Jaqfi : Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam
Jurnal Ilmiah JAQFI: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam adalah jurnal yang mempublikasikan hasil-hasil kajian dan penelitian orisinal terbaru dalam ilmu murni Filsafat Islam dan Aqidah (Teologi Islam), serta cakupannya meliputi kajian filsafat kontemporer, pendidikan, sosial, dan keagamaan dari perspektif filsafat maupun aqidah. Tujuan Jurnal berkala ini adalah untuk upaya meningkatkan intensitas kajian Filsafat Islam dan Aqidah, mengupayakan teori baru serta kontekstualisasinya bagi perkembangan intelektualitas.
Articles
220 Documents
Eskatologi Mulla Sadra: Kebangkitan setelah Kematian
Supriatna, Rizki Rizki
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 5 No. 1 (2020): TUHAN DAN ESKATOLOGI
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jaqfi.v5i1.6329
Eskatologi merupakan kajian yang paling paling penting di dunia filsafat dan teologi karena membahas tentang keyakinan kepada hal yang mistik, atau di luar nalar manusia. Akan tetapi kajian ini tetap menjadi kajian yang sangat menarik untuk dibahas apalagi pada zaman sekarang ketika manusia sudah tidak percaya lagi akan sebuah kematian dan kebangkitan. Pembahasan eskatologi ini telah berakhir dan dibakukan oleh filusuf modern yaitu Al-Ghazali dengan serangan-serangannya terhadap para filusuf dan pemikiranya yang terdapat dalam kitab Tahafut Al-Falasifah. Membuat kemunduran para pengkaji ilmu filsafat. Akan tetapi dengan kemunculan filusuf modern yaitu Mulla Sadra, dengan pemikiran-pemikiranya membuat hidup kembali kajian eskatologi dan filsafat-filsafat lain.Eskatologi merupakan ilmu yang membahas kebangkitan setelah kematian, yang mana membicarakan tentang nasib manusia setelah mati, tempat balasan, surga dan neraka dan yang lainya. Kajian eskatologi ini merupakan kajian yang harus kita ketahui, karena dalam kajian ini memahas keimanan manusia, pakah dia beriman atau mereka tidak mengimaninya. Bagi yang beriman maka akan selamat bagi yang tidak akan mendapat siksa.Eskatologi juga membahs tentang jiwa dan bentuk jiwa serta nasib jiwa, jiwa merupakan hal yang paling mendasar dalam diri manusia, karena jiwa yang menggerakan tubuh supaya dapat bergerak. Serta ketika badan ini mati, jiwa akan terus hidup dan akan menuju kesempurnaanya. Badan ini akan mengalami kehancuran tapi jiwa tetap pada keabadian, jiwa tidak mati, hancur, bahkan tidak menghilang.Jiwa ini akan mendapatkan tubuh fisik baru tetapi bukan dari pemberian atau perpindahan jiwa terhadap tubuh lain. Billa seperti itu maka itu disebut reinkarnasi. Dan reinkarnasi itu mustahil karena jiwa yang sudah mendapatkan derajat tinggi akan kembali pada derajat yang rendah, jadi tidak mungkinan reinkarniasi itu. Jiwa akan mendapatkan tubuhnya sendiri hasil dari proyeksi atau mengeluarkan jati dirinya. Dan itu dihasilkan dari kepribadian serta karakteristik-nya pada masa hidup di alam duniawi. Manusia hidup satu kali, mati satu kali dan dibangkitkan satu kali, hidup manusia itu satu alur yaitu kedepan tidak memiliki alur lain. Dengan begituh manusia akan sampai pada bentuk kesempurnaan dan akan bertemu denganTuhanya.
