cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 21, No 1 (2019)" : 10 Documents clear
Protokol Evaluasi Infeksi Bakteri Pre- dan Pasca-Transplantasi Hati Anak Mulya Rahma Karyanti; Nina Dwi Putri; Hanifah Oswari
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.109 KB) | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.66-72

Abstract

Infeksi pre- dan pasca-transplantasi hati dipengaruhi oleh gangguan sistem imunonlogi resipien karena penggunaan obat-obat imunosupresi. Komplikasi infeksi tersebut merupakan penyebab penting kejadian infeksi terhadap morbiditas dan mortalitas pada anak anak yang menjalani transplantasi hati.  Obat-obatan profilaksis sebelum dan setelah operasi yang direkomendasikan disesuaikan dengan pola mikroba yang berkaitan di setiap rumah sakit. Uji tapis infeksi bakteri penting untuk mencegah terjadinya infeksi pasca-transplantasi hati. Komplikasi terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri disebabkan oleh karena penggunaan alat-alat invasif dalam jangka waktu yang lama seperti kateter vena sentral, kateter akses arterial, endotracheal tube, kateter ureter, dan sebagainya. Keberhasilan efektivitas pengobatan antimikroba ditentukan oleh pengelolaan pemasangan atau pelepasan semua alat invasif dan pengontrolan infeksi di rumah sakit.
Kemampuan Alat Deteksi Dini Risiko Malnutrisi Menurut American Society for Parenteral and Enteral Nutrition pada Anak 6-60 Bulan oleh Orang Tua Syarifah Prita Yulianty; Dida Akhmad Gurnida; Alex Chairulfatah
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.691 KB) | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.50-6

Abstract

Latar belakang. Status gizi merupakan faktor penting dalam perkembangan dan pertumbuhan anak terutama usia 6−60 bulan yang rentan terjadinya malnutrisi. Deteksi risiko malnutrisi merupakan tugas semua pihak termasuk orang tua, Selama ini dilakukan oleh dokter dan ahli gizi, tidak ada alat skrining yang dapat digunakan orang tua. American Society for Parenteral and Enteral Nutrition (ASPEN) mengeluarkan panduan mendeteksi risiko malnutrisi pada anak oleh orang tua.Tujuan. Menilai kemampuan alat deteksi dini risiko malnutrisi menurut ASPEN oleh orang tua. Metode Penelitian uji diagnostik ini dilakukan dari September hingga Oktober 2018 di 3 Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Sukajadi, Bandung, Indonesia dan melibatkan 75 pasang orang tua dan anak berusia 6–60 bulan. Pemilihan tempat dan subjek penelitian dilakukan secara purposive cluster sampling. Orang tua melakukan penilaian mengenai risiko pada anaknya menurut ASPEN, status gizi anak dinilai berdasarkan perbandingan berat badan (BB) dengan tinggi badan (TB). Anak dinilai memiliki risiko malnutrisi menurut metode ASPEN bila ada minimal salah satu jawaban ‘iya’ dari 9 kriteria pertanyaan, anak dinilai mempunyai risiko malnutrisi menurut peneliti bila ditemukan pemeriksaan antropometri Z-Score <-1 SD. Uji diagnostik terhadap metode ASPEN dilakukan dengan baku emas BB/TB.Hasil. Uji diagnostik menunjukkan sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif dan negatif sebesar masing masing 78,95 %, 28,57 %, 27,27 dan 80%. Dengan rasio kemungkinan positif sebesar 1,1053 dan rasio kemungkinan negatif sebesar 0,7368.Kesimpulan. Malnutrisi tidak jarang ditemukan, sehingga walaupun memiliki spesifitas yang tidak begitu tinggi metode ASPEN berguna bagi orang tua dalam mengawasi status gizi anak.
Profil Pasien Sakit Kritis yang Dirawat di Pediatric Intensive Care Unit Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo berdasar Sistem Skoring Pediatric Logistic Organ Dysfunction-2 Rismala Dewi; Fatimatuzzuhroh Fatimatuzzuhroh
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.418 KB) | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.37-43

