cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin | Universitas Ialam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Jl. AH Nasution No 105, Cibiru Bandung.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jaqfi : Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam
ISSN : 27149420     EISSN : 2541352X     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Ilmiah JAQFI: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam adalah jurnal yang mempublikasikan hasil-hasil kajian dan penelitian orisinal terbaru dalam ilmu murni Filsafat Islam dan Aqidah (Teologi Islam), serta cakupannya meliputi kajian filsafat kontemporer, pendidikan, sosial, dan keagamaan dari perspektif filsafat maupun aqidah. Tujuan Jurnal berkala ini adalah untuk upaya meningkatkan intensitas kajian Filsafat Islam dan Aqidah, mengupayakan teori baru serta kontekstualisasinya bagi perkembangan intelektualitas.
Arjuna Subject : -
Articles 220 Documents
EPISTEMOLOGI SUFI (Telaah literatur atas definisi Pengobatan cara sufi) Naan, Naan
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v3i1.9552

Abstract

AbstractThe essence of the teachings of the Sufis is with God. The goal is taqarrub ilallah, to get closer to Allah. This close relationship is maintained and arranged in such a way through ritualistic Sufi teachings. The research method used is qualitative. The researcher analyzed the data on the Sufism texts. The results of data processing state that in Sufism, all activities of human life are worship. Worship is not enough with prayer and fasting, but it is perfected with morals. Worship which is accompanied by morals directs salik to perfection, where the physical and mental dimensions are in unity. This unity of identity is what is healthy in Sufism. Healthy in Sufism means physical, mental and spiritual health.
PENDEKATAN TASAWWUF-FALSAFI DALAM MENAFSIRKAN AL-QURAN (Kajian Mafâtih al-Ghaib dan Tafsîr Alqur’ân al-Karim Karya Shadr al-Dîn al-Syirâzi) Solehudin, Solehudin
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v3i1.9554

Abstract

Ini merupakan telaah penggunaan metode tasawuf falsafi dalam menafsirkan Al-Quran sebagaimana dilakukan oleh Mulla Shadra. Tafsir esoterik filosofis Shadra dikategorikan dalam dua kategori: tafsir mengenai surat, dan tafsir atas ayat. Kombinasi ini berdiri sendiri sebagai sebuah sistem yang menunjang pola pikir tasawuf falsafi. Dalam penelitian ini penulis menemukan bahwa dasar falsafi dalam tafsir Mulla Shadra sangat kental, namun menariknya konklusi atau hasil tafsir itu berkesinambungan dengan apa yang kelak dia postulatkan sebagai trans substansial, dalam batas-batas tertentu.
KONSEP NAMA-NAMA INDAH ALLAH MENURUT AL-GHAZALI (Sebuah tinjauan semiotik) Sujatna, Sakim
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v3i1.9556

Abstract

AbstrakPenelitian ini membahas konsep nama-nama menurut pemikiran Al-Ghazali ditinjau dari sisi ilmu semiotika yang terkait dengan nama-nama Allah. Peneliti di sini akan mencoba mendalami jauh ke dalam pemikiran Al-Ghazali tentang konsep nama-nama ini. Adapun penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dalam bentuk library research. Al-Ghazali melihat fenomena ini dari berbagai macam golongan yang telah menceburkan diri ke dalam pergulatan pemikiran tentang konsep nama-nama dengan aneka ragam paham-pahamnya. Di sini, Al-Ghazali melakukan tanggapan berupa kritikan terhadap golongan-golongan tersebut, dengan cara menguraikankan terlebih dahulu pandangan-pandangan mereka dengan rinci. Dan Al-Ghazali sendiri pun memberikan pandangannya terhadap konsep nama-nama ini setelah ia memberikan komentarnya terhadap golongan-golongan yang telah terlebih dahulu menceburkan diri ke dalam masalah tentang nama-nama ini.
ILMU MENURUT NURCHOLISH MADJID DALAM PRESPEKTIF POSTMODERNISME JEAN FRANCOIS LYOTARD Amiruddin, Muhammad
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 3 No. 2 (2018)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v3i2.9565

Abstract

AbstractIt is a necessity that life is always developing and among its supports is science. That way, whether or not a civilization is good or not, it can be assessed how society views science and treats it. Today our world is entering what thinkers call postmodern, a century very different from before, so it cannot be denied or has influenced the rules of the game in various fields. Jean Francois Lyotard is one of the thinkers who talk about postmodern, especially his analysis of the field of science which has been organized differently by society today. Initially, science existed only as something to help human life, but in postmodern science it is now found that science is a tool of power with all interests and oppresses humanity; totalitarian and domination. That fact then, Lyotard attempted to transmit the concept to disrupt established science, by celebrating diversity. Islam really appreciates science, there is even a tendency that law is compulsory for Muslims. One of the Indonesian Islamic thinkers who in several of his writings discusses science is Nurcholish Madjid. Efforts to find out how Islam views science, feel the need to research it. Based on Lyotard's postmodern analysis tools, it is found that Islam can be a driving force for postmodern science or scientific performance.
KONSEP POLITIK ISLAM MENURUT FAZLUR RAHMAN Permana, Riky Yudha
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 3 No. 2 (2018)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v3i2.9566

Abstract

AbstrakIslam hadir sebagai agama yang membincangkan banyak hal, salah satu di antara pokok pembicaraan yang penting ialah politik. Meskipun Islam bicara politik, namun Islam sendiri tidak secara eksplisit menyebutkan bentuk sistem politik yang ideal. Dalam konteks ini, wacana tentang rumusan politik yang ideal menjadi urgensi tersendiri di dalam tubuh umat Islam itu sendiri, terkhusus di hadapan peradaban Barat yang, bisa dibilang, telah menggempur umat Islam dengan kebudayaannya (karena dunia Islam itu sendiri sedang mengalami keterpurukan). Di tengah kondisi itulah Fazlur Rahman hadir sebagai pemikir Islam yang mencoba menghadirkan konsep politik Islam yang “ideal”. Penelitian ini akan berkisar di tema berkenaan dengan Konsep Politik Islam Menurut Fazlur Rahman. Penelitian ini didasarkan pada metode analitis-deskriptif yang didasarkan pada penelitian pustaka. Adapun hasil penelitian ini adalah: pertama, bahwa Islam tidak menyebutkan secara eksplisit sistem politik Islam yang ideal. Kedua, Fazlur Rahman sendiri dalam lanskap tipologi politik masuk ke dalam tipologi moderat. Meskipun ia menolak formasi negara Islam, ia masih menegaskan bahwa asas-asas Islam substantif mesti diterapkan dalam sistem negara. Ketiga, Fazlur Rahman menegaskan bahwa negara mesti didasarkan pada pola syura, yang terdiri dari dewan legislatif dan eksekutif.
PROSES PENCIPTAAN ALAM DALAM TEORI EMANASI IBNU SINA Aini, Nurul
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 3 No. 2 (2018)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v3i2.9567

Abstract

AbstrakProses penciptaan alam semesta merukan misteri bagi manusia. Beragam teori telah dicoba dihadirkan untuk menjawab persoalan itu. Namun penjelasan-penjelasan yang ada oleh sains, telah mengabaikan dimensi non-material dalam penjelasannya. Dalam hal inilah para filsuf Muslim, terkhusus Ibnu Sina, telah berhasil membuat penjelasan dua dimensi itu (material dan non-material). Berdasarkan hal itulah penulis merumuskan penelitian tentang Proses Penciptaan Alam Dalam Teori Emanasi Ibnu Sina. Penelitian ini didasarkan pada metode analitis-deskriptif yang didasarkan pada penelitian pustaka. Adapun hasil penelitian ini adalah: Pertama, teori emanasi Ibnu Sina adalah dari ta’aqqul Tuhan terhadap dirinya memancarkan akal Pertama, dari akal Pertama memancar akal kedua dan langit pertama  begitu selanjutnya sampai akal kesepuluh dan bumi. Kedua, dari akal kesepuluh inilah memancar kembali yang menghasilkan empat unsur yaitu: Api, air, tanah dan udara. Ketiga, konsep wajib al wujud menjadi bukti adanya Tuhan dan mungkin al-wujud bi zatihi atau wajib al-wujud bi ghairihi adalah menjadi bukti adanya alam jagad raya.
PENGARUH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI TERHADAP REMAJA ISLAM (Studi Kasus di Kampung Citeureup Desa Sukapada) Radiansyah, Dian
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 3 No. 2 (2018)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v3i2.9568

Abstract

AbstrakTeknologi membawa dampak luas bagi kehidupan pada tingkat praktis. Pada tingkat teoritis teknologi mempengaruhi pola berpikir—yang pada giliranya juga berdampak pada tindakan. Perubahan yang dibawa oleh teknologi tidak hanya mempengaruhi kehidupan di pusat kota, meliankan juga masuk ke pedesaan. Di satu sisi teknologi membawa pemerataan informasi—dalam bentuk demokratisasi data dan informasi—di sisi lain ia mempengaruhi bukan saja pola interaksi manusia, melainkan kesadaran beragama. Dalam Islam, sumber informasi disediakan oleh otoritas dengan kualifikasi khusus. Sementara teknologi membuat otoritas jadi transparan. Fenomena keagamaan yang muncul ke permukaan beragam sesuai dengan tingkat paparan teknologi yang terjadi di lingkungan tersebut. Inilah yang menjadi landasan utama penelitian mengenai dampak teknologi pada sikap beragama, khususnya pada studi kasus di remaja Islam kampung Citereup desa Sukapada. Penulis menemukan sejumlah temuan menarik yang mengindikasikan adanya pergeseran pemahaman berkenaan dengan aspek fundamental dalam Islam yang sebelumnya berpusat pada otoritas ke arah tekno-teologis dalam bentuk dan ekses-eksesnya yang baru.
MAKNA TEOLOGI DALAM NOVEL TUHAN MAHA ASYIK SUDJIWO TEDJO DAN DR. MN. KAMBA Firdaus, Rahmat
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 3 No. 2 (2018)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v3i2.9570

Abstract

AbstractGod, with its various mysteries, has given man the element that the search for Him for a search which - apart from being a continuous and unending activity - also gives pleasure. That is why God is most fun: either as an object of study, or as the goal of the entire axis of human activity. The author's understanding of God is very interesting to know, because this book of God is Most Fun is very different from other Theology books. The thinking method used is hermeneutics. The results of research on the novel Tuhan Maha Asik written by Sudjiwo Tedjo and DR. M N. Kamba, shows a direction in unique stories, starting from the discussion of wayang, marhain, worms, self and so on, which is presented with analogies in the style of children. The theological meaning contained in this book is theology of authentic self. Where we can know God through each human being, the self that is meant here is a natural self, not a self that has been entered by concepts formed from society or from outside.
METAFISIKA AL-KINDI DALAM FÎ AL-FALSAFAH AL-ÛLA (FILSAFAT PERTAMA) Furqon, Syihabul; Hannah, Neng
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 5 No. 2 (2020): METAFISIKA DAN LEKSIKON POLITIK
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v5i2.9711

Abstract

Metafisika adalah salah satu cabang filsafat mengenai segala sesuatu yang bersifat prinsipil. Bahkan dia adalah cabang filsafat yang menggambarkan inti dari penelusuran filsafat mengenai segala sesuatu. Metafisika berurusan dengan segala sesuatu sebagaimana adanya, namun dengan relasinya atas level realitas. Sebab manifestasi atau realitas segala sesuatu itu ditentukan oleh seberapa universalkah dia. Dalam pemikiran salah satu filsuf pertama Islam, Al-Kindi, filsafat pertama tidak hanya sekadar berurusan dengan level manifestasi, melainkan juga dengan doktrin Islam. Tepat di sinilah aspek penting dan signifikansi metafisika Al-Kindi patut ditinjau ulang sebagai salah satu pendekatan atas doktrin namun melalui jalur nalar. Melalui teks primernya, kami menemukan anasir bahwa tidak ada pertentangan antara doktrin dan nalar—sebagaimana tidak ada perselisihan antara filsafat dan doktrin Islam. Terutama mengenai inti kredo dalam Islam: tauhid (pengesaan).
Pendidikan Multikulturalisme Gus Dur Burhani, Yaser; Jinan, Giswah Yasminul; Saepulloh, M. Iman; Islam, Raja Cahaya
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 5 No. 2 (2020): METAFISIKA DAN LEKSIKON POLITIK
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v5i2.10464

Abstract

AbstrakIndonesia merupakan negara yang memiliki beragam identitas, mulai dari etnis, adat, agama dan kebudayaan. Keberagaman itu sendiri bisa dianggap sebagai suatu kekayaan, namun tak jarang malah jadi petaka, karena bisa menimbulkan konflik. Pencegahan dan penyelesaian atas konflik itu bisa diupayakan, salah satunya melalui pendidikan. Pendidikan pun mesti dicari bentuknya agar sesuai dengan kenyataan plural masyarakat Indonesia. Pada titik inilah Gus Dur hadir sebagai figur yang mengusung pendidikan multikultural. Penelitian ini akan fokus pada pembahasan pendidikan multikulturalisme Gus Dur. Adapun metode yang digunakan adalah studi pustaka, yang mana data diambil dari suber-sumber yang relevan. Hasil penelitian ini adalah: pertama, pendidikan multikultural ala Gus Dur, menekankan keragaman budaya sebagai latar dari pendidikan; kedua, pendidikan multikultural didasarkan pada keterbukaan yang dialogis, menimbang keberagaman latar peserta didik; ketiga, pendidikan multikultural adalah jenis pendidikan yang didasarkan pada keadilan, yang mana berbasiskan HAM dan nilai-nilai demokratis, dengan demikian tiap latar belakang yang beragam akan dipandang secara “sama” di dalam ruang demokratis.