ISLAM PERSPEKTIF DAN PERSPEKTIF ISLAM TENTANG PENDETA SYAIFUDIN IBRAHIM (Analisis Pandangan, Asumsi, dan Tantangan Pendeta Syaifuddin Ibrahim Terhadap Umat Muslim)
nopriyansa, eko
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 5 No. 1 (2020): TUHAN DAN ESKATOLOGI
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jaqfi.v5i1.6646
The phenomenon of religious people and freedom to choose religion as a belief in life becomes freedom that cannot be bargained. The series of past history reminds religious people that the Presence of Religion is on the most principle principle, in order to be a solution in various aspects of human life, apart from the dark history of Religion which is ridden by the interests of power and vice versa on the power of Religion. Furthermore, the context of the past is a compass of the future of Religion which is burdened by every follower of Religion. The presence of Christianity as a Missionary religion and Islam as a Da'wah religion opened a space for religious social dialogue, because both were involved in Agamanization. Furthermore, the two characteristics possessed by each religion will certainly ignite the enthusiasm of Christian evangelists and preachers on the part of Islam to compete in assuming the truth of the perspective. The presence of this article will open a space for scientific dialogue to the two communities, in exposing the views and assumptions of Reverend Murtadin Saifudin Ibrahim who has an Islamic background and assumes that he is one of the Islamic leaders who then turned to become a Christian priest. Furthermore this article is not an Interference to Saifudin Ibrahim's new beliefs, but this article is to answer Saifudin Ibrahim's assumptions and views on Islam as the largest religion among religious people in Indonesia. In the end, hopefully this article can answer various obscure views and thoughts, and thoughts that intercept the faith in Islam in Indonesia.
Teori Idea Plato
Haq, Izul
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 5 No. 1 (2020): TUHAN DAN ESKATOLOGI
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jaqfi.v5i1.6859
ABSTRAK Teori Idea Plato adalah sebuah pemikiran filsuf Yunani yang bernama Plato dengan teorinya yang terkenal ini menimbulkan pengaruh yang sangat besar di Dunia filsafat samapai berabad-abad sehingga muncul filsuf islam yang terpengaruh oleh Idea Plato, hal ini terjadi Karena menurut filsuf Islam Idea tidak bertentangan dengan konsep Islam, bahkan ada yang mengatakan Plato adalah seorang Nabi yang menyebarkan pemikiran agama Samawi dengan indikator bahwa idea Plato sama dengan pemikiran nabi-nabi samawi lainya. Konsep islam bisa dikatakan dengan bagaimana seorang muslim beragama islam yang didalamanya terdapat tuhan sebagai yang disembah, pengatur dunia dan Absolut kebenaran mutlak. Dilihat dari Substansinya maka Idea tidak bertentangan dengan konsep islam, idea mengatakan kebenaran mutlak adalah milik satu. Tetapi asumsi-asumsi ini juga banyak yang tidak setuju sepeti Al Ghozali, maka dari itu tulisan ini berusaha mengupas bagaimana Idea Plato ditinjau dari Konsep Islam apakah bertentangan dengan Islam atau malah memiliki konsep yang sama sehingga pendapat oarng yang mengatakan Nabi adalah sebuah kebenarana.