Abstract

Latar belakang. Skor PELOD-2 digunakan untuk mengetahui disfungsi organ pada anak dengan sakit kritis. Hasil skor PELOD-2 tidak selalu berbanding lurus dengan luaran perawatan anak sakit kritis sehingga tidak selalu dapat digunakan sebagai prediktor luaran dan mortalitas anak yang dirawat di PICU.Tujuan. Mengetahui profil dan luaran pasien sakit kritis yang dirawat berdasar skor PELOD-2.Metode. Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan mengambil data rekam medis pasien rawat di ruang intensif anak RSUPN Cipto Mangukusumo, sejak Januari sampai Desember 2018. Pengambilan subjek secara total sampling, penilaian dilakukan pada 24 jam pertama perawatan. Hasil. Diperoleh 477 subjek yang memenuhi kriteria. Subjek sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (56,4%), berusia <1 tahun (27,9%), dengan bedah sebagai diagnosis awal terbanyak (65%). Sebagian besar pasien memiliki penyakit kronik (70,4%). Angka mortalitas penelitian ini adalah 10,7%. Mayoritas subjek memiliki lama rawat <7 hari (75,5%). Subjek dengan lama rawat >14 hari memiliki median skor PELOD-2 tiga kali lipat dari subjek dengan lama rawat <7 hari. Titik potong luaran mortalitas skor PELOD-2 pada penelitian ini adalah >5, memiliki spesifisitas 84,5% dan sensitifitas 84,3% dengan nilai AUC skor PELOD-2 dari kurva ROC sebesar 93,4% (IK 95% 90,6–96,2).Kesimpulan. Skor PELOD-2 dapat digunakan untuk memprediksi disfungsi organ yang mengancam kehidupan pada anak tanpa imunosupresi dan semakin tinggi skor PELOD-2 akan diikuti dengan peningkatan lama rawat dan mortalitas.
Efektivitas Pemberian Nutrisi Enteral Eksklusif terhadap Induksi Remisi Penyakit Crohn Muzal Kadim; Jennie Dianita Sutantio
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.811 KB) | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.57-65

Abstract

Latar belakang. Pemberian nutrisi enteral eksklusif (NEE) direkomendasikan sebagai terapi lini pertama induksi remisi penyakit Chron pada anak. Namun, terdapat perbedaan aplikasi terapi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tujuan. Mengetahui efektivitas terapi NEE dibanding kortikosteroid untuk induksi remisi penyakit Crohn pada anak.Metode. Pencarian artikel dilakukan melalui basis data PubMed dan Cochrane dengan kata kunci yang sesuai. Seleksi dilakukan sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Telaah kritis dilakukan dengan evaluasi validity, importance, dan applicability. Hasil. Dua artikel berupa studi meta-analisis dan uji klinis acak terkontrol didapatkan dari hasil pencarian. Meta-analisis terhadap 3 studi menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna kedua terapi terhadap induksi remisi (OR 1,31, IK 95% 0,68-2,53). Uji klinis acak terkontrol juga menunjukkan hal yang serupa (NEE 100% vs kortikosteroid 83%), tetapi didapatkan penyembuhan mukosa yang bermakna pada kelompok NEE (89%) dibanding kortikosteroid (17%). Kesimpulan. Pemberian NEE sama efektif dengan kortikosteroid untuk induksi remisi penyakit Crohn pada anak. Namun, pemberian NEE perlu direkomendasikan karena efek penyembuhan mukosa yang lebih baik.
Faktor Risiko Eksternal terhadap Keterlambatan Motorik Kasar pada Anak Usia 6-24 Bulan: Studi Kasus-Kontrol Kristian Kurniawan; Irawan Mangunatmadja
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.763 KB) | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.24-30

