cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 6 (2015)" : 12 Documents clear
Pengaruh Pemberian Vitamin C terhadap Kadar Leukotrien Urin pada Pasien Asma Anak Cece Alfalah; Gustina Lubis; Finny F Yani; Nur I Lipoeto
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.053 KB) | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.416-20

Abstract

Latar belakang. Pada asma anak terdapat peningkatan kadar leukotrien darah dengan hasil metabolit akhirberupa leukotrien E4(LTE4). Vitamin C dapat menghambat lipoksigenase sehingga menurunkan kadar LTE4urin sejalan dengan perbaikan klinis asma.Tujuan. Mengetahui pengaruh pemberian vitamin C terhadap perbaikan klinis asma anak, ditandai denganpenurunan kadar LTE4 urin dan peningkatan nilai C-ACT.Metode. Penelitian intervensi (pre and post group design) pemberian vitamin C 200 mg/hari setelah makanselama 6 minggu, dilakukan pada pasien asma anak dari bulan September sampai dengan Oktober 2013.Kadar LTE4 urin normal 10-60 pg/ml dan nilai C-ACT terkontrol 􀁴20. Perbedaan dua data numerik tidakberdistribusi normal diuji dengan uji Wilcoxon-Rank (p<0,05). Korelasi antara dua data numerik tidakberdistribusi normal diuji dengan korelasi SpearmanHasil. Pemberian vitamin C tidak menurunkan kadar LTE4 urin (60,5%), tetapi terdapat kecenderunganpeningkatan nilai C-ACT (50%), p>0,05. Terdapat korelasi antara kadar LTE4 urin dan nilai C-ACT sebelumdan setelah pemberian vitamin C (r=-0,327 dan -0,359; p<0,05). Terdapat penurunan kejadian seranganasma setelah pemberian vitamin C, p<0,05.Kesimpulan. Pemberian vitamin C dapat memperbaiki klinis asma, meskipun kadar LTE4urin dan nilai C-ACTtidak mempunyai korelasi sebelum dan setelah pemberian vitamin C.
Perbandingan Kadar Vitamin D [25 Hidroksivitamin D] Pada Anak Sakit Kritis dan Nonkritis Sri Utami; Alex Chairulfatah; Kusnandi Rusmil
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.434-40

Abstract

Latar belakang. Vitamin D berperan dalam fungsi pertahanan tubuh sehingga defisiensi vitamin D berhubungan dengan derajat keparahan penyakit.Tujuan. Membandingkan kadar vitamin D pada anak sakit kritis dan nonkritis.Metode. Penelitian potong-lintang dengan subjek terdiri atas 25 anak sakit kritis dan 25 anak sakit nonkritis. Kadar vitamin D dianalisis dengan Uji Mann Whitney, Uji Kolmogorov-Smirnov, dan Uji Korelasi Spearman. Kemaknaan dinyatakan pada p <0,05.Hasil. Kadar vitamin D serum rerata pada kelompok kritis dan non kritis masing-masing 11,46 ng/mL dan 25,98 ng/mL (p<0,001). Pada kelompok kritis ditemukan 22/25 subjek mengalami defisiensi dan 3/25 insufisiensi. Pada kelompok nonkritis ditemukan 6/25 subjek mengalami defisiensi, 7/25 insufisiensi, dan 12/25 pasien dengan kadar normal (p<0,001). Pada uji korelasi didapatkan koefisien korelasi (r) = -0,624 (p<0,001).Kesimpulan. Kadar vitamin D serum rerata pada sakit kritis lebih rendah daripada nonkritis dan terdapat korelasi kuat antara sakit kritis dan vitamin D rendah
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gangguan Perilaku pada Anak Epilepsi Alvi Lavina; Dwi Putro Widodo; Surastusi Nurdadi; Bambang Tridjaja
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.409-15