IMPLEMENTASI PRAGMATISME PADA PENDIDIKAN TINGGI VOKASIONAL ABAD XXI
Hambali, Deni Supardi;
Rizal, Ahmad Syamsu;
Nurdin, Encep Syarief
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 5 No. 1 (2020): TUHAN DAN ESKATOLOGI
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jaqfi.v5i1.7325
Bentuk perdagangan bebas di era global ini dampaknya adalah Indonesia harus mempersiapkan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompetensi dan standarisasinya mengikuti kualifikasi dunia. Penerapan teknologi baru dalam industri mengandung konsekuensi peningkatan permintaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi guna mendukung peningkatan  Produktivitas.Perguruan Tinggi Vokasional  sebagai lembaga pendidikan tinggi selepas sekolah tingkat menengah, memiliki peran besar dalam merencanakan dan menciptakan SDM yang profesional dan produktif. Pendidikan di berbagai perguruan tinggi vokasional setingkat akademi maupun politeknik   bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam rangka menyiapkan mereka sebagai tenaga kerja  tingkat midle atau top namun memilki ketrampilan yang memadai disamping memiliki ketrampilan konseptual yang bisa diandalkan  Pendidikan vokasional merupakan jenis pendidikan yang unik karena bertujuan untuk mengembangkan pemahaman, sikap dan kebiasaan kerja yang berguna bagi individu sehingga dapat memenuhi kebutuhan sosial, politik, dan ekonomi sesuai dengan ciri yang dimiliki. Pendidikan dan pelatihan kejuruan merupakan pendekatan pendidikan yang menekankan pada kebutuhan industri sehingga peningkatan dan pengembangan individu dapat dilakukan di industri. Berdasar teori yang ada, pendidikan vokasional berpeluang untuk menjawab berbagai tantangan perubahan yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi yang ditandai oleh revolusi digital dan era disrupsi.Namun kebijakan yang akhir-akhir ini ditetapkan oleh kemendikbud pada dasarnya adalah kebijakan yang mengimplementasikan pemikiran-pemikiran filsafat pragmatisme yakni filsafat yang menggunakan konsekuensi-konsekuensi praktis sebagai standar untuk menentukan nilai dan kebenaran.  Akar dari pemikiran pragmatisme ini selajutnya akan memiliki implikasi dalam menetapkan tujuan pendidikan kedepan seperti: ketrampilan-ketrampilan kejuruan (pekerjaan), kemampuan bertransaksi secara efektif dengan masalah-masalah sosial (mampu memecahkan masalah-masalah social secara secara efektif). Bagi perguruan tinggi yang yang menyelenggarakan pendidikan vokasional, kondisi ini dapat menjadi peluang sekaligus tantangan untuk lebih meningkatkan perannya sebagai penghasil sumberdaya manusia yang mampu menopang kebutuhan pasar dunia industri yang terus menuntut kualitas sumberaya manusia guna mengimbangi perubahan yang ada.
Subjek Politik Egois Max Stirner
Islam, Raja Cahaya
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 5 No. 2 (2020): METAFISIKA DAN LEKSIKON POLITIK
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jaqfi.v5i2.9038
Pembicaraan mengenai subjek politik, berkaitan dengan proyek emansipasi manusia. Pada mulanya manusia dikerangkeng oleh alam, kemudian oleh Tuhan, sampai akhirnya manusia berhasil menemukan esensi manusia yang diyakini merupakan wujud pembebasan atas eksternalitas. Namun, bagi Max Stirner, penemuan esensi manusia justru merupakan sebentuk pembatasan baru yang mengekang manusia. Solusi Stirner atas masalah tersebut ialah, dengan mengajukan konsep tentang sang aku atau subjek politik egois. Dan bertolak dari sanalah, penelitian ini berangkat. Tulisan ini akan membahas tentang Subjek Politik Egois Max Stirner. Metode yang digunakan penulis adalah studi pustaka. Data yang diambil berasal dari buku atau jurnal yang berkaitan dengan penelitian penulis. Adapun hasil atau temuan dari penelitian ini adalah:Â subjek politik egois Max Stirner berangkat dari konsepnya tentang sang aku. Sang aku ini adalah ketiadaan. Lalu dari ketiadaan inilah muncul segala sesuatu. Segala sesuatu yang lahir dari sang aku ini disebut sebagai properti. Properti adalah apapun yang berkaitan dengan penambahasan kuasa serta kesenangan sang aku. Lalu dari sang aku atau subjek politik egois inilah Stirner menegaskan konsepnya tentang kepemilikan. Kepemilikan adalah wujud dari pembebasan diri yang tidak mengandaikan eksternalitas. Terakhir, Stirner mengemukakan konsepnya tentang insureksi. Insureksi berarti sebuah tindakan mengubah sesuatu, namun tidak seperti revolusi yang mengubah tatanan, insureksi berkaitan dengan tindakan mengubah diri.
Imanensi Fasisme dan Kedaulatan: Kritik Giorgio Agamben Atas State of Exception
Abdul Karim, Muhammad Satria
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 5 No. 2 (2020): METAFISIKA DAN LEKSIKON POLITIK
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jaqfi.v5i2.9048
AbstractState of exception is a condition where law is suspended. Giorgio Agamben viewed such conditions as a trojan horse which allow fascism of sovereignty to prevail. Sovereignty itself is politically absolute yet imaginary. The logic of emergency, which is the kernel of sovereignty, has always been operating in modern state. State of exception is the immanence onthology that becomes the requirement of fascism to take place. Such political praxis undelies the fascism of the sovereignty since the sovereign itself act as a hidden absolute power in modern state which prevail in the state of exception. As long as politics and powers rely on the logic of inclusion and exclusion and the power of sovereignty, the power will have always been operated in fascistic ways.Keywords:Sovereignty; fascism; state of exception; post-structuralism; immanence__________________________Â AbstrakKeadaan pengecualian adalah kondisi di mana hukum ditangguhkan. Giorgio Agamben memandang kondisi tersebut sebagai celah yang memungkinkan fasisme dari kedaulatan untuk muncul. Kedaulatan sendiri memiliki kekuatan politik absolut tetapi imanjiner. Logika darurat, yang menjadi inti kedaulatan, sudah selalu beroperasi di dalam negara modern. Keadaan pengecualian adalah ontologi imanen yang menjadi persyaratan fasisme untuk ada. Praktek politik demikian menjadi dasar bagi fasisme dari kedaulatan karena kedaulatan itu sendiri bertindak sebagai kekuasaan absolut tersembunyi di dalam negara modern yang muncul ketika keadaan pengecualian. Selama politik bergantung pada logika eksklusi dan inklusi serta kekuasaan berdaulan, kekuasaan akan sudah selalu dioperasikan dengan cara yang fasis.Kata Kunci:kedaulatan; fasisme; keadaan pengecualian; pasca-strukturalisme; imanensi.
Relasi Tubuh dan Kekuasaan: Kritik Sandra Lee Bartky Terhadap Pemikiran Michel Foucault
Zaidan, Yuris Fahman
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 5 No. 2 (2020): METAFISIKA DAN LEKSIKON POLITIK
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jaqfi.v5i2.9054
AbstractThe body in Foucault's conception is often juxtaposed with the discourse of power. In this context, gestures are regulated by the power of modern institutions such as hospitals, prisons, schools, and other institutions. In Foucault's conception, there is no separation between the body of men and the body of women amid control carried out by the institution. This raises strong criticism from Bartky that it treats different disciplines attached between the bodies of men and women. This criticism from Bartky aims to dispute the concept of the relation of the body and power. According to him, because there are different disciplines on the bodies of men and women, the problem is no longer about the power of institutions but patriarchy. In modern society, according to Bartky patriarchy has changed and practiced through institutions. In this paper, the debate about femininity also formed through consumerism is also outlined as a critique of Bartky's view.Keywords: power; body; patriarchy; consumption. Abstrak Tubuh dalam konsepsi Foucault kerap disandingkan dengan wacana kekuasaan. Dalam konteks ini, gerak tubuh diatur oleh kuasa institusi-institusi modern seperti rumah sakit, penjara, sekolah, dan institusi lainnya. Dalam konsepsi Foucault tidak ada pemisahan antara tubuh laki-laki dan tubuh perempuan di tengah kontrol yang dilakukan oleh institusi. Hal tersebut memunculkan kritik yang keras dari Bartky bahwa memerlakukan secara berbeda disiplin yang dilekatkan antara tubuh laki-laki dan perempuan. Kritik dari Bartky ini bertujuan untuk mempermasalahkan konsep relasi tubuh dan kekuasaan. Menurutnya, karena terdapat disiplin yang berbeda terhadap tubuh laki-laki dan perempuan, maka yang menjadi persoalannya bukan lagi tentang kuasa institusi melainkan patriarki. Dalam masyarakat modern, patriaki menurut Bartky  telah berubah dan dipraktikan lewat institusi. Dalam tulisan ini diuraikan pula perdebatan tentang femininitas yang terbentuk juga lewat konsumerisme sebagai kritik dari pandangan Bartky.Kata Kunci: kuasa; tubuh; patriarki; konsumsi.
