cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
E-Jurnal Medika Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23031395     EISSN : 25978012     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana menerima naskah dari mahasiswa PSPD FK UNUD, baik berupa karangan asli atau laporan penelitian, ikhtisar pustaka, laporan kasus, maupun surat-surat untuk redaksi. Naskah yang dikirimkan untuk majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana adalah naskah belum pernah atau tidak akan dikirim ke majalah lain. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia
Arjuna Subject : -
Articles 1,956 Documents
PEMBERIAN SARAPAN MEMPERCEPAT WAKTU REAKSI PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA A.A.Ngurah Wisnu Nayaka Putra; I Made Muliarta
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 11(2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.625 KB)

Abstract

PROVIDING BREAKFAST TO ACCELERATE REACTION TIME OF STUDENTS IN MEDICAL FACULTY UDAYANA UNIVERSITY The busyness owned by the students at this era often makes them forget for breakfast so that decreased the energy intake that causes their rapid fatigue and difficulty concentrating. Test psychomotor reaction time provides a description of the fatigue that occurs in students. This study aims to investigate the influence of breakfast for reaction time of students in Medical Faculty Udayana University. Has carried out the research with treatment by subject design in students of medical faculty udayana university class of 2012. This study used 33 subjects, 17 men and 16 women. The study was conducted first by measuring the students reaction time after lecture without breakfast intervention, then remeasurement the students reaction time after lecture with breakfast intervention. The results showed a significant difference between the reaction time 790.24 ms before intervention, with the reaction time of 590.67 ms after intervention (p = 0.000). The results showed  that breakfast accelerate reaction time.
KARAKTERISTIK PENYAKIT JANTUNG BAWAAN ASIANOTIK TIPE ISOLATED DAN MANIFESTASI KLINIS DINI PADA PASIEN ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH Karmelia Kumala; Ni Putu Veny Kartika Yantie; I Nyoman Budi Hartawan
E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 10 (2018): Vol 7 No 10 (2018): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.684 KB)

Abstract

Abnormalitas struktur dan fungsi jantung yang sudah didapatkan sejak bayi lahir, disebabkan kegagalan pembentukan struktur jantung pada masa awal pembentukanjanin di dalam kandungan merupakan definisi penyakit jantung bawaan (PJB). Manifestasinya beragam dari ringan sampai berat. Penyakit jantung bawaan dapat terjadi karena dua faktor, faktor genetik dan faktor lingkungan. PJB secara garis besar dibagi dua, yaitu asianotik dan sianotik. PJB asianotik tipe isolated yang paling sering ditemukan merupakan defek septum atrium (DSA), defek septum ventrikel (DSV), dan duktus arteriosus paten (DAP). Asia memiliki prevalens penyakit jantung bawaan asianotik tertinggi dibandingkan benua lainnya, yaitu 9,3/1.000 kelahiran hidup. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross-sectional dengan metode consecutive sampling pada pasien dalam rentang waktu November 2016 sampai dengan April 2017. Penelitian ini bertujuan untuk mencari karakteristik dan manifestasi klinis dini penyakit jantung bawaan asianotik tipe isolated DSV, DSA, dan DAP pada pasien anak di RSUP Sanglah. Karakteristik PJB asianotik tipe isolated pada pasien anak di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah yaitu DSV sebanyak 22 anak (51,2%), DAP sebanyak 15 anak (34,9%), dan DSA sebanyak 6 anak (14%). Manifestasi klinis yang ditemukan pada pasien anak dengan penyakit jantung bawaan asianotik di RSUP Sanglah yaitu sesak, sulit minum, batuk, kebiruan, berkeringat, dan lain-lain. Kata kunci: Penyakit Jantung Bawaan Asianotik, DSA, DSV, DAP, Anak
KARAKTERISTIK PASIEN OTITIS MEDIA AKUT DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PERIODE JANUARI – DESEMBER TAHUN 2014 I Wayan Pradnyana Mahardika; I Made Sudipta; Sari Wulan Dwi Sutanegara
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.065 KB)

Abstract

Otitis Media Akut (OMA) merupakan penyakit infeksi telinga bagian tengah yang sering dijumpai terutama pada anak-anak. Anak-anak lebih rentan terhadap OMA dikarenakan anatomi dan sistem kekebalan anak berbeda dengan orang dewasa, anak-anak yang terkena terutama pada usia 2 tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik penderita OMA yang berobat ke Instalasi Rawat Jalan SMF THT Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar pada tahun 2014. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data dari rekam medis penderita OMA yang datang ke RSUP Sanglah Denpasar. Karakteristik seperti umur, jenis kelamin, gejala klinis, sisi telinga yang terkena OMA, dan riwayat ISPA akan dicatat. Kemudian data diproses dengan menggunakan Statistical Product and Service Solution (SPSS). Data sejumlah 77 sampel telah dikumpulkan. Distribusi proporsi tertinggi adalah pada usia < 2 tahun (38,9%), laki-laki (59,7%), nyeri telinga (84,4%), unilateral (54,5%), dan ada riwayat ISPA (81,8%). Insidensi terjadinya OMA cukup sering di masyarakat terutama pada golongan anak-anak. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan konsultansi awal kepada dokter jika terdeteksi gejala klinis OMA. Penelitian yang lebih lanjut diperlukan untuk menentukan faktor risiko terjadinya OMA, yang berguna untuk tindakan pencegahan. Kata kunci: Otitis media akut, Infeksi, ISPA, Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar
HUBUNGAN STRES DENGAN KEJADIAN ACNE VULGARIS PADA SISWA KELAS III DI SMAN 1 GIANYAR I Dewa Ayu Ari Ritmawati; Anak Agung Sagung Sawitri; Komang Ayu Kartika Sari
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 10 (2019): Vol 8 No 10 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.98 KB)

Abstract

ABSTRAK Acne vulgaris merupakan penyakit yang memiliki banyak faktor risiko salah satunya stres. Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kejadian acne vulgaris dengan stres. Kejadian acne vulgaris pada remaja di Indonesia cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stress dengan kejadian acne vulgaris pada siswa kelas III di SMAN 1 Gianyar. Penelitian bersifat analitik cross-sectional, dilakukan dengan mengobservasi langsung adanya acne vulgaris dan membagikan kuesioner PSS-10 untuk menentukan stres kepada 90 orang responden yang dilaksanakan pada Bulan September 2017. Data dianalisis secara bivariat dan multivariat. Dari hasil analisis bivariat dan multivariat terliat bahwa kejadian stres (P=0,004) dan riwayat keluarga acne (P=0,036) secara statistic berhubungan dengan kejadian acne vulgaris. Pada penelitian ini dapat disimpulakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara stress dengan kejadian acne vulgaris pada siswa kelas III di SMAN 1 Gianyar. Kata Kunci : Acne vulgaris, stress, faktor risiko, remaja, Gianyar ABSTRACT Acne vulgaris is a disease that has many risk factors one of them stress. Various studies show a relationship between the occurrence of acne vulgaris with stress. The incidence of acne vulgaris in adolescents in Indonesia is quite high. This study aims to determine the relationship of stress with the incidence of acne vulgaris in third grade students in SMAN 1 Gianyar. The cross-sectional analytic study was conducted by observing the acne vulgaris directly and distributing PSS-10 questionnaires to determine the stress to 90 respondents conducted in September 2017. Data were analyzed bivariate and multivariate. From the results of bivariate and multivariate analyzes, it was observed that stress incidence (P = 0.004) and family history of acne (P = 0.036) were statistically related to the occurrence of acne vulgaris. In this study can be concluded that there is a significant relationship between stress with the incidence of acne vulgaris in third grade students in SMAN 1 Gianyar. Keywords: Acne vulgaris, stress, high school students, risk factor.
DIAGNOSTIC METHOD OF HIRSCPRUNG’S DISEASE I Putu Trisnawan; I Made Darmajaya
E-Jurnal Medika Udayana vol 2 no5(2013):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.563 KB)

Abstract

Hirschsprung’s disease (congenital megacolon) is caused by the failed migration of colonic ganglion cells during gestation. Hirschsprung’s disease most commonly involves the rectosigmoid region of the colon but can affect the entire colon and, rarely, the small intestine. Symptoms in infants include difficult bowel movements, poor feeding, poor weight gain, and progressive abdominal distention. Early diagnosis is important to prevent complications (e.g., enterocolitis, colonic rupture). With proper treatment, most patients will not have long-term adverse effects and can live normally.
POLA KEPEKAAN Methicillin-Resistant Staphylococcus aureusTERHADAP ANTIBIOTIKA DI RSUP SANGLAH PADA AGUSTUS 2013 - OKTOBER 2013 I Kadek Jaya Santika; Komang Januartha Putra Pinatih; Ni Nengah Dwi Fatmawati
E-Jurnal Medika Udayana vol 3 no 7 (2014):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.022 KB)