Abstract

Latar belakang. Anak epilepsi memiliki prevalensi gangguan perilaku yang tinggi dan dapat menyebabkandampak psikososial. Sejauh ini, di Indonesia, belum ditemukan studi yang meneliti gangguan perilaku padaanak epilepsi serta faktor-faktor yang berhubungan.Tujuan. Mengetahui proporsi dan jenis gangguan perilaku anak epilepsi berdasarkan child behavior checklist(CBCL) dan hubungan antara usia awitan kejang, frekuensi kejang, durasi epilepsi, obat anti epilepsi, tingkatsosial ekonomi, dan pendidikan orangtua, dengan gangguan perilaku pada anak epilepsi, serta adaptasikeluarga dalam menghadapi anak epilepsi.Metode. Penelitian potong lintang di Klinik Neurologi Anak FKUI RSCM. Skrining gangguan perilakudengan kuesioner CBCL dilakukan pada 30 anak epilepsi tanpa defisit neurologis dan disabilitas intelektual.Studi kualitatif untuk menilai adaptasi keluarga dalam menghadapi anak epilepsi.Hasil. Terdapat 3 dari 30 anak epilepsi yang mengalami gangguan perilaku dengan jenis gangguan perilakueksternalisasi (perilaku melanggar aturan dan agresif), masalah sosial, dan gangguan pemusatan perhatian.Faktor usia awitan kejang (p=0,280), frekuensi kejang (p=0,007; RP 0,036; IK95% 0,005-0,245), durasiepilepsi (p=1,000), obat anti epilepsi (p=0,020; RP 0,019; IK95% 0,001-0,437), tingkat sosial ekonomi(p=0,251), dan pendidikan orangtua (p=1,000), tidak berisiko meningkatkan gangguan perilaku. Terdapatsikap dan reaksi, serta persepsi dan stigma orangtua yang negatif dalam menghadapi anak epilepsi yangmengalami gangguan perilaku. Terdapat masalah keluarga sejak anak mengalami epilepsi dan gangguanperilaku. Orangtua tidak dapat menerapkan pola asuh displin dan kemandirian pada anak dengan gangguanperilaku.Kesimpulan. Proporsi gangguan perilaku pada anak epilepsi tanpa defisit neurologis dan disabilitas intelektualtidak tinggi. Tidak terdapat faktor yang memengaruhi gangguan perilaku. Adaptasi keluarga baik dalammenghadapi anak epilepsi tanpa gangguan perilaku, dibandingkan dengan keluarga anak epilepsi yangmengalami gangguan perilaku
Perbandingan NaCl 3% dan Manitol pada Cedera Kepala Akibat Trauma di Ruang Rawat Intensif Anak Rina Amalia C. Saragih; Syilvia Jiero; Johannes H. Saing; Munar Lubis
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.375-8

Abstract

Latar belakang. Manitol dan NaCL 3% merupakan agen hiperosmolar yang direkomendasikan padapasien anak dengan cedera kepala akibat trauma. Beberapa penulis memberikan argumen bahwa larutansalin hipertonis lebih efektif, tetapi belum ada konsensus berkaitan dengan indikasi, konsentrasi, dan carapemberian yang terbaik.Tujuan. Membandingkan pemakaian manitol dan NaCl 3% pada anak dengan cedera kepala akibat traumayang dirawat di ruang rawat intensif dalam hal lama rawatan, mortalitas, dan gangguan elektrolit.Metode. Penelitian retrospektif dilakukan dengan pengumpulan data rekam medis pasien traumatic braininjury (TBI) yang dirawat di ruang rawat intensif anak RSUP H. Adam Malik selama kurun waktu Juni2012 sampai dengan Mei 2013. Data dibagi atas dua kelompok, yaitu pasien yang mendapatkan manitoldan NaCl 3% sebagai agen hiperosmolar. Analisis statistik dilakukan dengan Mann Whitney U-test, chisquare,dan fisher exact test.Hasil. Subjek 47 orang pasien TBI, 29 di antaranya mendapatkan manitol dan 18 mendapat NaCl 3%.Perbandingan antara kelompok manitol dan NaCl 3% tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna secarastatistik dalam hal lama rawatan [(5,79 + 4,37 hari) vs (6,00 + 4,20 hari);p=0,733], mortalitas (44,44% vs20,69%; p=0,083), dan gangguan elektrolit (37,93% vs 33,33%).Kesimpulan. Tidak ada perbedaan dalam hal lama rawatan, mortalitas dan gangguan elektrolit denganpenggunaan manitol dan NaCl 3% sebagai agen hiperosmolar pada pasien cedera kepala akibat trauma.Dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan metode prospektif dan jumlah sampel yang lebih besar.
Jumlah CD4+IL-5+, CD8+IL-5+, dan Perbaikan Kualitas Hidup Setelah Pemberian Prebiotik dan Nigella Sativa pada Anak Asma dengan Imunoterapi Fase Rumatan Camellia Nucifera; Ery Olivianto; Wisnu Barlianto; HMS Chandra K
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.634 KB) | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.379-84