Abstract

Latar belakang. Keterlambatan perkembangan merupakan kondisi ketidakmampuan anak mencapai milestone perkembangan seusianya. Perkembangan motorik kasar dapat memprediksi tingkat maturasi sistem saraf pusat fungsional sehingga keterlambatan pada domain ini akan berdampak pada keterlambatan penguasaan domain perkembangan lainnya. Tujuan. Mengidentifikasi faktor risiko eksternal terhadap keterlambatan motorik kasar pada anak 6-24 bulan.Metode. Penelitian dilakukan dengan metode kasus-kontrol pada populasi anak usia 6-24 bulan menggunakan data primer yang diperoleh di RSUPN Cipto Mangunkusumo Kiara, Jakarta Pusat dan Klinik Anakku, Jakarta Selatan.Hasil. Diperoleh subjek sebesar 128 anak, dengan perbandingan kasus-kontrol 1:1 pada kelompok rentang usia yang sesuai. Dari hasil analisis pearson kai-kuardat diperoleh 2 faktor signifikan terhadap keterlambatan motorik kasar, yakni: status gizi kurang/buruk (p<0,001; OR=6,576; IK 95%=2,705-13,986) dan tidak diberikannya ASI eksklusif (p=0,032; OR=2,180; IK95%=1,065-4,460).Di sisi lain, faktor urutan anak, usia ibu saat kehamilan, dan cara kelahiran menunjukkan hasil tidak bermakna terhadap keterlambatan motorik kasar. Kemudian, dari analisis multivariat dengan regresi logistik biner, menunjukkan bahwa status gizi kurang/buruk merupakan faktor paling berpengaruh terhadap kejadian keterlambatan motorik kasar pada anak (p<0,001; OR=6,159; IK 95%=2,512-15,099). Kesimpulan. Status gizi kurang/buruk merupakan faktor prediktor keterlambatan motorik kasar yang paling berpengaruh.
Peningkatan Kadar Feritin Serum Memiliki Korelasi Negatif dengan Kadar High Density Lipoprotein pada Anak Penyandang Thalassemia Beta Mayor Nelly Rosdiana; Christian Nasir
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.233 KB) | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.31-6

Abstract

Latar belakang. Komplikasi dari thalassemia beta mayor disebabkan akumulasi zat besi yang diukur melalui pemeriksaan feritin. Penyandang thalassemia beta mayor juga mengalami gangguan profil lipid akibat kelebihan zat besi. Namun, penelitian mengenai hubungan mengenai feritin dengan profil lipid masih terbatas dan berbeda-beda hasilnya. Tujuan. Mengetahui pengaruh kadar feritin serum terhadap kadar profil lipid pada anak penyandang thalassemia beta mayorMetode. Penelitian berupa studi analitik observasional dengan desain potong lintang, menganalisis korelasi antara kadar feritin serum dengan profil lipid (kolesterol total, trigliserida, HDL, dan LDL) pada anak penyandang thalassemia beta mayor. Dilakukan pada bulan Januari – April 2018. Uji statistik menggunakan uji korelasi Spearman. Tingkat kemaknaan dinyatakan dengan p < 0.05.Hasil. Subjek 49 orang, rentang usia 1,6-17,9 tahun. Jenis kelamin terbanyak adalah perempuan (55%). Terdapat korelasi bermakna antara kadar feritin serum dengan kadar HDL (r=-0,317, p= 0,026). Tidak terdapat korelasi bermakna antara kadar feritin serum dengan kadar kolesterol total, trigliserida, dan LDL ( p <0.05).Kesimpulan.Terdapat korelasi negatif yang bermakna antara kadar feritin serum dengan kadar HDL pada penyandang thalassemia beta mayor.
Pengalaman Transplantasi Ginjal pada Anak di Jakarta Sudung O. Pardede; Eka Laksmi Hidayati; Cahyani Gita Ambarsari; Henny Adriani Puspitasari; Partini P. Trihono; Taralan Tambunan
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.256 KB) | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.44-9

Abstract

Latar belakang.Transplantasi ginjal merupakan terapi yang efektif untuk penyakit ginjal kronik (PGK) stadium 5 atau gagal ginjal terminal. Transplantasi ginjal di dunia pertama kali dilakukan pada tahun 1950an. Di Indonesia, transplantasi ginjal pada orang dewasa telah dilakukan pada tahun 1977 dan semakin berkembang dan telah dilakukan di beberapa kota di Indonesia. Transplantasi ginjal pada anak pertama kali dilakukan di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusomo pada bulan Maret 2013, terhadap seorang anak lelaki berusia 13 tahun dengan gagal ginjal terminal yang disebabkan sindrom nefrotik, dengan ginjal yang diperoleh dari non-related living donor. Ini merupakan transplantasi ginjal yang pertama kali dilakukan pada anak di Indonesia.Tujuan. Melaporkan data tentang kegiatan transplantasi ginjal yang dilakukan di Jakarta.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif yang mengambil data dari catatan medis. Hingga tahun 2018 telah dilakukan 11 kali transplantasi ginjal pada 10 orang anak terdiri atas 9 laki-laki dan 1 perempuan, dengan 1 kasus re-transplan. Rentang usia adalah 8-18 tahun, dengan penyakit dasar terdiri atas sindrom nefrotik (3 anak), dan ginjal hipoplasia (7 anak). Donor untuk kesebelas transplan anak tersebut terdiri atas 4 non-related living donor dan 7 orang related living donor, yaitu 5 orang donor ayah dan 2 orang donor ibu. Hasil. Di antara 10 pasien transplan, 3 orang menggunakan biaya pribadi atau asuransi swasta dan 8 orang dengan biaya dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Hingga bulan Agustus 2018, di antara kesepuluh anak tersebut, 7 orang hidup dan di antaranya 2 orang mengalami rejeksi pada tahun ke-3 (1 orang konversi kembali ke hemodialisis dan 1 orang telah menjalani re-transplan). Tiga pasien meninggal akibat infeksi berat.Kesimpulan. Transplantasi ginjal di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusomo dimulai pada tahun 2013, dengan donor hidup yang sebagian besar berasal dari orangtua, dengan pembiayaan sebagian besar menggunakan BPJS.
Korelasi antara Kadar Neutrophil Gelatinase Associated Lipocaline Urin dengan Laju Filtrasi Glomerulus pada Variasi Waktu untuk Mendeteksi Dini Gangguan Ginjal Akut pada Anak Sepsis Anggun Sri Mardhika; Dadang Hudaya Somasetia; Diah Asri Wulandari
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.432 KB) | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.1-7

Abstract

Latar belakang. Sepsis dapat menimbulkan gangguan fungsi ginjal. Neutrophil gelatinase associated lipocaline urine (NGALu) merupakan penanda biologis baru lebih cepat dibandingkan laju filtrasi glomerulus (LFG) untuk deteksi dini gangguan ginjal akut (GgGA). Kadar NGALu pada anak sepsis dapat meningkat pada jam ke-0, 12, 24, dan 48. Belum ada penelitian mengenai korelasi antara kadar NGALu dengan LFG pada variasi waktu untuk mendeteksi dini GgGA pada anak sepsis.Tujuan. Mengetahui korelasi kadar NGALu dengan LFG pada variasi waktu untuk mendeteksi dini GgGA pada anak sepsis.Metode. Metode penelitian potong lintang. Subjek penelitian anak sepsis di unit gawat darurat, instalasi rawat inap, High Care Unit (HCU), dan Pediatric Intensive Care Unit (PICU) Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin bulan Mei 2017-Februari 2018. Pemeriksaan kreatinin dan NGALu dilakukan pada variasi waktu jam ke-0, 12, 24, dan 48. Analisis bivariabel menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil. Penelitian mengikutsertakan 23 anak sepsis. Pada jam ke-24 nilai NGALu dan LFG berturut-turut 60,30 ng/ml, 128,33 ml/min/1,73m2. Terdapat korelasi yang bermakna antara NGALu dengan LFG pada variasi waktu jam ke-24 dengan nilai p=0,000 dan korelasi negatif sedang dengan r=-0,668. Kesimpulan. Terdapat korelasi antara kadar NGALu dengan LFG pada variasi waktu jam ke-24 untuk mendeteksi dini GgGA pada anak sepsis.
Karakteristik Infeksi Sitomegalovirus pada Anak dengan Infeksi HIV di RSUPN Cipto Mangunkusumo Dina Muktiarti; Rizqi Amalia; Nia Kurniati; Mulya Rahma Karyanti
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.8-15

Abstract

Latar belakang. Infeksi sitomegalovirus (CMV) adalah infeksi oportunistik virus yang tersering pada anak dengan infeksi HIV. Setelah era penggunaan terapi ARV prevalensi infeksi sitomegalovirus pada anak dengan infeksi HIV di negara berkembang belum mengalami penurunan bermakna. Tujuan. Mengetahui prevalensi , karakteristik demografi, manifestasi klinis, terapi, dan luaran infeksi sitomegalovirus pada anak ≤18 tahun dengan infeksi HIV di RSUPN Cipto Mangunkusumo tahun 2003-2018. Metode. Studi retrospektif deskriptif dilakukan terhadap seluruh anak ≤18 tahun dengan infeksi HIV di RSUPN Cipto Mangunkusumo pada tahun 2003-2018. Evaluasi infeksi sitomegalovirus dilakukan terhadap subyek yang memiliki manifestasi klinis sugestif infeksi sitomegalovirus. Hasil. Prevalensi infeksi sitomegalovirus pada anak dengan HIV di RSUPN Cipto Mengunkusumo tahun 2018 adalah 6%, meningkat 5 kali dibandingkan dengan tahun 2007. Total anak yang mengalami ko-infeksi HIV-CMV adalah 36 orang. Sebagian besar subyek adalah lelaki, berusia 49 bulan (rentang 2-191 bulan), belum menggunakan ARV, dengan rerata CD4 382 sel/μL (11%). Manifetasi klinis tersering adalah demam ≥2 minggu, peningkatan enzim transaminase, dan diare kronik. Titer IgM dan IgG reaktif didapatkan pada 22 dan 32 subyek. Materi DNA sitomegalovirus terdeteksi pada 25 subyek. Infeksi sitomegalovirus terbanyak terjadi dalam bentuk sindrom sitomegalovirus (15/36), korioretinitis (9/36), dan hepatitis (6/36). Immune reconstitution syndrome didapatkan pada empat subyek. Seluruh subyek mendapatkan terapi inisial dengan gansiklovir, valgansiklovir, atau kombinasi keduanya. Tidak ada subyek yang meninggal saat terapi inisial, tetapi 11 subyek memiliki morbiditas permanen dengan 9 subyek di antaranya mengalami low vision atau kebutaan. Kesimpulan. Prevalensi infeksi sitomegalovirus pada anak dengan infeksi HIV sebesar 6%. Infeksi sitomegalovirus perlu diwaspadai pada anak HIV dalam keadaan imunosupresi berat yang mengalami demam ≥2 minggu disertai manifestai klinis terkait organ target. 
Hubungan Awitan Pengobatan Hipotiroid Kongenital dengan Gangguan Perkembangan Anak di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Adhitya Agung Pratama; Alex Chairulfatah; Novina Novina; Faisal Faisal; Eddy Fadlyana
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.16-23

Abstract

Latar belakang. Hipotiroid kongenital (HK) adalah kondisi kekurangan hormon tiroid, tiroksin, dan tri-iodotironina sejak lahir yang dapat menyebabkan gangguan organogenesis sistem saraf pusat serta metabolisme tubuh. Penderita HK yang tidak diterapi dapat berlanjut menjadi individu dengan gangguan perkembangan. Data di Indonesia dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sejak tahun 2000-2013, angka kejadian HK pada bayi baru lahir sebanyak 1:2736. Tujuan. Mengetahui hubungan awitan pengobatan dengan gangguan perkembangan pada anak dengan HK.Metode. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang yang dilakukan periode bulan Agustus–November 2018. Subjek HK datang kontrol ke klinik rawat jalan endokrin dan tumbuh kembang RS. Hasan Sadikin, berusia <36 bulan dan mendapat terapi levotiroksin, dilakukan penilaian perkembangan dengan pemeriksaan Denver dan CAT/ CLAMS (cognitive adaptive test/ clinical linguistic auditory milestone scale). Analisis data menggunakan uji chi-kuadrat dan Mann Whitney (p<0,05). Hasil. Terdapat 92 kasus HK, 12 dieksklusi, subjek terdiri dari 38 laki-laki dan 42 perempuan dengan rerata usia diagnosis 3,0 bulan (0,5–22,0 bulan). Didapatkan adanya hubungan usia saat diagnosis dan awitan pengobatan dengan gangguan perkembangan (p<0,001). Usia saat diagnosis dan awitan pengobatan >3 bulan lebih banyak mengalami gangguan perkembangannya.Kesimpulan. Pasien HK yang terlambat didiagnosis dan diberikan terapi akan mengalami gangguan perkembangan yang lebih banyak. 

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue