, Instagram, and Telegram. This paper aims to contribute to the promotion of solidarity, compassion, and moral principles as fundamental aspects of humaneness. The research methods involved using a desk research methodology to collect data by analyzing scientific papers, digital media such as news, social media platforms, and literature reviews. The results indicated that this new trend of movements served as a means of expressing concern and advocating for humanity's values. It also aimed to create social justice and beneficial impact through humanitarian aid and establish emotional and moral connections to the Palestinian cause. Subsequently, the elements of religious tension, intrinsic and extrinsic religiosity, have intertwined roles in influencing this situation.*****Perang antara Israel-Palestina telah menyita banyak perhatian dari mulai esensi ketegangan agama, solidaritas global, hingga gerakan kemanusiaan di dunia Muslim. Studi ini berusaha untuk menyelidiki faktor yang mendasari diterbitkannya Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait dukungan terhadap Palestina dan dampaknya terhadap tren baru solidaritas global di ranah digital. Teori mediasi makna dan media baru oleh Hoover diaplikasikan untuk menavigasi dampak dari Fatwa Majelis Ulama Indonesia yang berkenaan dengan gerakan boikot, divestasi, sanksi terhadap produk yang mendukung Israel dan penyebarannya melalui aktivisme digital Julid Fisabilillah yang banyak digalakkan oleh warganet Indonesia dan Malaysia di beberapa platform media sosial seperti X, Instagram dan Telegram. Tulisan ini memiliki kontribusi untuk meningkatkan solidaritas, kasih sayang, dan menegakkan prinsip-prinsip moral sebagai aspek dasar kemanusiaan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kepustakaan untuk mengumpulkan data dengan menganalisis beberapa karya ilmiah terdahulu, media digital seperti berita, platform media sosial, dan tinjauan literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren gerakan baru ini berfungsi sebagai sarana efektif untuk mengekspresikan kepedulian dan mengadvokasi nilai-nilai kemanusiaan yang bertujuan untuk menciptakan keadilan sosial dan dampak yang bermanfaat melalui bantuan kemanusiaan, membangun hubungan emosional dan moral sejalan dengan perjuangan warga Palestina. Selanjutnya, elemen-elemen ketegangan agama, baik religiusitas intrinsik maupun ekstrinsik, memiliki peran yang saling terkait dalam mempengaruhi situasi ini. 
The religious transformation of Gen Z in the new media era Pabbajah, Mustaqim
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.20557

Abstract

New Media becomes an effective bridge of religious transformation in Gen Z. The presence of new media with various features offered is a new way of obtaining religious knowledge.  This paper wants to explain that there has been a diverse religious pattern of Gen Z experiencing transformation due to the intensity of the use of religion-based new media. The research in this study was conducted through observations, interviews and literature studies related to the formal objects, material objects and contexts studied, then analyzed with a qualitative descriptive approach. The results of this study explain the forms of religious transformation of Gen Z in the midst of the rise of new media. The transformation occurs due to the emergence of new media that offers various religion-based platforms. The implication is that intense religious learning accessed through new media can be said to be not in line with the ideally expected understanding of religion. In other words, religious understanding, which is actually the main orientation in religious learning, has undergone a transformation as shown by the religious experience of Gen Z. Where the presence of new media can be a tool that can change a person's paradigm in religion. This study suggests the need for a balance between media literacy and religious literacy to be balanced, along with the intensity of technological penetration that is continuously evolving.*****Media Baru menjadi jembatan tranformasi agama yang efektif pada Gen Z. kehadiran media baru dengan berbagai fitur yang ditawarkan menjadi cara baru dalam mendapatkan pengetahuan agama.  Tulisan ini hendak menjelaskan bahwa telah terjadi pola beragama beragam Gen Z mengalami transformasi akibat intensitas penggunaan new media berbasis agama. Penelitian dalam ttudi ini dilakukan melalui observasi, wawancara dan studi litertur terkait objek formal, objek material dan konteks yang dikaji, kemudian dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil studi ini menjelaskan terkait bentuk-bentuk transformasi beragama Gen Z di tengah maraknya media baru. Transformasi itu terjadi akibat munculnya media baru yang menawarkan berbagai platform yang berbasis agama. Implikasinya adalah pembelajaran agama yang intens diakses melalui media baru dapat dikatakan belum sejalan dengan pemahaman agama yang diharapkan secara ideal. Dengan kata lain, pemahaman agama yang sejatinya menjadi orientasi utama dalam pembelajaran agama telah mengalami transformasi sebagaimana pengalaman beragama yang diperlihatkan Gen Z. Di mana kehadiran media baru dapat menjadi alat yang dapat mengubah paradigma seseorang dalam beragama. Studi ini menyarankan perlunya keseimbangan antara literasi media dan lierasi agama dapat seimbang, seiring dengan intensitas penetrasi teknologi yang terus berkembang.
Reinventing jihad’s meaning: A discourse on jihad among salafist figures in Indonesia Bazikh, Moh. Rofqil
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.20649

Abstract

The jihad discourse can never be separated from the Islamic intellectual tradition. This doctrine partly causes negative views of Islam. Because Islam has a doctrine of jihad, quite a few people think that Islam is closely related to violence. This study aims to examine one group that is often considered to be closely linked to violence in Indonesia, namely the Salafi group. Several Salafi figures have even received much rejection in various regions, plus there is a simplistic perception of Salafi groups, which varies. Methodologically, this study uses a type of qualitative research where data is obtained through observation of the social media channels of three Salafi figures related to discussing the topic of jihad, namely Syafiq Riza Basalamah, Khalid Basalamah, and Firanda Andirja. All three are Salafi figures with authority and influence, especially on social media. This study shows that they are trying to cleanse the meaning of jihad. This is proven by their opposing position to acts of violence in the name of jihad. However, they do not deny that jihad is synonymous with war. They are just trying to ensure that jihad does not always mean war. This effort is a step in reinventing the pejorative meaning of jihad. This also provides clarification that not all Salafis support acts of violence as understood so far. This study implies that new media can build new discourse about the identity of splinter groups (Salafi) in the public sphere.*****Diskursus jihad tidak pernah bisa dilepaskan dari tradisi intelektual Islam. Pandangan-pandangan negatif terhadap Islam di antaranya disebabkan oleh doktrin ini. Sebab Islam memiliki doktrin jihad, tidak sedikit pihak yang menganggap Islam lekat kaitannya dengan kekerasan. Studi ini bertujuan untuk mengkaji salah satu kelompok yang kerap dianggap lekat dengan kekerasan di Indonesia, yaitu kelompok Salafi. Beberapa figur Salafi bahkan banyak mendapat penolakan di berbagai daerah, ditambah terdapat persepsi yang simplistis terhadap kelompok Salafi yang sejatinya bervariasi. Secara metodologis, studi ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dimana data diperoleh melalui observasi terhadap saluran media sosial tiga figur Salafi terkait pembahasan topik jihad, yaitu Syafiq Riza Basalamah, Khalid Basalamah, dan Firanda Andirja. Ketiganya merupakan figur Salafi yang mempunyai otoritas dan pengaruh, utamanya di media sosial. Studi ini menunjukkan bahwa mereka melakukan upaya pembersihan terhadap makna jihad. Ini dibuktikan dengan posisi kontra mereka terhadap aksi kekerasan yang mengatasnamakan jihad. Kendati demikian, mereka tidak membantah bahwa jihad identik dengan perang. Mereka hanya mencoba agar jihad tidak senantiasa berarti perang. Upaya ini merupakan langkah menemukan kembali (reinventing) makna jihad dari yang peyoratif. Ini sekaligus memberikan klarifikasi bahwa tidak semua Salafi mendukung aksi-aksi kekerasan sebagaimana dipahami selama ini. Studi ini mengimplikasikan bahwa new media dapat menjadi sarana untuk membangun diskursus baru tentang identitas kelompok sempalan (salafi) di ruang publik.
Interpersonal communication between parents and children from Hamka's perspective: A thematic study in the Tafsir Al-Azhar on Surah Luqman verses 16-19 Affandi, Yuyun; Husna, Azzah Luqinatul; Alhuwaymil, Mohammed Saad
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.20982

Abstract

Interpersonal communication between parents and children is essential in the digital era. The role of parents and effectiveness in building communication must be implemented well. With its unique focus on Islamic values, this study aims to explore key elements in such communication. The research method used is library research with a qualitative research model on verses related to the story of Luqman in the Al-Qur’an, highlighting the interpretation of Buya Hamka in Tafsir Al-Azhar. The research results show firstly, in surah Luqman verses 16-19, it explains the amount of good that is done, the obligation to perform prayers, the obligation to amar ma’ruf against evil, the recommendation to be patient when experiencing misfortune, as well as morals and manners in interacting with fellow humans, such as not turning away, human face. Secondly, the interpersonal communication patterns of parents and children are contained in surah Luqman verses 16-19: equality and openness, empathy and positive behavior. This pattern can be demonstrated by various kinds of behavior and attitudes, including choosing the proper diction, making the child a speaking partner of the same age, and not looking away and not shouting at the child. With its unique Islamic perspective, the implication is that this study significantly enriches the treasures of interpersonal communication.*****Komunikasi interpersonal orang tua dan anak menjadi kajian penting di era digital. Peran orang tua dan efektivitas dalam membangun komunikasi perlu diterapkan dengan baik. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi elemen-elemen kunci dalam komunikasi tersebut, menyoroti nilai-nilai Islami yang dapat diterapkan dalam konteks hubungan keluarga. Metode penelitian yang digunakan adalah library research dengan model penelitian kualitatif terhadap ayat-ayat yang terkait dengan kisah Luqman dalam Al-Qur’an, dengan menyorot penafsiran Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar. Hasil penelitian menunjukkan pertama, bahwa Surah Luqman ayat 16-19 menerangkan tentang sebesar apapun kebaikan yang dikerjakan, kewajiban mendirikan shalat, kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, anjuran bersabar ketika mendapat musibah, serta akhlak dan sopan santun dalam berinteraksi pada sesama manusia, seperti tidak memalingkan wajah dari manusia. Kedua, pola komunikasi interpersonal orang tua dan anak yang terdapat dalam Surah Luqman ayat 16-19, yaitu: kesetaraan dan keterbukaan, empati, dan perilaku positif. Pola tersebut dapat ditunjukkan dengan berbagai macam perilaku dan sikap, antara lain: pemilihan diksi yang tepat, menjadikan anak sebagai patner bicara yang seusia, dan tidak memalingkan wajah serta tidak berteriak kepada anak. Implikasinya, studi ini dapat memperkaya khazanah komunikasi interpersonal menurut perspektif keislaman.
The role of film in environmental communication: An audience interpretation in Indonesia and Malaysia Briandana, Rizki; Mohamad Saleh, Mohamad Saifudin; Dwityas, Nindyta Aisyah
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.21947

Abstract

Film is a form of communication that has the power to persuade   viewers to alter their perceptions and actions in order to support the communicator's chosen media agenda. Politics is the topic that is frequently covered in movies. In the documentary The Years of Living Dangerously, the topic of global warming is viewed from the angle of societal issues, offering a  fresh perspective to the audiences. The issue of environmental destruction that took place all across the world served as the theme. The concern highlighted in the movie is that its magnitude has significantly increased global greenhouse gas emissions. Deforestation in Indonesia and Malaysia was one of the topics  brought up. This study aims to analyze the audience's interpretation of the role of film in communicating environmental communication. This study used the reception analysis method with the FGD data collection technique. The informants in this study are audiences in Indonesia and Malaysia.  The results of this study indicate that environmental communication in Indonesia and Malaysia which discuss deforestation issues are interpreted by the public as part of social problems that are difficult to control. Meanwhile, the government is framed as a political communicator that is not transparent, causing public distrust.*****Film merupakan salah satu bentuk komunikasi yang memiliki kekuatan untuk membujuk pemirsa agar mengubah persepsi dan tindakannya guna mendukung agenda media yang dipilih komunikator. Politik adalah topik yang sering diangkat dalam film. Dalam film dokumenter The Years of Living Dangerously, topik pemanasan global dilihat dari sudut pandang isu-isu kemasyarakatan, sehingga menawarkan perspektif baru kepada penontonnya. Isu kerusakan lingkungan yang terjadi di seluruh dunia menjadi tema yang diangkat. Kekhawatiran yang disoroti dalam film ini adalah besarnya dampak buruk ini telah meningkatkan emisi gas rumah kaca global secara signifikan. Deforestasi di Indonesia dan Malaysia menjadi salah satu topik yang diangkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interpretasi penonton terhadap peran film dalam mengkomunikasikan komunikasi lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode analisis resepsi dengan teknik pengumpulan data FGD. Informan dalam penelitian ini adalah khalayak di Indonesia dan Malaysia.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi lingkungan hidup di Indonesia dan Malaysia yang membahas isu deforestasi dimaknai oleh masyarakat sebagai bagian dari permasalahan sosial yang sulit dikendalikan. Sementara itu, pemerintah dibingkai sebagai komunikator politik yang tidak transparan sehingga menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat.
Transformation of new media in Aswaja al-Nahdliyyah da'wah: Strategies and challenges in the contestation of religious authority in Indonesia Mudhofi, M.; Karim, Abdul
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.22071

Abstract

The presence of new media has caused contestation between religious authorities in Islamic society. However, what stands out most is that new media has given birth to new spaces where every individual and group, including those who are often considered splinter, are free to present themselves and their identities in public. This research aims to examine the specific challenges Aswaja Al-Nahdliyyah faces in maintaining doctrinal purity, combating misinformation, and navigating the complexities of digital communications. This research uses qualitative research in an interpretive paradigm, utilizing online data from the NU Website and YouTube channels.  The narrative of Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah al-Nahdliyyah is very important to be promoted and mainstreamed, so that it is increasingly strengthened into a complete narrative which is called the new cultural environment of Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah al-Nahdliyyah. This new environment can be seen from the digitization of Nahdlatul Ulama (NU) figures and the yellow books (turats) taught at NU Islamic boarding schools. This digitalization seeks to show that new religious spaces in the online world must be under the control of authorized religious figures.*****Kehadiran media baru telah menimbulkan kontestasi antar otoritas agama dalam masyarakat Islam. Namun yang paling menonjol adalah media baru telah melahirkan ruang-ruang baru di mana setiap individu dan kelompok, termasuk mereka yang kerap dianggap pecahan (sempalan), bebas menampilkan diri dan identitasnya di depan publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tantangan spesifik yang dihadapi Aswaja Al-Nahdliyyah dalam menjaga kemurnian doktrin, memerangi misinformasi, dan menavigasi kompleksitas komunikasi digital. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan paradigma interpretatif, memanfaatkan data online dari Website NU dan channel YouTube.  Narasi Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah al-Nahdliyyah sangat penting untuk dipromosikan dan diarusutamakan, agar semakin kuat menjadi sebuah narasi utuh yang disebut dengan lingkungan budaya baru Ahl al-Sunnah wa al- Jama'ah al-Nahdliyyah. Lingkungan baru ini terlihat dari digitalisasi tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan kitab kuning (turats) yang diajarkan di pesantren NU. Digitalisasi ini berupaya menunjukkan bahwa ruang keagamaan baru di dunia online harus berada di bawah kendali tokoh agama yang berwenang.

Page 1 of 1 | Total Record : 8