Abstract

Latar belakang. Interleukin-5 (IL-5) merupakan sitokin penting dalam fungsi eosinofil primer, dihasilkanoleh sel T CD4+ dan sel T CD8+. Nigella sativa memiliki aktivitas anti alergi, anti asma, anti inflamasi, antiprostaglandin, dan anti histamin, sedangkan probiotik dapat memodulasi sistem imun ke arah Th1.Tujuan. Menilai dampak Nigella sativa dan/probiotik terhadap jumlah CD4+ IL-5 dan CD8+IL-5 sertaperbaikan kualitas hidup pasien asma yang menjalani imunoterapi house dust mite (HDM) fase rumatan.Metode. Desain penelitian adalah uji klinis randomisasi. Subjek adalah pasien yang memenuhi kriteria inklusidan menandatangani informed consent. Subjek dibagi 4 kelompok. Kelompok A mendapat imunoterapi spesifikHDM dan plasebo, kelompok B imunoterapi spesifik HDM dan Nigella sativa, kelompok C imunoterapispesifik HDM dan probiotik, kelompok D imunoterapi spesifik HDM, probiotik dan Nigella sativa. Setelah56 minggu diperiksa jumlah CD4+IL-5+, CD8+IL-5+ serta kualitas hidup mempergunakan skor Peds QL.Hasil. Tidak menunjukkan perbedaan bermakna jumlah CD4+ IL-5 dan CD8+IL-5 antar kelompok perlakuannamun didapatkan perbedaan bermakna skor Peds QL.Kesimpulan. Imunoterapi HDM beserta ajuvan probiotik dan atau Nigella sativa meningkatkan kualitashidup pasien asma pada anak.
Dampak Penambahan Digoksin terhadap Kapasitas Fungsional Penyakit Jantung Bawaan Pirau Kiri ke Kanan yang Mengalami Gagal Jantung Dana Sumanti; Anindita Soetadji; Nanik Tri Mulyani
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.802 KB) | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.385-90

Abstract

Latar belakang. Efek penambahan digoksin terhadap kapasitas fungsional menunjukkan hasil yang berbeda.Beberapa penelitian menyebutkan bahwa digoksin dapat meningkatkan kapasitas fungsional, tetapi penelitianlain tidak. Uji jalan enam menit adalah uji yang mudah dilaksanakan untuk menilai kapasitas fungsionalindividu.Tujuan. Mengetahui manfaat penambahan digoksin selama satu bulan terhadap kapasitas fungsional pasienPJB pirau kiri ke kanan yang mengalami gagal jantung.Metode. Uji klinis dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr Kariadi Semarang. Uji jalan enam menitdilakukan pada kedua kelompok penelitian sebelum dan sesudah perlakuan. Analisis statistik menggunakanuji –t berpasangan dan Mann-Whitney.Hasil. Tigapuluh empat subjek dapat menyelesaikan penelitian. Didapatkan perbedaan jarak tempuh uji jalan6 menit pada kelompok digoksin sebelum dan sesudah perlakuan (p=0,002). Tidak terdapat perbedaan jaraktempuh uji jalan 6 menit pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah perlakuan (p=0,77). Perbandinganselisih jarak tempuh uji jalan 6 menit pada kelompok digoksin dan kontrol berbeda signifikan (p=0,019).Analisis kurva ROC (receiver operating curve) menunjukkan area di bawah kurva ROC untuk delta jaraktempuh sebelum dan sesudah perlakuan pada kedua kelompok 0,82. Delta jarak tempuh sebelum dansesudah perlakuan baik dengan cut of point 2,75 meter.Kesimpulan. Penambahan digoksin dapat meningkatkan kapasitas fungsional pada pasien PJB pirau kirike kanan yang mengalami gagal jantung
Hubungan antara Hipokalsemia dan Prognosis Buruk pada Sepsis Neonatal Hermawan Hermawan; Tetty Yuniati; Aris Primadi
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.764 KB) | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.421-6