Louis Althusser dan Filsafat Sebagai Yang Politis
Romadona, Muhammad Taufiq
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 5 No. 2 (2020): METAFISIKA DAN LEKSIKON POLITIK
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jaqfi.v5i2.9060
AbstractThe relationship between philosophy and the political situation is always there. You could say too often. For Louis Althusser philosophy is not a knowledge that stands in an ivory tower. He (philosophy) will always stand as a participant in every political struggle. Philosophy can be a shield for a governmental power, or it can also be a revolutionary weapon to break down power. Philosophy will always represent classes in society at stake in politics. Therefore according to Althusser, there is no such thing as a neutral philosophy. Keywords; Philosophy, Politics, Science, Ideology, Intervention, Marxism, Domination AbstrakKeterkaitan antara filsafat dan situasi politik selalu ada. Bahkan bisa dibilang terlampau sering. Bagi Louis Althusser filsafat bukanlah suatu pengetahuan yang berdiri di menara gading. Ia (filsafat) akan selalu berdiri sebagai partisipan dalam setiap pergulatan politik.Filsafat bisa menjadi tameng bagi suatu kekuasaan pemerintah, atau bisa juga menjadi senjata revolusioner untuk mendobrak kekuasaan. Filsafat akan selalu mewakili kelas-kelas dalam masyarakat dalam pertaruhannya di dalam politik. Oleh karena itu menurut Althusser tidak ada yang namanya filsafat yang netral.Kata Kunci; Filsafat, Politik, Sains, Ideologi, Intervensi, Marxisme, Dominasi
KONSEP MANUSIA SEMPURNA MENURUT MUHAMMAD TAQÎ MISBÂH YAZDÎ
Anwar, Saeful
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 4 No. 1 (2019)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jaqfi.v4i1.9330
AbstrakIlmu pengetahuan dengan pelbagai metodenya, telah menempatkan manusia pada jurang keterasingan yang dalam nan gelap. Tak hanya itu, ilmu pengetahuan yang mulanya dipahami sebagai ikhtiar bagi pemuliaan hakikat manusia, malah bergerak mendekati tubir-getir krisis kemanusiaaan multi dimensi. Manusia menjadi teralienasi akan dirinya. Berangkat dari kegagalan manusia kontemporer dalam memahami makna eksistensi manusia dalam proses menuju kesempurnaan diri. Faktor paling besar penyebab kesalahan perjalanan manusia saat ini dalam pandangan Misbâh Yazdî karena, ketidakjelasan dan ketiadaan perhatian terhadap hakikat manusia, manusia lupa akan kemengadaannya. Sehingga manusia alpa bahwa ia punya potensi untuk menjadi manusia sempurna.Persoalan fundamental ini telah menyebabkan manusia meninggalkan fitrah yang benar dan terjerumus ke lembah kesesatan. visi manusia hari ini merupakan sesuatu yang tidak alamiah sekaligus menyimpang dari alur penciptaan sang Khaliq. Oleh karena itu, Misbâh Yazdî berusaha memfokuskan diri dalam merenungi secara mendalam sejumlah hasrat-hasrat fitri dan tendensi-tendensi (kecendrungan) alamiah yang berperan penting yang dalam pandangan Misbâh Yazdî bersifat mendasar dan prinsipil dan terdapat pada manusia. Pada terang ini, Misbâh Yazdî mengembangkan suatu skema konseptual yang menarik. Hal itu dapat ditahbiskan dengan usahanya menelusuri hakikat manusia melalui filsafat wûjud kemudian bergerak melalui analisis epistemology. Ziarah menyusuri apa yang direnungkan Misbâh Yazdî, penelitian kualitatif ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif dan heuristika, dengan penelitian ‘studi kepustakaan’ (library reseach), guna melingkupi persoalan: a) Bagaimanakah konsep Manusia Sempurna dalam diskursus Filsafat Islam?; b). Konsep Manusia sempurna seperti apakah yang dimaksud oleh Misbâh Yazdî?. Adapun sumber rujukan dan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah karya Misbâh Yazdî, beserta berbagai sumber lainnya yang dapat mendukung dalam pembahasan. Berbekal pada konsep ontology Mullâ Shadrâ tentang harakah jawhariyyah, Misbâh Yazdî, menyimpulkan kesempurnaan manusia sebagai evolusi dan gerak menyempurna (harakah istikmâliyah). Melalui prinsip hudûrî sebagai induk semua pengetahuan, namun pengetahuan burhânî yang di dasarkan pada silogisme-demonstratif dan pengetahuan hushûlli . Akhirnya, apa yang ditelusuri Misbâh Yazdî, merupakan bagian penting dari perjalanan ikhtiar manusia dalam menggapai kesempurnaannya yakni untuk memahami asal dan tujuan manusia. Melalui ilmu dan iman, dan iman mesti diikuti oleh amal perbuatan. Jika seseorang dapat menyaksikan hakikat kediriannya, maka ia akan menyadari bahwa kediriannya ditopang oleh Illah-nya.
ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN ALI SYARI’ATI TENTANG KONSEP HUMANISME ISLAM
Wildan, Asep
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 4 No. 1 (2019)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jaqfi.v4i1.9331
AbstrakPenelitian ini bertolak dari pemikiran bahwa peradaban saat ini sangatlah kebarat-baratan, dengan kata lain Eropa menjadi acuan, humanisme Eropa menjadi dasar dari peradaban saat ini. Padahal, humanisme Eropa cenderung mengedepankan intelejensi dan kehendak bebas dari manusia yang pada akhirnya mendorong manusia untuk mengeksploitasi alam sedemikian rupa. Dengan kata lain mendorong manusia untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Ali Syari’ati sendiri merupakan seorang tokoh dari Iran yang terkenal dengan gayanya yang khas, memaparkan hampir semua teori humanisme barat berikut kelemahan-kelemahannya, dan menghadapkan semua teori itu dengan pandangan dunia Islam. Yang juga mengajukan Islam sebagai agama yang mampu menjawab seluruh tantangan kehidupan modern. Dalam menghimpun data, baik primer juga sekunder, penulis menggunakan teknik studi kepustakaan serta dokumentasi. Dengan mengumpulkan semua buku dan literatur karya Ali Syari’ati yang telah di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Di kumpulkan juga buku dan literatur mengenai topik dan Ali Syari’ati yang ada relevansinya dengan masalah yang dibahas. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) Humanisme menurut Ali Syari’ati adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa tujuan pokok yang dimilikinya adalah untuk keselamatan dan kesempurnaan manusia. Humanisme memandang manusia sebagai makhluk mulia, dan prinsip-prinsip yang disarankannya didasarkan atas pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok yang bisa membentuk manusia menjadi lebih baik. (2) Menurut Ali Syari’ati, pernyataan humanisme dalam Islam adalah yang paling dalam dan paling maju, mengacu pada kisah kejadian Adam dalam Al-Qur’an. Islam mengajarkan bahwa di hadirat Allah manusia bukanlah makhluk yang rendah, karena ia adalah rekan Allah, teman-Nya, pendukung amanah-Nya di bumi. Manusia menikmati afinitasnya dengan Allah, menerima pelajaran dari-Nya, dan telah menyaksikan betapa semua malaikat Allah jatuh bersujud kepada-Nya.