Abstract

Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang dapat menyebabkan beragam penyakit mulai dari yang ringan seperti infeksi kulit hingga penyakit yang dapat membahayakan nyawa seperti pneumonia, meningitis dan toxic shock syndrome. Kemampuan adaptasi S.aureus terhadap antibiotika menimbulkan peningkatan resistensi antibiotika oleh S. aureus. Pada masa kini, prevalensi Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) cenderung meningkat tidak hanya di lingkungan rumah sakit, yang disebut hospital-associatedMRSA (HA-MRSA),tetapi juga di komunitas, yang disebut dengan community-acquired MRSA (CA-MRSA).Uji kepekaan isolat MRSA terhadap antibiotikadibutuhkan untuk menyediakan suatu pola kepekaan yang dapat digunakan sebagai referensidalampemilihan antibiotika yang lebih rasional.Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dimana sampel penelitian adalah isolat MRSAyang diidentifikasi dengan Vitek 2 (Biomérieux) di Laboratorium Instalasi Mikrobiologi Klinik RSUP Sanglah. Dari 41 isolatS. aureusyang terisolasi pada periode Agustus hingga Oktober 2013, terdapat 6 sampel (14,6%) yang merupakan MRSA. MRSA terisolasilebih sensitifterhadap antibiotika quinupristin/dalfopristin, linezolide, vancomycin, tigecycline dan nitrofurantoin, namun resisten terhadap antibiotika penicillin, cephalosporin dan carbapenems. Penelitian seperti ini penting untuk dilaksanakan secara berkelanjutan di masa yang akan datang dengan sampel dan metode identifikasi MRSA yang lebih baik seperti latex agglutination test atau dengan Polymerase Chain Reaction (PCR).  
PSYCHOTHERAPY SUPPORT ON SCIZOPHRENIA Widyawati Suhendro
E-Jurnal Medika Udayana vol 2 no 12 (2013):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.589 KB)

Abstract

Schizophrenia is a disease that causes varying descriptions. The symptoms of schizophrenia are divided into two groups, the primary and secondary symptoms. Treatment should be done as soon as possible, because a state of psychotic periods raises the possibility to suffer mental decline. The treatment is carried out must be comprehensive, multimodal, empirically and can be applied to the patient. One therapy that is given is psychotherapy. Psychotherapy is usually combined with pharmacological actions in order to increase the level of maximum healing.
HUBUNGAN ANTARA KENDALI GLIKEMIK DENGAN PROFIL LIPID PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 Rheza Priyadi; Made Ratna Saraswati
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 4(2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.459 KB)

Abstract

Penyebab terbanyak morbiditas dan mortalitas pada pasien diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) adalah penyakit kardiovaskuler. Banyak faktor risiko yang terlibat dalam kejadian PJK pada pasien DM tipe 2, salah satunya adalah profil lipid.Berdasarkan penelitian sebelumnya ditemukan bahwa kondisi hiperglikemik memiliki efek langsung dan tidak langsung terhadap kondisi pembuluh darah.Efek tidak langsung kondisi hiperglikemik diperkirakan melalui pengaruhnya terhadap profil lipid.Penelitian ini ingin mengetahui hubungan antara kendali glikemik dengan profil lipid. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian analisa potong lintang. Sampel diambil dari pasien-pasien rawat jalan dengan diagnosis DM tipe 2 yang memeriksakan dirinya di RSUP Sanglah Denpasar periode Juli 2010 sampai Mei 2012. Sampel diambil dari rekam medis yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pada penelitian ini dipakai 77 sampel yang terdiri dari  42 pria (54,5%) dan 35 wanita (45,5%). Usia rata-rata sampel adalah 54 tahun dengan tujuh data yang belum diketahui usianya. Rata-rata HbA1c pasien adalah 10,194%. 16 pasien (20,8%) memiliki kontrol glikemik yang baik (HbA1c <7 %), sedangkan 61 (79,2%) pasien memiliki kontrol glikemik yang buruk (HbA1c ?7 %). 26 pasien (33,8%) mengalami peningkatan kadar trigliserida (?150 mg/dl). 60 pasien (77,9%) mengalami penurunan kadar HDL (<40 mg/dl). Berdasarkan hasil uji analitik korelatif satu arah terdapat hubungan yang bermakna antara kendali glikemik dengan kadar trigliserida darah dan antara kadar trigliserida dengan kadar HDL. Korelasi antara kendali glikemik dengan kadar trigliserida darah menunjukkan korelasi yang lemah dengan nilai korelasi 0,342 (p < 0,005; 95% CI).  Korelasi antara antara kadar trigliserida dengan kadar HDL menunjukkan korelasi lemah dengan kadar HDL, dengan nilai korelasi - 0,310 (p < 0,005; 95% CI). Korelasi antara antara kadar trigliserida dengan kadar kolesterol menunjukkan korelasi sedang, dengan nilai korelasi  0,415 (p < 0,005; 95% CI). Dapat disimpulkan bahwa kendali glikemik memiliki korelasi dengan kadar trigliserida, serta memiliki hubungan secara tidak langsung dengan kadar HDL dan kadar kolesterol melalui hubungannya dengan kadar trigliserida melalui korelasi yang bermakna antara kadar trigliserida dengan kadar kadar HDL dan kadar kolesterol.  
STUDI AWAL GAMBARAN PENGETAHUAN DASAR DAN SIKAP WISATAWAN BACKPACKER MANCANEGARA DI BALI MENGENAI RESIKO INFEKSI RABIES I Gede Eddy Pramana Agustina
E-Jurnal Medika Udayana Vol 5 No 5 (2016): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.856 KB)

Abstract

Since Bali establish as rabies endemic area in 2008, all people in Bali have high risk for getting rabies infection, those are including foreign tourists who come to Bali. Backpacker is one who has high risk of infection because of their habitation of getting their destination on foot and travelling with limiting budget. This study describes the basic knowledge and attitude of foreign backpacker regarding rabies infection prevention with deep interview based on preprinted questioners. This study uses cross sectional design held on December 2013to February 2014 with 56 samples. We get 92,8% foreign backpacker who travelling in Bali do not know that Bali is a rabies endemic area, 82,1% foreign backpacker who travelling in Bali  do not know how to avoid rabies infection, 7,1% foreign backpacker who travelling in Bali do not know dog as main carrier rabies in Bali, 64,3% foreign backpacker who travelling in Bali  did not get information regarding rabies risk, initial management of biting before trip and 92,9% foreign backpacker who travelling in Bali  did not receive complete rabies vaccine shot before travelling in their country.
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN KINERJA KADER POSYANDU DI WILAYAH KERJA UPT PUSKESMAS MENGWI I KABUPATEN BADUNG PADA BULAN JULI- AGUSTUS 2015 Gede Tamblang Baswara Putra; Putu Cintya Denny Yuliatni
E-Jurnal Medika Udayana Vol 5 No 10 (2016): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.777 KB)

Abstract

Ketidaksesuaian capaian target posyandu merupakan masalah kesehatan yang cukup penting. Menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014, capaian balita ditimbang secara nasional sebesar 80,8% dan Provinsi Bali sebesar 87 % sedangkan pada Puskesmas Mengwi I sebesar 77,5 %. Capaian yang masih belum memenuhi target ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah peran kader sebagai penggerak utama kegiatan posyandu. Peneliti berasumsi rendahnya capaian posyandu ini disebabkan karena pengetahuan dan kinerja kader yang kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan kinerja kader posyandu di wilayah kerja UPT Puskesmas Mengwi I.Penelitian ini menggunakan desain deskriptif cross-sectional dengan teknik purposive sampling, karena peneliti ingin mengetahui pengetahuan dan kinerja kader yang kurang di wilayah kerja puskesmas. Sebanyak 84 orang kader dari Desa Mengwi dan Desa Baha dipilih sebagai responden karena kedua desa tersebut memiliki capaian posyandu terendah. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Variabel yang diteliti meliputi usia, tingkat pendidikan, lamanya menjadi kader, pekerjaan, insentif, penghasilan, alasan menjadi kader, riwayat pelatihan, tingkat pengetahuan dan kinerja. Distribusi frekuensi karakteristik demografi kader Posyandu Puskesmas Mengwi I terbesar pada usia 31-40 tahun (46,43%), tingkat pendidikan tinggi (73,8%), tidak bekerja (51,2%), masa kerja lebih dari 5 tahun (66,7%), berpenghasilan rendah (90,5%), sukarela menjadi kader (61,9%), dan pernah mengikuti pelatihan (88,1%). Sebagian besar kader memiliki pengetahuan baik tentang posyandu yaitu sebesar 60,7% sedangkan yang memiliki kinerja kurang baik yaitu sebesar 59,5%. Berdasarkan karakteristik demografi, proporsi pengetahuan baik cenderung terlihat pada kelompok usia <30 tahun, tingkat pendidikan tinggi, bekerja, lama menjadi kader ?5 tahun, alasan ditunjuk sebagai kader (71,8%), dan pernah mengikuti pelatihan sebelumnya (63,5%). Sedangkan proporsi kader dengan kinerja yang baik cenderung terlihat pada kelompok usia < 30 tahun (57,1 %), pendidikan tinggi (45,2%), beralasan ditunjuk sebagai kader (59,3%), pernah mengikuti pelatihan sebelumnya (43,3%), dan berpengetahuan baik (45,1%). Kinerja yang kurang salah satunya dapat ditingkatkan dengan pelatihan yang lebih menekankan praktek. Evaluasi dan monitoring juga perlu dilakukan untuk memastikan kader telah melakukan tugasnya dengan baik.

Page 88 of 196 | Total Record : 1956


Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13 No 07 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 9 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 8 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 6 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 5 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 4 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 3 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 2 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 1 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 12 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 11 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 10 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 9 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 8 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 7 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 6 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 5 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 4 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 3 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 2 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 1 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): Vol 11 No 06(2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 12 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 11 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 10 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 9 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 8 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 7 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 5 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 4 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 3 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 2 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 1 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 12 (2021): Vol 10 No 12(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 11 (2021): Vol 10 No 11(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 10 (2021): Vol 10 No 10(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 9 (2021): Vol 10 No 09(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 8 (2021): Vol 10 No 08(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 7 (2021): Vol 10 No 07(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 6 (2021): Vol 10 No 06(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 5 (2021): Vol 10 No 05(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 4 (2021): Vol 10 No 04(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 3 (2021): Vol 10 No 03(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 2 (2021): Vol 10 No 02(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 01(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 12 (2020): Vol 9 No 12(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 11 (2020): Vol 9 No 11(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 10 (2020): Vol 9 No 10(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 9 (2020): Vol 9 No 09(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 8 (2020): Vol 9 No 08(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 7 (2020): Vol 9 No 07(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 6 (2020): Vol 9 No 06(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 5 (2020): Vol 9 No 05(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 4 (2020): Vol 9 No 04(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 3 (2020): Vol 9 No 03(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 2 (2020): Vol 9 No 02(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 1 (2020): Vol 9 No 01(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 12 (2019): Vol 8 No 12 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 11 (2019): Vol 8 No 11 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 10 (2019): Vol 8 No 10 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 9 (2019): Vol 8 No 9 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 8 (2019): Vol 8 No 8 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 7 (2019): Vol 8 No 7 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 6 (2019): Vol 8 No 6 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 3 (2019): Vol 8 No 3 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 2 (2019): Vol 8 No 2 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 12 (2018): Vol 7 No 12 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 11 (2018): vol 7 no11 2018 E-jurnal medika udayana Vol 7 No 10 (2018): Vol 7 No 10 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 9 (2018): Vol 7 No 9 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 8 (2018): Vol 7 No 8 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 7 (2018): Vol 7 No 7 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 6 (2018): Vol 7 No 6 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 5 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 4 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 3 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 2 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 1 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 12 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 11 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 10 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 9 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 8 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 7 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 6 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 5 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 4 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 3 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 2 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 1 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 12 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 11 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 10 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 9 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 8 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 7 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 6 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 5 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 4 (2016): E-jurnal medika udayana vol 5 no 3(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 2(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 1(2016):e-jurnal medika udayana vol 4 no 12(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 11(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 10(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 9(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 8(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 7(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 6(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 5(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 4(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 3 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 2 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 1 (2015):e-jurnal medika udayana vol 3 no 12(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 11(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 10(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 9 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 8 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 7 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 6 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 5 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 4 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 3 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 2 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 1 (2014):e-jurnal medika udayana vol 2 no 12 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 11 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 10 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 9 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 8 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 7 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no6(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no5(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no4 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no3 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no2 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no1 (2013):e-jurnal medika udayana Vol 1 No 1 (2012): e-jurnal Medika Udayana More Issue