Abstract

Latar belakang. Sepsis neonatal merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas padaneonatus. Pasien sakit kritis, terutama kondisi sepsis, sering dilaporkan terjadi gangguan regulasi kalsiumberupa hipokalsemia.Tujuan. Mengetahui hubungan antara hipokalsemia dengan prognosis buruk sepsis neonatal.Metode. Penelitian dengan desain potong lintang dilaksanakan bulan Maret–Mei 2014 di RS Dr. HasanSadikin Bandung, dan RS Kota Bandung. Subjek neonatus cukup bulan usia <28 hari yang memenuhikriteria sepsis neonatal, yaitu terdapat dua atau lebih kriteria systemic inflammatory response syndrome (SIRS)disertai bukti tanda infeksi berupa hasil kultur darah positif atau tersangka infeksi. Pemeriksaan kadar ionkalsium darah dilakukan saat hari pertama perawatan.Hasil. Terdapat 40 subjek yang memenuhi kriteria inklusi, faktor yang berhubungan dengan prognosis buruk,yaitu kadar ion kalsium (p=0,012), onset sepsis (p=0,002), dan berat badan bayi (p=0,045). Analisis denganmetode regresi logistik ganda menunjukkan faktor risiko kejadian prognosis buruk pada sepsis neonatal adalahhipokalsemia (p=0,015; POR 36,17; IK95% 2,01–650,19), sepsis awitan lanjut (p=0,003; POR 44,86; IK95% 3,66–549,98), dan berat badan <2500 gram (p=0,032; POR 12,21; IK95% 1,35–110,29).Kesimpulan. Terdapat hubungan antara hipokalsemia dan prognosis buruk pada sepsis neonatal (p<0,05).
Hubungan Asma dengan Gangguan Perilaku pada Anak Diana Mariana Damanik; Retno Sutomo; Amalia Setyati
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.272 KB) | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.391-6

Abstract

Latar belakang. Asma adalah salah satu penyakit pernapasan kronis dengan prevalensi yang meningkat padaanak maupun dewasa sejak dua dekade terakhir. Terdapat beberapa penelitian yang menyatakan hubunganantara asma dengan gangguan perilaku.Tujuan. Menganalis hubungan antara asma dengan gangguan perilaku serta mengidentifikasi faktor yangterkait.Metode. Penelitian cross sectional dilakukan pada bulan Februari sampai Juni 2012. Penelitian melibatkan77 anak usia 4-18 tahun, yang didiagnosis asma di RSUP Sardjito dan 77 anak non asma. Subjek penelitiandiambil secara consecutive serta matching usia dan jenis kelamin. Anak dengan penyakit kronis lain, cacatfisik atau mental yang berat dieksklusi dari penelitian. Gangguan perilaku pada semua subjek dinilai denganstrength and difficulties questionnaire (SDQ). Faktor yang berhubungan dengan gangguan perilaku, yaituonset asma, derajat asma, dan penggunaan kortikosteroid inhalasi turut dianalisis dengan metode chi squareserta regresi logistik.Hasil. Masalah perilaku ditemukan 27,3% pada kelompok asma dan hanya 9,1% pada kelompok nonasma (OR 3,75, IK95% 1,48-9,45, p=0,003). Gangguan emosional dan conduct problem secara signifikanlebih sering terjadi pada kelompok asma, sedangkan perilaku prososial lebih tinggi pada anak non asma.Berdasarkan analisis multivariat dengan regresi logistik ditunjukkan derajat asma merupakan faktor yangberhubungan dengan gangguan perilaku (OR 8,83, IK95% 2,02-38,60, p=0,01) dan conduct problem (OR6,35 IK95% 1,48-27,25, p=0,01).Kesimpulan.Gangguan perilaku lebih sering terjadi pada anak dengan asma dibandingkan anak sehat sertaberhubungan dengan derajat asma.
Faktor Risiko Hiperkoagulasi pada Thalassemia Anak Ridha Kurnia Tejasari; Lelani Reniarti; Sjarif Hidajat Effendi
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.427-33

Abstract

Latar belakang. Hiperkoagulasi merupakan salah satu komplikasi thalassemia yang telah terjadi sebelummanifestasi klinis ditemukan pada thalassemia anak. Sampai saat ini belum pernah ada penelitian khususmengenai faktor risiko hiperkoagulasi pada thalassemia anak.Tujuan. Menentukan faktor risiko hiperkoagulasi pada thalassemia anak.Metode. Desain penelitian potong lintang dilakukan sejak bulan Maret hingga April 2014 terhadap 87 subjekdi Poliklinik Thalassemia Anak RSHS Bandung. Hiperkoagulasi diketahui berdasarkan tromboelastografi(TEG), apabila ditemukan minimal 2 dari 4 parameter terpenuhi dengan atau tanpa nilai CI lebih dari 3.Analisis statistik faktor risiko dengan uji chi-square/Fisher dan regresi logistik.Hasil. Prevalensi hiperkoagulasi thalassemia anak di RSHS Bandung 70% (61 subjek). Usia termudahiperkoagulasi positif adalah 5 tahun. Faktor risiko hiperkoagulasi thalassemia anak yang bermakna adalahpeningkatan jumlah trombosit (p=0,002; RP1,08; IK95%:1,003−1,013), sedangkan variabel lainnyatidak berhubungan. Pasien pascasplenektomi sejumlah 9 subjek dengan kadar trombosit >500.000 mm3.Hiperkoagulasi positif dapat memiliki jumlah trombosit yang meningkat dan/atau gangguan fungsi trombositberdasarkan TEG.Kesimpulan. Peningkatan jumlah trombosit merupakan faktor risiko hiperkoagulasi thalassemia anak diRSHS Bandung
Event Free Survival Enam Bulan Kejadian Tumor Cachexia Syndrome pada Anak dengan Keganasan Hesti Kartika Sari; Maria Mexitalia; Yetty M Nency
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.397-402

Abstract

Latar belakang. Jumlah kasus kanker pada anak dengan komplikasi tumor cachexia syndrome (TCS) terusmeningkat. Penyebab TCS bersifat multifaktorial, yaitu asupan makanan yang kurang, malabsorbsi, dansitokin oleh tumor. Pengelolaan pasien anak dengan keganasan di rumah sakit tidak hanya dari terapi antikanker tetapi juga nutrisi. Nilai event free survival (EFS) terhadap kejadian TCS merupakan salah satuindikator keberhasilan pengelolaan kanker di rumah sakit.Tujuan. Menentukan EFS 6 bulan terhadap kejadian TCS pada pasien anak dengan keganasan.Metode. Desain kohort retrospektif berdasarkan catatan medik pasien anak dengan keganasan yang dirawatdi RSUP Dr. Kariadi Semarang pada bulan Januari 2007 - Desember 2012. Kriteria inklusi adalah pasienusia 0-14 tahun, dengan diagnosis keganasan baik tumor padat maupun hematologi, dan tidak mengalamikakeksia pada saat diagnosis ditegakkan. Dilakukan pengamatan secara klinis dan laboratoris tiap bulanselama 6 bulan untuk menentukan terjadinya TCS. Analisis statistik menggunakan uji Kaplan Meier.Hasil. Didapatkan 83 subjek dengan keganasan, rerata umur pada kelompok tumor padat 61,2 (SD48,37) bulan, dan keganasan hematologi 79,9 (SD 48,37) bulan p=0,032. Empatbelas dari 40 (35%) anaktumor padat dan 10 dari 43(23,3%) anak dengan keganasan hematologi mengalami TCS. Kejadian TCSdidapatkan mulai pengamatan bulan kedua. Rerata terjadi TCS pada tumor padat 4,4 bulan dan padakeganasan hematologi 4,9 bulan. Event free survival 6 bulan kejadian TCS pada tumor padat 65% dankeganasan hematologi 76,7%, p= 0,207.Kesimpulan. Event free survival 6 bulan kejadian TCS pada pasien tumor padat lebih rendah daripadakeganasan hematologi, tetapi tidak berbeda secara statistik

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue