cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
E-Jurnal Medika Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23031395     EISSN : 25978012     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana menerima naskah dari mahasiswa PSPD FK UNUD, baik berupa karangan asli atau laporan penelitian, ikhtisar pustaka, laporan kasus, maupun surat-surat untuk redaksi. Naskah yang dikirimkan untuk majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana adalah naskah belum pernah atau tidak akan dikirim ke majalah lain. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia
Arjuna Subject : -
Articles 1,956 Documents
PROFIL GANGGUAN KUALITAS HIDUP AKIBAT AKNE VULGARIS PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA TAHUN 2015 Mayahati Nazaya
E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 8 (2018): Vol 7 No 8 (2018): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.005 KB)

Abstract

1Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
PROFIL DERMATITIS KONTAK AKIBAT KERJA PADA KARYAWAN PENCUCIAN MOBIL DAN SEPEDA MOTOR DI KOTA DENPASAR SELATAN PADA TAHUN 2016. Putu Yonika Budiarisma; Nyoman Suryawati
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 3 (2019): Vol 8 No 3 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.238 KB)

Abstract

Dermatitis Kontak Akibat Kerja (DKAK) adalah salah satu dermatitis kontak yang terjadi pada pekerja, salah satunya pada karyawan pencucian mobil dan sepeda motor. Kondisi DKAK dapat menurunkan produktivitas karyawan dan mempengaruhi kualitas hidup pekerja. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil DKAK pada karyawan pencucian mobil dan sepeda motor, dimana data DKAK pada karyawan pencucian mobil dan sepeda motor di Denpasar belum diketahui. Penelitian dilakukan selama 9 bulan dengan metode deskriptif dan pendekatan cross sectional study, dengan jumlah sampel 47 orang yang didapatkan dengan teknik convenient purposive sampling. Seluruh sample kemudian diwawancara dengan menggunakan kuisioner. Hasil penelitian didapatkan kejadian tersering DKAK pada rentang usia 21-30 tahun (57%). Terbanyak pada laki-laki (100%). Gejala dan tanda DKAK tersering kulit mengelupas (60%), dengan bagian tubuh dominan terkena adalah bagian telapak tangan (66%). Keseluruhan responden (100%) mengalami kontak dengan bahan kimia selama proses kerja dengan lama kontak >6 jam/hari (62%), serta frekuensi >10 jam/hari (77%). Responden DKAK yang memiliki riwayat atopi sebanyak 26% sedangkan riwayat atopi keluarga (17%). Detergent adalah bahan kimia yang terbanyak digunakan (89%). Lama waktu bekerja 0-2 tahun (87%). Sebanyak 30% responden sebelumnya memiliki riwayat pekerjaan sebelumnya yang berhubungan dengan bahan kimia dan 22% responden memiliki riwayat penyakit kulit sebelumnya. Angka DKAK yang tinggi menunjukkan masih kurangnya pemahaman mengenai DKAK dan pentingnya penggunaan Alat Perlindungan Diri (APD) ketika melakukan pekerjaan. Selain itu, penelitian selanjutnya disarankan menggunakan ruang lingkup yang lebih luas dan juga sampel yang lebih banyak. Kata kunci: Profil, Dermatitis Kontak Akibat Kerja, Karyawan, Pencucian Mobil, Sepeda Motor
UBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN FREKUENSI KEKAMBUHAN PASIEN SKIZOFRENIA DI POLIKLINIK JIWA RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH Fransisca Emerald Christy; I Wayan Westa
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 9 (2019): Vol 8 No 9 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.758 KB)

Abstract

Skizofrenia menjadi salah satu penyebab disabilitas ketujuh tertinggi di dunia. Tanpa dukungankeluarga yang baik orang dengan skizofrenia semakin sulit mencapai kesembuhan. Penelitian inidilakukan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan frekuensi kekambuhan pasienskizofrenia di poliklinik jiwa Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah. Penelitian ini merupakanpenelitian analitik dengan teknik penentuan sampel menggunakan tabel power analysis. Denganmenggunakan analisis bivariat berupa formula korelasi Spearman didapatkan nilai p = 0,040.Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan frekuensikekambuhan pasien skizofrenia di poliklinik jiwa Rumah Sakit Umum Sanglah. Hasil daripenelitian ini diharapan dapat digunakan sebagai dasar penelitian lebih lanjut di kemudian hari. Kata kunci: dukungan keluarga, kekambuhan, skizofrenia
DIAGNOSIS AND TREATMENT OF URETHRAL STRICTURE A.A. Ngr. Agung Wistara Widya; A.A. Gde Oka; Ketut Siki Kawiyana; Sri Maliawan
E-Jurnal Medika Udayana vol 2 no3 (2013):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.983 KB)

Abstract

Retention of urine is the lower urinary tract obstruction caused by the inability of squirting urine, so that the urine collected in the bladder exceeds the maximum limit. One reason is due to narrowing of the lumen of the urethra, called urethral stricture. The diagnosis of urethral stricture can we enforce by way of history, physical examination, and investigation. Curative treatment of this disease is surgery, but not as rare as some surgical techniques can lead to high disease recurrence for patients.. Thus the proper and adequate treatment is necessary to avoid the risk of recurrence of urethral stricture disease.
PERBANDINGAN DAYA TAHAN KARDIORESPIRASI MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA ANGKATAN 2013 DENGAN MAHASISWA D1 BEA CUKAI SEKOLAH TINGGI AKUTANSI NEGARA DENPASAR ANGKATAN 2013 Putu Asti Wulandari; Susy Purnawati
E-Jurnal Medika Udayana vol 3 no 5 (2014):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.558 KB)

Abstract

Daya tahan kardiorespirasi dapat ditingkatkan dengan latihan dan bergantung padafrekuensi, intensitas,durasi serta waktu latihan. Mahasiswa Program Studi PendidikanDokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (PSPD FK UNUD) angkatan 2013memiliki pola latihan fisik yang berbeda dengan mahasiswa D1 Bea Cukai SekolahTinggi Akutansi Negara (STAN) Denpasar Angkatan 2013 kemungkinanmempengaruhi tingkat daya tahan kardiorespirasi. Penelitian cross sectional dilakukanuntuk mengetahui gambaran latihan fisik dan perbedaan daya tahan pada keduakelompok tersebut dengan pengambilan sampel secara konsekutif. Daya tahankardiorespirasi diukur dengan Cooper tes lari 2.4km. Ditemukan perbedaan signifikanantara daya tahan kardiorespirasi mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FakultasKedokteran Universitas Udayana Angkatan 2013 dengan mahasiswa D1 Bea CukaiSTAN Denpasar Angkatan 2013. Daya tahan kardiorespirasi mahasiswa PSPD FKUNUD Angkatan 2013 lebih rendah dibandingkan daya tahan kardiorespirasimahasiswa D1 Bea Cukai STAN Denpasar Angkatan 2013.
KISTA DUKTUS TIROGLOSUS Ezra Aditya Susanto; dr. Sang Nyoman Suaryana, Sp.B
E-Jurnal Medika Udayana vol 2 no 10 (2013):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.074 KB)

Abstract

Thyroglosal duct cyst is a cyst that had formed from duct thyroglosal who settled along the groove decreased thyroid gland, from the foramen caecum to the superior portion of the thyroid gland in the front of the trachea. There are two theories that can cause cystic duct thyroglosal recurrent throat infection which will stimulate the rest of that tract epithelial degeneration and cystic duct obstruction thyroglosal will result in accumulation of secretions that form cysts. Another theory given thyroglosal duct located between several lymph nodes in the neck, if it happens often inflammation, the ductal epithelium also inflamed, forming a cyst. Diagnosis can usually be made from the history and physical examination of the neck as a whole. Always palpation of the thyroid gland during a physical examination. If the gland can not be felt, ultrasound, thyroid scan or CT scan can help. Initial management, if there is an infection, overcome the infection with antibiotics first and then warm compresses. After the infection is resolved, the next step is the treatment of cystic duct which Sistrunk procedure is more commonly used. Thyroglosal duct cyst had a good prognosis, the recurrence rate about 5% by Sistrunk procedure.
GAMBARAN DESKRIPTIF POLA PENATALAKSANAAN HIPERTENSI DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BULELENG TAHUN 2013 Putu Yunita Primasari; I Gusti Ayu Artini
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 1 (2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.933 KB)

Abstract

Hipertensi saat ini masih menjadi masalah utama di dunia. Pencapaian target tekanan darah, pengontrolan faktor risiko kardiovaskular serta pengobatan penyakit komorbid harus dilakukan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penatalaksanaan hipertensi di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Buleleng pada tahun 2013. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Subyek penelitian ini adalah semua pasien hipertensi yang memiliki data rekam medis pada bulan Oktober-Desember 2013 di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Buleleng yang telah dipilih dengan menggunakan metode consecutive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 45 sampel penelitian, sebanyak 77,8% subyek menerima terapi kombinasi dan 22,2% subyek menerima terapi tunggal. Berdasarkan atas tingkat keparahan hipertensi, baik hipertensi tingkat I maupun hipertensi tingkat II lebih banyak menerima terapi kombinasi. Sebanyak 11,1% subyek dengan penyakit penyerta menerima terapi kombinasi. Dapat disimpulkan bahwa pola penggunaan obat antihipertensi di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Buleleng pada tahun 2013 terbanyak dalam bentuk terapi kombinasi.
KARAKTERISTIK PENDERITA HIPERTENSI YANG DIRAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH TAHUN 2013 I Gede Restu Mahendra Sugiarta; Bagus Komang Satriyasa
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 11(2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit yang sering disebut sebagai the silent killer karena pada awalnya tidak menunjukkan gejala. Berdasarkan Survei Pendahuluan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah tahun 2014, tercatat 44 pasien menderita hipertensi di ruang Instalasi Rawat Inap (IRNA) B, C, dan D RSUP Sanglah pada tahun 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita hipertensi yang meliputi proporsi penderita hipertensi (berdasarkan umur, jenis kelamin, keluhan utama, derajat hipertensi, komplikasi, dan keadaan keluar) dan lama rawatan rerata penderita hipertensi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode studi survei observasional. Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi Rekam Medis RSUP Sanglah pada bulan April 2014 hingga bulan Juli 2014 dengan data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari catatan rekam medis pasien di RSUP Sanglah. Sampel penelitian berjumlah 44 orang dari bagian IRNA B, C, dan D di RSUP Sanglah dengan menggunakan time-series data serta dari total sampling pada survei pendahuluan di RSUP Sanglah tahun 2014. Distribusi proporsi penderita hipertensi tertinggi terdapat pada umur 45 s/d 64 tahun (63,6%), berdasarkan jenis kelamin terdapat pada lelaki (56,8%), berdasarkan keluhan utama terdapat pada sakit kepala (34,1%), berdasarkan derajat hipertensi terdapat pada Hipertensi Stadium 3 (63,6%), berdasarkan status komplikasi terdapat pada Tanpa Komplikasi (52,3%), serta berdasarkan keadaan keluar terdapat pada Membaik (100%). Lama rawatan rerata penderita hipertensi adalah 7,52 hari.        
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA KELOMPOK LANJUT USIA DI WILAYAH KERJA UPT PUSKESMAS PETANG I KABUPATEN BADUNG TAHUN 2016 Muhammad Hafiz Bin Mohd Arifin; I Wayan Weta
E-Jurnal Medika Udayana Vol 5 No 7 (2016): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.767 KB)

Abstract

Hipertensi merupakan manifestasi gangguan keseimbangan hemodinamik sistem kardiovaskular yang mana patofisiologinya tidak bisa diterangkan dengan hanya satu mekanisme tunggal. Semua definisi hipertensi adalah angka kesepakatan berdasarkan bukti klinis (evidence based) atau berdasarkan konsensus atau berdasar epidemiologi studi meta analisis. Bila tekanan darah diatas batas normal, maka dikatakan sebagai hipertensi. Hipertensi dapat diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya, yakni hipertensi primer/essensial dan hipertensi sekunder, dan berdasarkan derajat penyakitnya. Angka insiden hipertensi sangat tinggi terutama pada populasi lanjut usia, usia di atas 60 tahun, dengan prevalensi mencapai 60% sampai 80% dari populasi lansia. Di Indonesia, pada usia 25-44 tahun prevalensi hipertensi sebesar 29%, pada usia 45-64 tahun sebesar 51% dan pada usia >65 tahun sebesar 65%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada lansia di wilayah kerja UPT Puskesmas Petang I, Kabupaten Badung tahun 2016. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain cross-sectional study dan menggunakan pendekatan retrospektif. Sampel yang digunakan berjumlah 112 orang yang diambil secara konsekutif pada posyandu lansia yang di tujuh banjar di desa Petang, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung Hasil Penelitian dengan uji chi-square dan Fisher Exact Test menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara genetik (p = 0,019; RP = 1,417; IK 95% 1,069 sampai 1,877), olah raga (p = 0,017; RP = 1,424; IK 95% 1,069 sampai 1,895), dan tingkat stress (p < 0,0001; RP = 2,043; IK 95% 1,184 sampai 2,141) dengan kejadian hipertensi. Sedangkan jenis kelamin, obesitas, merokok, dan konsumsi alkohol tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan kejadian hipertensi.Prevalensi hipertensi pada kelompok lansia cukup tinggi yakni 69% dan terdapat hubungan yang bermakna antara genetik, olah raga, dan tingkat stress dengan kejadian ISPA pada lansia. Rekomendasi dalam upaya penurunan angka kejadian hipertensi berupa peningkatan sikap dan pengetahuan masyarakat tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya suatu penyakit khususnya hipertensi dengan cara penyuluhan kesehatan.
PENYEBAB KEMATIAN MENDADAK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PERIODE JANUARI 2009 – DESEMBER 2013 Gusti Agung Ayu Lyska Permatadewi; Kunthi Yulianti
E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 1 (2017): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.091 KB)

Abstract

Pendahuluan: Kematian mendadak didefinisikan oleh WHO sebagai kematian yang terjadi dalam 24jam dari munculnya onset gejala penyakit. Kasus kematian mendadak paling banyak terjadi disebabkan oleh penyakit jantung. Puncak terjadinya kematian mendadak pada dewasa yaitu usia 45 – 75 tahun. Metode: Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah deskriptif retrospektif dengan mempergunakan data sekunder Laporan Pemeriksaan Jenazah di Instalansi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah Denpasar sejak Januari 2009-Desember 2013. Teknik pengumpulan sampel yang digunakan adalah consecutive sampling dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil: Dari 16 sampel yang didapat, penyebab kematian mendadak tertinggi yaitu penyakit jantung iskemik (37,5%). Menurut karakteristik sampel, jumlah jenazah laki-laki yang meninggal mendadak jauh lebih banyak dari pada wanita yaitu laki-laki (93,8) dan wanita (6,3%). Jika berdasarkan penyebaran usia, kelompok usia antara 51-60 tahun menempati posisi pertama dalam kasus kematian mendadak (50%). Berdasarkan kewarganegaraan, wisatawan asal Australia menempai urutan tertinggi untuk kasus ini (43,8%) sedangkan warga negara Indonesia menempati urutan kedua (18,8%). Simpulan: disimpulkan penyebab kematian mendadak tertinggi berasal dari penyakit jantung. Namun dari hasil temuan tidak seluruh kasus kematian mendadak murni karena penyakit kardiovaskular. Pada beberapa kasus ditemukan faktor pencetus. Oleh karena itu, anamnesis menyeluruh serta pencatatan data yang lengkap sangat penting untuk menggali faktor-faktor tersebut.

Page 37 of 196 | Total Record : 1956


Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13 No 07 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 9 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 8 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 6 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 5 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 4 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 3 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 2 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 1 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 12 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 11 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 10 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 9 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 8 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 7 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 6 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 5 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 4 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 3 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 2 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 1 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): Vol 11 No 06(2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 12 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 11 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 10 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 9 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 8 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 7 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 5 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 4 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 3 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 2 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 1 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 12 (2021): Vol 10 No 12(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 11 (2021): Vol 10 No 11(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 10 (2021): Vol 10 No 10(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 9 (2021): Vol 10 No 09(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 8 (2021): Vol 10 No 08(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 7 (2021): Vol 10 No 07(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 6 (2021): Vol 10 No 06(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 5 (2021): Vol 10 No 05(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 4 (2021): Vol 10 No 04(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 3 (2021): Vol 10 No 03(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 2 (2021): Vol 10 No 02(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 01(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 12 (2020): Vol 9 No 12(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 11 (2020): Vol 9 No 11(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 10 (2020): Vol 9 No 10(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 9 (2020): Vol 9 No 09(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 8 (2020): Vol 9 No 08(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 7 (2020): Vol 9 No 07(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 6 (2020): Vol 9 No 06(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 5 (2020): Vol 9 No 05(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 4 (2020): Vol 9 No 04(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 3 (2020): Vol 9 No 03(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 2 (2020): Vol 9 No 02(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 1 (2020): Vol 9 No 01(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 12 (2019): Vol 8 No 12 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 11 (2019): Vol 8 No 11 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 10 (2019): Vol 8 No 10 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 9 (2019): Vol 8 No 9 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 8 (2019): Vol 8 No 8 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 7 (2019): Vol 8 No 7 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 6 (2019): Vol 8 No 6 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 3 (2019): Vol 8 No 3 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 2 (2019): Vol 8 No 2 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 12 (2018): Vol 7 No 12 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 11 (2018): vol 7 no11 2018 E-jurnal medika udayana Vol 7 No 10 (2018): Vol 7 No 10 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 9 (2018): Vol 7 No 9 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 8 (2018): Vol 7 No 8 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 7 (2018): Vol 7 No 7 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 6 (2018): Vol 7 No 6 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 5 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 4 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 3 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 2 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 1 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 12 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 11 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 10 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 9 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 8 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 7 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 6 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 5 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 4 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 3 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 2 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 1 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 12 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 11 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 10 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 9 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 8 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 7 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 6 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 5 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 4 (2016): E-jurnal medika udayana vol 5 no 3(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 2(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 1(2016):e-jurnal medika udayana vol 4 no 12(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 11(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 10(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 9(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 8(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 7(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 6(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 5(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 4(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 3 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 2 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 1 (2015):e-jurnal medika udayana vol 3 no 12(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 11(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 10(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 9 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 8 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 7 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 6 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 5 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 4 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 3 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 2 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 1 (2014):e-jurnal medika udayana vol 2 no 12 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 11 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 10 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 9 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 8 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 7 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no6(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no5(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no4 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no3 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no2 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no1 (2013):e-jurnal medika udayana Vol 1 No 1 (2012): e-jurnal Medika Udayana More Issue